kemah

Kemah! Hari Kedua

Selasa, April 12, 2016


Yak, ini masuk hari kedua! Dan, yak, di sini aku bangun paling pagi, yaitu tempat pukul empat. Sebenernya aku kebangun gara-gara alarm di hapenya Embun yang disetel keras banget. Jadi ceritanya, jam itu aku sama Shelly sama-sama kebangun, tapi kita berdua sama-sama mager buat ngematiin alarmnya. Kuat-kuatan jadi orang yang nggak sensitif(?)

Lalu pada alarm kesekian, aku udah nggak kuat sama sekali-_- Mau pura-pura tidur juga nggak bisa soalnya suaranya bener-bener menggelegar. Jadilah aku bangun dan matiin alarmnya, dan aku nggak bisa tidur lol. Aku udah yakin kalau aku bakal ngantuk nanti, tapi ya udahlah.

Senin, 7 Maret 2016

Kita semua bangun dan ke Balai Dusun buat senam. Tapi, yah, kita lama banget kali ya siap-siapnya, jadi pas kita ke sana, senamnya udah selesai -_- Sebenernya aku malah ngerasa, kalau aku ikut senam, aku bakal sama kayak aku yang tahun lalu(?) soalnya kan, sebagai panitia, aku pengen coba sudut pandang yang beda dari peserta orz

Trus, aku lupa habis itu ada acara apa, pokoknya, Aku, Lusi, Embun, Rani, Shelly baru kerja pas jam dua belas. Jaga pos game gitu. Karena masih sangat-sangat-sangat lama, kita balik ke rumah dan makan sama mandi. Lalu karena kita semua masih ngantuk, kita tidur :")) Di sela-sela tidur kita ngobrol soal Gua Luweng. Jadi, agak jauh dari sini ada Gua Luweng, itu gua yang sangaaaat bagus dan indahlah pokoknya. Dulu jadi sumber air desa ini. Kita pengeeen banget ke sana.

Kita tidur sampai jam setengah dua belas. Jihan sama Halimah balik, cerita kalau mereka tadi jalan-jalan ke kawah putih. Jihan juga nunjukin foto-fotonya. Kawah putih itu bagus banget, bener-bener kayak di dunia lain lah rasanya :") Aku pengen banget ke sana, tapi sayangnya kita harus jaga pos. 

Sebelum aku berangkat, induk semangku, Bu Purwanto, ngasih tau aku kalau bawa jas hujan, jaga-jaga kalau bakal turun hujan. Nah.. kita semua..... nggak percaya -___- Lol banget, kita nggak percaya padahal Bu Purwato, kan, rumahnya emang daerah situ dan hapal cuaca. Tapi plis, pas itu matahari lagi panas panas PANAS bangeeeet. 

Jadi pas kita dibilangin, "Bawa jas hujan, ya, hujan ini," (pakai bahasa jawa) kita kayak, hah? Nggak mungkinlah bakal hujan, panasnya menyengat gini kok :")) Padahal... padahal.... oke lanjut cerita dulu.

Game nya di lapangan, tempatnya sangaaat jauh. Peserta harus (harus, dong) jalan kaki, tapi panitia ke sana naik motor HAHAHA. Aku jaga pos namanya pos Kaki Seribu. Itu pos yang sangat menyakitkan pergelangan kaki. Itu kayak lomba adu cepat pakai bakiak, tapi bakiaknya kita ganti jadi tali rafia yang diiket ke kaki kanan mereka sama kaki kiri mereka. Katanya mereka sih, tali rafianya itu bikin kakinya sakit ;;

Terus, baru kelompok kesekian, tiba-tiba hujan ;; Hujannya deres banget, dan awal mulanya hujan itu dateng dari arah selatan. Aku ada di sisi lapangan yang bagian ujung utara, jadinya pas hujan deres itu dateng, kayak berasa disiram dari selatan ke utara gitu XD Kita-kita yang ada di bagian pinggir selatan diberi kesempatan untuk ketawa karena daerah kita masih kering, dan untuk ke count-down berapa detik lagi akhirnya hujan itu ngampiri kita TvT

HUJAN. DERES. DEREEEES BANGET! Aku nggak bawa jas hujan dan seketika aku langsung teringat kata-kata Bu Purwanto :""D Maafkan kami yang tidak menuruti perintah, Bu. Kelompok yang masih di posku dengan baik hati nungguin aku beres-beres mungutin talinya, jadi ada adek kelas yang berbagi jas hujan denganku :"> Uuu kalian baik banget TvT

Di tengah jalan, aku ketemu Ulima, ketua jurnal 018. Dia lagi sama payungnya sendirian. Aku akhirnya bilang makasih ke adek kelas yang udah mau berbagi jas hujan itu, dan akhirnya aku satu payung sama Ulima :") Bareng-bareng kita berhenti dulu di suatu pelataran(?) pokoknya kayak cuma rumah yang hanya punya atap gitu. Lalu, aku bonceng Shania ke Balai Dusun.

Habis itu, habis hujan reda, free-time! Satu agenda besar terpaksa kita batalin, dan itu waktunya buat anak-anak mandi dan istirahat. Aku awalnya mau balik ke rumah, tapi di tengah perjalanan pulang aku dipanggil sama sangga yang aku PJ-in. Kirain mereka mau tanya apa, tapi ternyata mereka gabut -_- Dan pengen ngobrol-ngobrol.

Mereka juga belum ngerjain makalah penelitian bertema lingkungan. Jadi satu sangga harap ngumpulin kasaran ide penelitian tentang lingkungan daerah sekitar sini. Zzzz akhirnya aku ngasih tips deh biar mereka ngepanjang-panjangin tulisan dengan nulis semua anggota sangga di pembukaan. Jadi sebelum nulis penelitiannya, mereka udah makan setengah halaman folio lol. Mereka juga belum ngumpulin artikel tentang biodata induk semang mereka. Jadi, ada tugas yang kedua yaitu buat tulisan tentang data induk semang, misalnya namanya siapa, kerjanya di mana, aktivitasnya apa, sifatnya gimana, dll.

Mereka lalu curhat deh malahan ;-; agak apes sih. Mereka dapet induk semang yang sangat modern, pekerjaannya mapan, selalu berangkat kerja pagi dan pulang sore. Bahkan nenek di dalem rumah itu pakai bahasa indonesia ngomongnya :"D Dan sedihnya, induk semang mereka jarang banget ada di rumah. Yah, gitu deh. Trus aku suruh aja mereka cerita seadanya :") Puk-puk ya nakss.

Habis itu, aku harusnya kembali melanjutkan perjalanan ke rumah, tapi aku malah ikut (terseret) sama Jihan, Loy, Willa, yang mau ke TPA buat pengabdian ke anak-anak. Aku suka banget kegiatan ini XD Apalagi anak kecil yang namanya Bayu kalau nggak salah, dia adzan nya bagus banget sayang umur kami terpaut jauh :"> (serius sya ini maksudnya apa). Habis itu kita bingung cari imamnya siapa soalnya nggak ada orang besar ;; akhirnya kita nggeret Varrel buat jadi imamnya lol XD

Selesai sholat ashar, barulah mulai kegiatan TPA-nya! Pertama, mereka semua ngambil meja panjang bentuk segi empat besar, lalu aku sama Jihan duduk di tengahnya. Habis itu kita mimpin mereka buat ngaji bareng. Trus karena makin lama perwakilan sangga 018 udah pada dateng, akhirnya mulai deh mereka ngaji satu-satu :") Aku ngementor Ilma. Dia bisa hapal At-Thariq padahal masih sangaaaat kecil :""") Semua anak yang disini hebat-hebat semualah.

Lalu kita ngadain kuis! Tes hapalan surat, sama nebak nama XD Pas Loy yang awalnya bilang sambil nunjuk aku, "Siapa yang masih ingat nama mbak yang pakai kerudung merah ini?" trus Ilma yang angkat tangan sambil bilang, "Mbak Rasya," itu lucu bangeeeeeet ih pengen kukarungin :""D Oke pada akhirnya semua dapet snacknya. Lalu, kita ngasih tau mereka kalau besok ada lomba mewarnai!

Habis itu, aku sama Jihan nganterin adek-adek yang rumahnya di utara. Ada Khanza, Ilma, Tia, dll. Dan akhirnya, aku punya waktu luang sama Jihan buat ke kawah putih XD Foto-foto di sana, dan karena Jihan lebih seneng yang motret, aku berasa jadi model mendadak lol :") Misalnya aja Jihan bilang, "Ras, coba kamu kayak gini," atau, "Ras, kamu berani nggak turun ke bawah?" dan aku mau apapun lah kan aku yang difoto(?) orz

Akhirnya aku bisa pulang juga. Kita balik, trus mandi. Habis Isya', bareng-bareng kita nonton film, filmnya Soedirman. Lalu kita lihat angkatan 018 yang jadi CT. Katanya sih, mereka bakal suruh jalan jongkok, sampai ke ruangan angker, nginep di sana, trus dibawa ke lapangan yang tadi siang itu, zzZZ nggak tau lah gimana. Ada kakak kelas 016 dateng juga hm. Untung aku nggak pakai proses kayak gitu(?).

Oke, lalu kita nggak nonton filmnya sampai selesai, kita pulang, dan bobok.

dilema

Eng... #deletesoon?

Kamis, April 07, 2016

Ngomong-ngomong, aku minta maaf soalnya postingan kemah dan stucash ku nggak jadi! XD Tiba-tiba kehilangan mood buat nulis lol, sayang padahal seru banget. Tapi aku masih punya notes isinya catetan penting selama kemah dan makrab stucash dan masih ada fotonya, dan aku masih pengen cerita ke blog, jadi kemungkinan bakal ada postingan ngelanjutin tentang itu.

Sekarang, di malam yang aku kira aku bakal langsung tidur ini, aku mau nulis blog. Kenapa aku malah nulis blog? Alasannya sepele, sih, aku mau marah-marah XD Tumben banget ada hari di mana blog ini isinya unek-unek(?)ku TvT Biarkan aku cerita ya.

.
.
.

Jaman sekarang ini, orang jujur dibilang munafik. Dibilang sok-sokan padahal sebenernya pengen bohong juga. ‘Hah’ banget. Sebenernya aku juga masih ngerasa munafik, sih, tapi aku bisa sampai cerita ke blog ini karena aku udah nggak tahan lagi TvT

Ada sekumpulan orang-orang yang...... oke, intinya, aku nggak kepikiran sampai sana kalau mereka mau nggak jujur. Kalau mereka mau merampas harta yang bukan hak mereka. Kalau mereka mau.... korupsi, sebut aja kayak gitu ya. Aku sama sekali nggak nyangka. Aku pernah sih ada dalam kepanitiaan yang bahkan bukan event dalam sekolah, yang karena nggak ada nota, akhirnya pakai nota palsu. Tapi seenggaknya, kan, nominal dalam nota palsu itu sama dengan nominal aslinya kalau seandainya pakai nota. Itu masih bisa diterima.

Tapi yang ini? Notanya bener-bener beda nominalnya dari uang yang aslinya mereka keluarin! Kalau beda gopekannya atau mungkin ribuannya, yah, gimana ya. Tapi kalau digit yang paling depan? Jadi, digit yang paling depan itulah yang mereka ubah? Itu maksudnya apa?

Kenapa aku masalahin ini? Ng... sebenernya aku juga terlibat. Maksudku, aku juga terlibat sebagai pihak yang dirugikan, pihak yang hartanya dirampas sama mereka, pihak yang seharusnya bisa dapet uang yang seharusnya kalau uang itu enggak dikorupsi sama mereka. Aku dipanggil untuk dipertemukan langsung sama mereka, buat dijelasin langsung gimananya, buat narik kesimpulan sendiri kalau hartaku-itu-mereka-korupsi.

Waktu itu, satu banding sekian orang yang ada dalam ruangan, dan aku seolah dibuat bungkem mulut nggak bisa bicara walaupun aku tau maksudnya. Aku nggak bisa teriak padahal aku pengen, aku nggak bisa nuding sambil ngomong, “JADI maksudnya (blablabla)” atau semacamnya. Aku baru nemu suaraku pas aku udah keluar ruangan, pas aku udah jalan beberapa langkah, dan yang bisa aku teriakin ya cuma kalimat: jadi maksudnya, to, ras, kamu dibodoh-bodohin.

Aku sadar itu dan aku berasa ditampar karena aku nggak punya kekuatan untuk ngelakuin apa-apa. Karena aku nggak punya kekuatan untuk bilang kalau itu salah, karena aku nggak punya cukup kekuatan untuk nyadarin kalau itu adalah perbuatan yang nggak baik, karena aku nggak punya nyali buat bilang kalau harta itu adalah hakku. Aku nggak punya kekuatan untuk itu. Aku ngebodohi diriku sendiri, ya, bisa dibilang kayak gitu.

.
.
.

Lalu ini terjadi lagi. Tapi bedanya, aku diberi kesempatan untuk mengeluarkan hakku. Karena aku ada di pihak yang hendak korupsi harta suatu lapisan masyarakat. Karena aku ada di pihak yang hendak merampas harta orang. Aku nggak mau ada di pihak kayak gitu.

Dan saat itu juga, aku diberi suatu ujian.

Suatu lapisan masyarakat sudah membayar untuk mendapatkan kue yang sama. Anggap saja itu adalah cerita yang diganti subyeknya, meskipun hampir mirip-mirip juga. Kue yang dibagikan itu sama rata rasa dan bentuknya, sehingga tentu saja ada beberapa orang yang seleranya tidak sesuai dan membiarkan kue itu begitu saja. Tidak memakannya, hanya meninggalkannya.

“Bagaimana kalau kue itu kita kurangi jatahnya?”

Adalah usulan terkutuk yang pertama.

“Boleh juga!”

Adalah tanggapan terkutuk yang pertama.

Kemudian segelintir pembicaraan penuh dosa pun terjadi. Usulan kira-kita berapa banyak kue yang dikurangi, tanggapan-tanggapan setuju yang mengerikan, dan aku hanya diam. Aku tau apa faktor pengurangan jatah kue ini: anggaran. Persoalan biaya. Tidak ada biaya yang cukup untuk membeli kue sesuai jumlah lapisan masyarakat tersebut, jadi karena selalu saja ada kue yang tidak diambil, sekalian saja jumlahnya dikurangi.

Itu sama saja dengan korupsi. Itu sama saja dengan perampasan hak orang lain. Suka atau tidak suka, makan atau tidak makan, adalah hak orang tersebut untuk mengambil kuenya, kan?

“Kamu harus tega, Ras. Jangan pakai perasaan.”

Apa sih? Maksudnya apa sih? Aku nggak ngerti! Iya, aku nggak ngerti! Kalian membicarakan apa? Membicarakan ketidakjujuran? Apaan sih ini? Apa-apaan?! Kalau kalian adalah orang-orang seperti sekelompok perampas hartaku itu, akan kubiarkan saja! Aku tidak akan emosi sampai seperti ini!

Tapi kalian berbeda. Kalian, komunitas penyebar kue ini, adalah komunitas yang aku ceritaian persoalan para perampas hartaku itu. Kalian orang satu-satunya yang kuceritakan, dan hanya berselang beberapa momen waktu, kalianlah yang melakukannya?

Bukankah kalian yang ketika kuceritakan, kalian justru menanggapi, kalau itu adalah perbuatan yang tidak baik? Itu perbuatan yang sepantasnya dilawan? Itu perbuatan yang sepantasnya ditentang? Kenapa sekarang kalian menjadi pelakunya? Kenapa kalian menjadi seperti orang yang kalian lawan terang-terangan?

“Jangan munafik, Ras!”

Apanya yang munafik? Yang munafik itu kalian, kan? Yang mengatakan tempo lalu kalau pelaku yang korupsi itu pantas dihukum mati, dan yang akhirnya melakukannya sendiri, itu kalian kan? Kenapa kalian yang mengataiku munafik? Siapa yang sebenarnya munafik di sini?

Apa pada akhirnya, aku tidak akan punya cukup kekuatan untuk melawan ini semua?

Kalian terlalu banyak! Tolong!

Jangan jadi orang yang kubenci!