Tentang Tiga Kita: kamu pesimis bisa jadi penulis, kan, Ras?

Senin, Februari 22, 2016


.

.

1.

Ras, kamu gimana, sih? Kamu mau ngelupain semua perjuanganku selama hari Jum’at? Di mana aku pagi-pagi ke ruang BK, terus pas istirahat juga ke sana, dan pas pulang sekolah juga ke sana? Di mana aku udah ngomong panjang lebar sampai dikasih nomor teleponnya?

2.

Aku pengen banget ngelanjutin yang itu, Ras. Tapi tau sendiri, kan, kalau aku bener-bener ngeiyain apa kata guru BK-nya itu, aku nggak bakal ada di skenario ‘perjumpaan kembali kawan sekelas lama kita’? Dan lagi, jas laboratorium itu manis banget.

3.

Hanya demi dua hal kayak gitu? Aku lebih setuju sama yang tadi, sih. Tapi kan, apa gunanya perdebatan kalian, kalau aku di sini masih setuju sama usulku sendiri yang pada akhirnya aku nggak pilih universitas manapun?

.

.

1.

Ras, kayak gitu, mah, namanya membuang segalanya. Lebih baik, sekarang kita pindah ke kelas IPS sesuai dengan apa yang aku perjuangin pas hari Jum’at. Toh, ArtDay juga udah kelar dari lama, kenapa sampai sekarang masih nggak pengen pindah juga, sih?


2.

ArtDay itu kan alasan utama sekaligus alasan sampingan. Sebenernya aku juga pengen ngelama-ngelamain aja, sih. Kalau aku pindah ke IPS, tuh, masa depan cerah apa enggak masih enggak pasti, tapi masa SMA lebih enggak bahagia. Iya, sih, selo, tapi temen-temen mau kamu kemanain, gitu, lho? Kok, kamu mengedepankan kutipannya Agatha Christie yang ‘walk first, walk alone’ sih?

3.

IPS itu bisa memikirkan apa yang nggak sempet dipikirin anak IPA, tahu. Kalau kamu pindah IPS, kamu bisa fokus nulis pakai banget, dan lagi kamu sempet ngirim e-mail ke pihak UNICEF dan bilang kalau kamu pengen jadi relawan sana, sesuai yang udah aku rencanain dari lama.

.

.

(1,2.

Tapi, Ras, kamu kan baru.

3.

Kalian bisa berhenti ngungkit hal itu nggak, sih? Pada kenyataannya, aku ada juga karena perdebatan kalian yang ‘IPA apa IPS’ itu nggak selesai-selesai sampai sekarang tahu.

2.

Iya, emang. Tapi, kamu ada bukan untuk menengahi, tapi malah datang dengan pendapat baru yang isinya seputar ‘udahlah itu nggak penting karena fyi aku disini untuk bilang aku nggak pengen kuliah’ dan itu malah bikin segalanya tambah ribet tau nggak?

1.

Tapi seenggaknya, dengan datengnya dia, kamu jadi sadar kalau aku itu ada.

2.

Mending ini jangan dibahas lagi, oke.
)

.

.

1.

Rencanaku gini. Kamu pindah IPS. Emang telat banget, tapi nyatanya masih bisa kan? Nyatanya juga sekolah mau ngebantu. UTS tinggal seminggu lagi, tapi itu cukuplah buatmu seminggu ngejar materi anak IPS. Toh, kamu emang pinter ngehapalin dan suka buat rangkuman, kan? Sana, pindah IPS, jelasin seadanya sama temen-temenmu, tutup buku, dan lolos SNMPTN, sana!

2.

Oke, iya, kalau aku di IPA, aku nggak bakalan lolos SNMPTN, iya. Tapi itu enggak segampang apa yang kamu omongin!
1.

Nggak gampang apa? Nyatanya pas kamu ngebolehin aku ngambil alih kendalimu, aku bisa ngomong sejelas-jelasnya ke guru BK dan dia mau ngebantu kamu kalau kamu bener-bener mau pindah ke IPS! Udah kelar semuanya, Ras! Kamu kalau netep di IPA, nyari apa? Nunggu dapet nilai ulangan Kimia jelek lagi?

2.

Enggak, oke, emang enggak. Tapi aku pengen di IPA. Di IPA itu banyak suka-dukanya, tahu! Dan lagi, kalau di IPS memang ada waktu selo buat nulis, tapi di IPA itu kamu dapet banyak ide! Masih inget cerpen yang juara itu? Yang isinya tentang anak cewek yang gila karena dia liat personifikasi Kimia di kamarnya? Kamu pikir aku bisa menggambarkan perasaan si cewek dengan detail kalau aku di IPS?

1.

Itu tentang kamu, kan.

2.

Enggak, dan iya, tapi enggak separah yang di cerpen, tapi itu bukti kalau di IPA aku dapet banyak hal. Aku bisa dapet banyak ide. Kamu masih inget kan waktu kita beberapa hari berturut-turut mampir kelas IPS terus? Ada anak-anak yang kamu sayangin karena mereka ada di tingkatan yang ‘saking keseringan selo sampai nggak tau lagi kalau selo mau ngapain’? Itu kamu iri sama mereka karena kamu nggak pernah selo kan? Tapi kalau kamu ada di posisinya mereka, bukannya kamu malah susah nulis karena sudah terlena sama yang kayak gituan?


1.

Alesan! Kamu pengen IPS, aku tau! Kamu lebih bahagia kalau di kelas IPS! Aku tau kamu, Ras! Kamu kalau selo nggak bakal kayak mereka. Kamu bisa buat ide yang malah lebih berwarna! Malah lebih di tingkatan atas yang nggak sempet kamu liat kalau kamu masih di kelas IPA! Pindah, pindah, pindah, Ras!


2.

Aku nggak mau! Aku suka IPA karena ini IPA.


1.

Hah, mulai deh, nggak masuk akal. Aku pengen banget ada momen di mana nanti semua masa SMAmu sudah harus berakhir dan kamu terluntang-luntung sendirian dan aku dateng dan aku teriak di depan wajahmu ‘NAH APA KUBILANG DULU’.

2.

Oke, tunggu aja! Nyatanya, aku ini aku, dan kamu ada cuma bisa ngingetin tanpa ngerubah apapun. Di IPA, ada suka-duka, ada asam-garam, ada pahit-manis-pahit-pahitlagi! Toh juga, aku bukannya nggak bisa IPA, kan! Aku bisa IPA kalau aku mau belajar! Sekarang aku udah mulai suka matematika.


1.

Itu matematika, bukan IPA. Perlu kuingetin berapa nilai ulangan Biologi, Kimia dan Fisikamu?

2.

Nggak butuh!

1.

Kamu kalau di IPA pengen masuk mana? Kamu kalau di IPA bakal gimana? Bener-bener deh kamu itu manusia yang bisanya cuma nyesel!

2.

Suka-suka aku! Kamu bisa nggak, sih, diem? Sejak aku sadar kalau kamu itu ada, lama-lama kamu jadi semakin ngeganggu aku dan nggak bisa bikin aku tidur lelap!

1.

Aku ada karena memang itu tugasku. Aku ada karena aku ini sisi lain dari kamu yang sebenernya pengen banget masuk IPS dan setuju kalau alasanmu di IPA itu enggak masuk akal. Di hari ketika kamu sadar aku ini ada, kamu mulai nganggap aku lebih ngeganggu kamu terus dan ini sedikit-banyak salahmu juga karena kamu mulai berani ngeladenin aku sejak itu!

2.

Iyalah! Waktu kamu cuma sekadar suara-suara di kepalaku, aku cuma diem karena aku bisa dianggep nggak normal kalau aku bales suaramu!

1.

Sekarang karena kamu udah sadar itu, dan kamu mulai berani nimpalin aku sampai kita debat kayak gini, itu kamu udah nggak normal, sih. Kamu inget cerpenmu yang ‘Matahari, Tuhan di mana?’ itu kamu menggambarkan perdebatan kita berdua begitu kamu sadar aku ada, kan?

2.

Aku nggak bisa diem kalau kamu terus nyerocos! Jadi, bisa nggak, sih, kamu diem jadi aku bisa berhenti keliatan nggak normal?

.

.

3.

Hai. Aku dateng untuk lagi-lagi menengahi kalian berdua, lagi.

2.

Selamat datang, dan kamu telat banget. Makasih sama niat baikmu, tapi aku yakin nanti jatuhnya kamu bakal menyuarakan argumentasimu yang itu dan bikin kita bertiga saling ribut dan aku makin keliatan nggak normal sebagai manusia tiga kepribadian ini.

1.

Berhenti bilang ‘tiga kepribadian’ bisa nggak, Ras? Toh, kita juga nggak bener-bener semengerikan kayak yang di film-film. Kita berdua cuma suara-suara, dan kalau salah satu dari kita ngambil alih kendalimu, itu nggak bener-bener berubah jadi suatu karakter lain, kan?

3.

Aku nggak begitu peduli sih kalian mau menyebutku sebagai apa, tapi oke, aku memang bakal menyuarakan argumenku. Jadi, menurutku sama sekali nggak masalah mau masuk IPA atau IPS, karena aku ada gara-gara ada sisi lain dari kamu, Ras, yang butuh waktu untuk membayangkan betapa terluntang-luntungnya kamu besok setelah masa SMA ini selesai.

1.

Aha! Jadi, kamu sudah membayangkan bahwa dia ini akan terluntang-luntung setelah masa SMA?


3.

Iya, kayak gitulah. Itu karena, aku masih nganggap nggak masuk akal, sih, tapi alasan masuk IPAnya dia itu kuat banget. Jadi selogis apapun alasanmu yang sebenernya dibenerin juga oleh dia, dia nggak bakal pindah ke IPS.

1.

Hah. Wah. Oke. Yah. Kalau begitu sebentar lagi aku akan menghilang—oh, dan satu-satunya alasan aku masih ada karena aku masih pengen teriak di kepalanya ‘APA KUBILANG DULU’ ketika momen itu datang, kan?


2.

Bisa nggak, sih, kalian berhenti ngobrol? Aku udah siap dengerin, nih, lho.


.

.

3.

Oke. Aku disini mau bilang pendapat dan rencanaku selepas SMA. Aku pengen kita nggak kuliah. Karena inget kan, pas aku ngambil alih tubuhmu dan aku nulis puluhan jurusan IPA dan IPS, terus mulai metode ‘coret satu-satu sampai sisa satu’ dan nyatanya semua kecoret nggak ada satupun yang sisa?

2.

Aku tau kamu mau ngebicarain ini, tapi, oke. Iya. Tapi bukannya aku nyaris bingung antara Sastra dan Komunikasi?


3.

Tapi itu kan bukan bener-bener kamu gitu lho. Itu cuma nyerempet dan malah kayak semacam lima persennya! Kamu itu kan pengen jadi penulis to Ras, kamu kan pengen fokus ke bidang kemanusiaan to Ras. Kenapa nggak langsung fokus aja? Kenapa nggak fokus jadi penulis dan berjuang biar jadi relawan UNICEF?


2.

Nggak bisa segampang itu Ras. Kamu nggak tau ya, dunia itu kejam! Kenyataan itu nggak segampang apa yang kamu bayangin. Jadi penulis itu susah, iya, kamu tau kenyataannya kemarin kan? Pas naskah novelmu ditolak? Susah, Ras! Diterbitin aja susah, belum lagi habis diterbitin nanti nggak pasti laku juga! Apalagi jadi relawan UNICEF, susah banget lah Ras.

3.

Trus kamu maunya apa, sih Ras? Kamu pengen kuliah? Kalau kamu kuliah, kamu itu milih jalur aman! Kamu pilih IPA juga sebenernya ambil aman, kan Ras? Kalau kamu kuliah, impianmu jadi penulis ketunda lagi, apalagi yang relawan UNICEF itu, mau kamu hapus? Mau kamu apain perjuanganku yang nge-print semua liputan perjalanan kemanusiaan UNICEF sampai kujilid segala itu?
2.

Kamu ambisius banget, sih. Sama aja kayak dia. Nggak ada bedanya. Yang satu terlalu ambisius biar aku mengalami masa SMA di zona nggak aman, dan kamu ambisius biar aku mengalami masa setelah lulus SMA di zona yang nggak aman DAN mengerikan.

3.

Itu gara-gara kamu selalu ada di zona aman terus Ras. Terlalu aman, malah. Harusnya kamu berterimakasih sama kita karena kita ini nggak main-main. Kalau kamu besok bener-bener tetep masuk kuliah, tamat Ras. Kamu bakal nyesel dua kali lipat. Kamu nggak mau bener-bener jadi manusia yang bisanya cuma nyesel kan?

2.

Tapi di kuliah, aku bisa tau sisi kehidupan anak kuliah. Aku bisa tau suka-dukanya anak kuliah, bisa dapet perasaannya, Ras. Gimana, sih, rasanya ospek, gimana rasanya cari dosen, gimana rasanya berjuang di skripsi, gitu! Biar jadi bahan ide novelku!

3.

Tuh, kan! Lagi-lagi alasanmu dangkal kayak gitu! Aku di sini lebih serius lagi Ras. Kamu kuliah bakal dapet segala macam perasaannya, tapi kamu nggak bakal sempet nulis itu semua! Bisa nggak, plis, kamu fokus nulis aja? Buang semuanya, tulis! Di kuliah semua emang udah punya jalan masing-masing Ras. Dan jalanmu itu bukan untuk kuliah!

2.

Oke. Tapi aku nggak bisa mutusin sekarang. Itu kan enggak gampang.


3.

Hah. Aku pokoknya nggak mau capek ngingetin kamu. Aku nggak mau ngebiarin kamu pilih kuliah. Kapanpun. Aku nggak mau kamu kuliah, sama kayak dia yang sebenernya nggak mau kamu kelas IPA. Kamu jangan berani-beraninya kuliah. Fokus nulis. Fokus. Nulis.

2.

Udah, deh, kamu diem aja. Nggak bisa segampang itu. Di mana-mana, habis SMA itu kuliah.

3.

Apa salahnya sih pilih zona nggak aman? Keluar dari zona aman, Ras! Sebenernya yang ngehambat ini semua tuh kamu sendiri, kan? Tinggal yakin dan teriak ke dunia ‘AKU NGGAK KULIAH DAN AKU MAU FOKUS NULIS’ itu apa susahnya sih?

2.

Emangnya kamu yakin begitu aku nggak kuliah aku bisa jadi penulis?

1.

NAH! Tuh kan! Yang bikin pesimis tuh kamu sendiri!


2.

Kamu ngapain ikut ngomong sih.


1.

Kamu nggak mau IPS juga karena kamu terlalu pesimis. Kamu ngerasa harus kuliah karena kamu terlalu pesimis. Yang terlalu pesimis sebelum ngecoba zona nggak aman itu kamu sendiri kan? Pada dasarnya tuh, keinginan aku sama dia sama, kita pengen ngeperjuangin impian yang kamu pesimisin itu.

3.

Nah, iya! Kita itu udah berusaha ngekuatin kamu Ras, tapi kamu sendiri?


.

.

1,3

Kamu pesimis bisa jadi penulis, kan, Ras?


2.

........................pergi sana kalian.
.

.

.

Oke, ini kembali ke aku lagi. Kalau kalian mau tanya ke aku itu bener apa enggak, aku nggak bakal jawab. Tapi aku cuma mau meluruskan: iya, mereka berdua itu nyebelin banget zZZ -_- Mereka itu sewot, keras kepala banget, maju pantang mundur kayak tank. Semau mereka sendiri, tapi... sebenernya aku ngerasa mereka ada benernya juga sih. Iya, maaf, diriku sendiri, maaf, aku nggak yakin bisa jadi penulis hebat atau enggak.

Nah. Aku udah ngebiarin kata-kata si aku yang pengen aku ke IPS, dan inilah jadinya aku. Cewek melankolis mulu kerjaannya-_- Terus, sekarang si aku yang lain itu nongol dan aku ngerasa aku nggak boleh ngebiarin dia gitu aja sih. Tapi..... tapi.......... "nggak kuliah" itu............

Selalu aja, alasannya karena: Nggak segampang itu.

Padahal, yah, aku juga udah sadar sih, yang bikin nggak gampang itu karena aku terus ngehambat. Oke, sekarang aku lagi berusaha mencerna argumentasi aku yang satunya itu yang pengen aku nggak kuliah. Hngngngng....... itu gimana ya.

Pengen bilang "nggak segampang itu" lagi.... tapi lama-lama kedengeran klise.

Tapi kalau "aku nggak kuliah" itu rasanya.............

Aku bakal nyesel apa enggak, ya? Aku bakal nyesel kalau pilih yang mana? Aku bakal nggak nyesel kalau pilih yang mana?

.

.

You Might Also Like

0 comment(s)