[Review] J-Movie: GOTH

Rabu, Februari 24, 2016

Tumben banget, aku mau nge-review film. Ini padahal H-3 UTS dan aku masih nggak ngerti apa-apa, dan aku masih selo di sini, dan, yah, aku nulis blog aja deh.

Drama Jepang, sih, dan itu adalah drama (yang seharusnya) favoritku pas dulu aku kelas 1 SMP. Sekarang, sih, yah, aku udah nonton ulang dan ekspektasiku berkurang drastis. Masalahnya, itu ada di folder “Movie Jepang Favorit!” dan yah, aku kan bayanginnya macam-macam.

(Soalnya, movie Jepang yang terakhir aku tonton itu Ansatsu Kyoushitsu Live Action yang baru kutonton minggu ini, dan aku sama sekali nggak terkesan jadi nggak aku masukin ke folder situ dan masih menyampah di folder Download sampai sekarang.)

Judulnya, Goth.

Genrenya Suspense, Crime dan Horror, oke terkesan menyeramkan emang. Tapi ceritanya hah sama sekali nggak ada yang menegangkan, nggak ada konteks kriminal yang serius dan nggak ada plot yang mengagetkan atau minimal menyeramkan atau lebih-minimal-lagi, seenggaknya bikin aku pengen memalingkan muka. Itu nggak ada. Hah. Yang ada aku malah cengo.

(Oke, aku masih inget pas aku SMP aku hanya mantengin Kanata terus dan jerit-jerit ala cewek-cewek fangirling yang buta dunia nyata kalau setiap kali Kanata ngerutin kening dengan keren.)

Apa alasanku nonton ini waktu SMP dulu? Aku jamin, aku nonton ini karena yang main adalah pangeran SMPku, Kanata Hongo. Dia cakep, keren, oke, itu menurut bayangan SMPku dulu karena sekarang aku ngeliat dia dan nganggap matanya kayak mata ikan dan mikir apa dia itu porsi makannya nggak mencukupi ya karena badannya kurus kering dan keliatan kurang gizi.

Iya, tokoh utama di Goth ini ada dua. Kanata Hongo, dan satu cewek lagi namanya Takahashi Rin. Aku nggak tau sepak terjangnya dia di perfilman karena, sekali lagi, waktu di SMP aku cuma ngikutin sejarahnya Kanata Hongo dari waktu dia masih kecil jadi bintang iklan sabun sampai udah duduk di bangku kuliah masih main peran jadi anak SMA yang kerja sambilan jadi pencuci piring di suatu restoran. Oke aku kebanyakan ngomong.

Kanata Hongo di sini main sebagai Kamiyama, dan Takahashi Rin jadi Morino. Mereka seangkatan di SMA, dan cerita bermula ketika di daerah sekitar situ ada kasus pembunuhan berantai. Aku nggak tau kenapa pembunuhan berantai sering banget jadi konsep genre crime, mungkin karena bagus buat ngepanjang-panjangin cerita tanpa mengurangi suspense-nya, ya.

Nah, mereka berdua ini secara kebetulan suka banget sama dunia misteri dan kejadian berbau kasus. Tapi di sekolah, Kamiyama sama sekali nggak kelihatan punya ketertarikan terhadap gore atau sebagainya. Dia sifatnya ceria, populer, disenangi banyak cewek, nggak ada yang tahu, deh. Yang tahu cuma Morino ini. Dia cewek yang dingin, aneh, misterius, dan mengerikan yang nggak punya temen sama sekali.

Mereka berdua ini sebenernya deket karena punya hobi yang sama. Mereka suka banget bahas cara menangani kasus ini, kayak cara menjebak si pembunuh, dan lain sebagainya. Soalnya, si pembunuh berantai yang lagi marak ini hanya membunuh cewek anak sekolahan yang cantik dan berambut panjang. Setelah dibunuh, mayatnya dibuat sedamai mungkin di tempat-tempat indah kayak di pinggir sungai jernih, hutan, dan sebagainya. Tapi, mayatnya itu pasti lengan kirinya dipotong sampai tinggal sepergelangan.

(Oke tenang aja, ini sama sekali nggak nyeremin. Sama sekali. Nggak. Nyeremin. Kutegaskan, aku yang penakut dan udah siap-siap merem aja malah cengo. Nggak tau sih, pas kelas 1 SMP dulu aku gimana. Mungkin malah mantengin ekspresinya Kanata yang sok kaget.)

Morino dan Kamiyama ini kalau ngobrol selalu di cafe langganannya Morino. Satu cafe itu isinya pelanggan yang aneh semua karakternya kayak mereka. Suatu hari, mereka menemukan buku yang jatuh di cafe itu. Begitu mereka buka, ternyata isinya tuh daftar nama dan foto cewek-cewek yang udah dibabat habis sama si pembunuh berantai yang beritanya lagi heboh-hebohnya itu.

Ditarik kesimpulan, buku yang mereka temukan adalah buku rekapan si pembunuh. Yang bikin aku bingung, si pembunuh berantai itu dia bisa-bisanya jatuhin buku rekapan yang penting banget gitu aja. Itu bodoh banget. Kalau cewek yang dia bunuh udah sampai berlembar-lembar, harusnya dia berpengalaman dan profesional, dong, secara dia ahli dalam menghapus sidik cari dan barang pembunuh. Tapi dia jatuhin bukunya gitu aja? How easy.

Di situlah, mereka nemu satu nama cewek, Nanami, yang mayatnya belum ditemukan oleh polisi karena ‘dipajang’ di puncak gunung. Dengan berbekal kebodohan dan akal sehat yang hampir habis, mereka berdua pergi ke puncak. Plis, nggak bawa senjata sama sekali. Modal mereka adalah peran sebagai tokoh utama yang menjamin mereka nggak akan mati sampai akhir cerita.

Ketemu deh mereka sama mayat Nanami. Cewek dengan rambut panjang, didudukin di kursi merah, pakai seragam sekolah, dengan tangan kirinya udah dipotong sampai ke pergelangan. Nggak mengerikan sama sekali, tapi entah kenapa ekspresinya mereka berdua syok dan backsound-nya sangat berlebihan. Kalau orang normal bakal lapor polisi, kalau mereka berdua sepakat itu jadi rahasia sehidup semati.

Terus, ada korban pembunuhan lagi di suatu gedung tua. Yang nemuin adalah adiknya Kamiyama, namanya Sakura. Eh, nggak ngekomentarin si yang dibunuh itu, Kamiyama malah iri sama kemampuan (keapesan) adeknya. Dia soalnya pengen jadi yang menemukan mayat pertamakali, demi itu sifat yang plis aneh banget. Alhasil pas ketemuan sama Morino, Kamiyama malah kepo-kepo Morino itu punya adik apa enggak.

Ternyata Morino jawab, kalau dia punya adik kembar, namanya Morino Yu (Kalau si Morino ini, namanya Morino Yoru). Tapi, adiknya udah meninggal 9 tahun yang lalu, dibunuh sama dia secara nggak sengaja—plis aku sebenernya pengen kaget sama fakta ini tapi aku lebih ke cengo (lagi). Jadi, dua bersaudara ini suka banget sama permainan yang menyeramkan. Soalnya si adik, Yu, suka di-bully di sekolah dan dia butuh pelampiasan ke hal-hal berbau gore, kayak dia suka nyiksa binatang gitulah.

Akhirnya, kakaknya ini, Morino Yoru, ngeladenin adiknya. Jadilah mereka dua bersaudara sama-sama aneh semua. Mereka main pura-pura gantung diri. Adiknya manjat kursi dan ngepasang talinya di leher, terus Morino ngegoyang-goyangin kursinya sambil ketawa. Yu juga ikut ketawa, dan tibalah kita pada scene yang sebenarnya sudah terduga, Morino nggak sengaja ngejatuhin kursinya, dan berakhirlah Yu yang lehernya udah kejengat tali langsung tewas tergantung.

(Ini nggak serem plis, aku malah setengah cengo setengah pengen ketawa.)

Scene flashback ini adalah hasil dari mimpinya Morino. Morino bangun dengan kaget dan dia nggak bisa tidur sampai pagi, dan dia masih kehantui sampai dia sampai di sekolah. Dia di sekolah kayak zombie yang gentayangan, dan pulang sekolah dia minta Kamiyama nemenin dia beli tali tambang. Soalnya kalau dia lagi insomnia, dia punya kebiasaan ngelilitin tali tambang di lehernya—plis ini kebiasaan macam apa dia freak nya kelewatan sumpah.

Suatu hari lain, Kamiyama ngusulin Morino buat berpakaian persis kayak mayat Nanami (yang sampai sekarang belum ditemukan) dan jalan-jalan keliling kota buat mancing si pembunuh. Usaha itu berhasil, soalnya hari itu juga Morino dapet telepon misterius yang bilang “Aku tahu siapa kamu sebenarnya” dan surat yang isinya berita kematian adiknya, Yu. Tapi ini bikin Morino takut setengah mati, dan besoknya Morino marahin Kamiyama karena cuma Kamiyama yang tau nomor hapenya.

(Dia se-introvert apa sih.)

Besoknya, Morino nggak masuk sekolah tanpa bilangin Kamiyama. Mungkin udah ketularan aneh atau gimana, Kamiyama sama sekali nggak kepikiran kalau Morino itu mungkin sakit flu atau masih belum bangun tidur di rumah. Yang ada di pikiran Kamiyama itu, Morino udah dibunuh sama si pembunuh bayaran dan bermodalkan buku rekapan si pembunuh, Kamiyama ke semua lokasi yang ada di buku itu buat nyari Morino.

Tapi nggak ketemu, dan Kamiyama beli minum trus duduk di bangku pinggir jalan. Dan tiba-tiba hujan deras, Kamiyama malah buka buku rekapan pembunuh itu dan baca-baca di tengah hujan melanda. (Aku masih inget pose ini aku screencapt lol). Tiba-tiba, di tengah hujan itu dia dapet pencerahan mengenai siapa pembunuh berantai itu, how smart, Kanata.

Dan, siapa pembunuhnya itu? Yah, pembunuhnya adalah si pemilik cafe ha-ha. Sangat nggak terduga sebenernya, dan kita nyaris lupa fakta tak terbantahkan di film pembunuh berantai bahwa pembunuh dalam film misteri itu pasti pernah nongol di suatu scene di film tersebut, dan si pemilik cafe itu adalah satu-satunya orang yang memenuhi syarat selain si adik Kamiyama, Sakura (karena kukira Sakura pelakunya lol yah nggak mungkin sih.)

Kekuatan tokoh utama, Morino enggak dibunuh tapi entah kenapa hanya dibius dan si pemilik cafe itu sama sekali nggak tergerak untuk langsung membunuhnya, dan setelah menangkap pelakunya, Kamiyama dengan akal sehatnya yang entah di mana sama sekali nggak berjuang buat menyelamatkan Morino yang notabene bisa diselamatkan kapan aja karena cuma dibius dan disekap di suatu atap gedung. Yap, Kamiyama langsung naik bus atau kereta aku lupa, dia kembali ke sekolah.

Di tengah perjalanan dia menelepon Morino, yang secara ajaib langsung bangun begitu ponselnya berdering. Ternyata si penelepon misterius itu adalah Kamiyama (ini kesimpulanku sendiri karena sampai akhir nggak dijelasin) karena Kamiyama langsung cerita panjang lebar dia tau sebenarnya Morino itu siapa.

Yap. Morino Yoru, yang lagi teleponan sama Kamiyama ini, sebenarnya adalah Morino Yu, si adik kembar. Jadi, sebenarnya yang lagi gelantungan di tali itu adalah si kakak dan si adik lagi yang mainin kursinya. Si adik, Yu, yang nggak sengaja ngejatuhin kursinya dan si kakak, Yoru, yang nggak sengaja tergantung tali sampai mati.

Rasa bersalah si adik, Yu, membuat dia membulatkan tekad untuk terus melanjutkan hidup kakaknya dan membiarkan dirinya yang mati. Makanya dia langsung merubah identitas menjadi si kakak, Morino Yoru, dan membuat berita palsu kalau yang mati adalah Morino Yu alias dirinya.

Tertangkap basah, Morino Yoru atau Morino Yu atau terserahlah dia siapa, nanya di telepon ke Kamiyama, “Tapi kenapa kamu menyelamatkanku?”

Kamiyama jawab, “Karena aku pengen tahu lebih banyak tentang adikmu.”

Dan adik yang dimaksud di sini adalah Morino Yu yang itu adalah dia sendiri sebenernya. Setelah itu, Morino bilang, “Terimakasih,” dan menutup telepon. Kamiyama langsung mengembalikan teleponnya dan menatap ke perjalanan. Morino, di atap suatu gedung, meletakkan teleponnya dan kemudian lanjut (what the hell banget ini, dia lanjut—) tidur.

Dan filmnya tamat. Habis. Musnah.

Sekali lagi, aku berakhir cengo. Oke, bagian akhir yang mengungkap jati diri Morino sebenarnya itu sukses bikin aku kaget, tapi pada akhirnya sebelum aku bener-bener mengungkapkan kekagetanku, adegan itu langsung berakhir kandas dengan sangat tragis-nya dan aku berakhir di sini, lagi-lagi, cengo.

.

.

Oke, itu detail filmnya. Sekarang, aku akan bilang positif dan negatifnya.

Negatifnya adalah, ceritanya nggak ‘lebih’ keren. Maksudnya, udah klimaks, sih, plotnya itu udah keren apalagi pembunuh berantainya yang nggak terduga. Si pemilik cafe itu sering muncul, dia nganterin minuman dan bukain pintu bilang ‘selamat datang’, tapi di sini kita sama sekali lupa bahwa tokoh yang ditampilin wajahnya di suatu film pembunuhan tapi dia nggak sebagai apa-apa itu berpotensi menjadi si pembunuh. Itu udah keren banget. Sayangnya kurang greget.

(Apalagi ending-nya, plis, itu maksudnya apa si Morino ngapain bobok lagi?)

Positifnya adalah, yah, walaupun nggak realistis, tapi karakternya itu unik dan bikin ‘hah’ banget. Terutama si Morino yang hobi ngelilitin tali kalo insomnia dan punya hobi main gantung diri itu, plis, freak abis tapi disitu kerennya. Kembali ke ending, menjawab sisi negatif yang ‘apa-apaan itu kenapa Morino bobok lagi nggak kabur atau nggak gimana gitu hah’ jawabannya gampang, ya karena dia dasarnya aneh jadi ya.. gitu. Kita yang normal nggak akan bisa mengerti.

Apalagi, castingnya, si Kanata sama Takahashi ini adalah duo-Jutek-Face yang mereka nggak pernah senyum bahkan di cover majalah sekalipun. Apalagi Kanata, sekalinya dia senyum itu cuma senyuman narik satu sisi bibir gaya nantang gitu deh di aktingnya yang dia jadi preman sekolah, yang sangat-bukan-senyum. Akting mereka keren, sifat mereka misterius-aneh itu udah mendukung cerita.

Yang disayangkan, tuh, ya, ceritanya itu, sih.

.

.

Oke. Itu dariku, sekian.

You Might Also Like

0 comment(s)