boleh nggak, sih, aku nggak kuliah? (dor)

Senin, Februari 08, 2016

 
gambar nggak ada hubungannya, 
aku cuma mau bilang uh demi apa mereka lovey-dovey sekali <3

Tarik napas. Tarik napas.
Oke, aku akan mengatakannya.
Aku bisa mengatakannya, dan aku memang harus mengatakannya. Jadi, begini.

Boleh nggak, sih... maksudku, b o l e h  n g g a k  s i h . . .
Aku nggak kuliah?

/krik krik/
(Kayaknya Mbak Rahayu memperkuat keyakinanku ya)

Ini serius. Entah kenapa aku pengen nggak kuliah. Aku nggak punya impian muluk-muluk seperti teman-temanku yang lain. Aku merasa kalau aku kuliah aku justru kayak memaksakan diri kuliah. Memaksakan diri memilih satu dari sekian banyak jurusan yang pada dasarnya nggak ada yang cocok sama passion­-ku.

(Aku bahkan pernah nge-list daftar semua jurusan dan ku-print, lalu satu per satu jurusan kucoret dari apa jurusan yang paling nggak cocok sama aku, dan pada akhirnya semua daftar jurusan di kertas yang nyaris tiga halaman itu kecoret semua lol lol lol menyedihkan.)

Apa yang aku lakuin kalau aku nggak kuliah?

Well, that’s the point.

Jadi, aku mau bilang apa cita-citaku.
Aku pengen jadi istri dan ibu rumah tangga yang baik.

(Sana ketawa sana, silakan ketawa-_-)
(Euh, sebenernya yang pertama kali mencetuskan cita-cita ini adalah kakak kelasku yang sekarang sudah alumni, Mbak Ana, pas kutanya apa cita-citanya. Menurutku ini cita-cita yang sangat mulia banget demi apa di jaman sekarang ada yang punya cita-cita kayak gini :") Jadi aku mendampingkan(?) cita-cita ini dengan mimpiku jadi penulis sama relawan UNICEF ehe.)

Aku mungkin bakalan ikut semacam kursus memasak dan kursus menjahit karena aku bener-bener nol banget di bidang itu. Waktu SMP pernah ada cowok yang nggak jadi suka aku(?) gara-gara aku bilang aku nggak bisa masak (dia bilang sendiri). Aku nggak mau itu terjadi lagi pada cowok yang aku suka, jadi kupikir aku harus bisa masak(?). Memasak dan menjahit yang jadi poin utama di kehidupan ibu rumah tangga, kan?

(Demi apa emang geli gimana gitu sih aku ngomong kayak gini padahal aku masih kelas 2 SMA, tapi serius aku mulai mikirin ini begitu aku 16 tahun. Mungkin faktor aku-nggak-mau-umurku-16 masih melekat jadinya aku malah lompat jauh, ya.)

Trus—aku pengen mengabdi ke aksi sosial dan kemanusiaan. Mimpi utamaku UNICEF, jadi aku pengen tahu gimana cara jadi duta kemanusiaan, atau minimal relawan Indonesia dulu sebelum ke dunia. Seenggaknya aku mau keliling negara sendiri dan melihat sisi lain yang nggak tertangkap lensa kamera.

(Iya aku pengen jadi relawannya UNICEF, pengen pengen pengen banget. Aku ngikutin kegiatan UNICEF dan bahkan aku nge-print laporan perjalanannya UNICEF (Indonesia dan dunia) sepanjang tahun 2015. Yang UNICEF dunia pakai kujilid pula.)

Lalu, aku akan jadi penulis. Aku bisa jadi penulis. Pendapatanku bisa dari sana walaupun dikit dan walaupun aku nggak ngincar uang, sekalian kalau novelku best seller, uangku bisa didapat dari bedah buku atau seminar nasional kepenulisan. Oke, oke, ini terlalu muluk, dan mungkin aku terlalu naif, tapi, aamiin, ya. Aamiin. Aku udah dapet ucapan semangat dari Bunda Asma Nadia akhir tahun 2015 kemarin, aku pasti bisa aku pasti bisa.

Rencananya sih, aku bisa buka jasa ketik dan pasang iklan jasa itu di surat kabar. Sekalian ngelatih diri buat ngetik cepet juga hehe. Atau aku bisa melatih diri membuat press release tiap ada suatu acara dan memasangnya ke KACA KR, BIAS, atau majalah Hai!. (Jadi inget alasan aku diterima stucash sama rds karena aku bisa bikin release XD). Aku juga bisa memuat cerpenku di KR, KOMPAS, atau majalah eyd. Belum pernah sih, tapi aamiin aamiin aamiin.

Aku masih bisa melakukan apapun sementara teman-temanku sibuk kuliah!

Jadi, sepertinya orang-orang sudah terbiasa menganggap habis SMA itu pasti harus kuliah. Yah kayaknya bukan "terbiasa menganggap" tapi emang yang bener kayak gitu ya XD Aku masuk SMA, aku masuk jurusan IPA, itu bukan demi diriku sendiri, serius. Tapi demi kehidupanku. Beda lho ya. Aku anak salah jurusan, aku masuk IPA hanya karena aku lebih suka karakter anak IPA daripada karakter anak IPS. Serius, karena itu, dan mengenai alasan itu, aku nggak nyesel sama sekali.

Aku bisa mengambil jalur kuning sementara teman-temanku hitam-putih!

Apakah hidupku masih terlalu selo setelah aku menyebutkan rencana-rencanaku itu? Apakah kalian berpikir ‘kenapa nggak melakukan apa yang kau sebutkan di atas sambil tetap kuliah?’ Aku akan berkata NO WAY. Aku nggak mau melakukan kesalahan seperti jalur yang kulalui sekarang! Di lubuk hatiku yang terdalam (apasih) aku pengen kuliah. Pengen kuliah karena aku pengen ngerasain kayak gimana sih kehidupan di kuliah, apa suka dukanya dan lain sebagainya. Tapi, kalau aku kayak gitu, aku bakal milih kehidupanku dibandingkan diriku sendiri (lagi). Dan aku nggak mau!

Dan soal selo... Hm, ya, mungkin, dan sepertinya iya. Tapi, hidupku akan bermanfaat, dan aku bisa mempergunakannya dengan baik. Aku yang akan mengatur kehidupanku, bukan kehidupan yang mengaturku!

Karena aku ini, aku.

(Oke, aku bukannya bodoh kok. Aku tahu ini terlalu muluk dan naif dan aku belum bener-bener kekeuh sama postinganku ini. Aku juga nggak mau terlalu terobsesi sama obsesiku sendiri. Secara aku juga masih bocah dan belum tahu kekejaman dunia luar (walaupun udah pernah kecipratan api nerakanya tiga kali hshs) jadi aku nggak mau terlalu terjerat dulu ehe.)

Jadi, boleh nggak, sih... b o l e h   n g g a k  s i h . . .

Aku nggak kuliah?

You Might Also Like

0 comment(s)