Aku penulis di fanfiction.

Senin, Februari 01, 2016

Walaupun judulnya begitu, aku bukannya mau promosi fanfiction, ya. Bukan hal semacam itu, tapi—apa, sih, fanfiction? Fanfiction itu situs untuk menulis dengan slogan unleash your imagination. Jangan membiarkan imajinasimu mempunyai batas. Lepas, lepas, lepas! Itu yang kupahami setelah satu tahun aku menjadi penulis di fanfiction—maksudku, itu karena selama satu tahun keamatiranku aku belum pernah benar-benar memperhatikan slogannya.

Penulis di fanfiction, bisa dikatakan penulis lepas. Maksudku, dia nggak bisa berbuat apa-apa terhadap fanfict yang dibuatnya—memublikasikan menjadi kumpulan cerpen atau semacamnya. Karena biarpun imajinasi kita bebas, kita, kan, terikat hak cipta.

Misalnya, kita membuat fanfict di fandom Harry Potter. Kita bercerita mengenai Harry Potter sebenarnya mempunyai kakak laki-laki, dan Hermione sebenarnya punya kembaran—kemudian mereka bertemu.

Kalau kita ingin memublikasikan cerita kita yang itu, kita hanya bisa memostingnya di situs penampung fanfiction (fanfiction.net atau archiveofourown.org), dan yang membacanya, yah, hanya pengunjung situs fanfiction tersebut saja. Kita nggak bisa membukukannya karena hak untuk nama para tokoh dan situasinya kembali pada penulis aslinya, JK Rowling.

[Ngomong-ngomong, fandom adalah singkatan dari fan’s kingdom. Istana para penggemar, yang memuat fanfict mengenai fandom tersebut.]

Imajinasi yang kita tuangkan dalam fanfict bebas. Tapi yang tidak bebas itu, justru fanfict kita sendiri. Dia hanya bisa eksis di situs itu saja. Dan ngomong-ngomong soal royalti, atau bayaran untuk penulisnya, penulis fanfict tidak mendapatkan honor seperti itu. Mereka tidak diupah. Tapi, itu jika kamu mengartikan bahwa ‘bayaran sama dengan uang’.

Pengunjung yang membaca cerita kita (bila kita beruntung, karena fanfict itu ada milyaran jumlahnya), bisa diberi kebebasan untuk memberi kritik dan saran di kotak review. Apabila pengunjung itu mempunyai akun fanfict, dia bisa mem-favorite atau mem-follow fanfict kita. Dari semacam itulah, terjadinya feedback dari pengunjung yang bisa dianggap sebagai ‘bayaran’ oleh penulis fanfict. Hanya berkisar semacam itulah.

Kalau kita menulis di fandom besar, seperti Harry Potter, Naruto, Glee, dan lain-lain, bayaran semacam itu seperti makanan sehari-hari untuk kita—karena meskipun fanfictnya milyaran, pengunjung fandom tersebut juga lebih dari milyaran. Tapi kalau kita menulis di fandom yang kecil—yang bahkan fan’s kingdom tersebut adalah kita sendiri—yah, jangan harap, deh.

Misalnya saja, Last Game (manga)—dengar saja kalian belum pernah. Atau bahkan film serial yang sebenarnya kalian tahu film tersebut tapi terbengkalai di dunia fanfict—High School Musical misalnya. Semacam itulah. Review yang didapat hanya berkisar satu sampai dua (atau bisa jadi masih nol, hahaha), sementara kalau di fandom besar, mendapat review belasan itu mudah sekali. Kalau gaya tulisan dan konsepnya menarik, review-nya bisa mencapai ribuan.

Berat sebelah. Tidak adil. Menulis itu pada dasarnya sama saja perjuangannya, tetapi beda apabila kita sudah sampai titik ‘mau dikemanakan tulisan ini’. Apabila mengirimnya dalam lomba membuat cerpen (dengan tokoh orisinil dari kita sendiri), dan memostingnya ke suatu situs fanfiction (dengan tokoh dari penulis aslinya), maka ‘jalan akhir’ tulisan kita juga akan berbeda.

Kalau menang di lomba cerpen itu, kita dapat bayaran berupa uang. Dan sertifikat, belum lagi kalau ada hadiah bahwa para pemenang lomba cerpen itu akan dibukukan cerpennya.

Kalau memosting di situs fanfiction, lihat saja. Apabila fanfict kita memang bagus dan pengunjung fandomnya memang banyak—review, fave, dan follow nya bisa-bisa membengkak dalam semalam. Apabila fanfict kita bagus namun pengunjungnya sedikit, mungkin kita harus membersihkan debu di fandom itu seorang diri sampai ada pengunjung datang (itupun kalau dia membaca fanfict kita).

Pada dasarnya, takdir tulisan kita itu pilihan kita.

.

Kok, aku justru merendahkan fanfiction, ya? Well, enggak, kok. Aku bicara soal kenyataan yang dilihat oleh orang luar. Maksudku, kebanyakan orang luar pasti bertanya: Fanfiction itu apa? Kalau kamu menulis di fanfiction, terus bagaimana? Nggak dibayar? Nggak ada upah? Dan, bagaimana menjawabnya, ya, terus terang saja, memang enggak diupah. Yah, jaman sekarang memang melulu soal uang, ya.

Aku penulis di fanfiction, dan aku sudah memosting empat puluh fanfict di situs fanfiction.net.

Itu artinya, aku sudah membuat empat puluh ‘cerpen dengan tokoh mengambil dari penulis asli cerita’, yang seharusnya bisa kumodifikasi nama dan peristiwanya menjadi cerpen orisinil dariku sendiri, kemudian kuikutkan ke lomba menulis cerpen. Intinya, aku membuang empat puluh kemungkinan menang di empat puluh lomba menulis cerpen yang tidak aku ikuti. Seperti itulah.

Rugi? Tahun pertama aku menjadi penulis fanfiction—rasanya hampa. Apa gunanya menulis cerpen yang tidak akan diupah? Tidak akan dibayar? Padahal kalau ide cerita itu kita jadikan cerpen dan kita lombakan, ada satu kemungkinan menang untuk kita.

Aku menjadi penulis di fanfiction.net pada November 2013, dan aku memosting dua cerpen sampai akhir tahun.

Kemudian di tahun 2014, aku memosting 16 fanfict. Ada enam belas kemungkinan menang di enam belas lomba cerpen yang kubuang—yah, kamu bisa bilang seperti itu. Selama aku membuat fanfict itu, aku masih memikirkannya, masih memikirkan ‘kerugianku’.

Di pertengahan 2014, aku aktif di situs twitter. Aku mempunyai seorang kenalan, dan kami sangat dekat, sampai-sampai aku berkata padanya bahwa aku penulis di fanfiction dan menyebutkan nama akun fanfiction-ku. Kupikir, ia akan membaca dulu beberapa fict-ku sampai kemudian dia memberitahuku bagaimana gaya tulisanku menurutnya. Tapi, beberapa detik setelah itu, muncul mention di akunku.
Dia : Hei! Aku suka fanfict-mu yang [XXX]! Sumpah, itu buat aku ketawa gila-gilaan, itu lucu banget XD
Waktu itu aku berpikir; hah? Maksudku, pertama; aku kaget ada yang membaca fanfict-ku. Yah, memang ada beberapa komentar, kritik, dan saran di kolom review, tapi kedua; aku nggak menyangka aku bertemu dengan salah satu pembaca fict-ku. Maksudku, fict di fandom itu ada ratusan tiap harinya dan terus bertambah, jadi.. hah?
Aku : Eh? Kamu baru saja baca, atau—sudah dulu?
(itu pertanyaan yang bodoh banget memang)
Dia : Sudah dulu! Aku suka fict cerpen-cerpen kamu! Walaupun fict-mu masih sedikit, tapi review, fave, dan follow nya tergolong banyak. Aku sedikit banget T-T
Waktu itu aku seneng banget baca tweet darinya. Aku fave (lol) dan sampai sekarang masih suka aku baca untuk penyemangatku. Waktu itu, aku sama sekali nggak menyesal aku jadi penulis di fanfiction! Masa bodohlah dengan kemungkinan menang lomba cerpen atau semacamnya, aku merasa waktu itu, semua penilaian orang mengenai ‘penulis fanfiction tidak dapat upah’ sama sekali nggak penting! Aku nggak peduli! Rasanya aku mau mengabdi di fanfiction, deh.

.

Akhir tahun 2014 dan awal tahun 2015—sampai sepanjang tahun 2015, adalah kenangan menyedihkanku di fanfiction. Semoga aja nggak terulang lagi.

Yah, di dua momen itu, aku dikecewakan oleh fanfiction. Jadi, untuk memberi apresiasi pada penulis-penulis fanfiction, ada semacam ajang bernama Fanfiction Awards dan aku nggak menang. Bodoh banget sih, kalau dipikir-pikir. Hanya saja aku mau membuktikan ke semua orang kalau aku melepas kemungkinan menang di tiap lomba cerpen, itu artinya aku harus bisa mendapat penghargaan.

Tapi, ternyata hanya sebatas nominasi saja. Ada kategori untuk penulisnya, bernama ‘Best Author Newcomer’ dan akunku masuk, tapi ternyata aku nggak menang. Begitu saja, sih. Itu di akhir tahun 2014.

Kemudian, di awal tahun 2015, aku mendaftar menjadi panitia Fanfiction Awards. Cari mati banget, karena memang aku belum punya pengalaman dan belum tahu bagaimana mengurus event dan lain-lain. Pertanyaannya seputar ‘apa yang kamu lakukan apabila...’ dan kalimat selanjutnya adalah ‘...kamu nggak bisa mengatur waktu antara sekolah dan mengurus event?’, ‘pulsa dan kuotamu habis padahal posisimu lagi penting-pentingnya hari itu?’ yang kujawab sebisaku—dan jawabanku sama sekali nggak bermutu. Jawaban anak rumahan, bisa dibilang.

Aku nggak keterima, deh. Dua kenyataan itu membuatku merasa buruk banget, dan entah pada hari apa tepatnya, aku memutuskan untuk vakum di dunia fanfiction. Aku nggak mau tinggal di dunia seperti itu! Seperti kelebihan uang, merasa baik-baik saja tanpa diupah. Aku berpikir mereka semua nifak, sebenarnya mereka ingin mendapat bayaran berupa uang mengenai fanfict yang mereka buat.

Saat itu fanfict-ku mencapai belasan jumlahnya. Aku berpikir bahwa orang-orang yang menjadi penulis di fanfiction dan fanfict-nya mencapai ratusan, itu bodoh banget. Menyia-nyiakan hidup. Aku ikut beberapa lomba cerpen, dan salah satu lomba cerpen itu memutuskan aku sebagai pemenangnya dan berkat lomba cerpen itu aku mendapat seratus ribu—aku berpikir bahwa inilah yang pantas untuk kehidupan penulis—aku menulis dan aku mendapat bayaran atas tulisanku.

Itulah yang seharusnya.

.

Sepanjang tahun 2015, aku menulis dengan jumlah kurang dari jumlah tahunku sebelumnya—aku hanya memosting 14 fanfict. Apalagi di pertengahan 2015, aku sibuk (jadi koor usda artday lol) dan aku nggak memantau perkembangan Fanfiction Awards di akhir tahun. Fanfict-ku tidak ada yang dinominasikan, sama sekali nggak ada, aku benar-benar memutuskan untuk pergi.

Kemudian, di awal tahun 2016, ada pengumuman pendaftaran terbuka bagi panitia Fanfiction Awards. Aku mau mengenang betapa konyolnya pertanyaan-pertanyaan yang kudapat, sehingga aku memutuskan untuk mendaftar dan menerima pertanyaan-pertanyaan.

Saat tes wawancara, aku marah.

‘Apa yang kamu lakukan apabila kamu tidak bisa mengatur waktu antara sekolah dan mengurus event?’

Maksudku, aku berang.

Yang benar saja. Maksudku, itu adalah hal yang nggak mungkin. Kita nggak mungkin nggak bisa mengatur waktu antara sekolah dan event kalau kita mau menjadi panitia suatu event. Itu, kan, resiko yang harus diterima setiap panitia. Tapi menurutku, hal ini nggak mungkin karena sekolah itu, ya, sekolah, dan mengurus event itu, ya, mengurus event. Kalau kesibukan di luar itu, lain lagi. Yang seharusnya dipertimbangkan itu adalah bagaimana membagi waktu antara mengurus event dengan kesibukan di luar sekolah. Sekolah itu sama sekali nggak masalah, dan itulah makanya, alasan ‘sibuk sekolah’ itu nggak bisa diterima.

^Serius, sampai titik di mana aku berpikir ini, aku ingin tahu apa jawabanku tahun lalu! Apapun jawabanku, aku yakin aku nggak berpikir seperti ini ketika kelas sepuluh dulu. Mungkin gara-gara neraka artday ya (HAHAHA). Dan ngomong-ngomong atas jawabanku tahun ini mengenai pertanyaan itu, aku nggak menjawab dengan tepat paragraf itu, kok. Maksudnya, paragraf itu, kan, cuma keberangan di pikiranku.

Terus, di awal tahun 2016, aku diterima jadi panitia Fanfiction Awards.

.

Saat itu, aku masih, oh, hah?

Begitulah. Aku mendaftar jadi panitia dengan niat ‘Kalau aku nggak diterima, aku bener-bener bakal hengkang dari dunia fanfiction!’ dan ternyata aku diterima. Aku mencoba untuk kembali menyelami dunia fanfiction lagi, dan sepertinya, aku kembali ke ‘aku ketika 2014’ dahulu.

Aku pergi dari fandom yang kutinggali dan pindah ke fandom lain. Dua fanfict-ku hanya mendapat satu review, dan aku juga masih setengah-setengah menjalaninya. Mungkin aku akan seperti lilin yang mau padam saja, jadi menulis fanfiction banyak-banyak di bulan Januari tahun ini dan kemudian pergi—atau seperti itulah.

Sampai-sampai, sampai-sampai,

ada review yang muncul di fanfic ke delapanku di tahun ini.
N : Halo! Seperti biasa, ya, tulisan kamu halus sekali dan ngena. Semangat nulis yang lain!

G : Fict-nya keren! AAA! Aku suka! Aku suka! Keren banget—pake B.A.N.G.E.T! Alurnya rapi, gampang ditangkap penjabarannya ceritanya, bagus! Keep writing! Selamat berkarya!
Aku kaget baca review ini, apalagi si N itu pakai bilang ‘seperti biasa, ya’ segala—dan review nya itu jadi membuatku teringat kalau aku pernah dapet review di tahun 2015 yang kuabaikan begitu saja karena saat itu aku nggak peduli pada apapun:
H : Yang aku suka dari kisah ini adalah bagaimana cara kamu membawakannya dengan ringan dan menyenangkan. Terasa banget bagaimana aura kisah asli dalam animenya, di kisah ini. Menurutku ini sesuatu yang pantas diapresiasi karena—menyesuaikan gaya penulisan dengan fandom asal itu agak sulit menurutku.
(waktu aku membaca ini saat itu, aku hanya berpikir ‘ya, ya, ya’)
K : Halo! Saya mampir ke sini karena penasaran aja dengan karyamu. Ternyata dirimu menulis dengan gaya kasual yang ceria, ya. bahasanya luwes sekali, lucu.
(waktu aku membaca ini saat itu, aku berpikir ‘maksudnya apaan gaya nulisnya ‘ceria’? ya, ya, tapi makasih deh, ya, ya’)

Dan ketika aku membaca itu, aku baru sadar kalau itu yang aku butuhkan selama ini! Maksudku, aku baru sadar tiap kali aku nulis, aku pasti—uh, gimana cara jelasinnya, ya, merasa ringan—begitulah. Itulah gayaku menulis! Demi apa, di awal tahun 2016, aku baru sadar bahwa aku selama ini nggak tahu gimana gaya menulisku!

.

Trus, kenapa aku bikin postingan blog ini? Ini karena:
S : Cara nulismu itu mirip Tere Liye, ya. Serius, aku mikir gitu waktu aku baca karya-karyamu.
.

....hah.

HAH.

HAAAAAHH?

Aku kaget! Sekaligus seneng! Sekaligus nggak percaya! Maksudnya, yah, bandingin itu sama yang deket-deket dulu, plis, jangan langsung yang sooo high gitu, kan, aku jadi bingung mau bereaksi apa. Aku seneng banget pas baca itu, tapi aku juga kaget banget, kaget kaget kaget kaget banget dan aku mikir hah serius? ini serius, nggak bercanda? aku boleh percaya nggak?

Bahkan mau bilang makasih aja aku harus... ‘makasih, eh, tapi—serius? iya, makasih, makasih sih, tapi, hah? maksudnya, ini beneran? makasih—eh ini beneran, kan?’ dan itu nggak berhenti-berhenti sampai aku bingung mau bales apa! Aku seneng! Tapi aku kaget—tapi aku seneng.

Sampai sekarang itu aku masih cengo.

.

Dan terus, aku berpikir kalau aku nulis di fanfiction bukan untuk siapa-siapa, kecuali kesenangan diriku sendiri! Aku nulis di fanfiction karena aku pengen tahu gimana pandangan pembaca terhadap fanfictku! Aku jadi penulis bukan untuk bayaran, bukan untuk upah, bukan untuk uang atau keuntungan material! Aku jadi penulis karena aku memang pengen jadi penulis!

“Tapi, penulis di fanfiction itu kan, nggak dapet uang.”

Aku jadi penulis di fanfiction, karena aku pengen menuangkan imajinasiku ke dalam suatu cerita. Aku pengen pembaca fanfict-ku tahu apa yang aku pikirkan mengenai fanfict-ku, aku pengen pembaca tahu kalau aku pengen bilang, ‘gini, lho, aku tuh pengen ceritanya jadi kayak gini’, ‘gini, lho, aku pengennya, tuh, tokoh ini matinya kayak gini’, ‘gini, lho, aku tuh pengen si A jadiannya sama si C’, dan lain-lain! Aku pengen pembacaku tahu tentang itu dan ngerasain apa yang aku rasain!

Karena aku itu, penulis di fanfiction.

You Might Also Like

0 comment(s)