film

[Review] J-Movie: GOTH

Rabu, Februari 24, 2016

Tumben banget, aku mau nge-review film. Ini padahal H-3 UTS dan aku masih nggak ngerti apa-apa, dan aku masih selo di sini, dan, yah, aku nulis blog aja deh.

Drama Jepang, sih, dan itu adalah drama (yang seharusnya) favoritku pas dulu aku kelas 1 SMP. Sekarang, sih, yah, aku udah nonton ulang dan ekspektasiku berkurang drastis. Masalahnya, itu ada di folder “Movie Jepang Favorit!” dan yah, aku kan bayanginnya macam-macam.

(Soalnya, movie Jepang yang terakhir aku tonton itu Ansatsu Kyoushitsu Live Action yang baru kutonton minggu ini, dan aku sama sekali nggak terkesan jadi nggak aku masukin ke folder situ dan masih menyampah di folder Download sampai sekarang.)

Judulnya, Goth.

Genrenya Suspense, Crime dan Horror, oke terkesan menyeramkan emang. Tapi ceritanya hah sama sekali nggak ada yang menegangkan, nggak ada konteks kriminal yang serius dan nggak ada plot yang mengagetkan atau minimal menyeramkan atau lebih-minimal-lagi, seenggaknya bikin aku pengen memalingkan muka. Itu nggak ada. Hah. Yang ada aku malah cengo.

(Oke, aku masih inget pas aku SMP aku hanya mantengin Kanata terus dan jerit-jerit ala cewek-cewek fangirling yang buta dunia nyata kalau setiap kali Kanata ngerutin kening dengan keren.)

Apa alasanku nonton ini waktu SMP dulu? Aku jamin, aku nonton ini karena yang main adalah pangeran SMPku, Kanata Hongo. Dia cakep, keren, oke, itu menurut bayangan SMPku dulu karena sekarang aku ngeliat dia dan nganggap matanya kayak mata ikan dan mikir apa dia itu porsi makannya nggak mencukupi ya karena badannya kurus kering dan keliatan kurang gizi.

Iya, tokoh utama di Goth ini ada dua. Kanata Hongo, dan satu cewek lagi namanya Takahashi Rin. Aku nggak tau sepak terjangnya dia di perfilman karena, sekali lagi, waktu di SMP aku cuma ngikutin sejarahnya Kanata Hongo dari waktu dia masih kecil jadi bintang iklan sabun sampai udah duduk di bangku kuliah masih main peran jadi anak SMA yang kerja sambilan jadi pencuci piring di suatu restoran. Oke aku kebanyakan ngomong.

Kanata Hongo di sini main sebagai Kamiyama, dan Takahashi Rin jadi Morino. Mereka seangkatan di SMA, dan cerita bermula ketika di daerah sekitar situ ada kasus pembunuhan berantai. Aku nggak tau kenapa pembunuhan berantai sering banget jadi konsep genre crime, mungkin karena bagus buat ngepanjang-panjangin cerita tanpa mengurangi suspense-nya, ya.

Nah, mereka berdua ini secara kebetulan suka banget sama dunia misteri dan kejadian berbau kasus. Tapi di sekolah, Kamiyama sama sekali nggak kelihatan punya ketertarikan terhadap gore atau sebagainya. Dia sifatnya ceria, populer, disenangi banyak cewek, nggak ada yang tahu, deh. Yang tahu cuma Morino ini. Dia cewek yang dingin, aneh, misterius, dan mengerikan yang nggak punya temen sama sekali.

Mereka berdua ini sebenernya deket karena punya hobi yang sama. Mereka suka banget bahas cara menangani kasus ini, kayak cara menjebak si pembunuh, dan lain sebagainya. Soalnya, si pembunuh berantai yang lagi marak ini hanya membunuh cewek anak sekolahan yang cantik dan berambut panjang. Setelah dibunuh, mayatnya dibuat sedamai mungkin di tempat-tempat indah kayak di pinggir sungai jernih, hutan, dan sebagainya. Tapi, mayatnya itu pasti lengan kirinya dipotong sampai tinggal sepergelangan.

(Oke tenang aja, ini sama sekali nggak nyeremin. Sama sekali. Nggak. Nyeremin. Kutegaskan, aku yang penakut dan udah siap-siap merem aja malah cengo. Nggak tau sih, pas kelas 1 SMP dulu aku gimana. Mungkin malah mantengin ekspresinya Kanata yang sok kaget.)

Morino dan Kamiyama ini kalau ngobrol selalu di cafe langganannya Morino. Satu cafe itu isinya pelanggan yang aneh semua karakternya kayak mereka. Suatu hari, mereka menemukan buku yang jatuh di cafe itu. Begitu mereka buka, ternyata isinya tuh daftar nama dan foto cewek-cewek yang udah dibabat habis sama si pembunuh berantai yang beritanya lagi heboh-hebohnya itu.

Ditarik kesimpulan, buku yang mereka temukan adalah buku rekapan si pembunuh. Yang bikin aku bingung, si pembunuh berantai itu dia bisa-bisanya jatuhin buku rekapan yang penting banget gitu aja. Itu bodoh banget. Kalau cewek yang dia bunuh udah sampai berlembar-lembar, harusnya dia berpengalaman dan profesional, dong, secara dia ahli dalam menghapus sidik cari dan barang pembunuh. Tapi dia jatuhin bukunya gitu aja? How easy.

Di situlah, mereka nemu satu nama cewek, Nanami, yang mayatnya belum ditemukan oleh polisi karena ‘dipajang’ di puncak gunung. Dengan berbekal kebodohan dan akal sehat yang hampir habis, mereka berdua pergi ke puncak. Plis, nggak bawa senjata sama sekali. Modal mereka adalah peran sebagai tokoh utama yang menjamin mereka nggak akan mati sampai akhir cerita.

Ketemu deh mereka sama mayat Nanami. Cewek dengan rambut panjang, didudukin di kursi merah, pakai seragam sekolah, dengan tangan kirinya udah dipotong sampai ke pergelangan. Nggak mengerikan sama sekali, tapi entah kenapa ekspresinya mereka berdua syok dan backsound-nya sangat berlebihan. Kalau orang normal bakal lapor polisi, kalau mereka berdua sepakat itu jadi rahasia sehidup semati.

Terus, ada korban pembunuhan lagi di suatu gedung tua. Yang nemuin adalah adiknya Kamiyama, namanya Sakura. Eh, nggak ngekomentarin si yang dibunuh itu, Kamiyama malah iri sama kemampuan (keapesan) adeknya. Dia soalnya pengen jadi yang menemukan mayat pertamakali, demi itu sifat yang plis aneh banget. Alhasil pas ketemuan sama Morino, Kamiyama malah kepo-kepo Morino itu punya adik apa enggak.

Ternyata Morino jawab, kalau dia punya adik kembar, namanya Morino Yu (Kalau si Morino ini, namanya Morino Yoru). Tapi, adiknya udah meninggal 9 tahun yang lalu, dibunuh sama dia secara nggak sengaja—plis aku sebenernya pengen kaget sama fakta ini tapi aku lebih ke cengo (lagi). Jadi, dua bersaudara ini suka banget sama permainan yang menyeramkan. Soalnya si adik, Yu, suka di-bully di sekolah dan dia butuh pelampiasan ke hal-hal berbau gore, kayak dia suka nyiksa binatang gitulah.

Akhirnya, kakaknya ini, Morino Yoru, ngeladenin adiknya. Jadilah mereka dua bersaudara sama-sama aneh semua. Mereka main pura-pura gantung diri. Adiknya manjat kursi dan ngepasang talinya di leher, terus Morino ngegoyang-goyangin kursinya sambil ketawa. Yu juga ikut ketawa, dan tibalah kita pada scene yang sebenarnya sudah terduga, Morino nggak sengaja ngejatuhin kursinya, dan berakhirlah Yu yang lehernya udah kejengat tali langsung tewas tergantung.

(Ini nggak serem plis, aku malah setengah cengo setengah pengen ketawa.)

Scene flashback ini adalah hasil dari mimpinya Morino. Morino bangun dengan kaget dan dia nggak bisa tidur sampai pagi, dan dia masih kehantui sampai dia sampai di sekolah. Dia di sekolah kayak zombie yang gentayangan, dan pulang sekolah dia minta Kamiyama nemenin dia beli tali tambang. Soalnya kalau dia lagi insomnia, dia punya kebiasaan ngelilitin tali tambang di lehernya—plis ini kebiasaan macam apa dia freak nya kelewatan sumpah.

Suatu hari lain, Kamiyama ngusulin Morino buat berpakaian persis kayak mayat Nanami (yang sampai sekarang belum ditemukan) dan jalan-jalan keliling kota buat mancing si pembunuh. Usaha itu berhasil, soalnya hari itu juga Morino dapet telepon misterius yang bilang “Aku tahu siapa kamu sebenarnya” dan surat yang isinya berita kematian adiknya, Yu. Tapi ini bikin Morino takut setengah mati, dan besoknya Morino marahin Kamiyama karena cuma Kamiyama yang tau nomor hapenya.

(Dia se-introvert apa sih.)

Besoknya, Morino nggak masuk sekolah tanpa bilangin Kamiyama. Mungkin udah ketularan aneh atau gimana, Kamiyama sama sekali nggak kepikiran kalau Morino itu mungkin sakit flu atau masih belum bangun tidur di rumah. Yang ada di pikiran Kamiyama itu, Morino udah dibunuh sama si pembunuh bayaran dan bermodalkan buku rekapan si pembunuh, Kamiyama ke semua lokasi yang ada di buku itu buat nyari Morino.

Tapi nggak ketemu, dan Kamiyama beli minum trus duduk di bangku pinggir jalan. Dan tiba-tiba hujan deras, Kamiyama malah buka buku rekapan pembunuh itu dan baca-baca di tengah hujan melanda. (Aku masih inget pose ini aku screencapt lol). Tiba-tiba, di tengah hujan itu dia dapet pencerahan mengenai siapa pembunuh berantai itu, how smart, Kanata.

Dan, siapa pembunuhnya itu? Yah, pembunuhnya adalah si pemilik cafe ha-ha. Sangat nggak terduga sebenernya, dan kita nyaris lupa fakta tak terbantahkan di film pembunuh berantai bahwa pembunuh dalam film misteri itu pasti pernah nongol di suatu scene di film tersebut, dan si pemilik cafe itu adalah satu-satunya orang yang memenuhi syarat selain si adik Kamiyama, Sakura (karena kukira Sakura pelakunya lol yah nggak mungkin sih.)

Kekuatan tokoh utama, Morino enggak dibunuh tapi entah kenapa hanya dibius dan si pemilik cafe itu sama sekali nggak tergerak untuk langsung membunuhnya, dan setelah menangkap pelakunya, Kamiyama dengan akal sehatnya yang entah di mana sama sekali nggak berjuang buat menyelamatkan Morino yang notabene bisa diselamatkan kapan aja karena cuma dibius dan disekap di suatu atap gedung. Yap, Kamiyama langsung naik bus atau kereta aku lupa, dia kembali ke sekolah.

Di tengah perjalanan dia menelepon Morino, yang secara ajaib langsung bangun begitu ponselnya berdering. Ternyata si penelepon misterius itu adalah Kamiyama (ini kesimpulanku sendiri karena sampai akhir nggak dijelasin) karena Kamiyama langsung cerita panjang lebar dia tau sebenarnya Morino itu siapa.

Yap. Morino Yoru, yang lagi teleponan sama Kamiyama ini, sebenarnya adalah Morino Yu, si adik kembar. Jadi, sebenarnya yang lagi gelantungan di tali itu adalah si kakak dan si adik lagi yang mainin kursinya. Si adik, Yu, yang nggak sengaja ngejatuhin kursinya dan si kakak, Yoru, yang nggak sengaja tergantung tali sampai mati.

Rasa bersalah si adik, Yu, membuat dia membulatkan tekad untuk terus melanjutkan hidup kakaknya dan membiarkan dirinya yang mati. Makanya dia langsung merubah identitas menjadi si kakak, Morino Yoru, dan membuat berita palsu kalau yang mati adalah Morino Yu alias dirinya.

Tertangkap basah, Morino Yoru atau Morino Yu atau terserahlah dia siapa, nanya di telepon ke Kamiyama, “Tapi kenapa kamu menyelamatkanku?”

Kamiyama jawab, “Karena aku pengen tahu lebih banyak tentang adikmu.”

Dan adik yang dimaksud di sini adalah Morino Yu yang itu adalah dia sendiri sebenernya. Setelah itu, Morino bilang, “Terimakasih,” dan menutup telepon. Kamiyama langsung mengembalikan teleponnya dan menatap ke perjalanan. Morino, di atap suatu gedung, meletakkan teleponnya dan kemudian lanjut (what the hell banget ini, dia lanjut—) tidur.

Dan filmnya tamat. Habis. Musnah.

Sekali lagi, aku berakhir cengo. Oke, bagian akhir yang mengungkap jati diri Morino sebenarnya itu sukses bikin aku kaget, tapi pada akhirnya sebelum aku bener-bener mengungkapkan kekagetanku, adegan itu langsung berakhir kandas dengan sangat tragis-nya dan aku berakhir di sini, lagi-lagi, cengo.

.

.

Oke, itu detail filmnya. Sekarang, aku akan bilang positif dan negatifnya.

Negatifnya adalah, ceritanya nggak ‘lebih’ keren. Maksudnya, udah klimaks, sih, plotnya itu udah keren apalagi pembunuh berantainya yang nggak terduga. Si pemilik cafe itu sering muncul, dia nganterin minuman dan bukain pintu bilang ‘selamat datang’, tapi di sini kita sama sekali lupa bahwa tokoh yang ditampilin wajahnya di suatu film pembunuhan tapi dia nggak sebagai apa-apa itu berpotensi menjadi si pembunuh. Itu udah keren banget. Sayangnya kurang greget.

(Apalagi ending-nya, plis, itu maksudnya apa si Morino ngapain bobok lagi?)

Positifnya adalah, yah, walaupun nggak realistis, tapi karakternya itu unik dan bikin ‘hah’ banget. Terutama si Morino yang hobi ngelilitin tali kalo insomnia dan punya hobi main gantung diri itu, plis, freak abis tapi disitu kerennya. Kembali ke ending, menjawab sisi negatif yang ‘apa-apaan itu kenapa Morino bobok lagi nggak kabur atau nggak gimana gitu hah’ jawabannya gampang, ya karena dia dasarnya aneh jadi ya.. gitu. Kita yang normal nggak akan bisa mengerti.

Apalagi, castingnya, si Kanata sama Takahashi ini adalah duo-Jutek-Face yang mereka nggak pernah senyum bahkan di cover majalah sekalipun. Apalagi Kanata, sekalinya dia senyum itu cuma senyuman narik satu sisi bibir gaya nantang gitu deh di aktingnya yang dia jadi preman sekolah, yang sangat-bukan-senyum. Akting mereka keren, sifat mereka misterius-aneh itu udah mendukung cerita.

Yang disayangkan, tuh, ya, ceritanya itu, sih.

.

.

Oke. Itu dariku, sekian.

dilema

Tentang Tiga Kita: kamu pesimis bisa jadi penulis, kan, Ras?

Senin, Februari 22, 2016


.

.

1.

Ras, kamu gimana, sih? Kamu mau ngelupain semua perjuanganku selama hari Jum’at? Di mana aku pagi-pagi ke ruang BK, terus pas istirahat juga ke sana, dan pas pulang sekolah juga ke sana? Di mana aku udah ngomong panjang lebar sampai dikasih nomor teleponnya?

2.

Aku pengen banget ngelanjutin yang itu, Ras. Tapi tau sendiri, kan, kalau aku bener-bener ngeiyain apa kata guru BK-nya itu, aku nggak bakal ada di skenario ‘perjumpaan kembali kawan sekelas lama kita’? Dan lagi, jas laboratorium itu manis banget.

3.

Hanya demi dua hal kayak gitu? Aku lebih setuju sama yang tadi, sih. Tapi kan, apa gunanya perdebatan kalian, kalau aku di sini masih setuju sama usulku sendiri yang pada akhirnya aku nggak pilih universitas manapun?

.

.

1.

Ras, kayak gitu, mah, namanya membuang segalanya. Lebih baik, sekarang kita pindah ke kelas IPS sesuai dengan apa yang aku perjuangin pas hari Jum’at. Toh, ArtDay juga udah kelar dari lama, kenapa sampai sekarang masih nggak pengen pindah juga, sih?


2.

ArtDay itu kan alasan utama sekaligus alasan sampingan. Sebenernya aku juga pengen ngelama-ngelamain aja, sih. Kalau aku pindah ke IPS, tuh, masa depan cerah apa enggak masih enggak pasti, tapi masa SMA lebih enggak bahagia. Iya, sih, selo, tapi temen-temen mau kamu kemanain, gitu, lho? Kok, kamu mengedepankan kutipannya Agatha Christie yang ‘walk first, walk alone’ sih?

3.

IPS itu bisa memikirkan apa yang nggak sempet dipikirin anak IPA, tahu. Kalau kamu pindah IPS, kamu bisa fokus nulis pakai banget, dan lagi kamu sempet ngirim e-mail ke pihak UNICEF dan bilang kalau kamu pengen jadi relawan sana, sesuai yang udah aku rencanain dari lama.

.

.

(1,2.

Tapi, Ras, kamu kan baru.

3.

Kalian bisa berhenti ngungkit hal itu nggak, sih? Pada kenyataannya, aku ada juga karena perdebatan kalian yang ‘IPA apa IPS’ itu nggak selesai-selesai sampai sekarang tahu.

2.

Iya, emang. Tapi, kamu ada bukan untuk menengahi, tapi malah datang dengan pendapat baru yang isinya seputar ‘udahlah itu nggak penting karena fyi aku disini untuk bilang aku nggak pengen kuliah’ dan itu malah bikin segalanya tambah ribet tau nggak?

1.

Tapi seenggaknya, dengan datengnya dia, kamu jadi sadar kalau aku itu ada.

2.

Mending ini jangan dibahas lagi, oke.
)

.

.

1.

Rencanaku gini. Kamu pindah IPS. Emang telat banget, tapi nyatanya masih bisa kan? Nyatanya juga sekolah mau ngebantu. UTS tinggal seminggu lagi, tapi itu cukuplah buatmu seminggu ngejar materi anak IPS. Toh, kamu emang pinter ngehapalin dan suka buat rangkuman, kan? Sana, pindah IPS, jelasin seadanya sama temen-temenmu, tutup buku, dan lolos SNMPTN, sana!

2.

Oke, iya, kalau aku di IPA, aku nggak bakalan lolos SNMPTN, iya. Tapi itu enggak segampang apa yang kamu omongin!
1.

Nggak gampang apa? Nyatanya pas kamu ngebolehin aku ngambil alih kendalimu, aku bisa ngomong sejelas-jelasnya ke guru BK dan dia mau ngebantu kamu kalau kamu bener-bener mau pindah ke IPS! Udah kelar semuanya, Ras! Kamu kalau netep di IPA, nyari apa? Nunggu dapet nilai ulangan Kimia jelek lagi?

2.

Enggak, oke, emang enggak. Tapi aku pengen di IPA. Di IPA itu banyak suka-dukanya, tahu! Dan lagi, kalau di IPS memang ada waktu selo buat nulis, tapi di IPA itu kamu dapet banyak ide! Masih inget cerpen yang juara itu? Yang isinya tentang anak cewek yang gila karena dia liat personifikasi Kimia di kamarnya? Kamu pikir aku bisa menggambarkan perasaan si cewek dengan detail kalau aku di IPS?

1.

Itu tentang kamu, kan.

2.

Enggak, dan iya, tapi enggak separah yang di cerpen, tapi itu bukti kalau di IPA aku dapet banyak hal. Aku bisa dapet banyak ide. Kamu masih inget kan waktu kita beberapa hari berturut-turut mampir kelas IPS terus? Ada anak-anak yang kamu sayangin karena mereka ada di tingkatan yang ‘saking keseringan selo sampai nggak tau lagi kalau selo mau ngapain’? Itu kamu iri sama mereka karena kamu nggak pernah selo kan? Tapi kalau kamu ada di posisinya mereka, bukannya kamu malah susah nulis karena sudah terlena sama yang kayak gituan?


1.

Alesan! Kamu pengen IPS, aku tau! Kamu lebih bahagia kalau di kelas IPS! Aku tau kamu, Ras! Kamu kalau selo nggak bakal kayak mereka. Kamu bisa buat ide yang malah lebih berwarna! Malah lebih di tingkatan atas yang nggak sempet kamu liat kalau kamu masih di kelas IPA! Pindah, pindah, pindah, Ras!


2.

Aku nggak mau! Aku suka IPA karena ini IPA.


1.

Hah, mulai deh, nggak masuk akal. Aku pengen banget ada momen di mana nanti semua masa SMAmu sudah harus berakhir dan kamu terluntang-luntung sendirian dan aku dateng dan aku teriak di depan wajahmu ‘NAH APA KUBILANG DULU’.

2.

Oke, tunggu aja! Nyatanya, aku ini aku, dan kamu ada cuma bisa ngingetin tanpa ngerubah apapun. Di IPA, ada suka-duka, ada asam-garam, ada pahit-manis-pahit-pahitlagi! Toh juga, aku bukannya nggak bisa IPA, kan! Aku bisa IPA kalau aku mau belajar! Sekarang aku udah mulai suka matematika.


1.

Itu matematika, bukan IPA. Perlu kuingetin berapa nilai ulangan Biologi, Kimia dan Fisikamu?

2.

Nggak butuh!

1.

Kamu kalau di IPA pengen masuk mana? Kamu kalau di IPA bakal gimana? Bener-bener deh kamu itu manusia yang bisanya cuma nyesel!

2.

Suka-suka aku! Kamu bisa nggak, sih, diem? Sejak aku sadar kalau kamu itu ada, lama-lama kamu jadi semakin ngeganggu aku dan nggak bisa bikin aku tidur lelap!

1.

Aku ada karena memang itu tugasku. Aku ada karena aku ini sisi lain dari kamu yang sebenernya pengen banget masuk IPS dan setuju kalau alasanmu di IPA itu enggak masuk akal. Di hari ketika kamu sadar aku ini ada, kamu mulai nganggap aku lebih ngeganggu kamu terus dan ini sedikit-banyak salahmu juga karena kamu mulai berani ngeladenin aku sejak itu!

2.

Iyalah! Waktu kamu cuma sekadar suara-suara di kepalaku, aku cuma diem karena aku bisa dianggep nggak normal kalau aku bales suaramu!

1.

Sekarang karena kamu udah sadar itu, dan kamu mulai berani nimpalin aku sampai kita debat kayak gini, itu kamu udah nggak normal, sih. Kamu inget cerpenmu yang ‘Matahari, Tuhan di mana?’ itu kamu menggambarkan perdebatan kita berdua begitu kamu sadar aku ada, kan?

2.

Aku nggak bisa diem kalau kamu terus nyerocos! Jadi, bisa nggak, sih, kamu diem jadi aku bisa berhenti keliatan nggak normal?

.

.

3.

Hai. Aku dateng untuk lagi-lagi menengahi kalian berdua, lagi.

2.

Selamat datang, dan kamu telat banget. Makasih sama niat baikmu, tapi aku yakin nanti jatuhnya kamu bakal menyuarakan argumentasimu yang itu dan bikin kita bertiga saling ribut dan aku makin keliatan nggak normal sebagai manusia tiga kepribadian ini.

1.

Berhenti bilang ‘tiga kepribadian’ bisa nggak, Ras? Toh, kita juga nggak bener-bener semengerikan kayak yang di film-film. Kita berdua cuma suara-suara, dan kalau salah satu dari kita ngambil alih kendalimu, itu nggak bener-bener berubah jadi suatu karakter lain, kan?

3.

Aku nggak begitu peduli sih kalian mau menyebutku sebagai apa, tapi oke, aku memang bakal menyuarakan argumenku. Jadi, menurutku sama sekali nggak masalah mau masuk IPA atau IPS, karena aku ada gara-gara ada sisi lain dari kamu, Ras, yang butuh waktu untuk membayangkan betapa terluntang-luntungnya kamu besok setelah masa SMA ini selesai.

1.

Aha! Jadi, kamu sudah membayangkan bahwa dia ini akan terluntang-luntung setelah masa SMA?


3.

Iya, kayak gitulah. Itu karena, aku masih nganggap nggak masuk akal, sih, tapi alasan masuk IPAnya dia itu kuat banget. Jadi selogis apapun alasanmu yang sebenernya dibenerin juga oleh dia, dia nggak bakal pindah ke IPS.

1.

Hah. Wah. Oke. Yah. Kalau begitu sebentar lagi aku akan menghilang—oh, dan satu-satunya alasan aku masih ada karena aku masih pengen teriak di kepalanya ‘APA KUBILANG DULU’ ketika momen itu datang, kan?


2.

Bisa nggak, sih, kalian berhenti ngobrol? Aku udah siap dengerin, nih, lho.


.

.

3.

Oke. Aku disini mau bilang pendapat dan rencanaku selepas SMA. Aku pengen kita nggak kuliah. Karena inget kan, pas aku ngambil alih tubuhmu dan aku nulis puluhan jurusan IPA dan IPS, terus mulai metode ‘coret satu-satu sampai sisa satu’ dan nyatanya semua kecoret nggak ada satupun yang sisa?

2.

Aku tau kamu mau ngebicarain ini, tapi, oke. Iya. Tapi bukannya aku nyaris bingung antara Sastra dan Komunikasi?


3.

Tapi itu kan bukan bener-bener kamu gitu lho. Itu cuma nyerempet dan malah kayak semacam lima persennya! Kamu itu kan pengen jadi penulis to Ras, kamu kan pengen fokus ke bidang kemanusiaan to Ras. Kenapa nggak langsung fokus aja? Kenapa nggak fokus jadi penulis dan berjuang biar jadi relawan UNICEF?


2.

Nggak bisa segampang itu Ras. Kamu nggak tau ya, dunia itu kejam! Kenyataan itu nggak segampang apa yang kamu bayangin. Jadi penulis itu susah, iya, kamu tau kenyataannya kemarin kan? Pas naskah novelmu ditolak? Susah, Ras! Diterbitin aja susah, belum lagi habis diterbitin nanti nggak pasti laku juga! Apalagi jadi relawan UNICEF, susah banget lah Ras.

3.

Trus kamu maunya apa, sih Ras? Kamu pengen kuliah? Kalau kamu kuliah, kamu itu milih jalur aman! Kamu pilih IPA juga sebenernya ambil aman, kan Ras? Kalau kamu kuliah, impianmu jadi penulis ketunda lagi, apalagi yang relawan UNICEF itu, mau kamu hapus? Mau kamu apain perjuanganku yang nge-print semua liputan perjalanan kemanusiaan UNICEF sampai kujilid segala itu?
2.

Kamu ambisius banget, sih. Sama aja kayak dia. Nggak ada bedanya. Yang satu terlalu ambisius biar aku mengalami masa SMA di zona nggak aman, dan kamu ambisius biar aku mengalami masa setelah lulus SMA di zona yang nggak aman DAN mengerikan.

3.

Itu gara-gara kamu selalu ada di zona aman terus Ras. Terlalu aman, malah. Harusnya kamu berterimakasih sama kita karena kita ini nggak main-main. Kalau kamu besok bener-bener tetep masuk kuliah, tamat Ras. Kamu bakal nyesel dua kali lipat. Kamu nggak mau bener-bener jadi manusia yang bisanya cuma nyesel kan?

2.

Tapi di kuliah, aku bisa tau sisi kehidupan anak kuliah. Aku bisa tau suka-dukanya anak kuliah, bisa dapet perasaannya, Ras. Gimana, sih, rasanya ospek, gimana rasanya cari dosen, gimana rasanya berjuang di skripsi, gitu! Biar jadi bahan ide novelku!

3.

Tuh, kan! Lagi-lagi alasanmu dangkal kayak gitu! Aku di sini lebih serius lagi Ras. Kamu kuliah bakal dapet segala macam perasaannya, tapi kamu nggak bakal sempet nulis itu semua! Bisa nggak, plis, kamu fokus nulis aja? Buang semuanya, tulis! Di kuliah semua emang udah punya jalan masing-masing Ras. Dan jalanmu itu bukan untuk kuliah!

2.

Oke. Tapi aku nggak bisa mutusin sekarang. Itu kan enggak gampang.


3.

Hah. Aku pokoknya nggak mau capek ngingetin kamu. Aku nggak mau ngebiarin kamu pilih kuliah. Kapanpun. Aku nggak mau kamu kuliah, sama kayak dia yang sebenernya nggak mau kamu kelas IPA. Kamu jangan berani-beraninya kuliah. Fokus nulis. Fokus. Nulis.

2.

Udah, deh, kamu diem aja. Nggak bisa segampang itu. Di mana-mana, habis SMA itu kuliah.

3.

Apa salahnya sih pilih zona nggak aman? Keluar dari zona aman, Ras! Sebenernya yang ngehambat ini semua tuh kamu sendiri, kan? Tinggal yakin dan teriak ke dunia ‘AKU NGGAK KULIAH DAN AKU MAU FOKUS NULIS’ itu apa susahnya sih?

2.

Emangnya kamu yakin begitu aku nggak kuliah aku bisa jadi penulis?

1.

NAH! Tuh kan! Yang bikin pesimis tuh kamu sendiri!


2.

Kamu ngapain ikut ngomong sih.


1.

Kamu nggak mau IPS juga karena kamu terlalu pesimis. Kamu ngerasa harus kuliah karena kamu terlalu pesimis. Yang terlalu pesimis sebelum ngecoba zona nggak aman itu kamu sendiri kan? Pada dasarnya tuh, keinginan aku sama dia sama, kita pengen ngeperjuangin impian yang kamu pesimisin itu.

3.

Nah, iya! Kita itu udah berusaha ngekuatin kamu Ras, tapi kamu sendiri?


.

.

1,3

Kamu pesimis bisa jadi penulis, kan, Ras?


2.

........................pergi sana kalian.
.

.

.

Oke, ini kembali ke aku lagi. Kalau kalian mau tanya ke aku itu bener apa enggak, aku nggak bakal jawab. Tapi aku cuma mau meluruskan: iya, mereka berdua itu nyebelin banget zZZ -_- Mereka itu sewot, keras kepala banget, maju pantang mundur kayak tank. Semau mereka sendiri, tapi... sebenernya aku ngerasa mereka ada benernya juga sih. Iya, maaf, diriku sendiri, maaf, aku nggak yakin bisa jadi penulis hebat atau enggak.

Nah. Aku udah ngebiarin kata-kata si aku yang pengen aku ke IPS, dan inilah jadinya aku. Cewek melankolis mulu kerjaannya-_- Terus, sekarang si aku yang lain itu nongol dan aku ngerasa aku nggak boleh ngebiarin dia gitu aja sih. Tapi..... tapi.......... "nggak kuliah" itu............

Selalu aja, alasannya karena: Nggak segampang itu.

Padahal, yah, aku juga udah sadar sih, yang bikin nggak gampang itu karena aku terus ngehambat. Oke, sekarang aku lagi berusaha mencerna argumentasi aku yang satunya itu yang pengen aku nggak kuliah. Hngngngng....... itu gimana ya.

Pengen bilang "nggak segampang itu" lagi.... tapi lama-lama kedengeran klise.

Tapi kalau "aku nggak kuliah" itu rasanya.............

Aku bakal nyesel apa enggak, ya? Aku bakal nyesel kalau pilih yang mana? Aku bakal nggak nyesel kalau pilih yang mana?

.

.

dilema

boleh nggak, sih, aku nggak kuliah? (dor)

Senin, Februari 08, 2016

 
gambar nggak ada hubungannya, 
aku cuma mau bilang uh demi apa mereka lovey-dovey sekali <3

Tarik napas. Tarik napas.
Oke, aku akan mengatakannya.
Aku bisa mengatakannya, dan aku memang harus mengatakannya. Jadi, begini.

Boleh nggak, sih... maksudku, b o l e h  n g g a k  s i h . . .
Aku nggak kuliah?

/krik krik/
(Kayaknya Mbak Rahayu memperkuat keyakinanku ya)

Ini serius. Entah kenapa aku pengen nggak kuliah. Aku nggak punya impian muluk-muluk seperti teman-temanku yang lain. Aku merasa kalau aku kuliah aku justru kayak memaksakan diri kuliah. Memaksakan diri memilih satu dari sekian banyak jurusan yang pada dasarnya nggak ada yang cocok sama passion­-ku.

(Aku bahkan pernah nge-list daftar semua jurusan dan ku-print, lalu satu per satu jurusan kucoret dari apa jurusan yang paling nggak cocok sama aku, dan pada akhirnya semua daftar jurusan di kertas yang nyaris tiga halaman itu kecoret semua lol lol lol menyedihkan.)

Apa yang aku lakuin kalau aku nggak kuliah?

Well, that’s the point.

Jadi, aku mau bilang apa cita-citaku.
Aku pengen jadi istri dan ibu rumah tangga yang baik.

(Sana ketawa sana, silakan ketawa-_-)
(Euh, sebenernya yang pertama kali mencetuskan cita-cita ini adalah kakak kelasku yang sekarang sudah alumni, Mbak Ana, pas kutanya apa cita-citanya. Menurutku ini cita-cita yang sangat mulia banget demi apa di jaman sekarang ada yang punya cita-cita kayak gini :") Jadi aku mendampingkan(?) cita-cita ini dengan mimpiku jadi penulis sama relawan UNICEF ehe.)

Aku mungkin bakalan ikut semacam kursus memasak dan kursus menjahit karena aku bener-bener nol banget di bidang itu. Waktu SMP pernah ada cowok yang nggak jadi suka aku(?) gara-gara aku bilang aku nggak bisa masak (dia bilang sendiri). Aku nggak mau itu terjadi lagi pada cowok yang aku suka, jadi kupikir aku harus bisa masak(?). Memasak dan menjahit yang jadi poin utama di kehidupan ibu rumah tangga, kan?

(Demi apa emang geli gimana gitu sih aku ngomong kayak gini padahal aku masih kelas 2 SMA, tapi serius aku mulai mikirin ini begitu aku 16 tahun. Mungkin faktor aku-nggak-mau-umurku-16 masih melekat jadinya aku malah lompat jauh, ya.)

Trus—aku pengen mengabdi ke aksi sosial dan kemanusiaan. Mimpi utamaku UNICEF, jadi aku pengen tahu gimana cara jadi duta kemanusiaan, atau minimal relawan Indonesia dulu sebelum ke dunia. Seenggaknya aku mau keliling negara sendiri dan melihat sisi lain yang nggak tertangkap lensa kamera.

(Iya aku pengen jadi relawannya UNICEF, pengen pengen pengen banget. Aku ngikutin kegiatan UNICEF dan bahkan aku nge-print laporan perjalanannya UNICEF (Indonesia dan dunia) sepanjang tahun 2015. Yang UNICEF dunia pakai kujilid pula.)

Lalu, aku akan jadi penulis. Aku bisa jadi penulis. Pendapatanku bisa dari sana walaupun dikit dan walaupun aku nggak ngincar uang, sekalian kalau novelku best seller, uangku bisa didapat dari bedah buku atau seminar nasional kepenulisan. Oke, oke, ini terlalu muluk, dan mungkin aku terlalu naif, tapi, aamiin, ya. Aamiin. Aku udah dapet ucapan semangat dari Bunda Asma Nadia akhir tahun 2015 kemarin, aku pasti bisa aku pasti bisa.

Rencananya sih, aku bisa buka jasa ketik dan pasang iklan jasa itu di surat kabar. Sekalian ngelatih diri buat ngetik cepet juga hehe. Atau aku bisa melatih diri membuat press release tiap ada suatu acara dan memasangnya ke KACA KR, BIAS, atau majalah Hai!. (Jadi inget alasan aku diterima stucash sama rds karena aku bisa bikin release XD). Aku juga bisa memuat cerpenku di KR, KOMPAS, atau majalah eyd. Belum pernah sih, tapi aamiin aamiin aamiin.

Aku masih bisa melakukan apapun sementara teman-temanku sibuk kuliah!

Jadi, sepertinya orang-orang sudah terbiasa menganggap habis SMA itu pasti harus kuliah. Yah kayaknya bukan "terbiasa menganggap" tapi emang yang bener kayak gitu ya XD Aku masuk SMA, aku masuk jurusan IPA, itu bukan demi diriku sendiri, serius. Tapi demi kehidupanku. Beda lho ya. Aku anak salah jurusan, aku masuk IPA hanya karena aku lebih suka karakter anak IPA daripada karakter anak IPS. Serius, karena itu, dan mengenai alasan itu, aku nggak nyesel sama sekali.

Aku bisa mengambil jalur kuning sementara teman-temanku hitam-putih!

Apakah hidupku masih terlalu selo setelah aku menyebutkan rencana-rencanaku itu? Apakah kalian berpikir ‘kenapa nggak melakukan apa yang kau sebutkan di atas sambil tetap kuliah?’ Aku akan berkata NO WAY. Aku nggak mau melakukan kesalahan seperti jalur yang kulalui sekarang! Di lubuk hatiku yang terdalam (apasih) aku pengen kuliah. Pengen kuliah karena aku pengen ngerasain kayak gimana sih kehidupan di kuliah, apa suka dukanya dan lain sebagainya. Tapi, kalau aku kayak gitu, aku bakal milih kehidupanku dibandingkan diriku sendiri (lagi). Dan aku nggak mau!

Dan soal selo... Hm, ya, mungkin, dan sepertinya iya. Tapi, hidupku akan bermanfaat, dan aku bisa mempergunakannya dengan baik. Aku yang akan mengatur kehidupanku, bukan kehidupan yang mengaturku!

Karena aku ini, aku.

(Oke, aku bukannya bodoh kok. Aku tahu ini terlalu muluk dan naif dan aku belum bener-bener kekeuh sama postinganku ini. Aku juga nggak mau terlalu terobsesi sama obsesiku sendiri. Secara aku juga masih bocah dan belum tahu kekejaman dunia luar (walaupun udah pernah kecipratan api nerakanya tiga kali hshs) jadi aku nggak mau terlalu terjerat dulu ehe.)

Jadi, boleh nggak, sih... b o l e h   n g g a k  s i h . . .

Aku nggak kuliah?

dedicated to

Aku penulis di fanfiction.

Senin, Februari 01, 2016

Walaupun judulnya begitu, aku bukannya mau promosi fanfiction, ya. Bukan hal semacam itu, tapi—apa, sih, fanfiction? Fanfiction itu situs untuk menulis dengan slogan unleash your imagination. Jangan membiarkan imajinasimu mempunyai batas. Lepas, lepas, lepas! Itu yang kupahami setelah satu tahun aku menjadi penulis di fanfiction—maksudku, itu karena selama satu tahun keamatiranku aku belum pernah benar-benar memperhatikan slogannya.

Penulis di fanfiction, bisa dikatakan penulis lepas. Maksudku, dia nggak bisa berbuat apa-apa terhadap fanfict yang dibuatnya—memublikasikan menjadi kumpulan cerpen atau semacamnya. Karena biarpun imajinasi kita bebas, kita, kan, terikat hak cipta.

Misalnya, kita membuat fanfict di fandom Harry Potter. Kita bercerita mengenai Harry Potter sebenarnya mempunyai kakak laki-laki, dan Hermione sebenarnya punya kembaran—kemudian mereka bertemu.

Kalau kita ingin memublikasikan cerita kita yang itu, kita hanya bisa memostingnya di situs penampung fanfiction (fanfiction.net atau archiveofourown.org), dan yang membacanya, yah, hanya pengunjung situs fanfiction tersebut saja. Kita nggak bisa membukukannya karena hak untuk nama para tokoh dan situasinya kembali pada penulis aslinya, JK Rowling.

[Ngomong-ngomong, fandom adalah singkatan dari fan’s kingdom. Istana para penggemar, yang memuat fanfict mengenai fandom tersebut.]

Imajinasi yang kita tuangkan dalam fanfict bebas. Tapi yang tidak bebas itu, justru fanfict kita sendiri. Dia hanya bisa eksis di situs itu saja. Dan ngomong-ngomong soal royalti, atau bayaran untuk penulisnya, penulis fanfict tidak mendapatkan honor seperti itu. Mereka tidak diupah. Tapi, itu jika kamu mengartikan bahwa ‘bayaran sama dengan uang’.

Pengunjung yang membaca cerita kita (bila kita beruntung, karena fanfict itu ada milyaran jumlahnya), bisa diberi kebebasan untuk memberi kritik dan saran di kotak review. Apabila pengunjung itu mempunyai akun fanfict, dia bisa mem-favorite atau mem-follow fanfict kita. Dari semacam itulah, terjadinya feedback dari pengunjung yang bisa dianggap sebagai ‘bayaran’ oleh penulis fanfict. Hanya berkisar semacam itulah.

Kalau kita menulis di fandom besar, seperti Harry Potter, Naruto, Glee, dan lain-lain, bayaran semacam itu seperti makanan sehari-hari untuk kita—karena meskipun fanfictnya milyaran, pengunjung fandom tersebut juga lebih dari milyaran. Tapi kalau kita menulis di fandom yang kecil—yang bahkan fan’s kingdom tersebut adalah kita sendiri—yah, jangan harap, deh.

Misalnya saja, Last Game (manga)—dengar saja kalian belum pernah. Atau bahkan film serial yang sebenarnya kalian tahu film tersebut tapi terbengkalai di dunia fanfict—High School Musical misalnya. Semacam itulah. Review yang didapat hanya berkisar satu sampai dua (atau bisa jadi masih nol, hahaha), sementara kalau di fandom besar, mendapat review belasan itu mudah sekali. Kalau gaya tulisan dan konsepnya menarik, review-nya bisa mencapai ribuan.

Berat sebelah. Tidak adil. Menulis itu pada dasarnya sama saja perjuangannya, tetapi beda apabila kita sudah sampai titik ‘mau dikemanakan tulisan ini’. Apabila mengirimnya dalam lomba membuat cerpen (dengan tokoh orisinil dari kita sendiri), dan memostingnya ke suatu situs fanfiction (dengan tokoh dari penulis aslinya), maka ‘jalan akhir’ tulisan kita juga akan berbeda.

Kalau menang di lomba cerpen itu, kita dapat bayaran berupa uang. Dan sertifikat, belum lagi kalau ada hadiah bahwa para pemenang lomba cerpen itu akan dibukukan cerpennya.

Kalau memosting di situs fanfiction, lihat saja. Apabila fanfict kita memang bagus dan pengunjung fandomnya memang banyak—review, fave, dan follow nya bisa-bisa membengkak dalam semalam. Apabila fanfict kita bagus namun pengunjungnya sedikit, mungkin kita harus membersihkan debu di fandom itu seorang diri sampai ada pengunjung datang (itupun kalau dia membaca fanfict kita).

Pada dasarnya, takdir tulisan kita itu pilihan kita.

.

Kok, aku justru merendahkan fanfiction, ya? Well, enggak, kok. Aku bicara soal kenyataan yang dilihat oleh orang luar. Maksudku, kebanyakan orang luar pasti bertanya: Fanfiction itu apa? Kalau kamu menulis di fanfiction, terus bagaimana? Nggak dibayar? Nggak ada upah? Dan, bagaimana menjawabnya, ya, terus terang saja, memang enggak diupah. Yah, jaman sekarang memang melulu soal uang, ya.

Aku penulis di fanfiction, dan aku sudah memosting empat puluh fanfict di situs fanfiction.net.

Itu artinya, aku sudah membuat empat puluh ‘cerpen dengan tokoh mengambil dari penulis asli cerita’, yang seharusnya bisa kumodifikasi nama dan peristiwanya menjadi cerpen orisinil dariku sendiri, kemudian kuikutkan ke lomba menulis cerpen. Intinya, aku membuang empat puluh kemungkinan menang di empat puluh lomba menulis cerpen yang tidak aku ikuti. Seperti itulah.

Rugi? Tahun pertama aku menjadi penulis fanfiction—rasanya hampa. Apa gunanya menulis cerpen yang tidak akan diupah? Tidak akan dibayar? Padahal kalau ide cerita itu kita jadikan cerpen dan kita lombakan, ada satu kemungkinan menang untuk kita.

Aku menjadi penulis di fanfiction.net pada November 2013, dan aku memosting dua cerpen sampai akhir tahun.

Kemudian di tahun 2014, aku memosting 16 fanfict. Ada enam belas kemungkinan menang di enam belas lomba cerpen yang kubuang—yah, kamu bisa bilang seperti itu. Selama aku membuat fanfict itu, aku masih memikirkannya, masih memikirkan ‘kerugianku’.

Di pertengahan 2014, aku aktif di situs twitter. Aku mempunyai seorang kenalan, dan kami sangat dekat, sampai-sampai aku berkata padanya bahwa aku penulis di fanfiction dan menyebutkan nama akun fanfiction-ku. Kupikir, ia akan membaca dulu beberapa fict-ku sampai kemudian dia memberitahuku bagaimana gaya tulisanku menurutnya. Tapi, beberapa detik setelah itu, muncul mention di akunku.
Dia : Hei! Aku suka fanfict-mu yang [XXX]! Sumpah, itu buat aku ketawa gila-gilaan, itu lucu banget XD
Waktu itu aku berpikir; hah? Maksudku, pertama; aku kaget ada yang membaca fanfict-ku. Yah, memang ada beberapa komentar, kritik, dan saran di kolom review, tapi kedua; aku nggak menyangka aku bertemu dengan salah satu pembaca fict-ku. Maksudku, fict di fandom itu ada ratusan tiap harinya dan terus bertambah, jadi.. hah?
Aku : Eh? Kamu baru saja baca, atau—sudah dulu?
(itu pertanyaan yang bodoh banget memang)
Dia : Sudah dulu! Aku suka fict cerpen-cerpen kamu! Walaupun fict-mu masih sedikit, tapi review, fave, dan follow nya tergolong banyak. Aku sedikit banget T-T
Waktu itu aku seneng banget baca tweet darinya. Aku fave (lol) dan sampai sekarang masih suka aku baca untuk penyemangatku. Waktu itu, aku sama sekali nggak menyesal aku jadi penulis di fanfiction! Masa bodohlah dengan kemungkinan menang lomba cerpen atau semacamnya, aku merasa waktu itu, semua penilaian orang mengenai ‘penulis fanfiction tidak dapat upah’ sama sekali nggak penting! Aku nggak peduli! Rasanya aku mau mengabdi di fanfiction, deh.

.

Akhir tahun 2014 dan awal tahun 2015—sampai sepanjang tahun 2015, adalah kenangan menyedihkanku di fanfiction. Semoga aja nggak terulang lagi.

Yah, di dua momen itu, aku dikecewakan oleh fanfiction. Jadi, untuk memberi apresiasi pada penulis-penulis fanfiction, ada semacam ajang bernama Fanfiction Awards dan aku nggak menang. Bodoh banget sih, kalau dipikir-pikir. Hanya saja aku mau membuktikan ke semua orang kalau aku melepas kemungkinan menang di tiap lomba cerpen, itu artinya aku harus bisa mendapat penghargaan.

Tapi, ternyata hanya sebatas nominasi saja. Ada kategori untuk penulisnya, bernama ‘Best Author Newcomer’ dan akunku masuk, tapi ternyata aku nggak menang. Begitu saja, sih. Itu di akhir tahun 2014.

Kemudian, di awal tahun 2015, aku mendaftar menjadi panitia Fanfiction Awards. Cari mati banget, karena memang aku belum punya pengalaman dan belum tahu bagaimana mengurus event dan lain-lain. Pertanyaannya seputar ‘apa yang kamu lakukan apabila...’ dan kalimat selanjutnya adalah ‘...kamu nggak bisa mengatur waktu antara sekolah dan mengurus event?’, ‘pulsa dan kuotamu habis padahal posisimu lagi penting-pentingnya hari itu?’ yang kujawab sebisaku—dan jawabanku sama sekali nggak bermutu. Jawaban anak rumahan, bisa dibilang.

Aku nggak keterima, deh. Dua kenyataan itu membuatku merasa buruk banget, dan entah pada hari apa tepatnya, aku memutuskan untuk vakum di dunia fanfiction. Aku nggak mau tinggal di dunia seperti itu! Seperti kelebihan uang, merasa baik-baik saja tanpa diupah. Aku berpikir mereka semua nifak, sebenarnya mereka ingin mendapat bayaran berupa uang mengenai fanfict yang mereka buat.

Saat itu fanfict-ku mencapai belasan jumlahnya. Aku berpikir bahwa orang-orang yang menjadi penulis di fanfiction dan fanfict-nya mencapai ratusan, itu bodoh banget. Menyia-nyiakan hidup. Aku ikut beberapa lomba cerpen, dan salah satu lomba cerpen itu memutuskan aku sebagai pemenangnya dan berkat lomba cerpen itu aku mendapat seratus ribu—aku berpikir bahwa inilah yang pantas untuk kehidupan penulis—aku menulis dan aku mendapat bayaran atas tulisanku.

Itulah yang seharusnya.

.

Sepanjang tahun 2015, aku menulis dengan jumlah kurang dari jumlah tahunku sebelumnya—aku hanya memosting 14 fanfict. Apalagi di pertengahan 2015, aku sibuk (jadi koor usda artday lol) dan aku nggak memantau perkembangan Fanfiction Awards di akhir tahun. Fanfict-ku tidak ada yang dinominasikan, sama sekali nggak ada, aku benar-benar memutuskan untuk pergi.

Kemudian, di awal tahun 2016, ada pengumuman pendaftaran terbuka bagi panitia Fanfiction Awards. Aku mau mengenang betapa konyolnya pertanyaan-pertanyaan yang kudapat, sehingga aku memutuskan untuk mendaftar dan menerima pertanyaan-pertanyaan.

Saat tes wawancara, aku marah.

‘Apa yang kamu lakukan apabila kamu tidak bisa mengatur waktu antara sekolah dan mengurus event?’

Maksudku, aku berang.

Yang benar saja. Maksudku, itu adalah hal yang nggak mungkin. Kita nggak mungkin nggak bisa mengatur waktu antara sekolah dan event kalau kita mau menjadi panitia suatu event. Itu, kan, resiko yang harus diterima setiap panitia. Tapi menurutku, hal ini nggak mungkin karena sekolah itu, ya, sekolah, dan mengurus event itu, ya, mengurus event. Kalau kesibukan di luar itu, lain lagi. Yang seharusnya dipertimbangkan itu adalah bagaimana membagi waktu antara mengurus event dengan kesibukan di luar sekolah. Sekolah itu sama sekali nggak masalah, dan itulah makanya, alasan ‘sibuk sekolah’ itu nggak bisa diterima.

^Serius, sampai titik di mana aku berpikir ini, aku ingin tahu apa jawabanku tahun lalu! Apapun jawabanku, aku yakin aku nggak berpikir seperti ini ketika kelas sepuluh dulu. Mungkin gara-gara neraka artday ya (HAHAHA). Dan ngomong-ngomong atas jawabanku tahun ini mengenai pertanyaan itu, aku nggak menjawab dengan tepat paragraf itu, kok. Maksudnya, paragraf itu, kan, cuma keberangan di pikiranku.

Terus, di awal tahun 2016, aku diterima jadi panitia Fanfiction Awards.

.

Saat itu, aku masih, oh, hah?

Begitulah. Aku mendaftar jadi panitia dengan niat ‘Kalau aku nggak diterima, aku bener-bener bakal hengkang dari dunia fanfiction!’ dan ternyata aku diterima. Aku mencoba untuk kembali menyelami dunia fanfiction lagi, dan sepertinya, aku kembali ke ‘aku ketika 2014’ dahulu.

Aku pergi dari fandom yang kutinggali dan pindah ke fandom lain. Dua fanfict-ku hanya mendapat satu review, dan aku juga masih setengah-setengah menjalaninya. Mungkin aku akan seperti lilin yang mau padam saja, jadi menulis fanfiction banyak-banyak di bulan Januari tahun ini dan kemudian pergi—atau seperti itulah.

Sampai-sampai, sampai-sampai,

ada review yang muncul di fanfic ke delapanku di tahun ini.
N : Halo! Seperti biasa, ya, tulisan kamu halus sekali dan ngena. Semangat nulis yang lain!

G : Fict-nya keren! AAA! Aku suka! Aku suka! Keren banget—pake B.A.N.G.E.T! Alurnya rapi, gampang ditangkap penjabarannya ceritanya, bagus! Keep writing! Selamat berkarya!
Aku kaget baca review ini, apalagi si N itu pakai bilang ‘seperti biasa, ya’ segala—dan review nya itu jadi membuatku teringat kalau aku pernah dapet review di tahun 2015 yang kuabaikan begitu saja karena saat itu aku nggak peduli pada apapun:
H : Yang aku suka dari kisah ini adalah bagaimana cara kamu membawakannya dengan ringan dan menyenangkan. Terasa banget bagaimana aura kisah asli dalam animenya, di kisah ini. Menurutku ini sesuatu yang pantas diapresiasi karena—menyesuaikan gaya penulisan dengan fandom asal itu agak sulit menurutku.
(waktu aku membaca ini saat itu, aku hanya berpikir ‘ya, ya, ya’)
K : Halo! Saya mampir ke sini karena penasaran aja dengan karyamu. Ternyata dirimu menulis dengan gaya kasual yang ceria, ya. bahasanya luwes sekali, lucu.
(waktu aku membaca ini saat itu, aku berpikir ‘maksudnya apaan gaya nulisnya ‘ceria’? ya, ya, tapi makasih deh, ya, ya’)

Dan ketika aku membaca itu, aku baru sadar kalau itu yang aku butuhkan selama ini! Maksudku, aku baru sadar tiap kali aku nulis, aku pasti—uh, gimana cara jelasinnya, ya, merasa ringan—begitulah. Itulah gayaku menulis! Demi apa, di awal tahun 2016, aku baru sadar bahwa aku selama ini nggak tahu gimana gaya menulisku!

.

Trus, kenapa aku bikin postingan blog ini? Ini karena:
S : Cara nulismu itu mirip Tere Liye, ya. Serius, aku mikir gitu waktu aku baca karya-karyamu.
.

....hah.

HAH.

HAAAAAHH?

Aku kaget! Sekaligus seneng! Sekaligus nggak percaya! Maksudnya, yah, bandingin itu sama yang deket-deket dulu, plis, jangan langsung yang sooo high gitu, kan, aku jadi bingung mau bereaksi apa. Aku seneng banget pas baca itu, tapi aku juga kaget banget, kaget kaget kaget kaget banget dan aku mikir hah serius? ini serius, nggak bercanda? aku boleh percaya nggak?

Bahkan mau bilang makasih aja aku harus... ‘makasih, eh, tapi—serius? iya, makasih, makasih sih, tapi, hah? maksudnya, ini beneran? makasih—eh ini beneran, kan?’ dan itu nggak berhenti-berhenti sampai aku bingung mau bales apa! Aku seneng! Tapi aku kaget—tapi aku seneng.

Sampai sekarang itu aku masih cengo.

.

Dan terus, aku berpikir kalau aku nulis di fanfiction bukan untuk siapa-siapa, kecuali kesenangan diriku sendiri! Aku nulis di fanfiction karena aku pengen tahu gimana pandangan pembaca terhadap fanfictku! Aku jadi penulis bukan untuk bayaran, bukan untuk upah, bukan untuk uang atau keuntungan material! Aku jadi penulis karena aku memang pengen jadi penulis!

“Tapi, penulis di fanfiction itu kan, nggak dapet uang.”

Aku jadi penulis di fanfiction, karena aku pengen menuangkan imajinasiku ke dalam suatu cerita. Aku pengen pembaca fanfict-ku tahu apa yang aku pikirkan mengenai fanfict-ku, aku pengen pembaca tahu kalau aku pengen bilang, ‘gini, lho, aku tuh pengen ceritanya jadi kayak gini’, ‘gini, lho, aku pengennya, tuh, tokoh ini matinya kayak gini’, ‘gini, lho, aku tuh pengen si A jadiannya sama si C’, dan lain-lain! Aku pengen pembacaku tahu tentang itu dan ngerasain apa yang aku rasain!

Karena aku itu, penulis di fanfiction.