fangirling

nggak baik untuk kesehatan.

Selasa, Desember 20, 2016

Aku pernah baca kalau berlarut-larut dalam kesedihan itu bisa bikin meninggal, tapi sekarang aku harus fokus pada statemen yang mengatakan bahwa fangirlingan juga nggak baik untuk kesehatan. Oke, emang sih tergantung batas-batas kita ngefangirling, tapi kalau tergantung pada apa yang kita fangirlingin, itu bisa masuk nggak baik untuk kesehatan.

Di kasusku, aku ngefangirlingin suatu pairing. Pasangan.
Kalau misal pairing kita karam (seperti anime yang Wisha ikutin yang dia bilang ke aku kalau pairing kesukaannya dia karam di episode terakhir h a h a h a) itu tuh bikin pengen banting laptop asli. Tapi aku lebih milih pairingku karam (?) karena entah kenapa aku sering banget ngeship suatu pairing yang karam, atau minimal nggak canon sejak awal (kayak Harry Potter x Hermione SORRY NOT SORRY XD) karena entah kenapa diriku punya semacam mental proteksi (?) dan itu ngebuat aku nggak begitu down banget gitu lho ;_;

Tapi kalau pairing yang kita ship itu BENER-BENER CANON..... bener-bener mereka emang bareng dan mereka emang ditakdirkan bersama dan mereka emang bener-bener BESAR, banyak pendukungnya, banyak fanart, banyak fanfic, segalanya tentang mereka itu bertebaran di mana-mana... itu justru yang nggak baik untuk kesehatan!! QAQ

Soalnya.. selama aku hidup (?) aku belum pernah bener-bener ngeship suatu pairing yang BESAR. Kebanyakan pairing yang aku ship kalau enggak karam, ya enggak canon, atau minor. Kayak Harry Potter x Hermione (Harry Potter) itu. Atau Kiba x Hinata (Naruto) MAAF YA :))) Atau... "minor walaupun nggak sepi peminat" kayak Aang sama Toph (Avatar) ._. Intinya, pairing yang aku ship itu butuh ekstra keras untuk dapet fanart atau fanficnya, karena mereka kalah sama pairing-pairing yang lain :")

Nah. NAH. Pairing yang aku ship untuk sekarang yaitu LiberTea. Alias USxUK. Alias America sama England. Walaupun aku sebenernya lebih ke England!centric dan aku juga suka dia sama Japan, sama France atau bahkan aku lagi cari hint antara dia sama Germany, tapi tapi tapi tapi tolong tolong tolong AmericaEngland itu bener-bener..... HAH. Mereka itu pairing yang BESAR bangett, so literally CANON :") Dan aku entah seneng entah nyesel ngeship mereka karena asupan AmericaEngland ada di mana-mana jadi kayak why aku nggak bisa lepas dari kalian gitu lhooo 8"D

Penyebab utamanya apa? Ini:


Aku nggak menyangka di sana terdapat banyak sekali faktor-faktor yang menegaskan statemen nggak baik untuk kesehatan dan sebenernya itu purely salahku juga kenapa aku buka tautan itu ;; tapi serius aku nggak menyangka (2), karena ternyata selengkap itu lho penjelasannya why why why.


....reaksi berlebihan as always ya sya.

Entah ini suasana karena aku lagi fangirlingan, tapi kupikir sejauh ini, AmericaEngland adalah pairing yang bisa bener-bener di dalamnya terdapat fluffy dan angsty yang bener-bener campur aduk. Aku kalau baca fanfic fluff AmericaEngland pasti nggak pernah bener-bener diabetes, pasti ada secuil rasa perih entah kenapa, padahal di sana sama sekali nggak ada hurt nya. Jadi AmericaEngland itu bener-bener pairing yang..... AGH WHY BANGET gitu lho QAQ

Beberapa statemen yang sukses bikin aku AAAAAAGHHH PISAU MANA PISAU (??) :
  • The Special Relationship is the unofficial term for the exceptionally close political, diplomatic, cultural, economic, military and historical relations between the United Kingdom and the United States. ITU KALIMAT PERTAMANYA HAHA MAAF YA XD
  • Great Britain and the United States integrated their military efforts to a degree unprecedented among major allies in the history of warfare.
  • "Each time I must choose between you and Roosevelt", Churchill shouted at General Charles de Gaulle, leader of the Free French, in 1945, "I shall choose Roosevelt" MAAF BANGET 8""))
  • The Anglo-American relationship has done more for the defence and future of freedom than any other alliance in the world.
  • The United States and the United Kingdom are bound together by inseparable ties of ancient history and present friendship ... There's been something very special about the friendships between the leaders of our two countries.
  • America has no truer friend than Great Britain. ....and vice versa? 8))
  • As I told the prime minister, the United States has no closer friend and ally than the United Kingdom, and I reiterated my deep and personal commitment to the special relationship between our two countries – a bond that has endured for generations and across party lines.
  • The United States is without doubt the most important ally of the United Kingdom.
  • We can never say it enough. The United States and the United Kingdom enjoy a truly special relationship. hehehEHEHEHE
  • The relationship between the US and UK has often been described as special or essential and it has been described thus simply because it is. simply because IT IS 8"))))

Aku belum pernah ngeship suatu pairing sampai segini canonnya jadi jadi jadi jADI-- :"))) Yang kebanyakan ngaku emang America ya, secara England tsun gitu kan aduh /// Sebenernya aku berharap Indonesia bisa punya temen semacam ini tapi sama siapa ya--kirain peluangnya lebih besar kalau sama Japan tapi mengingat apa yang terjadi baru-baru ini di antara mereka mengenai perkeretaapian, jadi nggak yakin /// 

Sayang banget wikipedia versi bahasa Indonesianya belum ada x")) Aku udah niat, kalau aku bisa, aku bakal yang ngeterjemahin itu aamiin x"))

fanfiction

Another Debate

Rabu, Desember 14, 2016

title: another debate {part 10/10 of prompt's challenge}
prompt: you shoudn't have heard that.
cast: england, germany, america, italy

disclaimer: hetalia axis powers are owned by hidekazu himeruya. the author does not, in any way, profit from the story and that all creative rights to the characters belong to their original creators.


america, fem!england, germany, fem!italy

England mengangkat cangkirnya dari atas meja. “Italy, ‘kan, penyebab kegagalanmu melakukan invasi pada Russia dan yang membuatmu kalah di medan perang,” ia menarik napas, menatap Germany sebentar yang mulai beringsut tak nyaman, lalu menyambung lagi agar tak terlalu kentara meruntuhkan dinding pertahanan rekan minum tehnya itu, “aku ingin membahas lebih lanjut, sih, tetapi, kupikir, kalau soal itu, kamu yang paling tahu.”

Germany menarik diri. “Memang,” ia mengaku enggan, menatap England yang sedang menyesap tehnya. “Tetapi, memangnya, siapa yang kemarin malah nonton bareng America?”

Selanjutnya adalah batuk tersembur, disambung dengan pemandangan tak diinginkan yang cepat dari cangkir terlepas dari pegangan dan meluncur ke lantai, disambung (lagi) dengan onomatope suara pecahan. Daripada reaksi selanjutnya didominasi oleh jeritan, yang ada malah teriakan-teriakan kesal yang bersahut-sahutan.

“Serius, maumu apa, sih, hah?!”

Seolah cangkir yang pecah itu hanyalah angin lalu.

“Aku cuma mau bilang kalau halo, Nona-Pecinta-Teh, sekarang kita hidup di abad berapa, ya karena persoalan masa lalu dan aliansi dan perang-perangan dan soal kamu ternyata membantu Greece ketika Italy menyerang dia dan segala hal semacam itu, tuh, sudah sangat ketinggalan jaman, tahu!”

“Ya sudah, kenapa kamu enggak mengatakan itu sebelum mengatakan hal tak masuk akal, di luar nalar, yang spontan, dan serba tiba-tiba, dan membuatku yang mendengar kalimat itu harus membayar dengan memecahkan cangkirnya?”

Bahkan karyawan-karyawan yang kepalanya tertoleh dengan suara pecahan itu pun kini hanya berpandangan, tak tahu harus bertindak apa terhadap dua orang di meja pojok sana yang sepertinya malah sudah lupa dengan pecahan cangkir di dekat kaki mereka.

“Itu bukan tak masuk akal, oke? Karena menurutku sangat enggak keren, kamu seperti menyuruhku untuk terus mengingat ke belakang padahal kamu sendiri juga nge-date dengan America dan itu artinya kamu juga sudah melupakan Perang Revolusi!”

“OH?!” England mulai bangkit berdiri, yang juga diikuti oleh Germany di hadapannya, tak ingin terlihat terpojok sekalipun yang menyulutkan api adalah dirinya karena mengatakan kalimat yang sangat terlarang di kamus gadis itu. “Yah, kalau mau dibilang, sih, aku meragukan seberapa besar kamu suka Italy jadi anggaplah aku, yang menyuruhmu mengingat soal kekalahan besar pertamanya dia, itu sebagai bentuk kebaikanku untuk membuatmu yakin, oke? Karena kalau mau jujur, nih, ya, aku enggak melihat keraguan itu pada America waktu dia mengajakku nonton bareng, jadi aku enggak sempat memikirkan soal revolusi-lalala yang kamu bilang!”

“Untuk agar kamu tahu saja, ya, aku enggak akan hanya mengajak Italy nonton bareng seperti yang dilakukan America-mu itu! Setelah nonton, rencananya aku akan mengajaknya makan, lalu aku mengantarnya sampai rumah sebelum aku pulang! Enggak seperti yang kamu ceritakan itu, dia hanya mengajak nonton dan setelah itu apa, Miss-see-you-later? Bahkan kalian pulang sendiri-sendiri!”

Pintu depan terbuka, dan kepala dua orang yang baru saja memasuki restoran tanpa diketahui sepasang sahabat yang masih sibuk adu mulut itu langsung tertoleh pada sumber suara.

“Kamu itu enggak pernah berubah, ya, selalu saja menganggap bahwa semakin menghambur-hamburkan uang itu artinya semakin suka! Itu, ‘kan, enggak bisa diukur, tahu!?” kedua pipi gadis itu sampai rasanya terbakar, “dan yang penting, aku suka sama America dan kujamin itu lebih besar dari rasa sukamu ke Italy, jadi mengingat masa lalu sudah tidak penting lagi bagiku!”

Lelaki di hadapan tersengat harga dirinya karena diremehkan. “Memangnya kamu tahu apa, sih?! Aku suka banget sama Italy dan harusnya aku yang bilang kalau kujamin rasa sukaku itu yang lebih besar!”

“Wah.”

Ada satu suara baru yang membuat mereka berdua menoleh, dan baru sadar kalau mereka berdua itu tidak hanya berdua di sekitaran mereka karena ada dua orang tak diundang, dua orang yang sama sekali tidak mereka inginkan, ada di sini. Yang menimpali tadi adalah Italy. Gadis itu menggaruk belakang lehernya, agak canggung, namun berusaha santai seperti America di sebelahnya.

“…”

Krik.

“KALIAN SEJAK KAPAN DI SINI?!” berbarengan, keduanya berteriak dengan nada tertinggi yang pernah mereka capai, tidak terima.

“Sejak kapan, ya?” sebelah tangan terangkat, America memanggil karyawan untuk menghampiri dan mengeluarkan sejumlah uang dari saku jaketnya untuk mengganti cangkir yang ia lihat di dekat kaki gadis di hadapannya, “sejak England bilang aku suka sama America lebih besar dari apapun di dunia ini?”

“Aku enggak bilang begitu!” sepertinya siapapun yang berinteraksi dengan England harus mengambil risiko untuk mengakhiri percakapan dengan saling debat. Namun America justru senang, diam-diam ia tersenyum geli melihat reaksi gadis itu. “Dan kamu enggak seharusnya mendengar itu atau semuanya atau apapun juga, tahu?!”

... dan adu mulut itu tak berakhir dengan mudah.

***

Author's Note

HAHAHA XD Entah kenapa makin ke sini aku semakin nggak berpedoman pada lika-liku sejarah(?) orz Soalnya, plis, harus ada seseorang yang menghentikanku dari fandom ini karena belajar Sejarah sangat tidak baik untuk kesehatan, karena memicu rasa perih perih perih yang teramat dalam dan kita justru bersimpati pada negara-negara yang padahal... seperti kata Jerman di atas, itu udah masa lalu, dan sekarang abad berapa, dan seharusnya kita nggak boleh terpaku sama apa-apa di belakang orz

Soal pairing ini... GRAO entah kenapa America x England dan Germany x Italy menarik simpati terbesarku sampai detik ini. Amerika sama Inggris yang debat sampai makan waktu berbulan-bulan (lama banget beneran, buat memikirkan mau pakai rencana apa buat nyerang Jerman) itu lama banget tolong, mereka mah nggak ada yang mau ngalah :")) Dan kalau melihat lebih jauh lagi soal Perang Revolusi dan segala macamnya soal mereka berdua itu SANGAT ANGST sekali ih :""")))

Lalu kalau Jerman sama Italia... nggak usah ditanya lah, ya. Hubungannya mereka berdua itu berasanya kayak dua orang rival dalam satu kelas yang dijadiin satu kelompok sama sang guru, jadi kayak mereka tuh tujuannya sama, tapi dalam memperoleh tujuan itu entah kenapa malah saling gengsi duh ya gitu lah TvT

....tapi, oke--aku tau aku bakal membunuh diriku sendiri kalau aku bilang ini--tapi serius. Entah kenapa jauh di dalam hatiku(?), walaupun aku suka sama America x England dan Germany x Italy tapi tapi tapi kok aku ngeship Germany x England ya.. (....................) /RAS

Oke ABAIKAN orz Betewe challenge prompt accepted! XD

fanfiction

Winner

Minggu, Desember 11, 2016

title: winner {part 9/10 of prompt's challenge}
prompt: i thought you were my friend.
cast: germany, italy

disclaimer: hetalia axis powers are owned by hidekazu himeruya. the author does not, in any way, profit from the story and that all creative rights to the characters belong to their original creators.

italy, germany

Germany mendatangi Italy yang masih mengatur napas, terengah-engah, tak sanggup untuk berjalan barang selangkah pun juga. Sebenarnya ia merasakan hal yang sama, namun kini, semua sudah berakhir, dan kelelahannya berganti dengan kemarahan tidak terima, membuatnya ingin sekali meneriaki Italy tepat di muka. "Kamu tahu terima kasih enggak, sih? Hah?!" ditariknya kerah Italy.

"Sumpah, Germany, aku enggak ada maksud untuk bersikap enggak tahu terima kasih!" Italy melepaskan diri dari cengkeraman kerah yang dilakukan Germany, dan mengatupkan kedua tangannya erat-erat, sikap permohonan maaf sebesar-besarnya. "Enggak ada maksud sama sekali buat mendepakmu keluar dari lapangan ini! Sungguh!"

"Kamu bilang apapun, ya, sama saja! Kamu ini menyebalkan sekali tahu, enggak? Kirain kamu ini temanku!"

"Aku ini masih temanmu, Germany, tetapi, 'kan, ini pertandingan, dan serius, aku juga enggak menyangka kalau selisih antar gol pertama dan gol kedua itu hanya dua menit! Di tiga menit terakhir babak perpanjangan waktu pula![1] Kamu percaya, enggak, sih?!" seakan amnesia mendadak, sorot mata Italy berubah cerah, lupa rasa lelah. "Aku bisa! Aku menang!"

Germany pengin sekali balas berteriak, namun kegembiraan Italy tertular padanya. Ia menarik napas, lalu mendesah panjang. Sifatnya sama sekali tidak berubah sejak lebih dari setengah abad yang lalu; lengah di saat-saat terakhir. Kini pun tak ada bedanya. Parah lagi sekarang, musuh yang pantang ia biarkan menang bukanlah dari pertarungan armada laut atau pesawat udara, melainkan kemampuan mengocek bola, itu pun ia berhadapan dengan kawannya.

Ia mengendurkan kepalan tangannya. Sebelah tangan terangkat tinggi, dan diacaknya kepala Italy keras-keras. "Iya," Germany menyunggingkan senyum, puas sendiri dengan hasil acakannya yang membuat rambut Italy berantakan, "kamu menang[2]."

***

[1] Hasil pertandingan Jerman dan Italia pada babak semi final FIFA 2006 {source: fifa.com}
Jerman dan Italia 0 - 2 pada babak perpanjangan waktu. Oleh Fabio GROSSO di menit ke 119 dan Alessandro DEL PIERO di menit ke 120+1

[2] Italia menjadi pemenang FIFA 2006 {source: fifa.com}

***

Author's Note

Hahaha XD Sebenernya aku udah keliling-keliling(?) cari apa kira-kira cerita yang bisa diangkat buat prompt ini, dan awalnya aku pengen ngungkit soal peran Spain di WW II yang soal apakah dia netral atau enggak sebenernya :"3 Tapi ulasannya kebanyakan dari bahasa Inggris krai, sering lupa-lupa juga bagian ini di situs yang mana, bagian itu di situs yang mana soalnya lebih sering tindihin current tab aja kalau mau searching, mager klik new tab orz

Akhirnya--kita bahas yang super santai aja, yaitu FIFA! Menyambut FIFA 2018 juga heheheh. Oke jadi pas FIFA 2006 di Jerman, tuh, Jerman sempet ketemu sama Italia di semi final dan yang menang Italia orz Nyaris aja gitu buat Jerman, kalah di kandang sendiri :")) Oke, ini mah fanfiknya ringan banget, dibawa santai aja heuheu /o/

fanfiction

Independence

Minggu, Desember 11, 2016

title: independence {part 8/10 of prompt's challenge}
prompt: this is a lot harder than it looks and i don't think you realized that.
cast: indonesia, east timor

disclaimer: hetalia axis powers are owned by hidekazu himeruya. the author does not, in any way, profit from the story and that all creative rights to the characters belong to their original creators.

male!indonesia, timor leste

"Yang ketiga." Timor Leste mengangguk, setelah sejak tadi menunggu Indonesia di hadapannya yang sedang memaparkan tiga alternatif yang harus dipilihnya demi masa depan diri sendiri.

Indonesia terdiam. Ia sengaja menjelaskan secara lamban tiga alternatif yang tersedia, dan kalau boleh terus-terang, sih, ia memang sejak awal menempatkan alternatif yang itu di nomor tiga. Bahkan sebelah tangannya baru saja beberapa detik yang lalu mengacungkan ketiga jemari, dan rasanya, ia belum benar-benar mengakhiri kalimatnya untuk alternatif ketiga ini ketika Timor Leste langsung menyambar.

"Kautahu, Timor Leste, kamu harus memikirkannya dengan sungguh-sungguh karena--"

"Indonesia, ada tiga alternatif darimu, aku pilih alternatif ketiga, dan aku sudah memikirkannya dengan baik," Timor Leste memotong.

"Iya, oke, oke, tetapi, serius--"

"Aku serius!"

"Jangan hanya bilang 'yang ketiga', begitu, coba kalimatnya dibaca--"

"Indonesia, tolong," sebelah tangan Timor Leste terangkat, tidak ada keraguan dalam suaranya sama sekali. "Tiga alternatif, 'kan[1]? Yang pertama, otonomi khusus. Yang kedua, diintegrasikan. Dan yang ketiga, pemisahan. Aku pilih yang ketiga, aku pilih pemisahan, oke?"

Indonesia menatapnya nanar. "Kenapa?" tanyanya. Lirih.

Timor Leste diam. Ia memandangi Indonesia lama. Lalu menarik napas panjang. Dihembuskannya. "Banyak hal yang terjadi," jawabnya pelan. "Banyak hal yang telah terjadi, dan banyak pula hal yang akan terjadi, dan yang itu aku yakin, aku bisa mengatasinya sendiri."

"Kamu enggak bisa!" Indonesia meninggikan nada suaranya. Putus asa. "Kamu enggak bisa mengatasinya sendiri, oke? Kamu enggak sungguh-sungguh tahu apa itu 'banyak hal yang akan terjadi', sama sekali! Ini lebih susah dari kelihatannya dan aku nggak berpikir kalau kamu menyadari itu! Oke?"

"..."

"..."

Jeda lama. Mereka berdua bertatapan. Mencoba membaca sorot mata satu sama lain. Indonesia ingin berbalik pergi dan mengatakan "terserah" atau semacamnya saja rasanya, tetapi jauh di dalam hatinya, ia tahu, ia sadar, bahwa ia tak ingin membiarkan Timor Leste mengurus semacam ini, semuanya, sendirian. Jangan. Ia tidak boleh membiarkannya begitu saja, dan kali ini, biarkan ia, sampai detik-detik terakhir, terus memperjuangkan Timor Leste agar tidak meninggalkannya.

"Indonesia," Timor Leste menatap seorang yang setelah ini tidak menjadi tuan rumahnya lagi. "Aku pilih merdeka[1]."

***

[1] Tiga alternatif UNAMET (United Nations Mission in East Timor) {souce: wikipedia}

...untuk melakukan masa depan wilayah tersebut terhadap tiga alternatif, yaitu: otonomi khusus, diintegrasikan ke dalam Republik Indonesia, atau pemisahan dari negara Indonesia.

[2] Referendum Timor Leste yang ingin merdeka. {source: wikipedia}

Setelah referendum yang diadakan pada tanggal 30 Agustus 1999, di bawah perjanjian yang disponsori oleh PBB antara Indonesia dan Portugal, mayoritas penduduk Timor Leste memilih merdeka dari Indonesia.

***

Author's Note

Luka lama (..........) orz Begitu dapet prompt ini, aku nggak langsung kepikiran ke Indonesia sama Timor Leste, sih, tapi aku udah ada rencana bakal nulis soal negara yang merdeka dari negara lain, atau revolusi, gitu. Dan yang ada di kepalaku cuma Inggris sama Amerika, dan Perang Revolusi Amerika..... kan KRAI :"""))

Terus entah kenapa kepikiran kalau nggak usah ambil seting yang jauh-jauh heuheu. Barulah kelintas buat bikin cerita tentang Indonesia sama Timor Leste ini /o/

fanfiction

Battle of Wits

Minggu, Desember 11, 2016

title: battle of wits {part 7/10 of prompt's challenge}
prompt: feel free to admire me.
cast: england, germany

disclaimer: hetalia axis powers are owned by hidekazu himeruya. the author does not, in any way, profit from the story and that all creative rights to the characters belong to their original creators.

fem!england, germany ♥

England membacakan analisisnya. "Ranjau magnetis, 'kan? Kamu memanfaatkan kenyataan bahwa setiap kapal baca mempunyai magnetic field. Aktuasinya disebabkan karena perubahan medan magnet bumi akibat komponen magnetik yang ada di kapal."

Mendengarnya, Germany menganggukan kepala. Sekuat tenaga membuang jauh-jauh rasa kagum yang tiba-tiba datang tak diundang. Memang tepat untuk mencobanya dengan England, seorang yang ingin ia kalahkan dalam apapun juga, dan ia pun merasakan hal yang sama apabila memikirkan seperti apa pandangan England mengenai dirinya. "Ini kali pertama aku menggunakan senjata rahasia itu, kalau mau tahu."

"Aku merasa terhormat, hebat sekali," jelas England tidak merasa terhormat dan tidak pula menganggap itu hebat. Ranjau yang ditanamkan Germany di dasar laut, beberapa mil dari pelabuhannya itu membuatnya kehilangan enam kapal dagang dan menggemparkan kemaritimannya. "Jadi, ranjau-ranjau itu bisa punya perasaan, begitu? Wah, bahkan kamu saja kalah dari mereka," kalimat penuh sindiran itu disertai dengusan.

"Sama-sama. Tak perlu sungkan untuk mengagumiku," Germany menimpalinya santai. "Kautahu, akan menyenangkan apabila kita membuatnya seperti perang antar sarjana-sarjana kita[1]."

England tidak merespons beberapa saat. "Setuju, dan tunggu saja," ia menukas, "para ahli kita sederajat dengan tradisi ilmiah yang sama pula. Tinggal masalah waktu, dan pokoknya, bakal ada hari di mana kalimat itu kupakai untukmu."

.:.

Sekitar satu bulan kemudian, berbeda dari komunikasi mereka yang sebelumnya, yang menghubungi lebih dulu adalah Germany. Menunggu hingga panggilan itu terjawab, jari-jemarinya mengetuki meja. Ia tidak salah lihat tadi. Ranjau yang ia pasang sudah meledak lebih dahulu, padahal kapal penyapu ranjau milik England tadi masih jauh dari lokasi ranjau itu. Berarti satu-satunya sebab adalah tenaga magnet di haluannya--

"Ya?" panggilan diangkat oleh England, dan Germany sudah membayangkan gadis itu menjawabnya sambil tersenyum-senyum penuh rasa puas.

"Magnet di bagian haluan kapal," Germany langsung menyembur, "kau memasang tenaga magnetnya kuat sekali, 'kan? Supaya ranjau meledak lebih dulu?"

Ada tawa kecil dari England. "Tak perlu sungkan untuk mengagumiku."

Germany mendecak kesal. "Tunggu saja!"

.:.

"Bukan magnetisme kapalnya kali ini, tetapi, oh, kamu--ini ranjau akustik!" England menghubungi Germany kelewat terburu-buru, dan ia bahkan berbicara sambil berpikir. "Kamu memanfaatkan suara berisik kapal dari bunyi mesin atau baling-balingnya, 'kan?"

"Kamu memang selalu langsung tahu, ya," Germany tersenyum. "Anggap saja ranjau itu punya telinga. Tak jauh beda denganku yang mengangkat panggilanmu tak kurang dari dua detik, kalau mau tahu."

"Ha-ha, aku mengagumimu," kata England ketus. Germany tertawa.

.:.

Germany yang menghubungi kini. "Sengaja!" teriaknya tak terima. "Di bagian haluan sengaja kamu timbulkan suara berisik supaya terlalu dini meledaknya, 'kan?" 

"Oh, tentu," England tertawa, "dan kamu enggak perlu--"

"Enggak ada bedanya dari trik sebelumnya, tahu! Kuno!"

"APA?" England yang tak terima sekarang. "Salahnya sendiri aneh-aneh!"

.:.

England. "Ranjaumu itu menipu atau apa, sih?" protes. 

"Oh, aku hanya membuat trikmu itu tidak bisa lagi bekerja," Germany menjelaskan enteng. "Jadi, kemampuan akustik ranjau kuturunkan agar tidak sehebat aku. Ranjau-ranjau itu jadi kurang bisa mendengar selama beberapa waktu, dan, begitulah. Kamu bisa jadi menganggap lintasan itu bersih dan berlayar seperti biasa, tetapi pada saat itu--"

"--barulah ranjaumu mulai bekerja," potong England keras-keras. Kekesalannya menyembunyikan perasaan kagum yang memang ia singkirkan susah-payah. "Tunggulah di sana, akan ada hari di mana kamu yang mengatakan kalau kamu mengagumiku!"

"Oh?!" Germany tersengat harga dirinya. "Coba saja!"

.:.

Meskipun England tidak ingin mengakui bahwa ia lagi yang mengontak Germany, tetapi ia harus melakukannya. Lagipula, sudah lama sekali mereka tidak saling berkomunikasi. Sejak ia mencari jalan lain lagi, dan begitu pula dengan Germany, dan begitu seterusnya. Sejak mereka sungguh-sungguh menerapkan bahwa perang ranjau ini adalah pertempuran otak di antara sarjana masing-masing.

"Sudah menerima hadiah untuk memperingati 55 bulan sejak kamu membongkar ranjau magnetisku?" Germany mengangkat panggilan dan langsung berujar tanpa basa-basi.

"Itu hadiah? Tidak, terima kasih," England tersenyum kecut. "Aku sudah tahu bagaimana cara mengatasinya."

Germany mengangguk. "Aku tahu. Belum lama," tanggapnya pelan. "Terlepas dari penyelidikanku, kalau kamu juga memuat ranjau demikian. Berarti kau sudah kenal dengannya, 'kan? Namanya ranjau oyster."

"Senang bertemu," sambar England, dan Germany yang mendengar rasanya ingin tertawa saja. "Sama saja prinsipnya dengan ranjau yang kugunakan untukmu. Mendeteksi tekanan air, 'kan? Karena kalau kapal melintas, maka tekanan air di bawah kapal itu akan berkurang." 

"Yah, dan kalau tekanannya cukup rendah, maka meledaklah ranjaunya," Germany mengiyakan.

"Aku mengagumimu, tahu?" England menukas, meskipun dengan nada yang tidak menyiratkan itu, namun Germany tersenyum mendengarnya, tahu bahwa England benar-benar ingin mengatakan itu dan hanya tak tahu bagaimana cara menyampaikannya saja.

"Aku juga," Germany membalas tak disangka-sangka, tetapi belum sempat England membalas, Germany sudah menyambung, "aku juga mengagumiku, maksudnya."

"...Aku benci kamu, tahu?!"

.:.

Germany tahu ia harus menghubungi England. Harus. Ada yang aneh pada ranjau yang kini dipasang England, namun ia menemukan jalan buntu saat membuat analisisnya. Tidak mungkin. Bagaimana bisa ranjau itu baru meledak ketika kapal kedua yang melintas? 

Ia harus menghubunginya. Harus, harus, harus. Untuk menanyakannya. Selama ini, selalu ia yang menciptakan berbagai macam model dari ranjau, dan yang England lakukan adalah mengontak dia, menyampaikan analisis dengan menggebu-gebu, menutupnya dengan pernyataan perang, lalu mencari jalan untuk mengakalinya, dan begitu terus. Rasanya jadi seperti siklus saja.

Tetapi kini ada ranjau yang dipasang England--pastilah yang membuat adalah pihak Sekutu, tidak mungkin kalau England sendirian--dan itu benar-benar aneh, ia belum pernah menemukan yang seperti itu. Belum ada analisis yang ia buat, jadi bagaimana? Sekadar menghubungi dan lalu menanyakan itu apa? Sangat tidak etis, sungguh. Benar-benar tidak lucu.

Ia baru hendak menghubungi ketika menerima panggilan dari England. Germany mengangkatnya, tanpa mengatakan apa-apa.

"Kalau mau tahu, sih," England mengawalinya sambil berdeham, "bukannya aku segampang ini membocorkan, lho, ya! Aku hanya ingin meledakkan kapal-kapalmu, aku tidak mau kalau otakmu ikut meledak juga selama memikirkan analisis ranjauku yang baru kuterapkan. Lagipula, toh, ini variasi dari ranjau magnetis dan akustik juga."

Germany tidak mengatakan apa-apa. Tetapi ia mendengarkan.

"Jadi, ranjau itu memang sengaja dibuat begitu," tak peduli kalimatnya yang bisa membentuk satu paragraf itu tidak mendapat respons, England menjelaskan saja. "Ranjau itu tidak segera meledak kalau dilewati kapal pertamamu. Tetapi baru meledak kalau dilewati untuk kali kedua, ketiga, keempat... begitulah."

"..."

"Aku hebat, 'kan?" England tersenyum penuh rasa puas di ujung sana. "Ayolah. Katakan saja."

Germany rasanya ingin mendatangi dan menjitak kepala England. "Kamu terlalu menyebalkan untuk bisa membuat ranjau semacam itu, tahu?"

"Tak perlu sungkan untuk mengagumiku."

Ada jeda lama. Germany menarik napas, kesal marah mencampur jadi satu--ayolah, Germany, katakan, katakan, katakan sajalah!

"Aku mengagumimu. Puas?"

***

{sumber: Buku berjudul Perang Eropa (Jilid I), hak cipta oleh P.K. Ojong, pertama kali diterbitkan dalam bahasa Indonesia oleh Penerbit Buku Kompas Jakarta, Juli 2003.}

[1] 
...perang di Eropa ini adalah seri pertempuran di antara sarjana-sarjana kedua belah pihak, siapa yang lebih pandai, dialah yang akan menang (battle of wits). Sehingga dapat juga dikatakan, bahwa peperangan antara Jerman melawan Inggris dan kawan-kawannya ditentukan bukan saja di darat, laut, dan udara, tapi juga di dalam laboratorium yang sunyi, di mana serdadu-serdadunya adalah sarjana-sarjana dalam pakaian serba putih. {h113}

***

Author's Note

Aku fangirlingan malem-malem ketika yang lain pada nonton Haikyuu dan main Truth or Dare, aku memutuskan buat ngetik dan baca buku Perang Eropa aja orz Soalnya aku nggak ngikutin Haikyuu lagi dan aku nggak suka main Truth or Dare soalnya itu pedang bermata dua(?) :"))) Oke lalu aku sampai di bab 10, "Ranjau Laut yang Mampu 'Merasa' dan 'Mendengar'" dan itu isinya tentang ilmuwan kontra ilmuwan sekaliiii sungguh tak ada yang mau mengalah di antara mereka /o/

Perang ranjau yang Jerman dan Inggris--bener-bener cuma mereka berdua maksudnya, yang isinya tentang ranjau Jerman dan akal-akalan Inggris yang saling bales-bales-bales tiada akhir, itu terjadinya tahun 1939 ketika enam kapal dagang Inggris karam di depan Sungai Thames dekat London. Kalau meluas sampai melibatkan pihak Sekutu, itu sudah masuk ranjau oyster, yang dibuat Jerman sebelum Sekutu mendarat di Eropa Barat pada Juni 1944. Soal ranjau yang nggak mempan kalau dilewati kapal pertama, itu juga variasinya pihak Sekutu, yang waw sekali ya itu ranjaunya :")))

Tapi, yah, caranya Jerman dan Inggris saling balas-balasan itu kelewat menarik heuheu kayak pertengkaran teman kecil yang tetanggaan(?). Jadi kalau diringkas, tuh, semacam ini:
  • Jeman bikin ranjau magnetis (mendeteksi lewat bidang magnetis kapal baja)
  • Inggris memperkuat tenaga magnet, biar ranjaunya meledak duluan sebelum kapalnya sampai
  • Jerman bikin ranjau akustik (mendeteksi lewat bunyi-bunyian)
  • Inggris sengaja bikin bunyi-bunyian berisik, biar ranjaunya meledak duluan sebelum kapalnya sampai (2)
  • Jerman bikin ranjau akustiknya kurang bisa mendengar, biar nggak bekerja pas mendeteksi bunyi-bunyian dari Inggris dan baru meledak pas Inggris ngira lintasannya bersih 
  • Inggris bales
  • Jerman bales
  • Udahgituajaterus(??)

Trus.. ini panjang :") Dan entah kenapa aku jadi ngeship Germany sama England tolong gimana dong, mereka tuh saling nggak mau kalah banget TvT)7

fanfiction

First Loss

Minggu, Desember 11, 2016

title: first loss {part 6/10 of prompt's challenge}
prompt: you haven't experienced loss.
cast: italy, england (cameo: greece)

disclaimer: hetalia axis powers are owned by hidekazu himeruya. the author does not, in any way, profit from the story and that all creative rights to the characters belong to their original creators.

 fem!england, italy

Italy terperanjat begitu melihat England muncul di tengah-tengah serangannya pada Greece. "Kok, kamu..." perkataannya terhenti di tengah-tengah, "ada di sini?"

"Ada perjanjian militer dengan Greece, kalau mau tahu," jawab England terus terang, dalam hati ia ingin tertawa menyaksikan reaksi Italy yang begitu mudah terbaca, tak ada bedanya seperti buku yang terbuka. "Lagipula, aku di sini hanya membantu, dan, toh, sebenarnya Greece bisa memberi perlawanan sendiri. Pergerakan tankmu jadi lambat kalau lewat pegunungan dan lembah--kamu pasti tidak memperhitungkannya."

"Aku memang mengesampingkan pertimbangan militer[1]."

"Tuh, 'kan. Lalu, pertimbanganmu apa?"

"Angkatan perang Greece hanya punya tiga divisi. Angkatan udaranya kecil. Tidak punya tank pula."

"Jadi, kaupikir itu akan berlangsung dengan mudah?" England menerka.

"Jadi kupikir itu akan berlangsung dengan mudah." Italy mengiyakan. Ia mengangguk, canggung dengan pembicaraan yang sangat jujur, yang sangat tiba-tiba ini.

England mendengus. "Kalau begitu, apa yang kau yakini akan hancur kini."

Italy tidak ingin mengiyakan untuk yang satu ini. Setidaknya, tidak dengan begitu terang-terangan di hadapan England. "Aku akan kalah di sini?"

"Kekalahan besar." Ada anggukan.

"Kenapa?"

"Entahlah, kamu tidak menyangka aku membantu, mungkin?" England mengangkat bahu. Ia mengangkat sebelah tangannya dengan satu gerakan, dan tak butuh waktu lama, melintaslah pesawat dari pangkalan udara Greece di atas kepala mereka. Pesawat itu akan mengebom sumber minyak di Plusti. "Penting bagimu untuk menjadikan ini pengalaman, Italy. Kamu belum pernah mencecap rasanya kehilangan. Kehilangan keyakinan diri."

Italy sekuat tenaga menahan kedua kakinya untuk tidak melangkah mundur. "Memangnya kamu sudah pernah?"

England tersenyum. "Belum, sih."

Dan sang agresor itu terhalau sampai keluar perbatasan[2].

***

{sumber: Buku berjudul Perang Eropa (Jilid I), hak cipta oleh P.K. Ojong, pertama kali diterbitkan dalam bahasa Indonesia oleh Penerbit Buku Kompas Jakarta, Juli 2003.}

[1] Menurut Marsekal Badoglio, serangan ini membutuhkan 20 divisi, sedangkan di Albania yang digunakan sebagai pangkalan hanya terdapat sembilan divisi Italia. Akan tetapi, pertimbangan militer dikesampingkan oleh Mussolini yang tak berpikir dengan dingin lagi. Dan diserangnyalah Yunani pada tanggal 28 Oktober 1941.{h153}

[2] Kekalahan besar yang pertama di pihak Italia-Jerman adalah kekalahan Mussolini di Yunani. {h183}

 ***

author's note

Heihoo. Masih ketagihan dengan Buku Perang Eropa Jilid I, dan ini sudah masuk hari Minggu lol. Oke, arti petualangan Mussolini di Yunani ini berimbas sampai ke depan-depan, sih, dan bahkan merupakan salah satu sebab kegagalan Hitler di Rusia juga orz 

Terus, iya, Yunani saat itu dapat bantuan Angkatan Udara Inggris :"") Tapi tentara Yunani juga memberi perlawanan yang menakjubkan, kok. Di buku itu juga diceritain kalau tentara Yunani yang sudah dimobilisasi umum sama sekali enggak menunggu Mossolini menyusun kembali tenaga dan langsung menyerang di seluruh front  /o/

fanfiction

Pamphlet

Sabtu, Desember 10, 2016

title: pamphlet {part 5/10 of prompt's challenge}
prompt: its nice to see someone who can appreciate my humor.
cast: germany, england

disclaimer: hetalia axis powers are owned by hidekazu himeruya. the author does not, in any way, profit from the story and that all creative rights to the characters belong to their original creators.

fem!england, germany

"Kamu," England mengatakannya sambil menarik napas, "keras kepala banget, tahu? Orang-orangku menjawabnya langsung satu jam kemudian[1]. Kalau aku tidak menghendaki mereka, malah aneh, 'kan?"

Germany menganggukan kepala. "Tahu," jawabnya, "bahkan, barangkali kamu sendiri yang lebih tahu seberapa keras kepalanya aku."

England terdiam. "Kenapa?"

"Aku enggak mungkin mengatakan alasannya." Jelas saja. Ini masalah harga dirinya.[2]

"Kamu sudah tahu kalau reaksiku akan secepat kejutanmu[3]?"

"Aku enggak mungkin mengatakan alasannya," ulang Germany sekali lagi, menekankan. 

"Baiklah kalau begitu. Tunggu saja penolakan resmiku sebentar lagi."

Dan benar saja. Tiga hari kemudian, England memberikan pernyataan resmi bahwa ia menolak keinginan Germany yang mengajaknya untuk berdamai... dan sungguh, Sumpah, ya. Germany rasanya ingin menonjok England tepat di muka.

.:.

Germany duduk diam di kursinya, kepalanya tegak, matanya lurus-lurus menatap telepon di atas meja, menunggu panggilan. Baru beberapa saat yang lalu ia meluncurkan perintah kepada sejumlah pesawat terbangnya di atas rumah England untuk menyebarkan pamflet-pamflet, yang sudah ia terjemahkan dalam bahasa Inggris (haha, terima kasih kembali, England) berisi ajakan perdamaian. Lagi. Kali kesekian.

Kursi yang didudukinya beroda, sehingga dengan konyolnya, Germany mengelilingi ruangan sembari tetap berada di kursinya, sementara pikirannya ke mana-mana. Tolong, tolong, tolong. Ini penting baginya. England harus menerima ajakannya untuk berdamai. England harus mau. Ini harus England.

Panggilan masuk. "Germany di sini," Germany angkat panggilan dengan segera.

"Terima kasih atas pamfletnya. Membuatku langsung membaca tanpa susah payah menerjemahkan," meskipun Germany tidak bisa melihat apa yang sedang terjadi pada England di sana, tetapi ia bisa membayangkan bahwa di sana England sendiri sedang sibuk mengurusi pamflet-pamflet yang bertebaran di halaman rumahnya. Ada onomatope kertas-kertas dipungut dengan kasar. "Tahu tempat pelelangan, tidak[4]?"

Tempat pelelangan. Di kursi tempat ia duduk, Germany hampir saja menjatuhkan gagang teleponnya. Tempat pelelangan. Tempat pelelangan, katanya!

"Hm? Kalau tidak, untuk negeriku sendiri, nih."

"Silakan saja," gigi Germany bergemeletuk, susah-payah tetap terlihat tenang. "Lagipula, keuntungan yang didapat dari pelelangan itu, lumayan, 'kan?"

"Oh, tentu," balas England di ujung sana, mengulum senyum. Kalau soal sarkasme, ia tidak akan kalah. "Tentu. Terima kasih, Germany. Senang rasanya ada seseorang yang bisa menghargai sisi humorku."

***

{sumber: Buku berjudul Perang Eropa (Jilid I), hak cipta oleh P.K. Ojong, pertama kali diterbitkan dalam bahasa Indonesia oleh Penerbit Buku Kompas Jakarta, Juli 2003.}

[1] 
1.1 Pada 19 Juli 1940, Hitler, dalam gedung parlemennya (Reichstag), mengucapkan pidat untuk menawarkan perdamaian kepada Inggris. Jawaban radio Inggris BBC tak cukup sejam kemudian: "Tidak!" {h131}
1.2 Jawaban BBC ini diucapkan tanpa mendapat kekuasaan dari Churchill, namun BBC dengan begitu menyatakan pendapat mayoritas rakyat Inggris di bawah pimpinan Churchill. {h131}

[2]
..dan kesimpulan lain menunjukkan dari persiapan teliti yang dilakukan pihak Jerman itu, bahwa Hitler memang sesungguhnya hendak menyerbu negara Inggris--akan tetapi tak jadi semata-mata karena ia tak mampu. {h144}

[3]
3.1 Surprise (kejutan; serangan kejutan) tidak mungkin (dilakukan Jerman kepada Inggris). Kewaspadaan Inggris sangat tinggi. Kebulatan tekadnya untuk berperang mati-matian tidak disangka-sangka oleh siapa pun juga. {h146}
3.2 Inggris sudah berada dalam keadaan perang dengan Hitler, dan setiap detik menduga terjadinya invasi, sehingga Inggris sudah bersiap-siap, smpai dengan gas racun. {h144}

[4]
4.1 Pada 1-2 Agustus 1940, terbanglah sejumlah pesawat Jerman di atas kota-kota Inggris, bukan untuk menjatuhkan bom, melainkan untuk menyebarkan pamflet-pamflet yang berisi terjemahan dalam bahasa Inggris dari pidato Hitler pada tanggal 19 Juli yang mengajak Inggris berdamai. {h133}
4.2 Tapi reaksi rakyat Inggris sangat tegas: surat selebaran itu dipungut, lalu dilelang, dan hasilnya untuk Palang Merah Inggris. Inilah humor Inggris. Inilah tanda semangat perang yang murni. {h133}

***

author's note

Inggris itu... serius, ya. Dia bener-bener enggak tersentuh :") Apresiasi buat Inggris, heuheu, terhitung pada tahun 1940, selama beberapa ratus tahun terakhir setiap negara Eropa pernah mengalami perbatasannya dilanggar oleh tentara asing, kecuali negara Inggris :")

Buku Perang Eropa (Jilid I) ini aku temuin secara kebetulan. Jadi, hari ini, Tomodachi alias NJC (Namche Japan Community) ada malam keakraban di rumahnya Farqi, dan kita lagi bakar-bakaran jagung dan sate pas itu X"D Lalu kehabisan mentega pas ngebakar jagung, dan Farqi sama Shelly beli dulu, 'kan. Kita istirahat dulu, beberapa ada yang duduk-duduk, dan ada yang salat. Nah, setelah aku salat, sambil ngelipat rukuh, aku baca deretan judul di lemarinya Farqi, dan aku nemu buku ini :"")) Sumpah bagus banget heuheu :")

fanfiction

Secret Message

Sabtu, Desember 10, 2016

title: secret message {part 4/10 of prompt's challenge}
prompt: its okay. you dont have to love me.
cast: japan, america

disclaimer: hetalia axis powers are owned by hidekazu himeruya. the author does not, in any way, profit from the story and that all creative rights to the characters belong to their original creators.

fem!japan, america

Pesan rahasia yang sengaja dikirim Japan itu, sampai juga pada America. America mengangkat alis, ia pikir pesan rahasia itu bisa terbaca dengan sekali lihat karena sekalipun kode ini harus dipelajari untuk dapat dibaca seluruhnya, pastilah ada kode yang terbaca 'Indocina' di sana, mengingat apa yang sedang mereka perjuangkan sekarang[1]. Tetapi tak ada kode yang bisa terbaca dengan mudah, jadi inilah pasti sesuatu yang lain.

America mengambil lembaran kosong di meja dan mulai menyalin kode itu. Tak ada kata apapun yang familier baginya. Ekspor besi. Ekspor baja. Ekspor minyak--belakangan ini Japan masih terus saja mengatakan bahwa ia butuh itu, sekalipun embargo ini sudah ditetapkan sepihak olehnya[2]. 

Oh, ada kata yang terbaca. 'Kebijaksanaan'. America mengangguk sendiri, seolah paham, dan tanpa membaca lebih lanjut, ia menyambung kontak dengan Japan, yang langsung diterima tanpa ada detikan kedua, "Aku harus mengubah kebijaksanaanku soal itu, 'kan?"

Ada dengusan disertai senyuman, yang bisa dibayangkan America sekalipun ia tidak melihatnya, Japan hampir selalu melakukan itu saat mereka kerap kali bertemu untuk berbincang ringan, dulu. Tak ada respons konfirmasi dari Japan, dan America menyambung lagi, "Kamu meremehkanku, ya? Sudah tentu tak butuh lima menit untuk menerjemahkan pesan rahasia dari seorang yang aku suka."

"Aku enggak pernah meremehkan, sama sekali," suara Japan tetap tenang, dan itulah yang selalu mengontrol suasana pembicaraan mereka. Setiap kali berbincang dengan Japan, dalam keadaan apapun, baik santai maupun tegang, pastilah tidak bisa membuat suara America naik barang satu oktaf. Japan menyambung lagi setelah menarik napas, ia memutuskan untuk mengatakannya karena, toh, ini hanyalah dengan America. "America-san, ada kode yang terbaca 'rencana serangan' sebelum itu."

"Hah?" America terperanjat. "Rencana apa?" ia bereaksi cepat, dibacanya kode itu sekali lagi, "ah. Ada," ia mematung sebentar, "rencana serangan."

"Iya, 'kan?" Japan menyunggingkan senyum di seberang sana. "America-san, kamu yang meremehkan aku. Kode itu terbaca bahwa aku punya rencana serangan kalau kebijaksanaanmu soal embargo tidak diubah[3], kautahu."

"Ha-ha. Oh yang benar saja," kilah America, berusaha terdengar enteng namun panik diam-diam tercampur di sana. "Hanya untuk menyapa, atau apa? Kamu enggak terlihat menyusun serangan besar-besaran sama sekali."

"Kamu hanya enggak melihatnya," suara Japan melembut. "Daripada sapaan, lebih dibilang kejutan untuk yang tersayang."

"Terima kasih, aku menyukaimu juga," America membalas kesal. "Jadi, aku harus berjaga-jaga untuk kejutan itu di manakah?"

"Entahlah, ya," Japan mengangkat bahu, senyum masih setia bermain-main di wajah. "Oh, ngomong-ngomong, America-san, kamu tidak perlu memaksakan diri seperti itu. Tidak apa-apa, kok," ada jeda sebelum menyambungnya, "kamu tidak perlu menyukaiku juga."

America mendengus. "Konyol amat, sih. Jadi di mana lokasi kejutan itu, hei! Tidak lucu kalau aku tak ada di sana, tahu."

"Tidak lucu kalau aku memberitahumu, tahu."

"Sumpah, ya, aku kena kutuk apa, sih, kok bisa suka kamu."

"Sama-sama."

***

[1] Invasi Jepang ke Indocina. {source: learningenglish.voanews.com}

1.1 So Japanese troops were free to invade southern Indochina.
1.2 President Roosevelt reacted to Japan's invasion of Indochina by taking three major steps. First, he took control of all Japanese money in United States. Second, he brought the armed forces of the Philippines under American command. And third, he closed the Panama Canal to Japanese shipping.

[2] Embargo terhadap ekspor ke Jepang oleh Amerika. {source: jendelasarjana.com}

Presiden Roosevelt melarang semua ekspor besi, baja, dan minyak ke Jepang. Alasan embargo ini adalah invasi yang dilakukan Jepang ke China. Jepang kehilangan 90% dari pasokan minyak. Isolasi ekonomi melumpuhkan perekonomian dan militer mereka. 

[3] Pesan rahasia akan rencana serangan dari Jepang. {source: learningenglish.voanews.com}

American military officials captured secret messages from Japan. They learned that Tokyo was planning an attack of some kind unless United States suddenly changed its policies. However, the American officials could not discover exactly where of how the attack would be made.  

***

author's note

Pada akhirnya, seperti yang sudah tertebak, "kejutan" Jepang itu Pearl Harbor /o/ Oke, iya, kejutan macam apa sih ini orz Mereka, tuh, bisa dibilang... apa, ya. Sebelum Pearl Harbor terjadi tuh, berantem terus kerjaannya. Secara industri mereka sama-sama kuat, sih. Sampai lalu ada tragedi Pearl Harbor dan... jder(?) :") Japan, itu nggak lucu banget tolong :"")

fanfiction

Replacement

Sabtu, Desember 10, 2016

title: replacement {part 3/10 of prompt's challenge}
prompt: i heard you tried to find me in someone else.
cast: florida, spain, england (cameo: louisiana)

disclaimer: hetalia axis powers are owned by hidekazu himeruya. the author does not, in any way, profit from the story and that all creative rights to the characters belong to their original creators.

england, florida, spain, louisiana

"England," panggilan perlahan dari Florida, memasuki dapur di mana England sedang menggosok dasar panci yang gosong keras-keras. "Boleh aku ke luar?"

England mematikan air keran, butuh beberapa saat baginya untuk berbalik, menatap seseorang yang belum lama tinggal di rumahnya namun rewelnya minta ampun. Permintaan itu sudah ia dengar kesekiankalinya sejak hasil Traktat Paris 1763[1], dan kesekiankalinya pula ia tidak pernah memberi respons. Sekalipun Florida berjanji untuk langsung kembali begitu menyelesaikan urusannya, tetapi yang jadi masalah adalah apa urusan Florida itu.

Ia berbalik dan langsung angkat suara, "Kautahu Florida, ada banyak hal di dunia ini yang tidak berjalan seperti yang kamu inginkan."

Florida mengangguk. "Aku tahu. Aku tahu pasti kamarku sudah ada yang menempati, barang-barangku sudah dipindahkan ke gudang, papan namaku sudah dibuang--"

"Kamu kuizinkan," England memotong. Begitu matanya bertemu dengan Florida yang mendongak, ia membuang muka.  "Dan kamu tidak perlu langsung kembalipun, silakan saja, lagipula rumah ini masih bau gosong dan aku tidak mau kamu sakit kepala begitu masuk."

Bola mata Florida berbinar seketika, dan ketika ia hendak mengangguk, England menyambung lagi, "Hanya saja, bukan di situ poin yang kumaksud saat aku mengatakan 'dunia ini tidak berjalan seperti yang kamu inginkan', kautahu."

"Oh," Florida terpaku. "Apa?"

.:.

"Florida!" reaksi Spain begitu heboh, begitu gembira, dan sungguh, rasanya Florida harus berjuang untuk menahan air matanya agar tidak tumpah. Spain melangkah keluar dari pintu rumahnya, memberi jalan agar Florida lebih dulu masuk supaya ia yang menutup pintunya. "Hei, kamu pasti berjuang agar dapat izin dari England."

"Begitulah," balas Florida, ditolehkannya kepala ke kanan-kiri, mencari. "Louisiana?"

"Oh, Louis?" panggilan pendek Spain yang dipakainya untuk Louisiana membuat Florida terusik, tetapi ia mendiamkannya, "sedang tidur. Di kamarmu yang dulu," lalu tertawa, "cara tidurnya persis seperti kamu dulu, kautahu?"

Florida berusaha tidak memedulikan diri sendiri ketika hati seperti ditusuk belati. "Hm," ia menggumam aneh. Lalu meniti jalan, berpindah dari ruangan tengah ke ruang makan. Pernah ada lukisan pohon Royal Poinciana[2] karyanya dulu, namun kini lukisan itu sudah tidak ada. Diganti. Tetapi dengan obyek lukisan yang sama. Florida memandanginya, lama, bergeming.

Spain tahu apa yang sedang dipandangi teman lamanya itu. "Itu Louis yang menggambar," paparnya. "Hampir sama seperti lukisanmu, 'kan? Bagaimana kabar Florida Keys, apakah masih mekar[3]?"

Florida tidak ingin membahas itu. Kata-kata England sebagai pengganti salam selamat jalan terngiang di benaknya.

Bisa jadi Spain sudah menggantimu dengan yang lain.

Ia berbalik, kepalanya sedikit terangkat, menatap Spain lekat-lekat. "Dulu kamu memanggilku 'Flo', tetapi sekarang sudah enggak," ia mulai angkat suara, memerangkap Spain yang mulai tampak canggung dengan tatapannya, "dulu aku yang melukis itu juga. Kalau diganti dengan lukisan lain, sih, tidak masalah, tetapi ini lukisan yang sama."

Spain menelan ludah. "Hei, aku sama sekali enggak bermaksud--"

"Spain. Kautahu, ada yang mengatakan padaku," sang pemilik julukan The Sunshine State[4] itu memotong, "bahwa kamu mencoba menemukan diriku yang seperti ini dari orang lain."

"..."

"Itu Louisiana, 'kan?" 

Skakmat.

***

[1] Isi Traktat Paris 1763, hasil dari Perang Tujuh Tahun, Spanyol ngasih Florida dan dia dapat Louisiana {source: wikipedia}

1.1 Traktat Paris 1763 adalah sebuah perjanjian yang mengakhiri Perang Tujuh Tahun dengan merekonsiliasi Kerajaan Perancis dengan Kerajaan Britania Raya setelah negosiasi selama tiga tahun. 
1.2 Spanyol menyerahkan Florida kepada Britania Raya
1.3 Spanyol memperoleh wilayah di sebelah barat Mississippi (yaitu Louisiana).

[2] Pohon Flamboyan. {source: wikipedia}
Delonix regia. In many tropical parts of the world it is grown as an ornamental tree and in English it is given the name royal poinciana or flamboyant.


[3] Pada gambar di artikel wikipedia mengenai Geografi Florida, tampak pohon Royal Poinciana sedang mekar di Florida Keys, sebagai indikasi bahwa Florida Selatan beriklim tropis.

[4] The Sunshine State, julukan untuk Florida.

***

author's note

Saking sedihnya prompt yang aku dapet, awalnya aku langsung lari ke America sama England karena kupikir mereka pairing yang angst banget heuheu. Aku menjelajah Sejarah Amerika, dan entah kenapa aku kena perangkap di bagian integrasi politik dan otonomi yang nyinggung soal Seven Years' War orz Dan itulah yang membawaku ke sini _(:"3

Pernyataan-pernyataan dari wikipedia itulah yang bikin aku pengen nulis ini;
  • Spain lost Florida but gained French Louisiana and renained control of its colonies.
  • Spain lost control of Florida to Great Britain.

Karena tuntutan prompt yang dari awalnya udah menimbulkan angst bertebaran, jadi ceritanya aku buat drama begini deh heuheu 8"D Dan.. as always, England selalu tsundere apapun situasinya ya ///// Aku bikin ini di sela-sela Faculty Fair btw orz

fanfiction

Estrange

Jumat, Desember 09, 2016

title: estrange {part 2/10 of prompt's challenge}
prompt: they say i'm a traitor. maybe i am. all i know is that i did what i had to do.
cast: indonesia, japan, china
 
disclaimer: hetalia axis powers are owned by hidekazu himeruya. the author does not, in any way, profit from the story and that all creative rights to the characters belong to their original creators.


 japan, indonesia, china

"...Indonesia?"

Kalau perasaan tidak enak yang sejak tadi merambat di kedua kakinya ini ia hiraukan, sudah tentu Indonesia akan menjatuhkan map yang hendak ia serahkan ke China. Tetapi panggilan yang membuatnya jantungan itu sudah ia waspadai, sehingga sekalipun ia nyaris terlonjak, map agenda proyek kereta api cepat dapat berpindah tangan tanpa ada arang melintang. Barulah ia berbalik untuk melihat lawan bicara.

"Japan," balasnya datar.

"Oh," China angkat alis, fokusnya teralihkan. "Kamu juga mempertimbangkan dia? Wah," ada gumaman yang entah apa maksudnya, "tetapi pada akhirnya, yang kamu pilih aku, ya. Heh. Bagus, deh." Setelah mengatakannya, China melambai dengan sebelah tangan yang memegang map, lalu berbalik. Pergi.

Indonesia menatap Japan lekat-lekat. Di tangannya sudah ada map, isinya kurang lebih sama, tetapi dengan tidak sopan masih saja ia tanyakan, "Itu apa, di tanganmu?"

Tanpa harus menunduk menatap map, pandangan Japan statis saja menatap Indonesia. "Proyek yang kamu sepakati dengan China. Aku sudah memasukannya ke dalam agendaku[1]," jawab Japan, mencoba agar tak terlihat kecewa. "Kenapa?"

"Kenapa apa?"

Ada jeda. "Harus aku katakan, ya, kata itu?" nada suara Japan berubah sinis, dan Japan tidak pernah menunjukkan sisi dirinya yang seperti ini kepada Indonesia. "Kenapa berkhianat."

Ada sesuatu yang berdesir dirasakan Indonesia ketika mendengar mitra strategisnya sendiri mengatakan hal itu. "Aku nggak berkhianat," kilah Indonesia, suaranya seperti tertahan di tenggorokan. "Mengataiku pengkhianat begitu. Terserah saja, mungkin itu benar. Yang aku tahu adalah, aku melakukan apa yang aku lakukan. Itu saja. Aku, toh, hanya mengubahnya[2]."

Japan mundur selangkah, tak percaya. Sorot matanya berangsur-angsur berubah. 

Asing.

***

[1] Jepang sudah memasukan proyek itu dalam agendanya

...pemerintah kemudian memilih perusahaan asal China untuk menggarap proyek kereta api cepat Jakarta-Bandung. Padahal, Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe, telah memasukan proyek tersebut dalam agendanya untuk mengejar proyek-proyek infrastruktur di luar negeri guna mendongkrak pertumbuhan ekonomi domestiknya.{source: rimanews.com}

[2] Perubahan model kerja sama

Pemerintah Jepang dan China sebelumnya saling bersaing untuk dapat menjalin hubungan dengan Indonesia dalam menggarap proyek kereta cepat dengan model kerja sama G to G (government to goverment). Kedua negara tersebut sama-sama telah mengajukan proposal studi kelayakan feasibility study proyek agar bisa dipilih pemerintah. Namun, kondisi anggaran negara serta pertimbangan ketepatan pembangunan infrastruktur nasional membuat Indonesia berubah pikiran menjadi B to B (business to business) yang tidak merogoh uang pemerintah untuk proyek kereta cepat. Sementara BUMN Jepang maupun kalangan swastanya kesulitan masuk ke Indonesia karena terbentur regulasi, di sisi lain pemerintah China justru paling siap dengan skema B to B. {source: here}

***

author's note

Wah ini berita satu tahun yang lalu, wah. Yang rame(?) di media lebih ke alasan Indonesia milih China daripada Jepang, sih, kayak cinta segitiga aja. Pas dapet prompt ini, aku nggak langsung mikir ke arah situ, aku masih berkutat di perang-perangan orz Tapi dari awal aku udah cari-cari soal Jepang sama China, sih, eh malah membawaku ke kasus ini :"))

Aku... nggak punya pandangan tertentu sih sama kasus ini tbh. Namanya juga politik ya, politik kan selalu penuh kejutan, jadi entahlah pasti pemerintah punya alasan lebih kenapa milih China daripada Jepang. Tapi Jepang yang menyatakan kecewa itu... mengusik banget sih :") Bisa dibilang Indonesia nya yang PHP(?) :") Itu juga udah kasus setahun lalu jadi yah, semoga hubungan mereka kembali baik /o/