event

EHEF 2015: European Higher Education Fair

Rabu, November 04, 2015

Halo. Aku mau cerita pengalamanku kemarin. Ini bener-bener kisah untuk blog, bukan basa-basi, bukan perenungan sepele, atau apapun. Ini ceritaku. Yah, tapi aku mau kasih kata-kata pembukaan.

Maksudku, em, gimana, ya. Aku itu sudah mengalami banyak hal (berasa menghilang dari muka bumi dan muncul lagi sepuluh tahun kemudian aja), dan kalian mungkin ngerasa kalau gaya ceritaku agak lain. Aku lagi mikirin sesuatu yang penting, buat besok, hehe, curcol kan. Oke. Mulai, ya.

Gambar menyusul, koneksi nggak stabil.

EHEF—alias European Higher Education Fair, itu adalah hari di mana di Yogyakarta, tepatnya di Hotel Ambarukmo pada tanggal 3 November kemarin, terdapat pameran universitas-universitas Eropa. Gratis. Siapapun itu. Boleh masuk, boleh tanya-tanya secara bebas, ambil brosur ini-itu, dapet fasilitas tas tenun dan satu buku lengkap daftar universitas dan detailnya unggul di bidang apa.

Singkatnya, itu adalah pameran universitas Eropa satu-satunya, dan terbesar, di Yogyakarta. Siapa, sih, yang nggak pengen dateng? Yah, wajar aja kalau di sana, di pameran yang dibuka pada jam satu siang sampai jam tujuh malem, itu PENUH banget. Penuh. Pakai. Banget. Umpek-umpekan, panas, antriannya panjang ngalahin total antriannya sembako selama sepuluh tahun terakhir dan sepuluh tahun yang akan datang.

Aku dateng sekitar jam setengah lima lebih. Barengan sama Bagas, Wisha, dan Angie. Di sana, antriannya udah panjang nggak berujung sampai ke jalan raya, bener-bener ngalahin endless love nya Ikal sama A Ling. Di sana, lihat antriannya aja jadi pedih sendiri. Bagas, Wisha, Angie mutusin buat menumbangkan diri dan mlipir ke Amplas.

Lalu.. aku memutuskan untuk berkelana melihat setiap orang yang antre. Siapa tau aku ketemu temen, entah temen TK, SD, SMP, SMA, atau temen ekskul, atau temennya temenku, atau siapapun, asal orang yang kubutuhkan biar aku bisa nimbrung dan curi start antrean. Aku cari terus sampai akhirnya ke pusat yang menjadi penyebab antreannya itu, dan nggak nemu satupun temenku. Jadi berasa nggak punya temen, lol.

Tapi dengan lihat langsung di pusat yang menjadi penyebab antreannya, aku baru sadar kalo antreannya nggak cuma itu. Ada antrean yang lain, antrean yang lebih pendek. Sebenernya, antreannya itu ada dua, tapi karena yang kelihatan orang-orang itu yang lebih panjang, nggak ada yang tahu kalau ada dua antrean di sana. Akhirnya, aku nimbrung ke bagian antrean yang lebih pendek. Paling belakang. Hiks.

Pintu masuknya sama, menghadap utara. Tapi, dua antrean itu dateng dari timur dan barat, jadi kayak giliran-giliran gitu. Dan karena antrean dari barat lebih pendek, aku yakin banget, walaupun lama, pasti antrean dari barat bakal lebih cepet.

Tapi, semakin aku deket di pintu masuk, aku lihat gerombolan orang, banyak banget, di depan gerbang yang menghadap utara. Jadi gerbangnya itu ditutup. Padahal, kalau gerbangnya dibuka, gerombolan orang itu tinggal jalan dua langkah dan bisa masuk. Tapi karena kayaknya bukan lewat situ caranya, petugas lagi berusaha nenangin gerombolan orang itu dan nyuruh buat pake cara ngantre, nggak main dobrak gerbang.

Karena aku sendirian, aku nggak bisa nyuruh temen jaga anteranku yang sudah susah payah ini dan gabung ke gerombolan sana biar dapet dua peluang. Padahal, aku punya firasat kalau siasat main dobrak gerbang itu berhasil dan lebih cepet. Akhirnya setelah nimbang-nimbang, aku bisa juga keluar dari antrean dan gabung ke gerombolan itu.

Di sana, untuk pertamakalinya yang ngebuat aku bisa seneng, aku ketemu temenku, Woro. Sebenernya, awalnya dia temennya-temenku, sih, tapi, oke. Lalu dia bilang, kalau gerombolan ini sebenernya udah nunggu dari jam setengah dua! Bayangin, padahal udah jam setengah lima. Jadi, pintu masuk yang bener itu adalah pintu masuk lewat gerbang yang ngehadap utara ini, bukan gerbang timur atau barat. Tapi nggak tau kenapa, petugas nggak mau buka gerbang yang ini.

Aku agak pesimis, kan, apalagi pas liat ke antreanku sebelumnya udah nggak ada harapan. Maksudnya, nggak mungkin kan aku mendadak balik ke tempat itu, ke posisi aku antre sebelumnya dan bilang kalo aku tadi cuma pergi bentar dan mau balik lagi? Nggak mungkin. Aku juga udah males antre, jadi yang aku lakuin sama kayak gerombolan itu, tetep berdiri kekeuh nggak mau beranjak dari depan gerbang.

Kepesimisanku yang kedua, ketika Woro pamit pulang. Hiks, aku jadi nggak tau mau sama siapa padahal pas ketemu Woro itu aku seneng banget. Sempet kepikiran buat nyusul Bagas Wisha Angie aja, sampai ternyata, nggak sampai dua menit sejak Woro pergi dan aku sendirian, pimpinannya dateng. Pimpinan yang bagaikan malaikat penyelamat itu bilang, kalau bakal ada penjaga yang di luar, tugasnya ngekosongin bagian ini dengan nyuruh semua rombongannya masuk dan setelah itu nggak ada lagi yang hiruk-pikuk di sini kayak cendol.

Jadinya, aku ikut masuk, bersama dengan orang-orang yang udah nunggu sejak jam setengah dua. Berasa jahat, tapi, yah, apa daya, anugerah keberuntungan itu datang kapan saja, Kawan. Alhamdulillah, aku bisa masuk tanpa harus bersusah-payah memanggang dirinya sendiri dengan ngantre penuh kesabaran.

Oke, sebenernya, yang menantang itu ada di bagian bagaimana-cara-masuknya. Setelah aku bisa masuk, dikasih tas katun tulisannya EHEF dan di dalemnya ada pulpen, dan panduan buku isinya katalog, daftar universitas beserta keunggulannya yang ngebuat kita merasa lebih dari cukup daripada mampir ke standnya langsung yang udah jelas penuh orang.

(Gambar menyusul 1.0)

Tapi kalau mau terus terang, rasanya hampa. Aku udah masuk, rasanya terlalu seneng, berasa mimpi, tetap kekeuh dan tidak menumbangkan diri kayak orang-orang lain yang sebenernya udah lebih lama berada di sini, dan yang bikin hampa adalah, aku sendirian. Maksudku, walaupun aku beruntung, aku nggak bisa membagi kisah kecil ini ke orang lain gitu, secara aku nggak ada temen di sini.

Begitu muter-muter lihat seluruh universitas yang dipamerin, aku nggak dapet hasil apapun sampai aku kembali ke tempat awal lagi. Semua universitas yang dipamerin di sini kebanyakan punya titelnya. Antara University of Science, University of Management and Business, University of Law, dan lain-lain. Mereka kalau nggak IPA banget, ya, IPS banget. Yah, sebenernya, apa lagi sih, yang dibutuhkan di dunia ilmu pendidikan selain dua jurusan itu, IPA-IPS?

Sementara, sampai situ aku baru sadar. Hei. Aku, kan, belum yakin mau masuk jurusan apa?

Sampai sadar titik itu, tepat di depan pintu masuknya, tepat di mana semua orang yang sudah menginjakkan kaki di posisi ini kedua kalinya akan memutuskan mau mengincar stand bagian mana, aku malah diam saja. Bukan salahku, kan? Kalau misalnya aku masuk ke sini dengan penuh perjuangan dan keringat darah, aku akan memarahi diriku sendiri yang malah mematung di tempat yang diimpikan para pelajar yang ingin melanjutkan ke perguruan tinggi Eropa. Tapi, aku masuk sini dengan keberuntungan, sehingga yang ada hanyalah—itu tadi—hampa.

Meskipun begitu, aku nggak mau keluar begitu saja, dong. Aku memutuskan untuk mendatangi tiap stand satu per satu, namun di stand yang pertama, aku kembali dapat informasi bahwa orang-orang yang berjaga di stand tidak semata-mata menjelaskan begitu ada pengunjung yang datang, namun kita harus bertanya terlebih dahulu. Oke, Rasya, buka matamu, ini bukan stand penelitian, bukan stand di mana pengunjung stand langsung disambut dan dijelaskan dari latar belakang sampai kesimpulan.

Aku memutuskan untuk berpikir-pikir lagi. Tadi, aku baru saja membohongi diriku sendiri ketika dipaksa untuk menanyakan sesuatu, dan aku terpaksa mengatakan pembukaan bahwa, “Saya dari jurusan IPA, berminat untuk—” dan langsung dijelaskan keunggulan jurusan IPA di universitas tersebut. Kedokteranlah, matematikalah, blablabla yang aku hanya bisa membatin, Rasya-ini-bukan-kamu-banget.

Sayangnya, aku lagi sendirian di situ dan kalau aku diem dengan tatapan bingung, pengunjung lain bakal ngelihat aku aneh serasa aku itu alien yang datang ke Indonesia dengan ambisi besar namun justru terdampar di pulau komodo. Jadi, aku tetep jalan-jalan dengan gaya sok sibuk, meskipun aku sambil berpikir. Nggak ada artinya kalau aku nggak menentukan jati diriku sekarang. Apa yang aku pengenin, apa yang aku bener-bener pengenin. Sekarang, di sini.

Kalau aja aku sadar ini lebih awal, aku pasti bakal meluangkan waktu untuk sungguh-sungguh mikirin aku mau ke jurusan apa. Komunikasi? Sastra? Yah, aku terlalu buang-buang waktu, dan sekarang aku harus mikirin itu di tempat ini, dengan waktu yang bener-bener sempit ini.

Aku nggak mau buang peluru, Kawan.

Kalaupun aku memilih antara Komunikasi dan Sastra, sama aja, belum tentu aku bisa dapet universitas yang menjunjung tinggi dua jurusan itu, di sini. Lihat aja labelnya, lihat aja titelnya, semua kalau nggak bidang sains dan segala hal soal kerumahsakitan, ya, ekonomi, bisnis, sejarah, hukum. Aku cari apakah aku bisa dapet celah di setiap universitas yang ada, dan aku tahu, kalau aku harus merubah tujuanku, untuk sekarang: Jurnalistik. Atau, Seni dan Sastra. Sastra tidak bisa berdiri sendiri tanpa Seni, di sini.

Agak menyimpang sedikit, memang, secara aku itu memang anak jurnalistik tetapi bukan berarti aku mau berkecimpung di sana. Karena, yah, nggak ada wadah berupa ekstrakurikuler untuk menampung anak-anak yang gila garap cerpen fiksi, gitu, lho. Jurnalistik, yang cukup menyenggol dikit, untuk hal-hal yang berkaitan dengan Komunikasi atau Sastra. Dan, beberapa universitas ada yang unggul, atau bisa dibilang, agak unggul, di bidang Jurnalistik, atau Seni dan Sastra. Aku bahkan nggak tahu kalau ada bidang Jurnalistik ini.

Aku keliling, dan terutama ke bagian negara Inggris karena incaranku memang negara itu. Aku nemu beberapa. Tiga, tepatnya, dari sekian banyak universitas yang dipamerkan. Menyedihkan, memang.

King’s College London. Ini mungkin familiar di telinga kalian. Dan aku nggak bisa bilang dengan blakblakan kalau universitas ini jago jurusan Jurnalistiknya. Tapi, mereka menomorsatukan jurusan Seni dan Sastra, baru kemudian Kedokteran, Psikologi, Hukum, Matematika, Politik, dan lain-lain mengekor di belakangnya. Agak tertantang aja dengan universitas yang ini, apalagi Indonesia memasukkan universitas ini ke dalam daftar universitas di mana akan ada anak Indonesia terpilih yang diberikan beasiswa penuh oleh negara.

University of East Anglia (UEA). Universitas ini, menomorsatukan Sains dan menomorduakan Social-Science. Nomor tiganya, barulah Seni dan Sastra. Memang, sih, urutan tiga, tapi UEA ini menjadi host dalam International Literary Festival yang akan mendatangkan penulis-penulis terkenal, yang merupakan alumni dari kursus Creative Writing of UEA.

(Aku nggak tahu apa atau bagaimana itu Social-Science, karena, yah, coba saja bayangkan bagaimana IPS dan IPA disatukan. Kalian mau menghitung berapa peluang dari sekian tukang yang kontrak kerjanya akan dilanjutkan sambil berpikir bahwa tukang yang masa kerjanya tidak terkontinu itu adalah kelompok solidaritas mekanik menurut Klasifikasi Emmile Durkheim? Tidak, terimakasih.)

Setelah itu, aku berjalan-jalan dan memutuskan untuk mengambil berbagai macam souvenir. Ada bolpen, stiker, notes, tapi yang favorit, pembatas buku dari universitas di Sweden. Warnanya kuning kayak jas almamaternya UI, aku suka.

(Gambar menyusul 2.0)

Lalu, pengunjung rombonganku, dikasih tau kalau ternyata kita nggak bisa seharian di sini. Jadi, ada batas waktunya, per tiga puluh menit gitu. zZZ. Akhirnya, aku yang udah lumayan lega dan enggak hampa walaupun masih sendirian, jalan ke pintu keluar. Dan, di sana, aku bertemu stand yang kalau dipersonifikasi, itu bener-bener bagaikan penolongku.


(Gambar menyusul 3.0)

Lihat aja. Dia, standnya, sosok inspirasinya, seorang Jurnalis. Uh, wow, coba aja kalau kalian lihat stand-stand sebelumnya, daftar sosok inspirasinya itu seorang ilmuwan, matematikawan, atau ahli marketing profesional semua, deh.

Tesside University. Selain universitas yang jelas-jelas unggul-sempurna-tanpa-cela, kayak Harvard dan Oxford, Tesside University itu merupakan salah satu universitas dengan perpustakaan terbaik di dunia. Ini yang bikin aku makin minat. Universitas ini menjunjung tinggi Seni dan Media, menempatkannya di urutan satu. Apalagi Tesside University ini juga mengadakan Training of Journalists, bener-bener kepengen lulusannya itu minimal bisa melakukan wawancara.

Yang bikin sedih, sih, aku nggak bisa dapet sepenuhnya informasi soal universitas ini. Yang jaga standnya semuanya orang luar negeri, dan kalau mau tanya-tanya, harus pakai bahasa Inggris. Sekalian tes juga, sih. Aku, dengan segenap keberanian dan secuil ilmu berbahasa Inggris yang entah aku punya atau enggak, duduk di kursi yang disediakan, dan tanya.

Banyak hambatannya, sih, tapi, seenggaknya aku bisa. Aku terlalu gugup sampai aku mau ngomong bahasa Inggrisnya ‘wawancara’ aja aku nggak tau.. (‘interview’, ras), dan aku coba ngeles dengan bilang “face to face”, uh, oke, untung dianya ngerti. Aku dijelaskan macam-macam, lalu aku disuruh mengisi formulir, nama, email, nomor, dan minatku di bidang mana, kemudian dikasih penggaris dan sticky note.

Wow, seenggaknya, ini penutup yang hebat.

Endingnya, sih, aku ke Amplas, dan ketemu kembali sama Bagas Wisha Angie di Tamansari Foodcourt. Aku cerita, terutama yang paling seru, cerita gimana caranya aku bisa masuk sana, lol. Setelah itu, aku ketemu sama Mangga dan Suryo yang juga berhasil masuk karena mereka memang sudah di sana sejak jam dua.

Pameran ini setiap tahun, dan aku nggak mau melewatkan tahun depan. Aku sudah kelas dua belas ketika EHEF 2016 dibuka, dan aku nggak mau ‘buang peluru’ kayak yang ada di sini. Aku sudah berhasil mempergunakan peluru itu, sih, tapi, yah, kan, nggak maksimal, tahu, kan. Betapa aku malah seperti tersasar padahal sudah sampai di pameran yang diidam-idamkan pelajar bercita tinggi.

Tapi intinya, ini keren. Semuanya, keren. Aku udah puas, pakai banget.

Maaf untuk kalian yang harus baca sepanjang ini. Tembus 2000 kata, wow.