ketika nggak sengaja nabrak preman di pinggir jalan

Rabu, Oktober 28, 2015

"Trus, kenapa kalau aku nggak mau minta maaf?"
"Aku ngerasa nggak salah, kok. Buat apa aku minta maaf?"

Dari judulnya, udah kelihatan sebenernya ini semacam tips yang nggak mutu.

Oke. Mulai.

Seberapa seringnya, sih, anak-anak remaja jaman sekarang minta maaf satu sama lain, atau ke orang yang lebih tua, atau (yang makan harga diri banget) ke adik kelasnya atau orang yang lebih muda dari mereka? Atau yang lebih sepele, ke orang tua mereka? Rasanya, tuh, mending harga diri yang nanti bunuh kita daripada kita yang harus bunuh harga diri sendiri.

Minta maaf mungkin juga ada yang nggak kesusahan ngelakuinnya, tetapi bisa jadi malah kegampangan. Kegampangan minta maaf, dan kesannya malah jauh banget dari serius. Cuma sekilas, "Eh, maaf," atau yang lebih parah lagi cuma bener-bener sepintas tanpa ngelihat orangnya, "Sori," yang bikin si target itu malah makin naik darah. Mendingan nggak usah minta maaf sekalian.

Misalnya, remaja sok berandalan yang nggak sengaja nabrak preman di pinggir jalan. Pasti yang ada saling teriak-teriakan, lalu kemakan gengsi satunya nggak mau minta maaf dan satunya nggak mau ngebiarin masalah bubar gitu aja, dan ujung-ujungnya, berantem deh. Di tempat itu, nggak peduli di mana, nggak peduli kapan, nggak peduli kepentingan apa yang nunggu mereka besok.

Lalu, remaja yang emang dari kecil dilatih bela diri, bakal lebih profesional nyikapinnya. Berantem, sih, mau nggak mau tetep iya, tetapi seenggaknya dia berusaha menghindar dulu. Menghindar, lho, ya, bukan berarti minta maaf. Baru ketika nggak bisa menghindar, minimal nentuinlah, kapan dan di mana mau berkelahi, biar bisa prepare juga buat jiwa dan raga.

Kalau remaja yang kutu buku? Mereka kalau nabrak preman di pinggir jalan, secara refleks bakal minta maaf lalu lari. Atau mungkin, minimal langsung minta maaf berkali-kali. Apakah itu menyelesaikan masalah? Iya, sih, iya, tapi si preman bakal ngelepasin dengan penuh kemenangan, karena jelas sikap si kutu buku itu minta maaf adalah sikap yang ngemisnya tingkat akut.

Lalu, remaja kayak apa yang bisa menghindari kejadian itu dengan selamat dan tentram dan hasil yang seimbang terhadap masing-masing pihak? Bisa jadi dia nggak bisa berkelahi. Bisa jadi dia nggak pernah ikut latihan bela diri. Bisa jadi dia bukan anak tertutup yang gampangan minta maaf buat menghindari masalah. Tapi, dia tau gimana caranya harus bersikap.
Level seseorang di mata dunia akan diketahui pada saat ia dihadapkan dalam kondisi yang mengharuskannya untuk meminta maaf.
—Rasya, (masih) 15.
Coba cari sudut pandang lain.

Apabila yang menabrak preman di pinggir jalan adalah seorang pembunuh kelas satu.
Apa yang kira-kira dia lakukan?

Dia jelas akan langsung meminta maaf.

Minta maaf dengan sikap, bukan minta maaf yang menandakan bahwa dia itu orang gampangan. Dia akan menunduk dalam-dalam, mengatakannya dengan sungguh-sungguh, seolah preman itu adalah orang pertama yang menjadi target prakteknya meminta maaf. Menurut kalian, kenapa orang yang sok berandalan malah berani terjang, dan justru orang yang ternyata dia pembunuh kelas satu memilih mundur?

Karena, hello? Sang pembunuh kelas satu itu udah tau diri bahwa masalah nabrak-preman-di-pinggir-jalan itu sama sekali bukan levelnya dia, gitu lho. Makanya itu, nggak banget kalau ambil langkah maju dan kasih serangan bogem mentah ke preman, secara dia nggak butuh keberadaannya diakui di level gituan.

Nah. Itulah pilihan yang harus kamu lakukan kalau kamu nggak sengaja nabrak preman di pinggir jalan. Kamu pengen yang versi mana? :)

P/S:
Saking banyaknya yang pengen aku ceritain di blog, setiap aku buka blog aku malah nggak cerita apa yang harus aku ceritain. Mungkin kapan-kapan(?). Udah, yaa.

You Might Also Like

0 comment(s)