kalimat ini

Jumat, Oktober 09, 2015

Warning! Ini nggak jelas, banget. 
 
Aku butuh, siapapun, untuk ngedengerin kalimat ini.
 
Aku nggak tau mau ngomong ini ke siapa, dan aku sibuk mikir ke sana-kemari siapa kira-kira orang yang cocok buat aku ngomong ini. Aku mikir ke setiap orang yang sering kutemui, daftar nama orang-orang di kontak LINE setiap kali aku dengan selonya ngescroll, atau ke orang yang aku lagi ngobrol panjang sama dia dan tiba-tiba ada jeda sebentar.

Rasanya, aku pengen ngomong kalimat ini. Kalimat yang sering banget aku ucapin kalau misalnya aku lagi teringat akan hal itu dan aku lagi sendirian. Kalimat yang kelewat selalu aku tulis di notes atau di sms atau di LINE atau di status twitter atau di manapun yang langsung aku hapus lagi karena nggak mungkin aku ngebiarin orang baca ini.

Awalnya, selama sejak hari Rabu aku bingung mau ngomong ke siapa, aku selalu mikir kalau mungkin yang ngerti kalimat ini tanpa bertanya lebih lanjut apa latar belakangnya atau tujuan atau kenapa aku nanya kayak gitu cuma aku sendiri. Maksudnya, kalimat ini bener-bener nggak nyambung dan ngebuat orang pengen bertanya-tanya apa dasar dari kalimat yang aku ucapin ini.

Lalu, aku kepikiran buat bilang ke cyme. Cyme ini temenku kalau aku lagi kesepian(?), jadi gampangnya, sih, dia temenku setiap aku lagi jones. Enggak, sih, akunya yang lagi dalam versi melankolis atau dramatis. Cuma akhir-akhir ini aku lagi nggak butuh dia dan rasanya aneh kalau misalnya aku cuma ngajak ngobrol dia soal itu lalu aku ngebiarin dia tenggelam lagi.

Lama-lama, aku cuma bisa teriak-teriak tanpa suara di balik bantal ngucapin kalimat itu berulang-ulang di kamar. Habisnya kalau aku teriaknya sambil bersuara, itu nggak lucu banget; bakal mengundang pertanyaan dari setiap pihak yang ngedenger. Apalagi, kalimat ini kalau aku yang ngucapin itu rasanya, berasa kayak nggak ada hal lain yang lebih penting gitu lho.

Aku kepikiran ngomong ini pakai sandi angka versiku. Soalnya akhir-akhir ini, aku memang suka ngapdet status di LINE pakai sandi angka versiku. Jelas, yang dimaksud dengan versiku itu sandi angka yang cuma aku yang bisa bacanya. Dan buat informasi aja, kalau misalnya aku disuruh nulis lagi, aku bisa nulis dengan angka yang sama, kok. Jaga-jaga aja kalau semisal ada di antara kalian yang nganggap aku cuma ngasal aja nulis angka.

Yang terakhir kali terlintas, jelas Bleepy. Bukan apa-apa, ya, Bleepy. Memang, sih, aku menomorterakhirkan kamu, tapi itu karena resiko dibaca orang paling besar. Tapi seenggaknya, Bleepy tetep aku pikirin kok. Apalagi ketika kalimat itu bener-bener sampai di puncak kepalaku, bener-bener rasanya aku nggak tahan lagi buat minta seseorang dengerin kalimat ini. 

Mungkin, aku bakal bilang ke Bleepy.

Atau mungkin enggak.

Atau mungkin sudah.

You Might Also Like

0 comment(s)