Pelangi. Dan ini kami.

Rabu, September 16, 2015

Senyum, dong.
Memangnya, kamu yang menanggung takdir dari akhir dunia?
—Rasya, 15


(gambar kabur. sengaja biar loading gambar nggak lama, ehehe)

Kenapa aku ngeblog hari ini? Di mana tinggal hitungan hari lagi ujian tengah semester bakal mulai? Aku bahkan lagi bingung nyeimbangin waktu antara sekolah, kegiatan luar, dan kepanitiaan intern, tapi kenyataannya aku malah buat postingan blog.

Sebenernya, faktornya simpel aja. Tadi, aku, Sherin, Rani, Afi, lagi nunggu jemputan berbarengan. Pas saat itu, Rani tiba-tiba bilang, "Eh, ada pelangi!"

Pelangi.

Dan itu emang bener. Mungkin pelangi itu kedengarannya biasa-biasa aja. Tapi itu pelangi pertama yang aku lihat di kelas sebelas. Kelas sepuluh bahkan. Kesannya dramatis dan melankolis banget, sih, kayak nggak pernah lihat pelangi aja.

Yah, terus terang aja, sih. Ini pelangi pertama yang kulihat di SMA 6 ini. Dan pelangi yang kulihat itu pelangi yang "burem," kata Pak Pey pas aku bilangin ada pelangi =))

Tapi, yah. Pas aku lihat pelangi itu, aku lagi nggak dalam keadaan yang bagus. Maksudnya, aku lagi nggak sama cowok (mau sama siapa, ras..), atau lagi sama Lisa, atau sama Shelly. Aku lagi nunggu jemputan, duduk di bawah pohon besar halaman depan SMA 6. Lalu tiba-tiba, di atasku ada pelangi. Pelanginya bagus (nggak sebagus di gambar, sih) dan aku pengen motret tapi sayang batre hapeku habis. 

Untungnya, sih, posisiku strategis buat liat pelanginya. Sudut elevasi empat puluh lima derajat deh bisa dibilang. Seenggaknya nggak kayak Pak Pey yang nggak bakal notis karena munggungin si pelangi kalau aku nggak ngasih tau :3 Nah, karena posisiku strategis, aku memanfaatkan beberapa menit buat ngeliatin pelangi itu terus-terusan dan dalam mode dramatis mode ON.

Lihat pelanginya itu rasanya tentram banget. Berasa kembali ke masa lalu, gitu, soalnya jarang ada pelangi di zaman sekarang. Aku duduk di pohon besar ini dengan niat buat menenangkan diri sendiri dari berbagai aktivitas-aktivitas apapun yang, jujur aja, membuatku dengan terpaksa menelantarkan sekolah. Bukannya menelantarkan juga, sih. Maksudku, ya, menjadikan sekolah sebagai prioritas-ke-sekian. Makanya, lihat pelangi itu bener-bener serasa masalahku terlupakan.

Dan, aku jadi inget kalau hari ini aku baru ketawa—bener-bener ketawa, bukan cuma ketawa ha-ha-ha—itu sebanyak satu kali. Kejadian itu waktu istirahat kedua, di ujung koridor buntu di lantai dua sama Lisa. Ketawa yang spontan, ngakak gitu=)) Karena mode dramatisku lagi ON, ya, aku jadi inget mendadak apa tujuanku di SMA 6 ini. Tepatnya, pas kelas X disuruh sama guru BP menceritakan asal-usulku masuk SMA 6, apa tujuanku dan apa harapanku.

Tapi, intinya, aku masuk SMA 6 ini dengan niat mau cari pengalaman sebanyak-banyaknya. Ikut event, acara di luar sekolah, banyak hal. Misalnya aja, di luar sekolah aku pernah ikut 1000 Susu Gratis Untuk Anak Jalanan. Acara Forum Rohis Jogja yang Ramadhan di Sekolah, lalu KACA Kedaulatan Rakyat, dan baru-baru ini aku jadi penulis skrip di Gamabox TV dan reporter Majalah Hai.

Aku seneng, banget. Tapi pelangi yang bener-bener tenang yang kulihat itu kayak ngasih tau apa yang aku lupain; aku jarang ketawa lagi. Emang, sih, aku banyak beban dan mukaku ngantuk terus. Istilahnya, sih, kantung mataku sampai punya kantung mata—omongannya Squidward itu, lho. Jalan ke kelas tiap pagi berasa orang mabuk, lol. Gitu, deh.
Pelangi itu seakan-akan bilang ke aku,
"Senyum dong, Ras! Bukan kamu yang menanggung takdir dari akhir dunia, kan?"
Bukannya mataku jadi kayak orang mati, sih, nggak separah itu. Aku jadi jarang ketawa dan nggak ramah, gitu. Aku lebih milih sendiri dan merenung terus-terusan kalau lagi pelajaran kosong, atau coret-coret nggak jelas, daripada mencoba berbaur sama temen-temenku sendiri. Pelangi itu kayak nasihatin aku, bahwa aku boleh punya banyak aktivitas, tapi aku juga harus peduli sama kondisi psikis badanku sendiri. 
Ada beberapa temen yang dia jalan itu nggak senyum sama sekali. Aura di tubuhnya seakan menguarkan kalimat,
"Aku lagi stres sekarang, dan dunia harus tahu."
Oke, aku ada di posisi kayak gitu, sampai tadi. Dan pelangi yang aku lihat hari ini ngebuat aku sadar kalau aku nggak boleh ngelakuin kayak gitu. Senyum itu, kan, ibadah. Lagipula, mereka yang nggak sengaja kupapasin nggak berhak ngelihat tampangku yang lagi 'penuh beban' sementara mereka nggak berbuat masalah sama sekali ke aku.
Kuatkan diri, dan aku berkata sendiri,
"Kamu emang capek, Sya. Tapi yang capek nggak cuma kamu:)"
Selamat bulan September. Jangan lupa, sejak tanggal 1 sampai tanggal 10 Dzulhijjah, jangan potong rambut dan potong kuku, ya. Ehehehe.

You Might Also Like

2 comment(s)