buku

Tentang Buku

Selasa, September 29, 2015

Jadi, aku ada banyak buku yang sebenernya pengen aku promosiin di sini.

Yang pertama, the Dead Returns, buku paling baru yang aku tamatin. Baru kemarin lusa. Tapi sekarang lagi dipinjem Lisa. Dan aku juga mau menceritakan tentang buku itu secara spesial karena ceritanya emang plot twist azli, jadi tunggu postingan selanjutnya aja.

Lalu yang kedua. Will Grayson, will grayson.

Karangan John Green. Ini buku yang membuat aku punya kode sandi buat lokerku, 17-9-35. Karena aku terinspirasi sama tokoh cewek di novel ini yang kunci lokernya 11-2-25, dan itu dijadiin sama si tokoh utama buat kode-kodean. Dia nitip ke artis favoritnya mereka berdua yang bentar lagi konser, "tolong nyanyiin lagu ini dan bilang kalau itu untuk 11-2-25". 

Ujung-ujungnya, si artis ngelakuin itu dan uh-oh, si cewek bilang ke si cowok (disaat si cowok udah ke GR an ngira ceweknya mau bilang makasih atau apalah) kalo dia ngira yang ngelakuin itu adalah mantannya yang dulu. Sakit.

Yang ketiga. Kiss Me and Let Me Die.

Aku lupa aku pernah cerita soal ini apa enggak. Ini ceritanya bagus. Buku perpustakaan. Yang nggak bagus cuma judul, cover, sama kertasnya.. :') Dari buku ini aku bener-bener belajar apa makna sesungguhnya dari "Don't judge a book by its cover." Karena aku jamin, kalian liat cover dan judulnya itu bakal ilfil. Lalu buka-buka halamannya, kertasnya pakai kertas buram yang bikin mengurangi minat buat baca banget.

Tapi ternyata, ceritanya bagus (banget, asli). Tentang cewek normal namanya Angel, yang seharusnya dia mati tanggal 8 Desember. Tapi dia punya keinginan kuat yang ngebuatnya melawan takdir dan membuat si malaikat kematian yang harusnya nyabut nyawanya itu nggak bisa nyabut. Dan apa keinginan Angel itu? Yah, dia pengen dapet ciuman pertamanya._.

Sebenernya ada banyak, sih, buku-buku di perpustakaan yang udah aku baca. the windflower, murder is easy, kedai 1001 mimpi, kelas tiga di malory towers, misteri teater kecil, daaan lain-lainnya. Lalu ada juga, satu-satunya komik di perpustakaan. Judulnya SOS.

Dan S.O.S ini, bener-bener apik ceritanya. Tentang perkumpulan pemecah misteri, yang memecahkan berbagai misteri aneh-aneh termasuk pembunuhan. Perkumpulan mereka ada di gubuk belakang sekolah. Di gubuk itu banyak banget binatang, yang namanya sesuai dengan nama tempat mereka ditemukan XD Misalnya, Pohon Sakura, Tempat Sampah, dan lain-lain=)) Sayangnya, ini SOS jilid satu, dan jilid dua nya gak ada di manapun:( Gambarnya juga udah jadul, di internet juga gak ada:(

Yang terakhir, buku yang ngebuat aku pengen mosting blog ini adalah a kind of heart.

Aku baca di Gramedia dan terlalu malu untuk beli(?). Tentang sekumpulan anak-anak OSIS yang pengen ngebuat festival-festival di sekolah. Yah, mereka kalo buat festival gitu konfliknya bukan masalah dana *eh* tapi masalah perizinan dari sekolah, atau respon dari anak-anaknya. Ketua OSIS ini tampangnya bener-bener gak meyakinkan sebagai ketua, lol, makanya hampir seisi sekolah ngira yang jadi ketua itu justru si Wakil Ketua OSIS.

Ketua OSIS ini dulunya berandalaaan banget selama dia kelas 10. Pas dia kelas 10 dulu pas sekolahnya ada festival olahraga, festivalnya justru rusak parah karena diserang sama anak SMA lain. Bukannya seneng-seneng karena festival, tapi malah tawuran... :') Dia lalu yang ngehantam sekawanan anak-anak bandel SMA lain itu. Tapi ya, walaupun dia yang nyelesaiin masalah, tetep aja dia yang gena getah sama SMAnya sendiri karena tertuduh ikut terlibat dalam kehancuran festival olahraga :')

Dia nggak terima, kan, trus dia pengen buat festival macam-macam sendiri di mana nggak ada berandalan SMA lain yang gangguin SMAnya. Satu-satunya cara adalah jadi Ketua OSISnya! Eh, diterima, lol. Soalnya semua ngira yang ngenyalonin itu si Wakil. Makanya setiap kali pidato sambutan atau pemberi aba-aba, yang ngelakuin si Wakil semua ._.

Ujung-ujungnya, mereka bisa ngadain festival olahraga. Dan ternyata ada anak berandalan SMA lain yang juga ngerencanain pengen nyehancurin festival itu pas hari H pembukannya. Yah gitu deh, semacam konflik anak-anak SMA gitu._. Tapi, ini bagus ehehe :")

UTSku selesai hari ini. Ngomong-ngomong, tanggal 17 Oktober, ada pentas ArtDay lho, di SMA 6 {}

gak berlabel

Pelangi. Dan ini kami.

Rabu, September 16, 2015

Senyum, dong.
Memangnya, kamu yang menanggung takdir dari akhir dunia?
—Rasya, 15


(gambar kabur. sengaja biar loading gambar nggak lama, ehehe)

Kenapa aku ngeblog hari ini? Di mana tinggal hitungan hari lagi ujian tengah semester bakal mulai? Aku bahkan lagi bingung nyeimbangin waktu antara sekolah, kegiatan luar, dan kepanitiaan intern, tapi kenyataannya aku malah buat postingan blog.

Sebenernya, faktornya simpel aja. Tadi, aku, Sherin, Rani, Afi, lagi nunggu jemputan berbarengan. Pas saat itu, Rani tiba-tiba bilang, "Eh, ada pelangi!"

Pelangi.

Dan itu emang bener. Mungkin pelangi itu kedengarannya biasa-biasa aja. Tapi itu pelangi pertama yang aku lihat di kelas sebelas. Kelas sepuluh bahkan. Kesannya dramatis dan melankolis banget, sih, kayak nggak pernah lihat pelangi aja.

Yah, terus terang aja, sih. Ini pelangi pertama yang kulihat di SMA 6 ini. Dan pelangi yang kulihat itu pelangi yang "burem," kata Pak Pey pas aku bilangin ada pelangi =))

Tapi, yah. Pas aku lihat pelangi itu, aku lagi nggak dalam keadaan yang bagus. Maksudnya, aku lagi nggak sama cowok (mau sama siapa, ras..), atau lagi sama Lisa, atau sama Shelly. Aku lagi nunggu jemputan, duduk di bawah pohon besar halaman depan SMA 6. Lalu tiba-tiba, di atasku ada pelangi. Pelanginya bagus (nggak sebagus di gambar, sih) dan aku pengen motret tapi sayang batre hapeku habis. 

Untungnya, sih, posisiku strategis buat liat pelanginya. Sudut elevasi empat puluh lima derajat deh bisa dibilang. Seenggaknya nggak kayak Pak Pey yang nggak bakal notis karena munggungin si pelangi kalau aku nggak ngasih tau :3 Nah, karena posisiku strategis, aku memanfaatkan beberapa menit buat ngeliatin pelangi itu terus-terusan dan dalam mode dramatis mode ON.

Lihat pelanginya itu rasanya tentram banget. Berasa kembali ke masa lalu, gitu, soalnya jarang ada pelangi di zaman sekarang. Aku duduk di pohon besar ini dengan niat buat menenangkan diri sendiri dari berbagai aktivitas-aktivitas apapun yang, jujur aja, membuatku dengan terpaksa menelantarkan sekolah. Bukannya menelantarkan juga, sih. Maksudku, ya, menjadikan sekolah sebagai prioritas-ke-sekian. Makanya, lihat pelangi itu bener-bener serasa masalahku terlupakan.

Dan, aku jadi inget kalau hari ini aku baru ketawa—bener-bener ketawa, bukan cuma ketawa ha-ha-ha—itu sebanyak satu kali. Kejadian itu waktu istirahat kedua, di ujung koridor buntu di lantai dua sama Lisa. Ketawa yang spontan, ngakak gitu=)) Karena mode dramatisku lagi ON, ya, aku jadi inget mendadak apa tujuanku di SMA 6 ini. Tepatnya, pas kelas X disuruh sama guru BP menceritakan asal-usulku masuk SMA 6, apa tujuanku dan apa harapanku.

Tapi, intinya, aku masuk SMA 6 ini dengan niat mau cari pengalaman sebanyak-banyaknya. Ikut event, acara di luar sekolah, banyak hal. Misalnya aja, di luar sekolah aku pernah ikut 1000 Susu Gratis Untuk Anak Jalanan. Acara Forum Rohis Jogja yang Ramadhan di Sekolah, lalu KACA Kedaulatan Rakyat, dan baru-baru ini aku jadi penulis skrip di Gamabox TV dan reporter Majalah Hai.

Aku seneng, banget. Tapi pelangi yang bener-bener tenang yang kulihat itu kayak ngasih tau apa yang aku lupain; aku jarang ketawa lagi. Emang, sih, aku banyak beban dan mukaku ngantuk terus. Istilahnya, sih, kantung mataku sampai punya kantung mata—omongannya Squidward itu, lho. Jalan ke kelas tiap pagi berasa orang mabuk, lol. Gitu, deh.
Pelangi itu seakan-akan bilang ke aku,
"Senyum dong, Ras! Bukan kamu yang menanggung takdir dari akhir dunia, kan?"
Bukannya mataku jadi kayak orang mati, sih, nggak separah itu. Aku jadi jarang ketawa dan nggak ramah, gitu. Aku lebih milih sendiri dan merenung terus-terusan kalau lagi pelajaran kosong, atau coret-coret nggak jelas, daripada mencoba berbaur sama temen-temenku sendiri. Pelangi itu kayak nasihatin aku, bahwa aku boleh punya banyak aktivitas, tapi aku juga harus peduli sama kondisi psikis badanku sendiri. 
Ada beberapa temen yang dia jalan itu nggak senyum sama sekali. Aura di tubuhnya seakan menguarkan kalimat,
"Aku lagi stres sekarang, dan dunia harus tahu."
Oke, aku ada di posisi kayak gitu, sampai tadi. Dan pelangi yang aku lihat hari ini ngebuat aku sadar kalau aku nggak boleh ngelakuin kayak gitu. Senyum itu, kan, ibadah. Lagipula, mereka yang nggak sengaja kupapasin nggak berhak ngelihat tampangku yang lagi 'penuh beban' sementara mereka nggak berbuat masalah sama sekali ke aku.
Kuatkan diri, dan aku berkata sendiri,
"Kamu emang capek, Sya. Tapi yang capek nggak cuma kamu:)"
Selamat bulan September. Jangan lupa, sejak tanggal 1 sampai tanggal 10 Dzulhijjah, jangan potong rambut dan potong kuku, ya. Ehehehe.