PPB 18.0 : Tanpa Masa Lalu, Tanpa Masa Depan.

Minggu, Juli 05, 2015

Alhamdulillah, habis kemarin aku ngasihin cerpenku ke blog, aku dapet pengumuman malem ini kalau ada cerpenku yang menang lomba lagi :') Kan tema buat cerpenku ini Fantasy. Ya udah aku ambil aja dari novel-yang-seminggu-jadi yang emang temanya jaman-jaman kerajaan gitu, deh, karena novelku itu juga bakal aku biarkan berdebu di laptop :') Makanya aku abadikan miniaturnya(?) menjadi versi cerpen dan aku lombain. Seneng banget, ternyata masuk kontributor TvT

***

Tanpa Masa Lalu, Tanpa Masa Depan

Yang sedang kuasah sekarang adalah pedang spesialis pancung.

Aku sedang berada di suatu ruangan, ruangan khusus untuk algojo kerajaan sepertiku, yang memberiku waktu beberapa saat untuk menenangkan diri.

Aku belum pernah membunuh manusia seumur hidupku. Aku tahu aku akan melakukannya, tetapi aku selalu berpikir bahwa itu masih sangat lama. Tetapi, ayahku diangkat menjadi penasihat kerajaan secara tiba-tiba. Kerajaan mengangkat ayahku dari faktor lamanya ayahku berada di kerajaan. Sehingga, ketika posisi penasihat kerajaan sedang kosong karena penasihat kerajaan tersebut meninggal, kerajaan langsung menunjuk ayahku untuk menggantikannya.

Ayahku sendiri sama sekali tidak masalah. Namun, aku yang mempermasalahkannya. Dalam waktu dekat setelah kejadian penobatan itu, kerajaan membutuhkan algojo untuk memenggal kepala seorang pembunuh.

Alih-alih menajamkan pedang, aku justru meremas pengasah pedang itu erat-erat. Ini menyebalkan, mengingat aku hanya diberikan sedikit waktu untuk menyendiri. Aku tidak percaya bahwa ayahku benar-benar bisa membuang seluruh perasaannya. Membuang seluruh emosinya, ketika menebas kepala demi kepala.

Bahkan ayahku dinobatkan menjadi algojo saat beliau berusia tiga puluh tahun! Mengapa aku menjadi pihak yang apes di sini, melakukan apa yang dilakukan ayahku dulu saat aku berumur sepuluh tahun lebih muda darinya? Aku masih dua puluh tahun, tahu.

“Kita akan mulai mempelajari teori dahulu,” ayahku mengatakan itu kepadaku empat tahun lalu, tepat diusiaku yang ke enambelas. Sulit untuk mendengarkan dengan fokus karena ayahku sambil memain-mainkan kapak. “Soal asal-usulnya tidak jelas, hanya saja hukuman pancung ini adalah metode hukuman mati yang murah dan praktis.”

Hukuman pancung.

Murah dan praktis. Rasanya menjijikkan, membayangkan darah-darah yang tersembur dari pembuluh nadi itu adalah hasil dari metode murah-dan-praktis tadi.

“Tergantung seberapa profesionalnya dirimu menghadapi setiap kepala. Karirmu akan tamat apabila selama hukuman pancung kau melakukan lebih dari satu tebasan pedang, dengan alasan tulang leher yang keras itu sulit dipotong. Tapi, pada latihan kali ini, kita coba dulu dengan sapi.”

Aku ingin muntah.

Agar privasi kerajaan dapat terjaga, maka keluargaku pun harus takluk pada peraturan kerajaan yang diberikan. Bahwa profesi seorang algojo kerajaan dipasrahkan kepada garis keturunanku hingga akhir zaman. Jujur saja, aku lebih memilih untuk tidak menikah dan mempunyai anak sama sekali.

“Tanpa masa lalu, tanpa masa depan”, itulah motto seorang algojo kerajaan, entah siapa yang membuatnya. Algojo hanya berpusat pada satu hal; memenggal. Selebihnya tidak.

Ayahku benar-benar tidak mau berinteraksi dengan pelayan-pelayan kerajaan. Ayahku hanya keluar apabila ada tugas membunuh saja. Setidaknya, aku lebih baik karena sejak kecil aku akrab dengan pelayan-pelayan dapur. Sampai tadi sebelum aku diperintah untuk memasuki ruangan penenangan diri, mereka masih saja menganggapku sebagai kawan mereka dan bahkan memperlakukanku seperti anak kecil.

Pelayan-pelayan dapur itu memberiku nama. Berbeda dengan ayahku yang hanya memanggilku dengan sebutan ‘Hei, kau’ atau ‘Nak’. Mereka memanggilku “Red”—merah—yang mengacu pada warna rambutku yang merah menyala. Entah mengapa, karena aku terlalu asyik melamun, lamunanku justru melayang jauh. Sampai, membuatku bernostalgia akan... hari itu.

“Panggilan kepada anak algojo.”

Semua mata pelayan-pelayan dapur yang awalnya memandang sumber suara, langsung menoleh kepada seorang anak kecil yang sedang meringkuk di sudut ruangan, sedang mengelapi piring satu per satu. Yang dipandangi dari berbagai sudut, aku, justru mengangkat kepala dengan polos.

“Eh— ya?”

Penasihat kerajaan mengayunkan tangannya. “Kemari, sini bersiap-siap,” kata beliau dengan nada tenang. “Perintah atas nama Raja dan Ratu, untuk membawamu menemani Tuan Putri Miclyra berkeliling kerajaan.”

“....—HAH?”

Yang bereaksi dengan mengucapkan seperti itu bukan hanya yang bersangkutan saja. Namun seluruh pelayan dapur yang ada di ruangan itu. Bahkan, beberapa orang sampai ternganga. Yang jelas, seluruh aktivitas di dapur tersebut seketika berhenti.


Itu adalah hari di mana aku bertemu dengan Miki, alias Tuan Putri Miclyra. Saat itu, Miki yang berusia tujuh tahun ingin jalan-jalan mengelilingi istana tanpa didampingi oleh orangtuanya. Raja dan Ratu membolehkan, hanya saja Miki harus didampingi dengan penasihat kerajaan dan seseorang yang sebaya dengannya. Seseorang yang sebaya dengannya itu, aku.

Awalnya, pertemuan pertama kami biasa. Namun di tengah-tengah mengelilingi istana itu, penasihat kerajaan dipanggil untuk suatu urusan. Meskipun terpaksa, akhirnya penasihat kerajaan menyuruhku untuk mengantarkan Miki ke dapur saja, supaya kami berdua tidak pergi ke mana-mana. Aku mengajari Miki cara mengelap piring, bercerita mengenai aku yang suka memberi makan ayam-ayam setiap pagi, dan bersantai di bangku panjang di bawah pohon ek yang keduanya ada di halaman belakang istana. Kupikir, saat itu Miki tampak sangat iri mendengarkan ceritaku. Mungkin itulah yang membuatnya selalu menemuiku di kandang ayam setiap pagi, dan menyusulku di pohon ek setiap dia ada waktu luang.

Raja, Ratu, dan pihak penasihat kerajaan, tidak mempermasalahkan itu pada mulanya.

Pada mulanya.

Hingga suatu hari, di usiaku yang genap dua belas tahun, aku dipanggil ke ruangan pribadi Miki, di mana di sana ada mereka bertiga selain dirinya. Aku sudah merasakan adanya firasat buruk saat itu.

Penasihat kerajaan itu berdiri di belakangku, memegang kedua bahuku dan memaksaku berhadapan seratus delapan puluh derajat dengan Miki. “Kamu mengabdi kepada kerajaan ini sebagai algojo, tanpa nama panggilan ‘Red’ atau apapun. Miki yang kau kenal selama lima tahun ini adalah seorang Tuan Putri Miclyra, dan hubunganmu kepadanya hanyalah antar algojo dan tuan putri saja. Tidak lebih dari itu.”

Aku benci ini. Kalau tidak ingat ada Raja dan Ratu berdiri berdampingan di belakang Miki, aku pasti sudah memberontak dan menarik tangan Miki pergi.

“Mulai saat ini, kalian tidak akan bertemu lagi.”

Miki tidak kuasa menahan pantulan mataku, akhirnya ia menunduk. Aku tidak menyerah, aku masih mencoba mencari-cari pantulan pandangannya lagi, tetapi Miki sudah tidak memberiku kesempatan untuk menemukannya.

Saat itu, barulah aku memahami arti ‘tanpa masa lalu, tanpa masa depan’ seorang algojo.

Aku menggeritkan gigiku. Itu semua, kejadian tragis itu, semuanya terjadi hanya karena aku algojo, kan?

Pintu ruangan terbuka. Penasihat kerajaan menyembulkan kepalanya—ayahku.

“Hei, sudah waktunya,” perintah ayahku.

Aku tidak percaya bahwa kakiku gemetaran ketika aku mencoba untuk berdiri. Aku mengikuti ayahku, melintasi lorong demi lorong, sampai akhirnya membuka pintu yang membawaku ke sebuah tanah lapang yang menyilaukan. Namun, aku tidak bisa menyipitkan mata. Badanku kaku, aku masih bergeming di tempatku berdiri.

“Sana,” ayahku sedikit mendorongku, membuatku akhirnya bisa mengambil langkah. Puluhan meter di hadapanku, rakyat-rakyat memandang tanpa berkedip. Menyaksikan aku yang perlahan tapi pasti, mendekati seseorang yang memakai penutup mata, duduk dengan lutut menumpu tanah, kedua tangannya diikat. Aku menahan kuat-kuat air mata yang nyaris keluar.

Ini tidak adil. Algojo dilarang berhubungan dengan orang lain, itu tidak adil. Tidak mempunyai nama. Tidak mempunyai kenangan. Tidak mempunyai impian. Tidak adil.

Aku mengayun-ayunkan pedangku, merasakan bobot pedang melengkung yang ada di tanganku. Mendekati seseorang dengan rambut pirang yang menjuntai seperti air terjun itu. Rambut itu, aku masih ingat ketika kecil aku suka sekali mengaguminya, aku suka memainkannya. Rambut yang lurus indah itu.

“Hei—”

“Lakukan! Lakukan!”

Terdengar teriakan-teriakan rakyat yang menandak-nandak tak sabaran.

Ayahku mengatakan tanpa basa-basi, ketika beliau memasuki ruangan algojo di mana aku sedang duduk di sana, bertanya-tanya sendiri mengapa pihak kerajaan memanggil ayah secara khusus. “Yang meracuni penasihat kerajaan adalah Tuan Putri Miclyra.”

Aku mengangkat kepala cepat. Aku tidak bisa menemukan kata-kata yang tepat untuk bereaksi selain, “...—hah?”

“Kamu akan melakukannya tiga hari lagi,” sambung ayahku, sudah menambahkan keterkejutan baru bahkan sebelum rasa terkejutku ini menghilang. “Kamu yang akan memancungnya.”


“LAKUKAN!”

Rasanya perutku mual. Jika aku latihan, apabila aku latihan dengan menggunakan sapi atau kambing, tidak ada penonton yang seriuh ini. Tidak ada orang-orang yang berteriak, yang menyuruhku segera melakukannya. Aku mulai mengangkat pedangku, sejajar dengan lehernya.

Tidak mempunyai masa lalu, tidak mempunyai masa depan. Seharusnya, itulah motto seorang algojo. Tetapi jika kerajaan dengan bengisnya memaksaku untuk menebas kepalanya, maka aku juga akan bertingkah egois untuk saat ini.

“—Miki.”

Aku melihat tawa kecil terakhir yang ia buat sesaat sebelum aku memisahkan kepala dari badannya dengan satu kali tebas.

TAMAT

***

Berasa kayak ringkasan novelku, lol. Agak beda, sih. Jadi kalau di novelku itu, yang dipancung bukan Mikinya, tapi saudara kembar Miki yang minta tukeran karena dia kasihan sama Miki, soalnya Miki ngebunuh si penasihat kerajaan itu pakai alasan tertentu yang sangat khusus(?). Tapi kalau aku bahas... halamannya kelebihan XD Udah itu aja.

Ngomong-ngomong, tau lagu serial "Story of Evil" nggak? Aku ambil plot utamanya dari situ :3

Sincerely,
Rasya Swarnasta

#PakPolisiBlog

You Might Also Like

0 comment(s)