PPB 17.0 : Bangau Kertas. //Cerpen

Sabtu, Juli 04, 2015

Di postingan blog yang ini, aku pernah bilang kalau aku mau ngasih cerpenku yang masuk kontributor lomba menulis "Jika aku menjadi AKU" ke blog ini. Sekarang kurealisasikan, ya.

***

BANGAU KERTAS

Jika kamu dapat membuat seribu bangau kertas, maka keinginanmu akan terwujud. Itu menurut legenda Jepang yang kupercaya. Karena itu lah, aktivitasku selama bel belum berbunyi, istirahat, dan pulang sekolah, adalah membuat bangau kertas. Aku berniat membuatnya. Hanya membuatnya saja. Karena aku belum mempunyai permohonan apapun.

Aku tidak mempunyai satu teman pun di sekolah. Lagipula, ini karena latar belakangku juga, sih. Karena aku menjadi satu-satunya yang dapat menjadi siswa sekolah elit ini karena faktor beasiswa. Kerap kali aku membuka buku catatanku, dan materi yang sudah kucatat rapi dirobek. Padahal kalau mereka-mereka berkata bahwa ingin meminjam bukuku, pasti akan kupinjamkan.

Mereka-mereka, siapa lagi kalau bukan Khansa dan gengnya. Khansa adalah anak dari pemilik sekolah ini, jadi wajar saja apabila tingkahnya semena-mena, dan aku tidak punya nyali untuk mengadukannya. Apa aku pernah membuat salah dengan mereka? Rasa-rasanya mereka sudah membenciku sejak hari pertama aku datang sebagai murid baru.

Aku keluar dari kelas begitu matahari sudah hampir terbenam. Mungkin sudah cukup untuk hari ini. Aku menenteng tas berisi bangau-bangau kertasku yang jumlahnya sangat banyak. Tadi di kelas aku menghitung, dan sudah lebih dari sembilan ratus. Aku hanya perlu satu hari lagi untuk menyelesaikannya.

Menuju ke pintu gerbang sekolah membuatku harus melewati lapangan basket terlebih dahulu. Tepat pada saat aku memfokuskan pandangan sebentar untuk melihat keadaan di sana, sebuah bola basket yang ditembakkan dari luar garis tiga poin masuk ke dalam ring dengan mulus.

Siapa lagi kalau bukan Kevin. Satu angkatan denganku, kelas sepuluh, tetapi kemampuan basketnya sudah sejajar dengan pemain-pemain ternama, itu kalau menurutku. Aku saja dibuat terpukau oleh aksinya barusan, yang mendapat tepuk tangan riuh dari pemain lain serta pelatihnya.

Sampai kudengar suara memanggil namaku. “Karen! Sini, dong,” kata suara itu dimanis-maniskan. Aku memalingkan kepala refleks ke sumber suara dan membeku.

“Kok diam saja? Sini,” Khansa melanjutkan lagi dengan suara dimanis-maniskan. Dua orang lain yang selalu bersama dengannya seperti anak ayam mengekor induknya, berdiri di belakang Khansa. “Hei, bahkan kamu tidak membalas sapaan dari temanmu yang rela menunggu sesore ini?”

Aku mencoba untuk terlihat kuat. Aku membenarkan letak kacamataku, meskipun sebenarnya sia-sia saja. Lagipula, Khansa juga tahu alasan aku memakai kacamata yang sebenarnya sama sekali tidak minus ini. Ya, aku hanya ingin terlihat kuat. Kacamata ini bagaikan pelindungku. Menyembunyikan kenyataan bahwa sebenarnya aku adalah yang terburuk.

“Kenapa?” tanyaku, berusaha agar terdengar dingin. Namun percuma saja, karena yang terdengar hanyalah suara yang gemetar dan mencoba bertahan.

Salah seorang temannya mendekat ke arahku dan menarik tanganku. “Sudahlah, ikut saja.”

Aku dibawa mereka ke samping sekolah, lorong kecil yang jarang dilewati orang. Begitu tahu aku sedang lengah karena otakku sedang berupaya memikirkan berbagai cara agar bisa kabur, Khansa merebut tas yang sedang kutenteng di tangan kiriku.

“Wah, apaan, nih?” Khansa terkekeh begitu melihat isinya. “Burung kertas, eh? Ternyata beginilah aktivitas orang yang tidak punya kerjaan, ya.”

Tanpa perasaan, Khansa membalikkan posisi tas tersebut, dan otomatis membuat tas itu menumpahkan segala isinya. Aku hanya membelalakkan mata tak percaya, melihat ratusan bangau kertas yang sudah berbulan-bulan kubuat hancur begitu mudah di tangannya. Aku tidak bisa berbuat apa-apa karena salah seorang komplotannya itu masih memegangi tanganku.

“Ngomong-ngomong, tadi di lapangan basket memperhatikan siapa?” Khansa sempat-sempatnya mengajakku bicara, selagi bangau kertas di tasku berhamburan keluar. “Awas saja kalau kamu sampai bisa bermimpi untuk bersamanya,” katanya dengan nada memperingatkan.

Saat itulah aku baru tersadar. Oh, iya. Kenapa aku melewatkannya, ya? Kenyataan apabila Khansa menyukai Kevin. Tapi sebenarnya, yang menyukai Kevin itu banyak, kan? Kenapa yang dia serang hanya aku seorang? Padahal, aku jelas tidak mempunyai harapan.

“Sudahlah, ini membosankan. Ayo, pulang,” puas, Khansa akhirnya mengajak kedua temannya untuk segera melarikan diri. Dia melambaikan tangan ke arahku dengan sinis, kemudian menghilang ditelan tikungan.

Aku menghela napas. Biarlah. Aku memunguti bangau kertasku itu satu persatu, kemudian memasukkannya ke dalam tas. Tinggal satu hari lagi, aku bisa membuat permohonan. Tapi, permohonan apa, ya?

Jika Khansa dan gengnya itu berniat mengacau lagi, mungkin aku bisa lebih tegar. Lagipula, anggap saja bahwa Khansa sedang melatihku agar aku bisa menjadi lebih kuat. Meskipun dia menyuruh anak satu angkatan untuk menjauhiku, aku tidak boleh menyerah pada kehidupan begitu saja, kan?

Meskipun jika aku menyerah pada kehidupan pun, tidak akan ada yang menyadarinya.

Kevin, apalagi.

Kertas lipat di tasku sudah tidak bersisa, sementara aku sedang panik sendirian di dalam kelas. Aku menghitung burung bangau di tasku dan hanya berjumlah sembilan ratus sembilan puluh sembilan. Apakah tercecer saat kemarin itu? Aku tidak mempunyai kertas apapun yang tersisa.

Itu artinya aku harus pulang ke rumah dan membeli kertas lipat lagi.

Dengan tampang lemas karena harus menunda hari, akhirnya aku beranjak pulang.

Seperti biasa, Khansa dan dua temannya mencegahku. “Karen, ke sini, dong.”

Aku menelan ludah, dan terus berjalan, tidak memperhatikannya. Aku harus kuat, aku harus kuat.

“Hoi, ke sini, dong!” kesal karena tidak dianggap, Khansa menarik tanganku kesal.

Aku sekuat tenaga menahannya, tetapi Khansa lebih kuat. Akhirnya aku nyaris pasrah dan membiarkan dia menggeretku ke lorong sepi yang biasanya. Benar-benar tidak ada perkembangan.

Tiba-tiba satu suara menghentikan tindakan Khansa.

“Apa yang kalian lakukan?”

Khansa menoleh, dan dia mematung. Tangannya yang mencengkeramku langsung terlepas begitu saja. “Oh, tidak apa-apa, Kevin.”

Kevin mengerutkan keningnya. “Sungguh?”

“I-iya,” Khansa mengangguk cepat. “Su-sudah ya.”

Khansa dan dua temannya langsung lari terbirit-birit. Aku hanya bisa terdiam. Untuk pertama kalinya, aku terselamatkan. Aku hanya menoleh ke arah Kevin yang masih berada di dekatku.

Kevin berdehem, canggung. “Eng, sebenarnya kemarin aku menemukan ini. Ini punyamu, kan?” ia mengeluarkan sesuatu dari sakunya, yang membuatku terpaku.

Bangau kertas. Bangau kertasku yang keseribu.

Aku masih tidak bisa mengatakan apa-apa.

Kevin menoleh kepadaku. “Kamu tidak apa-apa?”

Mukaku merah padam, dan aku hanya menganggukan kepala. Meskipun setiap sel darahku rasanya sedang memproduksi serum tak dikenal, tetapi aku bisa membuat kesimpulan baru. Selain kesimpulan bahwa mulai detik ini, aku tidak akan peduli lagi apa yang akan dilakukan Khansa dan gengnya.

Ah. Inilah bangau kertasku yang ke seribu.

Yang datang dan sekaligus mengabulkan permohonanku sebenarnya.

***

Sudah :') Ngomong-ngomong, besok jam 1 siang, di Masjid Kampus UGM, adalah acara puncaknya Ramadhan di Sekolah! Tabligh Akbar dan Wisuda Alquran! Ditunggu kehadiranmu di sana, ya! 

Sincerely,
Rasya Swarnasta

#PakPolisiBlog

You Might Also Like

0 comment(s)