PPB 16.0 : Ketika PPDB Hari Ketiga

Jumat, Juli 03, 2015

cerita salah satu dari mereka.

—Ah, anak itu datang lagi.

Kebanyakan, itulah kalimat yang aku batinkan selama aku berjaga di ujung koridor. Beberapa anak yang kulihat pada hari itu adalah anak-anak yang datang kemarin. 

Melihat orangtua yang datang dengan anak mereka, dengan ekspresi yang sangat beragam. Sebenarnya, saat itu aku bisa memilih untuk menjaga lobi dan memantau seleksi online. Hanya saja karena aku memang ingin melihat bagaimana suasana yang tersebar di koridor itu, aku memilih untuk berjaga di tempatku berdiri kemarin.

Ada satu anak yang menarik perhatianku

Dia datang dengan ayahnya, memakai seragam SMP hanya saja ditimpa dengan sweater coklat tua. Ini sudah PPDB hari ketiga, dan meskipun ekspresi semua anak berbeda, mereka kebanyakan memasang wajah terburu-buru. Sementara anak itu bahkan berjalan lebih pelan dibandingkan dengan ayahnya. 

Sejak kakinya memasuki lobi dan berjalan menuju koridor di mana aku menyambutnya, dan dia berjalan sangat lambat. Kepalanya menoleh ke kanan-kiri, menikmati setiap langkah yang dia ambil, mengamati setiap inci pemandangan yang dia lalui. Bahkan dia membaca dengan saksama daftar prestasi SMA N 6 yang terpampang sebelum memasuki koridor, seolah-olah itu akan diujikan ketika dia mengambil formulir pendaftaran nanti.

Masih belum memasuki koridor, dia mengamati banner yang tertempel di dinding SMA 6. Banner itu menyertakan foto-foto siswa anak SMA 6 dengan seragam yang berbeda-beda, dan ditambahkan keterangan di atasnya. Seragam hari Senin-Kamis, seragam upacara dengan almamater, seragam batik hari Jum'at, seragam pramuka hari Sabtu, seragam Olahraga, bermacam-macam. 

Terus terang, aku tidak begitu tertarik dengan banner itu ketika aku melihatnya sekilas pada saat daftar ulang, setahun lalu. Karena kupikir, suka atau tidak dengan seragamnya, aku akan memakainya juga. Aku tidak terpikir bahwa pandangan matanya saat mengamati tiap gambar benar-benar berbinar. Ini seragam yang akan kupakai, bisa kubaca ekspresinya ketika mengamati banner tersebut.

Aku mempunyai teman sekelas yang ingin memasuki SMA 6 ketika SMP dulu, jadi mungkin ekspresinya seperti itu. Aku melihat dengan jelas semangat yang terpancar di sorot matanya saat membalas anggukanku dengan senyuman yang sangat ramah. Dia tetap melangkah dengan perlahan, mengagumi setiap tanaman yang berjejer dan nama tanaman itu yang disertai nama latinnya—yang aku tidak tahu benar atau tidak

Sekolahku, sekolahku, sekolahku. Dia menggumamkan sesuatu yang tidak jelas karena mulutnya selalu komat-kamit, tetapi aku tahu pasti bahwa ia menggumamkan sebuah kata yang selalu terulang. Aku tidak mau mengakui ini, tetapi laki-laki yang mengisi formulir pendaftaran dan menjaga kertasnya dengan hati-hati agar tidak tertekuk itu—perasaan "ingin menjadi siswa SMA 6"-nya lebih kuat dibandingkan aku.

Dia masih mengitari taman yang ada di samping aula, ketika pengumuman itu datang, membuat langkahnya terhenti dan mulai mendengarkan. Aku melihat tangannya menggamit lengan ayahnya ketika mendengarkan info terbaru seleksi online PPDB.

"Pengumuman. Seleksi online PPDB untuk domisili luar kota, NEM terendah di SMA Negeri 6 Yogyakarta adalah 37,2—"

Dia masih tenang. Aku tidak mau mengakui ini, tapi bahkan NEM terendahnya lebih tinggi dibandingkan NEMku. Sepertinya inilah yang dimaksud dengan diskriminasi domisili. Lalu, sama seperti anak itu, aku juga tidak mau menerima kenyataan bahwa kalimat itu belum berakhir.

"—Namun karena kuota domisili luar kota SMA Negeri 6 Yogyakarta hanya 77 orang, maka NEM terendah peserta yang masih masuk adalah 37,5—"

Anak itu melepaskan gamitan tangannya dari lengan ayahnya. Raut muka anak itu berubah, dan aku langsung tahu—siapapun yang mengamati pasti akan langsung tahu—bahwa dia tidak termasuk bagian dari 77 orang yang berhasil masuk itu. Dia jelas terlihat sangat sakit hati, sementara sang ayah hanya bisa menepuk bahunya dengan ekspresi bahwa beliau tidak bisa membantu apa-apa. 

Ayahnya mengambil langkah awal dengan menelpon ibunya. Selagi ayah itu bercakap-cakap dan menjelaskan apa yang terjadi, perubahan dalam sikap anak itu kentara sekali. Dia yang sebelumnya mengedarkan pandangan dan mengamati dengan antusias, mulai menundukkan pandangannya dan justru bingung akan mengarahkan matanya untuk melihat apa. Seolah-olah yang ada di sekelilingnya adalah pemandangan yang tidak enak dilihat.

Beberapa detik kemudian, ayahnya memberikan ponsel kepada anak itu, menyuruhnya untuk berbicara kepada si ibu. Dia menarik napas dalam-dalam untuk menguatkan diri, sebelum menyambut ponsel itu dengan senyuman di wajah. Kurasakan dia mengucapkan, "Maaf" hingga berkali-kali, mulai dari awal dia berbicara hingga sebelum menutup teleponnya. Terlempar dari suatu sekolah seperti ini bukanlah salah siapapun, dan ayahnya mencoba menyadarkan dia tentang hal itu dengan mengatakan beberapa kalimat yang membuat dia mengangguk-anggukan kepala.

Giliran ayahnya yang menggandengnya, mengajak anak itu untuk kembali melihat-lihat lingkungan SMA 6. Dia menurut saja, dan pandangan dia saat kembali melihat-lihat setiap inci pemandangan lebih dewasa dibandingkan sebelumnya. Apabila jika dia memandang semuanya dengan tatapan seolah-olah menatap masa depan gemilang di depan sana, kini tatapannya mulai berubah. Ada sorot kesedihan seolah-olah sedang mengenang kisah di masa lalu yang kelam.

Ketika melangkah keluar dari koridor dan melewatiku—aku sejak tadi mengikutinya dan buru-buru kembali ke posku ketika sadar dia akan tergerak pulang—aku mengangguk dengan ekspresi berpikir cepat apakah harus tersenyum atau tidak—itulah ekspresi yang selalu kupasang ketika menganggukan kepala kepada setiap anak dan orangtua yang hendak keluar dari koridor karena aku tidak tahu mereka membawa harapan baik ataukah kenyataan pahit. 

Meskipun aku tahu bahwa yang dibawa anak ini membawa yang kedua―kenyataan pahit―, tetapi aku tetap saja tidak tahu harus bersikap apa. Tersenyum, atau tidak? Aku kenal karakter orang yang sangat tersinggung saat melihat orang tersenyum kepadanya di saat dia sedang mendapat kabar yang buruk dan menganggap senyuman untuk menghibur sama sekali tidak membantu. Aku tidak ingin meninggalkan kesan yang menyakiti hati di akhir langkahnya ini.

Tetapi, dia tersenyum dan balas mengangguk, persis dengan yang ia lakukan ketika membalasku sebelum dia memasuki koridor tadi. Aku terlalu terkejut melihat itu, menyadari bahwa sama sekali tidak ada kebohongan di matanya—atau aku yang tidak cukup jeli mengamati sorot mata anak ini. Ternyata dia memang tidak sepenuhnya tersenyum kepadaku, karena dia kemudian menghela napas panjang saat melihat poster daftar prestasi SMA 6 dan banner berisi jenis seragam.

Dia melewati poster daftar prestasi tanpa tergerak sedikitpun untuk melihatnya. Kupikir dia juga akan melakukan itu pada banner yang tertempel dan menyambut untuk ia baca. Tetapi dia justru berhenti melangkah, dan menatap setiap foto seragam di banner tersebut. Ekspresi yang ia munculkan benar-benar ekspresi yang membuat siapapun tidak akan tega. 

Dia mengamati seragam hari Senin-Kamis, seragam putih abu-abu, seragam yang umum untuk SMA karena hampir semua SMA menyediakan seragam putih abu-abu seperti itu untuk semua muridnya. Namun dari tatapannya, aku tahu bahwa menurutnya meskipun itu hanyalah seragam putih abu-abu yang nyaris sama, tetapi ada perbedaan di antara itu.
"Warna seragam tiap SMA yang terlihat sama, bukan berarti benar-benar sama."
―Rasya, pelajar normal, (semoga selalu) sadar apa yang ia tulis dan katakan.
Kalimat yang dia gumamkan ketika melihat banner itu tidak ia ulangi lagi. Ini seragam yang tidak akan bisa kupakai, mungkin itulah yang ia gumamkan. Tatapan dan kalimat gumamannya seratus delapan puluh derajat berbeda dengan tatapan penuh harapan saat sebelum memasuki koridor tadi. Hal ini membuatku menarik teori bahwa koridor yang sedang kujaga ini bisa melakukan dua hal ekstrim yang sangat mempengaruhi mental dan masa depan seseorang; mewujudkan mimpi atau menghancurkannya.

Dia dua kali lebih lama mengamati banner itu, sebelum kemudian menarik tangan ayahnya. Mereka berjalan menuju tempat parkir dan pergi. Kebayakan peserta menjadikan SMA 6 sebagai pilihan kedua atau ketiga, dan sepertinya dia termasuk sedikit orang yang mengisi SMA 6 di pilihan pertamanya—bahkan aku tidak

Aku mengamati sambil berpikir bahwa dia bukan orang pertama yang merasakan perasaan dikecewakan oleh kenyataan seperti itu, dan juga bukan yang terakhir. Dan ini hanyalah cerita tentang dia; tentang salah satu dari mereka.
Coba saja semangati orang-orang seperti mereka dengan berkata, "You can't make your dreams come true, if you don't believe in them"—maka siap-siap saja apabila mereka membuangmu ke laut.
 

Sincerely,
Rasya Swarnasta

#PakPolisiBlog

You Might Also Like

0 comment(s)