kaca

Tebak aku lagi di mana?

Senin, Juli 20, 2015

Hai. Coba tebak apa yang lagi aku lakukan(?)

Oke. Aku lagi ngetik.. pake laptopnya Satriyo. Sekarang, Satriyo sama Yeta lagi ngeprint hasil laporan utama, pakar, profil, sama komentar yang jadi bahan tema rubrik Kaca. Aku ditinggal :’( Untungnya aku bisa internetan dan buka blogku, pake WiFi portable nya Mas Agung :’))

Sebenernya, aku pengen nulis itu aja, sih. Secara kesannya nggak baik kalau aku lalu nggak nulis blog lagi semenjak PakPolisiBlog udah lewat. Sebenernya aku nggak ada niat kayak gitu sama sekali, tapi aku emang nggak tau mau nulis apa. Hari-hariku juga biasa aja—tau, kan, liburan itu justru ngebosenin dan nggak ada cerita.

Aku lagi di sekre Kaca sendirian, nih. Hari ini emang janjian sama Satriyo sama Yeta buat kumpul di sekre Kaca jam dua belas. Tadi aku dateng pertama, jadi aku yang minta kunci XD Kuncinya banyak banget betewe._. Kalo Satriyo kemarin langsung bisa sekali kunci (kemarin kita juga ke sini) tapi aku harus nyoba beberapa kali dan aku nemu; kunci yang ada angka tiga nya :”))

Tadi diskusi bareng-bareng buat laput, profil, pakar, sama komentar. Sama main UNO juga:| Koplak, sih, waktu Yeta buat laput, aku sama Satriyo masih main UNO. Sama-sama megang dua kloter gitu, jadi walaupun hanya dua orang, tapi ada empat giliran(?) =))

Oke, kayaknya cukup deh. Aku juga pengennya nulis blog ini biar pada cukup tau aja kalau aku nulis blog pake barang-barang pinjeman ;3

17:52
@SekreKaca

Btw, ini random banget sih. Secara aku harus cepet-cepet memosisikan laptop ini seolah-olah nggak ada yang terjadi juga. Laptopnya Satriyo baterainya tinggal tiga belas persen, nih :") Tab nya Mas Agung juga ada dua SMS .__. Btw lagi, aku nggak buka-buka isi tabnya Mas Agung, kok. Aku tau kalo ada dua SMS soalnya.... ya, masa nggak peka sih kalo ada notif 2 new messages di lock screen :| *dia butuh saksi*

Okeee baterenya Satriyo tinggal sebelas perseeen. Udah yaa~ /kabur

award

PPB 29.0 : Rubrik Kaca Hari Ini ♥

Kamis, Juli 16, 2015


Hari ini puasa terakhir! Apakah ini bulan Ramadhan yang lebih baik dari tahun lalu?

Dua kalimat di atas itu bukan topik yang mau aku bawakan. Cuma biar jadi info aja kalau ini #PakPolisiBlog terakhir :') Lalu kalau jawabanku...

Aku nggak bisa bilang kalau tahun ini lebih baik, sih, cuma jadi "beda" karena kalau tahun lalu, aku kena kegiatan 100 Susu Gratis. Dan sekarang, aku ikut Ramadhan di Sekolah. Banyak juga sih, susah-sedihnya, gimana pas pertamakali rapat di masjid Syuhada, lalu pertemuan sama para media-sosial dan jurnalistik, lalu aku sama Salmon ngeliput buat pertama kali :') Nah, kalian gimana?

Lalu, gambar di atas juga bukan topik yang mau aku bawakan. Yang minta maaf itu yang pihak cowok, yang lalu ninggalin si cewek :') Notabene aja, sih, kalau ceweknya itu nyebelin, dan karakter ceweknya ini jadi pihak yang ngeganggu hubungan cowok yang nolak dia itu yang jadi tokoh utama, sama cewek yang jadi tokoh utamanya juga. Sesuai postingan blogku sebelumnya tentang aku-lemah-sama-si-pihak-ketiga, aku baper di sini entah kenapa :")

Jadi, si cowok itu pengen ngejar cewek yang dia suka, yang emang mereka berdua tokoh utamanya. Tapi mendadak si cewek nyebelin yang jadi pengganggu itu teriak, "Kamu kenapa ngejar dia? Dia itu beda kehidupan sama kamu, beda level sama kamu (karena cowoknya kaya sementara yang cewek enggak). Dan kalian berdua itu nggak cocok—"

Eh, lalu cowoknya ngemotong pembicaraan si cewek nyebelin itu dengan bilang, "Apa kelihatan kayak gitu? Padahal, sejak 10 tahun terakhir ini, aku yang mati-matian ngejar dia."

Dan, plis, aku yang awalnya sebel banget sama ceweknya itu, langsung baper seketika pas ditinggal :')

Lalu... kenapa topik yang nggak mau aku bawakan itu udah buat postingan blog ini jadi panjang, ya? *plak*

Oke, kita mulai bahas topik yang mau aku bahas. Jadi, di hari Kamis tepat ketika hari terakhir Pak Polisi Blog ini, adalah hari di mana koran Kedaulatan Rakyat terbit dan nyediain rubrik khusus buat Kaca di sana.

Ada dua karyaku di sana :") Yang satu artikel, yang satu cerpen. Hehehehehehehehe *kurang banyak sya hehe-nya* Aku seneng banget TvT Eyangku langganan koran Kedaulatan Rakyat, jadi pagi-pagi loper koran udah ngasih korannya. Seneng banget pas liat Kaca ada dua namaku di situ.. hehehehe *udah*

Artikelnya itu diedit sama Mas Agung jadi semi-opini. Lalu, kalau cerpenku, judulnya "Tik; Lima Menit Lagi", tentang anak yang menunggu waku buka puasa. 

itu semi-opininya. di klik untuk memperbesar :3

Kalau cerpenku... motretnya nggak kebaca terus nih :"D Pengen ngasih mentahannya aja di sini yang ketikan aja, tapi udah kepanjangan postingannya. Kalau kalian mau baca, beli Kedaulatan Rakyat hari ini, ya! xD Aku masih seneng banget nih :') 

Oke, Pak Polisi Blog udah berakhir. Ada dua-tiga postingan yang pas aku ngeposting ternyata udah ganti hari sih xD Oke, aku nggak boleh ngeles, aku harus tetep bayar 6000 TvT Kan, katanya Pak Polisi Blog itu ada hadiahnya. Aku nggak mikirin hadiahnya sama sekali, sih, dua karyaku dimuat di Kaca hari ini udah lebih dari sekadar hadiah :") Bener-bener penutup Pak Polisi Blog yang indah :") *dramatis kan*

AWARD FROM-ME-TO-ME
PADAKACARMA POSO-POSO NULISI BLOG
DONE!

Sincerely,
Rasya Swarnasta

#PakPolisiBlog

pak polisi blog

PPB 28.0 : apa yang kulakukan kalau tidak tahu mau nulis apa di blog.

Rabu, Juli 15, 2015

Yah, dengan kurang kerjaannya, aku buka Google Search. Dan aku nulis di situ,

"tips kalau tidak tahu mau nulis apa di blog"

Ujung-ujungnya malah tips kalau nggak tau mau buat artikel apa, atau gimana caranya biar artikel di blog disukai pembaca. Aku, kan, nggak mau bikin artikel, ya. Jadi aku anggap kalau itu nggak membantuku sama sekali.

Lalu, aku close tab, dan nggak ngapa-ngapain selain utak-atik hape. Pas aku lihat jam, ternyata udah jam 21.50, sementara kalau aku mau i'tikaf lagi besok yang notabene hari terakhir ramadhan tahun ini, aku harus tidur kurang dari jam sepuluh. Lalu, aku mikir, kalau postingan blog yang bakal dibaca itu adalah postingan yang khusus bahas satu topik aja. Labelku yang "random" dan "nggak berlabel" itu, nggak akan dilirik, deh. Akhirnya, aku mulai buka Google Search lagi,

"yang sedang beken minggu ini"

Eh, yang terpampang di paling atas justru postingan tentang harian seseorang, judulnya "Gagal Beken" yang dia posting tanggal 7 Oktober 2007. Itu kan, sama sekali nggak membantu. Akhirnya, aku berpikir kalau mungkin kata-kata 'beken' itu udah benar-benar ketinggalan jaman. Makanya, aku pakai kalimat yang lebih profesional,

"apa yang terjadi di dunia hari ini"

Dan postingan yang keluar itu seputar 10 Kejadian Mengerikan yang akan terjadi di Masa Depan, 5 Peristiwa Penting di Dunia, 7 Kejadian Aneh Tapi Nyata Terjadi di Dunia, dan lain-lain, sampai lalu mataku menangkap judul postingan dari vivanews yang sangat membuatku tercengang; "Benarkah Terjadi Tsunami Matahari Hari Ini?" dan begitu aku buka postingannya dengan deg-degan, eh, ternyata 'hari ini' yang dimaksud itu adalah 3 Agustus 2010._.

Jadi.. aku bener-bener bingung, kan. Bleepy sama sekali nggak membantuku T^T Akhirnya sebelum otakku bener-bener buntu, aku inget tips penting; walaupun kamu nggak tau mau nulis apa, tapi tulis aja! Jadi, aku meminta Google Search untuk menjawab pertanyaanku karena aku langsung mengetik,

"apa yang harus kulakukan hari ini"

Dan ngomong-ngomong, aku malah ketawa-_- Habisnya, aku baru ngetik 'apa yang harus kulakukan', langsung keluar previewnya, "apa yang harus kulakukan untuk melupakanmu" =)) atau ada juga "apa yang harus kulakukan untuk membuat kau mencintaiku" =)) kenapa ada juga orang yang ngetik baper kayak gitu :') Lalu, aku menjumpai postingan beraneka ragam.

Yang paling utama, sih, blog yang memang dikhususkan bagi orang-orang yang kehilangan jati dirinya, lol. Nama linknya temukandirimu.blogspot.com. Dari blog itu, aku jadi deg-degan karena "kebosanan" itu adalah salah satu penyebab kematian otak:") Ya aku nggak mau kan ya. Aku nggak tau mau nulis apa karena hari ini aku nggak pergi ke mana-mana kok:") 

Ngomong-ngomong, aku masih di rumah eyangku, masih mudik. Dan aku belum bilang ke kalian, ya, kalau jarak rumahku dan rumah eyangku itu cuma tiga kilo? .__. Makanya tadi siang aku sempet balik ke rumah=)) *itu namanya bukan mudik sya*

Ini juga kayaknya nggak penting, tapi sekarang tanggal 15 Juli. Dan tanggal 15 Juli itu tanggal rilisnya Gangnam Style... oke, nggak penting kayaknya._. Mungkin udah aja, ya. Sekian, ini hanya sepenggal kisahku dengan Google Search(?).

Sincerely,
Rasya Swarnasta

#PakPolisiBlog

dilema

PPB 27.0 : Bertepuk sebelah tangan(, sudah biasa~ /jadilagu)

Selasa, Juli 14, 2015

Ini... kok judulnya panjang banget ya-_- 

Aku cuma iseng aja, sih, nambahin yang di dalam kurung itu. Cuma jadi simbolis kalau postingan blog ini isinya bukan tentang hal-hal yang bikin baper. Hampir sama kayak postingan blogku tentang "Teman Kecil", yang bahas tentang apa itu teman kecil yang sering ada di anime atau drama, atau sinetron, atau yang jelas kisah fiksi. Aku mau bahas tentang konflik bertepuk sebelah tangan, yang... —yang jelas, ini wajib ada di cerita fiksi genre romansa yang pengen berbelit-belit :3

Buat pembukaan; walaupun ini cerita yang mainstream banget, kalau di cerita fiksi pasti gampang banget ya ditemuin, secara nggak bakal asik kalo cerita cinta langsung lancar jaya gitu aja—TAPI aku lemah di konflik yang kayak gini-_- 

Misalnya, ada cewek dan cowok. Pasti, ya, aku seneng aja gitu sama kebersamaan mereka. Tapi kalo misalnya mendadak ada cowok dateng dan dia ngincar yang cewek..... oke. Tergantung. Kalau cowok pendatangnya itu sukanya usil dan terang-terangan ngerusuh, aku bakal sebel banget. Tapi kalau dia dateng dengan niat yang nggak kalah tulusnya juga, gimana? *kenapa bikin baper sya*

Ambil konflik yang gampang aja, deh. Yang mainstrem. Cowok-cewek tadi, cowoknya dari golongan orang kaya dan ceweknya dari golongan orang miskin, tapi modal beasiswa. (mainstream banget ini HAHA.) Lalu, cowok pendatang yang jadi murid baru ini nggak kalah miskinnya juga. Dan, rasa suka nya si cowok pendatang ke yang cewek itu sedih dan pedih gitu, lho, karena cowoknya tau dia nggak bisa ngebahagiain dsb dsb.

Misalnya, adegan ngajak pulang bareng.

Si cowok pendatang ngampirin yang cewek: Kita pulang bareng, yuk.
Si cewek: Oke :)

Kemudian so suddenly, yang cowok si kaya dateng dengan mobil mentereng yang super ngejreng.

Si cowok kaya: Hei, aku bawa mobil. Aku anter kamu sampai rumah, yuk.
Si cewek: (YHA JELAS MAU LAH)

NAH. Kan... kan... kan nyebelin tuh-__- Nah, walaupun itu adegan yang sering terjadi, di sinetron Indonesia lah, di manga Jepang lah, di drama Korea lah, pasti aku lemah sama kejadian kayak gitu-_- Kalau misalnya ceritanya bener, lho, ya. Aku nggak suka ngekritik, sih, tapi seandainya komik "Hai, Miiko" si karakter Yoshida nggak dibuat dengan meksonya akrab sama Mari-chan dan lalu akrab lagi sama si murid pindahan yang baru itu, aku bakal lebih dukung Yoshida sama Miiko :"D (pernah kuungkit itu di sini)

Ujung-ujungnya, emang sih cowok pendatang itu nggak dapet yang cewek. Dan biasanya, malah aku yang dilema karena aku menaruh-rasa-simpati ke cowok pendatangnya itu, tapi aku juga suka si cewek sama si cowok yang emang udah jadi pasangan TvT Oke. Cerita dengan ngasih perasaan emosional ke cerita kita itu malah bikin orang yang baca nggak ngerti,_.

Misalnya. Naruto, Sakura, sama Sasuke.

Aku suka Sakura sama Sasuke (secara Naruto udah punya Hinata), tapi setiap kali liat pandangan matanya Naruto kalau natep Sakura yang ngeliatin dan mikirin Sasuke tuh, entah kenapa aku baper :"D Apalagi waktu salah satu temen Naruto pernah tanya ke dia, "Naruto, kamu suka sama Sakura? Kenapa nggak kamu nyatain perasaanmu aja?"

Dan Naruto itu pandangan matanya langsung semacam kayak menerawang dan kayak nginget cerita kelam di masa lalu gitu lho :') Apalagi habis itu Naruto lalu bilang: "Mana bisa gitu. Aku laki-laki yang bahkan belum bisa menepati janjinya."

Janji yang dimaksud itu janji ngebawa Sasuke pulang TvT Oke, aku baper di komik bagian itu TvT

Habis itu, Hermione, Harry, sama Ginny. Sama Ron, sedikit.

Jadi, Hermione kan semacam sahabat yang overprotektif sama Harry. Menurutku, pas Ron nggak ngerestui Harry sama Ginny, sebenernya dari awal Hermione juga nggak suka. Tapi Hermione nggak bilang karena... yah, dia siapanya sih, kalo misalnya dia bilang Harry sama Ginny nggak pantes bersama? :') Makanya Hermione diem aja pas Ron bilang kalo Ron belum ngasih persetujuan Harry sama Ginny jadian.

Lalu, suatu hari, Ron ngasih persetujuan. Tapi Ron minta Hermione yang ngasih tau.

"Ron bilang, kalau dia sudah setuju kau jalan dengan Ginny."

NAH. Pas Hermione bilang gitu ke Harry... plis aku bisa menangkap nada terluka dalam suaranya TvT *sya

Sebenernya aku ada lagi. Last Game, Isshuukan Friends, tapi susah jelasinnya karena kalian pasti nggak tau tokoh-tokohnya :"D Jadinya itu aja, ya, Naruto sama Harry Potter. Gitu, deh. Makanya aku rewel banget kalau soal pairing. Jarang banget ada pairing yang sreg sama aku karena aku pasti lebih naruh simpati sama tokoh yang jadi pihak yang bertepuk sebelah tangan TvT

P/S:
Aku punya TAGBOARD! Coba deh, kalian klik "tag" yang ada di navigation. Itu ada chatbox. Kalian bisa ngisi di situ. Tekan enter satu kali aja, ya, habis itu refresh. Salah-salah, nanti malah spam XD 


Sincerely,
Rasya Swarnasta

#PakPolisiBlog

banyak cerita

PPB 26.0 : Hari Ini

Senin, Juli 13, 2015

Jadi, hari ini tanggal 13 Juli. Sebenernya, hari ini ulangtahunnya Mangga. Nggak kerasa, ya, aku harus buat post kayak ginian lagi. Aku belum bener-bener ngucapin selamat ulangtahun, sih, soalnya aku belum tau mau ngasih apa :)) 
"Mang, aku belum nyiapin kado, jadi hari ini aku pura-pura nggak tau, ya, kalau kamu ulangtahun."
―Ninda to Mangga.
Kita ngerayain ulangtahun Mangga dengan pergi ke JCM, Jogja City Mall! Janjiannya jam sepuluh dan aku baru dateng jam setengah dua belas. Oke, aku emang telat, tapi seenggaknya, lebih mendingan telat daripada nggak dateng, iya, kan? Sedih banget kalau misalnya udah dihubungin sampai delapan belas kali, rela pulsa habis empat ribu, eh, tapi ternyata yang dihubungi malah nggak bisa dihubungi. @bye aja, kan, ya? :')

Awalnya, aku sama Mangga ke Gramedia. Di Gramedia, Mangga beli komik Predator, sementara aku beli Kungfu Boy. Kalau dibandingin, dua komik itu genrenya beda banget betewe XD Oke, setelah di Gramedia itu, aku sama Mangga pergi ke taman bermain yang kayak TimeZone tapi pakai koin owo Di sana, kita melakukan hal yang nggak jelas yaitu...

....buat foto. Foto yang bisa diedit, dicoret-coret dan ditambahin stiker-stiker lucu XD Hasilnya unyu banget :3 Sayangnya karena ini aku lagi di rumahnya eyangku, fotonya belum sempet aku scan lalu belum bisa aku masukin sini. Mungkin secepatnya. Habis itu, aku dan Mangga nyoba tembak-tembakan, tapi game over-_- Lalu aku main tangkap boneka, dan nggak dapet :") Lalu aku sama Mangga masukin bola ke dalem kotak, itu dapet lima tiket. Nggak tau tiketnya mau diapain―itu cuma dapet permen=)))

Lalu Mangga pulang, sementara aku ada rapat ArtDay dari jam dua sampai jam setengah lima-an. Pas rapat bubar, aku, Rama, Varrel, Teo, sama Susan mengadakan "rapat setelah rapat"(?) cuma bahas soal usaha dananya dan kapan Varrel mau ngasih proposal. Nentuin tanggalnya lama banget lol-_- Habis itu jam lima-an aku baru shalat Ashar.__. Sedih, nih. Lalu aku dijemput.

Sampai rumah eyangku, aku makan dulu, lalu tarawih di masjid deket rumah eyangku. Sampai rumah, lalu membiarkan adekku yang pake komputer, dan baru aku diberi kebebasan sampai sepanjang malam(?).

.

.

Kok singkat, ya-_- Emang itu yang terjadi hari ini, sih. 

Oh, aku ada rekomendasi video yang keren banget! Aku dapet dari akun Line@, Laugh Love Life kalau nggak salah. Aku ada link videonya.


Tentang beberapa anak laki-laki yang usianya nggak lebih dari sebelas tahun. Mereka ditanya nama, umur, cita-cita dan alasannya. Lalu ada seorang cewek yang aduhai cantik lol, namanya Martina. Setelah mereka disuruh berpendapat soal Martina, lalu menunjukkan sikap peduli yang sumpah mereka walaupun anak-anak tapi so sweet sekali=)) Lalu nunjukin wajah lucu juga.

Tapi, lalu, mereka disuruh nampar Martina :""") 

Ah, bagus banget pokoknya! Karena ini anak-anak Prancis, jadi.. magnifique QwQ


Sincerely,
Rasya Swarnasta

#PakPolisiBlog

banyak cerita

PPB 25.0 : Duo Bukber! dan lain-lain

Minggu, Juli 12, 2015

Aku mau cerita, nih, tentang dua bukber yang belum sempet aku ceritain di blogku. Bukber Angkatan SMA 6, sama Bukber Kaca! Sayangnya aku nulis postingan ini di komputer rumah eyangku, jadi nggak ada dokumentasinya. Ada, sih, foto-fotonya di hape, cuma hapeku di atas meja sana sementara tanganku sudah pewe dengan terus mengetik di sini :"D

Yang pertama, Babe Guyur! Singkatannya silakan tebak-tebak sendiri =)) yang di sini lupa soalnya.

Aku sempet nyasar pas ke lokasi buka bersama ini, hiks. Untungnya setelah tanya-tanya penduduk setempat atau orang yang berlalu lalang, bisa juga ketemu. Dari kelas Pasutri yang cewek, adanya aku, Susan, Intan, sama Rani. Begitu masuk, aku bayar dulu iurannya ke Fariz, lalu Ocha dengan kemampuan MC nya sudah memulai acara. Kuis gitu, deh, kayaknya.

Prosesi(?)nya koplak banget XD Doorprize yang dibagiin ada yang isinya Alquran juga=)) Aku sampai sini udah sekitar jam lima lebih, jadinya baru duduk dan nyimak beberapa menit, eh, udah buka. Akhirnya buka puasa, deh. Minum, lalu shalat Magrib, lalu makan-makan. Habis itu ada semacam diskusi seputar ArtDay, event SMA 6 yang jadi tanggungjawab angkatan kita :") Habis itu foto-foto dan pulang :")

Lalu yang kedua ada Padakacarma Aja Bubar! Jujur, pertamakali aku baca di poster online nya, aku kira bacanya "Padakacarma Bubar Aja", jadinya aku kaget =)) Salah ngurutin katanya, salah arti=)) Secara aku itu Kaca26, dan Kaca26 itu adalah angkatan paling muda yang baru masuk bulan lalu. Sementara ini yang diundang dari angkatan satu :"3

Btw, aku baru tau kalo Mbak Lei itu Kaca angkatan satu TvT Oke, lalu ada ngobrol-ngobrol juga, kan. Lalu ada kuis juga. Habis itu ada Stand Up Comedy :)) Lalu yang koplak, acara terakhirnya adalah menyimak adegan yang sama sekali tidak di setting, perdebatan seru dua saudara(?) XD Dan habis itu buka puasa. Kita makan besar dulu, baru shalat Magrib. Habis itu foto bareng, dan foto angkatan juga. Sayangnya Alfa udah pulang, jadinya ini foto angkatan minus Alfa .w.

Ngomong-ngomong, Timus udah nggak pulang. Masih inget nggak kucingku, namanya Timus? Search via label, deh XD Timus itu kucingku, kucing jantan. Memang sih, kucing jantan itu kalau udah kawin, pasti milih buat nggak pulang lagi ke rumah dan semacam tinggal di jalanan lalu sekali-sekali nengok ke rumahnya yang betina. Sedih, sih, udah ditinggal Timus :"3

Pertemuan berbanding lurus dengan perpisahan.
Yak, seperti quotes di atas yang kayaknya aku pernah denger tapi lupa di mana dan bagaimana, aku ketemu sama satu kucing! Beruntungnya, dia kucing betina. Karena aku sekeluarga *bahasanya* ngerawat kucingku ini, Cimol, dia semacam jadi primadona di kampung =3= Pas musim kawin ini, ada sampai tiga kucing jantan yang nekat nerobos rumah demi menemui Cimol ini :") Kayak nggak ada kucing lain aja *sya*

Hari Minggu ini adalah sixasix terakhir. Mungkin sixasix terakhirku juga di SMA 6 ini. Aku nggak yakin besok pas kelas 12 aku bakal dateng sixasix apa enggak, kayaknya udah nggak usah lah ya hehe. Aku dateng sixasix kemarin Sabtu, sekalian ke KFC bareng sama Mangga dan Lisa! Kayak udah lama banget nggak ketemuan aja :") 

Nggak puas, sih, cuma segitu. Rencananya, sih, aku, Mangga, Lisa, bakal ke JCM besok! Kenapa? Yah, karena besok itu tanggal 13, dan saatnya membuat Video 13 Nakaomi! Biasanya membuat video itu kita di sekolah atau di KFC. Sekarang kita mencoba dengan suasana yang lebih berbeda; JCM *w*

Sincerely,
Rasya Swarnasta

#PakPolisiBlog

bleepy

PPB 24.0 : Bleepy? Aku mau ngomong.

Sabtu, Juli 11, 2015

Aku buat blog ini khusus buat aku ngobrol sama Bleepy.

Bleepy, kayaknya aku pernah ngerasain ini selama aku kelas 2 SMP, deh. Kehilangan mood buat nulis dan semacamnya gini. Walaupun pas kelas 2 SMP efeknya aku jadi suka menyendiri dan nggak mau diajak ngomong, sih, nggak separah aku yang mau-kelas-2-SMA ini yang masih bisa diajak ngobrol.

Kalo aku nggak nulis ini setiap hari, aku bakal kena denda. Denda gara-gara aku nggak nulis Pak Polisi Blog, denda gara-gara aku nggak apdet blog setiap hari. Tapi... sesuai yang aku bilang kemarin dan hari ini.... aku bener-bener lagi nggak mood nulis. Aku inget pesan Tere Liye yang kalau mau jadi penulis, mending latihan setiap hari nulis seribu  kata selama enam bulan, sih. 

Aku sering bolong, jelas, dan aku harusnya mulai dari awal. Tapi aku belum mau bener-bener ngitung seribu kata, aku mau biasain nulis setiap hari dulu. Tapi, gimana kalo ada masalah super berat yang bikin kamu kehilangan mood buat nulis? Kehilangan mood buat ngapa-ngapain? Misalnya, Bleepy, aku tau saat-saat kamu kehilangan mood buat aku akses dan lalu pas aku mau liat kamu, kamu malah nampilin "this webpage is not available." Kalo aku—gimana coba?

Kalau aku cari di google... katanya ini ciri-ciri masa pubertas._. Tapi, kalo aku ngalamin sekarang... bukannya telat banget ya?-_- Masa puber kan mulainya 8-10 dan selesainya 15-16. Aku udah pernah dilema dan jadi anak galau yang kehilangan keseimbangan soal psikisku sendiri pas aku umur 13 tahun..... trus aku jadi kehilangan mood buat ngapa-ngapain kayak gini ini kenapa dong?

Aku coba menyikapi dengan ngelakuin hal-hal aneh, kan. Aku nonton film, nonton anime, baca komik komedi, stalk orang-orang yang nggak aku kenal di instagram, bahkan aku cari metode belajar cepat bahasa Thailand... pengennya, sih, siapa tau buat bahan topik blog, gitu. Tapi bahkan setiap kali aku buka blog, aku nggak tau mau nulis apa padahal aku punya banyak banget topik yang bisa aku bahas! Apa aku penulis bayangan aja, ya— ghost writer?

Oke, aku langsung ke intinya aja.

Jadi, Bleepy,
Kayaknya ada yang salah denganku, deh.
 
—your author.


Sincerely,
Rasya Swarnasta

#PakPolisiBlog

bleepy

PPB 23.0 : Currently mood (2)

Jumat, Juli 10, 2015

Jadi, mengenai postingan blogku kemarin yang cuma satu kalimat, kayaknya aku belum diberi kesadaran buat ngedit postingan itu. Ternyata, walaupun aku ngaku, sih, kalau aku bukan anak yang jujur-jujur banget—aku nggak bisa bohong sama Bleepy :') *berasa Bleepy ini siapaku aja*

Maksudnya, aku sekarang lagi nggak mood nulis sebenernya. Aku bisa, sih, pura-pura nggak ada yang terjadi dan copas cerpenku, lalu aku tinggal. Tapi aku juga baru sadar kalo cerpenku juga udah aku kasihin ke blog semua :') Aku kepikiran buat bikin cerpen baru, tapi aku udah bilang tadi kalo aku lagi nggak mood nulis. Sementara kalo aku nulis pendek, aku udah sering banget ngelakuin itu dan kayaknya curang deh-_-

Aku nemu quotes di film The Sixth Sense; indra keenam. Filmnya setengah horror setengah thriller, dan keren banget. Makanya hargai quotes—yang aku cari ulang biar kata-katanya persis sama—yang nyarinya sambil takut-takut. Ceritanya pengen ngeskip adegan demi adegan, malah ke adegan yang PAS hantunya nongol, kan.... kan....... KAN SEREM. 
Kamu tahu apa itu mengarang bebas, Cole?
Mengarang bebas adalah saat kau mengambil sebuah pensil, dan meletakkannya di atas secarik kertas, lalu mulai menulis. Kau tak melihat dan tak memikirkan apa yang kau tulis—kau terus saja menulis
—Malcolm Crowe to Cole Sear (The Sixth Sense)
Nah, kayaknya itu yang lagi pengen aku lakuin. Bukan di atas kertas sih, maksudnya aku nulis apa aja, yang nggak jelas, yang biasanya aku labeli pake "random" dan "gak berlabel" XD

Banyak banget yang pengen aku tulis, sebenernya. Aku pengen nulis tentang anime Plastic Memories, buku Kedai 1001 Mimpi, bukber angkatan SMA 6, bukber Kaca, bahkan aku pengen nulis tentang film Thailand yang terkenal, Crazy Little Thing Called Love sama film The Sixth Sense ini. Kalau sempet ngelakuin hal-hal di luar nulis blog, aku pengen buat poster Tabligh Akbar sama baca fanfiction. 

Tapi sayangnya semua mood semangat yang berkobar-kobar itu musnah dalam sekejap mata kayak di bom.... oleh si current mood ini. Dan aku nggak tau kapan aku bisa nulis atau ngelakuin apa yang aku sebutin di atas tadi... soalnya mood semangatku luluh lantak dalam waktu sepersekian detik, yang masih berefek sampe seharian lamanya.

Ehm. Yak, aku bener-bener nggak niat buat nulis malem ini. Jadi biar Bleepy nggak ngerongrong aku terus, bahkan aku masih inget kejadian semalem, faktor terbesar kenapa aku nulis sesingkat itu. Jadi ceritanya, aku lupa kalau aku harus nulis Pak Polisi Blog. Aku bener-bener tidur pulas, sampai nggak tau kenapa tiba-tiba di tempat tidur, baru mau bener-bener tidur, aku langsung melek super cepet dan jantungan di tempat.... lalu teriak dalam hati,

"ASTAGFIRULLAH AKU LUPA BIKIN PAKPOLISIBLOG!!!!"

Entah kenapa, bahkan aku juga nggak nyangka kalo Pak Polisi Blog bener-bener menghantui aku sampai segitunya. Aku jadi sebel sendiri deh *sya* Jadi, daripada Bleepy malah ngehantui aku terus dan nggak mau memaklumi aku, sekarang aku jujur sama Bleepy. 

Errr.......... oke.... ng.......... aku............lagi....................


Oke aku ngaku aku alay.

Udah. Nggak seberlebihan itu sih, mungkin kalian ngebayanginnya parah. Nggak sampai parah kok. Aku masih bisa ketawa, masih bisa diajak ngobrol. Efeknya cuma ke aku jadi nggak punya mood buat nulis TvT Udah deh. Aku malu juga sih ngaku itu. Biar Bleepy nya tau aja.

Sincerely,
Rasya Swarnasta

#PakPolisiBlog

PPB 22.0 : Currently mood.

Kamis, Juli 09, 2015

Lagi sedih. Kemungkinan besar akan diedit―tapi sekarang lagi sedih. Via hape.



Sincerely,

RasyaSwarnasta



#PakPolisiBlog

buku

PPB 21.0 : apapun yang terjadi hari ini.

Rabu, Juli 08, 2015

Aku sebenernya mau ngulas tentang novel Kedai 1001 Mimpi, tapi sayangnya aku belum selesai baca. Nanggung, nih, 383/442 halaman. Padahal timing nya ngepas banget, secara aku belum tau mau cerita tentang apa. Hari ini ngganggur, nih. Sebenernya aku ada agak-janji sama SIRE UGM di Jl. KH Wachid Hayim, tapi sayangnya seharian siang tadi aku kerja bakti beres-beres kamar :')

Aku tahu, sih, cepat atau lambat aku harus beres-beres kamar juga. Tapi biasanya aku mengalihkan dengan pekerjaan lain(?) sampai lalu buat parsel lebaran, ayahku beli makanan yang dibawa di kardus banyaaak banget. Makanannya punya kantornya, kardusnya buat aku. Jadi, deh, kardusnya aku isi pake buku-buku paket, buku-buku tulis, sama kertas-kertas yang ternyata lebih banyak dari yang aku duga.

Segala benda-benda yang kubutuhkan dan tidak kubutuhkan di kelas 1 SMA.

Itu yang aku tulis. Nggak jelas juga, sih.

Kelihatan nggak, kalau postingan blogku random? Yah, karena aku nggak ada postingan yang harus aku tulis—sedih banget, padahal skenarioku hari ini mau ngereview soal Kedai 1001 Mimpi. Sayangnya kemampuan membacaku belum begitu cepat; sering banget aku bosen atau tiba-tiba fokus pada kegiatan lain yang lebih asik.w. Kebanyakan baca komik, sih. 

Bahkan dari pada ikut Reading Challenge 2015 di goodreads, aku lebih milih ikut Comic Reading Challenge. Lebih antusias malah. Yah, walaupun aku daftar dua-duanya sih, tanpa tau bisa ngenuntasin apa enggak. Reading Challenge 2015 nya aku udah nulis bakal baca 25 buku di tahun ini. Minimal sebulan baca dua buku, lalu bulan Desembernya tiga.

Eh, tapi ternyata nggak semulus itu.

Sampai bulan Juli, aku baru nuntasin tiga novel di tahun 2015 ini-_- Budaya membaca mulai berkurang drastis nih-_- Kalo mau nuntasin 25 buku, berarti kurang 22 buku lagi. Ini, mah, harus seminggu sebuku, nih! Kalau satu minggu satu buku, dapet komplit semua sampai bulan Desember sisa dua minggu. *aku ngitung beneran, nih*

Masalahnya, yang harus kubaca itu buku terjemahan. Habisnya, secara yang ngadain goodreads, search novel indonesia jelas nggak ketemu lah._. Aku aja search novelnya Tom&Sharon Curtis yang dapet penghargaan Best Classic Historical Romance aja nggak ada. Berarti, aku nggak punya bukti, dong, kalau aku udah nuntasin buku itu, soalnya aku nggak bisa bilang bukunya yang habis aku baca apa. Salah siapa coba TvT

Wah, seenggaknya ada topik satu, nih. 

Sincerely,
Rasya Swarnasta

#PakPolisiBlog

event

PPB 20.0 : Pembagian Zakat Fitrah SMA N 6 YK

Selasa, Juli 07, 2015

Hari ini, jam sembilan pagi, aku ada di SMA Negeri 6 Yogyakarta. Aku mampir ke ruang Wakil Kepala Sekolah alias Waka, nemuin Pak Fathoni sama dipanggil Pak Eko. Keluar dari ruang Waka, aku sempet liat tiga-empat anak berseragam SMP, nggak tau mereka ada urusan apa. Kelihatannya, sih, berkaitan dengan seragam, gitu.

Pak Fathoni selaku pembimbing pembagian zakat fitrah, ngasih aku daftar nama karyawan SMA 6 yang harus mendapat pembagian zakat fitrah. Yang bikin ini jadi makin ngebebani adalah, semua nama karyawannya itu nggak tau kalau mereka bakal dapet zakat fitrah dan suruh ambil di perpustakaan, jadi aku harus nyari semuanya satu per satu dan bilang suruh ambil zakat di perpustakaan.

Nggak mungkin, kan, aku ngelakuin itu semua sendirian? Waktu itu baru aku yang dateng TvT Masalahnya, ya, sama kayak murid sewajarnya, aku tau wajah-wajah cleaning service atau petugas penjaga laboratorium, tapi, kan, bukan berarti aku hapal namanya, kan? Pak satpam yang suka dipanggil Pak Pey aja, aku nggak tau nama aslinya siapa—karena "Pey" adalah nama yang aku cari di daftar pertama kali.

Aku jalan-jalan ke lobby dulu, kan. Nah, untungnya aku ketemu sama Mas Imam dan Mas Arifin. Akhirnya mereka berdua yang mengambil tugas itu dan Mas Imam nyuruh aku jaga di perpustakaan. Aku pinjem buku perpustakaan, kan, novel judulnya "Kedai 1001 Mimpi". Waw, agak seneng juga, sih, aku jadi anak yang pertama ngisi di "Daftar Buku Pinjaman Siswa XI" :')) Berasa anak perpus banget, wew:')

Lalu, Pak cleaning service yang awalnya aku gak tau namanya—Pak Sigit—dateng sebagai penerima zakat pertama. Aku kasih, kan, berasnya. Lalu nyusul Pak Purwanto—Pak Pur—sama Pak Sutopo—Pak Pey; nah aku pernah denger sih kalau Pak Pey itu kepanjangannya Pak Sutopo. Lalu aku jadi mulai agak kenal sama nama-nama karyawan yang aku cuma tau wajahnya aja:') Bapak-bapak yang jaga di gudang, yang biasanya dipanggil "Pak-Pak Gudang", ternyata namanya Pak Suhono:') Lalu, Pak Eko yang aku sebut Pak Eko-versi-koplak *sya*, ternyata namanya Pak Eko Nugroho:))

Di tengah-tengah karyawan-karyawan SMA 6 mulai berdatangan itu, ada Mbak Ayu :') Mbak Ayu lalu nemenin di perpustakaan, jadinya aku nggak sendirian dan kedinginan(?) deh {} Selanjutnya di saat perpustakaan sudah mulai sepi lagi, Pak Fathoni datang dan memberi kami dua surat. Satunya dari Yayasan Nidaul Jannah, satunya dari Masjid Al-Hikmah *yaampun aku hapal*

Jadi, masjid dan yayasan itu ngasih surat permohonan pemberian zakat fitrah. Pak Fathoni bilang, dua surat ini tolong di telpon CP nya dan bilang suruh ambil beras di perpustakaan SMA 6, masing-masing sepuluh karung beras alias lima puluh kilo. Yang nelpon Mas Imam, kan. Mas Imam udah bilang ke aku kalau dia bilang ke penerima telponnya kalau yang jaga zakat itu "Rasya", tapi ya... aku lupa._.

Dan gara-gara itu aku nggak ngeh waktu ada pak-pak tak dikenal yang datengin perpustakaan lalu bilang ke aku, "Ada Mbak Reza?" ._. Aku kan bingung, selain karena aku lupa kalo pak-pak yang dateng ke perpus suruh nemuin seseorang bernama Rasya, aku juga nggak inget kalau orang susah menyebutkan namaku dengan benar saat pertamakali bertemu._.

Mbak Ayu juga bingung, kan. Petugas perpustakaannya.. eh, oke, nggak asik kalau aku bilang dengan label "petugas perpustakaan" sementara aku udah tau namanya—Pak Samsodin dan Pak Anton Triwibowo *nama panjangnya juga lol* ngiranya Mbak Rika—mbak Rika itu yang pakai baju merah hari ini. Aku tanya ke bapaknya, kan, "Mbak Rika, Pak?" gitu, dan bapaknya bilang lagi agak nggak enak, "Mau ambil zakat.."

"...."

OH.

Mbak Rasya maksudnya=)))) 

*sindrom kekurangan Aqua lagi kumat, nih*

Akhirnya gantian aku yang nggak enak, kan-_- Mbak Ayu juga ketawa:)) Lalu, pak-paknya yang ternyata dari Yayasan Nidaul Jannah ngasih surat tanda terima dan surat tugas. Habis itu, mulai sepi lagi. Lalu Pak Fathoni bilang, kalau ada saudara atau murid SMA 6 yang kekurangan dan butuh zakat, bilang aja nggak papa lalu ambil sini langsung. 

Nah, beberapa menit pas Pak Fathoni pergi, ada bapak-bapak, namanya Pak Supardi. Beliau bilang kalau adiknya butuh zakat. Untung, deh, Pak Fathoni udah ngasih ijin sebelumnya, jadi, ya, aku kasih. Lalu Mas Imam bilang kalau Masjid Al-Hikmahnya bakal dateng besok, jadi pulang aja nggak papa. Oke, deh, lalu selesailah hari ini, aku sampai rumah jam setengah tiga sore~

P/S
Btw, novel Kedai 1001 Mimpi itu bagus banget! Aku ketagihan bacanya, ceritanya mengalir gitu dan tetep koplak XD Mungkin kalau aku udah selesai bisa aku review di sini, kalau aku lagi nggak tau mau ngeposting tentang apa :3

Sincerely, 
Rasya Swarnasta

#PakPolisiBlog 

pak polisi blog

PPB 19.0 : Quotes

Senin, Juli 06, 2015

My password is "incorrect".
So when I forget it, it always remids me,
"Your password is incorrect".
Jadi, ceritanya, aku dimakan oleh waktu. Aku baru bangun pas imsak karena aku bener-bener capek kemarin. Kemarin aku buka bersama di tempatnya eyangku dan sampai rumah jam sepuluh malem. Habis sahur, aku terbukti dimakan waktu karena aku main laptop, buka Facebook dan melakukan tindakan yang bener-bener kurang kerjaan. Ngecek grup lah, ngecek status, ngedit profil, sampai aku sadar kalau udah dhuhur._.

Lalu, aku mau buat jadwal kayak Mbak Nansa, sie acara di Ramadhan di Sekolah aka RdS yang kenalan di Taman Pintar kemarin Sabtu, lalu ketemu lagi hari Minggu soalnya kemarin adalah acara puncaknya RdS, di Masjid Kampus UGM. Mbak Nansa itu buat jadwal hari ini dia ngapain, sejak pagi, dengan sangat selo keren. Jadi aku ikutan, kan.

Aku ngerestart laptopku dan waktu laptopku lagi loading, aku ngerobek notes kecil dan nulis:
Apa yang mau kulakukan begitu laptop ini udah nyala:
  1. Nulis blog
  2. Nulis wattpad
  3. Edit camp NaNoWriMo (dengan selonya aku pake penggunaan huruf kapital yang benar)
  4. Buka infantrum
  5. Review fanfic
Jangan ada gerakan yang sia-sia!
(tandatangan dan nama)
Oke, nggak mungkin ada linknya, notesku belum secanggih itu. Cuma mau bilang kalau itu semua berkaitan dengan internet—bayangkan bagaimana liburanku tanpa internet kalau apa yang mau kulakukan seharian mengharuskanku untuk membuka browser.

Lalu, aku memutuskan buat ngedit postingan blogku yang PPDB hari ketiga. Aku emang berniat ngebuat postingan itu jadi semacam biar pembacanya merenung (emang ada yang baca?) dan aku nggak nyangka bahwa aku malah melankolis di sana-_- Ujung-ujungnya malah buat cerpen, oke. Karena itu berkaitan tentang mimpi, aku mikir kalau pasti makin bagus ada quotesnya.

Makanya aku mulai buka tab baru dan nyari-nyari gambar tentang quotes mimpi. Aku nemu dua, sampai lalu mataku melihat quotes ini:


Mungkin karena aku lagi butuh quotes-quotes yang memotivasi.. aku baca ini ngakak banget=))) Gatau kenapa, biasanya aku bakal cuma senyum kalo baca quotes yang semacam itu. Tapi aku sampe ketawa lama-_- Koplak banget ini quotesnya, aku mikirnya gitu XD Dan lalu quotes ini membuatku lupa bahwa aku punya jadwal dan aku punya postingan blog yang menungguku, jadi aku langsung buka websitenya dan jatuhlah aku pada website-website funnyquotes-_-

Sebenernya ada banyak sih yang aku simpen=)) Tapi kucukupkan sekian. Mending postingan panjang tapi random apa postingan singkat tapi jelas? XD

Sincerely,
Rasya Swarnasta

#PakPolisiBlog

award

PPB 18.0 : Tanpa Masa Lalu, Tanpa Masa Depan.

Minggu, Juli 05, 2015

Alhamdulillah, habis kemarin aku ngasihin cerpenku ke blog, aku dapet pengumuman malem ini kalau ada cerpenku yang menang lomba lagi :') Kan tema buat cerpenku ini Fantasy. Ya udah aku ambil aja dari novel-yang-seminggu-jadi yang emang temanya jaman-jaman kerajaan gitu, deh, karena novelku itu juga bakal aku biarkan berdebu di laptop :') Makanya aku abadikan miniaturnya(?) menjadi versi cerpen dan aku lombain. Seneng banget, ternyata masuk kontributor TvT

***

Tanpa Masa Lalu, Tanpa Masa Depan

Yang sedang kuasah sekarang adalah pedang spesialis pancung.

Aku sedang berada di suatu ruangan, ruangan khusus untuk algojo kerajaan sepertiku, yang memberiku waktu beberapa saat untuk menenangkan diri.

Aku belum pernah membunuh manusia seumur hidupku. Aku tahu aku akan melakukannya, tetapi aku selalu berpikir bahwa itu masih sangat lama. Tetapi, ayahku diangkat menjadi penasihat kerajaan secara tiba-tiba. Kerajaan mengangkat ayahku dari faktor lamanya ayahku berada di kerajaan. Sehingga, ketika posisi penasihat kerajaan sedang kosong karena penasihat kerajaan tersebut meninggal, kerajaan langsung menunjuk ayahku untuk menggantikannya.

Ayahku sendiri sama sekali tidak masalah. Namun, aku yang mempermasalahkannya. Dalam waktu dekat setelah kejadian penobatan itu, kerajaan membutuhkan algojo untuk memenggal kepala seorang pembunuh.

Alih-alih menajamkan pedang, aku justru meremas pengasah pedang itu erat-erat. Ini menyebalkan, mengingat aku hanya diberikan sedikit waktu untuk menyendiri. Aku tidak percaya bahwa ayahku benar-benar bisa membuang seluruh perasaannya. Membuang seluruh emosinya, ketika menebas kepala demi kepala.

Bahkan ayahku dinobatkan menjadi algojo saat beliau berusia tiga puluh tahun! Mengapa aku menjadi pihak yang apes di sini, melakukan apa yang dilakukan ayahku dulu saat aku berumur sepuluh tahun lebih muda darinya? Aku masih dua puluh tahun, tahu.

“Kita akan mulai mempelajari teori dahulu,” ayahku mengatakan itu kepadaku empat tahun lalu, tepat diusiaku yang ke enambelas. Sulit untuk mendengarkan dengan fokus karena ayahku sambil memain-mainkan kapak. “Soal asal-usulnya tidak jelas, hanya saja hukuman pancung ini adalah metode hukuman mati yang murah dan praktis.”

Hukuman pancung.

Murah dan praktis. Rasanya menjijikkan, membayangkan darah-darah yang tersembur dari pembuluh nadi itu adalah hasil dari metode murah-dan-praktis tadi.

“Tergantung seberapa profesionalnya dirimu menghadapi setiap kepala. Karirmu akan tamat apabila selama hukuman pancung kau melakukan lebih dari satu tebasan pedang, dengan alasan tulang leher yang keras itu sulit dipotong. Tapi, pada latihan kali ini, kita coba dulu dengan sapi.”

Aku ingin muntah.

Agar privasi kerajaan dapat terjaga, maka keluargaku pun harus takluk pada peraturan kerajaan yang diberikan. Bahwa profesi seorang algojo kerajaan dipasrahkan kepada garis keturunanku hingga akhir zaman. Jujur saja, aku lebih memilih untuk tidak menikah dan mempunyai anak sama sekali.

“Tanpa masa lalu, tanpa masa depan”, itulah motto seorang algojo kerajaan, entah siapa yang membuatnya. Algojo hanya berpusat pada satu hal; memenggal. Selebihnya tidak.

Ayahku benar-benar tidak mau berinteraksi dengan pelayan-pelayan kerajaan. Ayahku hanya keluar apabila ada tugas membunuh saja. Setidaknya, aku lebih baik karena sejak kecil aku akrab dengan pelayan-pelayan dapur. Sampai tadi sebelum aku diperintah untuk memasuki ruangan penenangan diri, mereka masih saja menganggapku sebagai kawan mereka dan bahkan memperlakukanku seperti anak kecil.

Pelayan-pelayan dapur itu memberiku nama. Berbeda dengan ayahku yang hanya memanggilku dengan sebutan ‘Hei, kau’ atau ‘Nak’. Mereka memanggilku “Red”—merah—yang mengacu pada warna rambutku yang merah menyala. Entah mengapa, karena aku terlalu asyik melamun, lamunanku justru melayang jauh. Sampai, membuatku bernostalgia akan... hari itu.

“Panggilan kepada anak algojo.”

Semua mata pelayan-pelayan dapur yang awalnya memandang sumber suara, langsung menoleh kepada seorang anak kecil yang sedang meringkuk di sudut ruangan, sedang mengelapi piring satu per satu. Yang dipandangi dari berbagai sudut, aku, justru mengangkat kepala dengan polos.

“Eh— ya?”

Penasihat kerajaan mengayunkan tangannya. “Kemari, sini bersiap-siap,” kata beliau dengan nada tenang. “Perintah atas nama Raja dan Ratu, untuk membawamu menemani Tuan Putri Miclyra berkeliling kerajaan.”

“....—HAH?”

Yang bereaksi dengan mengucapkan seperti itu bukan hanya yang bersangkutan saja. Namun seluruh pelayan dapur yang ada di ruangan itu. Bahkan, beberapa orang sampai ternganga. Yang jelas, seluruh aktivitas di dapur tersebut seketika berhenti.


Itu adalah hari di mana aku bertemu dengan Miki, alias Tuan Putri Miclyra. Saat itu, Miki yang berusia tujuh tahun ingin jalan-jalan mengelilingi istana tanpa didampingi oleh orangtuanya. Raja dan Ratu membolehkan, hanya saja Miki harus didampingi dengan penasihat kerajaan dan seseorang yang sebaya dengannya. Seseorang yang sebaya dengannya itu, aku.

Awalnya, pertemuan pertama kami biasa. Namun di tengah-tengah mengelilingi istana itu, penasihat kerajaan dipanggil untuk suatu urusan. Meskipun terpaksa, akhirnya penasihat kerajaan menyuruhku untuk mengantarkan Miki ke dapur saja, supaya kami berdua tidak pergi ke mana-mana. Aku mengajari Miki cara mengelap piring, bercerita mengenai aku yang suka memberi makan ayam-ayam setiap pagi, dan bersantai di bangku panjang di bawah pohon ek yang keduanya ada di halaman belakang istana. Kupikir, saat itu Miki tampak sangat iri mendengarkan ceritaku. Mungkin itulah yang membuatnya selalu menemuiku di kandang ayam setiap pagi, dan menyusulku di pohon ek setiap dia ada waktu luang.

Raja, Ratu, dan pihak penasihat kerajaan, tidak mempermasalahkan itu pada mulanya.

Pada mulanya.

Hingga suatu hari, di usiaku yang genap dua belas tahun, aku dipanggil ke ruangan pribadi Miki, di mana di sana ada mereka bertiga selain dirinya. Aku sudah merasakan adanya firasat buruk saat itu.

Penasihat kerajaan itu berdiri di belakangku, memegang kedua bahuku dan memaksaku berhadapan seratus delapan puluh derajat dengan Miki. “Kamu mengabdi kepada kerajaan ini sebagai algojo, tanpa nama panggilan ‘Red’ atau apapun. Miki yang kau kenal selama lima tahun ini adalah seorang Tuan Putri Miclyra, dan hubunganmu kepadanya hanyalah antar algojo dan tuan putri saja. Tidak lebih dari itu.”

Aku benci ini. Kalau tidak ingat ada Raja dan Ratu berdiri berdampingan di belakang Miki, aku pasti sudah memberontak dan menarik tangan Miki pergi.

“Mulai saat ini, kalian tidak akan bertemu lagi.”

Miki tidak kuasa menahan pantulan mataku, akhirnya ia menunduk. Aku tidak menyerah, aku masih mencoba mencari-cari pantulan pandangannya lagi, tetapi Miki sudah tidak memberiku kesempatan untuk menemukannya.

Saat itu, barulah aku memahami arti ‘tanpa masa lalu, tanpa masa depan’ seorang algojo.

Aku menggeritkan gigiku. Itu semua, kejadian tragis itu, semuanya terjadi hanya karena aku algojo, kan?

Pintu ruangan terbuka. Penasihat kerajaan menyembulkan kepalanya—ayahku.

“Hei, sudah waktunya,” perintah ayahku.

Aku tidak percaya bahwa kakiku gemetaran ketika aku mencoba untuk berdiri. Aku mengikuti ayahku, melintasi lorong demi lorong, sampai akhirnya membuka pintu yang membawaku ke sebuah tanah lapang yang menyilaukan. Namun, aku tidak bisa menyipitkan mata. Badanku kaku, aku masih bergeming di tempatku berdiri.

“Sana,” ayahku sedikit mendorongku, membuatku akhirnya bisa mengambil langkah. Puluhan meter di hadapanku, rakyat-rakyat memandang tanpa berkedip. Menyaksikan aku yang perlahan tapi pasti, mendekati seseorang yang memakai penutup mata, duduk dengan lutut menumpu tanah, kedua tangannya diikat. Aku menahan kuat-kuat air mata yang nyaris keluar.

Ini tidak adil. Algojo dilarang berhubungan dengan orang lain, itu tidak adil. Tidak mempunyai nama. Tidak mempunyai kenangan. Tidak mempunyai impian. Tidak adil.

Aku mengayun-ayunkan pedangku, merasakan bobot pedang melengkung yang ada di tanganku. Mendekati seseorang dengan rambut pirang yang menjuntai seperti air terjun itu. Rambut itu, aku masih ingat ketika kecil aku suka sekali mengaguminya, aku suka memainkannya. Rambut yang lurus indah itu.

“Hei—”

“Lakukan! Lakukan!”

Terdengar teriakan-teriakan rakyat yang menandak-nandak tak sabaran.

Ayahku mengatakan tanpa basa-basi, ketika beliau memasuki ruangan algojo di mana aku sedang duduk di sana, bertanya-tanya sendiri mengapa pihak kerajaan memanggil ayah secara khusus. “Yang meracuni penasihat kerajaan adalah Tuan Putri Miclyra.”

Aku mengangkat kepala cepat. Aku tidak bisa menemukan kata-kata yang tepat untuk bereaksi selain, “...—hah?”

“Kamu akan melakukannya tiga hari lagi,” sambung ayahku, sudah menambahkan keterkejutan baru bahkan sebelum rasa terkejutku ini menghilang. “Kamu yang akan memancungnya.”


“LAKUKAN!”

Rasanya perutku mual. Jika aku latihan, apabila aku latihan dengan menggunakan sapi atau kambing, tidak ada penonton yang seriuh ini. Tidak ada orang-orang yang berteriak, yang menyuruhku segera melakukannya. Aku mulai mengangkat pedangku, sejajar dengan lehernya.

Tidak mempunyai masa lalu, tidak mempunyai masa depan. Seharusnya, itulah motto seorang algojo. Tetapi jika kerajaan dengan bengisnya memaksaku untuk menebas kepalanya, maka aku juga akan bertingkah egois untuk saat ini.

“—Miki.”

Aku melihat tawa kecil terakhir yang ia buat sesaat sebelum aku memisahkan kepala dari badannya dengan satu kali tebas.

TAMAT

***

Berasa kayak ringkasan novelku, lol. Agak beda, sih. Jadi kalau di novelku itu, yang dipancung bukan Mikinya, tapi saudara kembar Miki yang minta tukeran karena dia kasihan sama Miki, soalnya Miki ngebunuh si penasihat kerajaan itu pakai alasan tertentu yang sangat khusus(?). Tapi kalau aku bahas... halamannya kelebihan XD Udah itu aja.

Ngomong-ngomong, tau lagu serial "Story of Evil" nggak? Aku ambil plot utamanya dari situ :3

Sincerely,
Rasya Swarnasta

#PakPolisiBlog

award

PPB 17.0 : Bangau Kertas. //Cerpen

Sabtu, Juli 04, 2015

Di postingan blog yang ini, aku pernah bilang kalau aku mau ngasih cerpenku yang masuk kontributor lomba menulis "Jika aku menjadi AKU" ke blog ini. Sekarang kurealisasikan, ya.

***

BANGAU KERTAS

Jika kamu dapat membuat seribu bangau kertas, maka keinginanmu akan terwujud. Itu menurut legenda Jepang yang kupercaya. Karena itu lah, aktivitasku selama bel belum berbunyi, istirahat, dan pulang sekolah, adalah membuat bangau kertas. Aku berniat membuatnya. Hanya membuatnya saja. Karena aku belum mempunyai permohonan apapun.

Aku tidak mempunyai satu teman pun di sekolah. Lagipula, ini karena latar belakangku juga, sih. Karena aku menjadi satu-satunya yang dapat menjadi siswa sekolah elit ini karena faktor beasiswa. Kerap kali aku membuka buku catatanku, dan materi yang sudah kucatat rapi dirobek. Padahal kalau mereka-mereka berkata bahwa ingin meminjam bukuku, pasti akan kupinjamkan.

Mereka-mereka, siapa lagi kalau bukan Khansa dan gengnya. Khansa adalah anak dari pemilik sekolah ini, jadi wajar saja apabila tingkahnya semena-mena, dan aku tidak punya nyali untuk mengadukannya. Apa aku pernah membuat salah dengan mereka? Rasa-rasanya mereka sudah membenciku sejak hari pertama aku datang sebagai murid baru.

Aku keluar dari kelas begitu matahari sudah hampir terbenam. Mungkin sudah cukup untuk hari ini. Aku menenteng tas berisi bangau-bangau kertasku yang jumlahnya sangat banyak. Tadi di kelas aku menghitung, dan sudah lebih dari sembilan ratus. Aku hanya perlu satu hari lagi untuk menyelesaikannya.

Menuju ke pintu gerbang sekolah membuatku harus melewati lapangan basket terlebih dahulu. Tepat pada saat aku memfokuskan pandangan sebentar untuk melihat keadaan di sana, sebuah bola basket yang ditembakkan dari luar garis tiga poin masuk ke dalam ring dengan mulus.

Siapa lagi kalau bukan Kevin. Satu angkatan denganku, kelas sepuluh, tetapi kemampuan basketnya sudah sejajar dengan pemain-pemain ternama, itu kalau menurutku. Aku saja dibuat terpukau oleh aksinya barusan, yang mendapat tepuk tangan riuh dari pemain lain serta pelatihnya.

Sampai kudengar suara memanggil namaku. “Karen! Sini, dong,” kata suara itu dimanis-maniskan. Aku memalingkan kepala refleks ke sumber suara dan membeku.

“Kok diam saja? Sini,” Khansa melanjutkan lagi dengan suara dimanis-maniskan. Dua orang lain yang selalu bersama dengannya seperti anak ayam mengekor induknya, berdiri di belakang Khansa. “Hei, bahkan kamu tidak membalas sapaan dari temanmu yang rela menunggu sesore ini?”

Aku mencoba untuk terlihat kuat. Aku membenarkan letak kacamataku, meskipun sebenarnya sia-sia saja. Lagipula, Khansa juga tahu alasan aku memakai kacamata yang sebenarnya sama sekali tidak minus ini. Ya, aku hanya ingin terlihat kuat. Kacamata ini bagaikan pelindungku. Menyembunyikan kenyataan bahwa sebenarnya aku adalah yang terburuk.

“Kenapa?” tanyaku, berusaha agar terdengar dingin. Namun percuma saja, karena yang terdengar hanyalah suara yang gemetar dan mencoba bertahan.

Salah seorang temannya mendekat ke arahku dan menarik tanganku. “Sudahlah, ikut saja.”

Aku dibawa mereka ke samping sekolah, lorong kecil yang jarang dilewati orang. Begitu tahu aku sedang lengah karena otakku sedang berupaya memikirkan berbagai cara agar bisa kabur, Khansa merebut tas yang sedang kutenteng di tangan kiriku.

“Wah, apaan, nih?” Khansa terkekeh begitu melihat isinya. “Burung kertas, eh? Ternyata beginilah aktivitas orang yang tidak punya kerjaan, ya.”

Tanpa perasaan, Khansa membalikkan posisi tas tersebut, dan otomatis membuat tas itu menumpahkan segala isinya. Aku hanya membelalakkan mata tak percaya, melihat ratusan bangau kertas yang sudah berbulan-bulan kubuat hancur begitu mudah di tangannya. Aku tidak bisa berbuat apa-apa karena salah seorang komplotannya itu masih memegangi tanganku.

“Ngomong-ngomong, tadi di lapangan basket memperhatikan siapa?” Khansa sempat-sempatnya mengajakku bicara, selagi bangau kertas di tasku berhamburan keluar. “Awas saja kalau kamu sampai bisa bermimpi untuk bersamanya,” katanya dengan nada memperingatkan.

Saat itulah aku baru tersadar. Oh, iya. Kenapa aku melewatkannya, ya? Kenyataan apabila Khansa menyukai Kevin. Tapi sebenarnya, yang menyukai Kevin itu banyak, kan? Kenapa yang dia serang hanya aku seorang? Padahal, aku jelas tidak mempunyai harapan.

“Sudahlah, ini membosankan. Ayo, pulang,” puas, Khansa akhirnya mengajak kedua temannya untuk segera melarikan diri. Dia melambaikan tangan ke arahku dengan sinis, kemudian menghilang ditelan tikungan.

Aku menghela napas. Biarlah. Aku memunguti bangau kertasku itu satu persatu, kemudian memasukkannya ke dalam tas. Tinggal satu hari lagi, aku bisa membuat permohonan. Tapi, permohonan apa, ya?

Jika Khansa dan gengnya itu berniat mengacau lagi, mungkin aku bisa lebih tegar. Lagipula, anggap saja bahwa Khansa sedang melatihku agar aku bisa menjadi lebih kuat. Meskipun dia menyuruh anak satu angkatan untuk menjauhiku, aku tidak boleh menyerah pada kehidupan begitu saja, kan?

Meskipun jika aku menyerah pada kehidupan pun, tidak akan ada yang menyadarinya.

Kevin, apalagi.

Kertas lipat di tasku sudah tidak bersisa, sementara aku sedang panik sendirian di dalam kelas. Aku menghitung burung bangau di tasku dan hanya berjumlah sembilan ratus sembilan puluh sembilan. Apakah tercecer saat kemarin itu? Aku tidak mempunyai kertas apapun yang tersisa.

Itu artinya aku harus pulang ke rumah dan membeli kertas lipat lagi.

Dengan tampang lemas karena harus menunda hari, akhirnya aku beranjak pulang.

Seperti biasa, Khansa dan dua temannya mencegahku. “Karen, ke sini, dong.”

Aku menelan ludah, dan terus berjalan, tidak memperhatikannya. Aku harus kuat, aku harus kuat.

“Hoi, ke sini, dong!” kesal karena tidak dianggap, Khansa menarik tanganku kesal.

Aku sekuat tenaga menahannya, tetapi Khansa lebih kuat. Akhirnya aku nyaris pasrah dan membiarkan dia menggeretku ke lorong sepi yang biasanya. Benar-benar tidak ada perkembangan.

Tiba-tiba satu suara menghentikan tindakan Khansa.

“Apa yang kalian lakukan?”

Khansa menoleh, dan dia mematung. Tangannya yang mencengkeramku langsung terlepas begitu saja. “Oh, tidak apa-apa, Kevin.”

Kevin mengerutkan keningnya. “Sungguh?”

“I-iya,” Khansa mengangguk cepat. “Su-sudah ya.”

Khansa dan dua temannya langsung lari terbirit-birit. Aku hanya bisa terdiam. Untuk pertama kalinya, aku terselamatkan. Aku hanya menoleh ke arah Kevin yang masih berada di dekatku.

Kevin berdehem, canggung. “Eng, sebenarnya kemarin aku menemukan ini. Ini punyamu, kan?” ia mengeluarkan sesuatu dari sakunya, yang membuatku terpaku.

Bangau kertas. Bangau kertasku yang keseribu.

Aku masih tidak bisa mengatakan apa-apa.

Kevin menoleh kepadaku. “Kamu tidak apa-apa?”

Mukaku merah padam, dan aku hanya menganggukan kepala. Meskipun setiap sel darahku rasanya sedang memproduksi serum tak dikenal, tetapi aku bisa membuat kesimpulan baru. Selain kesimpulan bahwa mulai detik ini, aku tidak akan peduli lagi apa yang akan dilakukan Khansa dan gengnya.

Ah. Inilah bangau kertasku yang ke seribu.

Yang datang dan sekaligus mengabulkan permohonanku sebenarnya.

***

Sudah :') Ngomong-ngomong, besok jam 1 siang, di Masjid Kampus UGM, adalah acara puncaknya Ramadhan di Sekolah! Tabligh Akbar dan Wisuda Alquran! Ditunggu kehadiranmu di sana, ya! 

Sincerely,
Rasya Swarnasta

#PakPolisiBlog

cerpen

PPB 16.0 : Ketika PPDB Hari Ketiga

Jumat, Juli 03, 2015

cerita salah satu dari mereka.

—Ah, anak itu datang lagi.

Kebanyakan, itulah kalimat yang aku batinkan selama aku berjaga di ujung koridor. Beberapa anak yang kulihat pada hari itu adalah anak-anak yang datang kemarin. 

Melihat orangtua yang datang dengan anak mereka, dengan ekspresi yang sangat beragam. Sebenarnya, saat itu aku bisa memilih untuk menjaga lobi dan memantau seleksi online. Hanya saja karena aku memang ingin melihat bagaimana suasana yang tersebar di koridor itu, aku memilih untuk berjaga di tempatku berdiri kemarin.

Ada satu anak yang menarik perhatianku

Dia datang dengan ayahnya, memakai seragam SMP hanya saja ditimpa dengan sweater coklat tua. Ini sudah PPDB hari ketiga, dan meskipun ekspresi semua anak berbeda, mereka kebanyakan memasang wajah terburu-buru. Sementara anak itu bahkan berjalan lebih pelan dibandingkan dengan ayahnya. 

Sejak kakinya memasuki lobi dan berjalan menuju koridor di mana aku menyambutnya, dan dia berjalan sangat lambat. Kepalanya menoleh ke kanan-kiri, menikmati setiap langkah yang dia ambil, mengamati setiap inci pemandangan yang dia lalui. Bahkan dia membaca dengan saksama daftar prestasi SMA N 6 yang terpampang sebelum memasuki koridor, seolah-olah itu akan diujikan ketika dia mengambil formulir pendaftaran nanti.

Masih belum memasuki koridor, dia mengamati banner yang tertempel di dinding SMA 6. Banner itu menyertakan foto-foto siswa anak SMA 6 dengan seragam yang berbeda-beda, dan ditambahkan keterangan di atasnya. Seragam hari Senin-Kamis, seragam upacara dengan almamater, seragam batik hari Jum'at, seragam pramuka hari Sabtu, seragam Olahraga, bermacam-macam. 

Terus terang, aku tidak begitu tertarik dengan banner itu ketika aku melihatnya sekilas pada saat daftar ulang, setahun lalu. Karena kupikir, suka atau tidak dengan seragamnya, aku akan memakainya juga. Aku tidak terpikir bahwa pandangan matanya saat mengamati tiap gambar benar-benar berbinar. Ini seragam yang akan kupakai, bisa kubaca ekspresinya ketika mengamati banner tersebut.

Aku mempunyai teman sekelas yang ingin memasuki SMA 6 ketika SMP dulu, jadi mungkin ekspresinya seperti itu. Aku melihat dengan jelas semangat yang terpancar di sorot matanya saat membalas anggukanku dengan senyuman yang sangat ramah. Dia tetap melangkah dengan perlahan, mengagumi setiap tanaman yang berjejer dan nama tanaman itu yang disertai nama latinnya—yang aku tidak tahu benar atau tidak

Sekolahku, sekolahku, sekolahku. Dia menggumamkan sesuatu yang tidak jelas karena mulutnya selalu komat-kamit, tetapi aku tahu pasti bahwa ia menggumamkan sebuah kata yang selalu terulang. Aku tidak mau mengakui ini, tetapi laki-laki yang mengisi formulir pendaftaran dan menjaga kertasnya dengan hati-hati agar tidak tertekuk itu—perasaan "ingin menjadi siswa SMA 6"-nya lebih kuat dibandingkan aku.

Dia masih mengitari taman yang ada di samping aula, ketika pengumuman itu datang, membuat langkahnya terhenti dan mulai mendengarkan. Aku melihat tangannya menggamit lengan ayahnya ketika mendengarkan info terbaru seleksi online PPDB.

"Pengumuman. Seleksi online PPDB untuk domisili luar kota, NEM terendah di SMA Negeri 6 Yogyakarta adalah 37,2—"

Dia masih tenang. Aku tidak mau mengakui ini, tapi bahkan NEM terendahnya lebih tinggi dibandingkan NEMku. Sepertinya inilah yang dimaksud dengan diskriminasi domisili. Lalu, sama seperti anak itu, aku juga tidak mau menerima kenyataan bahwa kalimat itu belum berakhir.

"—Namun karena kuota domisili luar kota SMA Negeri 6 Yogyakarta hanya 77 orang, maka NEM terendah peserta yang masih masuk adalah 37,5—"

Anak itu melepaskan gamitan tangannya dari lengan ayahnya. Raut muka anak itu berubah, dan aku langsung tahu—siapapun yang mengamati pasti akan langsung tahu—bahwa dia tidak termasuk bagian dari 77 orang yang berhasil masuk itu. Dia jelas terlihat sangat sakit hati, sementara sang ayah hanya bisa menepuk bahunya dengan ekspresi bahwa beliau tidak bisa membantu apa-apa. 

Ayahnya mengambil langkah awal dengan menelpon ibunya. Selagi ayah itu bercakap-cakap dan menjelaskan apa yang terjadi, perubahan dalam sikap anak itu kentara sekali. Dia yang sebelumnya mengedarkan pandangan dan mengamati dengan antusias, mulai menundukkan pandangannya dan justru bingung akan mengarahkan matanya untuk melihat apa. Seolah-olah yang ada di sekelilingnya adalah pemandangan yang tidak enak dilihat.

Beberapa detik kemudian, ayahnya memberikan ponsel kepada anak itu, menyuruhnya untuk berbicara kepada si ibu. Dia menarik napas dalam-dalam untuk menguatkan diri, sebelum menyambut ponsel itu dengan senyuman di wajah. Kurasakan dia mengucapkan, "Maaf" hingga berkali-kali, mulai dari awal dia berbicara hingga sebelum menutup teleponnya. Terlempar dari suatu sekolah seperti ini bukanlah salah siapapun, dan ayahnya mencoba menyadarkan dia tentang hal itu dengan mengatakan beberapa kalimat yang membuat dia mengangguk-anggukan kepala.

Giliran ayahnya yang menggandengnya, mengajak anak itu untuk kembali melihat-lihat lingkungan SMA 6. Dia menurut saja, dan pandangan dia saat kembali melihat-lihat setiap inci pemandangan lebih dewasa dibandingkan sebelumnya. Apabila jika dia memandang semuanya dengan tatapan seolah-olah menatap masa depan gemilang di depan sana, kini tatapannya mulai berubah. Ada sorot kesedihan seolah-olah sedang mengenang kisah di masa lalu yang kelam.

Ketika melangkah keluar dari koridor dan melewatiku—aku sejak tadi mengikutinya dan buru-buru kembali ke posku ketika sadar dia akan tergerak pulang—aku mengangguk dengan ekspresi berpikir cepat apakah harus tersenyum atau tidak—itulah ekspresi yang selalu kupasang ketika menganggukan kepala kepada setiap anak dan orangtua yang hendak keluar dari koridor karena aku tidak tahu mereka membawa harapan baik ataukah kenyataan pahit. 

Meskipun aku tahu bahwa yang dibawa anak ini membawa yang kedua―kenyataan pahit―, tetapi aku tetap saja tidak tahu harus bersikap apa. Tersenyum, atau tidak? Aku kenal karakter orang yang sangat tersinggung saat melihat orang tersenyum kepadanya di saat dia sedang mendapat kabar yang buruk dan menganggap senyuman untuk menghibur sama sekali tidak membantu. Aku tidak ingin meninggalkan kesan yang menyakiti hati di akhir langkahnya ini.

Tetapi, dia tersenyum dan balas mengangguk, persis dengan yang ia lakukan ketika membalasku sebelum dia memasuki koridor tadi. Aku terlalu terkejut melihat itu, menyadari bahwa sama sekali tidak ada kebohongan di matanya—atau aku yang tidak cukup jeli mengamati sorot mata anak ini. Ternyata dia memang tidak sepenuhnya tersenyum kepadaku, karena dia kemudian menghela napas panjang saat melihat poster daftar prestasi SMA 6 dan banner berisi jenis seragam.

Dia melewati poster daftar prestasi tanpa tergerak sedikitpun untuk melihatnya. Kupikir dia juga akan melakukan itu pada banner yang tertempel dan menyambut untuk ia baca. Tetapi dia justru berhenti melangkah, dan menatap setiap foto seragam di banner tersebut. Ekspresi yang ia munculkan benar-benar ekspresi yang membuat siapapun tidak akan tega. 

Dia mengamati seragam hari Senin-Kamis, seragam putih abu-abu, seragam yang umum untuk SMA karena hampir semua SMA menyediakan seragam putih abu-abu seperti itu untuk semua muridnya. Namun dari tatapannya, aku tahu bahwa menurutnya meskipun itu hanyalah seragam putih abu-abu yang nyaris sama, tetapi ada perbedaan di antara itu.
"Warna seragam tiap SMA yang terlihat sama, bukan berarti benar-benar sama."
―Rasya, pelajar normal, (semoga selalu) sadar apa yang ia tulis dan katakan.
Kalimat yang dia gumamkan ketika melihat banner itu tidak ia ulangi lagi. Ini seragam yang tidak akan bisa kupakai, mungkin itulah yang ia gumamkan. Tatapan dan kalimat gumamannya seratus delapan puluh derajat berbeda dengan tatapan penuh harapan saat sebelum memasuki koridor tadi. Hal ini membuatku menarik teori bahwa koridor yang sedang kujaga ini bisa melakukan dua hal ekstrim yang sangat mempengaruhi mental dan masa depan seseorang; mewujudkan mimpi atau menghancurkannya.

Dia dua kali lebih lama mengamati banner itu, sebelum kemudian menarik tangan ayahnya. Mereka berjalan menuju tempat parkir dan pergi. Kebayakan peserta menjadikan SMA 6 sebagai pilihan kedua atau ketiga, dan sepertinya dia termasuk sedikit orang yang mengisi SMA 6 di pilihan pertamanya—bahkan aku tidak

Aku mengamati sambil berpikir bahwa dia bukan orang pertama yang merasakan perasaan dikecewakan oleh kenyataan seperti itu, dan juga bukan yang terakhir. Dan ini hanyalah cerita tentang dia; tentang salah satu dari mereka.
Coba saja semangati orang-orang seperti mereka dengan berkata, "You can't make your dreams come true, if you don't believe in them"—maka siap-siap saja apabila mereka membuangmu ke laut.
 

Sincerely,
Rasya Swarnasta

#PakPolisiBlog