PPB 9.0 : Aku Diingatkan Allah Lewat Mimpi

Jumat, Juni 26, 2015

Ada sesuatu yang masih melekat dalam diriku,
Yang seharusnya sudah kubuang di masa lalu
Itu suara yang kudengar di kegelapan, beberapa detik sebelum aku membuka mataku.
Dan mendapati diriku sendiri di alam mimpi. 


Aku berdiri di hadapan sebuah meja berwarna coklat muda. Sekelilingku putih tak ada apa-apa, kosong dan hampa, namun aku tidak peduli dengan hal itu. Mataku menatap ke arah meja, dan menemukan dua buah jam tangan putih di sana. Jam tangan putih yang pertama bersih seolah masih baru, jam tangan putih yang kedua sudah kotor dan sudah nyaris kehitaman.

Kedua modelnya persis seperti jam tangan yang sedang kukenakan di tangan kananku. Persis sama. Aku mengamati jam tangan putih yang kukenakan, dan aku baru menyadari bahwa jam tangan di tanganku sudah tidak berwarna putih bersih lagi. Persis seperti jam tangan putih-yang-dekil yang ada di atas meja.

Kemudian, masa lalu menimpaku. 

Di masa lalu itu, sekilas, aku sedang memakai jam tangan putih-yang-dekil. Kemudian aku melakukan suatu hal menyenangkan yang bisa lebih kunikmati apabila aku melepas jam tanganku. Aku pun melakukannya, dan melanjutkan mengerjakan hal menyenangkan tersebut. Setelah itu, aku berlalu, meninggalkan jam tangan putih-yang-dekil milikku.

Dalam perjalananku, aku menemukan sebuah jam tangan putih yang sama dekilnya. Aku mengambilnya, memakainya, tanpa mengetahui bahwa itu bukanlah jam tanganku. Kemudian aku menjalani kegiatan seperti biasa. Tidak menyadari apabila ada benda yang selalu kubawa terus ke mana-mana, yang bukanlah hakku.

Masa lalu menyelesaikan perannya mengingatkanku, membawaku kembali ke hadapan meja lagi.

Di tanganku, terdapat jam tangan putih-yang-dekil yang bukan milikku. Milikku adalah jam tangan putih-yang-dekil yang ada di atas meja. Memang mirip, sangat mirip, bahkan persis. Namun, yang kukenakan bukanlah apa yang seharusnya kumiliki. Yang seharusnya kumiliki ada di hadapanku, membawa jam tangan putih bersih yang tidak ternoda.

Aku belum bertindak lebih jauh sampai kemudian gelap, dan aku terbangun.

Aku sadar akan sesuatu yang terkandung dalam mimpi itu setelah aku memutar mimpi tersebut di kepalaku beberapa kali. Itu bukan sekadar mimpi. Itu adalah petunjuk. Atau peringatan.

***

Aku mempunyai benda yang bukan hakku, ketika aku kelas 2 SMP. Itu kuanggap sebagai hutang. Kadang-kadang hutang itu mengejarku, membuatku bersalah dan membatin bahwa aku akan membayarnya, kemudian menghilang. Beberapa bulan kemudian, hutang itu mengingatkanku lagi, dan aku hanya melakukan hal yang sama; berjanji dalam hati akan segera membayarnya. Namun aku kembali lupa.

Hutang itu belum terbayar sampai sekarang. Benda itu masih melekat dalam diriku. Masih menjadi beban yang harus kupertanggungjawabkan. Hutang itupun mengingatkanku melalui mimpi. Allah mengingatkanku melalui mimpi.

Aku tidak sadar, bahwa jika aku mengembalikan benda yang bukan hakku itu (mengembalikan jam tangan putih-yang-dekil yang bukan milikku), Allah akan memberiku rejeki yang setimpal (jam tangan putih-yang-dekil milikku) atau bisa jadi yang melebihi apa yang kukembalikan (jam tangan putih yang bersih seolah masih baru).

Sekarang, aku bertekad bahwa aku akan segera mengembalikannya. Dan ini bukan hanya sekadar janji di mulut saja, bukan sekadar janji dalam hati saja. Sekaligus rasa terimakasihku pada-Mu, ya Allah. Terimakasih sudah mengingatkanku :')

Sincerely,
Rasya Swarnasta

#PakPolisiBlog

You Might Also Like

0 comment(s)