PA 8.0: Menunggumu Menungguku //Cerpen

Senin, Juni 01, 2015

Author's Note

Lagi pengen buat cerpen galau, habisnya kesibukan dan kegiatan nggak jelas membuatku jarang galau, sih. Masuk label limited edition ya.

Nama tokohnya Miclyra, Red, Gray—itu tokoh-tokoh yang aku pake di novelku yang judulnya Anonyme, proyek pribadi buat-novel-100-halaman-dalam-5-hari yang membuatku sukses jadi masokis sejati, lol. Jangan ngaku penulis masokis kalau nggak pernah ngadain proyek penyiksa diri semacam itu. *jangan gitu*

Yah, aku juga nggak mau ngelakuin itu lagi, sih. Bener-bener pembunuhan secara halus. Oke, selamat membaca cerpenku. Ngomong-ngomong, aku ngetiknya langsung tanpa berhenti, dan nggak bikin galau, kok, walaupun judulnya sempet baper dikit—harusnya.

***
MENUNGGUMU MENUNGGUKU
 
Aku menunggumu—yang menunggunya—untuk menungguku.

Aku mengharapkanmu—yang mengharapkannya—untuk mengharapkanku.

Aku menyukaimu, kau tahu?
Tanganku yang sedang mengetik mulai berhenti.

Tunggu, tiga baris pertama itu terlalu mainstream. Maksudku, yah, orang yang kita suka menyukai orang lain itu memang menyakitkan, tetapi bukan kita saja yang mengalaminya, kan? Justru jika orang yang kita suka menyukai kita secara langsung itu terlihat terlalu... entahlah. Kisah roman tanpa konflik-bertepuk-sebelah-tangan itu terlalu datar, tetapi konflik-bertepuk-sebelah-tangan sendiri itu sudah kelewat sering.

Aku memencet tombol backspace di keyboard kuat-kuat untuk menghapus tiga baris pertama yang aku tulis itu. Padahal, tiga baris pertama yang kutulis tadi sudah memakan waktu dua puluh tujuh menit, dan ujung-ujungnya kuhapus juga. Mengapa gadis seusiaku kebanyakan sangat mudah merangkai kata-kata yang penuh kosakata indah, sih? 

"Yah, kamu hapus. What a pity. Padahal tiga barisnya tadi sudah worth banget, lho, Mik," seorang anak laki-laki yang sedang membaca ensiklopedia Unsur-unsur Kimia.

Aku menoleh kepadanya dengan tatapan horror, seolah-olah ingin menerkamnya. Sebenarnya aku tidak suka dilihat oleh siapapun jika aku sedang mengetik, tetapi ternyata bersikap seolah-olah dia tidak ada itu mudah. Jika hanya seseorang seperti Red, sih, tidak masalah mau dia sedang ada di sebelahku atau sedang ada di atap sekolah siap-siap bunuh diri.

"Berhenti bicara pakai bahasa sok Inggris," kataku kesal. 

Namaku Miclyra. Dibacanya biasa saja, Miklira. Beberapa guru atau orang yang tidak mengenalku dengan seenaknya memanggilku dengan Miklaira, Maiklira, Maiklaira, atau Meklara. Tetapi, aku biasa dipanggil dengan sebutan Miki.

Red dan aku satu kelas ketika kelas lima SD dan enam SD. Yang kuketahui mengenai Red, dia hanyalah anak laki-laki culun menyedihkan yang tidak suka olahraga sama sekali, asyik dengan gadget dan novel filsafat di tangan. Kami tidak bertemu sama sekali sejak SMP, dan karena itulah, ketika bertemu lagi di SMA, aku tidak tahu apabila dia sekarang sudah menjadi cowok menyebalkan yang suka pakai bilingual di mana-mana.

Red mengangkat bahu, sudah kesekiankalinya aku menyuruhnya memakai bahasa Indonesia saja, tetapi dia selalu membela diri dengan beranggapan bahwa itu sudah otomatis dia lakukan. "Mana kutahu. Hanya saran, sih, kalau cerpen roman yang temanya cinta tak berbalas itu sudah banyak. Many writer use that, you know."

"Aku nggak akan mau dengar apa yang kamu bicarain kalau kamu pakai bahasa campuran yang bikin telinga gatal-gatal!"

"Kok kamu marah-marah, sih? Ke aku, lagi. Do not release your angry at innocent people—"

"Hiih!" aku menggosok-gosok sebelah telingaku dengan kesal. "Kalau kosakatanya masih berantakan itu tidak perlu sok-sok ngomong, deh!"

"Biar saja, kan? Practice make perfect," bantah Red, membela diri.

Kalau saja ada orang lain di kelas ini, aku tidak akan membubuhkan tanda seru berkali-kali. Kegiatan sore Sabtu ini hanyalah ekstrakurikuler basket, sehingga siswa-siswi yang tidak menjadi anggotanya memutuskan untuk pulang. Aku dan Red saja yang masih betah di kelas. "Ngomong-ngomong, ini bukan cerpen, ini surat," kataku, meralat apa yang sejak tadi ingin kuralat. "Aku harus menyerahkan surat itu hari ini, nih."

"Surat cinta?" Red mengerutkan kening. "Why—" sebenarnya Red akan terus melanjutkan kalimat bahasa Inggrisnya, tetapi menerima sorotan mata membunuh dariku, ia menelan ludah. "Oke. Kenapa harus sekarang? Nggak bisa besok, atau kapan-kapan?"

"Keburu Gray jadian, tahu. Kabarnya dia mau nembak cewek cheerleaders itu besok Minggu," aku melipat lengan.

"Oh," Red menganggukan kepala, kemudian menatap jam yang tertempel di dinding kelas. "Sekarang sudah jam empat kurang lima, lho. Basket selesai jam empat, kan? Gray pasti sudah siap-siap pulang, tuh."

Apa?!

Aku menolehkan kepala ke arah jam secepat cahaya. "Sudah tidak ada waktu lagi untuk ke fotokopian depan sekolah dan menge-print surat ini! Aku bahkan belum menulis suratnya!" kataku dengan panik.

"Tulis tangan saja kenapa?" tanya Red enteng.

"Nanti bisa dilacak, dong!" aku menggelengkan kepala kuat-kuat.

"Gosh, Gray nggak mungkin waste his time hanya untuk melacak penulis suratnya tahu. Memangnya, surat cinta yang kamu berikan adalah surat cinta pertama yang dia terima?"

Aku terdiam mendengar kata-katanya. "Oke, aku menulisnya di kertas," akhirnya aku menyetujui. "Tiga baris yang kuketikan di awal saja," aku merobek kertas di buku tulisku dan menuliskannya dengan cepat.

Red memandangi tulisanku, kemudian masih terdiam sampai aku melipatnya beberapa kali menjadi kecil. "Aku tidak percaya kamu punya nyali melakukannya. Do you think he will accept you so easily?"

Aku menatapnya kesal. "Diam, atau kalau tidak, kamu aku bunuh!" kataku ketus.

"..."

Seketika wajah Red berubah.

"Apa kamu benar-benar paham arti dari membunuh seseorang, Mik?"

Seketika, tubuhku membeku, dan aku menoleh kepadanya. Aku memandangnya tak berkedip. Suasananya jadi aneh. Apalagi, ketika sayup-sayup aku melihat Red mengeluarkan sapu tangan dari sakunya dengan tangan kanannya, dan tangan kirinya mencengkram silet itu kuat-kuat. "Tunggu... apa?"

"Bukan apa-apa," Red membalas dengan cepat, dia mengarahkan sapu tangan itu tepat di depan hidungku yang tanpa curiga menghirup aroma obat tidur yang memang dituangkan ke dalam helaian kain tipis itu kepadaku—dengan terencana.

Kakiku tidak mampu menopang tubuhku, sehingga aku langsung ambruk dengan mudahnya ke lantai. Namun sepertinya Red sengaja tidak memakai dosis yang cukup, sehingga aku masih mempunyai kesadaran beberapa saat. Red duduk bertumpu lutut di sebelahku, memegangi pergelangan tanganku.

Perlahan tapi pasti, Red menyilet urat nadiku. Aku tidak sebodoh itu untuk tidak merasakan sakitnya, tahu. Oke, ini sangat sakit. Menjadi pembunuh pun dia tetap menyebalkan—melakukannya dengan hati-hati begini.

"Sudah terlalu lama aku mengharapkanmu. Aku sudah lelah, Mik."

Aku terkejut mendengar kata-katanya, tetapi tidak ada ekspresi yang bisa kupasang di wajahku sebagai pertanda bahwa aku bereaksi dengan kalimatnya. Red mengambil sesuatu yang tergenggam di tanganku dengan mudahnya, yang aku tahu dengan pasti apa itu. Sebuah kertas yang terlipat berkali-kali menjadi bagian yang kecil. Red membuka lipatan kertas itu. Tertera tiga baris kalimat yang disusun rapi dengan gaya tulisanku.

Red meletakkan kertas itu ke sisi kanan tubuhku yang—mencoba bergerak pun tidak bisa. "Terimakasih atas selama ini, Mik, sudah membiarkanku terus... dan terus..." Red terdiam sejenak. "Waiting for you to waiting for me."

Masih saja pakai bahasa Inggris di saat-saat begini. Sekalipun aku akan mati, tetapi sepertinya Red sama sekali tidak berniat mengabulkan permintaanku. Setidaknya, kalimat berbahasa Inggris yang dia ucapkan itu tidak membuat telingaku gatal kali ini.

Red meninggalkanku seorang diri, ketika obat tidur dan rasa kesakitan yang mencapai klimaksnya benar-benar menggerogotiku sedikit demi sedikit. Setelah beberapa detik yang terasa sangat lama itu kuhabiskan hanya untuk mengerang penuh rasa sakit, di detik ke sekian yang rasanya seperti tiada akhir ini, aku menyerah.

Efek obat tidurnya memenuhiku, membuatku tertidur. Tanpa pernah terbangun lagi.
Aku menunggumu—yang menunggunya—untuk menungguku.

Aku mengharapkanmu—yang mengharapkannya—untuk mengharapkanku.

Aku menyukaimu, kau tahu?

TAMAT
 also dedicated to #NulisRandom2015 day 1

***

Author's Note:

Bukan sepenuhnya salahku, lho._. (Tau aja bakal disalahin.) Aku juga kaget kenapa ceritaku jadi kayak gini. Sebenernya aku cuma pengen belokin cerita biar bisa ngepas ke judul lagi soalnya aku males ngescroll atas buat ganti judul, lalu.. jadi kayak gini, deh.

Ngomong-ngomong, yang dijadiin display picture buat ceritaku itu dari anime Hyouka. Animenya keren banget, dan termasuk anime yang paling dibanggain sama studionya. 
Oke. Kabur aja, ya. Bye. /kaburbeneran

***

Ngomong-ngomong, buat penutup, aku mau kasih tau kalau aku sekarang lagi tergila-gila sama manga online, bukan anime. Habis kepincut sama Last Game, aku sekarang suka sama manga Haru Matsu Bokura, karya Anashin. Baru 12 chapter, dan recommended banget! Bener-bener, deh, art-nya Last Game dan Haru Matsu itu pantes jadi modal buat diangkat jadi anime.

Bagaimana, sih, perasaan menjadi anak perempuan biasa dan normal, yang dengan suatu kecelakaan bisa bersahabat dengan empat orang lelaki paling diidolakan di sekolah?


Sincerely,
Rasya Swarnasta

Pitik Angkrem 8.0

You Might Also Like

0 comment(s)