PA 18.0: Add a subject here. [END] //Cerpen, dan matematika

Kamis, Juni 11, 2015

CERPEN INI TIDAK TAHU JUDULNYA APA
bagian akhir

Aku bersandar pada pohon yang ada di luar sekolah. Dimas berjalan bolak-balik, bingung mau berbuat apa. Seharusnya aku membawa ponselku ke sini, aku masih bisa-bisanya membatin hal seperti itu tanpa merasa berdosa. Dimas sendiri kelihatannya anak baik-baik, sehingga sikap tidak tenangnya dengan jelas.

“Santai saja, diusir dari kelas bukan berarti ini akhir hidup kita, kan?” aku mengangkat bahu, memamerkan sikap entengku. Dimas menghentikan langkahnya, merasa tersindir. Aku sengaja tidak melihatnya, mataku menatap lurus-lurus ke sebuah bangunan SMP di hadapanku. “Ini SMPmu?” tanyaku memastikan.

“Hm? Iya,” Dimas menganggukan kepala. SMPnya Dimas memang berhadapan dengan SMA kami. Aku menatapnya, dan Dimas kemudian berjalan ke arah pohon di sebelah pohon yang menjadi tempatku bersandar, lalu juga ikut-ikutan bersandar di sana. Sebenarnya aku mau meledeknya yang mengikuti caraku, tetapi pandangan Dimas yang memandang bangunan itu mulai berubah nanar.

“Ada apa?” tanyaku memancingnya.

“Dulu Nek Pipit sering sekali mengajariku matematika. Sering sekali pulang sore, karena beliau tinggal sendiri. Bahkan beliau sangat suka kalau aku datang mampir dan membawakan kue atau semacamnya,” Dimas bercerita panjang lebar tanpa aku minta. Aku tidak berkedip masih memandanginya. Sepertinya ini sisi karakternya yang baru.

Aku bergumam seadanya supaya Dimas mengetahui bahwa aku menyimaknya. “Kalau begitu, kamu tahu mengapa Nek Pipit tinggal sendirian di rumah?” aku menimpali.

Dimas menganggukan kepala. “Begitulah,” pandangan matanya berkeliaran entah ke mana. “Nek Pipit sendiri yang cerita—dan aku tidak bisa memaafkan kakaknya. Kakek Ir itu.. kalau seharusnya dia menyayangi Nek Pit, seharusnya Nek Pit tidak diusir dari rumah. Apapun alasannya, nggak seharusnya seorang kakak memperlakukan adiknya kayak begitu!”

Oke, Dimas benar-benar terbawa suasana. Tapi aku hanya diam saja.

“Makanya, itulah sebabnya aku mengatakan hal itu kepadamu ketika kita bertemu seminggu yang lalu,” Dimas tidak berani menatapku, aku tahu dia merasa tidak enak. Aku sendiri juga tidak menatapnya, aku hanya manggut-manggut saja.

Ia mengangkat bahu. “Yah, aku minta maaf. Tapi, aku selalu bersama dengan Nek Pipit. Aku selalu menyimak pelajarannya, aku selalu mendengarkan ceritanya. Jadi itu sebabnya aku tidak akan pernah memaafkan Kakek Ir,” Dimas mulai berhenti bersandar, badannya menegak. “Aku pernah mengajak Nek Pipit berdiskusi soal itu.. dan beliau hanya tersenyum sambil mengatakan, ‘Apakah dia tahu kalau aku sekarang bahagia, ya?’ begitu katanya! Begitu, Dy!”

“Oke, tidak usah dibuat terdengar melankolis,” kataku buru-buru. Sebenarnya, hatiku sudah berdesir membayangkannya, tetapi aku tidak suka hal yang sedih-sedih.

Dimas tidak membuang suasana yang dia buat. “Seandainya.. seandainya saja kakek-kakek itu masih hidup, sudah tua renta begitupun, pasti akan kuhajar habis-habisan sampai dia menyesal!”

“...”

Apa?

Napas Dimas tersengal-sengal, dia benar-benar mengucapkan itu semua dengan membawa seluruh perasaannya. Hanya saja, aku menatapnya dengan bingung. “Tunggu dulu,” aku mengangkat sebelah tanganku, seolah-olah mengajukan pertanyaan saja.

Dimas terdiam, menunggu pertanyaanku.

Sebenarnya, aku tidak bertanya, aku ingin memastikan sesuatu. Aku menatapnya lurus-lurus. “Kakek masih hidup, kok.”

“...”

“...”

“APA KATAMU?!”

Astaga, dia tidak mengetahuinya.

“Ha-habis aku tidak tahu kalau selama ini kamu mengira Kek Ir sudah meninggal!”

“Jadi dia masih hidup sungguhan?!”

“Dia memang masih hidup!” aku menekankan, membuat Dimas akhirnya diam, namun masih syok. Mana aku tahu coba kalau dia berpikir Kakek Ir sudah meninggal. Kalau tahu begitu, kan, aku bisa mengungkapkannya sejak sebelum ini. “Oh,” aku tiba-tiba teringat sesuatu. “Tetanggaku itu cucu Nek Pipit, setiap tanggal tujuh selalu menjenguk Kakek Ir. Mau mencoba ikut dengannya besok?”

Muka Dimas memerah lagi. “Tapi.. aku, kan, bukan siapa-siapa..”

“Bukan masalah, kok, aku juga pernah ke sana,” kataku menenangkan. “Aku ikut menemani, kok! Bagaimana?”

Dimas menganggukan kepala sedikit. “O-oke.”

***

Esok harinya, kami benar-benar melakukannya. Aku sendiri, sih, tidak menyangka juga bahwa Dimas memang sungguh-sungguh akan hal itu.

Ken mengerlingkan mata kepadaku, sebelum kemudian dia membuka pintu ruangan Kakek Ir. Ken masuk, disusul aku yang berjalan lebih dulu, kemudian Dimas mengikuti di belakangku. “Kakek Ir hanya bisa berbaring di rumah saja sekarang,” aku menjelaskan dengan pelan kepada Dimas. Kalau dipikir-pikir, aku sudah sangat lama juga tidak mengunjungi beliau. Ken sebenarnya agak melarangku karena suatu alasan.

“Kakek, ada tamu, nih,” Ken memperkenalkan Dimas.

“Ya? Siapa, ya?” Kakek Ir menoleh kepadaku dan Dimas. Aku tahu bahwa penglihatan beliau sudah rabun, meskipun suaranya masih terdengar cukup jelas.

Dimas menatap Kakek Ir. Aku tahu tidak mungkin dia menghajarnya-habis-habisan atau apalah yang dia katakan. Dimas masih saja terdiam. Aku juga tahu bahwa dia masih syok bahwa orang yang selama ini mengganggu pikirannya ternyata ada di depan mata.

“Eng, itu.. eng..” Dimas mulai berbicara, ketika aku menyikutnya. “Nek Pipit.. ng.. Nek Pipit..”

“Pipit?” Kek Ir menatap Dimas, kemudian menatapku. “Pit, sini.”

Inilah yang Ken tidak suka melihatnya—karena dia selalu ingin menangis. Kakek Ir sudah rabun dan pikun, beliau selalu menganggapku sebagai Nek Pipit setiap kali aku datang menjenguk. Aku menurut saja, aku menghampiri dan Kakek Ir memegang kedua tanganku. “Kamu masih tidak berubah, Dik.”

Aku berusaha menahan air mataku kuat-kuat, dan Ken yang ada di sebelahku sepertinya juga sedang melakukan hal yang sama.

“Sekarang, kamu bahagia, kan?” beliau mengatakan itu kepadaku, raut wajahnya penuh senyuman bersalah. Aku mengangguk cepat.

Dimas sendiri memandang kejadian itu tidak percaya. Seketika terbayang di benaknya bagaimana saat Nek Pipit mengatakan itu kepadanya dahulu.

Aku melirik ke arah Dimas, dan Dimas sekarang sedang dalam posisi seratus persen dilanda longsoran nostalgia. Aku buru-buru menarik diri. “Aku dan Dimas keluar sekarang saja, Ken,” aku mohon ijin pamit, ketika Ken mulai mengambil alih situasi. Ken menganggukan kepala, melambaikan tangan kepadaku dan Dimas. Aku membalasnya, kemudian aku buru-buru menarik kaos bagian lengan Dimas dan menyeretnya keluar.

Aku mengajak Dimas ke taman di mana aku dan Ken sering mengobrol bersama. Kami duduk di ayunan, dan aku mengayun-ayunkannya, berbeda dengan Dimas yang hanya menggunakannya untuk duduk seolah-olah itu kursi biasa. Karena merasa harus mengajaknya mengobrol, aku berhenti berayun. “Jadi? Bagaimana?” tanyaku menagih pendapat.

“Ng..” Dimas hanya menggumam saja. “Tadi ketika beliau mengatakan itu, raut wajahnya sama seperti Nek Pipit. Kalimatnya juga..” sepertinya, bagian yang itu sangat menyentuh Dimas.

“Apakah dia tahu kalau aku sekarang bahagia, ya?”

“Sekarang, kamu bahagia, kan?”

Aku menepuk bahunya. “Santai saja,” kataku, mengajaknya tersenyum. “Nek Pipit pasti bahagia, kok.”

Dimas tersenyum sedikit, membalasku. “Sama sepertiku sekarang,” katanya. Kelihatannya, beban berat yang selalu membuat wajahnya terasa culas dan suram sekaligus sudah terangkat. Kini, Dimas tampak lebih tenang seolah-olah tidak ada masalah yang pernah menimpa dirinya sedikitpun. Kisah menggantung Dimaspun berakhir, diiringi dengan rasa bahagia oleh orang yang bersangkutan.

“Aku juga,” kataku menimpali. Aku juga termasuk pihak yang bersangkutan, dan aku bahagia juga bisa membantunya.

Dimas mulai berayun-ayun di ayunan yang didudukinya. “Hentikan obrolan yang mengarah ke suasana canggung seperti ini.”

“Suasana canggung—!?”

“Ngomong-ngomong, aku masih membencimu.”

“K-Kok begitu?!” aku memprotes dengan kesal, dan tiba-tiba Dimas tertawa kecil. Aku ingin membahasnya, namun karena aku tahu bahwa dia memang hanya ingin memancingku, aku balas tertawa juga.

Setiap kisah yang berakhir, pasti akan ada kisah baru lagi.

Jadi, hanya menunggu waktu mengenai kapan kisah baru setelah ini dimulai, kan?

SELESAI
***

Ini nggak nyambung banget. Maaf, ya, aku buatnya keburu-buru jadi endingnya kayak begini, deh. Aku nggak tau judulnya apa. Kalian bisa kasih judul? Kalau kalian tahu judulnya apa, kasih tau lalu kirim via email ke rasyaswrnst@gmail.com, ya! Yang mau memberi judul dan judulnya kuterima, akan mendapatkan hadiah menarik :3 *kenapa rasanya kayak dilelang(?)*
Ini link ke setiap cerpenku:
Cerpen bagian lima (ini)
Jadi, aku mau cerita. Besok adalah UKK paling mengerikan yang menghantui kami semua siswa-siswi tak ingin berdosa, yaitu matematika. Aku belum ngecicil pelajaran dari kemarin, aku bener-bener nggak tau harus mulai dari mana mengenai pelajaran yang punya tripel Trigonometri, Geometri, sama Logika Matematika yang super horror ini. 

Lalu, harusnya aku belajar. Tapi adikku juga UKK matematika besok, dan sampai jam tujuh ini alesanku belum selesai-selesai ngetik dari jam setengah lima adalah karena aku bolak-balik ke meja adikku setiap kali adikku manggil nanya nomer yang nggak dimengerti-_- Dan nanyanya itu nggak main-main lagi. Aku habis duduk dan ngelanjutin ngetik habis jelasin ke adikku nomor tujuh, eh habis itu adikku tanya nomor delapan gimana TvT

Oke, aku kakak yang baik, sih. Udah, ya. Minta do'anya banget buat matematikaku besok :')

Sincerely,
Rasya Swarnasta

Pitik Angkrem 18.0

You Might Also Like

0 comment(s)