PA 17.0: Add a subject here. [4] //Cerpen, dan sedikit tambahan

Rabu, Juni 10, 2015

CERPEN INI BELUM BERJUDUL
bagian empat 

Jadi, Dimas ini membenci wajahku? Wajahku, kan tidak mungkin bisa diperbaiki. Dia bercanda atau tidak, sih, ketika mengatakannya? Atau jangan-jangan hanya membuatku kesal saja? Aku memutuskan untuk memikirkan itu terus-terusan, sehingga tidak menghabiskan waktu istirahat dengan makan di kantin.

“Maudy,” tiba-tiba ada seseorang memanggilku, memasuki kelas. Aku mengangkat kepala sedikit terkejut. Galang memasuki kelas, dengan membawa buku tebal yang memang kuminta tempo hari. Album kelulusan. Galang duduk di tempat duduk Dimas, kemudian membuka halaman yang sudah ia tandai. “Nih, almarhumah Bu Pipit. Mirip, kan, denganmu?”

Aku menyipitkan mata. Memang sama seperti yang sudah kubayangkan, sih. “Yah, aku pernah bertemu beliau, kok. Beliau adalah nenek tetanggaku, aku memanggilnya Nek Pipit,” kataku memaparkan.

“Oh?” Galang hanya menanggapi pendek. “Dimas juga memanggilnya Nek Pipit, lho. Dia butuh pelajaran tambahan matematika, dan Bu Pipit mengajarinya. Katanya, sih, seringkali berbagi cerita begitu. Lalu, Dimas diminta memanggil beliau Nek Pipit.”

Aku mengangguk-anggukan kepalaku. Diam-diam, masih tidak habis pikir. Mengapa Dimas begitu membenci aku yang berwajah sama dengan Nek Pipit?

“Galang, ternyata kamu di sini. Kucari tadi ke kelas,” tiba-tiba muncul suara baru. Sudah kuduga, sih, bahwa itu Dimas, tanpa aku menoleh kepadanya seperti Galang. Dimas mendekat, mengambil buku itu dan memangkunya dengan kedua tangan. Sorot matanya agak berubah ketika menatap foto Nek Pipit. Apalagi saat menatapku, terlihat dari reaksinya yang lalu mencibir.

“A-apa?” aku mencoba menantangnya, tidak terima dengan pandangan matanya yang benar-benar menunjukkan bahwa dia benci sekali kepadaku. “Aku nggak pernah sudi ditatap dengan pandangan seperti itu oleh laki-laki yang mengkritik wajah seorang perempuan!”

Galang langsung mengambil langkah mundur. “Aku ke kelas, ya. Dimas, bukunya kamu bawa dulu saja,” sambungnya buru-buru, karena tahu bahwa buku album kenangan yang sedang di bawa Dimas itu sulit jika direbut begitu saja. Aku dan Dimas tidak ada yang mempedulikannya. Dimas tidak segera kembali duduk di tempat duduknya, dia masih berdiri di hadapanku. Kami hanya terpisah jarak karena meja.

“Mengapa orang yang wajahnya sama seperti Nek Pipit kepribadiannya seperti ini, sih,” Dimas membuang muka.

“Tuh!” aku menudingnya sekuat tenaga. Dimas mengangkat kedua alisnya, agak terkejut melihat reaksiku yang membalas ucapannya dengan cepat. “Kamu tidak normal, deh. Aku bisa membayangkan, sih, sedekat apa kamu dengan Nenek, sampai belajar privat begitu. Tapi, kamu tidak normal!”

BRUK!

Buku album kelulusan yang dipegang Dimas terjatuh. Untung bukan terjatuh ke lantai, hanya terjatuh ke atas meja saja. Buku yang jatuh begitu keras mengakibatkan meja bergetar, dan selembar kertas kecil dari laci Dimas terjatuh karenanya. Aku memungut kesal. "Bisa-bisanya kamu menjatuhkan bukunya, segitu syoknya kah?" tukasku.

“Tunggu—itu—!” Dimas kelihatan ingin merebutnya, namun jelas tidak bisa karena badannya terhalang meja.

Ternyata ini adalah sebuah foto. Aku membalikkan lembaran tersebut untuk melihat fotonya.

Ini.. aku?! Persis sekali denganku, dan di sebelahnya ada seorang anak laki-laki yang mirip dengan Ken. Aku dan Ken?

“A-apa-apaan ini!” aku langsung memperlihatkan kepadanya terang-terangan. “Ini aku? Aku menolak mempunyai penguntit yang membenci wajahku seperti kamu!”

“Ehem.”

Muka Dimas memerah. “Itu bukan kamu,” tukasnya, tetapi wajahnya masih memerah.

Aku mengerutkan kening, kemudian melihat foto itu sekali lagi. Oh.. berarti.. ini foto Nek Pipit. Dan yang disebelahnya adalah Kakek Ir, kakak beliau. Aku menoleh kepadanya lagi, tetap saja memasang tampang tidak terima. “Tuh, kan, kamu itu tidak normal! Jadi ini sebabnya kamu membenciku yang wajahnya sama dengan Nek Pipit ketika muda?”

Dimas tidak mau mengakuinya, meskipun itu memang benar. “Aku hanya melihat kenyataan yang ada. Me-memangnya tidak boleh?!”

“Ehem.”

“Oke, setidaknya sekarang aku tahu,” aku melipat lengan. “Seandainya kamu dilahirkan lima puluh tahun lebih cepat,” sambungku, membalasnya dengan kesal.

“Oh, jadi sekarang kamu juga membenciku!”

“Aku memang membencimu, Penyuka Nenek-Nenek!”

“EHEM.”

Suara ‘ehem-ehem’ yang tadi kudengar ternyata bukan halusinasi semata. Aku dan Dimas menoleh ke sumber suara, dan kami baru menyadari apabila kelas sudah dimulai. Guru yang memperoleh jabatan tidak tertulis dari kakak kelas sebagai guru yang tergalak dan yang seharusnya ditakuti, kini sedang berdiri di meja guru, memandang kami lurus-lurus. Astaga, kini kami berdua akan mati.

“Kalian berdua,” beliau menuding Dimas lebih dulu, kemudian menudingku. “Keluar. Bukan keluar dari kelas, namun keluar dari sekolah. Sampai pelajaran saya habis. Mengerti?”

Aku dan Dimas menelan ludah.

BERSAMBUNG

***

Sesuai judul, aku mau menambahkan sedikit. Tadi di sekolah nggak ada kejadian spesial, sih. Aku sama Lisa ke perpustakaan, diusir, lalu pulang. Besok ujian PKn sama Bahasa Indonesia. Ini cuma sekilas info. Sedikit tambahan yang aku maksud dijudul bukan yang ini.

(dramatis dan melankolis mode: ON)

Aku cuma mau merenung bentar, sih. Maksudnya, aku udah hidup selama lima belas tahun dan ini pendidikanku tahun ke sepuluh, kalau dihitung dari kelas 1 SD. Aku sudah mengalami ujian semesteran banyak, ujian yang memang diterima pelajar pada umumnya. Seiring berjalannya waktu, lama-lama aku sadar kalau berbagai macam orang ada yang merubah karakter mereka waktu ujian, yah, itu aku tahu. Aku udah tau sejak kelas 5 SD, dan rasanya aku bisa nerima hal itu. Wajar, gitu.

Tapi, rasanya malem ini ada yang beda. Aku baru malem ini dibuat sadar apa maksud dari perubahan-karakter-sahabat-menjelang-ujian. Aku pengen nelpon mereka tapi takutnya mereka lagi belajar. Aku nge-chat dan nggak ada balesan, bahkan nggak dibaca sama sekali. Lalu aku baru.. entah kenapa, sih.. aku ngerasa takut sendiri. Beneran. Rasanya aku sekarang sendirian, sementara mereka-mereka yang giat belajar dan "study-holic" udah di depan, jauh di depan, berkutat sama buku-buku mereka.

Aku bukan tipe orang yang berubah kalau ujian, aku masih bisa kalau diajak jajan atau pulang sore, atau chattingan sampai malem banget. Sayangnya, nggak semua orang bisa melakukan kayak gitu. Ada orang yang kalau hari-hari biasa mereka bisa, tapi kalau sudah menjelang ujian mereka bener-bener langsung pulang cepetlah, langsung matiin hapelah, langsung.... nyebelin, sih, kalo aku boleh bilang, hehe. Tapi karena aku nggak berhak bilang kayak gitu, aku maklum aja.

Jangan ambil hati, ya, dear orang pinter. Aku tau kalian pasti punya alasan di balik itu semua, kok.

Sincerely,
Rasya Swarnasta

Pitik Angkrem 17.0

You Might Also Like

0 comment(s)