PA 16.0: Add a subject here. [3] //Cerpen, dan lain-lain

Selasa, Juni 09, 2015

CEPREN CERPEN INI BELUM BERJUDUL
bagian tiga

Seminggu penuh aku masih tidak habis pikir mengapa dia mengatakan hal itu kepadaku. Senin malam adalah pertama kalinya aku memimpikan dia. Kemudian malam selanjutnya lagi, malam selanjutnya lagi, sampai Sabtu malam sehingga aku bangun dengan suasana hati yang buruk pada Minggu esoknya.
“Kamu tidak mencoba tanya ke teman lain? Siapa tahu mereka tahu,” Ken mengangkat bahu, dia mencoba memberi suatu saran.
“Sudah,” aku membalas dengan lesu. “Kemarin Sabtu ini. Teman cowoknya dari kelas sebelah, namanya Galang. Dia teman SMP nya Dimas, dan mereka kadang jajan bersama ke kantin. Siapa tahu Dimas pernah cerita.”
“Lalu? Bagaimana?” Ken menagih terus.
Aku menggelengkan kepalanya. “Galang malah tidak tahu apa-apa, soalnya Dimas tidak pernah cerita hal-hal pribadi semacam itu. Dia malah komentar kalau aku mirip wali kelas mereka ketika mereka kelas 1 SMP dulu. Almarhum Bu Pipit, nenekmu itu, lho, yang sempat menjadi guru di SMP favorit di kota.”
“Oh, ternyata mereka berdua dari SMP itu,” Ken langsung merasa tertarik karena membicarakan mengenai neneknya. “Yah, waktu nenekku itu ke sini lima tahun lalu, kamu juga sudah dikatai mirip, kan? Bukan hal baru, dong, untukmu, kalau dikatai mirip dengan Nek Pipit.”
Nenek Pipit adalah nenek Ken. Meskipun dipanggil nenek, tetapi beliau masih tergolong muda, usianya juga cocok untuk disebut ibu-ibu. Karena itulah, beliau masih bisa mengajar sebagai guru matematika di SMP favorit, bahkan dipanggil Bu Pipit. Sayangnya, Nek Pipit yang hidup sendirian di rumahnya ini meninggal karena sakit.
Ya, Nek Pipit memang hidup sendirian. Sebenarnya ketika masih muda dahulu, beliau menumpang tinggal di rumah kakaknya yang sudah berkeluarga. Tetapi entah alasan apa, beliau diusir oleh kakaknya. Kemudian, Nek Pipit mengabdi sebagai guru matematika, dan tinggal sendirian sampai akhir hayatnya.
“Iya, dia justru malah mengatakan begitu. Tidak ada hubungannya dengan topik yang kubahas,” aku menggerutu sendiri. “Oh, ngomong-ngomong, kabar kakaknya beliau bagaimana?” tanyaku, sekalian saja membuka topik percakapan baru sebentar.
Ken mengangkat bahu. “Merasa bersalah atau tidak, sih, aku tidak tahu. Hanya saja, karena faktor usia, Kakek Ir sekarang hanya bisa berbaring saja di rumah, padahal empat bulan lalu masih bisa jalan pagi.”
“Hm,” aku hanya menanggapi pendek.
“Ya sudah,” Ken kembali bermain ayunan lagi. “Tanya saja langsung kepada Dimas. Tidak ada jalan lain lagi. Masa’ kamu disuruh berpikir dan mencari jawabannya sendiri? Sekarang saatnya kamu menagih maksud darinya, mengataimu seperti itu pada pertemuan pertama,” tumben-tumbennya, Ken mengatakan sesuatu dengan kalimat panjang.
Aku terdiam, entah menyetujui atau tidak.
Setiap hari, posisi tempat duduk kelasku selalu berubah selama seminggu. Kemudian begitu pengulangan hari mulai datang, kami menggunakan tempat duduk yang kami gunakan minggu kemarin. Jadi bisa disimpulkan, bahwa hari ini, hari Senin ini, aku duduk bersebelahan dengan Dimas. Jika aku melewatkan kesempatan ini, maka aku harus menunggu sampai seminggu setelahnya.
“Sebentar, saya ambil daftar nama dahulu,” pelajaran pertama tiap hari Senin ini memang pengarahan dari wali kelas. Karena wali kelasku sedang ke luar kelas untuk mengambil papan presensi, aku mengajak bicara Dimas.
“Dimas,” panggilku langsung, aku menoleh kepadanya.
Dimas menoleh. “Ada apa?”
Aku mengangkat kedua alisku. “Lho, bukannya kamu benci padaku?” tanyaku memastikan, aku bertanya dengan nada polos, seperti orang bodoh saja.
“Iya, benci,” Dimas membuka botol minumnya, membuatku kehilangan harapan. Dia menyebalkan juga. “Tapi, aku tidak suka bersikap jahat,” sambungnya, kemudian meminum air di dalam botol minumnya. Aku memandanginya canggung. Jarang juga ada lelaki seperti ini...
Tunggu dulu. Tetapi, bukan berarti aku bisa-bisanya bermimpi aku melamarnya, kan?! Rasanya aku ingin menampar kedua belah pipiku sendiri.
Aku berdehem. “Jadi,” aku mengangkat bahu, mengikuti gaya Ken. “Jadi, apa yang kamu benci dariku?”
Dimas memandangiku sebentar, sepertinya tidak yakin akan pendengarannya sendiri.
“Siapa tahu, aku bisa merubahnya,” sambungku lagi.
Dimas melipat lengan, pandangannya masih menatapku, namun berubah datar. “Wajahmu,” jawabnya enteng, seolah tanpa beban.
“...”

UH-OH. Dia pernah merasakan bagaimana rasanya tertusuk ribuan tombak tidak, sih? Mungkin aku bisa memperkenalkannya. Dia seharusnya tahu bahwa gadis selalu sensitif apabila ada lelaki yang mengatai wajahnya, entah itu baik atau buruk, entah itu lelaki yang ia kenal atau tidak!

BERSAMBUNG

***

Yak, aku nulis cerpennya baru sampe situ. Besok ngetik lagi deh-_- Seharusnya aku selesaiin cerpenya sebelum ujian. Besok UKK Sosiologi sama Bahasa Prancis dan aku belum belajar sama sekali. Aku lagi ngedit blog Ramadhan di Sekolah, acaranya Farohis a.k.a Forum Antar Rohis Jogja. Aku bukan anggota Farohis, aku cuma ikut berpartisipasi di acaranya sebagai divisi media yang megang blognya.

Dan internetku itu lemot banget, hiks. Padahal nanti malem mau dicek. Jadi Ramadhan di Sekolah itu kegiatan "dari pelajar untuk pelajar" yang diselenggarain sebelum puasa sampai setelah puasa. Acaranya dibuka pake acara Tarbih Ramadhan atau Menyambut Ramadhan, 14 Juni besok. Informasinya udah aku posting di blognya tadi. Kalian mau cek blog yang aku kelola? :3 Di sini, tapi background nya belum aku ganti. Ceritanya aku kasih hijau dan daun gitu biar seger, tapi ternyata harus ada unsur Ramadhannya._. *iyalah sya*

Sincerely,
Rasya Swarnasta

Pitik Angkrem 16.0

You Might Also Like

0 comment(s)