PA 15.0: Add a subject here. [2] //Cerpen, dan cerita

Senin, Juni 08, 2015

CERPEN INI BELUM BERJUDUL
bagian dua

Aku memutuskan untuk mencuci mata dan pergi ke taman dekat rumah di hari Minggu yang kebetulan cerah ini.

Aku memainkan ayunan dan sengaja mengayunkannya jauh-jauh dengan gaya sama sekali tidak santai. Apa-apaan aku memimpikan dia semalam?! Kalau memimpikan dia bunuh diri atau dimasukkan ke dalam penjara karena mencuri mangga, sih, bukan masalah, tapi yang tadi?! Aku mimpi bahwa aku... bahwa aku... aku...

“Kamu mimpi bahwa kamu melamar dia?! Kamu!? MELAMA—”

“Bagus, Ken. Teriaknya kurang keras,” sindirku kepada lelaki sebaya yang sedang bermain ayunan di sebelahku.

“Habisnya, aneh juga kalau yang mimpi itu kamu,” Ken mengangkat bahu, kemudian bermain-main di ayunan lagi, berayun ke sana kemari. “Mungkin lebih baik kalau kamu bermimpi bahwa dia yang melamarmu. Kamu, kan, perempuan, masa’ kamu yang melamarnya, sih? Walaupun ini hanyalah mimpi, tetapi, memangnya kamu mau mengikuti tradisi prosesi lamaran versi Trenggalek?”

Aku menggeleng-gelengkan kepala kuat-kuat, semakin tidak terima. “Tunggu, aku yang melamarnya atau dia yang melamarkupun sama saja! Bagaikan kena kutuk, deh, kalau sampai-sampai itu terjadi,” aku bergidik sendiri. “Aku tidak pernah berbicara dengannya kecuali hari pertama masuk sekolah dengan segala hal menyebalkan dan tetek-bengeknya!”

Ken mengangkat bahu kedua kalinya, dia suka sekali melakukan hal itu kalau diminta menanggapi sesuatu, ingin memberi komentar, atau ingin sekedar menarik kesimpulan. “Jadi, kamu masih membencinya? Si Dimas ini? Bukannya ini bukan kali pertama kamu memimpikannya?”

Aku menggembungkan pipiku. Di kompleks sekitar rumahku, banyak sekali teman yang sebaya, salah satunya adalah Ken. Tetapi hanya Ken-lah yang merupakan teman yang seangkatan denganku, lainnya terpaut satu-dua tahun lebih muda, atau satu-dua tahun lebih dua. Karena itulah, aku lebih suka bermain dengan Ke  dibandingkan dengan yang lainnya.

“Kamu mengatakan itu kesannya aku selalu memikirkannya saja, sampai-sampai terbawa ke alam mimpi,” komentarku kesal. Lagi-lagi, aku tidak terima dengan teori yang sedang Ken coba berikan.

“Lho? Kamu memang selalu memikirkannya, kan?”

Tuh, kan, Ken selalu menarik kesimpulan yang justru menimbulkan kesalahpahaman. Kesannya, kan, aku memang menginginkan hal itu! Padahal, aku memikirkannya bukan karena aku mau memikirkannya! Aku menggeleng-gelengkan kepalaku kuat-kuat dalam hati.

Namanya Dimas, orang yang sudah beberapa kali muncul di mimpiku, padahal kami hanya pernah berbicara satu kali. Satu kali, ketika pertama kali bertemu saat hari pertama masuk sekolah, setelah Masa Orientasi Siswa Baru selama tiga hari. Saat itu, aku dan Dimas secara kebetulan duduk bersebelahan. Bukan mauku juga, sih. Tas Dimas berwarna coklat muda, dan begitu Dimas meletakkan tasnya di bangku kemudian dia pergi entah ke mana. Wajar saja jika kuanggap itu adalah tas perempuan. Betapa terkejutnya aku begitu mengetahui bahwa seorang anak perempuan masuk ke kelas dan menduduki bangku di sebelahku. Kalau mau pindah, kan, kesannya aku jahat.

Kelasku mendapatkan wali kelas yang kekanak-kanakan. Kelihatannya beliau bekas guru kelas satu SD, sebab beliau menyuruh kami untuk berkenalan dengan teman sebangku. Berbeda dengan siswa-siswi lain yang tampaknya memang duduk bersebelahan dengan orang yang mereka kenal, aku dan Dimas tidak mengenal satu sama lain.

Saat itu, aku hanya melirik Dimas sekilas. Seperti lelaki pada umumnya, sudah kuduga bahwa dia tidak akan mau memulai percakapan. Pasti harus perempuan dahulu yang angkat suara lebih dulu dan membuka pembicaraan. Istilah ladies first begitu terkenal dan seringkali laki-laki menggunakan hal itu sebagai senjata.

“Hei,” aku mengulurkan tangan, memulainya. “Namaku Maudy. Kamu?” aku bertanya balik dengan hati-hati. Gawat juga kalau dia menganggapku sok kenal.

Dia menatapku, kemudian diam. Masih memandangku cukup lama, membuatku salah tingkah saja—walaupun dia tidak begitu cakep, sih. Kemudian tanpa membalas uluran tanganku, raut mukanya mulai berubah judes. “Aku nggak mau mengakuimu sebagai seseorang yang aku kenal,” katanya tiba-tiba.

Seakan terbentuk lubang besar di daerah yang kupijak, membuatku terjatuh langsung ke dalamnya tanpa sempat menarik napas. Aku menatapnya, terpaku. “Apa?” tanyaku tidak percaya. Tetapi kemudian dia sudah menatap ke arah depan, tidak menggubrisku sama sekali. Karena kami duduk di bangku paling belakang pojok, tidak ada yang begitu memperhatikan kami.

Nah. Bagaimana mungkin aku tidak memikirkan dia sejak saat itu coba?!

BERSAMBUNG

***

Tadi, aku, Lisa, sama Mangga ke perpustakaan habis UTS Dasar Penelitian. Sebenernya dasar penelitian itu hasilku selalu nggak baik sih, tapi entah kenapa yang tadi adalah hasil termaksimal yang pernah aku buat selama aku sekolah di sini,  lol. Mangga lalu pamit duluan, aku sama Lisa masih di perpustakaan sama Wardah dan Ero.


Salah satu dari mereka jadi tersangka penjepretan ini(?). Aku awkward sendiri liatnya-_- Jadi waktu itu Lisa ngambil daftar hadir perpustakaan, dan aku ikutan liat. Fyi, kita berdua ngincer penghargaan dari sekolah buat anak yang paling rajin dateng ke perpustakaan HAHAHA. Ya mungkin karena kita gatau dengan cara apa supaya kita bisa dapet penghargaan dari sekolah, makanya kita memutuskan untuk mengejar tujuan itu. Dan untungnya sih itu malah membuat kita jadi pribadi yang lebih baik(?) karena kita malah jadi anak perpus :"))

Lalu Wardah sama Ero pulang. Lalu Afi dateng. Lalu Afi pulang. Orang-orang datang dan pergi :3 Aku sama Lisa pulang jam setengah dua. Lisa naik TJ, aku dijemput. Tadi kakak sepupunya Lisa, Mbak Phey (re: Mbak Pi) sama adeknya Lisa, dek Nasya, dateng ke SMA 6 =)) Soalnya Mbak Pi harus ke UNY tapi ke UNY nya jam tiga, jadi gabut. Oke lalu aku pulang, dan Lisa juga pulang.

Btw besok ulangan Geografi sama TIK. Modul Geografinya.... bahkan KBBI aja kalah dalam hal ketebalan :") /yanggakjugasih

Sincerely,
Rasya Swarnasta

Pitik Angkrem 15.0

You Might Also Like

0 comment(s)