PA 14.0: Add a subject here. [1] //Cerpen

Minggu, Juni 07, 2015

CERPEN INI BELUM BERJUDUL

Aku memutar pandangan, dan yang bisa kulihat hanyalah pantai—dan orang itu.

“Ada yang ingin kubicarakan,” tanpa bisa kuatur, tanpa bisa kukendalikan, mulutku membuka dan keluarlah sederet kalimat yang tidak memberi landasan apapun yang bisa kupegang sebagai alasan mengapa aku tiba-tiba mengucapkannya.

Orang itu menoleh kepadaku, rambut hitamnya pendek seperti lelaki pada umumnya, berkibar diterpa angin pantai yang kencang. “Apa?” tanyanya, dengan suara yang seharusnya terdengar menjengkelkan. Namun aku justru makin berdegup kencang. Hari itu sangat kencang, dan kami berdua mengetahui hal itu karena baik aku maupun dia kesulitan menyeimbangkan tubuh.

“Mau menikah denganku?” tanyaku tanpa pikir panjang.

“...”

Aku sendiri terkejut, di dalam hati. Tetapi karena aku ada di posisi yang melamarnya, aku tidak boleh menampakan reaksi yang sama seperti yang dia tujukan kepadaku. Ekspresinya yang tadi “sok ganteng,” itu kalau aku boleh menyebutnya begitu, sekarang berubah menjadi ternganga.

“Ya?” dia meminta pengulangan dariku rupanya. Aku awalnya tidak mau mengulang karena, astaga, mana mungkin aku mau mengulanginya? Tetapi siapa tahu dia memang tidak mendengarkanku karena suaraku kalah oleh angin yang—aku baru sadar—semakin lama semakin kencang. Aku saja mulai kesulitan berdiri.

Aku mulai berteriak, padahal jarakku dengan dia hanyalah lima meter saja. “Aku bilang, apa kamu mau MENIKAH dengan—!”

Dengan satu hembusan kencang, angin itu sukses menyapuku dan menyapunya, membuatku kehilangan keseimbangan dan terlempar jauh, tinggi, melayang entah ke mana angin ini berniat membawaku. Suara ‘gedebuk!’ yang keras adalah suara tubuhku yang mendarat di suatu tanah lapang. Aku mencoba berdiri secepat mungkin, namun angin masih tidak mau menyerah, terus menyerangku sehingga badanku terguling. Terguling, terus terguling dan tidak mau berhenti sekalipun aku memaksa badanku untuk melakukannya. Menyedihkan, aku tidak bisa mengendalikan badanku sendiri. Aku terguling, dan di jarak sekian meter dari tempatku terjatuh tadi, badanku yang terguling itu sukses terjatuh ke dalam suatu lubang besar yang tidak kusadari.

BRAK, BRUK, BRUKK!

Yang kusadari pertamakali adalah bahwa aku terjatuh dari tempat tidur.

Yang kusadari selanjutnya adalah bahwa semua itu hanya mimpi. Cerita yang sudah memakan hampir satu halaman kertas A4 berukuran 21 x 29,7 sentimeter ini ternyata hanya ilusi semata. Menyebalkan.

BERSAMBUNG

***

Sebenernya, aku nulis cerpen ini ketika aku baca salah satu novel terbitan gagasmedia di perpustakaan. Aku lupa judulnya apa, yang jelas tentang kisah nyata seorang penulis yang jadi TKI. Aku inget banget sama novel itu, karena kalimat pertamanya:
"Anda tidak salah lamar?"
Yang ngebuat aku sama Lisa pas baca itu bareng-bareng di perpustakaan ngakak=)) Koplak banget kalimat pertamanya. Karena kalau buat ikutan kalimat pertama kayak gitu bakal jadi plagiat, aku mutusin buat jadi adegan pembukaan aja. Ini masih ada lanjutannya, lho. Udah sampe halaman 5, sih.

Ceritanya pengen aku posting sampe halaman 5. Tapi bisa dipastikan beberapa hari ke depan UKK yang ganas kayak Matematika, Kimia, Biologi, Sosiologi, Geografi dan sebagainya bakal menerkamku habis-habisan. Makanya itu aku pake cerpenku aja, ya. Dan ini belum ada judulnya, hehe. Belum selesai sih u,u

Sincerely,
Rasya Swarnasta

Pitik Angkrem 14.0

You Might Also Like

0 comment(s)