PA 13.0: The Perks of being a Wallflower //Review

Sabtu, Juni 06, 2015

The Perks of being a Wallflower! Karena tiga belas ini angka favoritku, jadi aku mau membahas film terbaru yang kutonton! x3 Aku baru nonton hari ini, tadi begitu selesai beres-beres kamar. Film yang udah pengen banget kutonton sejak lama ini, akhirnya baru kesampaian sekarang. Oke, review dimulai ya.


Menurut saya, secara plot cerita yang bertema sekolah, tema awal yang diambil tergolong pasaran: seorang tokoh utama yang tidak mempunyai seorang teman karena belum bisa beradaptasi di hari masuk SMA. Hanya saja, yang membuat berbeda adalah mengenai masalah penyakit traumatis yang menimpa tokoh utama tersebut. Ditambah dengan karakter pendukung, sekejap membuat tema yang dibawakan di cerita ini menjadi lain dan menjual.
Hai Kawan, aku bercerita padamu karena dia bilang kau mendengarkan dan mengerti, dan tidak mau tidur dengan orang itu di pesta meskipun kau bisa.
Jujur saja, awalnya saya tidak mengerti maksud kalimat pertama tersebut. Namun saya bisa mengerti lambat laun, bahwa si tokoh utama ini, Charlie (Logan Lerman) memang mempunyai semacam jurnal yang ia anggap kawan. Tertebak, bahwa Charlie kesulitan beradaptasi dan bergaul, dan itu dibuktikan dari sikapnya yang seringkali tidak stabil dan masih kebingungan sendiri.
SMA lebih buruk dari SMP.
Untunglah dia bertemu dengan senior-senior baik, seperti Patrick (Ezra Miller) dan Sam (Emma Watson). Bersama mereka berdua, Charlie diajak ke perkumpulan-perkumpulan mereka, dan mulai memahami kisah SMA yang sebenarnya. Selain itu, kakak perempuan Charlie, Candace, mempunyai pacar yang berkepribadian tidak baik karena Charlie pernah melihat sendiri Candace dilukai secara fisik oleh pacarnya tersebut.

Ketika plot mencapai pada saat Charlie menerima ajakan pacaran dari Mary Elizabeth, salah satu teman dalam perkumpulan mereka, hanya karena Charlie merasa kasihan, terasa sekali suasana alami masa-masa SMA. Ketika Charlie sedang memandang Mary, tiba-tiba tampang Mary serasa berubah menjadi tampang Sam, dan Charlie sampai mengerjapkan matanya untuk sadar. 

Pada acara tengah pesta dan ada tantangan truth or dare, menurut saya, sangat menarik ketika Charlie ditantang untuk mencium gadis tercantik di ruangan itu. Secara sikap, Charlie seharusnya mencium Mary karena mereka berpacaran. Namun mendadak dan tidak disangka, Charlie justru memilih Sam, dan saat itulah saya mulai merasakan puncak emosi Charlie yang bingung akan dirinya sendiri. Karena dia justru mencium Sam di depan senior-senior, di hadapan pacarnya sendiri, dan di hadapan pacar Sam yang kebetulan Sam juga mempunyainya.

Semasa kecil, diceritakan Charlie sangat manja pada bibinya. Namun di tengah perjalanan memberikan hadiah natal dan ulangtahun untuk Charlie, yang Charlie juga sudah menunggu bibinya di tempat mereka janji bertemu, bibinya kecelakaan dan tewas seketika. Charlie mengidap penyakit trauma yang jika kumat, dia bisa mengalami gangguan kejiwaan karena terus beranggapan bahwa bibinya meninggal karena dirinya. Ini adalah tambahan konflik yang sangat menarik karena membangun cerita.
We are infinite.
Mungkin karena keterbatasan durasi, konflik-konflik yang ada dan tersebar, diselesaikan secara ringkas. Hanya deretan kalimat monolog yang menyatakan bahwa Candace memutuskan untuk mengakhiri hubungan dengan pacarnya, monolog bahwa Sam juga memutus hubungan dengan pacarnya, tidak ada kisah yang menceritakan mengenai hal itu selain monolog film yang disuarakan oleh Charlie. Seandainya saja konflik tersebut (dan konflik lainnya) ditampilkan, itu akan menonjolkan film ini.

Rated 8.6 / 10


Sincerely,
Rasya Swarnasta

Pitik Angkrem 13.0

You Might Also Like

0 comment(s)