event

PPB 13.0 : Pantomim.. 65 Mime!

Selasa, Juni 30, 2015

Ada peristiwa yang seharusnya-tak-kulupakan di kehidupan SMA tahun pertamaku yang aku lupakan; pantomim
Aku baru sadar kalau aku nggak cerita tentang pantomim di sini. Aku cuma cerita betapa lelah dan bagaimana perjuangan mengikuti latihan pantomim yang rasanya nggak ada habis-habisnya. Aku nggak cerita tentang gimana rasanya kebahagiaan begitu pentas pantomim "65 Mime" sukses di TBY, gimana rasanya terharu waktu tau kalau cerita pantomim "65 Mime" yang paling dapet apresiasi.

 proudly present; 65 MIME! 

Kayaknya dulu aku kepikiran buat nulis postingan tentang ini, tapi oke, waktu itu ada tragedi yang menyerangku, iya. Dan lagi, waktu itu aku nggak punya satu foto pun buat aku tampilin di postingan blog ini. Sekarang, yah, aku cuma modal printscreen dari video pantomim yang dikasih Sherin, sih. Tapi seenggaknya ini bisa menjadi pendukung cerita.

Mulai! Sesuai namanya, "65 Mime" ini adalah pantomim yang berisikan anak-anak dari SMP Negeri 5 Yogyakarta dan SMA Negeri 6 Yogyakarta! Bangga? Bangga banget :')

 ini waktu adegan agak-awal pantomim di kelas..

Intinya, walaupun latihan pantomim itu sampai titik darah penghabisan, tapi waktu pentas, bener-bener rasanya ringan dan pas pentas selesai itu rasanya pengen mengulang semua lagi. Puas banget.

Singa, sang maskot dalam pentas pantomim ini ;w;

Ceritanya gampang dimengerti kok. Tentang suatu kelas yang melakukan outbond ke kebun binatang. Tapi anak-anaknya itu nakal-nakal ceritanya, mereka nendang-nendang kelinci, lalu ngasih makan hewan, dan lain sebagainya. Lalu waktu mereka foto-foto di depan kandang singa, ada suatu kecelakaan yang mengakibatkan pintu kandang jebol dan singanya muncul keluar OAO

Keributan terjadi di seluruh kota. Singanya mengamuk di pasar, di jalanan, di kelas, bahkan makin parah ketika di laboratorium, ada seorang profesor yang menjadikan tiga kelinci sebagai bahan percobaannya. Eh, nggak disangka, tiga kelincinya jadi ganas dan malah memihak singa xD

sang pasangan dalam pentas ini, ibu-ibu pelanggan di pasar dan pawang singa.
(aku baru kepikiran kalau mereka itu CRACK banget)

Sengaja aku ngescreenshot bagian itu. Aku suka sifat koplaknya mereka XD Itu adegan ketika si pawang singa, yang laki-laki, dengan nekatnya mengeluarkan jantung dari dalem badannya-__- Ceritanya, sih, mau gombal-tapi-nyata "Ini kuberikan seluruh hidupku padamu" tapi beneran dia lakuin dengan cara memberikan jantungnya kepada si ibu-ibu pelanggan pasar itu-__- Koplak banget parah:)) 


"Perwakilan" dari murid-murid sekelas yang mengakibatkan masalah, dua anak ini ikut bekerjasama dengan si pawang singa untuk melawan singa. Tapi, yah, maklum karena mereka masih anak sekolahan yang cuma gede badan doang, kalah deh. Untungnya, sih, dengan bantuan obat-obatan dari profesor yang ngubah kelinci jadi memihak kepada kejahatan, mereka berdua masih berjasa karena bisa ngalahin kelinci-kelinci yang jadi pengikutnya si singa.

  

Nih, si pawang singa akhirnya bisa menusukkan pedang ke dalam tubuh si singa. Habis itu ceritanya selesai deh XD 

 

Foto seluruh pemain dan berada di balik layar juga. Terimakasih atas segala waktu dan kesempatannya! Ini pentas pantomim pertamaku, dan aku nggak pernah lupa ini :") Tetep semangat, selalu lestarikan pantomim di Yogyakarta! Selalu tetap percaya diri, yakin dong kalau kita punya pengalaman yang membuat dalam diri kita mulai timbul bakat menjadi pantomim(?)


Lalu.... itu foto penutup :") Aku sama Mangga lagi saling membersihkan make-up satu sama lain :")

Sincerely,
Rasya Swarnasta

#PakPolisiBlog

jepang

PPB 12.0 : One Litre of Tears

Senin, Juni 29, 2015

One Litre of Tears
—Ichi Rittoru no Namida (based on true story)
Bukan cerita yang spesial.
Hanya kenangan seorang gadis yang dipilih oleh suatu penyakit langka.
Seorang gadis berusia 15 tahun, Ikeuchi Aya. Aya tinggal di rumah yang sekaligus jadi kedai tahu keluarganya. Anak kedua dari empat bersaudara. Ibunya adalah seorang perawat kesehatan, sementara ayahnya sering ganti-ganti pekerjaan sebelum menetap di rumah jadi penjaga kedai tahu.

Bisa dibilang, walaupun kehidupannya Aya itu sederhana, tapi Aya sendiri adalah gadis yang baik sekali. Dia bisa diterima di SMA Higashi, SMA yang terbaik di kota, walaupun dia hanya punya waktu satu jam mengerjakan karena terlambat datang. Aya menjadi ketua kelas di kelas barunya, 1-A, dan bisa memimpin dengan baik sekali. Aya juga menjadi konduktor di pertunjukan orkestra kelasnya, dan satu-satunya anak di angkatannya yang menjadi pemain reguler basket putri.

Semenjak Aya belajar keras untuk persiapan masuk ujian SMA, Aya merasa kalau dia semakin lama tubuhnya mudah lelah. Seringkali menjatuhkan sesuatu benda yang dipegang di tangannya, tidak bisa meletakkan sesuatu atau membaca dengan benar. Bahkan seringkali dia mengalami kesulitan berjalan dengan baik sehingga terjatuh—tetapi ini terjadi apabila dia berlari, jadi Aya menganggap itu karena dia sedang terburu-buru.

 
(Aya yang nggak bisa ambil botol kecap dan nuangin air ke gelas)
Day by day like this, will I be unable to do things?
Suatu hari, Aya terjatuh ketika berangkat sekolah. Aya terjatuh ke depan begitu saja sehingga dagunya berdarah. Ibunya, Shioka, merasa ada yang aneh saat itu. Karena biasanya, seseorang yang terjatuh akan refleks menggunakan tangannya untuk menahan agar tubuhnya tidak terluka. Namun telapak tangan Aya tidak terluka sama sekali. Dokter yang menangani luka Aya adalah dokter spesialis saraf, menyarankan agar Aya melakukan pemeriksaan.

Beberapa hari kemudian ketika hasil tesnya keluar, Dr. Mizuno baru mengabarkan kepada Shioka bahwa Aya mempunyai penyakit Spinocerebellar Atrophy—penyakit degeneratif syaraf. Penyakit ini menyerang sumsum tulang belakang dan otak kecil, muncul ketika bagian dari sistem saraf yang mengendalikan gerakan mengalami rusak. Penderita penyakit ini mengalami kegagalan kontrol otot pada lengan dan kaki, sehingga menghasilkan kurangnya keseimbangan dan koordinasi.

Shioka meminta waktu kepada Dr. Mizuno supaya Aya tidak mengetahui dulu penyakitnya seperti apa. Shioka juga menjelaskan kepada Aya bahwa penyakit Aya hanyalah faktor kelelahan dan masa puber. Dr. Mizuno akhirnya menyarankan kepada Aya supaya sejak hari itu, usahakanlah setiap hari menulis diary dan menceritakan apapun tentang Aya, termasuk gejala maupun kesehariannya.
If I weren't for this disease, I might even be in love.
Gejalanya muncul perlahan-lahan, tapi pasti akan terjadi. Terbukti dari Aya yang seringkali jatuh ketika pertandingan basket persahabatan dan tidak bisa menerima operan bola dengan benar. Di rumahnya, Aya juga tidak bisa memasukkan benang ke dalam jarum. Dia juga tidak benar saat menuangkan air botol ke dalam gelas, dan salah dalam penempatan kecap saat mencoba mengambilnya.


Film ini diangkat dari kisah nyata. Nama aslinya adalah Kifuji Aya, usianya sama, 15 tahun, dia yang aku pasang di gambar. Sama seperti di film, Aya juga disuruh untuk menulis buku harian. Dan cuplikan-cuplikan harian Aya dicantumkan di dalam bagian akhir tiap episode yang berjumlah sebelas ini. Dan, oke, aku nggak bisa berbahasa baku terus, yang bikin aku bersyukur aku nggak puasa jadi aku bisa nangis kejer itu waktu di diary yang terakhirnya, dia bilang...

Mum, can I marry someday?
Yak, di situ aku langsung nangis._. Tulisannya udah berantakan banget itu :'( Maksudku, yaampun, Aya itu so perfectly banget, dia cantik, baik, pinter, jago olahraga, mimpi deh bisa jadi kayak dia. Gimana, sih, dapet penyakit yang ngebuat kamu nggak bisa nulis, bicara, sama gerak? Kamu cuma bisa di tempat tidur doang? Padahal kamu pinter, padahal kamu suka basket?

Dr. Mizuno nyetujui aja waktu ibu dan ayah Aya nggak pengen Aya tahu duluan. Tapi, yah, karena Aya itu anaknya cerdas, jadi dia tahu sendiri. Di rumah sakit, Aya kenalan sama Yuko, gadis kecil yang ayahnya dirawat di rumah sakit karena punya penyakit itu. Waktu Aya tanya gelajanya, ternyata gejalanya persis sama dengan apa yang dia alami akhir-akhir ini; sering kesandung dan nggak bisa dengan mudah gerak.

Lalu, Aya cari sendiri, kan, informasinya di internet laboratorium Biologi sekolah. Aya udah ngasih tau duluan ke temen deketnya, Asou Haruto namanya. Tapi Aya nggak ngasih tau penyakitnya. Aya cuma bilang kalau Aya sendiri tau dia kena penyakit apa, maka dia bakal berubah.
Today is the last for me to be “me” –Aya to Asou.
Dr. Mizuki lama-kelamaan nggak mau kalau ibu dan ayah Aya cuma nyembunyiin terus. Akhirnya Aya dibawa ke rumah sakitnya bareng ibu dan ayahnya Aya, dan pas mau dikasih tau, Aya langsung bilang, “Is it Spinocerebellar Autrophy, Sir?” dan semua yang disitu langsung kaget TvT
Mum, I’m still 15. Why did this disease choose me? Too cruel..
Oke, minimal air mataku menggenang(?) terus di setiap episode._. Hiks, ini aku rekomendasiin banget, deh.

Sincerely,
Rasya Swarnasta

#PakPolisiBlog

holiday

PPB 11.0 : Makrab Pasutri!

Minggu, Juni 28, 2015

Sore kemarin sampai siang tadi, kelasku ada malam-keakraban alias makrab di villa Kaliurang yang super asyik pake banget! Kita makrab di villa Puri Wardhani. Tepatnya di Jakal km 25. Dingin, sih, jelas, tapi sebenernya nggak sedingin apa yang kubayangkan sih. Cuma airnya yang dingin nggak ketulungan XD

Aku datengnya waktu Isya’ soalnya aku habis dari acara workshop itu. Tapi baru pas hari kedua aku tau kalo aku datengnya nggak lama setelah rombongan yang cowok-cowok dateng. Malem Sabtu itu, waktu yang lain pada shalat Isya’ sama Tarawih, aku yang nggak ngapa-ngapain ini cuma bisa bingung mau ngapain(?). Aku bantuin ngirisin tempe buat masak sahur besok. Habis udah pada shalat semua, lalu jam sembilan atau sepuluhan gitu, ada acara seru yang menanti; bakar-bakaran! XD

Ini keren banget. Di halaman depan villa ada gazebo, dan kebanyakan dari kita duduk-duduk di situ. Dino dengan bakat terpendamnya sebagai tukang sate bisa buat api unggun dan nyalain tempat pembakaran. Lalu, Lusi, Natta, Aliya, Afi, aku, bakar sosis tusuk, bakso tusuk, sama jagung bakar. Yang sosis sama bakso tusuk itu, setiap anak udah dijatah satu anak satu tusuk. Jagungnya aku berdua sama Lisa.

Foto-foto juga, jelas, sih. Tau kamera merek Gopro? Karena kelas kita nggak punya kamera yang mahalnya selangit itu... kita nyewa=)) Ahmad yang memegang kendali atas kamera Gopro. Ngakak waktu di grup LINE, Ahmad habis ngeshare foto-foto hasil jepretan Gopro, dan kita semua pada mode copas “Makasih ahmad” banyak banget dan Susan nyempil bilang “Makasih gopro” =))

Sayangnya, Wisha, Wardah, Alma, Chika, Ucup, nggak bisa ikut makrab. Tapi nggak papa, deh. Dua puluh satu anak yang hadir di villa ini sudah cukup untuk membuat semua melupakan nilai-nilai rapor macam apa yang menimpa mereka :') Bahkan aku baru bener-bener inget rapor waktu udah sampai rumah, lol.

Habis bakar-bakaran, lalu Susan, Intan, Rani, Husnul, Natta, sama Fatma, main Truth or Dare. Afi, Aliya, Mangga, Ero, Sasha, Nabila tidur di kamar. Dino, Ahmad, Cahyo juga udah tidur di kamar cowok. Nah, cewek-cewek yang nggak kebagian kamar ngumpul semua di ruang TV, tidur dan beberapa nyimak permainan ToDnya. Oh, iya, ada Fariz juga di situ, dia nggak tidur.

Wehehe, selama ToD aku mendapat berbagai macam ilmu dan pengetahuan *plak* Diselingin Fariz yang main gitar terus. Sebenernya aku nyaris ketiduran di ruang TV, tapi semua berubah waktu Fariz main gitarnya nggak berhenti-berhenti dan dia emang enggak tidur. Akunya nggak mau tidur di ruang TV, soalnya ujung-ujungnya mesti nggak nyenyak.__. Aku baru bisa tidur jam dua pagi, waktu Nabila bangun buat masak. Nabila bangun, tempatnya langsung aku pake buat tidur sampe jam setengah empat. Lumayan, deh.

Habis sahur, beberapa ada yang mandi, ada yang tidur, ada yang ngobrol-ngobrol di ruang TV. Aku cuci piring dulu, dibantuin Natta sama Afi. Sebenernya aku cuma pengen cuci tangan, tapi risih banget ini piring udah polos cuma tinggal bilas kasih sabun lalu bilas, nggak usah pake gosok-gosok segala. Jadinya aku cuciin deh._.

Nah, lalu waktu komplit semua udah ngumpul di ruang TV, kita awalnya bagi-bagi award dulu. Ada 10 award yang dibagi. Aku pengen nyebutin award apa yang dapet siapa, tapi... ini aib kayaknya HAHAHA XD Biarlah hanya kami dan orang yang bersangkutan XD

Oke, lalu kita nyanyi-nyanyi dan segala macam :') Sampai lalu ke momen yang bahagia; kita semua urut dari presensi satu nyebutin apa kata-kata dan pesan-kesan selama di kelas X-1. Hiks sedih bangeeeet :') Pesan-kesannya itu direkam, kalo diputer ulang bener-bener bisa bikin suasana jadi terharu deh :')

Waktu momen sedih itu lewat, kita jalan-jalan. Cuma muter-muter aja, sih, tapi karena kita seringnya berhenti-berhenti jadi, ya, ini yang bikin lama-_- Waktu jalanan naik, itu bener-bener suatu cobaan. Dan lalu waktu jalanannya turun..... godaan pengen nggelinding itu bener-bener susah banget ditahannyaaa=))) Pulang sampe villa, kita istirahat bentar dan lalu.... ini yang bikin kita berasa jadi orang kurang kerjaan banget, nyalain kembang api-__- Padahal jam sudah menunjukkan sebelas kurang seperempat siang-_-

Kembang api yang sembur-sembur ke udara gitu. Kalo kembang api yang batangan, udah dinyalain semalem di sela-sela bakar-bakaran. Ngomong-ngomong, waktu beresin gazebo, aku nemu empat batang kembang api yang masih belum kepake dan pas yang lain udah pada masuk villa... dengan jonesnya aku nyalain tuh empat batang kembang api satu-satu-__- Berasa jones banget gitu, ya, udah malem, dingin-dingin, jaket udah aku pake nggak nunggu ada yang makein(?), lalu nyalain kembang api satu. Habis, lalu nyalain lagi... gitu terus sampe empat kali, habis itu aku baru masuk villa. Oke ini momen kejonesanku, jadi abaikan-_-

Kembang api yang sembur-sembur itu yang megang Cahyo, cowok lain nggak ada yang berani=)) Mana Cahyo megang kembang apinya versi alay mode lagi, lol banget=)) Yang bikin jerit itu waktu kembang apinya udah tiga kali nyembur, Cahyonya langsung ngarahin ke kita-kita-_- Bener-bener nggak nunggu dulu dan ngemastiin kalo udah bener-bener abis gitu. Ya Cahyonya bilang sih kalo dia tau isinya berapa dan ngitung, tapi ya pikirin perasaan orang yang nggak tau apa-apa dong=))

Habis sesi kenggakjelasan itu, lalu main air! Sebelum jalan-jalan emang udah disiapin plastik-plastik air. Siapa lawan siapa itu udah jelas dong; Boys VS Girls =))) Ujung-ujungnya tim cowok dan tim cewek malah bersatu dan bekerjasama membully Ais XD Kasihan banget Ais di sini, pukpuk yha kak :')

Oke, lalu akhirnya kita beres-beres. Jam 12an Cahyo pulang, disusul Ahmad, Dino sama Fariz. Lalu rombongannya Natta, rombongannya Fatma, lalu Ais dan lalu aku :’) Mangga nebeng aku, jadi aku nganterin Mangga dulu sampe ke rumahnya, baru lalu pulang ke rumahku. Yak, akhirnya selesai juga deh makrab yang oh so unforgettable banget X"D

Koplak itu waktu mau foto bareng-bareng kan. Biasanya pada bilang “cheeseeeee” atau seenggaknya kita biasanya bilangnya “pasutriii” apa gimana. Eh bisa-bisanya kita bilangnya.... “ESTRIIII” =))) Ngakak banget. Oke, maafkan kami, Bu Estri. Ehm, salah. Maafkan saya, deng.

Lalu pas foto bareng-bareng yang kedua, karena di kategori award ada bagian “TER-KRESEK” dan itu di nomor yang terakhir *aku nggak mau dibunuh orang yang bersangkutan dengan bilang siapa yang dapet* lalu kita sekalian ngebully orangnya itu, kita bilangnya “KRESEEEEK” =)))))

Sebenernya gudang foto-foto itu selain di kamera Gopro juga ada di kameranya Rani, tapi biasanya, sih, modelnya nggak dishare tapi minta via flashdisk. Itu pengalaman waktu MPAA sih=)) Jadinya aku belum punya foto-foto di kameranya Rani :( Adanya yang di hapenya Mangga, Mangga ngeshare via LINE juga.

Jadi ini waktu aku, Mangga, sama Lisa sempet foto-foto di depan villa. Kalo kata Mangga... lebih baik jangan lupa untuk foto di depan TKP =)) Berikut foto-fotonya:

Pasutri :')

foto di depan villa :3

ini.... aku :')

Oke, aku nggak akan pernah lupa PASUTRI :') Selalu jadi Pasukan Sepuluh Satune Bu Estri okeee :')

Note: Akhirnya setelah sekian lama menunda, aku nonton dorama 1 Litre of Tears. Sedih banget TvT Aku langsung nyuruh Bundil, Ayah, sama Dek Dama buat nonton yang bagian pembukaannya, karena aku ngefeelsnya di situ. Aku juga udah selesai nonton Plastic Memories juga. Endingnya sedih. Macam AnoHana, Angel Beats, sama Kyoukai no Kanata, sih sedihnya:")

Sincerely,
Rasya Swarnasta

#PakPolisiBlog

dilema

PPB 10.0 : Hai, 27 Juni. Hai.

Sabtu, Juni 27, 2015

Mungkin ini mendahului takdir—oke, ini memang mendahului takdir—tapi aku benci hari ini.

Sudah, ya.

Kenapa? Itu karena besok jadwalku bakal banyak. Yang terpenting itu makrab kelas, jelas. Tapi setelah aku pikir-pikir, waktu aku sadar kalau jadwalku lebih padat daripada hari-hari yang biasanya.. aku kok jadi kehilangan selera buat ikut makrab, ya. Rasanya makrab jadi nggak penting lagi.
  • Tes Wisuda Al-Qur'an bersama PPPA Darul Qur'an.
  • Di Masjid Kampus UGM.
    Meliput.
    07:00 - 12:00
  • Mengembalikan buku-buku paket Kurikulum 2013.
  • Di perpustakaan SMA N 6 YK.
    Sebelum jam 08:00
  • Kelas Inspirasi & Workshop Penulisan Forum Lingkar Pena dan Mahasiswa Berprestasi UGM.
  • Di Masjid Jami' at Taqwa, Minomartani, Sleman.
    09:00 - 17:30
    Kuota 50 orang terpilih dari seleksi menulis feature "Ramadhan for Bright Future".
    Gratis.
  • Orangtua menerima hasil Laporan Belajar siswa.
  • Di SMA N 6 YK.
    10:00
  • Malam Keakraban Pasutri; Pasukan Sepuluh Satune Bu Estri.
  • Di villa Puri Wardani, Jl. Tlogo Putri, Kaliurang, Sleman.
    Kumpul dulu di sekolah.
    13:00
  • Belajar Menulis Puisi bersama Evi Idawati dari Sanggar Sastra Indonesia. 
  • Di Balai Bahasa, Yogyakarta.
    15:00 - 17:30
    Kuota 50 orang.
    Gratis.
Banyak aja, deh. Otakku sekarang macet, kepala mau meledak, bingung yang mana yang harus didahuluin. Yang meliput tes wisuda itu opsional, jadi kayaknya aku coret aja. Nah. Makrabnya itu... sebenernya aku ikut atau enggak sama sekali nggak merubah jadwal apa-apa, karena aku udah fix nya bakal ngecoret yang nulis puisi dan ikut kelas inspirasi penulisannya itu. Mau makrab tinggal nyusul, tapi.. nggak tau, deh.

Oh, ngomong-ngomong, aku lagi suka nonton anime judulnya Plastic Memories. Episode terakhirnya keluar minggu depan, dan ini bagus banget. Mungkin aku ngulas tentang ini kapan-kapan.

Sincerely,
Rasya Swarnasta

#PakPolisiBlog

mimpi

PPB 9.0 : Aku Diingatkan Allah Lewat Mimpi

Jumat, Juni 26, 2015

Ada sesuatu yang masih melekat dalam diriku,
Yang seharusnya sudah kubuang di masa lalu
Itu suara yang kudengar di kegelapan, beberapa detik sebelum aku membuka mataku.
Dan mendapati diriku sendiri di alam mimpi. 


Aku berdiri di hadapan sebuah meja berwarna coklat muda. Sekelilingku putih tak ada apa-apa, kosong dan hampa, namun aku tidak peduli dengan hal itu. Mataku menatap ke arah meja, dan menemukan dua buah jam tangan putih di sana. Jam tangan putih yang pertama bersih seolah masih baru, jam tangan putih yang kedua sudah kotor dan sudah nyaris kehitaman.

Kedua modelnya persis seperti jam tangan yang sedang kukenakan di tangan kananku. Persis sama. Aku mengamati jam tangan putih yang kukenakan, dan aku baru menyadari bahwa jam tangan di tanganku sudah tidak berwarna putih bersih lagi. Persis seperti jam tangan putih-yang-dekil yang ada di atas meja.

Kemudian, masa lalu menimpaku. 

Di masa lalu itu, sekilas, aku sedang memakai jam tangan putih-yang-dekil. Kemudian aku melakukan suatu hal menyenangkan yang bisa lebih kunikmati apabila aku melepas jam tanganku. Aku pun melakukannya, dan melanjutkan mengerjakan hal menyenangkan tersebut. Setelah itu, aku berlalu, meninggalkan jam tangan putih-yang-dekil milikku.

Dalam perjalananku, aku menemukan sebuah jam tangan putih yang sama dekilnya. Aku mengambilnya, memakainya, tanpa mengetahui bahwa itu bukanlah jam tanganku. Kemudian aku menjalani kegiatan seperti biasa. Tidak menyadari apabila ada benda yang selalu kubawa terus ke mana-mana, yang bukanlah hakku.

Masa lalu menyelesaikan perannya mengingatkanku, membawaku kembali ke hadapan meja lagi.

Di tanganku, terdapat jam tangan putih-yang-dekil yang bukan milikku. Milikku adalah jam tangan putih-yang-dekil yang ada di atas meja. Memang mirip, sangat mirip, bahkan persis. Namun, yang kukenakan bukanlah apa yang seharusnya kumiliki. Yang seharusnya kumiliki ada di hadapanku, membawa jam tangan putih bersih yang tidak ternoda.

Aku belum bertindak lebih jauh sampai kemudian gelap, dan aku terbangun.

Aku sadar akan sesuatu yang terkandung dalam mimpi itu setelah aku memutar mimpi tersebut di kepalaku beberapa kali. Itu bukan sekadar mimpi. Itu adalah petunjuk. Atau peringatan.

***

Aku mempunyai benda yang bukan hakku, ketika aku kelas 2 SMP. Itu kuanggap sebagai hutang. Kadang-kadang hutang itu mengejarku, membuatku bersalah dan membatin bahwa aku akan membayarnya, kemudian menghilang. Beberapa bulan kemudian, hutang itu mengingatkanku lagi, dan aku hanya melakukan hal yang sama; berjanji dalam hati akan segera membayarnya. Namun aku kembali lupa.

Hutang itu belum terbayar sampai sekarang. Benda itu masih melekat dalam diriku. Masih menjadi beban yang harus kupertanggungjawabkan. Hutang itupun mengingatkanku melalui mimpi. Allah mengingatkanku melalui mimpi.

Aku tidak sadar, bahwa jika aku mengembalikan benda yang bukan hakku itu (mengembalikan jam tangan putih-yang-dekil yang bukan milikku), Allah akan memberiku rejeki yang setimpal (jam tangan putih-yang-dekil milikku) atau bisa jadi yang melebihi apa yang kukembalikan (jam tangan putih yang bersih seolah masih baru).

Sekarang, aku bertekad bahwa aku akan segera mengembalikannya. Dan ini bukan hanya sekadar janji di mulut saja, bukan sekadar janji dalam hati saja. Sekaligus rasa terimakasihku pada-Mu, ya Allah. Terimakasih sudah mengingatkanku :')

Sincerely,
Rasya Swarnasta

#PakPolisiBlog

event

PPB 8.0 : SixAsix! (lagi?)

Kamis, Juni 25, 2015

Yaampun, waktu berlalu cepet banget, asli. Aku dulu ngeposting blog tentang sixasix waktu bulan Juli 2014. Bayang-bayang gimana sixasix tahun lalu aja masih kerasa sampe sekarang. Yang keliling bawa nampan minumanlah, yang nawarin ke penjual lah, macem-macem deh. Nggak terasa, tahun ini aku ikut sixasix lagi :')

Tapi bedanya, kalau sixasix tahun lalu, angkatanku udah masuk, karena bulan Juli. Sekarang puasa diadainnya bulan Juni dan belum tahun ajaran baru. Kalau misalnya angkatanku tahun lalu ikut sixasix biar tau gimana-gimananya cari dana demi Namche, tahun ini yang ngisi angkatanku lagi karena angkatan 018 belum dateng-_- Bedanya lagi, kalau tahun kemarin sukarela, tahun ini bener-bener terjadwal perkelas.

Baca postingan blogku tentang sixasix yang tahun lalu, dong. Kalau tahun lalu, aku ikut muterin dan nawarin ke orang-orang di jalanan ada nggak yang mau beli tahu bakso, minuman es, atau makaroni scotel, dan macem-macem. Kalau yang hari ini, aku netep di SMA 6, nggak ikut muterin. Kelasku banyak yang muterin, sementara yang tetep di SMA 6 dari kelasku itu ada aku, Fariz, Ahmad, Dino. 

Aku bantuin Kenia buat masukin es batu ke minuman-minumannya. Lalu karena es batunya habis, Fariz sama Ahmad yang beli. Habis itu anak-anak gerombolan kelas 10-2 yang habis muterin buat jualin 10-2, barang dagangan mereka alhamdulillah habis karena ada bapak-bapak baik yang beli tujuh makaroni scotel sekaligus :') Aku ditemenin sama Uma dan lalu kita cerita-cerita{} Habis itu kelasku dateng. Akhirnya mereka ambil minuman yang udah diisi Kenia sama aku es batu, lalu mereka jualan lagi.

Buka puasa, aku dikasih minuman gratis sama Wardah :') Habis itu aku, Mangga, Alma, sama Ero ke KFC buat nukerin paket Goceng LINE yang hari ini tingkat keberuntungannya 90%.
To be honest, LINE,  aku selaku penulis postingan blog ini mengucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya kepadamu yang telah bersedia memberikan kesempatan kepadaku untuk merasakan bagaimana rasanya mendapatkan hadiah keberuntungan gratis darimu :') Walaupun tingkat keberuntungannya 90%, tapi, rasa terharuku ini nggak berkurang :')
Habis itu, aku, Mangga, sama Ero ke UII buat shalat Maghrib. Lalu pulang deh.

Sincerely,
Rasya Swarnasta

#PakPolisiBlog

jurnal

PPB 7.0 : MW Journalistik Club 017

Rabu, Juni 24, 2015

Di saat aku bingung mau nulis apa untuk malam hari ini, ada sebuah pertanyaan yang bikin aku ketawa salah tingkah mampir di kolom pertanyaan ask.fm ku:


Sampe detik ini aku nggak punya gambaran dia ini siapa._. Soalnya aku emang nggak begitu suka nebak(?). Oke, karena aku ngerasa bentar lagi kenaikan kelas *emang* dan MWJC 017 pada tahun ajaran besok akan bertemu dengan MWJC 018 dan kedudukan akan berganti menjadi kakak kelas - adik kelas, maka aku ngerasa harus menjawab dengan jawaban yang berkesan :')

Pada awalnya, MWJC 017 alias Muda Wijaya Journalistic Club 2017 ini jumlahnya sembilan orang, kayak Laskar Pelangi kurang satu deh. Waktu pertemuan pertama dan pembentukan pengurus itu, cuma aku satu-satunya anak dari kelasku. Bisa dibaca di sini, kok. Sejak saat itu sampai sekarang, banyak banget sukaduka di jurnalistik yang ngebuat anggota berkurang dan bertambah sekaligus. Sekarang anggotanya ada empat belas orang, dengan pembimbing kami tercinta, Mbak Lei :')

Jadi, aku harus ngedeskripsiin mereka satu-satu. Oke. Urut kelas dan nomor absennya, ya.
  • Ahimsa Wardah Swadeshi (Wardah)
Wardah ini termasuk anggota jurnalistik yang masuk kloter kedua. Dengan senang hati menyumbang Depazter di bagian puisi, karena puisi-puisi yang dia buat itu aduhai sungguh indah sekali :') Wardah juga yang manggil pembimbing tercinta jurnalistik, Mbak Lei, dengan panggilan Bu Lei yang aku aja awal denger itu ngiranya "Bule" ._. 
  • Aivi Lusiana Tyaswuri (Lusi)
Lusi ini anggota jurnalistik yang masuk kloter ketiga. Menyumbang Depazter di bagian pencerahan Islam, jadi minta materinya ke guru agama gitu. Lusi juga ngeliput Kemah Bakti, dan salut banget di saat yang lain pada sibuk-sibuknya kemah, Lusi sempet membuka catatan buat mencatat kegiatan-kegiatan untuk materi hasil rilis :') 
  • Khalisa Afifah (Lisa)
Lisa, termasuk anggota jurnalistik yang masuk kloter kedua, barengan sama Wardah. Sebagian alasan masuk jurnalistik karena ada aku HAHAHA. Atau karena aku paksa juga, sih. Buat Depazter besok ini, Lisa nyumbang seputar ekstrakurikuler Teater bareng Bagas. Sama buat artikel hiburan sama Mangga. Entah ini aib atau enggak, dia kelewat bahagia sampai nangis waktu dilantik dan resmi jadi anggota MWJC :') Oke, terhura aku jadinya, Lis :')
  • aku. lanjut.
  •  Shelly Primanggara Wardhani (Mangga)
Mangga, anggota jurnalistik yang masuk kloter ketiga, barengan sama Lusi. Sebagian alasan masuk jurnalistik karena ada aku dan Lisa =)) Karena Mangga ini anak PDT, jadinya buat Depazter dia ngeliput tentang PDT, sendirian XD Oke, selama proses pembuatan aku temenin sih :3 Udah aku ceritain di bagian Lisa, sih, kalo Mangga juga buat artikel hiburan barengan sama Lisa.
  • Wisha Puti Maulidina (Wisha)
Oke, Wisha ini anggota jurnalistik yang masuk kloter kedua. (Kenapa daritadi nggak ada yang kloter pertama, sih.) Aku mengandalkan dia sejak pertama kali dia masuk, karena Wisha ini gambar digitalnya benar-benar bikin iri banget :') Wisha ini sangat berjasa dalam pembuatan mading, karena latar belakangnya pasti dia yang buat. Wisha barengan sama aku buat liputan Hiking Club.
  • Widya Purnama Sari (Sasa)
Lompat ke 10-3. Satu-satunya anak dari kelasnya yang ikut jurnalistik. Sasa ini anggota jurnal dari awal :') Karena Sasa anak paduan suara, dia buat artikel hiburan Senandung Adiwiyata, barengan sama Isna. Sasa juga sama Wardah buat liputan ekstrakurikuler MWJC XD Sebenernya ini artikelnya awalnya nggak ada yang mau, karena kalo dipikir ulang, buat liputan tenang ekskul sendiri itu beban banget orz
  • Latifah Nur Hikmah (Ifah)
Ifah juga anggota jurnalistik dari kloter pertama :') Sama kayak Sasa, Ifah juga satu-satunya anak dari kelasnya, 10-4, yang ikut ekskul jurnalistik ini. Di majalah Depazter, Ifah ini menyumbang cerpen. Ifah juga berjasa dalam mencari guru agama Hindu buat minta pencerahan agama Hindu. Udah aku ceritain di awal pas bagiannya Lusi, Ifah juga ngeliput Kemah Bakti.
  • Annisa Wijarani U (Rani)
Merambat ke kelas 10-5. Rani ini anggota jurnalistik kloter pertama banget. Aku tambahin 'banget' karena ekskul jurnal pada pertemuan yang 'bener-bener pertama' itu anggotanya cuma dua orang, salah satunya Rani. Soalnya yang lain pada nggak tau lokasinya di mana, termasuk aku :') Rani buat liputan ekstrakurikuler PMR barengan sama Fatimah. Rani juga nyumbang artikel resensi buku buat Depazter.
  • Bagas Prakoso Ginting (Bagas)
Selama kloter satu dan kloter dua, Bagas ini tetap teguh memegang posisi sebagai anggota laki-laki satu-satunya. Yah, aku sendiri nggak yakin dia laki-laki apa bukan, sih. Bagas nyari guru agama Kristen, minta materi buat pencerahan agama Kristen. Bagas juga bantuin Lisa buat liputan ekskul Teater. Buat kalian yang cuma kenal Bagas sepintas doang, kalian nggak tau kalau cerpen-cerpen yang dibuat sama Bagas.... benar-benar kompleks dan antiklimaks :'))  
  • Fathimah Dhafiratul Fida (Fatimah)
Ini dia rekan Rani yang jadi anggota lain dari kloter pertama 'banget'. Karakter aslinya Fatimah itu pendiam, tapi seenggaknya di jurnalistik dia mulai bisa berekspresiSenyum, ketawa, yah itu karena didukung sama suasana jurnal yang waktu itu ngakak pas cerpennya Bagas dibacain. Di Depazter, Fatimah membuat artikel Opini 'Bolehkah Berjalan ke Belakang?' yang dia kerjakan seorang diri. Lalu, Rani bantu dia buat liputan ekstrakurikuler PMR.
  • Alya Puspita (Alya)
Sebenernya, awalnya, sih, 10-6 itu tiga orang, sama kayak kelas 10-4. Namun karena adanya suatu hal, Alya jadi satu-satunya anggota jurnal dari 10-5 yang tetap mempertahankan keaktifannya, dari kloter pertama dia masuk sampai sekarang. Alya ini benar-benar sangat diandalkan dalam pembuatan artikel nonfiksi, karena dia jagonya di situ. Keren banget waktu artikel yang dia buat yang bisa ngejadiin SMA 6 juara dua itu dia tulis tanpa tengok google sama sekali :') Makanya itu, sama kayak Fatimah, Alya buat Opini 'Peran Masa Lalu Pembangun Masa Depan' yang dia kerjain sendirian.
  • Raden Bagus Suryo (Suryo)
Langsung lompat ke 10-8. Suryo... anggota jurnalistik kloter-setelah-ketiga. Sebenernya nggak bisa disebut kloter, sih, karena hanya dia seorang :)) Suryo ini cari guru agama buat minta materi pencerahan Katolik untuk Depazter. Bareng Wardah, Suryo wawancara Pak-Pak Gudang(?) buat profil karyawan. Walaupun terlambat jadi anggota, tapi dia sangat rajin karena tetep ngumpulin tugas yang padahal tugas itu dikasih sebelum dia masuk :')
  • Izdihara Nur Khalisa (Ara)
Ke 10-9. Ara ini anggota jurnalistik kloter ketiga, barengan sama Lusi dan Mangga. Ara membuat artikel seputar Try Out Namche, TOP UP. Dia kalau buat cerpen nggak bisa disuruh langsung saat itu juga, harus dia pikirkan matang-matang. Dan hasilnya bener-bener apik :') Ada monolog pembukaannya segala, keren deh XD Kalimat pertama dari cerpennya Ara yang paling aku suka, "Kau dan aku bagaikan tangen 90 derajat; tak terdefinisi." Padahal Ara ini sebelumnya anak IIS, tapi bisa ngebuat kalimat yang matematikanya kerasa banget XD

Oke, buat tambahan, aku mau nyeritain juga soal pembimbing jurnalistik yang sangat kami cintai ini.
  • Mbak Arnindhita Lei
Angkatan-angkatan kelas atas manggilnya Mbak Dhita. Tapi waktu di angkatanku, Mbak Dhita sendiri bilang kalo lebih suka dipanggil Mbak Lei, makanya akhirnya angkatanku manggilnya Mbak Lei. Alumni SMA 6 yang sekarang kuliah di Psikologi UGM. Kalau marah sebenernya galak, tapi ya sebenernya nggak juga(?) :)) Tambahan: kita sudah biasa mulainya ngaret karena Mbak Lei nggak tepat waktuuuu XD *ini aib, sya*

Yaps. Akhirnya selesai. Itulah tadi, 14 anak anggota MWJC 017 plus pembimbing mereka :')

Sincerely,
Rasya Swarnasta

#PakPolisiBlog

pak polisi blog

PPB 6.0 : Suka-Duka Penggalangan Dana di SMTI

Selasa, Juni 23, 2015

Rasanya, aku ngerti sekarang kenapa pengemis bisa kaya.

Selama tadi sejak jam sebelas sampai jam dua belas, lampu merah nggak cuma beberapa kali aja. Mana di perempatan SMTI, lampu merah bisa ratusan detik, sementara lampu hijaunya cuma dua puluh detik. Jam segitu beberapa ibu-ibu atau bapak-bapak ada yang boncengin anak mereka, karena emang kalau mau ke perempatan itu harus ngelewatin suatu TK swasta. Jadi nggak sedikit mereka yang ngasih donasi niatnya pengen agar anak-anak yang bonceng ngejadiin hal itu contoh.

Alhamdulillah, uangnya bisa kekumpul melebihi ekspektasi. Mana itu cuma satu jam nangkring di perempatan lagi. Nggak bayangin kalau pengemis gimana, seharian di situ dan setiap hari. Dompetnya tebel banget mestinya, walaupun setiap satu lampu merah penghasilannya cuma lima ratus rupiah. Bayangin berapa lampu merah yang dia alami? Waktu aku SMP, aku pernah lihat di Facebook hitung-hitungan pendapatan pengemis, sih, tapi aku nggak bener-bener peduli sampe sekarang.

Pengendara motor yang ditemuin juga nggak cuma puluhan aja. Dan aku mau cerita kejadian-kejadian yang aku nggak sangka aja bakal aku alamin. Karena yang aku kira bakal aku dapet waktu aku ngesodorin kardus donasi itu cuma uang, dan tolakan._.

Ada seorang ayah yang boncengin anaknya. Anaknya masih TK, perempuan, rambutnya panjang, diponi. Anaknya manis banget, putih gitu. Ngingetin aku sama anak yang jadi videoklip "Ayah"-nya Seventeen. Nah, ayahnya nolak, kan, waktu disororin kardus donasi. Baru mau bilang makasih, eh, nggak nyangka banget tiba-tiba malah anaknya yang ngerogoh saku lalu masukin uang :') Sambil senyum gitu, pas panas-panasan sambil nahan haus mati-matian lalu liat anaknya sambil ketawa malu-malu rasanya adem banget :') Aku, sih, kalau jadi ayahnya tersindir parah ya wkwk :))

Ada mas-mas yang waktu disodorin, lalu ngerogoh uang saku, kan. Ya kita yang di sini berpikir positif aja, mana nyangka kalo ternyata dia ngerogoh saku lalu ngeluarin hape-_-

Wajar aja, sih, ya, kalau nggak sedikit pengendara mobil ataupun motor yang nggak enak kalau nolak waktu disodorin kardus. Sebenernya semuanya akan jadi lebih mudah kalau misalnya mereka nggelengin kepala aja, tapi ya beberapa dari mereka menolak dengan cara mereka sendiri. Mungkin mereka mencoba anti-mainstream.

Pengendara mobil ada yang waktu disodorin kardus, dengan salah tingkahnya bilang, "Iya, Mbak, nanti saya balik lagi ke sini, kok." Nah, kan apa coba maksudnya-_- Kan yang di sini jadi bingung malahan. Mana kita peduli bapak-bapaknya mau balik apa enggak. Kalaupun bapaknya bakal balik dengan mobil lain, baju lain, potongan rambut lain plus kacamata nangkring, ya kita malah tetep nyodorin kardus, kan:|

Ada pengendara mobil, bapak-bapak, yang juga bilang, "Iya, Mbak, nanti saya ke rumah sakitnya aja." ._. Semoga aja beneran ke rumah sakitnya. Tapi emangnya tau dirawat di rumah sakit mana? Kalaupun tau, ribet banget harus ke rumah sakit sananya. Padahal ngasih donasi ke sini ataupun ke SMA 7 nya aja ya lebih gampang :'))

Ibu-ibu yang nggak tega nolak, cuma senyum. Senyuuum terus tanpa ngangguk, tanpa nggeleng, tanpa ada isyarat tanda apapun di tangan sebagai jawaban mau nolak apa mau nerima. Kan ya di sini makin binguuung ini ibunya mau ngasih apa enggaaaaak:"))

Ada juga ibu-ibu yang disodorin kardus cuma diem. Diemnya itu diem kaku kayak pak-pak satpam yang ada di hotel gitu. Kardusnya ditarik lagi, lalu disodorin lagi, ibunya masih diem. Ibunya dipanggil, masih diem. Sampai akhirnya dipanggil lebih keras, kan, dan jadilah percakapan kayak gini.
"Permisi, Bu, donasinya untuk teman kami..."
"...."
"Eng, permisi Bu?"
"..."
"Permisi Bu?"
(Ibunya mulai noleh, kan, mulai notis gitu, deh.)
"Bu, donasi untuk..."
"Ssstt, Mbak, jangan sekarang Mbak. Saya lagi nggak enak badan e."
"... OH iya makasih buuuu:)))"
Sekalian aja sih sebenernya pengen aku doain cepet sembuh :)) Ya mana kita tau gitu kalau ibunya lagi nggak enak badan. Kalau misalnya nggak pengen diganggu, mending selagi kita deketin ibunya yang itu, udah ditolak duluan, kan, bisa. Malahan bisa jadi gara-gara ibunya ngasih uang, lalu ibunya jadi sembuh dari nggak enak badannya:')

Ada mas-mas yang begitu ditawarin, eh, dia sok-sok benerin kaca spion. Mana benerin kaca spionnya lama banget lagi, segitunya ya nggak pengen nolak waktu disodorin kardus :') Ya kita nggak sejahat itu buat pura-pura nggak tau lalu tetep nungguin, jadi ya udah deh kita tinggal XD

Kalau cerita tentang orang-orang yang ngasih uang, ada ibu-ibu yang ngasih uang yang jumlahnya di luar ekspektasi :') Baik banget subhanallah :')

Lalu, ada juga uang yang dikasih oleh orang yang nggak juga disangka-sangka sama sekali. Bayangin, habis ngesodorin donasi ke pengendara mobil, yang di mobilnya itu berAC, ada musiknya, adem ayem di situ tinggal duduk lalu tancap gas, nolak donasi. Dan habis itu mendadak di situ juga ada pemulung nyamperin dan ngasih uanggg :""")) Rasanya nggak mungkin ya kalau ibunya yang di mobil itu nggak kesindir. Aku aja yang di sini kesindir parah:')

Oke, itu suka-duka selama penggalangan dana di perempatan SMTI. Intinya, sih, pengalaman baruku karena itu pertama kalinya aku turun langsung ke perempatan buat nggalang dana :')

Sincerely,
Rasya Swarnasta

#PakPolisiBlog

pak polisi blog

PPB 5.0 : Student Solidarity! #SaveAgitFromOesteosarkoma

Senin, Juni 22, 2015


Buat para pelajar Jogja sekalian, sudahkah kalian mendapat pesan ini?
Assalamualaykum, wr. wb.

Teman-teman yang baik hati, teman kita Muhammad Agit Tenda Harfian (SMA Negeri 7 Yogyakarta kelas 11) terkena kanker tulang dan harus segera dioperasi, yang insyaAllah akan dilaksanakan pada hari Kamis, 25 Juni 2015 dengan biaya sekitar 200 juta. Bagi yang ingin meringankan biaya operasi, dapat transfer ke nomor Rekening Mandiri 137-00-1167824-6 atas nama Gavinda Putri Meidiana atau untuk sumbangan tunai bisa dikumpulkan mulai hari Senin, 23 Juni 2015 di lobby SMA Negeri 7 Yogyakarta pukul 9 sampai pukul 2.

***

Menindaklanjuti perkara, teman-teman yang ingin membantu baik dari SMK, SMTI, SMA/MK/sederajat, dapat berkumpul di:
  • Tempat : SMA Negeri 7 Yogyakarta
  • Hari : Selasa, 23 Juni 2015
  • Pukul : 08.30
  • Seragam : Putih abu-abu / pakaian yang bebas, rapi, sopan
Diharapkan perseorangan membawa 1 kardus indomie kosong yang masih bisa dipakai apabila sanggup. Mohon bantuannya, ya, teman-teman. Mari kita bersama-sama membantu meringankan beban teman kita demi kesembuhan Agit. Mohon bantuannya untuk selalu menge-share informasi ini agar semakin banyak orang yang membantu Agit.

#SaveAgitFromOsteosarkoma

Osteosarcoma— Tumor tulang.

Tumor tulang adalah istilah yang dapat digunakan untuk pertumbuhan tulang yang tidak normal, tetapi umumnya lebih digunakan untuk tumor tulang utama, seperti osteosarkoma, chondrosarkoma, sarkoma Ewing, dan sarkoma lainnya. (id.wikipedia)

Osteosarkoma (Sarkoma Osteogenik) adalah tumor tulang ganas primer, dimana tumor ganas ini memproduksi tulang dan sel-selnya berasal dari sel mesenkimal primitif. Berdasarkan WHO definisi osteosarkoma adalah: Primary high grade malignant tumour in which the neoplastic cells produce osteoid (Christopher D.M., 2002: 264).

Osteosarkoma merupakan tumor ganas yang paling sering ditemukan pada anak-anak. Rata-rata penyakit ini terdiagnosis pada umur 15 tahun. Angka kejadian pada anak laki-laki dan anak perempuan adalah sama, tetapi pada akhir masa remaja penyakit ini lebih banyak ditemukan pada anak laki-laki. Penyebab yang pasti tidak diketahui. Karena belum diketahui penyebabnya, maka sulit kita mencegah. (doktersehat.com)


الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ


"(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: 'Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun' (Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan kepada Allah jugalah kami kembali)." [Al-Baqarah 2:156]

اللهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيبَتِي، وَأَخْلِفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا

"Ya Allah berilah aku pahala dalam musibah yang menimpaku, dan berilah aku ganti yang lebih baik daripada musibah yang telah menimpa." [HR. Muslim]

#PakPolisiBlog 5.0



Share via twitter:

gak berlabel

PPB 4.0 : Dear LINE "LUCKY CHANCE"...

Minggu, Juni 21, 2015

Kemarin dari jam tiga sampai hari ini jam dua belas, aku pesantren kilat. Sebenernya, di pesantren kilat nggak ada yang bisa aku bicarain selain kajian, buka puasa, shalat maghrib, shalat isya, tarawih, tadarus, film renungan, tidur, shalat tahajud, sahur, shalat subuh, tadarus, shalat dhuha, diskusi, pulang. Nggak ada yang bener-bener gitu penting. Aku sendiri juga kaget ternyata aku nggak punya banyak cerita yang bisa kubawain, sebagai permintaan maaf nulis post sependek itu kemarin. Mungkin efek lelah.

Lisa, Susan, aku, sebelum pulang. Yang lain sudah menghilang(?)

Oke, aku mau cerita hal yang lain.

Bagi para pengguna LINE, ada yang tau apa LUCKY CHANCE yang sekarang beken? Setelah dari kemarin ngincer paket goceng KFC gagal terus (sedih, padahal kalo dapet gitu kan berasa makin dimudahkan, ya, karena lokasinya tinggal nyebrang dari sekolah), sekarang LINE FOR Android mulai menawarkan kesempatan keberuntungan baru.
Galaxy S6 edge, bruh.
Dan keberuntungan yang tiada tara itu dipersembahkan oleh LINE hanya demi satu orang. Betapa beruntungnya orang itu. Perubahan dari paket goceng KFC jadi Galaxy S6 edge itu ngebuat ratusan orang menyerah karena mereka mikirnya, "Lah, cuma satu hadiahnya, peluang dapetnya kan kecil", tanpa mereka sadari bahwa ketidakhadiran mereka memperbesar kemungkinan menang :')

Banyak orang yang nggak ngetik 'LINE' semenjak perubahan itu membuat LINE FOR Android nggak pernah mengalami gangguan sistem kayak suatu hari yang lalu. Jadi pada suatu ketika, LINE FOR Android mengalami kesalahan teknis dikarenakan banyak banget pengguna LINE yang ngetik 'LINE' pada saat yang super bersamaan XD Sampe LUCKY CHANCE nya nggak berjalan. 

Yaps, kesalahan teknis LINE LUCKY CHANCE terjadi pada tanggal 11 Juni, dan baru bisa dimulai lagi tanggal 16 Juni. Sedih banget. Eman-eman gocengnya TvT

Oke, kenapa aku ngikutin sampai segininya, sih.

NAH. Kalau soal yang memperebutkan satu Galaxy S6 edge itu, aku biasanya nggak pernah seniat hari ini. Jadi, aku udah pasang alarm jam 12.05 karena LUCKY CHANCE selalu keluar jam 12.10. Emang nggak pernah bener-bener keluar tepat jam 12.10 sih, kadang 12.21 baru keluar, tapi di sananya ditulis kalo terkirimnya jam 12.10-_- Curang emang.

Ternyata alarm yang kupasang itu jam 12.05 malem:') Jadinya pas pesantren kilat semalem, pas mau tidur, eh, mendadak alarm nya bunyi:') lol. Jadilah aku setting jam 12.05 siang dan....

THE TRUE WAR BEGIN.

Begitu alarm 12.05 bunyi, selama 5 menit ke depan aku memantau hape mulu, hape sudah tergenggam di tangan dan layar hape sudah membuka ke conversationnya aku dan LUCKY CHANCE. Lalu TEPAT jam 12.10, aku langsung ketik 'LINE' secara manual walaupun pemberitahuan tentang Galaxy S6 edge itu belum ada, dan........

.

.

.

Oke, aku nggak beruntung-___-

Dear LINE [LUCKY CHANCE],

Beruntunglah kamu karena aku nggak pernah memikirkan suatu hal yang tak pasti dengan muluk-muluk seperti aku memikirkanmu.... oke, ini salah. Ganti. GANTI.


Dear LINE [LUCKY CHANCE]...........

Seenggaknya kasih kesempatan yang SELALU nyoba tiap hari dong :') Pernah nggak sih kamu di posisi yang selalu berjuang keras dan menunggu pukul 12.10 dengan sangat tepat, bahkan kamu sampai nyocokin jam di hapemu sama jam di Mirota Kampus, dan itu nggak pernah berhasil. Mau keberuntungannya ayam, teh, gocengan, terutama hape, aku nggak pernah dapet keberuntungan :')

Lalu coba rasain ketika ada seseorang yang tanya ke kamu kayak gini, "Eh, ini tuh apa, ya? Kita suruh klik LINE, gitu?" di saat kamu lagi nggak pegang hape, dan kamu dengan nggak niatnya bilang, "Ya," dan begitu orang yang dengan polos dan tanpa memikirkan apapun itu mengeklik 'LINE'......

OKEY, TO BE HONEST: DIA DAPET PAKET GOCENGANNYA $%&$@%#@^%!!!

(Sabar, sya, sabar. Puasa)

Oke, udah. Pahami perasaan orang yang kayak gitu, dear you(?).

@bye.

Sincerely,
Rasya Swarnasta

#PakPolisiBlog 3.0

gak berlabel

PPB 3.0 : Hai.

Sabtu, Juni 20, 2015

Hai. Aku nanti pesantren, nggak tau bisa nulis apa enggak.

Kalau bisa, nanti kuedit. Kalau nggak bisa, aku cuma mau bilang sesuatu. Seenggaknya, cerita pendek (banget) aja.

Sekarang udah jam setengah delapan dan aku belum berangkat sekolah haha:))

.
.
Aku nggak nyangka aku bisa nulis post sependek ini.

Sincerely,
Rasya Swarnasta

#PakPolisiBlog 3.0

pak polisi blog

PPB 2.0 : Kajian Akbar Palestina

Jumat, Juni 19, 2015

Sebenarnya ini postingan buat kemarin, tapi karena kemarin aku udah posting blog, jadi aku nulisnya hari ini aja, hehe. Ngomong-ngomong, postingan ini didedikasikan untuk PPB alias Pak Polisi Blog, yang mempunyai kepanjangan sebagai berikut: Padakacarma Poso-Poso Nulisi Blog. Maksudnya, (calon) anggota Kaca tetep nulis blog setiap hari selama puasa! XD

Apa yang terjadi kemarin?

Di hari pertama puasa, aku harus sudah sampai Masjid Mujahidin Universitas Negeri Yogyakarta jam tujuh pagi. Walaupun mulainya baru jam sembilan, tapi, ya, panitia harus udah siap di sana duluan. Ini termasuk salah satu acaranya Ramadhan di Sekolah atau RdS. Karena aku tugas utamanya mengelola blog, jadi aku nggak harus ngeliput semua agenda RdS.

Nah, yang ngeliput agenda kemarin itu Salmon. Aku sama Salmon baru dikasih tau tepat setelah kita selesai mencari-cari informasi dan mencatat hal-hal yang kita kira penting. Jadi, ya, karena di catatanku udah banyak poin-poin hasil jarahan meliput, daripada nggak berguna, aku pakai aja sebagai penambah-penambah di blog ini.

Kemarin Kamis, 18 Juni 2015 jam 09.00 sampai jam 12.00, ada Kajian Akbar Palestina, yang bertempat di Masjid Mujahidin UNY. Kajian Akbar Palestina nya itu mendatangkan langsung ulama Palestina, Syaikh Muhammad Ali M. Nafi, yang diterjemahkan oleh Muhammad Rizaldi. Tema Kajian Akbarnya itu pakai tema utama RdS, “Pelajar Qurani, Peduli dan Berbagi.”

Acaranya dibuka dengan baca al-Quran QS. Al-Isra’ ayat 1-10. Lalu ada sambutan Ketua Farohis, Ahmad Ahsan. Ada sambutan Ketua RdS, Aswar S. Yoga. Lalu ada sambutan Ketua KNRP (Komisi Nasional Rakyat Palestina), Ust. Resti Rahman. Ada kutipan beliau (karena emang disuruh ambil kutipan dari kata-katanya beliau):
“Semakin banyak generasi muda mengetahui ini (maksudnya tentang Palestina yang sedang dalam masa perang dan kondisi butuh pertolongan) maka akan semakin besar aset yang dapat membantu membebaskan Palestina dari penguasaan orang-orang zionis Yahudi Israel.”
Setelah sambutan itu, disajikan video. Tentang bagaimana keadaan saudara-saudara kita yang ada di Palestina. Entah kenapa, kalau aku pribadi, aku lebih ngerasa tersentuh waktu awal-awal, waktu ledakan bom di mana-mana. Daripada yang bagian akhir, bagian yang cuplikan-cuplikan foto menarik simpati yang dikasih backsound sedih gitu. Tapi ya tetep aja tersentuh, sih :’)

Habis video, ada juga pembacaan surat dari Nia Monica, SMA N 1 Depok. Jadi ada seleksi surat untuk Palestina, dan suratnya Nia ini yang masuk surat terbaik. Suratnya dibacain oleh Zufar. Baru, deh, habis itu kajian akbarnya. Lalu tanya jawab, lalu sudah.

(Kenapa kajian akbar yang jadi judulnya malah diceritain superdikit di sini-_-)

(Ya kan biar judulnya terkesan alim._.)



AKU MAU CERITA YANG KOPLAK XD

Menurutku, sih, ini koplak dan inilah yang menjadikan kajian akbar Palestina nya berkesan =)) Jadi,di penutup kajian akbarnya itu, dilelang dua lukisan yang harga tiap lukisannya dua juta. Awalnya sih nggak ada yang mau, tapi begitu pola pikir mereka diubah jadi nanti-urunan-aja-satu-sekolah, langsung, ada satu yang mau.

SMA IT Abu Bakar xD Tepuk tangan xD

Lalu, setelah berunding singkat, satu sekolah ini membuat panas suasana.

SMA Negeri 1 Yogyakarta :’3

Sebenernya nggak gitu buat panas, sih, soalnya niat mereka nggak ada maksud cari gara-gara sama sekali XD Niat SMA 1 murni shaleh dan berjuang di jalan suci. Yang cari gara-gara itu SMA habis dia. SMA yang begitu SMA 1 ini ngajuin diri, suasana masjid yang harusnya tenang dan anggun malah jadi riuh-riuh gempar kayak genderang mau perang. Ngebuat lukisan yang aslinya cuma ditawarin dua, langsung ngelunjak.

SMA Negeri 3 Jogja xD

Nah, pas SMA 3 ngajuin diri, aku baru ngakak=)) dan nggak cuma aku yang ngakak=)) lol banget, nggak cuma di akademis dan kemampuan intelektual, tapi di kondisi yang agamis dan rohanis kayak gitu, mereka sempet-sempetnya aja nggak berhenti buat cari ribut=))

Then, begitu ada lukisan lagi yang ditawarin, SMA lain nongol.

SMA Negeri 8 Jogja...

Sumpahh ini hiburann banget di awal puasa:”)) Ngakaknya itu mereka tuh mau unjuk kepameran nama sekolah (aku yakin pasti sebagian diri setiap orang dari mereka berniat kayak gitu) tapi ya mereka tuh saling sebut nama sekolah dengan super-lantangnya itu demi kebaikan membeli lelangan lukisan dua juga gitu lho XD

Lalu, habis itu ada lagi yang ngajuin diri mau beli lukisan. Tapi komunitas mana gitu.. yang jelas, aku nggak begitu dengerin karena ikut berunding mengenai hal yang akan terjadi berikut ini: yang mau beli lukisannya lagi.

SMA 6..................

Harus dipancing gitu dulu, ya, baru sekolahku mau ikutan(?) =)))) Sebenernya dua juta itu antara banyak dan enggak, sih, tergantung urunannya. Tinggal kumpulin dua ratus orang lalu suruh urunan sepuluh ribu. Kalo aku inget kejadian itu bener-bener.. selama penyebutan nama SMA Jogja itu berasa saling tebar kilatan petir di udara gitu loh XD Oke, terimakasih untuk kalian ini, Teladan, Padz, Delyot, Namche:3.... Yaampun seneng banget bisa pulang dalam keadaan ngakak =)))

Oke, sudah, ya.


Sincerely, 
Rasya Swarnasta

Pak Polisi Blog 2.0

bleepy

PPB 1.0 : bleepy, maafkan aku yang melupakanmu ini.

Kamis, Juni 18, 2015

Kapan, sih, aku pernah ngucapin selamat ulang tahun ke blog ini tepat waktu?

Blog ini ulangtahun tanggal 6 Juni. Aku nggak ngucapin ulangtahun waktu blog ini ultah ke satu dan ke dua. Aku ngucapin ultahnya yang ke tiga tepat waktu karena sekalian ngeklaim ke semua orang kalau ultah blogku tanggal segitu. Ultah ke empatnya, aku ucapin delapan-belas-hari-setelahnya. Seenggaknya, masih mending, sih, tahun ini dua-belas-hari-setelahnya. Tapi, kan, aku merasa berdosa gitu.

Ultahnya yang ketiga, aku akan terus jadiin blog ini tetep sebagai blogku.
Ultahnya yang keempat, semoga blog ini akan menjadi sebaik-baiknya blog.

Di ulangtahunnya yang ke LUSTRUM ini *mendadak aku inget lustrum-ke-13nya namche* aku mau ngasih sesuatu yang spesial. Udah liat judulnya, kan? "Bleepy, maafkan aku yang melupakanmu ini."? Yap, Bleepy itu adalah nama blog ini! Oke, aku emang nggak pinter bikin nama-_- Sama aku buatin kamu gambar kali ini:


Gimana, Bleepy? XD Seneng nggak? Ini sebagai permintaan maafku karena telah melupakanmu pada tanggal 6 Juni kemarin. Selamat ulang tahun ke lima, ya! Semoga tetap menjadi blog setiaku dan semoga aku tetap bisa setia sama kamu{} *cieh*
Happy belated birthday, Bii-Exse Divine Spacer as known as Bleepy.
Eit, bentar. 

Aku mau jelasin dulu. Yap, kalian kira aku cuma ngasih nama Bleepy itu "Bleepy" doang? Ya nggak, dong. Bleepy ini punya nama panjang. Namanya Bii-Exse Divine Spacer :3 Tidak menerima saran dan kritik oke. Aku juga udah bilang kalau aku nggak pinter bikin nama. Tapi entah kenapa aku bangga dengan nama blog ini XD Aku mau jelasin aku dapet nama ini dari mana :))
  • Bii. Bii itu dari kata "Blog". Ini juga merujuk ke nama pendeknya, "Bleepy" yang juga diambil dari kata "Blog". Bisa dibilang, kalau kalian tanya kenapa nama pendeknya Bleepy, itu diambil dari nama panjang Bii-nya ini.
  • Exse. Jadi walaupun aku udah tau nama-nama huruf sejak aku belum masuk TK, aku baru peka sama huruf X waktu aku kelas 3 SD. Soalnya aku dijuluki "Rasya X" sama guru bahasa Indonesiaku, Pak Aris namanya. Waktu SMP aku bener-bener suka sama huruf ini. (Aku membantah teori yang mengatakan kalau huruf X membuatku suka aljabar― karena nyatanya enggak sama sekali.)
    Aku sampe jadiin rasyax itu email pertama yang aku buat di SMP. Rasya X juga jadi usernameku di suatu akun. X juga salah satu topik yang menjadikanku deket sama Mangga:))
    Menurutku, sih, X itu artinya random. Punya banyak arti. Antara punya banyak arti sama susah didefinisikan sih, kalau menurutku. Nah sejak itu juga aku baru mikir kalau X itu punya nama sendiri, Exse. Jadilah kata Exse ini.
  • Divine Spacer. Ini adalah nama binatang peliharaan salah satu karakter favoritku di suatu anime. Jadi, dia itu ngerawat sembilan puluh binatang, dan yang dia kasih nama baru setengahnya. Salah satunya binatang peliharaan burung yang dia kasih nama pertama ini. Namanya Divine Spacer Kuniyoshi, dan gara-gara dia aku jadi terinspirasi buat kalau ngasih nama itu jangan sekedar nama, tapi bener-bener nama panjang yang kita pikirin dari lubuk hati terdalam(?) :)) Makanya karena jadi inspirasi, nama depannya kuambil~
  • Bleepy. Yaps, kalau ini, sih, nama pendek yang tidak mempunyai alasan kenapa nama ini diberikan. Murni brainly gitu. Awalnya, sih, namanya Bleep, tapi kalau dia namanya Bleep dan nama panjangnya Bii-Exse Divine Spacer, itu rasanya cowok banget.. kesannya aku jones dong-_- *emangnya enggak sya* Makanya aku tambahin Bleepy biar ada unsur kecewekan gitu :3 
Hadiah pertama, gambar. Hadiah kedua, nama pendek. Hadiah ketiga, nama panjang plus alasannya. Aku, kan, niatnya mau kasih bleepy lima hadiah karena ulangtahunnya kelima. Inget aja gitu, SMA 6 ngehadapin lustrum ketigabelas dengan buat acara sebanyak tigabelas acara :') Kalau bleepy kan, walaupun dia lustrum pertama, tapi ngasih satu hadiah itu terlalu sedikit(?) Jadi diambil ultahnya yang kelima aja, makanya aku kasih lima hadiah.

Nah, hadiah keempat apa? Label! :") Mulai sekarang, aku punya label baru khusus kalau membahas bleepy ini. Labelnya "bleepy" :3

Kalau hadiah kelima, sih, khusus doa-doa aja. Doa yang pengen aku ucapin udah aku tulis di ultahnya yang ketiga dan keempat, soal semoga blog ini tetep jadi blogku dan jadi sebaik-baiknya blog. Oke, doaku masih tetep sama. Tapi tambahan, semoga aja nggak ada pemilik lain yang bisa menyaingi kebaikan yang kuberikan kepadamu, bleepy! :')

Pemilik sejati yang tak tergantikan,
Bii-Exse Divine Spacer's Author.

Pak Polisi Blog 1.0

gak berlabel

Rutinitas setelah UKK.

Selasa, Juni 16, 2015

Tuh, kan, aku nggak ngeblog kemarin :)) Emang, sih, dua puluh satu hari berturut-turut nulis blog itu bikin jadi kebiasaan dan rasanya agak aneh waktu kemarin sama sekali nggak buka link blogger, tapi, ya, kayaknya aku bisa mengatasinya(?). Jadi sebenernya, hari ini aku lagi pengen sibuk. Aku sekarang ngikutin punya rutinitas tiap situs, lho. Rutinitas setelah UKK :))

Aku buat list nya ya.
  • Anime/Manga : Ansatsu Kyoushitsu (tiap Sabtu)
  • Manga : Haru Matsu Bokura (tiap bulan-_- sampe garing nungguin apdet chapternya-_-)
  • Komik (volume) : Last Game (kemarin ke Gramedia nggak ada, hiks.)
  • Webtoon Indonesia : Orange Marmalade (Senin - Jumat)
  • Webtoon Inggris : Hooky (tiap Jumat)
  • Visual Novel : Sweet Scandal (tiap hari jam lima pagi. dia membuatku bangun pagi, lol.)
  • J-lit : 5 centimeter per second (tiap pulang sekolah)
  • J-song : Zero—Ono Kensho (tiap ngambil jemuran, tiap ke warung)
  • AMV : HyoukaThe Boy who Murdered Love (tiap nungguin loading)
Udah. Banyak banget lah._.

Singkat aja, ya.

award

PA 21.0: 10fastfingers.com

Minggu, Juni 14, 2015

Aku udah pernah ngeposting ini waktu aku SMP, cuma karena postingannya aku hapus jadi aku mau nulis lagi hehe. Ngomong-ngomong, ini pitik angkrem terakhirku, hari ke dua puluh satu. Aku nggak tau aku termotivasi buat nulis blog perhari apa enggak, kita lihat besok. Aku pengen ngebuat topik yang menarik sih mumpung hari ini hari terakhir pitik angkrem, tapi karena aku nggak membuka hari pertama dengan topik spesial, jadi aku mutusin buat menutup pitik angkrem ini dengan tema biasa juga.

Oh, iya, kemarin tanggal 13 Juni, aku, Lisa, Mangga buat video 13 di toilet KFC, aku tau ini aib tapi biarlah karena aku bangga.(?) Hari ini hari Ahad jadi libur, tapi aku jam setengah delapan ke Jl. Malioboro buat menyerukan Ramadhan, sama pelajar-pelajar SMA yang lainnya dalam rangka Ramadhan di Sekolah :3 Untuk lengkapnya, cek di blog ramadhandisekolah.blogspot.com, deh. Aku yang ngelola loh XD *jangan riya' sya*

Btw, aku ngetik paragraf satu itu cepet banget lho. Yah ini semua karena website www.10fastfingers.com. Website yang menantangmu kamu bisa berapa kata per menit, bener apa enggak, dan sebagainya. Suka banget sama website ini, keasyikan sendiri. Cuma keyboard laptopnya yang bakal tersiksa karena aku nekennya dengan segala emosi dan perasaan TvT


Kedua kalinya aku coba tantangannya, aku dapet nilai segini.
Word per minute 93
Keystrokes 497
Correct words 79
Wrong words 5
You are better than 95.86% of all users
Position 232 of 5610 (last 24 hours)
Lalu, aku malah tertantang pengen mendapat nilai yang melebihi itu. Mungkin karena aku udah buat batasan sendiri atau bagaimana, kata pertamaku aja udah salah._. Akhirnya aku coba mulai mengetik dengan tidak menggebu-gebu, jadi auranya tenang gitu. Dan aku dapet teori kalau website ini lebih mementingkan kuantitas daripada kualitas. Jadi daripada aku coba nulis pelan-pelan dan bener, lebih baik aku nulis cepet, dapet banyak walaupun salah. Makanya aku mulai menulis dengan menggunakan segenap semangatku(?). Eh lalu aku dapet segini XD
Word per minute 98
Keystrokes 561
Correct words 79
Wrong words 11
You are better than 97.09% of all users
Position 162 of 5569 (last 24 hours)
Aku bingung kok peserta total sebelumnya 5610 dan sekarang 5569-_- Lalu aku kata yang bener sama-sama 79 juga, dan kata yang salah malah lebih banyak. Eh tapi peringkatnya lebih tinggi, dan skor persennya juga lebih naik. "Keystrokes" itu kalau di tengah-tengah ngetik katanya, kamu mencet huruf yang salah dan membuatmu harus menghapusnya, gitu. 

Habis itu aku ngerasa kalau semangatku sudah terkuras habis, jadi aku ngerasa kalau ini nilai terbaikku owo Mungkin aku bakal buka website ini lagi waktu keyboardku huruf T nya udah bener. Aku nggak pengen jadiin ini alesan sih, tapi keyboardku yang huruf T itu harus dipencet dengan kekuatan yang lebih daripada yang lain :')

Oke, udah ya. Besok hari terakhir UKK, Biologi dan Penjaskes. Aku belum belajar sama sekali, otak udah kepenuhan.

Sincerely,
Rasya Swarnasta

Pitik Angkrem 21.0

P/S:

Pitik angkrem, kan, punya hukuman. Kalau kita nggak nulis di suatu hari, kita besoknya harus nulis tiga sekaligus; buat tulisan yang kemarin, tulisan yang hari ini, sama tulisan buat hukuman karena kemarin kita nggak nulis. Tiba-tiba penasaran sendiri; ada nggak ya peserta yang nggak nulis pitik angkrem di hari terakhir :)) Kalo dia nggak nulis di hari terakhir, besok dia cuma nulis dua, kan? Yang kemarin sama hukuman karena kemarin nggak nulis. Buat apa nulis yang hari ini, kan pitik angkremnya udah selesai kemarin :))

AWARD FROM-ME-TO-ME
PITIK ANGKREM #kaca26 DONE :')

pengetahuan

PA 20.0: Ghost Writer

Sabtu, Juni 13, 2015

Kalau mau jujur sih.... sebenernya sekarang aku lagi sedih XD Tapi kalian nggak perlu tau. (?)

Alhamdulillah, besok libur. Seneng banget. Tadi aku juga sempet namatin satu cerpen, yang udah kubuat sejak berminggu lalu dan aku aja nggak nyangka aku bisa namatin cerpen itu, hehe. Oke karena sekarang aku bisa nulis banyak, jadi aku mau cerita soal judul di atas. Ghostwriter. Emang kata ghost nya itu seolah-olah penulis berhantu. Aku aja mikir pertama kali adalah penulis yang suka menulis cerita horror. Dan ternyata beda banget.

GHOST WRITER.

Ghostwriter itu penulis bayangan. Mereka bekerja kayak penulis profesional, yang dibayar gitu. Tapi bedanya, mereka nggak mencantumkan namanya sendiri. Karena mereka ini 'diminta menulis', jadi mereka menulis sesuai permintaan kliennya. Mau tema cerita sampai gaya bahasa. Kenapa ada orang yang mau mempekerjakan ghostwriter? Karena mereka nggak punya waktu buat nulis. Biasanya ghostwriter ini nulis biografi seseorang. Misalnya..
"Aku mau kamu nulis biografiku. Aku udah pernah nulis buku, kamu nulisnya pakai gaya bahasaku, ya. Nih, kubayar."
(Menurut bayanganku, sih, intinya kayak gitu.)

Sudut pandangku, aku mikirnya kalau ghostwriter itu justru penulis profesional sesungguhnya. Yang pertama, mereka bisa bener-bener tegar nggak mencantumkan nama mereka di buku yang mereka tulis. Nggak semua orang bisa melakukan kayak gitu. Aku aja harus mikir dulu karena menurutku, mau uang berapa banyakpun aku nggak sudi mengganti namaku yang udah susah-payah nyusun bukunya, jadi nama orang yang bayar aku gitu._.

Lagipula, jadi ghostwriter ini nggak gampang. Mereka juga harus punya keahlian dasar penulisan, kayak standar baku nasional dan internasional gitu. Karena kalau mereka diminta nulis pakai bahasa Inggris, mereka harus punya grammar yang bagus juga. Memuaskan klien itu susah, lho, apalagi kalo kliennya kolot. Bisa-bisa mereka yang udah nulis beratus-ratus lembar, jadi riset di mana-mana dan sebagainya, disuruh buat ulang dan melakukan perbaikan sana sini :')

Penulis pidato presiden itu contoh ghostwriter. Waktu sampai tahap ini, aku ngerasa banget kalau ghostwriter itu harus punya kebesaran hati yang bener-bener profesional. Kalau misalnya mereka buat pidato presiden dan pidatonya itu bagus, yang dipuji siapa? Yang dipuji presidennya. Tapi kalau misalnya mereka nulis pidato dan misalnya mereka salah masukin nama tempat atau tanggal, yang disalahin siapa? :')

Oke. Ngomong-ngomong, aku dapet informasi tentang ghostwriter ini dari Mas Agung, hehe. Bermanfaat banget buatku.

Btw, kemarin lusa aku ngajarin adikku matematika. Sekolahnya adikku kalo UKK langsung dicocokin, dan adikku dapet nilai tertinggi di kelasnya. Yah, aku nggak di posisinya adikku waktu aku seumuran adikku, tapi aku mau ngeklaim quotes.
Dibalik adik yang pintar pelajaran, pasti ada kakak yang pintar mengajar.
- Rasya Swarnasta (15) *w*
Ngomong-ngomong lagi, ini aku pake font kesukaanku, lho. Garamond {} Font nya manis banget buat nulis cerpen. Aku nggak nyangka lho waktu Wisha nulis pake huruf ini juga. Apalagi waktu ternyata Lisa juga suka huruf ini. Jadi, aku, Wisha, dan Lisa itu adalah trio Pecinta Garamond!~ *abaikan* Lagian di postingan ini aku otomatis pake font normal..

Sincerely,
Rasya Swarnasta

Pitik Angkrem 20.0

gak berlabel

PA 19.0: Gabut.

Jumat, Juni 12, 2015

Besok UKK Kimia sama Agama. Yaampun, ini berasa nggak ada habisnya. Pulang sekolah tadi niatnya belajar bareng, tapi aku sama Mbak Khansa ke perpustakaan kota buat ngerapiin layout-nya Depazter sama Alfa, sampai jam empat. Lisa udah pulang begitu aku ijin ke perpus kota. Sekarang, aku bener-bener males mau belajar. Yah, sebenernya kalo males itu sejak awal, sih, tapi rasanya otak kalau diajak belajar itu semua materi seakan mantul.

Mungkin, ini postingan terpendekku sejak aku nulis blog di sini.

Sincerely,
Rasya Swarnasta

Pitik Angkrem 19.0

cerpen

PA 18.0: Add a subject here. [END] //Cerpen, dan matematika

Kamis, Juni 11, 2015

CERPEN INI TIDAK TAHU JUDULNYA APA
bagian akhir

Aku bersandar pada pohon yang ada di luar sekolah. Dimas berjalan bolak-balik, bingung mau berbuat apa. Seharusnya aku membawa ponselku ke sini, aku masih bisa-bisanya membatin hal seperti itu tanpa merasa berdosa. Dimas sendiri kelihatannya anak baik-baik, sehingga sikap tidak tenangnya dengan jelas.

“Santai saja, diusir dari kelas bukan berarti ini akhir hidup kita, kan?” aku mengangkat bahu, memamerkan sikap entengku. Dimas menghentikan langkahnya, merasa tersindir. Aku sengaja tidak melihatnya, mataku menatap lurus-lurus ke sebuah bangunan SMP di hadapanku. “Ini SMPmu?” tanyaku memastikan.

“Hm? Iya,” Dimas menganggukan kepala. SMPnya Dimas memang berhadapan dengan SMA kami. Aku menatapnya, dan Dimas kemudian berjalan ke arah pohon di sebelah pohon yang menjadi tempatku bersandar, lalu juga ikut-ikutan bersandar di sana. Sebenarnya aku mau meledeknya yang mengikuti caraku, tetapi pandangan Dimas yang memandang bangunan itu mulai berubah nanar.

“Ada apa?” tanyaku memancingnya.

“Dulu Nek Pipit sering sekali mengajariku matematika. Sering sekali pulang sore, karena beliau tinggal sendiri. Bahkan beliau sangat suka kalau aku datang mampir dan membawakan kue atau semacamnya,” Dimas bercerita panjang lebar tanpa aku minta. Aku tidak berkedip masih memandanginya. Sepertinya ini sisi karakternya yang baru.

Aku bergumam seadanya supaya Dimas mengetahui bahwa aku menyimaknya. “Kalau begitu, kamu tahu mengapa Nek Pipit tinggal sendirian di rumah?” aku menimpali.

Dimas menganggukan kepala. “Begitulah,” pandangan matanya berkeliaran entah ke mana. “Nek Pipit sendiri yang cerita—dan aku tidak bisa memaafkan kakaknya. Kakek Ir itu.. kalau seharusnya dia menyayangi Nek Pit, seharusnya Nek Pit tidak diusir dari rumah. Apapun alasannya, nggak seharusnya seorang kakak memperlakukan adiknya kayak begitu!”

Oke, Dimas benar-benar terbawa suasana. Tapi aku hanya diam saja.

“Makanya, itulah sebabnya aku mengatakan hal itu kepadamu ketika kita bertemu seminggu yang lalu,” Dimas tidak berani menatapku, aku tahu dia merasa tidak enak. Aku sendiri juga tidak menatapnya, aku hanya manggut-manggut saja.

Ia mengangkat bahu. “Yah, aku minta maaf. Tapi, aku selalu bersama dengan Nek Pipit. Aku selalu menyimak pelajarannya, aku selalu mendengarkan ceritanya. Jadi itu sebabnya aku tidak akan pernah memaafkan Kakek Ir,” Dimas mulai berhenti bersandar, badannya menegak. “Aku pernah mengajak Nek Pipit berdiskusi soal itu.. dan beliau hanya tersenyum sambil mengatakan, ‘Apakah dia tahu kalau aku sekarang bahagia, ya?’ begitu katanya! Begitu, Dy!”

“Oke, tidak usah dibuat terdengar melankolis,” kataku buru-buru. Sebenarnya, hatiku sudah berdesir membayangkannya, tetapi aku tidak suka hal yang sedih-sedih.

Dimas tidak membuang suasana yang dia buat. “Seandainya.. seandainya saja kakek-kakek itu masih hidup, sudah tua renta begitupun, pasti akan kuhajar habis-habisan sampai dia menyesal!”

“...”

Apa?

Napas Dimas tersengal-sengal, dia benar-benar mengucapkan itu semua dengan membawa seluruh perasaannya. Hanya saja, aku menatapnya dengan bingung. “Tunggu dulu,” aku mengangkat sebelah tanganku, seolah-olah mengajukan pertanyaan saja.

Dimas terdiam, menunggu pertanyaanku.

Sebenarnya, aku tidak bertanya, aku ingin memastikan sesuatu. Aku menatapnya lurus-lurus. “Kakek masih hidup, kok.”

“...”

“...”

“APA KATAMU?!”

Astaga, dia tidak mengetahuinya.

“Ha-habis aku tidak tahu kalau selama ini kamu mengira Kek Ir sudah meninggal!”

“Jadi dia masih hidup sungguhan?!”

“Dia memang masih hidup!” aku menekankan, membuat Dimas akhirnya diam, namun masih syok. Mana aku tahu coba kalau dia berpikir Kakek Ir sudah meninggal. Kalau tahu begitu, kan, aku bisa mengungkapkannya sejak sebelum ini. “Oh,” aku tiba-tiba teringat sesuatu. “Tetanggaku itu cucu Nek Pipit, setiap tanggal tujuh selalu menjenguk Kakek Ir. Mau mencoba ikut dengannya besok?”

Muka Dimas memerah lagi. “Tapi.. aku, kan, bukan siapa-siapa..”

“Bukan masalah, kok, aku juga pernah ke sana,” kataku menenangkan. “Aku ikut menemani, kok! Bagaimana?”

Dimas menganggukan kepala sedikit. “O-oke.”

***

Esok harinya, kami benar-benar melakukannya. Aku sendiri, sih, tidak menyangka juga bahwa Dimas memang sungguh-sungguh akan hal itu.

Ken mengerlingkan mata kepadaku, sebelum kemudian dia membuka pintu ruangan Kakek Ir. Ken masuk, disusul aku yang berjalan lebih dulu, kemudian Dimas mengikuti di belakangku. “Kakek Ir hanya bisa berbaring di rumah saja sekarang,” aku menjelaskan dengan pelan kepada Dimas. Kalau dipikir-pikir, aku sudah sangat lama juga tidak mengunjungi beliau. Ken sebenarnya agak melarangku karena suatu alasan.

“Kakek, ada tamu, nih,” Ken memperkenalkan Dimas.

“Ya? Siapa, ya?” Kakek Ir menoleh kepadaku dan Dimas. Aku tahu bahwa penglihatan beliau sudah rabun, meskipun suaranya masih terdengar cukup jelas.

Dimas menatap Kakek Ir. Aku tahu tidak mungkin dia menghajarnya-habis-habisan atau apalah yang dia katakan. Dimas masih saja terdiam. Aku juga tahu bahwa dia masih syok bahwa orang yang selama ini mengganggu pikirannya ternyata ada di depan mata.

“Eng, itu.. eng..” Dimas mulai berbicara, ketika aku menyikutnya. “Nek Pipit.. ng.. Nek Pipit..”

“Pipit?” Kek Ir menatap Dimas, kemudian menatapku. “Pit, sini.”

Inilah yang Ken tidak suka melihatnya—karena dia selalu ingin menangis. Kakek Ir sudah rabun dan pikun, beliau selalu menganggapku sebagai Nek Pipit setiap kali aku datang menjenguk. Aku menurut saja, aku menghampiri dan Kakek Ir memegang kedua tanganku. “Kamu masih tidak berubah, Dik.”

Aku berusaha menahan air mataku kuat-kuat, dan Ken yang ada di sebelahku sepertinya juga sedang melakukan hal yang sama.

“Sekarang, kamu bahagia, kan?” beliau mengatakan itu kepadaku, raut wajahnya penuh senyuman bersalah. Aku mengangguk cepat.

Dimas sendiri memandang kejadian itu tidak percaya. Seketika terbayang di benaknya bagaimana saat Nek Pipit mengatakan itu kepadanya dahulu.

Aku melirik ke arah Dimas, dan Dimas sekarang sedang dalam posisi seratus persen dilanda longsoran nostalgia. Aku buru-buru menarik diri. “Aku dan Dimas keluar sekarang saja, Ken,” aku mohon ijin pamit, ketika Ken mulai mengambil alih situasi. Ken menganggukan kepala, melambaikan tangan kepadaku dan Dimas. Aku membalasnya, kemudian aku buru-buru menarik kaos bagian lengan Dimas dan menyeretnya keluar.

Aku mengajak Dimas ke taman di mana aku dan Ken sering mengobrol bersama. Kami duduk di ayunan, dan aku mengayun-ayunkannya, berbeda dengan Dimas yang hanya menggunakannya untuk duduk seolah-olah itu kursi biasa. Karena merasa harus mengajaknya mengobrol, aku berhenti berayun. “Jadi? Bagaimana?” tanyaku menagih pendapat.

“Ng..” Dimas hanya menggumam saja. “Tadi ketika beliau mengatakan itu, raut wajahnya sama seperti Nek Pipit. Kalimatnya juga..” sepertinya, bagian yang itu sangat menyentuh Dimas.

“Apakah dia tahu kalau aku sekarang bahagia, ya?”

“Sekarang, kamu bahagia, kan?”

Aku menepuk bahunya. “Santai saja,” kataku, mengajaknya tersenyum. “Nek Pipit pasti bahagia, kok.”

Dimas tersenyum sedikit, membalasku. “Sama sepertiku sekarang,” katanya. Kelihatannya, beban berat yang selalu membuat wajahnya terasa culas dan suram sekaligus sudah terangkat. Kini, Dimas tampak lebih tenang seolah-olah tidak ada masalah yang pernah menimpa dirinya sedikitpun. Kisah menggantung Dimaspun berakhir, diiringi dengan rasa bahagia oleh orang yang bersangkutan.

“Aku juga,” kataku menimpali. Aku juga termasuk pihak yang bersangkutan, dan aku bahagia juga bisa membantunya.

Dimas mulai berayun-ayun di ayunan yang didudukinya. “Hentikan obrolan yang mengarah ke suasana canggung seperti ini.”

“Suasana canggung—!?”

“Ngomong-ngomong, aku masih membencimu.”

“K-Kok begitu?!” aku memprotes dengan kesal, dan tiba-tiba Dimas tertawa kecil. Aku ingin membahasnya, namun karena aku tahu bahwa dia memang hanya ingin memancingku, aku balas tertawa juga.

Setiap kisah yang berakhir, pasti akan ada kisah baru lagi.

Jadi, hanya menunggu waktu mengenai kapan kisah baru setelah ini dimulai, kan?

SELESAI
***

Ini nggak nyambung banget. Maaf, ya, aku buatnya keburu-buru jadi endingnya kayak begini, deh. Aku nggak tau judulnya apa. Kalian bisa kasih judul? Kalau kalian tahu judulnya apa, kasih tau lalu kirim via email ke rasyaswrnst@gmail.com, ya! Yang mau memberi judul dan judulnya kuterima, akan mendapatkan hadiah menarik :3 *kenapa rasanya kayak dilelang(?)*
Ini link ke setiap cerpenku:
Cerpen bagian lima (ini)
Jadi, aku mau cerita. Besok adalah UKK paling mengerikan yang menghantui kami semua siswa-siswi tak ingin berdosa, yaitu matematika. Aku belum ngecicil pelajaran dari kemarin, aku bener-bener nggak tau harus mulai dari mana mengenai pelajaran yang punya tripel Trigonometri, Geometri, sama Logika Matematika yang super horror ini. 

Lalu, harusnya aku belajar. Tapi adikku juga UKK matematika besok, dan sampai jam tujuh ini alesanku belum selesai-selesai ngetik dari jam setengah lima adalah karena aku bolak-balik ke meja adikku setiap kali adikku manggil nanya nomer yang nggak dimengerti-_- Dan nanyanya itu nggak main-main lagi. Aku habis duduk dan ngelanjutin ngetik habis jelasin ke adikku nomor tujuh, eh habis itu adikku tanya nomor delapan gimana TvT

Oke, aku kakak yang baik, sih. Udah, ya. Minta do'anya banget buat matematikaku besok :')

Sincerely,
Rasya Swarnasta

Pitik Angkrem 18.0