PA 4.0: Bahasa Baku

Kamis, Mei 28, 2015

Aku mulai menulis sekarang, karena aku tahu bahwa kecil kemungkinan bagiku untuk menulis nanti malam. Hal itu karena nanti aku harus mengikuti latihan MPAA di studio dari jam empat sampai jam enam lagi, sudah mulai memakai jam normal. Sudah bisa dipastikan sampai rumah nanti aku akan langsung tidur karena badanku sudah benar-benar mau ambruk.

Lalu, kenapa bahasaku jadi lebih normal di sini? Bukan lebih normal, sih. Maksudnya, lebih baku?

(Sekarang aku jadi lebih suka menggunakan efek highlight daripada efek bold. Lebih manis saja, sih, kalau menurutku.)

Yah, aku coba memastikan kalau siapa tahu dengan menggunakan bahasa yang lebih baku, tulisan jadi lebih enak dibaca. Semalam aku mengunjungi blognya teman sekelasku yang bahasanya benar-benar puitis dan melankolis. Maka dari itu, aku memutuskan untuk mencoba meniru dengan memakai bahasa yang baku. 

Pelajaran pertama bahasa Jawa, dan pelajarannya kosong. Semua siswa-siswi kelas X-1 harus mengerjakan LKS, tetapi atas kebaikan sang guru, LKS tersebut tidak perlu dikumpulkan. Jadilah, aku melakukan aktivitas ini. Tidak bermaksud untuk menyalahgunakan kewajiban belajar, lho. Oke, hawa-hawa persiapan MPAA yang sudah H-1 ini sudah mulai terasa, jelas. Beberapa kelas sudah menyiapkan dekorasi yang macam-macam. 

Aku mau membuat suatu topik supaya isi posting blog ini juga bisa ditarik kesimpulan. Ketika hari pertama #pitikangkrem, postingnya berakhir karena guru jurnalistikku, Mbak Lei, sudah bersiap-siap memberi tugas jurnalistik yang harus direalisasikan. Jadi, tugasnya adalah: membuat topik yang mengharuskan kita mewawancarai minimal tiga orang, dari berbagai sudut pandang.

Misalnya, kita mengangkat tema Bullying. Yang kita wawancarai adalah pelaku yang membully, korban yang dibully, dan guru BK yang memberi tanggapan mengenai bully dan pembullyan. Jadi, supaya kita tidak terfokus pada satu sudut pandang saja setiap kali menyikapi berbagai masalah. Reporter harus bersikap independen atau tidak memihak, kan?

Tema yang kuangkat adalah "Waspada, Salah Jurusan!" alias tema yang sedang kucari-cari saat ini. Sebenarnya, aku pernah membuat cerita berjudul "Matahari, Tuhan di mana?" yang isinya lebih menceritakan tentang aku, si anak yang belum tahu mau masuk IPA atau IPS. Orang yang akan aku wawancarai ada empat. Yaitu siswa dan siswi yang sedang bingung ingin masuk jurusan apa (dua orang), guru BK yang akan memberikan solusi dan cara mengatasinya, dan kakak kelas yang sebenarnya juga kebingungan, tetapi akhirnya memilih satu diantara dua pilihan itu juga.

Aku masih kesulitan, sih, dengan pencarian narasumbernya. Kalau mencoba mencari tahu siapa siswa atau siswi yang sedang kebingungan ingin jurusan apa, sebenarnya di benakku langsung terlintas; aku sendiri._. Tetapi, tidak mungkin, kan, aku mewawancarai diriku sendiri? Aku pernah menemukan siswa yang tidak tahu cita-citanya apa, dan kupikir aku bisa mewawancarainya. Tetapi ternyata dia sudah yakin ingin masuk IPA, hanya saja bingung mengenai cita-cita.

Oke, mungkin aku masih harus terus mencari. Sudah, ya.

Sincerely,
Rasya Swarnasta

Pitik Angkrem 4.0

You Might Also Like

0 comment(s)