New Month & Cerpen: Ksatria Kertas di Ujung Langit

Rabu, April 01, 2015

Halo! Bukan, aku dateng ke sini bukan buat posting Nakaomi, hehe. Aku mau ngelanjutin postingan yang kemarin. Jadi, di awal April ini, aku mau pake label 'Cerpen' lagi! xD Sama biar aku nggak cuma pake label itu, aku pake label 'new month'. Ngomong-ngomong, ini aku buat sendiri lho. Masih abal-abal sih =w= 

kalo ada K, pasti dia bilang ini abal-abal orz

Oke. Kalo yang label cerpen, aku mau cerita.w. Sebenernya, aku lagi berbahagia karena cerpenku lolos kontributor dan bisa masuk ke salah satu novel:') Seneeeenggg banget:') Dan kabar gembira yang kedua ini nggak bakal sampai kepadaku kalau tidak adaa... LALA SENPAI XD

Dia temen fanfictionku, kenalan di Facebook. Ternyata anak Jogja .w. Ternyata anak SMA 1.w. Dunia sempit, teman-teman. Sayangnya dia kakak kelas, jadinya aku panggil pake embel-embel '-senpai' walaupun awalnya nolak x3

 

Nah. Waktu aku baca itu, aku kan awalnya ngira dia ngungkit soal cerpenku yang lolos masuk "Cinta Lokasi di antara Profesi", tapi pas aku baca linknya, ternyata bukan.w. Aku baru inget kalo aku juga ikutan lomba nulis cerpen "Ksatria Kertas", yang cerpennya itu aku kirim sebelum berangkat mabit, gara-gara kelasku ketinggalan bis dan aku punya waktu buat ngirim email di fotokopian bareng Lisa, lol. Gak aku tulis di postingan mabit sih:") 

Nah. NAH. Aku kan buka linknya kan. Aku udah seneng dalam hati soalnya aku udah anggep cerpenku bakal masuk.. jadi aku ngecek satu-satu namanya kan. Aku gak tau itu dari berapa naskah cerpen yang masuk, yang jelas diambil 58. Aku nyariiiii lama banget udah degdegan jangan-jangan aku diPHPin sama lala senpai(?) dan ternyata NAMAKU ADA di nomer 47 :""))))

 

Yang beberapa ada yang sama itu bukan judul kok. Jadi lombanya itu kerjasama sama Fileski, dan kita harus buat cerpen berdasarkan lagu-lagunya Fileski. Milih salah satu gitu. Dan aku milihnya yang judulnya 'Ujung Lagit', ternyata kepilih:""D

ALHAMDULILLAH:"""D Aku seneng bangeeet, seenggaknya cerpenku ada yang masuk ke novel lagi dan dibaca orang-orang yang beli:") Aku udah seneng bangeeett. Sampe akhirnya aku scroll ke bawah dan aku nemu berita yang lebih membahagiakan:


Aku masuk DUA TERBAIK! x"D Yaampun, cuma seorang aku gitu TvT Aku jantungan banget pas lihat itu. Soalnya di lomba "Cinta Lokasi di antara Profesi", naskahku bisa lolos dan masuk ke buku antologi cerpen aja aku udah alhamdulillah banget, walaupun nggak masuk 2 besar:")

Nah di lomba yang "Ksatria Kertas" ini, alhamdulillah pihak sananya ngasih aku kesempatan buat ngasih pengalaman gimana rasanya jadi pemenang:") Alhamdulillaaaaahhh:"") AKU SENENG BANGEEEET dan chatboxnya lala-senpai langsung kuspam:""D

Hiks masih seneng banget, alhamdulillah:") Sekarang insyaAllah aku nggak bakal malu lagi ngeshare cerpenku di blog ini:") Sebenernya aku nggak pengen kalian harus klik 'read more' demi baca cerpenku, tapi ini postnya udah kepanjangan:") Di antara kalian pasti ada yang gak gitu suka baca cerpen jadi klik Ctrl+W aja langsung xD

KSATRIA KERTAS DI UJUNG LANGIT

Semua berawal dari salahku, menjadikan adikku sendiri seorang pemimpi.

Ini dari salahku sebenarnya, tetapi salah Wildan, aku jadi menceritakan salahku itu setiap harinya. Wildan selalu menjelma sebagai pendengar yang baik setiap aku menceritakan dongengku, dongeng yang kukarang sendiri. Wildan memercayainya. Wildan masih terlalu kecil untuk mempelajari suatu perasaan bernama curiga.

Sehari sebelum Ayah tewas karena kecelakaan, Wildan mengingat semuanya.

“Wildan, Ayah hanya ingin pergi sebentar,” aku akhirnya bersuara setelah beberapa lama memikirkan tentang kalimat apa yang harus aku keluarkan.

“Nggak mau!” Wildan masih menangis meraung-raung.

Aku melirik menatap Ayah, yang hanya menggaruk-garuk kepalanya, sudah kehabisan kata-kata.

Saat itu sebenarnya Ayah hendak pergi ke luar kota, urusan pekerjaan. Aku dan Ayah pikir, cara supaya Wildan membolehkan Ayah untuk pergi adalah dengan memberinya iming-iming. Namun ternyata itu tidak bisa membuat Wildan luluh begitu saja. Dia tetap ngotot mau ikut. Karena tidak ada jalan lain, akhirnya Ayah sepakat untuk pergi bersama Wildan membeli mobil-mobilan, kemudian pulang ke rumah menurunkan Wildan, kemudian baru menyelesaikan urusannya. Itu ribet, sebenarnya. Namun, tidak ada cara lain yang lebih simpel dari ini untuk memuaskan Wildan.

Di hari saat Ayah kecelakaan. Saat itu, hari Sabtu, dan TK Wildan libur Sabtu-Minggu. Ayah kecelakaan. Bersama Wildan di dalam mobilnya. Ayah meninggal saat itu juga. Wildan terluka di bagian kepalanya. Setidaknya, masih untung nyawanya bisa diselamatkan. Meskipun ternyata resikonya cukup merepotkan.

Otak bagian lobe temporal-nya rusak berat, mengganggu kemampuan otak untuk mengkonversi ingatan jangka pendek ke ingatan jangka panjang permanen saat tidur. Kondisi seperti ini disebut juga anterograde amnesia, atau bisa dikatakan juga sebagai amnesia jangka pendek.

Aku yang baru bersiap-siap berangkat sekolah (karena aku mengikuti sekolah siang) nyaris limbung seketika, begitu diberitahu oleh para tetangga.

Singkatnya, ingatan Wildan hanya sampai pada hari ketika Ayah berniat untuk pergi, dan mengatakan bahwa beliau mengajaknya ikut serta membeli mobil-mobilan. Berkat ini, Ayah bisa tetap hidup selamanya di dalam kehidupan Wildan. Itulah yang kupikirkan.

Butuh waktu lama bagiku untuk memutuskan harus menceritakan kepadanya atau tidak. Lagipula kalau mengatakan kepadanya, bagaimana cara mengatakannya?

“Ng.. jam berapa sekarang?” Wildan menggosok matanya, keluar dari kamar. Dia harus tahu bahwa kebiasaannya tiap pagi pada saat itu membuatku seakan terkena serangan jantung.

“Jam dua belas,” aku menjawab. Lalu sebelum Wildan bertanya lebih lanjut, aku langsung berbicara cepat kalimat yang sudah tercatat di benakku. “Oh, Ayah sudah berangkat duluan ke luar kota. Wildan tidur siang dulu, sih.”

Wildan tertegun. Matanya membelalak. “Hah?”

“Ssst,” aku mencoba menenangkannya. “Jangan khawatir, pasti pulang kok –”

“HUWEE! Kok, Wildan ditinggal?!”

Untunglah, saat itu Paman dan Bibi datang. Bibi menenangkan Wildan, sementara aku menceritakan kepada Paman bagaimana kronologisnya. Paman hanya mengatakan bahwa lebih baik Wildan tidak perlu tahu, hanya untuk sementara saja.

“Bagaimana jika suatu hari Wildan bangun dan melihat dirinya di pantulan cermin kemudian menyadari bahwa ia sudah lebih tinggi sepuluh senti daripada ‘kemarin’?”

“Tidak perlu sampai selama itu, Pit,” Paman menenangkanku. “Suatu hari nanti kita semua akan memberitahunya. Yang jelas, kamu harus mulai membiasakan diri tinggal sendiri, karena Paman dan Bibi tidak mungkin ada di sini, kan? Mungkin kami akan datang pagi-pagi sekali, kemudian pergi saat Wildan bangun.”

Aku berusaha mencerna kata-kata Paman. Untungnya Wildan selalu mengira ini hari Sabtu, sehingga Paman dan Bibi hanya perlu mengatakan kepada sekolah bagaimana kondisi Wildan, tanpa perlu menjelaskan kepada Wildan seandainya Wildan justru merengek ingin masuk sekolah.

Kebiasaan demi kebiasaan baru mulai terbentuk sejak hari itu.

Aku tetap pada kebiasaanku mengenai sekolah siang, hanya saja aku sering terlambat apabila Wildan bangun kesiangan. Jika dia bangun di atas jam sepuluh, maka aku harus menenangkan dia yang menangis selama satu jam. Itu artinya, aku akan terlambat masuk sekolah karena sekolahku masuk jam sebelas.

Apalagi, aku harus tetap memakai seragam hari Sabtu, dan baru ganti seragam dengan seragam hari itu di kamar mandi masjid.

“Ng.. jam berapa sekarang?”

“Jam sepuluh. Oh, Ayah sudah berangkat duluan ke luar kota. Wildan kesiangan, sih.”

“Hah?”

“Jangan khawatir, pasti –”

“HUWEE!”

Wildan menangis, dan aku menenangkannya, sambil membatin, sampai kapan ini akan berakhir. Terus seperti itu. Aku hanya perlu terus berbohong, aku hanya perlu terus membual setiap harinya.

Suatu hari.

“Ng.. jam berapa sekarang?”

“Jam..”

“Lho, Mbak, kok nggak siap-siap sekolah?”

“Hm?” saat itu, aku agak kaget juga dengan rutinitas yang tidak sesuai dengan biasanya. “Kan sekarang hari Ming..”

Aku menutup mulutku refleks. Ups. Celaka.

Saat itu kebiasaan baruku yang lain adalah terus memakai seragam dan berangkat sekolah meskipun itu hari Minggu.

Namun, ada satu hal yang membuatku menjelma menjadi pendongeng setiap malam. Pendongeng yang selalu menceritakan dongeng yang sama. Ayah selalu mendongeng untuk Wildan sebelum ia tidur, karena itulah aku harus melakukan hal yang sama, meskipun esok hari aku ada ujian semester atau semacamnya.

“Ayo, Mbak, cerita! Kata Ayah, hari ini mau cerita yang ‘Ksatria Kertas’?”

Sungguh, sampai sekarang, aku tidak tahu apa yang Ayah maksud, atau apa yang Ayah sebenarnya mau ceritakan kepada Wildan. Pada malam pertama aku disuruh menceritakannya, aku benar-benar bingung bukan main.

“Ng.. yah. Jadi, di Kerajaan Kertas, ada seorang ksatria. Dia ksatria yang gagah berani, jika berperang selalu ada di garis depan. Lalu pada suatu hari, ada perang besar di...”

“Langit!”

“.. di langit,” aku mengikuti saja apa mau Wildan, karena pikiranku benar-benar buntu. “Ya, di langit. Ksatria itu satu-satunya utusan dari Kerajaan Kertas. Makanya dipanggil Ksatria Kertas. Dia ke langit untuk menyelesaikan perang besar yang terjadi. Bersambung. Dilanjut besok, ya,” kataku diam-diam jahil. ‘Dilanjut besok’ itu sama saja artinya dengan tidak pernah dilanjutkan lagi, karena toh, aku setiap hari akan menceritakan cerita ini terus.

Wildan tidak segampang itu untuk langsung patuh. “Kata Ayah, Ayah ada di dalam cerita?”

“Hah?” aku melongo sendiri. Kemudian aku berdehem, mulai berlagak mengetahuinya. “Iya. Eng.. Ayah adalah kstaria kertasnya,” kataku dengan nada dibuat ceria, namun sebenarnya asal saja.

“Wow!” Wildan takjub. “Jadi, sekarang Ayah sebenarnya sedang di langit?”

Uh-oh, kalimat itu sebenarnya mengandung arti yang sangat dalam, jika dianggap sebagai ungkapan. Aku menggigit bibir, kemudian melanjutkan lagi. “Iya, tapi ini rahasia. Makanya Wildan tidak ikut,” aku akhirnya mengatakan hal itu. “Jadi, Ayah sekarang sedang ke langit, ke ujung langit, menghadapi segala rintangan di langit.”

Akhirnya, aku dapat ide untuk menenangkan Wildan yang menangis setiap siang.

Karena itulah, setiap aku pulang sekolah, Wildan sedang bermain pesawat kertas, mengatakan bahwa ksatria kertas ada di dalamnya. Wildan suka menerbangkan pesawat itu sambil berteriak, “Ayah si Ksatria Kertas terhebat di langit!” dan aku bisa mendengarnya sekalipun aku masih di luar rumah. Setiap hari.

Entah apa yang tetangga-tetanggaku pikirkan, pada awalnya aku masih khawatir perihal itu. Namun lama-kelamaan, aku tidak peduli lagi. Tidak perlu peduli apa yang mereka katakan, apa yang mereka pikirkan, yang jelas, aku adalah kakak yang buruk, setiap hari membuali adikku seperti ini.

Wildan menerbangkan pesawat kertasnya sambil berteriak, “Ayo terbang, Ksatria Kertas!” dan melompat kegirangan melihat pesawat kertasnya melayang di udara cukup lama. “Terbang! Hadapi segala rintangan, jangan pernah menyerah!”

Aku memandang adikku itu.

Sampai kapan dia akan terus bermimpi, ya?

Tok-tok-tok.

Ibu-ibu, tetangga sebelah rumah. Kelihatannya hanya mampir untuk menanyakan sesuatu, karena beliau saja masih memakai mukena. Terlihat jelas beliau baru saja dari masjid dan dalam perjalanan pulang ke rumah. Sekedar mengunjungiku, ingin menanyakan pertanyaan yang sebenarnya aku sudah tahu apa kalimat yang akan terlontar.

“Pipit, hari peringatan empat puluh hari Pak Rahmat habis adzan dhuhur ini, kan?”

Tuh, kan. Aku menggigit bibir diam-diam. “Iya,” jawabku singkat.

Aku sebenarnya merasakan, bahwa sebagai tetangga, pasti terbesit rasa penasaran. Rasa ingin tahu bersembunyi dalam kalimat basa-basi itu. Namun, aku berpura-pura tidak menyadarinya. Aku menutup pintu, dan kulihat Wildan berlari-lari kecil menghampiriku.

“Mbak, bukan Ayah, ya?”

“...”

“Mbak?”

“Tidak mungkin, dong,” aku tertawa. “Ayah, kan, Ksatria Kertas, jadi sekarang masih perang,” ––di ujung langit, batinku menambahkan dengan pahit. “Wildan sabar, ya.”

TAMAT

Udah//w// Aku masih nggak nyangka banget aku bisa menang, alhamdulillah:"""D Makasih banyak ya Allah:"D

Oke udah ya!~ x3

You Might Also Like

2 comment(s)