Matahari, Tuhan di mana? ☼

Sabtu, April 25, 2015

// Dedicated to: PR Jurnalistik menulis cerita bebas dengan tema Matahari.

MATAHARI, TUHAN DI MANA?

Ada dua tipe orang di dunia ini.

Yang pertama adalah orang yang menantang matahari.

Yang kedua adalah orang yang memalingkan muka dari matahari.

Aku tidak bermaksud untuk menjadi tipe orang yang kedua, hanya saja, matahari membuatku takut. Menerima kenyataan bahwa matahari seakan bergulir di depanku, terbit-tenggelam dan begitu terus. Membuatku harus memaksakan diri untuk menghadapi fakta bahwa hari terus berlalu, aku harus menjemput masa depanku sendiri.

Yang mana? 

IPA atau IPS?

Rasakan masa depan membentang di depan mata. Rasakan matahari menatap dengan senyum jahil bermain-main di wajahnya, mempermainkanku. Setiap menatap matahari, aku selalu memalingkan muka. Mencoba mengalihkan pikiranku yang mulai menderu-deru, mengatakan bahwa aku harus mulai menentukan masa depanku. Menyudutkanku, memaksaku untuk membuat pilihan sekarang juga, memaksaku untuk membuat gambaran tentang cita-citaku detik itu juga.

Jangan biarkan hidup menyempitkan pilihanmu.

Rasanya, ketika aku semasa kecil dulu, semua berjalan dengan sangat mudah. Aku ingin menjadi penjahit, guru, psikologi, orang kaya, semuanya kuucapkan dengan tanpa beban, seolah-olah aku ­benar-benar bisa mewujudkannya hanya dengan membalikkan telapak tangan. Tak ada kata masalah di dalam hidupku. Aku bahkan bisa berpikir bahwa itu tidak mungkin ada seseorang yang tidak tahu harus mempunyai cita-cita apa.

I want my own dream.

Hari ini, matahari berganti lagi. Hari ini, aku memalingkan muka lagi.

Aku merapikan jilbabku, mengencangkan dasiku, membenarkan rok panjangku, mengencangkan sabukku, sebelum aku berjalan menuju lapangan upacara, berlagak tidak tahu bahwa matahari terus dan terus mengejarku. Jika matahari bisa bersikap gigih dan tidak peduli, maka aku juga bisa.

Namun, aku dihadapkan oleh kejutan lain. Hari itu tidak ada upacara. Lapangan upacara terbagi menjadi dua, dibatasi oleh lakban hitam yang menggaris, seakan-akan bisa membelah lapangan itu. Kemudian tulisan beralas papan yang tertancap di tiap bagian.

Yang pertama, sederhana; IPA.

Yang kedua, tidak kalah sederhananya; IPS.

Sementara semua siswa-siswi sudah menandak-nandak tidak sabaran, ingin sekali berlari menuju ke arah papan yang mereka tuju. Aku hanya kebingungan, seakan-akan dua pilihan itu berputar-putar di hadapanku, seakan-akan matahari memutar-mutarkannya dan mencoba mengganggu pikiranku.

Aku harus memilih masa depanku, itulah yang matahari katakan kepadaku.

I want my future will be my future.

Tapi, apa masa depanku? Apa yang harus kudeskripsikan mengenai masa depanku? Sebenarnya, masa depan itu sebenarnya apa dan bagaimana? Aku tidak tahu harus memilih apa, harus masuk jurusan apa, universitas apa, mempunyai cita-cita apa. 

“Mulai!” terdengar suara guru kesiswaan, memotong perdebatanku dengan diriku sendiri. Suara beliau yang bersemangat terdengar seperti hunusan pedang di telingaku.

Seingatku, seumur-umur aku hidup, aku tidak pernah mencoba untuk menantang matahari, jadi mengapa sekarang matahari yang menantangku?

Detik berlalu, dan semua siswa-siswi kelas sepuluh berhamburan ke tengah lapangan. Lama-kelamaan terlihat beberapa orang yang kebingungan, namun mereka sedikit demi sedikit mulai memberanikan diri untuk melangkah, membuat keputusan. Mereka memutuskan untuk tidak membiarkan matahari menantang mereka.

Yah, aku juga tidak mau membiarkan matahari menantangku. Hanya saja, aku tidak tahu apa yang harus kupilih. Aku tidak tahu. Aku hanya tidak tahu.

I can’t choose. Whats it all mean?

Matahari memaksaku menengadahkan kepala. Tetapi begitu aku meluruskan pandanganku, aku hanya dibuat sadar bahwa sekarang semua siswa memandangku, mengisyaratkan kepadaku untuk segera membuat keputusan. Dua sahabatku berada di tempat yang berbeda, tetapi mereka bergandengan tangan, tidak mau terlepas. 

Tidak bisakah aku berada di tengah-tengah mereka? 

Which way that I should turn; right or left?

Guru kesiswaan itu menghampiriku, satu-satunya orang yang belum mempunyai keputusan. Antara IPA atau IPS. Mengapa hanya dua itu yang harus kupilih? Mengapa seolah-olah aku diberi pilihan antara hitam atau putih? Antara langit atau bumi? Antara tumpul atau berduri? Antara hidup atau mati?

“Bagaimana?” tanya beliau, menagihku.

Aku menundukkan kepala, tidak berani menatap siapapun. Aku mengangkat sebelah tanganku, dan merasakan mulutku bergetar sesaat sebelum aku memberanikan diri membuat suara. “Saya nggak tahu, Bu,” balasku, mengatakannya sambil memejamkan mata, merasakan bahwa mataku tiba-tiba basah.

Matahari membuatku tampak menyedihkan.

IPA atau IPS. Dari dua pilihan yang disodorkan kepadaku, aku hanya tahu bahwa aku tidak dilahirkan untuk harus memilih satu dari dua pilihan yang tersedia. Kedua pilihan yang diberikan itu tidak mencerminkan apa alasan aku ada di dunia.

Life is to find why you’re here for.

Lalu, apa alasanku ada di dunia?

Beliau mengangguk-anggukan kepala. “Pulang sekolah nanti ke BK, ya,” kata beliau, dan aku tidak mempunyai kalimat apapun yang pantas kuucapkan, selain sikap menganggukan kepala. 

Matahari membuatku tampak seperti anak bermasalah.

Akhirnya, aku menganggukan kepala, dan beliau berbalik, mengisyaratkan semua siswa untuk istirahat sebelum memulai pelajaran pertama.

“Lis,” aku memanggil salah seorang sahabatku, ketika kami sedang membolos jam pelajaran pertama dengan sarapan di kantin. Sahabatku yang lain, Shelly, tidak kami ajak karena dia jelas tidak akan mau membolos pelajaran.

“Apa?” Lisa tidak menoleh kepadaku, dia hanya terus menghabiskan nasi terinya.

“Aku nggak tahu mau IPA atau IPS.”

“Aku juga nggak tahu. Menurutmu sendiri?”

Jawabannya benar-benar tidak membantuku sama sekali. Lagipula, entah Lisa sungguh-sungguh tidak tahu atau hanya untuk membuatku tenang, dia bisa balik menantang matahari dengan memilih IPS tadi. Setidaknya, tidak sepertiku.

Pulang sekolah, aku menuju ruang Bimbingan Konseling. Aku datang, membuka pintu, dan melangkah, dengan niat tidak mengharapkan pencerahan sama sekali. Tidak ada yang bisa memecahkan masalahku. Setidaknya, perkataan pasti dan yakin ‘Kamu pantas masuk IPA’ atau ‘Kamu pantas masuk IPS’ sama sekali tidak bisa menggetarkanku.

Matahari, apa kau sembunyikan Tuhan?

Aku tahu bahwa aku tidak pantas berada di keduanya. Aku tahu bahwa aku tidak mempunyai modal untuk ada di keduanya, dan jika modal untuk masuk IPA atau masuk IPS ditawarkan kepadaku, aku juga tidak akan menerimanya. Apakah ada pilihan ‘tidak keduanya’ sehingga aku bisa memilih hal itu?

Matahari, di mana tempat untukku?

Seandainya saja ada tempat yang sama sekali tidak disinari matahari, di mana aku bisa hidup di sana. Di gua? Di dasar laut? Mengapa di setiap tempat yang bisa kutinggali, ada matahari di sana?

I don't know where to go; whats the right choice?

Aku keluar dari ruangan BK itu tanpa mengalami perkembangan yang banyak. Ada Shelly menungguku di luar.

“Shel, aku nggak tahu mau masuk IPA atau IPS.”

“Kenapa kamu tiba-tiba jadi bimbang kayak gini? Kamu maunya masuk mana?”

They won’t say which way to go; —

— “Just trust-your-heart.”

Hanya percayalah hatimu, seperti itulah guru BK mengatakan kepadaku. Hanya pikirlah kembali apa yang menurutmu terbaik untukmu, coba ulang-ulang lagi apa yang condong kepadamu. Apakah IPA atau IPS. Begitulah beliau mengatakannya.

But the voices in my heart just tell me; they know best.

Hanya mengatakannya, itu mudah saja. Percayalah pada dirimu sendiri. Hanya kamu yang mengetahui apa yang terbaik bagimu. Bagiku, sekarang itu semua terdengar klise. Apa itu mimpi? Apa itu cita-cita? Kalau aku sudah memilih IPA atau IPS, lalu apa?

IPA, IPS. Shelly, Lisa. Apakah ada pilihan yang membuatku seakan berada di antara keduanya? Mengapa harus satu dari dua?

I’m not sure anymore, —

Matahari, apa tidak pernah terlintas di kepalamu untuk membantuku? Matahari, apakah tidak pernah terbesit di pikiranmu untuk sekedar mengulurkan tangan kepadaku? Untuk sekedar memberitahuku di mana Tuhan yang kau sembunyikan dariku?

—it just.. so hard.



Matahari, Tuhan di mana?

***

Sebenarnya, ini kisah nyata. Seandainya matahari benar-benar membuatkanku alur seperti itu, bisa jadi ini kisah nyata ;w; Soalnya karakterisasiku persis banget hehe .///. Walaupun aku nggak bakal semelankolis ini sih, lol. Komentar yaa orz Mbak Lei juga komentar yaaa xD

S C R E A M
OST High School Musical

The day a door is closed
The echoes fill your soul
They won't say which way to go;
Just trust your heart

To find what you're here for
Open another door
But I'm not sure anymore
It's just so hard

Voices in my head
Tell me they know best
Got me on the edge
They're pushing, pushing, they're pushing

A world that's upside down
And spining faster
What do I do now,
without you?

I don't know where to go
What's the right team?
I want my own thing
So bad I'm gonna scream

I'm gonna fight to find myself
Me and no one else
Which way, I can't tell
I'm searchin', searchin'

Can't find the way I should turn
I should turn right or left
It's like nothing works,
without you

I can't choose, so confused
What's it all mean?
I want my own dream
So bad I'm gonna scream

Yang warna merah itu.. yang ngena banget lah ;w; Ini menceritakan tentang dilema memilih pilihan yang ada buat masa depan, dan si tokoh utama ini juga sama, dia harus milih satu di antara dua. Jadi dia nyanyi itu dengan penuh penghayatan. Sumpaaah jleb banget hiks TvT

Spread the Word

Tags: , ,
Posting Lebih Baru Posting Lama

You Might Also Like

2 comment(s)