Hujan, Kita, Percaya/? orz

Kamis, Maret 05, 2015

Aku mau cerita.. tapi kapan-kapan, lol. Judulnya "Nakaomi ke Jakarta", dan nanti post nya dijamin nggak jelas. Warning aja sih, jadi kalian jangan buka postku beberapa saat ke depan karena nanti akan menjumpai post baru dengan judul seperti itu xD Aku sebenernya mau cerita sekarang, cuma aku baru sadar aku nggak punya asupan foto-fotonya ;_;
"Karena kualitas sekolah bukan segalanya." –Rasya, pelajar yang semoga terus dan akan terus normal, 15 tahun.
Kenapa aku nulis quotes kayak gitu? Nggak ada alasan khusus sih. Ada dua SMA lagi adu kecerdasan. Yang pertama adalah SMA yang NEMku nggak bisa masuk sana, dan yang kedua itu SMA yang aku bisa masuk sana. Bukan SMA Jogja kok, hehe. Nah ternyata yang menang itu SMA yang kedua._. Makanya itu muncul quotes ini xD

Lagian, itu quotes yang nggak bisa aku pahami di SMP, dan baru bisa aku ngerti rasanya pas aku masuk SMA. Oke, ini jadi nggak nyambung.

Sebenernya waktu jaman-jamanku nulis di NaNoWriMo (National Novel Writing Month) bulan November 2014 lalu, aku ada sahabat. Sama-sama kelas 1 SMA, dan sama-sama pengalaman pertama nulis 50.000 kata dalam waktu satu bulan juga. Nah aku stalking blognya kan, ternyata dia itu orang yang sangat percaya pada blognya:")

Itu jelas sangat menyindirku, duh. Dia kan calon penulis yang sama kayak aku, teman seperjuanganku bisa dibilang x3 Di blognya itu penuh sama cerpen-cerpennya, dan dia cerita kalo cerpen yang ini dia kirim ke sini, cerpen itu dia kirim ke sana, pokoknya gitu. Nah pernah dia menang lomba buat cerpen, dan cerpennya dia itu masuk ke novel antologi. Lalu dia kasih cerpennya itu di blognya, enteng banget ngasihnya*w*

Sementara aku nggak pernah ngirim cerpenku ke blog -///- Walaupun blog udah menemaniku selama enam tahun, tapi aku belum pernah satupun ngasih cerpenku di blog. Dulu jaman-jamanku kelas delapan, aku pernah buat blog yang isinya cerpen-cerpenku. Cuma nggak di blog ini._. Maaf ya blog.

Makanya, gara-gara dia, aku mau berubah(?) hehe. Jadi, aku mau ngasih cerpen judulnya "Hujan, Kita, Percaya". Duhhh aku malu banget ini hiks jangan ketawain aku =///= Kalo sahabatku di RPK baca, pasti dia komentar gini:
"Bener-bener... abal-abal." –K, Kapten of RPK.
Iya nih judulnya hiks. Aku jadi makin malu deh. Oke, cerpen ini aku ikutin ke lomba LDR, singkatan dari Lihat, Dengar, Rasa. Dari 199 cerpen yang masuk *kenapa nggak 200 aja plis* cuma diambil 75 QAQ Aku agak pesimis gitu. Dan habis aku kirim cerpenku, aku lepas diri dari situsnya dan nggak ngecek pengumumannya kapan dimana gitu. Aku gak pede:')

Itu aku ngirimnya tahun 2013.

Lalu, di suatu hari yang cerah, di pertengahan 2014 lol, aku iseng bangeeet. ISENG banget, ngecek. Mungkin biar nambah ketegangan, pengumumannya dibagi tiga kloter. Setiap kloter 25 cerpen. Nggak ada gunanya juga sih tau ini, soalnya aku ngecek situsnya pas tiga kloter itu udah diumumin semua, bahkan tiga besar pemenangnya. Udah lama banget emang-_-v


Aku ternyata ada di nomor tujuh kloter satu:"")) Aku langsung loncat loncat disko nggak percaya gitu mueheheee. Ngingetin aku sama kelompok tujuh nya Naruto betewe. *ini nggak nyambung* Kan tiap kloter itu jadi satu novel. Jadi totalnya ada tiga jilid novel gitu. Aku masuk jilid dua novelnya. Aku senenggg banget:"")

Tapi juga nyesel.

Karena novelnya aku cari di Gramedia nggak ada T.T Udah habis mungkin ya stoknya. Hiks. Makanya itu aku nggak umbar-umbar kalo aku menang(?). Lha gimana mau ngomong kalo misalnya aku gak punya bukti?:") Masa aku bilang "Ada cerpenku di novel ini lho!" tapi novelnya udah gak bisa ditemukan?:") *miris*

Yah gitu aja sih. Kalo kalian nemu bukunya, bilang aku ya QwQ Judulnya Dialog Dini Hari. Ngomong-ngomong, kalian jadi mau baca cerpenku nggak? *krik* Yaaa karena aku masih malu dan belum punya rasa percaya diri buat ngasih cerpenku ke blog, ada di bagian Read More ya :') Maaf ya blog, doain aku lama-lama bisa berubah TvT)//


***

HUJAN, KITA, PERCAYA
Rasya Swarnasta

Apakah sedetik sudah berlalu? Apa aku harus percaya bagian itu juga?

Aku tidak dilahirkan untuk bisa melihat sepanjang hidupku. Aku hanya tidak diijinkan untuk memanfaatkan dua buah bola mata ini seperti yang seharusnya. Aku tidak diijinkan untuk melihat keindahan dunia ini lebih lama, terutama aku tidak bisa menatap wajahmu lagi. Yah, aku hanya tidak ditakdirkan seperti yang lain.

Aku hanya berpikir, bahwa aku ditakdirkan untuk bersama denganmu setiap detiknya. Yang kupikir, begitu datangnya bencana ini kepadaku, kau akan mulai menjauhiku.

Aku ingat saat kau, masih dengan seragam putih abu-abumu, masih dengan bola sepak di tanganmu, masih dengan sepatu usangmu. Menarik tanganku. Berkata dengan lugunya, bahwa di ujung sana, kau menemukan kedai baru yang enak untuk menjadi santapan makan siang kita bersama. Meskipun itu artinya aku yang harus membayar, tetapi aku tetap tersenyum dan menerima uluran tanganmu.

Bergandengan tangan denganmu, itu sudah biasa. Meskipun itu artinya kita harus menghadapi olokan teman-teman kita, toh kita berhasil mengatasinya. Bukannya bergandengan tangan itu bukan berarti ada yang spesial? Karena kita sudah menjalaninya sejak TK, atau bahkan sejak sebelum TK.

Namun gandengan itu terpisah. Jari-jari besarmu yang biasanya melingkupi jemariku terlepas. Begitu saja. Karena kemudian ada sebuah mobil yang melaju kencang, meroket tidak terhentikan, menabrak kita. Yang membuat kita terlempar ke arah yang berlawanan. Saat itu yang masih bisa kuingat adalah tangan kita yang saling menggenggam erat akhirnya terlepas. Selanjutnya aku hanya merasakan sakit.

Dengan segera jalanan macet, semua kendaraan berhenti, dan beberapa orang turun tangan menolong kita. Aku masih merasakan syok luar biasa, disamping tubuhku yang tidak tahu membentur apa. Kurasa sikuku berdarah, karena sebagai penumpuku ketika aku mendaratkan badan ke jalanan yang kasar itu. Aku mendengar ada seseorang yang mengatakan untuk segera mengangkat tubuhku. Tetapi apakah aku bisa melihatnya?

Aku mendengar pemilik mobil itu turun dan berkata berkali-kali, bahkan beratus atau beribu kali, bahwa remnya blong. Aku dengar polisi mulai mendatangi tempat kejadian kecelakaan ini. Aku dengar orang yang disebelahku mulai panik, bertanya sambil nyaris berteriak, di mana rumahku, siapa orangtuaku, nomor telepon berapa yang harus dihubungi agar tahu bahwa anak atau saudaranya sedang mengalami kecelakaaan.  Seperti itu lah. Mungkin mereka ingin membantuku, aku tidak tahu. Aku tidak bisa membuktikan itu karena aku tidak menyaksikannya.

Karena pada saat yang bersamaan dengan itu, mataku perih seketika. Yang disebabkan karena kacamata yang kupakai terbentur dan pecah dengan mudahnya, dan puingan itu rasanya menyusup masuk ke dalam korneaku, kemudian rasanya meradang. Dan aku hanya menutupi kedua mataku sambil tak henti-hentinya menjerit, meronta, berguling-guling di jalanan.

Hujan turun dengan derasnya, atau mungkin tidak deras juga. Aku tidak merasakannya. Yang kurasakan hanya rasa sakit. Aku juga bahkan tidak peduli saat berguling seragamku kotor terkena lumpur atau bagaimana.

Aku berteriak tak tertahankan, tak peduli apa kata orang-orang saat itu disekelilingku. Aku mencengkeram mataku dengan kedua tangan kuat-kuat, aku tahu jelas sakitnya saat itu. Kakiku mengerang tak keruan, berapa pun orang berusaha menenangkannya. Mereka tak merasakan sakitnya, mereka tak mengerti sakitnya.

Saat itu, bahkan menangis pun aku tak sanggup. Rasanya benar-benar menyakitkan tiada tara. Sakit. Sakit, sakit, sakit. Hanya itu yang dapat kurasakan. Aku tak dapat mengerjap-ngerjapkan mataku, aku tak dapat berbuat apa-apa dengan mataku. Laksana ada kaktus di dalamnya seolah-olah menusuk-nusuk, yang membuat rasa senat-senut mataku semakin nyata.

Semakin nyata, bahwa kemudian semuanya gelap. Bahwa yang bisa kudengar selain teriakan panik orang-orang hanyalah derasnya hujan. Bahwa yang bisa kurasakan selain sakit hanyalah rasa dingin yang menggigiti kulit. Bahwa saat hujan itu tiba, semua kebahagiaanku sudah diambil alih.

Aku bahkan ragu jika saat itu satu detik sudah berlalu.

Karena rasanya, beberapa detik kemudian, pendengaranku berfungsi, mendengar kenyataan pahit setelahnya. Tapi kenapa pandanganku menjadi gelap? Apakah aku buta? Aku semakin yakin dengan pertanyaanku sendiri. Iya, aku buta. Apalagi diperkuat dengan vonis dokter yang menanganiku di Rumah Sakit.

Memang, sih, tanpa diberitahu pun aku juga sudah merasakannya. Aku, kan, juga tidak sebodoh itu. Orang macam apa yang menyangkal kenyataan dengan berkata bahwa dia tidak buta padahal jelas-jelas sekelilingnya gelap gulita? Aku, kan, tidak sekeras kepala itu untuk memilih menentang realita.

Tetapi kemudian begitu aku mendengar bahwa kamu baik-baik saja, aku tersenyum. Kamu merasa bersalah sekali, itu sudah kuduga. Kamu menyalahkan dirimu, karena gagal menjagaku. Kamu mengatakan pada semua orang bahwa kamu penyebab kebutaanku. Bukannya aku meminta hal itu, sih. Tetapi jangan salahkan aku, jika setelah sampai rumah, aku memutuskan untuk mengunci diri di kamar.

Bukan salahku, kan? Tentu saja aku tidak mungkin kuat jika tersenyum terus-menerus, apalagi aku tidak tahu bagaimana rupaku saat itu. Jangan percaya apa yang kau dengar, percaya lah apa yang kau lihat. Bagaimana aku bisa menerima begitu saja ketika mendengar kamu mengatakan bahwa aku tampak cantik, sementara aku bahkan tidak melihatnya? Menurutmu aku harus percaya bagian itu juga?

Kemudian setelah membiarkanku mengurung itu, aku mendengarmu mengetuk pintu. Memang mengetuk pintu bisa dilakukan siapa saja, tetapi nada ketukan itu jelas-jelas berasal dari tanganmu. Kamu sudah melakukannya nyaris sepersepuluh abad.

Aku tidak tahu seperti apa saat itu ekspresimu. Aku tidak tahu seperti apa saat itu ekspresiku. Kamu memang tidak berkata banyak, tetapi aku bisa menarik kesimpulannya. Bahwa kamu tidak akan membiarkanku sendirian.

Saat itu, aku tidak bisa melihat, kan? Apa aku harus percaya bagian itu juga?

Tetapi aku memutuskan untuk diam. Menunggu dalam pembuktian yang tidak bisa dilukiskan, apakah kamu benar-benar menepatinya atau tidak. Selama itu aku bersekolah di SLB, belajar huruf braille. Kamu memang menemaniku, sih, kamu memang seakan mengantar-jemputku. Tetapi aku belum bisa merasakan apapun soal aku harus mempercayaimu atau tidak.

“Fita?”

Terdengar suara panggilan yang bahkan aku tidak perlu berpikir cepat untuk tahu itu siapa. Saat itu aku sedang duduk di bangku taman, memang tempat kita biasa berbicara. Jika saat TK kita biasa bermain tanah di sini, saat SD kita biasa berkejaran di sini, saat SMP kita biasa belajar bersama di sini.

Dan saat SMA, apapun yang kita lakukan di sini memang hanya bisa kukatakan dengan satu kata. Berbicara. “Hm?”

“Kamu masih di sini, kan?”

Aku mengerutkan kening dalam hati mendengar kata-katanya itu. Dia kehabisan topik pembicaraan, ya? Tetapi aku kemudian tertawa kecil, meskipun aku tahu dia juga sadar bahwa aku sebenarnya tertawa pahit. “Seharusnya aku yang bertanya begitu tahu.”

Kemudian dia mengajakku ke suatu tempat. Hanya menggeret tanganku dan sebenarnya itu menakutkan karena aku benar-benar tidak tahu ke mana aku melangkah, tetapi aku memutuskan untuk percaya saja padanya. Itu yang terbaik, kan?

Meskipun kemudian ada mobil yang menabrak kita lagi. Atau bus pariwisata. Atau truk. Atau apalah, mungkin UFO atau semacamnya, kemudian hujan turun seakan tidak peduli padaku yang meronta, kemudian mengambil kembali kebahagiaan yang seharusnya ada.

Tetapi entah kenapa, aku merasa bahwa itu tidak mungkin. Aku merasa bahwa mungkin, hanya mungkin, kamu akan benar-benar menjagaku. Seperti katamu yang berkata bahwa kamu tak akan membiarkanku sendirian.

Saat aku berada dalam kefrustasian tingkat tinggi di mana kemudian aku merasa bahwa aku memang tidak dilahirkan untuk bahagia di dunia. Kamu duduk di sampingku. Kemudian membiarkanku berkutat dengan pikiranku, yang mencoba merenungkan semuanya.

Aku bukannya membenci tetesan airnya. Aku hanya membenci hujan. Hujan mengambil semua kebahagiaan yang seharusnya kudapat dari mataku.

Seharusnya hujan itu indah. Seharusnya hujan itu merupakan sebuah nikmat. Seharusnya hujan adalah jutaan tetes air yang secara ajaib jatuh dari langit membasahi bumi, menyejukkan, dan meredupkan panas menyengat dari sang surya. Seharusnya itu lah definisiku tentang hujan.

Tetapi hujan adalah hujan. Diantara teriakan sakit ku pada hari itu, aku juga sudah menetapkan sebuah definisi baru. Bahwa hujan yang membawa pergi kebahagiaan. Hujan yang membawanya pergi, hujan yang membuatnya mati. Pergi untuk selamanya, setelah merebut dua bola mata yang berharga untukku. Hujan membenciku.

Tetapi saat itu kamu berkata bahwa sebenarnya hujan yang bersedih karena kamu membencinya. Dan hujan ingin menemani karena tidak ingin kamu merasa sendirian. Aku tidak bisa sepenuhnya mengerti apa maksudmu saat itu, sih.

“Coba duduk.”

Tanpa berpikir apa-apa, aku duduk. Aku percaya kamu memang sudah menyiapkan posisi kursi yang tepat, sehingga aku tidak akan jatuh terduduk dan mengalami kejadian memalukan.

“Memangnya ini di mana?” aku mencoba untuk bertanya.

“Kamu ingat kedai saat hari itu aku mengajakmu?” dia balik bertanya, dan kemudian aku merasakan bahwa dia tersenyum. Sementara aku tidak memerlukan waktu yang cukup lama untuk mengingat kedai yang dia maksud. Tentu saja aku ingat.

“Untuk apa kita berada disini?” tanyaku.

“Menurutmu aku akan menyuruhmu untuk apa?” seperti biasa, dia selalu bertanya balik.

Tetapi kemudian aku terdiam sesaat. Oke, sebenarnya, aku terdiam cukup lama. Dia menyuruhku apa? Aku tahu yang dahulu pernah dia katakan. Dia menyuruhku hanya untuk mendengar dan merasakan. Setelahnya, biarkan dia yang melihatnya. Biarkan dia yang melihat, kemudian aku hanya perlu mendengar. Dan merasakan kepercayaan yang benar-benar ada dari suaranya.

“Di luar sedang hujan,” dia mencoba berkata.

Aku mendengarnya. Aku mencoba merasakannya, dan entah kenapa dingin suasana hujan itu mulai menyelimutiku. Hujan yang mengambil kebahagiaanku.

“Aku sedang menatapmu.”

Dia mengatakan hal yang harus kudengar dan kurasakan lagi. Aku mencoba memahaminya. Tentu saja aku merasakan itu, aku merasa dia melihatku. Bukan apa-apa, hanya saja aku juga merasa bahwa aku mungkin bisa percaya padanya.

Aku mencoba menengadahkan kepalaku. Tentu saja gelap, aku juga tahu. Tetapi setidaknya, aku mencoba untuk membalas tatapannya. Dia tidak mengatakan apa-apa. Tetapi aku tahu bahwa dia memang sedang menanti reaksi yang harus dia terima.

Aku memberinya sebuah anggukan kecil.

“Aku percaya padamu, Ris,” kataku, dan kemudian aku menyunggingkan senyumku. Setelahnya aku juga merasakan, bahwa senyum baru terlukis di wajahmu. Senyum yang kemudian bertahan lama setelahnya.

Hujan yang mengambil kebahagiaanku sudah memberikanku kebahagiaan baru, yang kemudian tidak mungkin dia rebut kembali.

Aku memang mempercayainya. Seperti yang Haris katakan  padaku dia akan selalu ada untukku. Memang aku tidak bisa melihat lagi, tapi Haris akan selalu menceritakan semua yang aku tanyakan, dan dari ceritanya maka aku akan bisa merasakan. Iya, terlebih lagi aku bisa merasakan rasa cinta yang dia berikan padaku.

Dan aku ragu apakah satu detik sudah berlalu selama momen itu.

TAMAT

***

HUWAA kalian nggak tidur kan? Nggak papa kalo mau di close nggak usah nggak enak sama aku.__. Aku malu banget betewe=///= Blog, beruntunglah karena akhirnya datang juga hari di mana aku ngasih cerpenku ke kamu =///= Dan akhirnya aku bisa nambahin label baru "cerpen" sekarang =///=

You Might Also Like

0 comment(s)