Cerpen: Gara-gara Sendok

Selasa, Maret 31, 2015

Halo, hehehe! Maaf, posting Nakaomi terpaksa ditunda orz /sebenernya lama-lama rasanya udah hilang(?) Tapi tenang aja kok. "Nakaomi ke Jakarta" itu bakal jadi satu postingan sama "Nakaomi nonton Cinderella"! xD Maaf menunggu lama, tapi postingan zepeziyal itu ditunda yaaa:"3 *kayaknya juga gak ada yang nunggu sih*

Oke. Sebenernya, kemarin aku baru lihat pengumuman lomba cerpen yang aku ikutin beberapa waktu yang lalu. Karena aku gak mau mengulang kesalahan yang sama yaitu nggak berani ngecek pengumuman lomba cerpen dan ternyata naskahku masuk kontributor:"D dan ternyata bukunya udah habis di semua toko manapun:"D Makanya begitu ada berita kalo pengumumannya udah ada, ya langsung aku cek//v//

Bahkan itu pengumumannya 53 menit yang lalu lho, waktu aku ke sana. Hehey ternyata aku apdet juga:3

Ada 93 pengirim kan. Nah, cuma diambil 30 0w0 Dari 30 itu sebenernya diambil dua terbaik yang bakal dapet bukunya gratis sih, cuma aku udah pesimis sama yang itu x"D Aku udah dapet 30 besar aja seneng bangeet, berarti ada cerpenku yang bisa masuk buku dan dibaca orang-orang :')

Tema lombanya itu "Cinta Lokasi di antara Profesi". Cerpen komedi, dan sebenernya aku gagal banget kalo disuruh buat komedi xD Dan yang dinilai itu ke nggaknyambungan antara dua profesi si dua pihak bersangkutan :"3 Aku bingung banget mau apa, akhirnya tercetuslah profesi ini;

Pemilik Angkringan dan Pengrajin Kayu//v//

Sebenernya, sebelumnya aku mau psikiater dan pengrajin kayu xD Tapi gagal dan kelihatannya malah dewasa banget gak ada lucu-lucunya orz Lalu karena aku bayangin mungkin itu nggak gitu nggak nyambung, jadi pas cari namaku di antara 30 daftar nama itu, aku agak pesimis :') Tapi ternyata QwQ


Ada namaku QwQ Alhamdulillah QwQ Yang warna merah itu namaku, yang warna hitam itu yang dapet dua terbaik{} Hehe selamat yaa{}

Sekarang, tantangan yang kedua(?). Aku bakal ngeshare cerpenku di blog:") Kalo di postinganku tentang cerpenku yang sebelumnya, aku nyuruh kalian klik "More Here" kan xD Sekarang kalian gak usah susah-susah ngeklik itu, cerpennya bakal langsung aku kasih di sini hehe.w. /diasebenernyamalu

Oke. EHM. INI GARING HAHA XD /manasinicepetan
Kalian klik ctrl+w langsung aja sekarang gapapaaa orz

GARA-GARA SENDOK

Ayahku sedang uring-uringan. Keluarga kami memiliki angkringan, dan jujur saja, angkringan kami sepi. Ibuku yang terus mengeluh akhirnya memutuskan untuk menjadi pencuci piring saja, tetapi malasnya bukan main. Ibu hanya mau mencuci garpu terlebih dahulu, dan menyisakan sendok di bagian akhir. Padahal, kami kehabisan sendok. Ibu tidak mau kalau kami menyuruhnya mencuci satu sendok terlebih dahulu, “harus urut,” kata beliau. Antara heran tak heran, sih, dengan kedua orangtuaku. Mereka berdua sama-sama perfeksionis.

Saat itu ada satu pelanggan datang. Ia hanya pesan es jeruk. Ayah tidak mau kalau mengaduk gula pakai garpu. Aku geleng-geleng kepala. Ada stik es krim di dalam saku celanaku, dan diam-diam aku berniat untuk menggunakannya jika tidak sedang berada dalam jangkauan penglihatan mereka. Kemudian adik perempuanku datang. Dia seorang makelar sejati, memang kami keluarga ekonomi. Ayah memberi adikku sebotol air putih, dan adikku dengan santainya mendatangi pelanggan itu.
 
“Selamat siang! Terimakasih sudah menjadi pelanggan kami yang ke seribu. Hari ini adalah hari keberuntungan.. maaf, ibu siapa? Oh, Bu Inda. Oke, hari ini adalah hari keberuntungan Bu Inda. Kami ada sebotol air putih, yang semoga bisa membuat Bu Inda merasa lebih baik! Air putih bisa membuat lebih sehat, kan, Bu? Bisa menyehatkan organ ginjal, memperbarui otot dan sel darah, menyeimbangkan sistem getah bening...”

Ayah menepukkan kedua tangannya. “Nah, Angga,” panggil beliau, menyebut namaku. Sebenarnya nadanya tandas dan lebih cocok apabila belakangnya menggunakan titik, tetapi dengan alasan tata kebahasaan, akhirnya diputuskan menggunakan koma.

Aku yang baru menggeleng-gelengkan kepala melihat adikku, menoleh cepat. “Ya?” kataku buru-buru.

“Ke tetangga sana. Pinjam sendok.”

“Hah? Kenapa tidak tunggu Ibu selesai mencuci sendoknya saja?”

“Menunggu sesuatu yang tidak pasti? Untuk apa? Lebih baik, memperjuangkan sesuatu daripada tidak berbuat apa-apa. Sana!”

Tuh, kan, bahkan kalimatnya itu benar-benar perfeksionis sekali. Menunggu sesuatu yang tidak pasti, begitulah.

Kemudian, Ayah menendangku dengan tendangan jarak-jauh-versi-Tsubasa, membuatku terlempar ke luar, melayang-layang di udara, dan tepat mendarat di depan sebuah rumah bertuliskan ‘Pengrajin Kayu’.

Yah, mau ini pengrajin kayu atau apa, yang jelas aku bertujuan untuk meminjam sendok. Aku buru-buru masuk ke dalam bangunan tersebut. Rumahnya sederhana, segalanya terbuat dari kayu. Benar-benar semuanya. Lantai, dinding, bahkan pot bunga dan selang air. Di halaman depan, sudah ada pameran kayu-kayu yang dijual. Meja, kursi, almari, dan sebagainya.

“Ya?” terlihat seseorang keluar. Cewek, mungkin sekitar delapan belas tahunan. Pakai ikat kepala putih yang tergambar lambang Konohagakure, desa Naruto, dengan spidol besar permanen hitam. Di tangan kirinya ada sebatang kayu, di tangan kanannya ada gergaji, yang dia ayun-ayunkan seolah itu ponsel.

Aku bergidik sebentar – ternyata ada cewek seperti itu di dunia ini – kemudian kembali fokus pada tujuanku. “Pinjam sendok.”

Dia berkedip. Dua kali. “Sendok? Untuk apa?”

Aku mengerutkan kening. “Untuk mengaduk es jeruk yang sedang angkringanku buat. Pinjam saja, setelah itu aku kembalikan.”

“Tidak bisa, dong,” dia menyanggah, tidak terima dengan kalimatku. “Setidaknya, kamu harus membayarnya.”

“Aku hanya ingin mengaduk, kemudian sudah!”

“Kamu sentuh lalu kamu kembalikan pun, sama saja. Kalau kamu mau menyendok dengan sendok kayu ini,” dia meletakkan gergaji, mengeluarkan sendok kayu dari sakunya – bagaimana bisa ada sendok di sakunya? – dan melempar-lemparkannya. “Kamu harus membayarnya juga.”

“Aku lagi tidak bawa uang!”

“Tapi nanti kamu akan membayarnya?”

Tidak ada jalan lain, akhirnya aku menganggukan kepala. “Aku pinjam sendok. Angkringanku dekat sini, kok, kamu bisa ke sana lalu aku akan membayar.”

“Cukup adil,” kata cewek itu dengan nada yang sangat menyebalkan. Apakah dia tidak tahu kalau aku lebih tua darinya? “Oke.”

Aku menunggu. Tetapi dia tidak kunjung memberikan – atau melemparkan juga tidak masalah – kepadaku. Selama berbelas-belas detik, kami hanya diam saja.

“Tunggu apa lagi?” dia berkacak pinggang.

“Sendoknya?” aku menagih.

“Ambil di sana! Di dalam guci kecil atas meja sebelah kananmu itu ada banyak sendok, tahu!”

“Lalu kenapa kamu bawa-bawa sendok seolah-olah sendok itu akan kamu berikan kepadaku?!”

“Memangnya urusanmu?”

Aku menggembungkan pipiku kesal. Aku asal mencomot salah satu sendok yang ada, dan pergi tanpa mengatakan apa-apa.

***

Aku masih setengah mengantuk di kamar, ketika mendengar percakapan di luar angkringanku. Memang angkringan dan rumahku itu jadi satu, dan rumahku itu ada tepat di belakang angkringan. Di pagi-pagi yang masih hening ini, percakapan di luar yang sedikit panik terdengar dengan jelas.

“Maaf, ini siapa, ya?” aku mendengar suara Ayah. Aku duduk bersila di atas tempat tidur, dan menguap.

“Boleh bertemu dengan pemilik angkringan ini?”

“Saya pemilik angkringannya. Ini siapa?” suara Ayah penuh menyelidik. Aku mengambil teh hangat yang selalu disediakan Ibu di atas meja yang sama, dan mulai menyeruputnya.

“Saya pengrajin kayu.”

“#$%&@$#^%!!! Uhuk, uhuk!” aku tersedak dan terbatuk-batuk keras sekali. Bisa saja aku mati di tempat, namun ternyata tidak. Aku berdiri, melompat dari tempat tidurku, dan berlari keluar rumah. Mungkin suara yang ditimbulkan sangat gaduh, sehingga Ayah dan Ibu sudah memandangku penuh tanda tanya.

Sambil mengelap mulutku yang belepotan, aku mengangkat kepala.

Uh. Benar-benar datang, cewek yang kemarin!

Pengrajin kayu itu menudingku. “Pemilik angkringan ini membeli sendok kayu dari tokoku, tetapi belum membayarnya.”

“Oh,” tanggap Ayah, dan Ibu hanya mengangguk-anggukan kepala sebelum masuk rumah kembali, melanjutkan urusan memasak di dapur. Ayah menatapku. “Angga, ambil uangnya di laci meja angkringan yang biasanya, ya. Ayah membaca surat kabar sebentar di ruang tengah,” kata Ayah dan berbalik masuk rumah.

Hanya aku dan cewek ini di depan rumahku.

Cewek itu menyodorkan tangannya. “Harganya lima ratus ribu.”

“Lima ratus ribu?! Mustahil!” aku membantahnya refleks, dengan lagak seolah-olah ini adegan film dan si aktor sedang mendapat kabar yang sangat mengguncang jiwanya. Meskipun aku pemilik angkringan dan bukan ahli pengrajin kayu sepertinya, tetapi aku tidak sebodoh itu untuk bisa ditipu dan disuruh membayar lima ratus ribu, tahu.

Dia berkacak pinggang. “Apanya yang mustahil?”

“Mana ada satu sendok harganya setengah juta?”

“Sendok itu dari kayu jati, tahu.”

“Tidak mungkin!”

“Siapa yang pengrajin kayu di sini?”

Dia benar-benar sedang berdusta. Seperti inikah generasi penerus bangsa?! Aku hanya terdiam. Akhirnya dia mengalah. “Oke. Lima ribu.”

Aku menghela napas lega. “Itu lebih baik, ngg..”

“Rena,” dia menyambung, menyebutkan namanya.

“Oh,” mukaku memerah sedikit, entah kenapa. “Angga,” balasku, untuk mengurangi suasana yang menurutku mendadak canggung.

“Aku tidak tanya.”

Aku menggeritkan gigi kesal. Sebenarnya, di antara semua tetangga yang ada, kenapa aku justru meminjam sendok dari toko cewek ini, sih? Lagipula, ini tidak bisa dikatakan meminjam lagi. Membeli malah. Aku berjalan menuju meja besar yang ada di hadapan rumahku. Biasanya ketika hari beranjak sore, beberapa orang datang dan menyetorkan makanan-makanan mereka. Makanan-makanan itu ditata di atas meja besar ini. Aku membuka laci. Mengeluarkan uang lima ribu rupiah.

Rena mengikuti, berdiri di sebelahku. Aku memain-mainkan uang itu dengan cuek.

Akhirnya dia angkat suara. “Mana?” tagihnya tidak sabaran.

Aku menoleh, pura-pura tidak tahu apa yang dia maksud. “Apanya?”

“Uangnya,” dia menyodorkan tangan kesal.

“Ambil sendiri lah,” aku susah payah menahan senyum puas. “Di dalam laci sebelah kananmu itu ada banyak uang lima ribuan, tahu!”

“Oh, kamu ternyata pendendam, ya!?”

“Memangnya urusanmu?”

TAMAT

=w= Udah he-he-he. Hehe. He. Sebenernya aku juga baru sadar ini nggak ada romantis-romantisnya sama sekali=w=
Udah yaaa sampai jumpa di postingan blogku selanjutnyaa //w//
/diakabur

You Might Also Like

0 comment(s)