award

Cerpen: Gara-gara Sendok

Selasa, Maret 31, 2015

Halo, hehehe! Maaf, posting Nakaomi terpaksa ditunda orz /sebenernya lama-lama rasanya udah hilang(?) Tapi tenang aja kok. "Nakaomi ke Jakarta" itu bakal jadi satu postingan sama "Nakaomi nonton Cinderella"! xD Maaf menunggu lama, tapi postingan zepeziyal itu ditunda yaaa:"3 *kayaknya juga gak ada yang nunggu sih*

Oke. Sebenernya, kemarin aku baru lihat pengumuman lomba cerpen yang aku ikutin beberapa waktu yang lalu. Karena aku gak mau mengulang kesalahan yang sama yaitu nggak berani ngecek pengumuman lomba cerpen dan ternyata naskahku masuk kontributor:"D dan ternyata bukunya udah habis di semua toko manapun:"D Makanya begitu ada berita kalo pengumumannya udah ada, ya langsung aku cek//v//

Bahkan itu pengumumannya 53 menit yang lalu lho, waktu aku ke sana. Hehey ternyata aku apdet juga:3

Ada 93 pengirim kan. Nah, cuma diambil 30 0w0 Dari 30 itu sebenernya diambil dua terbaik yang bakal dapet bukunya gratis sih, cuma aku udah pesimis sama yang itu x"D Aku udah dapet 30 besar aja seneng bangeet, berarti ada cerpenku yang bisa masuk buku dan dibaca orang-orang :')

Tema lombanya itu "Cinta Lokasi di antara Profesi". Cerpen komedi, dan sebenernya aku gagal banget kalo disuruh buat komedi xD Dan yang dinilai itu ke nggaknyambungan antara dua profesi si dua pihak bersangkutan :"3 Aku bingung banget mau apa, akhirnya tercetuslah profesi ini;

Pemilik Angkringan dan Pengrajin Kayu//v//

Sebenernya, sebelumnya aku mau psikiater dan pengrajin kayu xD Tapi gagal dan kelihatannya malah dewasa banget gak ada lucu-lucunya orz Lalu karena aku bayangin mungkin itu nggak gitu nggak nyambung, jadi pas cari namaku di antara 30 daftar nama itu, aku agak pesimis :') Tapi ternyata QwQ


Ada namaku QwQ Alhamdulillah QwQ Yang warna merah itu namaku, yang warna hitam itu yang dapet dua terbaik{} Hehe selamat yaa{}

Sekarang, tantangan yang kedua(?). Aku bakal ngeshare cerpenku di blog:") Kalo di postinganku tentang cerpenku yang sebelumnya, aku nyuruh kalian klik "More Here" kan xD Sekarang kalian gak usah susah-susah ngeklik itu, cerpennya bakal langsung aku kasih di sini hehe.w. /diasebenernyamalu

Oke. EHM. INI GARING HAHA XD /manasinicepetan
Kalian klik ctrl+w langsung aja sekarang gapapaaa orz

GARA-GARA SENDOK

Ayahku sedang uring-uringan. Keluarga kami memiliki angkringan, dan jujur saja, angkringan kami sepi. Ibuku yang terus mengeluh akhirnya memutuskan untuk menjadi pencuci piring saja, tetapi malasnya bukan main. Ibu hanya mau mencuci garpu terlebih dahulu, dan menyisakan sendok di bagian akhir. Padahal, kami kehabisan sendok. Ibu tidak mau kalau kami menyuruhnya mencuci satu sendok terlebih dahulu, “harus urut,” kata beliau. Antara heran tak heran, sih, dengan kedua orangtuaku. Mereka berdua sama-sama perfeksionis.

Saat itu ada satu pelanggan datang. Ia hanya pesan es jeruk. Ayah tidak mau kalau mengaduk gula pakai garpu. Aku geleng-geleng kepala. Ada stik es krim di dalam saku celanaku, dan diam-diam aku berniat untuk menggunakannya jika tidak sedang berada dalam jangkauan penglihatan mereka. Kemudian adik perempuanku datang. Dia seorang makelar sejati, memang kami keluarga ekonomi. Ayah memberi adikku sebotol air putih, dan adikku dengan santainya mendatangi pelanggan itu.
 
“Selamat siang! Terimakasih sudah menjadi pelanggan kami yang ke seribu. Hari ini adalah hari keberuntungan.. maaf, ibu siapa? Oh, Bu Inda. Oke, hari ini adalah hari keberuntungan Bu Inda. Kami ada sebotol air putih, yang semoga bisa membuat Bu Inda merasa lebih baik! Air putih bisa membuat lebih sehat, kan, Bu? Bisa menyehatkan organ ginjal, memperbarui otot dan sel darah, menyeimbangkan sistem getah bening...”

Ayah menepukkan kedua tangannya. “Nah, Angga,” panggil beliau, menyebut namaku. Sebenarnya nadanya tandas dan lebih cocok apabila belakangnya menggunakan titik, tetapi dengan alasan tata kebahasaan, akhirnya diputuskan menggunakan koma.

Aku yang baru menggeleng-gelengkan kepala melihat adikku, menoleh cepat. “Ya?” kataku buru-buru.

“Ke tetangga sana. Pinjam sendok.”

“Hah? Kenapa tidak tunggu Ibu selesai mencuci sendoknya saja?”

“Menunggu sesuatu yang tidak pasti? Untuk apa? Lebih baik, memperjuangkan sesuatu daripada tidak berbuat apa-apa. Sana!”

Tuh, kan, bahkan kalimatnya itu benar-benar perfeksionis sekali. Menunggu sesuatu yang tidak pasti, begitulah.

Kemudian, Ayah menendangku dengan tendangan jarak-jauh-versi-Tsubasa, membuatku terlempar ke luar, melayang-layang di udara, dan tepat mendarat di depan sebuah rumah bertuliskan ‘Pengrajin Kayu’.

Yah, mau ini pengrajin kayu atau apa, yang jelas aku bertujuan untuk meminjam sendok. Aku buru-buru masuk ke dalam bangunan tersebut. Rumahnya sederhana, segalanya terbuat dari kayu. Benar-benar semuanya. Lantai, dinding, bahkan pot bunga dan selang air. Di halaman depan, sudah ada pameran kayu-kayu yang dijual. Meja, kursi, almari, dan sebagainya.

“Ya?” terlihat seseorang keluar. Cewek, mungkin sekitar delapan belas tahunan. Pakai ikat kepala putih yang tergambar lambang Konohagakure, desa Naruto, dengan spidol besar permanen hitam. Di tangan kirinya ada sebatang kayu, di tangan kanannya ada gergaji, yang dia ayun-ayunkan seolah itu ponsel.

Aku bergidik sebentar – ternyata ada cewek seperti itu di dunia ini – kemudian kembali fokus pada tujuanku. “Pinjam sendok.”

Dia berkedip. Dua kali. “Sendok? Untuk apa?”

Aku mengerutkan kening. “Untuk mengaduk es jeruk yang sedang angkringanku buat. Pinjam saja, setelah itu aku kembalikan.”

“Tidak bisa, dong,” dia menyanggah, tidak terima dengan kalimatku. “Setidaknya, kamu harus membayarnya.”

“Aku hanya ingin mengaduk, kemudian sudah!”

“Kamu sentuh lalu kamu kembalikan pun, sama saja. Kalau kamu mau menyendok dengan sendok kayu ini,” dia meletakkan gergaji, mengeluarkan sendok kayu dari sakunya – bagaimana bisa ada sendok di sakunya? – dan melempar-lemparkannya. “Kamu harus membayarnya juga.”

“Aku lagi tidak bawa uang!”

“Tapi nanti kamu akan membayarnya?”

Tidak ada jalan lain, akhirnya aku menganggukan kepala. “Aku pinjam sendok. Angkringanku dekat sini, kok, kamu bisa ke sana lalu aku akan membayar.”

“Cukup adil,” kata cewek itu dengan nada yang sangat menyebalkan. Apakah dia tidak tahu kalau aku lebih tua darinya? “Oke.”

Aku menunggu. Tetapi dia tidak kunjung memberikan – atau melemparkan juga tidak masalah – kepadaku. Selama berbelas-belas detik, kami hanya diam saja.

“Tunggu apa lagi?” dia berkacak pinggang.

“Sendoknya?” aku menagih.

“Ambil di sana! Di dalam guci kecil atas meja sebelah kananmu itu ada banyak sendok, tahu!”

“Lalu kenapa kamu bawa-bawa sendok seolah-olah sendok itu akan kamu berikan kepadaku?!”

“Memangnya urusanmu?”

Aku menggembungkan pipiku kesal. Aku asal mencomot salah satu sendok yang ada, dan pergi tanpa mengatakan apa-apa.

***

Aku masih setengah mengantuk di kamar, ketika mendengar percakapan di luar angkringanku. Memang angkringan dan rumahku itu jadi satu, dan rumahku itu ada tepat di belakang angkringan. Di pagi-pagi yang masih hening ini, percakapan di luar yang sedikit panik terdengar dengan jelas.

“Maaf, ini siapa, ya?” aku mendengar suara Ayah. Aku duduk bersila di atas tempat tidur, dan menguap.

“Boleh bertemu dengan pemilik angkringan ini?”

“Saya pemilik angkringannya. Ini siapa?” suara Ayah penuh menyelidik. Aku mengambil teh hangat yang selalu disediakan Ibu di atas meja yang sama, dan mulai menyeruputnya.

“Saya pengrajin kayu.”

“#$%&@$#^%!!! Uhuk, uhuk!” aku tersedak dan terbatuk-batuk keras sekali. Bisa saja aku mati di tempat, namun ternyata tidak. Aku berdiri, melompat dari tempat tidurku, dan berlari keluar rumah. Mungkin suara yang ditimbulkan sangat gaduh, sehingga Ayah dan Ibu sudah memandangku penuh tanda tanya.

Sambil mengelap mulutku yang belepotan, aku mengangkat kepala.

Uh. Benar-benar datang, cewek yang kemarin!

Pengrajin kayu itu menudingku. “Pemilik angkringan ini membeli sendok kayu dari tokoku, tetapi belum membayarnya.”

“Oh,” tanggap Ayah, dan Ibu hanya mengangguk-anggukan kepala sebelum masuk rumah kembali, melanjutkan urusan memasak di dapur. Ayah menatapku. “Angga, ambil uangnya di laci meja angkringan yang biasanya, ya. Ayah membaca surat kabar sebentar di ruang tengah,” kata Ayah dan berbalik masuk rumah.

Hanya aku dan cewek ini di depan rumahku.

Cewek itu menyodorkan tangannya. “Harganya lima ratus ribu.”

“Lima ratus ribu?! Mustahil!” aku membantahnya refleks, dengan lagak seolah-olah ini adegan film dan si aktor sedang mendapat kabar yang sangat mengguncang jiwanya. Meskipun aku pemilik angkringan dan bukan ahli pengrajin kayu sepertinya, tetapi aku tidak sebodoh itu untuk bisa ditipu dan disuruh membayar lima ratus ribu, tahu.

Dia berkacak pinggang. “Apanya yang mustahil?”

“Mana ada satu sendok harganya setengah juta?”

“Sendok itu dari kayu jati, tahu.”

“Tidak mungkin!”

“Siapa yang pengrajin kayu di sini?”

Dia benar-benar sedang berdusta. Seperti inikah generasi penerus bangsa?! Aku hanya terdiam. Akhirnya dia mengalah. “Oke. Lima ribu.”

Aku menghela napas lega. “Itu lebih baik, ngg..”

“Rena,” dia menyambung, menyebutkan namanya.

“Oh,” mukaku memerah sedikit, entah kenapa. “Angga,” balasku, untuk mengurangi suasana yang menurutku mendadak canggung.

“Aku tidak tanya.”

Aku menggeritkan gigi kesal. Sebenarnya, di antara semua tetangga yang ada, kenapa aku justru meminjam sendok dari toko cewek ini, sih? Lagipula, ini tidak bisa dikatakan meminjam lagi. Membeli malah. Aku berjalan menuju meja besar yang ada di hadapan rumahku. Biasanya ketika hari beranjak sore, beberapa orang datang dan menyetorkan makanan-makanan mereka. Makanan-makanan itu ditata di atas meja besar ini. Aku membuka laci. Mengeluarkan uang lima ribu rupiah.

Rena mengikuti, berdiri di sebelahku. Aku memain-mainkan uang itu dengan cuek.

Akhirnya dia angkat suara. “Mana?” tagihnya tidak sabaran.

Aku menoleh, pura-pura tidak tahu apa yang dia maksud. “Apanya?”

“Uangnya,” dia menyodorkan tangan kesal.

“Ambil sendiri lah,” aku susah payah menahan senyum puas. “Di dalam laci sebelah kananmu itu ada banyak uang lima ribuan, tahu!”

“Oh, kamu ternyata pendendam, ya!?”

“Memangnya urusanmu?”

TAMAT

=w= Udah he-he-he. Hehe. He. Sebenernya aku juga baru sadar ini nggak ada romantis-romantisnya sama sekali=w=
Udah yaaa sampai jumpa di postingan blogku selanjutnyaa //w//
/diakabur

holiday

Mabit: Malam Bina Iman dan Takwa

Selasa, Maret 10, 2015

Jujur aja ya, sebenernya aku lagi maleeees banget ngeblog. Aku pengen ngeblog tentang Mabit, a.k.a Malam Bina Iman dan Takwa, kemarin Sabtu-Minggu tanggal 7-8 Maret 2015. Aku sebenernya males:" Tapi aku sadar *ea* kalo aku males dan aku nunda-nunda, lama-lama perasaan 'seneng' nya itu udah nggak kerasa *ngencengin dasi* Jadi aku harus cerita sekaraaangg!

Mabit adalah peristiwa tak terlupakan oleh kelas X-1 yang pernah menjabat sebagai Kelas Abadi; X MIA EP, apalagi jika mengingat soal 'bis' dan 'keberangkatan'. Jelas aja dong, karena.. karena.. bis khusus X-1 nggak dateng, lol.

Jadi, hari itu aku udah panik banget karena aku telat. Aku nelpon siapapun yang ada di kontakku, soalnya aku takut banget kalo bis nya udah berangkat duluan. Nah ternyata bisnya belum berangkat. Padahal aslinya aku pengen ngikut Mangga yang naik mobil, yang langsung ke lokasi langsung xD Tapi karena bisnya belum berangkat, ya, aku ngikut bis aja hehe.

Jam setengah empat aku sampai sana. Aku hapal jam-jamnya loh, selama Mabit B-) *soalnya ngeliput* Ada tujuh bis yang di sana kan. Sesuai namanya, X-1 dapet Bis 1. Tapi Bis 1 belum dateng-_- Makanya X-1 tim cewek akhwat *apa bedanya* dengan terluntung-luntung(?) membawa tas mereka ke depan SMP 8 buat mbatang dan gabut nungguin bis.

Sampai ketika satu per satu bis udah pergi.... dan kami bertiga belas hanya ditinggal sendiri bersama angin dan rumput yang bergoyang, Mbak Andra baru bilang kalo Bis 1 itu nggak bisa dihubungin. Akhirnya, kami bertiga belas itu shalat Ashar dulu kan di sekolah. Sampai selesai shalat baru dikasih kabar kalo bisnya dateng jam setengah enam TvT

Bayangin, padahal itu baru habis Ashar, jam setengah empat. DUA JAM itu kita ngapain. Mana hujan deres lagi. Untung panitia-panitia kelas 11 nemenin kita yang tiga belas anak kelaparan ini; aku, Lisa, Wisha, Afi, Aliya, Husnul, Natta, Ais, Nabila, Alma, Lusi, Chika, Fatma, dan bahkan ngasih kita biskuit atau apalah yang aku sampai gak kebagian:')

Ternyata jam setengah enam itu hanya wacana, pemirsa. Bisnya itu dateng jam setengah tujuh :') Makanya kita shalat maghrib dulu. Fyi, ini nggak penting part-1; aku jadi imam shalat maghrib loh xD Habis itu baru naik bis.. eh, mana sebenernya itu bukan bis lagi. Tapi.. angkot:’) Nyewa dari terminal Jombor. Dan di sana acaranya udah ada yang selesai. Udah ada pengajian Ust. Nuruzzaman ‘Dahulukan Cari Ilmu, Bukan Cari Prestasi’, pembagian kelompok, sama tadarus. Btw HAHAHA dari ngeliput aku bisa tau banyak=’))) *plak*

Tiga belas anak X-1 baru sampe itu pas Isya’. X-1 dikasih di suatu kamar, dan tiga anak X-1 termasuk Mangga yang dateng langsung ke lokasi juga di kamar itu, Susan sama Cacak. Malem itu juga kita langsung makan malam dan pentas seni.

PENTAS SENI itu yang jadi masalah. Karena X-1 baru diskusi H min 6 menit. H-6menit.

Main drama. Tentang 'Tobat Karena Petir'. Mana yang didiskusiin sama yang dimainin beda banget lagi-_- Jadi yang inti disini itu dua anak teater andalan X-1, yaitu Susan dan Cacak. Ceritanya, Susan dan gengnya lagi selfie dan lagi heboh-heboh gitoh. Lalu adzan, dan kelompoknya Cacak ngajak shalat:)

Aku termasuk kelompoknya Cacak muehehee. Aku gak bisa nyeritain.. pokoknya itu koplak abis xD Akhirnya kelompoknya Susan kecuali Susan itu mau diajak shalat, dan Susannya itu masih gak mau. Dia improvisasi di tengah panggung sendirian jones duh kami benar-benar bangga padamu nak:')

Sampai lalu.. Susan kesambar petir x’D Dan gara-gara kesambar petir itu, dia jadi tobat. Ini APA BANGET ceritanyaaaa=)) Tapi bagus dan menurutku sih cuma kelasku yang bisa diambil intinya:') Main drama sih♥

Gara-gara itu...

X-1 JUARA SATU PENSI.

HUWEEE KECEH BANGET GAK SIH;') Aku, Lisa, sama Mangga lonjak-lonjak lol.

Kenapa yang aku ceritain cuma keberangkatan sama pensi ya?-_- Sebenernya itu ada renungan 'Pencarian Jati Diri dan Cita-cita' oleh Ustad Isnan, ceramah oleh Ustad Parwanto 'Bersyukur', sama outbond *ciyehh aku hapal /udahras* Outbondnya seru, walaupun aku nggak satu kelompok sama temen sekelasku sama sekali:'(

Kelompokku itu ada aku, Anggit, Zia, Sasa, Nurul. Kita kelompok delapan atau kelompok Ruqqoyah. Yel-yelnya itu pake nada Aku Seorang Kapiten ya xD
Kami kelompok Ruqqoyah
Meski hanya lima orang
Tapi kami pasti bisa
Mengalahkan semua 
Udah-_- lol orz, itu yel-yel kilat. Lalu, ini nggak penting part-2 aku jadi ketua kelompoknya:33 Nggak penting banget sih mana sebenernya malu-maluin lagi T.T abaikan deh. Sedih, kelompokku nggak menang lomba outbond. Nggak papa sih, yang penting kelasku juara satu pensi B-)))

Ada sembilan pos. Pos Syair (Salur Air), pos Sunat (Susun Ayat), pos Stand Up, pos Bakat (Tebak Kata), pos Angkat Ember, pos Ihdinassyiratal Mustaqim, pos Lelah, pos Pincang, sama pos Kau-Tahu-Apa (akulupanamanya._.)
  • pos Syair (Salur Air)
Jadi kita nyalurin air, tapi nyalurinnya itu dengan cara lempar ke belakang._. Aku yang bertugas nangkap, hiks. Jadi aku otomatis jadi sasaran empuknya, lol.
  • pos Sunat (Susun Ayat)

Disaat ada yang dapet al Humazah, dan surat-surat yang gampang lainnya.... kelompokku dapet surat al Bayyinah:"))) Miris bangeeett:")))
  • pos Stand Up

Ini main teater. Yang main aku, Anggit, sama Sasa. Sasa jadi buaya kuning, Anggit jadi orang sepuh:")) aku jadi superhero penyelamat orang sepuh yang pengen nyebrang jalan tapi ada buaya kuning disitu xD ini nggak jelas banget orz
  • pos Bakat (Tebak Kata)
Tebak kata itu kayak main 'ya tidak bisajadi' itu loh. Pilihan-pilihannya ada nama puasa, sifat wajib Allah, keluarga Rasulullah, dan sebagainya. Kelompokku dapet yang keluarga Rasulullah xD Itu koplak banget, soalnya kan nama-nama kelompok mabit diambil dari nama keluarga Rasulullah. Aku yang bilang 'ya tidak bisajadi' sementara Zia yang nebak. Nah pas dapet Ruqqoyah itu aku pengen ngakak dan ngasih Zia tatapan mata yang bilang 'NAMA KELOMPOK KITA NAMA KELOMPOK KITA' lol xD Untung Zia peka xD
  • pos Angkat Ember
Cuma angkat ember pake kaki. Nggak banget._. Kirain basah-basahan:(
  • pos Ihdinassyiratal Mustaqim
Artinya kalo gak salah 'Tunjukkanlah kami jalan yang lurus'. Jadi kita ada yang ditutup matanya ada yang enggak, lalu yang jalan kayak main kereta api. Urutannya selang seling, jadi yang matanya gak ditutup, lalu yang matanya ditutup, lalu yang matanya gak ditutup, gitu deh. Aku kebagian yang matanya gak ditutup hehe xD
  • pos Lelah
Aku gak tau ada singkatannya apa enggak, yang jelas disini kita dikasih minum, sama beberapa pertanyaan soal evaluasi mabit ini. Aku sih, cerita soal transportasinya :")
  • pos Pincang
Kayaknya ini pos yang cuma butuh dua orang deh. Satu orang ditutup matanya, satu orang enggak. Nah yang enggak itu harus jaga jarak dari yang si ditutup matanya, lalu bilang "Subhanallah!" atau "Allahuakbar!" berkali-kali, lalu si yang ditutup matanya harus jalan ke tempat yang teriak ituu xD Yang main Nurul sama Zia :3
  • pos Kau-Tahu-Apa
Aku lupa namanya-_-v Yang main cuma satu orang, Nurul. Tugasnya jalan sambil jongkok, lalu mungutin kacang atau apa gituu. Tandingnya sama cowok ikhwan, jelas kalah cepet lah-w-

Oke, lalu...... ini cerita pas pulang.

Aku, Lisa, sama Mangga, ketinggalan bis-___- Cuma bertiga, lol. Oh, tepatnya bis yang meninggalkan kita. Kenapa bis benci banget sama aku-_- Jadi sebenernya kita itu udah panik nggak panik. Tapi lalu masih ada mbak-mbak penanggung jawab tiap bis di pondok, jadinya kita santai. Lagian, mana ada bis yang meninggalkan penanggung jawabnya gitu aja kan?

Dan ternyata ada-_-

Jadi pas kita bertiga plus mbak-mbak penanggung jawab setiap bis itu keluar pondok.. kita hanya mendapatkan sambutan angin dan rumput yang bergoyang. Soalnya bisnya udah pergi-_- Jadi satu bis itu cuma diisi anak kelas 10 aja, nggak ada mbak-mbak kelas 11 yang jadi penanggung jawabnya.

Kita bertiga sebenernya awalnya bingung kenapa nggak ada seseorang yang sadar kalo kita bertiga belum naik bis. Awalnya aja, sih. Tapi kan, X-1 emang dasarnya nggak punya bis, jadi kita ditugasin buat bagi-bagi jadi kelompok kecil secara acak, lalu masuk ke tiap bis yang masih ada bangku kosong.

Nah. Mungkin mereka yang ngira kita bertiga nggak ada di salah satu bis pasti mikirnya "paling ke bis yang satunya" tanpa tau kalo kita bertiga terluntung-luntung(?) di sini T.T Aku, Lisa, sama Mangga baru bisa pulang pake bis pondok pesantren itu, bareng sama mbak-mbak penanggung jawab tiap bisnya. Kita dateng ke sekolah itu cuma tinggal sepuluhan anak, sedih.

Tapi intinya kita bahagiaa:'D Aku jadi nggak sabar besok pas kelas 11 jadi panitia Mabit lalu ngginiin(?) anak-anak kelas 10 jugaa:3 *masih lama* Oke udah yaaa xD Ini masukin label holiday(?) gimana? xD Posku panjang banget huehehee:3

award

Hujan, Kita, Percaya/? orz

Kamis, Maret 05, 2015

Aku mau cerita.. tapi kapan-kapan, lol. Judulnya "Nakaomi ke Jakarta", dan nanti post nya dijamin nggak jelas. Warning aja sih, jadi kalian jangan buka postku beberapa saat ke depan karena nanti akan menjumpai post baru dengan judul seperti itu xD Aku sebenernya mau cerita sekarang, cuma aku baru sadar aku nggak punya asupan foto-fotonya ;_;
"Karena kualitas sekolah bukan segalanya." –Rasya, pelajar yang semoga terus dan akan terus normal, 15 tahun.
Kenapa aku nulis quotes kayak gitu? Nggak ada alasan khusus sih. Ada dua SMA lagi adu kecerdasan. Yang pertama adalah SMA yang NEMku nggak bisa masuk sana, dan yang kedua itu SMA yang aku bisa masuk sana. Bukan SMA Jogja kok, hehe. Nah ternyata yang menang itu SMA yang kedua._. Makanya itu muncul quotes ini xD

Lagian, itu quotes yang nggak bisa aku pahami di SMP, dan baru bisa aku ngerti rasanya pas aku masuk SMA. Oke, ini jadi nggak nyambung.

Sebenernya waktu jaman-jamanku nulis di NaNoWriMo (National Novel Writing Month) bulan November 2014 lalu, aku ada sahabat. Sama-sama kelas 1 SMA, dan sama-sama pengalaman pertama nulis 50.000 kata dalam waktu satu bulan juga. Nah aku stalking blognya kan, ternyata dia itu orang yang sangat percaya pada blognya:")

Itu jelas sangat menyindirku, duh. Dia kan calon penulis yang sama kayak aku, teman seperjuanganku bisa dibilang x3 Di blognya itu penuh sama cerpen-cerpennya, dan dia cerita kalo cerpen yang ini dia kirim ke sini, cerpen itu dia kirim ke sana, pokoknya gitu. Nah pernah dia menang lomba buat cerpen, dan cerpennya dia itu masuk ke novel antologi. Lalu dia kasih cerpennya itu di blognya, enteng banget ngasihnya*w*

Sementara aku nggak pernah ngirim cerpenku ke blog -///- Walaupun blog udah menemaniku selama enam tahun, tapi aku belum pernah satupun ngasih cerpenku di blog. Dulu jaman-jamanku kelas delapan, aku pernah buat blog yang isinya cerpen-cerpenku. Cuma nggak di blog ini._. Maaf ya blog.

Makanya, gara-gara dia, aku mau berubah(?) hehe. Jadi, aku mau ngasih cerpen judulnya "Hujan, Kita, Percaya". Duhhh aku malu banget ini hiks jangan ketawain aku =///= Kalo sahabatku di RPK baca, pasti dia komentar gini:
"Bener-bener... abal-abal." –K, Kapten of RPK.
Iya nih judulnya hiks. Aku jadi makin malu deh. Oke, cerpen ini aku ikutin ke lomba LDR, singkatan dari Lihat, Dengar, Rasa. Dari 199 cerpen yang masuk *kenapa nggak 200 aja plis* cuma diambil 75 QAQ Aku agak pesimis gitu. Dan habis aku kirim cerpenku, aku lepas diri dari situsnya dan nggak ngecek pengumumannya kapan dimana gitu. Aku gak pede:')

Itu aku ngirimnya tahun 2013.

Lalu, di suatu hari yang cerah, di pertengahan 2014 lol, aku iseng bangeeet. ISENG banget, ngecek. Mungkin biar nambah ketegangan, pengumumannya dibagi tiga kloter. Setiap kloter 25 cerpen. Nggak ada gunanya juga sih tau ini, soalnya aku ngecek situsnya pas tiga kloter itu udah diumumin semua, bahkan tiga besar pemenangnya. Udah lama banget emang-_-v


Aku ternyata ada di nomor tujuh kloter satu:"")) Aku langsung loncat loncat disko nggak percaya gitu mueheheee. Ngingetin aku sama kelompok tujuh nya Naruto betewe. *ini nggak nyambung* Kan tiap kloter itu jadi satu novel. Jadi totalnya ada tiga jilid novel gitu. Aku masuk jilid dua novelnya. Aku senenggg banget:"")

Tapi juga nyesel.

Karena novelnya aku cari di Gramedia nggak ada T.T Udah habis mungkin ya stoknya. Hiks. Makanya itu aku nggak umbar-umbar kalo aku menang(?). Lha gimana mau ngomong kalo misalnya aku gak punya bukti?:") Masa aku bilang "Ada cerpenku di novel ini lho!" tapi novelnya udah gak bisa ditemukan?:") *miris*

Yah gitu aja sih. Kalo kalian nemu bukunya, bilang aku ya QwQ Judulnya Dialog Dini Hari. Ngomong-ngomong, kalian jadi mau baca cerpenku nggak? *krik* Yaaa karena aku masih malu dan belum punya rasa percaya diri buat ngasih cerpenku ke blog, ada di bagian Read More ya :') Maaf ya blog, doain aku lama-lama bisa berubah TvT)//


flashback

Buat Mbak Lei

Senin, Maret 02, 2015

Kenapa di awal Maret *anggaplah tanggal 2 itu masih awal /kayaknya emang masih awal deh* aku memutuskan buat ngeblog? Selain karena aku besok libur, pembimbing jurnalistikku, Mbak Lei, bakal baca ini :3 Makanya judulnya "Buat Mbak Lei" xD Maafkan aku ya Mbak.

Jadi, Mbak Lei ini adalah pembimbing jurnalistik. Sebenernya nama aslinya Mbak Dhita, bahkan Pak Eko sebagai penanggung jawab jurnalistik dan Mbak Defa sebagai perwakilan kakak kelas, taunya Mbak Dhita :'3 Tapi ya kita seangkatan manggilnya Mbak Lei, atau ada juga yang Bu Lei. Walaupun awalnya pas Wardah manggil "Bu Lei" aku kira itu julukan baru, "Bule" =)) /ininggakpenting

Oke. Menurutku *asek* Mbak Lei itu orang yang membuat aku yakin mau milih fakultas mana. Secara waktu itu aku pengen banget ke fakultas Sastra, tapi ternyata Sastra itu banyak baca, nggak banyak nulis. Mana bacaannya tebel-tebel dan bosenin gitu duh.w. Jadi, aku move on ke Psikiater.

Emang rada aneh sih kenapa mendadak pindahnya jauh banget-_- Tapi entah kenapa aku ngerasa aku cocok jadi Psikiater gitu. Walaupun kerjanya di rumah sakit jiwa dan ngurusin orang-orang yang hampir gila atau dilanda trauma yang berkaitan dengan kejiwaan, sih. Tapi aku ngerasa ada semacam panggilan pengabdian tentang seputar itu:') *tjieh*

Agak lama aku pengen jadi Psikiater. Udah yakin banget malah. Tapi sampai akhirnya Mbak Lei mengatakan sesuatu yang membuatku terguncang.///. Karena selama ini aku ngira Psikiater itu bagian dari Psikologi, jadi...
"Psikiater itu bagian dari Kedokteran.." -Mbak Lei, selaku pembimbing ekstrakurikuler Jurnalistik sejak 10 November 2014 *aku nggak tau ini salah apa bener, tapi pls aku stalk sms sampe jauh banget demi informasi ini*
JEGRALL(?) <- yang jelas ini backsound suara petir. Pokoknya serasa ada petir di belakangku T.T Masalahnya aku nggak minat kedokteran. Mau ambil jurusan Psikiater atau apapun kalo semisal ada percakapan gini:
"Mau daftar ke mana?"
"Ke Kedokteran."
RASANYA GIMANAAA GITU. Secara aku SAY NO to Kedokteran gituuuhh ;_; Iya sih Dokter itu sukses, tapi kan sekolahnya mahal banget. Iya sih dapet uang, tapi sebenernya secara fakta itu lebih pantes disebut dengan istilah yang pantas di bold underline italic plus capslock yang dinamakan BALIK MODAL.
"Dokter? Iya, sih, dibayar mahal, tapi kan sekolahnya juga mahal. Sama aja kayak balik modal." -Mbak Ana, kakak kelas 12 jurusan IPS. Udah diterima di fakutlas Ilmu Komunikasi Universitas Telkom *keren parah*
Akhirnya, aku kubur mahal-mahal/? keinginanku buat jadi Psikiater. Dan aku tanya Mbak Lei apa fakultas yang cocok buat orang yang suka nulis :"D Dan Mbak Lei akhirnya membukakan jalan untukku dengan menjawab:
Mbak Lei: Ilmu Komunikasi. *nada suaranya bener-bener ngebuat aku serasa mendapat pencerahan dari langit*
Dan habis denger itu aku berasa:
alay emang xD

Oke deh, bismillah tolong doain aku masuk Ilmu Komunikasi yaa^^ Sekarang, aku lanjut cerita, biar postingan blognya panjang orz

Tadi ada jurnalistik. Setiap pertemuan kejadiannya selalu luar bizaza sih:') Tapi tadi itu hikmat dan syahdu banget. Jadi anggota jurnalistik yang waktu itu yang hadir berjumlah 8 dari total 15 orang, disuruh nulis bagaimana perasaan sekarang.

Awalnya kita disuruh merem. Lalu disuruh mengaktifkan indra perasa. Awalnya suruh dengerin suara orang ngobrol di luar, suara bel, suara motor di jalan, gitu deh. Sampai lalu ke babak klimaks, kita disuruh berdiri dari kursi dan ngeraba-ngeraba meja. Ngeraba-raba meja, niatnya gitu.

Yang aku temuin itu adalah kertas. Lalu pensil. Lalu penghapusnya. Lalu...

Aku naruh tangan kananku asal ke suatu bagian meja di sebelah kananku.
Dan itu bersamaan dengan Shelly yang naruh tangan kirinya asal ke suatu bagian meja di sebelah kirinya.

"$%&*#{@]%$!!!!"

Nggak ada satu detik, kita langsung otomatis narik tangan dan nahan jejeritan bareng. Aku nggak tau gimana ceritanya tapi yang jelas tangan kita sentuhan. Di tempat yang bener-bener KLIK BANGET kita naruh tangan kita bersamaan. Pokoknya it's SUPER SINETRON SEKALEH PEMIRSAH.

Mungkin itulah yang disebut dengan insting sehati lol. Sayang Lisa udah pulang hiks, bayangin kita yang duduk sempit-sempitan dalam satu meja sentuhan tangan bertiga bareng.

Habis itu disuruh melek dan nulis perasaan masing-masing. Aku lebih ke perasaan lelah dan cerita-cerita apapun yang pengen aku ceritain sih. Oke sebenernya aku pengen nyeritain yang pas aku sentuhan tangan sama Shelly lol tapi itu susah banget dijabarinnya. Makanya aku cerita disini aja xD
Oke, akhirnya kita sampai di bagian penutup postingan. Buat Mbak Lei, karena besok Senin libur dan besok Senin UTS, aku lupa ada hal-hal yang pengen aku sampaikan *asek*
  1. Mading jurnalistik yang baru udah jadi lho Mbak! xD Tapi sebenernya ada satu TYPO yang sangat GAWAT sekali-_-v Salahku sih Mbak. Maafkan aku;-; Gawat banget Mbak typonya duh rasanya pengen menghilang dari muka bumi ini :'(
  2. Kaca kapan buka lowongan pekerjaan(?) Mbak? :') Bener-bener harus nunggu aku kelas 11 ya Mbak? Hiks nggak mau Mbak kalo nunggu kelas 11 QAQ Soalnya kalo kelas 11 kan kesannya udah di usia yang wajar gitu kalo pengen coba daftar, sementara kelas 10 kan masih dianggep ingin mencoba sesuatu yang baru, udah nggak kece lagi:') /apaanini
Ini post dedicated to Mbak Lei yang habis itu ngasih kita semua tugas jurnalistik harus nulis apapun bebas asal temanya Matahari xD Jarang-jarang loh Mbak aku tulis post yang aku persembahkan untuk zezeorang B-)