random

Perhatikan Sekelilingmu.

Rabu, Desember 30, 2015

Apa, sih, artinya jaman sekarang?

.

.

/krik krik/

Salah, salah-_-

Itu kalimat yang salah.

Maksudnya, aku cuma pengen menggambarkan jaman sekarang di mana teknologi udah maju, di mana kebanyakan anak-anak itu sukanya main hape, ke mana-mana pasti buka hape, jarang bersosialisasi sama orang di sekitarnya. Aku masih inget waktu aku kelas 6 SD masa-masa gabut-setelah-UN, nyoba bis Trans Jogja yang waktu itu masih baru dan masih dalam masa percobaan, aku sama ralafadi jalan-jalan keliling jogja.

Aku bawa hapeku di saku, dan itu hape pertamaku. Karena SD Muh CC nggak boleh bawa hape, makanya aku juga baru dibeliin hape pas udah nggak terikat(?) sama sekolah. Di bis, kenalan sama bapak-bapak, Pak Nu, namanya. Lamaa banget. Dan sejauh yang aku lihat, waktu itu nggak ada orang sibuk dengan hapenya. Walaupun pada nggak ngobrol, seenggaknya pada nggak mainan hape. Pada merhatiin jalanlah, ada juga yang ngobrol, dan lain-lain.

Sekarang udah nggak ada. Maksudku, ada sih anak SD yang naik TJ, tapi udah nggak ada yang ngajak ngobrol orang-orang di sebelahnya. Kenapa? Ada tiga faktor. Anak SD nya asyik main hape, orang di sebelahnya asyik main hape, atau dua-duanya yang asyik main hape (atau dua-duanya marahan/?).

Aku sering liat di suatu rumah makan, dua orang pacaran malah sibuk main hape. Maksudnya mau gimana, sih? Mereka ngobrol lewat hape? Yaaa secara aku nggak tau mereka gimana dan emang nggak boleh kan ya asal menghakimi orang kalau cuma lihat dari satu sisi doang, tapi kan yaa, kalau bisa ngobrol kenapa enggak? Mereka ketemuan dan makan bareng buat ngobrol, kenapa malah main hape?


Tuh, lihat gambar di atas. Apa asyiknya jalan-jalan sama orang yang kayak gitu? Kasihan ceweknya, dia sengsara(?) QAQ Di rumah, si cowok kerjaannya main game melulu. Di manapun. Ngajak jalan-jalan juga cuma ke toko game, dan intinya tiada hari tanpa game. Memang sih nggak ada pengkhianatan ke cewek lain atau gimana, tapi kalau dia bersikap ke ceweknya kayak gitu, apa dia layak disebut sebagai manusia? Nggak ada sikap toleransi antar sesama?

.

.

/krik krik/
/bahasamu ras/

Aku nggak berniat menggurui gimanapun, sih, aku juga orang yang suka mainin hape kalo situasi lagi canggung atau biar aku nggak keliatan sendirian. Aku kan, juga bagian dari jaman sekarang. Tapi kalau dipikir-pikir, kalau sampai kelewatan, sampai ke mana-mana main hape, nggak bisa pisah dari hape dan lain-lain, miris juga T^T

buku

Bukan Review. Ini Obi.

Kamis, Desember 24, 2015

http://49.media.tumblr.com/217a5ee77ef86582828710f280d333ec/tumblr_nlkax4IoWH1rc8aawo9_540.gif

Note: Ini rangkaian paragraf pembukaan.

Maaf, sebenernya melalui postingan ini, aku berencana me-review buku. Jadi, aku mau menilai suatu buku secara keseluruhan, ngasih kekurangan, kelebihan, sama komentarku terhadap buku itu. Sekalian latihan buat tugas bahasa Indonesia juga, sih, soalnya tiap dua minggu sekali harus buat resensi buku selama semester satu.

Jujur aja, sih, selama dikasih tugas itu, aku nggak pernah sekalipun pakai buku favoritku (walaupun disuruh ngeresensi buku favorit).

Kenapa? Karena aku nggak bisa menilai buku favoritku secara keseluruhan.

Mungkin masih ada sisi kekanakanku di sini ya. ‘Menilai secara keseluruhan’ itu berarti kita nggak boleh memihak pada setiap tokoh. Netral. Tokoh utama yang mana, tokoh pihak baik yang mana, tokoh pihak jahat yang mana, nasibnya mereka gimana, ceritanya gimana. Sementara kalau aku udah menentukan suatu buku jadi buku favoritku, itu berarti aku punya karakter favorit, bagian cerita favorit, dan yang paling parah, sudah mengimajinasi gimana plot cerita itu seharusnya (anak fanfiction mah gitu-_-).

Makanya itu, kalau disuruh buat ngeresensi buku favorit... aku bakal ada konflik batin sendiri. Beneran. Bisa sih aku ‘membuang diriku bentar’ buat bikin resensi buku ini.. tapi nanti adanya cuma:
Tema keseluruhan baik. Plot menarik.
Klimaks konflik kurang.
Itu aja. Kenapa(2)?

Karena tokoh favorit yang kusukai itu pasti ‘tokoh terbelakang’. Misalnya cerita cinta segitiga, aku pasti suka sama orang ketiga. Misalnya tentang persahabatan-empat-orang, aku pasti suka sama ‘sahabat sebelumnya tokoh-bukan-utama’. Dan yang paling parah, kalau tentang perang-perangan, aku pasti suka sama ‘tokoh-bukan-utama-di-pihak-jahat’. Udah bukan utama, di pihak jahat lagi-_- Jadi, kalau aku buat resensi buku tentang buku favoritku, aku pasti bakal lebih mengunggulkan tokoh yang seharusnya nggak diunggulkan hanya gara-gara dia tokoh kesukaanku.

Yang terakhir. Karena bagian cerita favoritku itu pasti bukan klimaks konflik. Jelas secara tokoh favoritku itu tokoh-terbelakang, aku pasti suka semua bagian cerita yang ada dia-nya. Dan kebanyakan, klimaks konflik buku favoritku itu nggak melibatkan tokoh favoritku.

Jadi aku nggak bener-bener buat itu dari hati(?). Mungkin aku harus mendewasakan diri dulu biar bisa menilai-buku-favoritku-secara-keseluruhan.

Daripada malah melenceng dari topik ‘review’ karena aku malah mengunggulkan satu tokoh yang bukan utama, makanya dari awal aku terbuka aja. Aku mau menceritakan tentang tokoh favoritku dan bagian cerita favoritku.

***

Note: Paragraf pembukaan selesai. Masuk ke isi postingan.

Judul bukunya Red Haired Snow White.
Namanya Obi.
http://40.media.tumblr.com/150015713b9ed702088c2a9d254f9ca6/tumblr_nskxqnKfC11ur58p8o1_500.jpg
by neneko. source here

Dia ganteng(???) /TENDANG. Oke, faktanya, ada empat tokoh yang (ceritanya) lebih ganteng dari dia, dan dia seharusnya nggak dianggap ganteng, tapi kutekankan lagi ya, dia tokoh favoritku (dan lebih baik ingat itu selama baca paragraf ini sampai selanjutnya). Karena semua tokoh cowok di kebanyakan cerita pasti ganteng, jadi nggak aneh juga, sih. Lanjut, ya. (satu paragraf bahas ganteng doang!).

Dia pembunuh bayaran. Tugasnya, membunuh Shirayuki, si tokoh utama, gadis berusia delapan belas tahun yang bekerja di istana sebagai apoteker. Di sini diceritakan, Shirayuki akrab sama Zen, pangeran istana, dan mereka saling suka. Hubungan itu ditentang sama beberapa bangsawan di istana karena status sosial Zen dan Shirayuki beda jauh. Salah satu bangsawan istana menyewa pembunuh bayaran dan nyuruh si pembunuh bayaran, Obi, untuk membunuh Shirayuki itu.

Usaha pembunuhannya gagal (wajarlah, secara tokoh utamanya siapa gitu lho), dia dijebak sama Zen dan beberapa pengawal pribadi pangeran bersama dengan si bangsawan. Si bangsawan itu dimaafkan, dan Obi dihukum untuk jadi pelayan Zen sampai masa hukumannya berakhir. Begitulah ceritanya bagaimana Obi bisa ‘masuk ke dunia si tokoh utama’.

http://40.media.tumblr.com/73d8cdf42609b84aafea4bd49d4beb9f/tumblr_ngsjv8cxBC1tbpb55o1_1280.png
Zen & Obi

Setelah masa hukumannya berakhir, Obi sudah diperbolehkan untuk keluar istana. Tapi ternyata, Obi pergi keluar istana mendadak dan tanpa ijin, dan nggak pulang lagi sampai seminggu lebih. Begitu dia muncul lagi di istana, pangerannya marah, kan, karena dia cuma dibolehin keluar selama dua hari.
Tapi, ketika aku memberimu ijin untuk keluar istana, aku memikirkan kemungkinan kau tidak akan kembali ke sini. Tapi kau kembali.
—Zen to Obi
Zen bilang kayak gitu, dan dia mulai ada sedikit rasa kepercayaan ke Obi. Karena bukan nggak mungkin begitu Obi dikasih ijin keluar istana, dia nggak bakal balik lagi, kan. Tapi ternyata Obi balik :’) (mulai, nih, mihak tokoh favorit). Akhirnya Zen ngasih Obi tugas lain: jadi pengawal pribadinya Shirayuki, karena Zen kan nggak bisa ngawasin si gadis 24/7 secara dia juga punya kesibukan. 

https://40.media.tumblr.com/91317d07d4784cfa30e7229fff1ed15c/tumblr_nv59yakEO21qdnejeo1_1280.jpg
Obi dikasih pilihan sama Zen

Alhasil deh, Obi ngekor Shirayuki mulu kayak anak kucing XD Bantuin ngeracik obat-obatan, nemenin ke perpustakaan, ngambil tanaman herbal, ikut mikir, sampai si gadis-tokoh-utama itu mulai naruh percaya juga.
Kalau tahu ada Obi, aku bisa tenang.
Kalau bersama Obi, aku tidak perlu memasang perlindungan apapun.
Akagami no Shirayukihime zen shirayuki Obi Welcome
Shirayuki bilang makasih ke Obi

Lalu sampai Zen bener-bener udah percaya, suatu hari ketika Shirayuki diundang ke kerajaan sebelah seorang diri, Zen nugasin Obi aja yang ngelindungin. Lalu waktu berikutnya, ketika Shirayuki ditugasin ke daerah paling utara yang jauh, Zen nyuruh Obi nyusulin.

Lama-lama, mereka sering bertiga ke mana-mana. Zen, Obi, sama Shirayuki. Karena Obi ini pembunuh bayaran dan suka keliaran sebelum ditugasin ke istana, dia punya banyak temen setiap kali mereka bertiga pergi ke suatu daerah. Dan siapapun itu, temen lamanya Obi, pasti selalu nganggap Obi itu beda dari yang sebelumnya.

http://40.media.tumblr.com/c3d64cbfb8556fccee0e780744d4c026/tumblr_noormlE8BG1tbpb55o1_r1_400.pnghttp://41.media.tumblr.com/b7a2d975d83873822d567d6a5dfab85b/tumblr_noormlE8BG1tbpb55o2_400.png
Obi bantuin ngeracik

Sampai suatu hari, pas mereka bertiga bermalam di suatu penginapan, Obi diem-diem pergi karena diajak ketemuan sama temen lamanya itu di suatu tempat. Dia nggak pulang sampai paginya. Mereka cuma ngobrol di suatu rumah kosong, dan intinya, temen lamanya itu nyuruh Obi balik ke kehidupannya yang lama sebagai pembunuh bayaran dan keliaran ke sana-kemari.
Aku sudah kenal kamu lama. Setahuku, kamu itu benar-benar profesional. Mengobrol dengan siapapun tanpa sungkan-sungkan, dan tidak pernah terlalu dekat dengan siapapun juga. Atau, Obi, mungkinkah kamu tipe yang susah pergi kalau kelamaan menetap?
Tapi kenyataannya, Obi tuh bukannya nggak mau pergi. Tapi, dia ngerasa kalau dia nggak bisa pergi. Tapi di tengah-tengah pembicaraan, mereka tertangkap basah sama Zen dan Shirayuki yang nyari ke rumah kosong ini. Alhasil temen lamanya Obi itu kabur, dan Obi dimarahin habis-habisan. Tapi, Obi bukannya dimarahin karena pergi di tengah-tengah tugas mengawal. Obi dimarahin karena dia nggak ijin sama sekali.
Tolong lebih sadar akan sekelilingmu. Kalau kamu tidak berada di tempat kamu seharusnya berada, akan ada orang-orang yang mengkhawatirkanmu.
Waktu Obi dibilangin kayak gitu, dia tiba-tiba sadar sesuatu. Itu emang kutipan yang bagus, sih XD Semacam untuk sekumpulan persahabatan, yang salah satu di antara mereka ngerasa dia nggak dilahirkan untuk dicintai atau dia lagi pengen sendirian, pasti sahabatnya bakal nyariin terlepas dia mau dicari atau enggak, kan. Makanya waktu temennya ngajak dia lagi, dia mulai yakin kalau dia nggak mau lagi jadi pembunuh bayaran.
Rasanya seperti satu bagian diriku telah kutempatkan di sebelah mereka, dan bagian diriku itu telah diterima tanpa aku bisa berbuat apa-apa.
Obi itu hanya (walaupun aku nggak mau mengakui ‘hanya’-nya sih) tokoh yang sebelumnya jadi pembunuh bayaran tapi kemudian memutuskan untuk menetap di istana dan mengabdi di sana. Intinya, sih, itu. Intinya.

Kenapa aku suka Obi?

Akagami no Shirayukihime zen shirayuki Obi hard
HAHAHA =))

Karena Obi itu pengawal yang setia. Dia selalu ngelakuin apapun yang Zen atau Shirayuki mau. Bahkan saking Zen percaya Obi bakal langsung matuhin perintahnya, dia kalau manggil Obi tinggal teriak, "Obi! Dalam sepuluh detik, kemari!" dan Obi bener-bener trus langsung di depannya=)) Apa yang Zen mau, apa yang Shirayuki mau, Obi pasti langsung ngejalanin itu.

https://s-media-cache-ak0.pinimg.com/736x/96/fd/20/96fd20f54b318ee29444b6b003251db4.jpg   http://40.media.tumblr.com/4ed098b60f8f5ae925bce4912344a14a/tumblr_noqfv8J8Ok1qhioh6o2_250.png
bukti Obi loyal ke Zen :')

Obi itu tipe pengawal yang suka menyelesaikan tugasnya diem-diem. Waktu ada musuh yang nyatain kalau dia nggak suka sama Zen dan Shirayuki, Obi ini bisa nyamperin dia dan nggak ketahuan siapapun, trus bilang, "Kalau kamu melukai mereka berdua, aku akan mencekik lehermu dengan syal yang kamu pakai," dan ngebuat musuhnya langsung bertekuk lutut lol XD

Seperti biasa, ini yang harus kita semua tau, Obi itu suka sama Shirayuki. Tapi, beda sama karakter di cerita lain sebagai orang ketiga yang sukanya ngejar-ngejar tanpa peduli tindakannya itu bisa melukai perasaan dan menimpulkan persaingan bagi yang lain, Obi mutusin buat nggak ngejar Shirayuki dan bahkan nggak pengen yang lain tau tentang itu. Dia nyembunyiin perasaannya.

 
suka banget :')

Kenapa(3)? Karena Obi tau itu yang terbaik buat Zen sama Shirayuki. Kalau mereka berdua senang dengan itu, Obi tau kalau sebagai pengawal pribadi yang udah mengabdi ke mereka, dia harus dukung. Makanya, Zen sama Shirayuki juga tenang banget kalau Obi bersama mereka.

Obi seneng banget kalau sama Shirayuki :')

Credit gambar: google, pinterest, theworldofshirayuki.tumblr

bleepy

New Skin!

Selasa, Desember 22, 2015

Sekarang, seperti yang kalian ketahui, tampilan blogku ganti! XD Hampir satu jam aku cari-cari skin blog baru di blogskins, tapi kok yang menurutku bagus udah pernah kupakai, ya-_- Kalau nggak kupakai ke blogku sendiri, ke blognya temenku yang minta tampilan blognya aku yang pasang, atau blog kelas tujuh sama kelas delapan dulu. Makanya itu aku akhirnya move on (cie) ke google!

Yaps, aku cuma cari aja "best free skin" dan itu membawaku ke tema ini! Awalnya gambarnya bukan balon, awalnya kesannya suram(?). Trus aku ganti dan sama aja. Sebenernya sih, pengen aku pasang di awal tahun, tapi sekalian aja deh, hadiah buat Bleepy karena aku ulang tahun :3


Itu ucapan-ucapan selamat ulang tahun. Jadi, beberapa orang yang tidak mau disebutkan namanya walaupun aku tau :))) buat bintang-bintangan gitu trus ditulisin ehehehe :"") Aku seneng :")

Tapi aku juga sedih sih XD Akhirnya selama aku buat quotes-quotes dan kutulis "Rasya, (masih) 15" itu harus berakhir sampai di sini TvT Karena sekarang umurku udah 16 tahun! Sama kayak umurnya Khusnul, adek kelasku yang ulang tahunnya juga tanggal 17 Desember, lol XD Akhirnya aku dapet orang yang ultahnya tanggal 17 Desember tahun 1999 :") Selama ini nemu dua orang tahunnya 1998 sihh :")

H+1 ulang tahun, aku nonton Star Wars! Di JCM ternyata sepi ehehe:")) Itu film Star Wars yang pertama kutonton dari awal sampai akhir, lol, jadi aku nonton itu aku nggak ngerti apa-apa(?) dan sekarang aku jadi ngerti semuanya(?).

Jadinya, merayakan pergantian usiaku ini... Bleepy ganti penampilan deh! {}

jurnal

Jurnal: Survei Pelantikan?!

Selasa, Desember 08, 2015

Akhirnya ada kejadian yang menyenangkan minggu ini! XD

Yap. UAS anggep aja udah selesai (hari ini masih ada UAS Dasar Penelitian). Tapi yaa, kebanyakan dari kita udah mulai menganggap semuanya bebas dan kita bisa ngapa-ngapain. Aku sebenernya ada acara, sih, jam empat harus ke Gamabox soalnya mau ada rapat. Tapi aku juga bingung dari jam sebelas sampai jam empat itu aku ngapain ;_;

Trus, tiba-tiba ada rejeki(?). Ifah, Wardah, sama Lisa nyamperin aku yang lagi di lobby. Mereka bilang, kalau mereka bakal survei lokasi pelantikan ekskul jurnalistik hari ini. Motornya ada empat, yang belum ada boncengan masih dua XD Dadakan banget sebenernya, tapi kan aku emang nggak gabung grup pelantikan jurnal (KENAPA. AKU DI SINI MASIH BINGUNG BANGET NAPA AKU GAK DIMASUKIN HA /ras).

Habis dhuhur, kita berangkat. Aku bonceng Isna. Wardah bonceng Lisa. Ifah bonceng Bagas. Suryo bonceng Wisha.

(((Suryo bonceng Wisha)))
"Yang cewek siapa yang cowok siapa?!" -Rasya, (masih) 15 tahun, pelajar. *ras*
Trus, kita berhenti di Indomaret. Aku nggak ada duit, jadinya ntar minta aja makanan yang dibeli para pembelanja(?). Habis itu biar nggak bosenin, ada pergantian boncengan. Aku sama Wisha, Ifah sama Isna, Wardah tetep sama Lisa, Suryo sama Bagas. Dari sini, kita balapan sampai lokasi pelantikan.

Wisha kecepatannya sampai 80 km/jam-__- Aku setiap kali buka kaca helm buat ngomong, bibirku langsung kering-_- Aku aja sangsi kayaknya Bagas lebih cepet lagi deh. Lah, Wisha tuh balapan sama Bagas lol. Aku sama Suryo para pembonceng yang geregetan sendiri...

Akhirnya kita sampai juga di lokasi pelantikan! Lokasi pelantikannya enak bangeeeet:"") Pedesaan gitu. Lalu kita di dalem rumah nentuin nanti pembagian kamar buat putri, putra, kakak kelas alias kita di mana, lalu 'aula' ntar di mana. Habis itu, kita jalan-jalan ke luar, nentuin pembagian pos dan yang jaga siapa, dan nanti isi posnya ngapain.

Kalau jelasin suasananya, takutnya spoiler ke adek kelas yang baca blogku *siapa* Pokoknyaaa suasananya keren bangeeet XD Serem juga, lol, itukan yang terpenting(?).

Selesai nentuin pos, kita kehujanan, padahal belum sampai rumah. Kita ngiyup di rumah budhe nya Isna:)) Di sana kita ngerepotin banget hahaha. Numpang makan, numpang ngemil, numpang minum, numpang gelar tiker buat diskusi, numpang boboan, berasa rumah sendiri-_- Nah, trus, karena di sana udah jam tiga-an..... aku baru sadar kalau aku telat makan-__-

Yap. Aku maag, deh. Bersalah banget, sekarang gantian aku yang ngerepotin mode parah-_- Akhirnya aku boboan, nyusul Suryo, Lisa, Wisha yang udah boboan duluan. Boboan sebentar, habis itu udah enakan (enakannya juga cuma sebentar, tapi ya pokoknya enakan lah). Habis itu hujan berhenti, trus balik ke lokasi.

Di sana, kita sholat ashar sambil rapat(?). Soalnya rukuh cuma satu, jadi gantian-gantian gitu. Di sana kita sekalian sharing-sharing soalnya ada yang pengen aku omongin juga ke mereka;__; Trus udah kan. Habis itu aku diboncengin Wisha sampe pulang ke rumah, karena rumahku dan rumahnya Wisha emang deket :3

Nah. Kan dibagi rombongannya jadi dua. Aku-Wisha, sama Suryo-Bagas (NOT AGAIN...). Kita BARU belokan pertama, dan kita udah ambil belokan yang SALAH-_- trus kita balek lagi ambil jalan yang satunya. Eh, ternyata jalan yang satunya itu malah makin salah-__- jadi jalan yang kita ambil tadi tuh sebenernya malah yang bener-_-

Habis itu, di belokan yang kedua..... kita juga salah._. Mulai nyasar kan-_- aku udah berimajinasi sampai yang serem-serem(?) /plak. Akhirnya Suryo sama aku turun, tanya ke orang. Baru dijelasin jalan mana yang bener. Dan sampe situ aku sama Wisha baru mikir, kalo orang-orang bakal ngeliat kita berempat itu aneh. Kejadian boncengan empat orang yang harusnya "dimanfaatkan" sebagai boncengan ala double-couple; cowok-cewek cowok-cewek.... kenapa malah jadinya cewek-cewek cowok-cowok -___-

Trus... di tengah-tengah perjalanan... sebenernya maagku kambuh lagi sih._. Aku belom makan apa-apa sejak sarapan. Tapi ya bisa ditahan kok, daripada aku ambruk itukan nggak lucu banget. Lalu, di perempatan, aku-Wisha tau kalau di situ, Suryo-Bagas bakal terus dan aku-Wisha belok kiri. Tapi mereka nggak tau-_-

Kebetulan pas itu lagi lampu ijo, jadi si Suryo-Bagas langsung meluncur lurus gitu aja tanpa noleh walaupun Wisha udah ngeklakson banyak banget sampe diliatin orang-orang-_- Aku juga udah manggil-manggil, tapi mereka nggak ngerasa berdosa sama sekali udah tlonyor gitu aja hmbz-_- Akhirnya yaudahlah. Wisha nganter aku pulanggg:")

Itu udah malem banget:") Tapi aku seneng:"))))

dedicated to

Temen Sesaat

Sabtu, Desember 05, 2015

Aku punya temen sesaat.

Oke, kalimat pertamanya aneh. Soalnya, sampai sekarang nggak ada kabar dan kita nggak sempet mengucapkan sampai jumpa lagi--yah, kita juga nggak pernah secara resmi bilang halo, sih. Sekarang juga udah nggak ada kabar. Jadi, memang namanya gitu; temen sesaat.

Dia penjual Cokola Blend di Belakang KFC (BK) depan sekolahku.

Aku bukan anak-BK, sih. Jadinya, aku nggak sesering temen-temenku yang lain yang suka nongkrong di sana. Yaa walaupun kalau aku ke BK, aku pasti beli Cokola Blend, tapi pasti ada temenku yang lebih sering beli di sana.

Aku dan dia, awalnya sama kayak dia dengan temen-temenku yang lain yang beli di sana; sebatas pembeli dan penjual. Aku juga jarang ke sana. Ketemuanpun, cuma beberapa kali, nggak sampai belasan. Aku suka banget minuman yang dia buat. Itu minuman aneka rasa, lalu kita milih dua topping gitu. Simpel, sih, aku milih rasa coklat lalu toppingnya chocochip-kali-tiga. Soalnya aku jenis toppingnya sama, makanya aku minta tambahan satu sendok lagi.

Yaa, mungkin gara-gara itu, dia jadi hapal aku. Seenggaknya, walaupun aku jarang pesen, tapi dia udah tau aku mau pesen apa setiap kali aku dateng. Nggak pernah ngobrol soal hal yang penting, kok, cuma sebatas nggak ada kembalian lembaranlah, sedotannya jatuh, tutupnya kekecilan, pake plastik apa enggak, cuma seputar itu aja.

Lalu, di hari kesekian, aku coba aja ajak dia ngobrol. Awalnya, dia masih nganggap aku ikut campur urusan orang, yaaah emang aku salah tanya sih ;_; jadi kesannya kepo dan pengen tahu gitu. Dia awalnya jawab asal-asalan, mungkin ngiranya aku cuma basa-basi atau mau sok akrab aja. Tapi, ya, jawabannya dia bikin aku penasaran(?).

Akhirnya, aku mulai agak sering ke sana. Duitku habis XD *salahnya* Lama-lama, dia mulai nyapanya "Heii" dan mulai tanya-tanya gimana pelajaranku di sekolah. Aku bilang aja apa adanya, trus dia juga cerita soal dia. Lalu, aku mulai dibolehin bikin minumku sendiri XD Ini seruuu banget. Aku suka. Sebenernya, biasa, sih, dan aku jadi berasa kekanakan. Tapi, dia itu berasa kakak perempuanku, jadi mau nggak mau kalau sama dia aku jadi manja(?) kayak adik.

Aku ambil gelas plastiknya, lalu aku isi es sampai setengahnya, terus dikasih air dikit, trus dikasih air gula. Dimasukin ke blendernya. Habis itu aku diajarin bedain plastik-plastik tiap rasa. Bubuk coklat tuh yang mana, vanilla yang mana--trus aku masukin seplastik ke blender. Habis itu aku tutup blendernya, pegangin tutupnya, trus pencet angka 2. Kalau udah, pencet angka 0, lalu tuangin ke gelas plastiknya lagi.

Aku buatnya keenceren sih._.v Oke, lanjut. Satu-dua kali aku masih ke sana.

Habis itu, sampai ke minggu mendekati UAS. Aku mulai jarang ke sana. Fyi, bukannya aku belajar kok(?) Ngumpulin laporan praktikum, ngerjain tugas seni budaya, garap semua tugas yang tenggat waktunya sebelum UAS dan pulang sekolah udah sore, jadinya nggak sempet ke BK. UAS udah tinggal hari Seninnya, sementara hari itu, hari Kamis.

Kamis, 26 November 2015, sekitar jam 16:20

Aku dateng ke BK, sebelum dijemput. Aku beli, seperti biasa, sih, es coklat toppingnya chocochip-kali-tiga. Trus, tiba-tiba dia bilang:

"Besok aku pulang."

Itu... aku berasa syok banget._. Hampir bertepatan dengan itu, di BK, ada anak SMA yang lagi ketawa-ketawa serombongan gitu, trus mecahin piring, dan itu berasa backsound(?). Kan, dia asalnya bukan dari daerah sini, dia dari Jawa Timur. Dia bilang, tergantung penjemputnya, mau jemput dia hari ini atau besok. Kalau jemputnya hari ini, dia pulang hari ini dan ini pertemuan yang terakhir. Kalau jemputnya besok, berarti ini jadi pertemuan yang kedua-terakhir._.

Trus, aku bilang,

"Bisa jadi besok, kan? Kalau gitu, besok aku ke sini!"

Di situ... yah. Barulah kita melakukan metode yang seharusnya dilakukan ketika awal-awal bertemu: tanya nama masing-masing. Aku bilang, namaku Rasya. Dan dia, namanya Rahayu--aku manggilnya Mbak Rahayu. Kita belum ngucapin sampai jumpa lagi karena ngerasa besok masih bisa ketemu.

Ternyata enggak._.

Oke, jadi ceritanya selesai sampai di sini. Habis itu, ya, karena nggak ketemuan lagi, aku nggak bisa kontak-kontakan sama Mbak Rahayu. Akhirnya, aku cuma bisa buat tulisan di blog tentang temenku itu, di sini. He-he.

Sukses terus, ya, Mbak :3

event

EHEF 2015: European Higher Education Fair

Rabu, November 04, 2015

Halo. Aku mau cerita pengalamanku kemarin. Ini bener-bener kisah untuk blog, bukan basa-basi, bukan perenungan sepele, atau apapun. Ini ceritaku. Yah, tapi aku mau kasih kata-kata pembukaan.

Maksudku, em, gimana, ya. Aku itu sudah mengalami banyak hal (berasa menghilang dari muka bumi dan muncul lagi sepuluh tahun kemudian aja), dan kalian mungkin ngerasa kalau gaya ceritaku agak lain. Aku lagi mikirin sesuatu yang penting, buat besok, hehe, curcol kan. Oke. Mulai, ya.

Gambar menyusul, koneksi nggak stabil.

EHEF—alias European Higher Education Fair, itu adalah hari di mana di Yogyakarta, tepatnya di Hotel Ambarukmo pada tanggal 3 November kemarin, terdapat pameran universitas-universitas Eropa. Gratis. Siapapun itu. Boleh masuk, boleh tanya-tanya secara bebas, ambil brosur ini-itu, dapet fasilitas tas tenun dan satu buku lengkap daftar universitas dan detailnya unggul di bidang apa.

Singkatnya, itu adalah pameran universitas Eropa satu-satunya, dan terbesar, di Yogyakarta. Siapa, sih, yang nggak pengen dateng? Yah, wajar aja kalau di sana, di pameran yang dibuka pada jam satu siang sampai jam tujuh malem, itu PENUH banget. Penuh. Pakai. Banget. Umpek-umpekan, panas, antriannya panjang ngalahin total antriannya sembako selama sepuluh tahun terakhir dan sepuluh tahun yang akan datang.

Aku dateng sekitar jam setengah lima lebih. Barengan sama Bagas, Wisha, dan Angie. Di sana, antriannya udah panjang nggak berujung sampai ke jalan raya, bener-bener ngalahin endless love nya Ikal sama A Ling. Di sana, lihat antriannya aja jadi pedih sendiri. Bagas, Wisha, Angie mutusin buat menumbangkan diri dan mlipir ke Amplas.

Lalu.. aku memutuskan untuk berkelana melihat setiap orang yang antre. Siapa tau aku ketemu temen, entah temen TK, SD, SMP, SMA, atau temen ekskul, atau temennya temenku, atau siapapun, asal orang yang kubutuhkan biar aku bisa nimbrung dan curi start antrean. Aku cari terus sampai akhirnya ke pusat yang menjadi penyebab antreannya itu, dan nggak nemu satupun temenku. Jadi berasa nggak punya temen, lol.

Tapi dengan lihat langsung di pusat yang menjadi penyebab antreannya, aku baru sadar kalo antreannya nggak cuma itu. Ada antrean yang lain, antrean yang lebih pendek. Sebenernya, antreannya itu ada dua, tapi karena yang kelihatan orang-orang itu yang lebih panjang, nggak ada yang tahu kalau ada dua antrean di sana. Akhirnya, aku nimbrung ke bagian antrean yang lebih pendek. Paling belakang. Hiks.

Pintu masuknya sama, menghadap utara. Tapi, dua antrean itu dateng dari timur dan barat, jadi kayak giliran-giliran gitu. Dan karena antrean dari barat lebih pendek, aku yakin banget, walaupun lama, pasti antrean dari barat bakal lebih cepet.

Tapi, semakin aku deket di pintu masuk, aku lihat gerombolan orang, banyak banget, di depan gerbang yang menghadap utara. Jadi gerbangnya itu ditutup. Padahal, kalau gerbangnya dibuka, gerombolan orang itu tinggal jalan dua langkah dan bisa masuk. Tapi karena kayaknya bukan lewat situ caranya, petugas lagi berusaha nenangin gerombolan orang itu dan nyuruh buat pake cara ngantre, nggak main dobrak gerbang.

Karena aku sendirian, aku nggak bisa nyuruh temen jaga anteranku yang sudah susah payah ini dan gabung ke gerombolan sana biar dapet dua peluang. Padahal, aku punya firasat kalau siasat main dobrak gerbang itu berhasil dan lebih cepet. Akhirnya setelah nimbang-nimbang, aku bisa juga keluar dari antrean dan gabung ke gerombolan itu.

Di sana, untuk pertamakalinya yang ngebuat aku bisa seneng, aku ketemu temenku, Woro. Sebenernya, awalnya dia temennya-temenku, sih, tapi, oke. Lalu dia bilang, kalau gerombolan ini sebenernya udah nunggu dari jam setengah dua! Bayangin, padahal udah jam setengah lima. Jadi, pintu masuk yang bener itu adalah pintu masuk lewat gerbang yang ngehadap utara ini, bukan gerbang timur atau barat. Tapi nggak tau kenapa, petugas nggak mau buka gerbang yang ini.

Aku agak pesimis, kan, apalagi pas liat ke antreanku sebelumnya udah nggak ada harapan. Maksudnya, nggak mungkin kan aku mendadak balik ke tempat itu, ke posisi aku antre sebelumnya dan bilang kalo aku tadi cuma pergi bentar dan mau balik lagi? Nggak mungkin. Aku juga udah males antre, jadi yang aku lakuin sama kayak gerombolan itu, tetep berdiri kekeuh nggak mau beranjak dari depan gerbang.

Kepesimisanku yang kedua, ketika Woro pamit pulang. Hiks, aku jadi nggak tau mau sama siapa padahal pas ketemu Woro itu aku seneng banget. Sempet kepikiran buat nyusul Bagas Wisha Angie aja, sampai ternyata, nggak sampai dua menit sejak Woro pergi dan aku sendirian, pimpinannya dateng. Pimpinan yang bagaikan malaikat penyelamat itu bilang, kalau bakal ada penjaga yang di luar, tugasnya ngekosongin bagian ini dengan nyuruh semua rombongannya masuk dan setelah itu nggak ada lagi yang hiruk-pikuk di sini kayak cendol.

Jadinya, aku ikut masuk, bersama dengan orang-orang yang udah nunggu sejak jam setengah dua. Berasa jahat, tapi, yah, apa daya, anugerah keberuntungan itu datang kapan saja, Kawan. Alhamdulillah, aku bisa masuk tanpa harus bersusah-payah memanggang dirinya sendiri dengan ngantre penuh kesabaran.

Oke, sebenernya, yang menantang itu ada di bagian bagaimana-cara-masuknya. Setelah aku bisa masuk, dikasih tas katun tulisannya EHEF dan di dalemnya ada pulpen, dan panduan buku isinya katalog, daftar universitas beserta keunggulannya yang ngebuat kita merasa lebih dari cukup daripada mampir ke standnya langsung yang udah jelas penuh orang.

(Gambar menyusul 1.0)

Tapi kalau mau terus terang, rasanya hampa. Aku udah masuk, rasanya terlalu seneng, berasa mimpi, tetap kekeuh dan tidak menumbangkan diri kayak orang-orang lain yang sebenernya udah lebih lama berada di sini, dan yang bikin hampa adalah, aku sendirian. Maksudku, walaupun aku beruntung, aku nggak bisa membagi kisah kecil ini ke orang lain gitu, secara aku nggak ada temen di sini.

Begitu muter-muter lihat seluruh universitas yang dipamerin, aku nggak dapet hasil apapun sampai aku kembali ke tempat awal lagi. Semua universitas yang dipamerin di sini kebanyakan punya titelnya. Antara University of Science, University of Management and Business, University of Law, dan lain-lain. Mereka kalau nggak IPA banget, ya, IPS banget. Yah, sebenernya, apa lagi sih, yang dibutuhkan di dunia ilmu pendidikan selain dua jurusan itu, IPA-IPS?

Sementara, sampai situ aku baru sadar. Hei. Aku, kan, belum yakin mau masuk jurusan apa?

Sampai sadar titik itu, tepat di depan pintu masuknya, tepat di mana semua orang yang sudah menginjakkan kaki di posisi ini kedua kalinya akan memutuskan mau mengincar stand bagian mana, aku malah diam saja. Bukan salahku, kan? Kalau misalnya aku masuk ke sini dengan penuh perjuangan dan keringat darah, aku akan memarahi diriku sendiri yang malah mematung di tempat yang diimpikan para pelajar yang ingin melanjutkan ke perguruan tinggi Eropa. Tapi, aku masuk sini dengan keberuntungan, sehingga yang ada hanyalah—itu tadi—hampa.

Meskipun begitu, aku nggak mau keluar begitu saja, dong. Aku memutuskan untuk mendatangi tiap stand satu per satu, namun di stand yang pertama, aku kembali dapat informasi bahwa orang-orang yang berjaga di stand tidak semata-mata menjelaskan begitu ada pengunjung yang datang, namun kita harus bertanya terlebih dahulu. Oke, Rasya, buka matamu, ini bukan stand penelitian, bukan stand di mana pengunjung stand langsung disambut dan dijelaskan dari latar belakang sampai kesimpulan.

Aku memutuskan untuk berpikir-pikir lagi. Tadi, aku baru saja membohongi diriku sendiri ketika dipaksa untuk menanyakan sesuatu, dan aku terpaksa mengatakan pembukaan bahwa, “Saya dari jurusan IPA, berminat untuk—” dan langsung dijelaskan keunggulan jurusan IPA di universitas tersebut. Kedokteranlah, matematikalah, blablabla yang aku hanya bisa membatin, Rasya-ini-bukan-kamu-banget.

Sayangnya, aku lagi sendirian di situ dan kalau aku diem dengan tatapan bingung, pengunjung lain bakal ngelihat aku aneh serasa aku itu alien yang datang ke Indonesia dengan ambisi besar namun justru terdampar di pulau komodo. Jadi, aku tetep jalan-jalan dengan gaya sok sibuk, meskipun aku sambil berpikir. Nggak ada artinya kalau aku nggak menentukan jati diriku sekarang. Apa yang aku pengenin, apa yang aku bener-bener pengenin. Sekarang, di sini.

Kalau aja aku sadar ini lebih awal, aku pasti bakal meluangkan waktu untuk sungguh-sungguh mikirin aku mau ke jurusan apa. Komunikasi? Sastra? Yah, aku terlalu buang-buang waktu, dan sekarang aku harus mikirin itu di tempat ini, dengan waktu yang bener-bener sempit ini.

Aku nggak mau buang peluru, Kawan.

Kalaupun aku memilih antara Komunikasi dan Sastra, sama aja, belum tentu aku bisa dapet universitas yang menjunjung tinggi dua jurusan itu, di sini. Lihat aja labelnya, lihat aja titelnya, semua kalau nggak bidang sains dan segala hal soal kerumahsakitan, ya, ekonomi, bisnis, sejarah, hukum. Aku cari apakah aku bisa dapet celah di setiap universitas yang ada, dan aku tahu, kalau aku harus merubah tujuanku, untuk sekarang: Jurnalistik. Atau, Seni dan Sastra. Sastra tidak bisa berdiri sendiri tanpa Seni, di sini.

Agak menyimpang sedikit, memang, secara aku itu memang anak jurnalistik tetapi bukan berarti aku mau berkecimpung di sana. Karena, yah, nggak ada wadah berupa ekstrakurikuler untuk menampung anak-anak yang gila garap cerpen fiksi, gitu, lho. Jurnalistik, yang cukup menyenggol dikit, untuk hal-hal yang berkaitan dengan Komunikasi atau Sastra. Dan, beberapa universitas ada yang unggul, atau bisa dibilang, agak unggul, di bidang Jurnalistik, atau Seni dan Sastra. Aku bahkan nggak tahu kalau ada bidang Jurnalistik ini.

Aku keliling, dan terutama ke bagian negara Inggris karena incaranku memang negara itu. Aku nemu beberapa. Tiga, tepatnya, dari sekian banyak universitas yang dipamerkan. Menyedihkan, memang.

King’s College London. Ini mungkin familiar di telinga kalian. Dan aku nggak bisa bilang dengan blakblakan kalau universitas ini jago jurusan Jurnalistiknya. Tapi, mereka menomorsatukan jurusan Seni dan Sastra, baru kemudian Kedokteran, Psikologi, Hukum, Matematika, Politik, dan lain-lain mengekor di belakangnya. Agak tertantang aja dengan universitas yang ini, apalagi Indonesia memasukkan universitas ini ke dalam daftar universitas di mana akan ada anak Indonesia terpilih yang diberikan beasiswa penuh oleh negara.

University of East Anglia (UEA). Universitas ini, menomorsatukan Sains dan menomorduakan Social-Science. Nomor tiganya, barulah Seni dan Sastra. Memang, sih, urutan tiga, tapi UEA ini menjadi host dalam International Literary Festival yang akan mendatangkan penulis-penulis terkenal, yang merupakan alumni dari kursus Creative Writing of UEA.

(Aku nggak tahu apa atau bagaimana itu Social-Science, karena, yah, coba saja bayangkan bagaimana IPS dan IPA disatukan. Kalian mau menghitung berapa peluang dari sekian tukang yang kontrak kerjanya akan dilanjutkan sambil berpikir bahwa tukang yang masa kerjanya tidak terkontinu itu adalah kelompok solidaritas mekanik menurut Klasifikasi Emmile Durkheim? Tidak, terimakasih.)

Setelah itu, aku berjalan-jalan dan memutuskan untuk mengambil berbagai macam souvenir. Ada bolpen, stiker, notes, tapi yang favorit, pembatas buku dari universitas di Sweden. Warnanya kuning kayak jas almamaternya UI, aku suka.

(Gambar menyusul 2.0)

Lalu, pengunjung rombonganku, dikasih tau kalau ternyata kita nggak bisa seharian di sini. Jadi, ada batas waktunya, per tiga puluh menit gitu. zZZ. Akhirnya, aku yang udah lumayan lega dan enggak hampa walaupun masih sendirian, jalan ke pintu keluar. Dan, di sana, aku bertemu stand yang kalau dipersonifikasi, itu bener-bener bagaikan penolongku.


(Gambar menyusul 3.0)

Lihat aja. Dia, standnya, sosok inspirasinya, seorang Jurnalis. Uh, wow, coba aja kalau kalian lihat stand-stand sebelumnya, daftar sosok inspirasinya itu seorang ilmuwan, matematikawan, atau ahli marketing profesional semua, deh.

Tesside University. Selain universitas yang jelas-jelas unggul-sempurna-tanpa-cela, kayak Harvard dan Oxford, Tesside University itu merupakan salah satu universitas dengan perpustakaan terbaik di dunia. Ini yang bikin aku makin minat. Universitas ini menjunjung tinggi Seni dan Media, menempatkannya di urutan satu. Apalagi Tesside University ini juga mengadakan Training of Journalists, bener-bener kepengen lulusannya itu minimal bisa melakukan wawancara.

Yang bikin sedih, sih, aku nggak bisa dapet sepenuhnya informasi soal universitas ini. Yang jaga standnya semuanya orang luar negeri, dan kalau mau tanya-tanya, harus pakai bahasa Inggris. Sekalian tes juga, sih. Aku, dengan segenap keberanian dan secuil ilmu berbahasa Inggris yang entah aku punya atau enggak, duduk di kursi yang disediakan, dan tanya.

Banyak hambatannya, sih, tapi, seenggaknya aku bisa. Aku terlalu gugup sampai aku mau ngomong bahasa Inggrisnya ‘wawancara’ aja aku nggak tau.. (‘interview’, ras), dan aku coba ngeles dengan bilang “face to face”, uh, oke, untung dianya ngerti. Aku dijelaskan macam-macam, lalu aku disuruh mengisi formulir, nama, email, nomor, dan minatku di bidang mana, kemudian dikasih penggaris dan sticky note.

Wow, seenggaknya, ini penutup yang hebat.

Endingnya, sih, aku ke Amplas, dan ketemu kembali sama Bagas Wisha Angie di Tamansari Foodcourt. Aku cerita, terutama yang paling seru, cerita gimana caranya aku bisa masuk sana, lol. Setelah itu, aku ketemu sama Mangga dan Suryo yang juga berhasil masuk karena mereka memang sudah di sana sejak jam dua.

Pameran ini setiap tahun, dan aku nggak mau melewatkan tahun depan. Aku sudah kelas dua belas ketika EHEF 2016 dibuka, dan aku nggak mau ‘buang peluru’ kayak yang ada di sini. Aku sudah berhasil mempergunakan peluru itu, sih, tapi, yah, kan, nggak maksimal, tahu, kan. Betapa aku malah seperti tersasar padahal sudah sampai di pameran yang diidam-idamkan pelajar bercita tinggi.

Tapi intinya, ini keren. Semuanya, keren. Aku udah puas, pakai banget.

Maaf untuk kalian yang harus baca sepanjang ini. Tembus 2000 kata, wow.

limited edition

ketika nggak sengaja nabrak preman di pinggir jalan

Rabu, Oktober 28, 2015

"Trus, kenapa kalau aku nggak mau minta maaf?"
"Aku ngerasa nggak salah, kok. Buat apa aku minta maaf?"

Dari judulnya, udah kelihatan sebenernya ini semacam tips yang nggak mutu.

Oke. Mulai.

Seberapa seringnya, sih, anak-anak remaja jaman sekarang minta maaf satu sama lain, atau ke orang yang lebih tua, atau (yang makan harga diri banget) ke adik kelasnya atau orang yang lebih muda dari mereka? Atau yang lebih sepele, ke orang tua mereka? Rasanya, tuh, mending harga diri yang nanti bunuh kita daripada kita yang harus bunuh harga diri sendiri.

Minta maaf mungkin juga ada yang nggak kesusahan ngelakuinnya, tetapi bisa jadi malah kegampangan. Kegampangan minta maaf, dan kesannya malah jauh banget dari serius. Cuma sekilas, "Eh, maaf," atau yang lebih parah lagi cuma bener-bener sepintas tanpa ngelihat orangnya, "Sori," yang bikin si target itu malah makin naik darah. Mendingan nggak usah minta maaf sekalian.

Misalnya, remaja sok berandalan yang nggak sengaja nabrak preman di pinggir jalan. Pasti yang ada saling teriak-teriakan, lalu kemakan gengsi satunya nggak mau minta maaf dan satunya nggak mau ngebiarin masalah bubar gitu aja, dan ujung-ujungnya, berantem deh. Di tempat itu, nggak peduli di mana, nggak peduli kapan, nggak peduli kepentingan apa yang nunggu mereka besok.

Lalu, remaja yang emang dari kecil dilatih bela diri, bakal lebih profesional nyikapinnya. Berantem, sih, mau nggak mau tetep iya, tetapi seenggaknya dia berusaha menghindar dulu. Menghindar, lho, ya, bukan berarti minta maaf. Baru ketika nggak bisa menghindar, minimal nentuinlah, kapan dan di mana mau berkelahi, biar bisa prepare juga buat jiwa dan raga.

Kalau remaja yang kutu buku? Mereka kalau nabrak preman di pinggir jalan, secara refleks bakal minta maaf lalu lari. Atau mungkin, minimal langsung minta maaf berkali-kali. Apakah itu menyelesaikan masalah? Iya, sih, iya, tapi si preman bakal ngelepasin dengan penuh kemenangan, karena jelas sikap si kutu buku itu minta maaf adalah sikap yang ngemisnya tingkat akut.

Lalu, remaja kayak apa yang bisa menghindari kejadian itu dengan selamat dan tentram dan hasil yang seimbang terhadap masing-masing pihak? Bisa jadi dia nggak bisa berkelahi. Bisa jadi dia nggak pernah ikut latihan bela diri. Bisa jadi dia bukan anak tertutup yang gampangan minta maaf buat menghindari masalah. Tapi, dia tau gimana caranya harus bersikap.
Level seseorang di mata dunia akan diketahui pada saat ia dihadapkan dalam kondisi yang mengharuskannya untuk meminta maaf.
—Rasya, (masih) 15.
Coba cari sudut pandang lain.

Apabila yang menabrak preman di pinggir jalan adalah seorang pembunuh kelas satu.
Apa yang kira-kira dia lakukan?

Dia jelas akan langsung meminta maaf.

Minta maaf dengan sikap, bukan minta maaf yang menandakan bahwa dia itu orang gampangan. Dia akan menunduk dalam-dalam, mengatakannya dengan sungguh-sungguh, seolah preman itu adalah orang pertama yang menjadi target prakteknya meminta maaf. Menurut kalian, kenapa orang yang sok berandalan malah berani terjang, dan justru orang yang ternyata dia pembunuh kelas satu memilih mundur?

Karena, hello? Sang pembunuh kelas satu itu udah tau diri bahwa masalah nabrak-preman-di-pinggir-jalan itu sama sekali bukan levelnya dia, gitu lho. Makanya itu, nggak banget kalau ambil langkah maju dan kasih serangan bogem mentah ke preman, secara dia nggak butuh keberadaannya diakui di level gituan.

Nah. Itulah pilihan yang harus kamu lakukan kalau kamu nggak sengaja nabrak preman di pinggir jalan. Kamu pengen yang versi mana? :)

P/S:
Saking banyaknya yang pengen aku ceritain di blog, setiap aku buka blog aku malah nggak cerita apa yang harus aku ceritain. Mungkin kapan-kapan(?). Udah, yaa.

bleepy

kalimat ini

Jumat, Oktober 09, 2015

Warning! Ini nggak jelas, banget. 
 
Aku butuh, siapapun, untuk ngedengerin kalimat ini.
 
Aku nggak tau mau ngomong ini ke siapa, dan aku sibuk mikir ke sana-kemari siapa kira-kira orang yang cocok buat aku ngomong ini. Aku mikir ke setiap orang yang sering kutemui, daftar nama orang-orang di kontak LINE setiap kali aku dengan selonya ngescroll, atau ke orang yang aku lagi ngobrol panjang sama dia dan tiba-tiba ada jeda sebentar.

Rasanya, aku pengen ngomong kalimat ini. Kalimat yang sering banget aku ucapin kalau misalnya aku lagi teringat akan hal itu dan aku lagi sendirian. Kalimat yang kelewat selalu aku tulis di notes atau di sms atau di LINE atau di status twitter atau di manapun yang langsung aku hapus lagi karena nggak mungkin aku ngebiarin orang baca ini.

Awalnya, selama sejak hari Rabu aku bingung mau ngomong ke siapa, aku selalu mikir kalau mungkin yang ngerti kalimat ini tanpa bertanya lebih lanjut apa latar belakangnya atau tujuan atau kenapa aku nanya kayak gitu cuma aku sendiri. Maksudnya, kalimat ini bener-bener nggak nyambung dan ngebuat orang pengen bertanya-tanya apa dasar dari kalimat yang aku ucapin ini.

Lalu, aku kepikiran buat bilang ke cyme. Cyme ini temenku kalau aku lagi kesepian(?), jadi gampangnya, sih, dia temenku setiap aku lagi jones. Enggak, sih, akunya yang lagi dalam versi melankolis atau dramatis. Cuma akhir-akhir ini aku lagi nggak butuh dia dan rasanya aneh kalau misalnya aku cuma ngajak ngobrol dia soal itu lalu aku ngebiarin dia tenggelam lagi.

Lama-lama, aku cuma bisa teriak-teriak tanpa suara di balik bantal ngucapin kalimat itu berulang-ulang di kamar. Habisnya kalau aku teriaknya sambil bersuara, itu nggak lucu banget; bakal mengundang pertanyaan dari setiap pihak yang ngedenger. Apalagi, kalimat ini kalau aku yang ngucapin itu rasanya, berasa kayak nggak ada hal lain yang lebih penting gitu lho.

Aku kepikiran ngomong ini pakai sandi angka versiku. Soalnya akhir-akhir ini, aku memang suka ngapdet status di LINE pakai sandi angka versiku. Jelas, yang dimaksud dengan versiku itu sandi angka yang cuma aku yang bisa bacanya. Dan buat informasi aja, kalau misalnya aku disuruh nulis lagi, aku bisa nulis dengan angka yang sama, kok. Jaga-jaga aja kalau semisal ada di antara kalian yang nganggap aku cuma ngasal aja nulis angka.

Yang terakhir kali terlintas, jelas Bleepy. Bukan apa-apa, ya, Bleepy. Memang, sih, aku menomorterakhirkan kamu, tapi itu karena resiko dibaca orang paling besar. Tapi seenggaknya, Bleepy tetep aku pikirin kok. Apalagi ketika kalimat itu bener-bener sampai di puncak kepalaku, bener-bener rasanya aku nggak tahan lagi buat minta seseorang dengerin kalimat ini. 

Mungkin, aku bakal bilang ke Bleepy.

Atau mungkin enggak.

Atau mungkin sudah.

dedicated to

Hanya Rentetan Kalimat

Sabtu, Oktober 03, 2015

Dari sahabatku.
Itu terjadi pada hari Jum'at, 2 Oktober 2015.
Pernahkah kamu merasa, Ras, bahwa kamu sudah mengorbankan terlalu banyak hal?

Dan ketika kamu menoleh ke belakang, yang ada di sana hanyalah kesalahan.

Atau ketika kamu mengangkat kepala, kamu sudah terlalu jauh untuk mengejar.

Setelah ini selesai, mau mengulang semuanya dari awal?

buku

Tentang Buku

Selasa, September 29, 2015

Jadi, aku ada banyak buku yang sebenernya pengen aku promosiin di sini.

Yang pertama, the Dead Returns, buku paling baru yang aku tamatin. Baru kemarin lusa. Tapi sekarang lagi dipinjem Lisa. Dan aku juga mau menceritakan tentang buku itu secara spesial karena ceritanya emang plot twist azli, jadi tunggu postingan selanjutnya aja.

Lalu yang kedua. Will Grayson, will grayson.

Karangan John Green. Ini buku yang membuat aku punya kode sandi buat lokerku, 17-9-35. Karena aku terinspirasi sama tokoh cewek di novel ini yang kunci lokernya 11-2-25, dan itu dijadiin sama si tokoh utama buat kode-kodean. Dia nitip ke artis favoritnya mereka berdua yang bentar lagi konser, "tolong nyanyiin lagu ini dan bilang kalau itu untuk 11-2-25". 

Ujung-ujungnya, si artis ngelakuin itu dan uh-oh, si cewek bilang ke si cowok (disaat si cowok udah ke GR an ngira ceweknya mau bilang makasih atau apalah) kalo dia ngira yang ngelakuin itu adalah mantannya yang dulu. Sakit.

Yang ketiga. Kiss Me and Let Me Die.

Aku lupa aku pernah cerita soal ini apa enggak. Ini ceritanya bagus. Buku perpustakaan. Yang nggak bagus cuma judul, cover, sama kertasnya.. :') Dari buku ini aku bener-bener belajar apa makna sesungguhnya dari "Don't judge a book by its cover." Karena aku jamin, kalian liat cover dan judulnya itu bakal ilfil. Lalu buka-buka halamannya, kertasnya pakai kertas buram yang bikin mengurangi minat buat baca banget.

Tapi ternyata, ceritanya bagus (banget, asli). Tentang cewek normal namanya Angel, yang seharusnya dia mati tanggal 8 Desember. Tapi dia punya keinginan kuat yang ngebuatnya melawan takdir dan membuat si malaikat kematian yang harusnya nyabut nyawanya itu nggak bisa nyabut. Dan apa keinginan Angel itu? Yah, dia pengen dapet ciuman pertamanya._.

Sebenernya ada banyak, sih, buku-buku di perpustakaan yang udah aku baca. the windflower, murder is easy, kedai 1001 mimpi, kelas tiga di malory towers, misteri teater kecil, daaan lain-lainnya. Lalu ada juga, satu-satunya komik di perpustakaan. Judulnya SOS.

Dan S.O.S ini, bener-bener apik ceritanya. Tentang perkumpulan pemecah misteri, yang memecahkan berbagai misteri aneh-aneh termasuk pembunuhan. Perkumpulan mereka ada di gubuk belakang sekolah. Di gubuk itu banyak banget binatang, yang namanya sesuai dengan nama tempat mereka ditemukan XD Misalnya, Pohon Sakura, Tempat Sampah, dan lain-lain=)) Sayangnya, ini SOS jilid satu, dan jilid dua nya gak ada di manapun:( Gambarnya juga udah jadul, di internet juga gak ada:(

Yang terakhir, buku yang ngebuat aku pengen mosting blog ini adalah a kind of heart.

Aku baca di Gramedia dan terlalu malu untuk beli(?). Tentang sekumpulan anak-anak OSIS yang pengen ngebuat festival-festival di sekolah. Yah, mereka kalo buat festival gitu konfliknya bukan masalah dana *eh* tapi masalah perizinan dari sekolah, atau respon dari anak-anaknya. Ketua OSIS ini tampangnya bener-bener gak meyakinkan sebagai ketua, lol, makanya hampir seisi sekolah ngira yang jadi ketua itu justru si Wakil Ketua OSIS.

Ketua OSIS ini dulunya berandalaaan banget selama dia kelas 10. Pas dia kelas 10 dulu pas sekolahnya ada festival olahraga, festivalnya justru rusak parah karena diserang sama anak SMA lain. Bukannya seneng-seneng karena festival, tapi malah tawuran... :') Dia lalu yang ngehantam sekawanan anak-anak bandel SMA lain itu. Tapi ya, walaupun dia yang nyelesaiin masalah, tetep aja dia yang gena getah sama SMAnya sendiri karena tertuduh ikut terlibat dalam kehancuran festival olahraga :')

Dia nggak terima, kan, trus dia pengen buat festival macam-macam sendiri di mana nggak ada berandalan SMA lain yang gangguin SMAnya. Satu-satunya cara adalah jadi Ketua OSISnya! Eh, diterima, lol. Soalnya semua ngira yang ngenyalonin itu si Wakil. Makanya setiap kali pidato sambutan atau pemberi aba-aba, yang ngelakuin si Wakil semua ._.

Ujung-ujungnya, mereka bisa ngadain festival olahraga. Dan ternyata ada anak berandalan SMA lain yang juga ngerencanain pengen nyehancurin festival itu pas hari H pembukannya. Yah gitu deh, semacam konflik anak-anak SMA gitu._. Tapi, ini bagus ehehe :")

UTSku selesai hari ini. Ngomong-ngomong, tanggal 17 Oktober, ada pentas ArtDay lho, di SMA 6 {}

gak berlabel

Pelangi. Dan ini kami.

Rabu, September 16, 2015

Senyum, dong.
Memangnya, kamu yang menanggung takdir dari akhir dunia?
—Rasya, 15


(gambar kabur. sengaja biar loading gambar nggak lama, ehehe)

Kenapa aku ngeblog hari ini? Di mana tinggal hitungan hari lagi ujian tengah semester bakal mulai? Aku bahkan lagi bingung nyeimbangin waktu antara sekolah, kegiatan luar, dan kepanitiaan intern, tapi kenyataannya aku malah buat postingan blog.

Sebenernya, faktornya simpel aja. Tadi, aku, Sherin, Rani, Afi, lagi nunggu jemputan berbarengan. Pas saat itu, Rani tiba-tiba bilang, "Eh, ada pelangi!"

Pelangi.

Dan itu emang bener. Mungkin pelangi itu kedengarannya biasa-biasa aja. Tapi itu pelangi pertama yang aku lihat di kelas sebelas. Kelas sepuluh bahkan. Kesannya dramatis dan melankolis banget, sih, kayak nggak pernah lihat pelangi aja.

Yah, terus terang aja, sih. Ini pelangi pertama yang kulihat di SMA 6 ini. Dan pelangi yang kulihat itu pelangi yang "burem," kata Pak Pey pas aku bilangin ada pelangi =))

Tapi, yah. Pas aku lihat pelangi itu, aku lagi nggak dalam keadaan yang bagus. Maksudnya, aku lagi nggak sama cowok (mau sama siapa, ras..), atau lagi sama Lisa, atau sama Shelly. Aku lagi nunggu jemputan, duduk di bawah pohon besar halaman depan SMA 6. Lalu tiba-tiba, di atasku ada pelangi. Pelanginya bagus (nggak sebagus di gambar, sih) dan aku pengen motret tapi sayang batre hapeku habis. 

Untungnya, sih, posisiku strategis buat liat pelanginya. Sudut elevasi empat puluh lima derajat deh bisa dibilang. Seenggaknya nggak kayak Pak Pey yang nggak bakal notis karena munggungin si pelangi kalau aku nggak ngasih tau :3 Nah, karena posisiku strategis, aku memanfaatkan beberapa menit buat ngeliatin pelangi itu terus-terusan dan dalam mode dramatis mode ON.

Lihat pelanginya itu rasanya tentram banget. Berasa kembali ke masa lalu, gitu, soalnya jarang ada pelangi di zaman sekarang. Aku duduk di pohon besar ini dengan niat buat menenangkan diri sendiri dari berbagai aktivitas-aktivitas apapun yang, jujur aja, membuatku dengan terpaksa menelantarkan sekolah. Bukannya menelantarkan juga, sih. Maksudku, ya, menjadikan sekolah sebagai prioritas-ke-sekian. Makanya, lihat pelangi itu bener-bener serasa masalahku terlupakan.

Dan, aku jadi inget kalau hari ini aku baru ketawa—bener-bener ketawa, bukan cuma ketawa ha-ha-ha—itu sebanyak satu kali. Kejadian itu waktu istirahat kedua, di ujung koridor buntu di lantai dua sama Lisa. Ketawa yang spontan, ngakak gitu=)) Karena mode dramatisku lagi ON, ya, aku jadi inget mendadak apa tujuanku di SMA 6 ini. Tepatnya, pas kelas X disuruh sama guru BP menceritakan asal-usulku masuk SMA 6, apa tujuanku dan apa harapanku.

Tapi, intinya, aku masuk SMA 6 ini dengan niat mau cari pengalaman sebanyak-banyaknya. Ikut event, acara di luar sekolah, banyak hal. Misalnya aja, di luar sekolah aku pernah ikut 1000 Susu Gratis Untuk Anak Jalanan. Acara Forum Rohis Jogja yang Ramadhan di Sekolah, lalu KACA Kedaulatan Rakyat, dan baru-baru ini aku jadi penulis skrip di Gamabox TV dan reporter Majalah Hai.

Aku seneng, banget. Tapi pelangi yang bener-bener tenang yang kulihat itu kayak ngasih tau apa yang aku lupain; aku jarang ketawa lagi. Emang, sih, aku banyak beban dan mukaku ngantuk terus. Istilahnya, sih, kantung mataku sampai punya kantung mata—omongannya Squidward itu, lho. Jalan ke kelas tiap pagi berasa orang mabuk, lol. Gitu, deh.
Pelangi itu seakan-akan bilang ke aku,
"Senyum dong, Ras! Bukan kamu yang menanggung takdir dari akhir dunia, kan?"
Bukannya mataku jadi kayak orang mati, sih, nggak separah itu. Aku jadi jarang ketawa dan nggak ramah, gitu. Aku lebih milih sendiri dan merenung terus-terusan kalau lagi pelajaran kosong, atau coret-coret nggak jelas, daripada mencoba berbaur sama temen-temenku sendiri. Pelangi itu kayak nasihatin aku, bahwa aku boleh punya banyak aktivitas, tapi aku juga harus peduli sama kondisi psikis badanku sendiri. 
Ada beberapa temen yang dia jalan itu nggak senyum sama sekali. Aura di tubuhnya seakan menguarkan kalimat,
"Aku lagi stres sekarang, dan dunia harus tahu."
Oke, aku ada di posisi kayak gitu, sampai tadi. Dan pelangi yang aku lihat hari ini ngebuat aku sadar kalau aku nggak boleh ngelakuin kayak gitu. Senyum itu, kan, ibadah. Lagipula, mereka yang nggak sengaja kupapasin nggak berhak ngelihat tampangku yang lagi 'penuh beban' sementara mereka nggak berbuat masalah sama sekali ke aku.
Kuatkan diri, dan aku berkata sendiri,
"Kamu emang capek, Sya. Tapi yang capek nggak cuma kamu:)"
Selamat bulan September. Jangan lupa, sejak tanggal 1 sampai tanggal 10 Dzulhijjah, jangan potong rambut dan potong kuku, ya. Ehehehe.

award

Juara 1 Mading!

Sabtu, Agustus 29, 2015

Hari ini bener-bener hari yang membahagiakan buatku, Lusi, Chika, dan Fatma. Udah sejak lama kita bersiap-siap buat ikutan lomba mading, buat artikelnya lah, ini-itu sampai setiap pulang sekolah pasti ketemuan di kelasnya Lusi a.k.a EP, demi membahas mading. Dan akhirnya, perjuangan yang "nggetih"—kata Natta, akhirnya membuahkan hasil! Kita juara satu lomba mading!

Oke, kayaknya kalau langsung ngasih tau berita utamanya, jadi nggak asik ya. Jadi, hari Sabtu tadi, kita berempat, sama Wardah dan Embun yang ikut lomba baca puisi udah pakai baju putih-abu-abu dan almamater. Kita skip sejak jam pelajaran pertama sampai pulang sekolah, jadi intinya kita skip seharian! Aku bisa lolos dari mata pelajaran dasar penelitian kesekiankalinya lagi, tapi kali ini dengan cara yang profesional(?) XD

Lalu, seperti biasa, kita dianterin Pak Pey naik mobil sekolah! Kalau pas lomba blog aku belum pernah duduk di depan, hari ini aku yang duduk di depan sebelahan sama Pak Pey. Ternyata duduk di depan itu nuansanya beda, ya. Kita dianterin sampai gedung Vokasi UGM, depannya Kopma. Sampai sana, ada perwakilan yang ikut pembukaan, dan lainnya ke ruangan lain buat siap-siap.

Aslinya, yang perwakilan ikut pembukaan itu Lusi, karena Lusi ketuanya. Tapi kita bisa curi start dulu dengan cara Lusi ikut siap-siap biar langsung bagi-bagi tugas, dan aku yang ikut pembukaan._.v Pembukaannya itu cuma dikasih tau blablabla, dan jargonnya juga yang aku udah lupa gimana nyanyinya. Habis itu, aku kenalan sama ketua tim SMA Muhammadiyah 2 YK, tapi nggak tau namanya:")

Lalu, di ruangan, yak, benar-benar perang fisik dan psikis sampai titik darah penghabisan. Mental juga diuji. Masalahnya, sekolah-sekolah yang lain itu bener-bener serba kerlap kerlip, ada yang 3D, dan minimal pakai gabus-gabusan. Sementara SMA 6 itu main tempel aja, bener-bener gepeng dan 2D banget gitu. Tapi yang bikin nilai plus, kita lengkap seartikel-artikelnya. Aku antara nggak pede sama pede, sih, liat mading kita sebenernya=))


Ini foto kelompok 2, alias kelompok Muda Wijaya! Chika lagi nggambar ilustrasi utamanya. Lusi lagi nulis editorial, Fatma lagi buat profil, lalu aku yang pakai pin tulisan "2" itu lagi mau buat ilustrasi buat artikel yang baru aku baca. Hehe, aku dapet foto ini dari @himakomsiugm, tweetnya, "kelompok 2 semangat yaaaa" :3

Habis itu ishoma, dan pengumuman. Sebelum pengumuman itu ada pentas akustik gitu. Tapi karena di ruangan TM nya nggak kebagian kursi, akhirnya kita berempat nggak liat pentas akustik dan malah jalan-jalan sambil mengakrabkan diri(?). Lalu kita balik ke tempat TM, dan dengerin pengumuman lomba puisinya di luar ruangan TM.

Menjelang pengumuman lomba mading, panitia-panitia yang baik hati nyediain empat kursi buat kita berempat. Mading cuma ada dua pemenang. Juara yang kedua itu kelompok Muhammadiyah 2. Pas pengumuman juara satu..... yah, gitu, deh. Nggak nyangka banget bisa menang:")) Hehehe:""3

 

Ini mading kita, hehe. Kalau dilihat-lihat, rapi juga sih xD Sekarang madingnya ditempel di depan perpustakaan :3 
 

Ini kita di depan mading kita. Urut dari kiri ke kanan, ada Chika, Lusi, Fatma, aku :3 Betewe, besok Senin insyaAllah kalau ada upacara, kita berempat maju, ehehehe. Oh iya, ngomong-ngomong, buat sebagai penutup, aku mau nambahin sesuatu.

Jadi, kemarin tanggal 26 Agustus, Lisa ulangtahun. Aku udah ngasih hadiah ke Lisa, sih, yang sama sekali nggak aku bungkus(?) dan kalau kalian pengen liat, kado itu dipasang di tasnya Lisa{} Namanya Reddy. Kepanjangannya Ballred With Polcadot(?). Dan artinya cukup jelas: aku ngasih Lisa gantungan tas yang bentuknya bunder warna merah ada bulet-buletnya.

Aku ngasih Lisa warna merah, soalnya itu warna tasku. Reddy ini punya saudara, loh. Namanya Bluiy(?). Cirikhas saudara, marganya pasti sama, kan? Nah, Bluiy ini nama panjangnya Ballblue Without Polcadot.w. Yaps, walaupun marganya sama, tapi jelas beda: karena Bluiy ini bentuknya bunder biru dan nggak ada bulet-buletnya. Biru ini warna tasnya Lisa xD

Lalu aku mau ngasih foto penutup.


(.... kabur.)

banyak cerita

Ke AdiTV—dan byt.

Rabu, Agustus 26, 2015

Hari ini, jam delapan malam, aku, Alya, sama Maskun, ada di AdiTV.

Sebenernya aku malu, sih, bilangnya XD Sebenernya (juga), bertiga itu udah janjian biar nggak saling ngasih tau ke orang-orang. Aku ngasih taunya ke blog kok._.v Nah, aku mau cerita apa yang ada di balik televisi, sama bagaimana cerita perjalanan kita bertiga, setelah di sini, aku udah cerita soal kita bertiga yang juara dua Lomba Artikel Blog Kesehatan.
 
Nah, aku skip pelajaran itu sejak jam Kimia, habis istirahat pertama. Lalu dianter pakai mobil sekolah sama Pak Pey lagi! :") Bedanya, kalau kemarin yang mendampingi kita bertiga itu Pak Eko, kalau sekarang yang nemenin Pak Bambang alias Pak Bongzu, guru Prancis kebanggaan anak kelas EP dulu. Yang tau AdiTV nya malah maskun, dan kita kebablasen=))

Wew, mungkin karena faktor terlalu semangat, tim SMA 6 sampai duluan. Lalu disusul anak SMA 5, lalu anak SMA 4, sama anak SMA Taman Widya atau apa gitu aku lupa namanya. Ternyata sebelum sesi tanya-jawab, kita semua itu ditanyain mau tanya apa. Jaga-jaga kalau pertanyaannya terlalu sulit atau menghindari konsekuensi sang bintang tamu tidak bisa jawab pertanyaannya gitu.
Aku: Oh, ternyata pertanyaannya itu dikasih tau duluan, ya?
Maskun: Masih mending. Di *piip*, kita malah disodorin pertanyaannya. Jadi yang mau tanya silakan acungkan tangan, lalu nih pertanyaannya silakan dibaca.
Baru disitu aku mengetahui apa sebenernya yang terjadi di balik dunia televisi. Yah, pas aku nonton semacam talkshow gini aku juga udah kepikiran sih kalau itu pasti nggak murni bener-bener sesi tanya-jawab, tapi aku nggak nyangka juga kalau ternyata emang bener-bener, er... agak palsu.

Lalu, setiap sekolah kan disuruh nanya. Nah, karena SMA 6 dateng pertama, jadi disuruh tanya pertama. Sebenernya itu Alya yang aku sama Maskun suruh tanyaaaa. Tapi Alya nggak mau megang mic-nya, dan salahku sendiri kenapa aku mau nerima micnya pas disodorin sama Pak Candra. Pak Candra itu kepala kru AdiTV kayaknya, soalnya dia yang ngekoordinir segalanya. Kenapa aku tau namanya? Soalnya setiap kali ketemu orang, Pak Candra itu selalu ngajak jabat tangan dan lalu bilang, "Yak, panggil saya Candra, saya yang... (ini kayak robot kata-katanya, jadi tersistematis dan aku malah gak nyimak)."

Pulangnya, kita makan-makan! Kita makan soto di sekitar wilayah kampus Sanata Dharma. Habis itu kita pulang sekitar jam 2an, dan udah pada pulang gitu, deh kelasnya. Aku langsung ke mushola soalnya aku harusnya bantu-bantu ngewawancara anak kelas sepuluh yang pengen masuk rohis. Chika pengen masuk rohis betewe=))

Itu udah hampir selesai, tapi untungnya aku kebagian satu anak yang belum diwawancara. Dia anak taekwondo dan aku nggak bilang ke dia kalau aku bakal jadi mentornya dia pas mentorin Jumatan ntar=))

byt : banyak yang terjadi. Masih singkatan baru dan kayaknya belum familiar.

Sebenernya nggak banyak yang terjadi sih. Oh, iya, kemarin aku bantuin Rani jaga pos Sit-Up di aula, buatt anak-anak kelas sepuluh yang minat PDT. Jadi inget tahun lalu aku sit-up sama Mangga, dan kita sit-up dengan cara yang sangat curang(?) =))

banyak cerita

Tugas, Kerjaan, Pikiran, dan Hal Lain.

Rabu, Agustus 19, 2015

Aku nggak mau seenaknya bilang kalau aku sibuk, sih, hanya saja ini bukan saat yang tepat untuk update blog, karena masih banyak tugas yang menumpuk, masih banyak kerjaan yang bahkan aku belum ada niat untuk memulai, atau memikirkan hal-hal yang kalau dipikirkan akan membuat sakit kepala tiba-tiba, atau hal lain.

Kalau soal tugas, seharusnya yang kulakukan adalah membuka browser dan mencari hal-hal mengenai "Struktur dan Fungsi Jaringan Hewan". Tugas Biologi, kelompok empat. Aku di kelas XI IPA 6 sekarang, dan anggota kelompoknya ada aku, Vira, Febri, Raka, dan Uli. Ada pembagian tugas buat masing-masing anggota, sih, tapi... yah. Begitulah.

Lalu soal kerjaan. Alhamdulillah, walaupun deg-degan, tahun ini aku jadi mentoring buat anak kelas sepuluh. Tiap hari Jumat semua anak putri yang muslimah dianjurkan buat ikut mentoring. Aku udah mengalami itu selama kelas sepuluh. Sekarang, seperti biasa sesuai kata pepatah,

"Hidup itu berputar. Yang berganti hanyalah sudut pandang.", 

Aku sekarang jadi mentornya. Mbak Cho selaku mentor-senior, ngebebasin aku mencari asisten mentor sendiri. Asisten mentornya, ya, anak seangkatanku. Aku udah menawarkan ke beberapa temen, sayangnya pada menolak. Harusnya aku disaranin biar cari asisten mentornya anak IPS, biar bisa menyesuaikan jadwal IPA-ku kalau-kalau ada hari di mana tabrakan sama praktikum.

Selanjutnya, soal mikir-hal-yang-kalau-dipikirkan-akan-sakit-kepala. Sebenernya, cuma sakit kepala aja, sih. Untungnya aku masih bisa tetep di luar bersikap tenang... kadang-kadang. Jadi, ada suatu event di SMAku di mana aku jadi koor usaha dana di sana. Yah, sesuai pepatah tadi, karena selama kelas sepuluh aku udah jadi usaha dana dua kali, makanya ini hanya pergantian sudut pandang lagi. Lalu, sebenernya nggak begitu stres, sih. Cuma anggaran dana nya aja yang kejam. Agak. Mungkin.

Yang terakhir, soal hal lain. Tadi, ekstrakurikuler kelas sepuluh sudah mulai. Yang membuka ekstrakurikulernya masih guru pembimbing. Guru pembimbing jurnalistik, Pak Eko. Tapi, Pak Eko ngebolehin aku buat "curi start" dari anggota jurnal angkatanku yang lain, buat nemuin anak-anak jurnalistik kelas 10. Cuma bentar, kok. Dikasih waktu lima menit. 

Jujur aja, aku nggak tau mau ngomong apa :') Baru dateng, belum ngatur napas, eh Pak Eko udah ngenalin aku yang jadi ketua jurnal lalu ditepuktanganin, kan jadi bingung.. dan salting juga._. Anak-anak kelas 10 yang ikut jurnalistik jumlahnya 14 orang, dan sementara masih putri semua. Semoga ketambahan dari anak KIR yang mlipir. Aku cuma ngomong soal jurnalistik, mading, lomba reporter JIHW, prestasi (untung punya), sama majalah depazter. 

Lalu, hal lain lagi. KACA, rubrik di Surat Kabar Kedaulatan Rakyat, buat lomba cerpen di Jogja Japan Week yang besok diadain di GSP. Aku jadi panitia di sini. Jadi sekretaris :3 Sempet disuruh buat jadi peserta aja karena ini event nasional, cuma karena aku ngejar pengalaman aja, sih, jadi aku mikir kalau panitia bakal dapet banyak pengalaman. Kan, aku juga seringnya nggak menang kalau ikut lomba cerpen, jadi aku mau coba merubah-sudut-pandang buat tau yang dipengenin juri itu yang kayak gimana.

Eng.. Sudah, kayaknya.

Oh, iya, aku dulu pernah cerita soal aku, Alya, dan Maskun, yang ikut lomba Blog-Artikel dalam rangka Hari Tanpa Tembakau Sedunia di Dinas Kesehatan, kan? Alhamdulillah, juara dua waktu itu. Lalu, alhamdulillah lagi, kita bertiga diundang sama Dinas Kesehatan lagi, buat ikut siaran di AdiTV, besok Kamis. Jam setengah dua belas. 

Wah, kalau Olimpiade Indonesia Cerdas sudah memperbolehkanku "mejeng", sekarang Dinas Kesehatan ngasih aku kesempatan buat bener-bener siaran di TV. Belum pernah soalnya, wkwk. Kalau KACA di Kedaulatan Rakyat, juga sudah ngasih pengalaman buat siaran dua kali, tapi di radio 107.2 FM.

Doain... semoga aku nggak ambruk, ya, lol :')

bleepy

Update Wattpad

Senin, Agustus 17, 2015

Bytheway, Happy Independence Day 2015!

Selamat ulang tahun Indonesia, ke 70! Spesial sekali kali ini, karena 17+8+45=70. Sesuai dengan arti kemerdekaan; bebas, harapanku untuk Indonesia semoga Indonesia dapat berdiri di atas kaki sendiri, tidak membutuhkan bantuan negara lain apalagi sampai dimanfaatkan oleh negara lain itu sendiri.

Sudah sekian lama aku nggak update wattpad. Sudah sekian lama juga aku nggak nulis. Hampir setengah bulan, dan aku nggak membiarkan itu terjadi. Banyak banget ilham-ilham yang muncul di kepalaku. Ada yang ide cerita, sekilas plot, tapi kebanyakan, sih, beberapa patah kata untuk judul. Salah satu sekilas plot membuatku akhirnya mulai menulis dan mengupdate cerita di wattpad!

(Padahal ada dua cerita wattpad yang belum kelar.)

Title : Heroine

Summary :

"Jadikanlah aku tokoh utama."

Namaku Shelly Miklira. Aku biasa dipanggil Shelly. Di sekolah, aku sangat sibuk, benar-benar 'sibuk' yang tak terbayangkan. Aku menjadi panitia di berbagai event, dan, begitulah. Aku memanfaatkan aktivitasku di sekolah dengan sebaik-baiknya.

Namun, ada satu hal, impian yang ingin kuwujudkan setiap detiknya.
Aku ingin menjadi tokoh utama. Dan kehidupanku di sekolah sebagai anak sibuk dan populer bukanlah hal yang tokoh utama butuhkan. Namun sesuatu yang lain, sesuatu yang lebih berkarakter.

Hingga saat itu datang. Di mana aku terbangun di pagi hari, dan mendapati bahwa aku terlempar ke dimensi berbeda dari yang kutinggali sekarang. Sekejap sajalah, aku dikenal dengan Shelyssa Miklira dan dipanggil Lisa, seorang gadis sok modis yang menyebalkan, suka meludah ke semua orang miskin, dan hobi mempermainkan perasaan.

Namun, Lisa menyuruh semua orang di sekolah memanggilnya dengan sebutan "Heroine"—tokoh utama wanita. Dan di sinilah aku, berusaha memperbaiki diri, berusaha membuktikan pada semua orang bahwa aku memang seorang tokoh utama, sebagai satu-satunya rasa terimakasihku padanya.

Categories : ChickLit
Tag : comedy, fantasy, school, school-life, teenlit

Belum aku update di navigation "Wattpad", sih. Nunggu complete dulu, hehe. Buka linknya dan baca, ya. Aku bakal seneng banget kalau ada yang memberi kritik-saran atau favorite.

Ngomong-ngomong, aku dulu pernah bilang (atau bukan di blog ini, ya?) kalau aku nggak pinter dalam hal nama orang. Aku bisa buat tokoh dan karakterisasinya, tapi aku nggak tau dia namanya apa. Aku jatuh cinta sama nama "Miklira" dan nama pendeknya "Miki", jadi aku hampir selalu pakai nama itu setiap kali ada kesempatan.
Lalu, aku mau bicara beberapa kalimat lagi, yang aku harap ini bisa menyelamatkan nyawaku. 

Kesamaan nama (nah) atau mungkin—hanya mungkin—juga kesamaan karakterisasi (ras, jangan membahayakan dirimu lebih dari ini) itu hanyalah kebetulan. Bukannya aku melakukan itu tanpa sengaja, tapi itu hanya (sekali lagi) kebetulan.
Lalu, ini buat bleepy. Dan buat semua yang baca.

Menurut kalian, pasti bahasaku aneh, kan? Rasanya agak lebih baku, atau lebih kaku, atau apapun. Sebenarnya, aku kadang-atau-sering memang suka bahasa yang kayak begini. Tapi aku nggak mau ngaku ke bleepy atau ke semua orang karena ini agak bukan-bagian-dariku-yang-aku-inginkan-ada-padaku. 

Aku pernah kayak begini juga waktu kelas 2 SMP dan aku baru sadar itu sebuah kesalahan ketika naik kelas 3. Aku nggak mau itu terulang lagi dan lebih parah dari sebelumnya—istilah menipu diri sendiri, atau menipu diri dari bleepy, atau semua orang. Aku belum punya keberanian buat nyebutin satu per satu apa yang kusembunyikan dari bleepy-atau-semua-orang, tapi lama-kelamaan ada postingan di blog ini yang benar-benar jujur tentang semua itu.

Jadi, apabila itu tidak masuk hitungan, aku akan memulai kejujuran yang pertama.

Aku suka namaku. Mungkin.
Maksudku, aku suka—suka—namaku.

kaca

Tebak aku lagi di mana?

Senin, Juli 20, 2015

Hai. Coba tebak apa yang lagi aku lakukan(?)

Oke. Aku lagi ngetik.. pake laptopnya Satriyo. Sekarang, Satriyo sama Yeta lagi ngeprint hasil laporan utama, pakar, profil, sama komentar yang jadi bahan tema rubrik Kaca. Aku ditinggal :’( Untungnya aku bisa internetan dan buka blogku, pake WiFi portable nya Mas Agung :’))

Sebenernya, aku pengen nulis itu aja, sih. Secara kesannya nggak baik kalau aku lalu nggak nulis blog lagi semenjak PakPolisiBlog udah lewat. Sebenernya aku nggak ada niat kayak gitu sama sekali, tapi aku emang nggak tau mau nulis apa. Hari-hariku juga biasa aja—tau, kan, liburan itu justru ngebosenin dan nggak ada cerita.

Aku lagi di sekre Kaca sendirian, nih. Hari ini emang janjian sama Satriyo sama Yeta buat kumpul di sekre Kaca jam dua belas. Tadi aku dateng pertama, jadi aku yang minta kunci XD Kuncinya banyak banget betewe._. Kalo Satriyo kemarin langsung bisa sekali kunci (kemarin kita juga ke sini) tapi aku harus nyoba beberapa kali dan aku nemu; kunci yang ada angka tiga nya :”))

Tadi diskusi bareng-bareng buat laput, profil, pakar, sama komentar. Sama main UNO juga:| Koplak, sih, waktu Yeta buat laput, aku sama Satriyo masih main UNO. Sama-sama megang dua kloter gitu, jadi walaupun hanya dua orang, tapi ada empat giliran(?) =))

Oke, kayaknya cukup deh. Aku juga pengennya nulis blog ini biar pada cukup tau aja kalau aku nulis blog pake barang-barang pinjeman ;3

17:52
@SekreKaca

Btw, ini random banget sih. Secara aku harus cepet-cepet memosisikan laptop ini seolah-olah nggak ada yang terjadi juga. Laptopnya Satriyo baterainya tinggal tiga belas persen, nih :") Tab nya Mas Agung juga ada dua SMS .__. Btw lagi, aku nggak buka-buka isi tabnya Mas Agung, kok. Aku tau kalo ada dua SMS soalnya.... ya, masa nggak peka sih kalo ada notif 2 new messages di lock screen :| *dia butuh saksi*

Okeee baterenya Satriyo tinggal sebelas perseeen. Udah yaa~ /kabur

award

PPB 29.0 : Rubrik Kaca Hari Ini ♥

Kamis, Juli 16, 2015


Hari ini puasa terakhir! Apakah ini bulan Ramadhan yang lebih baik dari tahun lalu?

Dua kalimat di atas itu bukan topik yang mau aku bawakan. Cuma biar jadi info aja kalau ini #PakPolisiBlog terakhir :') Lalu kalau jawabanku...

Aku nggak bisa bilang kalau tahun ini lebih baik, sih, cuma jadi "beda" karena kalau tahun lalu, aku kena kegiatan 100 Susu Gratis. Dan sekarang, aku ikut Ramadhan di Sekolah. Banyak juga sih, susah-sedihnya, gimana pas pertamakali rapat di masjid Syuhada, lalu pertemuan sama para media-sosial dan jurnalistik, lalu aku sama Salmon ngeliput buat pertama kali :') Nah, kalian gimana?

Lalu, gambar di atas juga bukan topik yang mau aku bawakan. Yang minta maaf itu yang pihak cowok, yang lalu ninggalin si cewek :') Notabene aja, sih, kalau ceweknya itu nyebelin, dan karakter ceweknya ini jadi pihak yang ngeganggu hubungan cowok yang nolak dia itu yang jadi tokoh utama, sama cewek yang jadi tokoh utamanya juga. Sesuai postingan blogku sebelumnya tentang aku-lemah-sama-si-pihak-ketiga, aku baper di sini entah kenapa :")

Jadi, si cowok itu pengen ngejar cewek yang dia suka, yang emang mereka berdua tokoh utamanya. Tapi mendadak si cewek nyebelin yang jadi pengganggu itu teriak, "Kamu kenapa ngejar dia? Dia itu beda kehidupan sama kamu, beda level sama kamu (karena cowoknya kaya sementara yang cewek enggak). Dan kalian berdua itu nggak cocok—"

Eh, lalu cowoknya ngemotong pembicaraan si cewek nyebelin itu dengan bilang, "Apa kelihatan kayak gitu? Padahal, sejak 10 tahun terakhir ini, aku yang mati-matian ngejar dia."

Dan, plis, aku yang awalnya sebel banget sama ceweknya itu, langsung baper seketika pas ditinggal :')

Lalu... kenapa topik yang nggak mau aku bawakan itu udah buat postingan blog ini jadi panjang, ya? *plak*

Oke, kita mulai bahas topik yang mau aku bahas. Jadi, di hari Kamis tepat ketika hari terakhir Pak Polisi Blog ini, adalah hari di mana koran Kedaulatan Rakyat terbit dan nyediain rubrik khusus buat Kaca di sana.

Ada dua karyaku di sana :") Yang satu artikel, yang satu cerpen. Hehehehehehehehe *kurang banyak sya hehe-nya* Aku seneng banget TvT Eyangku langganan koran Kedaulatan Rakyat, jadi pagi-pagi loper koran udah ngasih korannya. Seneng banget pas liat Kaca ada dua namaku di situ.. hehehehe *udah*

Artikelnya itu diedit sama Mas Agung jadi semi-opini. Lalu, kalau cerpenku, judulnya "Tik; Lima Menit Lagi", tentang anak yang menunggu waku buka puasa. 

itu semi-opininya. di klik untuk memperbesar :3

Kalau cerpenku... motretnya nggak kebaca terus nih :"D Pengen ngasih mentahannya aja di sini yang ketikan aja, tapi udah kepanjangan postingannya. Kalau kalian mau baca, beli Kedaulatan Rakyat hari ini, ya! xD Aku masih seneng banget nih :') 

Oke, Pak Polisi Blog udah berakhir. Ada dua-tiga postingan yang pas aku ngeposting ternyata udah ganti hari sih xD Oke, aku nggak boleh ngeles, aku harus tetep bayar 6000 TvT Kan, katanya Pak Polisi Blog itu ada hadiahnya. Aku nggak mikirin hadiahnya sama sekali, sih, dua karyaku dimuat di Kaca hari ini udah lebih dari sekadar hadiah :") Bener-bener penutup Pak Polisi Blog yang indah :") *dramatis kan*

AWARD FROM-ME-TO-ME
PADAKACARMA POSO-POSO NULISI BLOG
DONE!

Sincerely,
Rasya Swarnasta

#PakPolisiBlog