FemInd Cerita Berantai: Kelompok I

Jumat, Mei 03, 2013

Haloo. FemIndBloggers kali ini ngadain project cerita berantai. Prolognya kak ins. Buat ngelanjutin, dibagi jadi tiga kelompok, dan aku dapet kelompok satu. setiap kelompok dibagi beberapa season. Udah itu aja sih, nggak bakat buat prolog(?). Mana nanti harus siap-siap statistik penayangannya meningkat lagi *ini apa-apaan-_-*. Oke simak aja ya, ini aku salin lagi dari prolog. Bakal jadi rekor post terpanjang sepanjang masa nih bung:3

PROLOG: Kak Ins

Namaku Bintang Perdana Putera. Seperti biasa, sore begini kerjaanku hanya duduk, diam, menertawai novel dalam genggaman, pokoknya sore begini aku selalu dan makin mirip Supratman. Iya, Supratman. Orang paling famous seantero kompleks perumahan. Ya, namanya juga orang gila.

Nah, itu Supratman lewat. Aduh, baru juga diomongin. Lihat Supratman, jalan dengan eloknya. Eh, bajunya udah ganti lagi! Ah, warga kompleks sini memang baik-baik. Darimana coba Supratman terus ganti baju kalau bukan dari warga. Kadang aku suka merasa iri sama Supratman. Kenapa bukan aku saja yang jauh lebih famous. Ehm.. Bukan.. Bukan begitu. Maksudku kan aku lebih gila.

Baju dua hari sekali baru ganti, itu pun kalau ingat. Kalau nggak? Mending tanem pohon palawija lima hektar aja deh, daripada mendengar kenyataannya. Aku juga tidak sesumringah Supratman. Itu, dia menyapa setiap orang yang lewat. Kalau aku? Lagi-lagi lebih baik jangan mengetahui kenyataannya. Rumahku nomor 82, dengan tetangga nomor 87 aja aku sudah nggak tau siapa nama si ibu yang suaranya lantang-menantang itu. Iya, aku separah itu.

Apa aku bilang,? HARUSNYA KAN AKU YANG LEBIH FAMOUS?

Tapi itulah hidup. Supratman yang diberi tumpangan rumah mungil dan nyaman saja masih sering keluar dan masih ramah. Aku yang punya rumah dengan dua kapling ini malah susah banget buat masuk ke rumah sendiri. Tapi bukan berarti

"Maaf ya, Non, bibi tadi kejebak macet. Ada kecelakaan di jalan." aduh, bibi, tiba-tiba datang seenak jempol kaki.
"Kecelakaan di jalan, Bi?"
" Iya, Non ... Maceeet ... Bener."
"Bukan gitu, Bi. Maksud aku kalau kecelakaannya di jalan, ya bibi coba lewat langi sanah! Katanya mantan bidadari ..."
"Ah, Non .. Bisa aja ... Hehehe ..."
"Yaudah. Mana kuncinya cepetan! Lama tauk aku nungguin! Kalau rekreasi, nih ... Aku udah berkelana ke dua pulau tiga kabupaten!"
"I, I..ya, Non. Tapi tadi mami pesen"
"Apa? Yang peraturan baru itu lagi?"
"Bukan, Non ..."
"Terus?! Yakali mami pesen aku disuruh makan enak"
"Tapi peraturan yang lebih baru lagi, Non ..."

Deg ... Firasat buruk. Mami nggak pernah ngeluarin peraturan secepat ini. Selama aku hidup, paling cepat dua bulan baru ada peraturan lain. Ini baru dua hari. Ya Tuhaaaaannn.... semoga firasat buruk ini salah.
"Ap-apa, Bi?"

(Start: Kelompok I)

SEASON 1: Kak Kartik

Lagi-lagi dengan peraturan. Entah mengapa aku punya sesosok "mami" yang gila akan peraturan. Mulai dari tidur di beranda selama 7 hari karena tak mandi selama 5 hari masa liburan, hingga hukuman membantu Mak Endah membuat nasi pecel di seberang jalan rumahku karena aku yang hampir tak pernah membantu bibi memasak di dapur. Sepele .... Mamiku sepele dan mencintai sesuatu yang salah dan sepele. Sial.

"Ap-apa, Bi peraturan barunya?" kuulang pertanyaanku. Melihat bibi tak kunjung menjawab dan malah terlihat ketakutan.
"Emmm .... Non yakin mau dengar? Bibi yang diberi perintah untuk menyampaikan saja, sedikit enggan mengatakannya"

Mati aku! Bahkan bibi yang biasanya tak pernah terlihat gugup dalam menyampaikan peraturan baru mami, kali ini terlihat sangat terpaksa harus mengucapkannya. Mati aku! Mami berulah lagiii! AAAAAA....

"Apaan sih bi, peraturannya? Jangan buat aku penasaran dong! Itu amaanah mami lho biii, cepetan kasihtau!!"
"Hmm .. Mami bilang ke bibi kalau, Non gak boleh masuk rumah"
"Tuhkan bener! Mami nih kenapa sih! Anak sendiri diginiin -_-!"
"Non, belum selesai ... Mami bilang non gaboleh masuk rumah dan gak boleh tidur di rumah lagi selama 7 hari sampai masa liburan non selesai"
"APAA??!!! MAMI GILA! INI BENERAN MAMI YANG BILANG?" ucapku emosi. Gila aja! 7 hari aku gak boleh di rumah? Ini rumahku! Terus aku tidur dimana kalo 7 hari gak boleh masuk rumah? Panti Jompo seberang gang? Warung pecel Mak Endah? atau jangan-jangan ...
"Bentar non, bibi belum selesai ngomong .." ujar bibi bersungut-sungut karena ceritanya kuputus.
"Yaudah lanjutin .."
"Terus, kalau non mau tanya, non selanjutnya tinggal dimana selama 7 hari itu, emmm .... kata mami, non tidur sama Supratman di dekat rumah kecil Bu Eva, yang punya penginapan 3 blok dekat sini itu non .." Ragu-ragu bibi mengatakannya. Seakan sudah bisa menebak ekspresiku selanjutnya.
"Mami beneran gila ... Baru punya anak 1 aja udah diginiin. Supratman itu orang gila bii! Masa' iya aku kumpul bareng orang gila. 7 hari biii 7 hari ... Mami gila beneran ini!" Ujarku sambil merebut kunci yang sedaritadi tergantung di tangan bibi. Lekas masuk rumah, masuk kamar dan ...

"MAMIIIIIII !!!! MAMI KAMARKU KENAPAAAAA !!!!!!!" Teriakku mebahana .. Aku tak berpikir siapa saja yang akan mendengar teriakanku! Tidak peduli ! Yang kupedulikan saat ini adalah peraturan baru mami, pikiran mami yang kukira sudah ringsek meupun perasaan mami terhadap anak semata wayangnya yang kukira sudah membatu!

SEASON 2: Menay

Aku menyapu pandanganku ke seluruh penjuru kamar. Barang-barangku sudah tak terlihat lagi di rak tempat biasa aku meletakkannya, digantikan sebuah tas besar di lantai yang aku yakin berisi baju-bajuku yang menghilang. Pasti ini ulah mami, niat banget sih sampe koleksi dvdku ikut dikemas juga. Apakah nanti aku akan nonton DVD bersama Supratman? Kayak dia punya DVD Player saja. atau jangan-jangan ada tetangga yang memberikannya juga? mungkin saja, karena dia lebih famous dariku -_-

Tapi bukan itu masalahnya. Mami mengemas hampir setengah dari isi kamarku! Padahal aku pergi hanya 7 hari saja. Sebenarnya apa rencananya? apa tujuannya? Jangan-jangan aku beneran mau diusir dari rumah ini! Badanku lemas. Teringat masa kecilku, bersama mami yang baik, pengertian, dan sebagainya-dansebagainya. Aku tidak percaya sekarang mami mau mengusirku. mengapa? mengapa ini semua terjadi? mengapaaaa?

"Adaapa, Non!?" bibi datang dengan ngos-ngosan, panik. Aku tidak mempedulikannya, sambil berusaha menahan air mata yang sudah membendung dimataku. "Oh, itu? Aduh, maaf non, jangan nangis. Bibi asal masukin barangnya."

"BIBI-_______- Aku... aku gak cengeng!" Seketika aku merasa bodoh. Aku menghentak-hentakan kaki ke tanah(?), mengambil tas besar tersebut kemudian berlari keluar kamar. Brugh! Untuk yang kesekian kalinya, aku nabrak mami.

"Udah mami bilangin berkali-kali kan, jangan lari-larian di dalam rumah!" seru mami.
"Iya,iya. sekarang bukan itu masalahnya. Jadi apa latar belakang mami menyuruhku tinggal bersama orang gila? Aku entar diapa-apain(!) gimana? Ngomong-ngomong ini udah mau malem gini looh!" Aku mencoba mengeluarkan semua yang ada di pikiranku, tapi nanti mami malah enggakmau jawab. Ya lebih baik aku tunggu jawaban mami dulu kemudian tanya lagi, tanya lagi, dan tanya lagi.... jadi akhirnya mami lupa sama ini semua.

"Kamu ngomongnya pelan-pelan aja lah" tuh kan. "Jadi gini, loh...."
".....Mami ngeliat kamu liburan cuma ketawa-ketiwi sendirian doang. Jadi makin mirip supratman." ternyata pemikiranku berasal dari mami(?) "Jadi, menurut mami, kamu harus bergaul sama orang luar, kaya supratman. Biar gak gila kaya suratman. Dan biar menantang.... sama supratman!!! dah. kamu ngapain lagi disini? sono samperin supratmannnnn." Mami kemudian mendorongku kemuar lalu menutup+mengunci pintu. yyeeeaaaa punya mami yang random seperti ini sangatlah seru.

Aku memberanikan diri berjalan ke arah tempat supratman tinggal. Malam ini, entah kenapa lebih gelap dari malam-malam sebelumnya, atau memang hanya perasaanku saja. Ya, perasaanku bahkan lebih gelap dari malam ini. Suram. Tapi makin jauh aku berjalan, bukannya makin sedih, malah makin seram. Dan pada akhirnya, aku sampai tepat di depan tempat orang gila itu tinggal. Gelap, ditambah dinginnya malam, membuatku semakin takut. Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku mesti masuk? Jangan gila, Bintang. Tapi kalau kau di jalanan sepanjang malam selama 7 hari itu juga gila. Lebih baik masuk saja, deh. Daripada gila. Toh kalau aku diapa-apain aku bisa nendang. Tetapi ketika aku membuka pintu perlahan, aku melihat sesosok bayangan yang entah darimana asalnya..

SEASON 3: Ratri

Bulu hidungku bergidik. di depan mataku, kulihat sesosok supratman sedang duduk menghadap ketembok. entah apa yang dia lamunkan, namanya juga orang gila. Secepat kilat dan se pelan mungkin aku melangkah keluar dari rumah, dan memilih untuk tidur di dipan yang ada di teras rumah kecil supratman. "Ogah banget tidur di dalem, hii~ untung tadi dia belum liat gue dateng, kayaknya sih. semoga aja. amin" ucap bintang dalam hati.

Dengan waswas dan perasaan berdebar-debar, Bintang pelan-pelan mengeluarkan selimut dari tas nya dan menaruh kembali tas nya di bagian atas dipan sebagai bantal tidur, dan merebahkan diri secara perlahan.
Bintang melamun sejenak menatap bintang-bintang. Perasaannya campur aduk. antara tidak percaya akan apa yang ia alami saat ini -tidur di (depan) rumah orang gila- dan sedih karna mama nya begitu tega membuat peraturan super kejam ini.

Bintang rela jika di suruh melakukan apapun sebagai penggantinya, asal dia tidak di haruskan menginap di rumah supratman. "7 hari. kenapa gak 7 malem sekalian mah, atau 7 taun. biar ikutan gila disini, jadi fosil atau di jadiin mumi sekalian bareng suparman. betapa tidak adilnya dunia ini, berasa jadi anak tiri. atau jangan-jangan memang benar aku anak tiri........sebenernya aku ini anak kamu bukan sih mah?:" ". /halah/ batin Bintang
Pemikiran yang terus berputar-putar dan bertubrukan di dalam kepalanya akhirnya membawa bintang pergi jauh ke alam mimpi.

Keesokan harinya, Bintang terbangun oleh suara orang yang grusak grusuk di sampingnya. Dengan malas-malasan, bintang mencoba membuka mata. ia perlahan memiringkan kepalanya ke arah sumber suara, dan menemukan sesosok supratman yang meringis di samping kepalanya, sekali lagi, tepat di samping kepalanya.

"HUAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!!!!!!!!!!" Bintang yang kaget langsung melonjak dari atas dipan dan berlari ke pinggir teras sambil bersembunyi di balik selimut (?).
Supratman hanya memperhatikan Bintang sambil meringis dari tempatnya berdiri. Tapi tak disangka, diam-diam dia berjalan mendekat ke arah bintang.
"HUAAAAAAAAA ngapain kamu deket-deket? hush hush menjauh sanaaa" Bintang menjerit takut sambil baca jampi-jampi *-_-*. Tapi supratman tidak menghiraukannya, ia malah semakin mendekat, dan tiba-tiba saja meraih tangan bintang *ea* dan menariknya ke dalam rumah.

Bintang yang tak menyangka hal itu akan terjadi hanya bisa diam dan pasrah sambil terus berdoa. Entah apa yang akan supratman si orang gila famous lakukan padanya.
"Ka .... kamu mau ngapain.....le......pasin lepasin............................" Bintang menutup matanya, hampir menangis sangking takutnya. Tapi supratman tidak menghiraukan.

Terasa di kaki Bintang tegel-tegel lantai yang agak hangat(?), beda dengan lantai dingin yang ia pijak di teras tadi. sepertinya mereka memasuki area rumah kecil supratman.
Dan ketika ia sudah sampai di ambang ke pasrahan, supratman berhenti menariknya. kaget bercampur lega, bintang pun perlahan membuka mata. Seketika Bintang mematung. terpesona campur bingung dengan apa yang ada di hadapannya. Sebuah meja makan kecil, yang sudah berisi menu sarapan super lengkap dan terlihat menggiurkan.

Supratman yang melihatnya hanya meringis di sebelahnya.

SEASON 4: Muthia

Astaga, apa aku bermimpi? Bintang mengucek-ngucek matanya.

Supratman duduk di satu kursi, dan menatap Bintang seolah menyuruhnya untuk duduk dan makan bersamanya. Bintang berjalan mendekati meja tersebut, dan duduk. Pikirannya tertuju pada Supratman yang sedari tadi terus menatapnya, “Ehm, ini kamu buat sendiri?” Bintang menunjuk makanan yang menggiurkan itu.

Supratman tersenyum dan mengangguk. Seketika napas Bintang terhenti, terpesona akan sosok Supratman *eah*. Bintang makan dengan lahap, maklum ia belum makan dari kemarin. Kok orang gila bisa masak segini enak ya? Bakat kali yee~ Batin Bintang.

Seusai makan Bintang berniat untuk mencuci piring bekas makan tadi, sebagai tanda terimakasih atas sarapan yang lezat tadi. Supratman mengiyakan, dan Bintang pergi ke belakang rumah dan menemukan setumpuk piring yang belum dicuci.

“Ya ampun, inikah yang dinamakan orang gila?!” Bintang melihat ke sekitar, tapi, tidak ada tempat cuci piring. Ember berisikan air pun tidak ada, Bintang mencari Supratman.

“Ehm, tempat, buat, cuci, piring, dimana?” Bintang menggerakkan tangannya melukis tanda Tanya di udara. Supratman hanya terdiam, kepalanya dimiringkan, persis seperti anak kecil yang akan difoto.

Semenit, dua menit, Supratman masih diam. Bintang geregetan (?) akhirnya dia keluar, mencari tetangga terdekat yang bisa membantunya. “Bu, aku lagi dihukum sama mami aku buat tinggal di rumah Supratman. Nah, tadi kan makan tuh, terus piringnya kotor semua, pas aku mau nyuci piring, tempat cuci piringnya ga ada bu, gimana dong?”

Si Ibu hanya tersenyum, “Aduh, kasihan! Dek, di rumah Supratman tuh ga ada tempat cuci piring. Palingan ada air di kamar mandi doang. Kalo adek mau nyuci ya, harus di kamar mandi, atau bawain embernya ke belakang. Adek tau kan Supratman itu orang gila?” Bintang mengangguk meringis.

“Ya sudah, makasih bu..” Bintang kembali ke rumah Supratman, mengangkat setumpuk piring dan membawanya ke kamar mandi, “Hmm, sekarang bagaimana cara mencuci piring?”
Bintang mencoba mengingat-ingat cara mencuci piring yang sering dilakukan bibi. “Aduuhh!”

Rencana mencuci piring pun, GAGAL! Bintang menaruh setumpuk piring itu ke tempatnya yang semula.

Hari pertama dihabiskan untuk mengerjakan tugas yang memang menumpuk itu. Mulai dari menulis karangan, membuat gambar semi realistik, sampai diary liburan, ini beneran DIARY!

“Tumben si Supratman belum pulang, haduh lapeer!” Terdengar suara nyanyian dari perut Bintang.
BRAAK!!

“SETAAN! PERGI SONOO!” Bintang terkaget-kaget, “…. Oh, Supratman, ngagetin aja..”

Supratman dengan pakaiannya yang baru masuk ke dalam rumah tanpa menyapa Bintang. Ia langsung masuk ke kamar mandi dan berdiam disana. Bintang menatap kea rah kamar mandi dengan tatapan meringis, dapatkah aku tinggal di sini lebih lama lagi?!

Lima menit, sepuluh menit, “Kok Supratman ngga keluar sih?” Ujar Bintang sedikit berbisik.

Bintang melangkah ke kamar mandi, mempersiapkan mental untuk membuka pintu.
“Satu, dua, tiga, BRAK!” Bintang melongok ke dalam kamar mandi, tidak ada siapa-siapa, lantas kemanakah Supratman itu pergi? Apakah dia hantu? Tanya Bintang dalam hati.

SEASON 5: Kak Mahar

Tiba-tiba seseorang menepuk pundakku. aaarrggghhh ini siapa lagi-_- eh.... bentar........... i-i-ini sss-si-siapaa :O
Perlahan, aku membalik badanku dengan mata tertutup.. dan............... "BAAA~!"
"ASTAGAAAAA SEMPRUL!!!!!" iya, dia Supratman, si orang gila -__- "eh.... kok.................. kamu kok disini? bukannya tadi kamu di sana?" kataku sambil menunjuk ke arah dalam kamar mandi. Supratman tak mendengarkan omonganku, lalu pergi begitu saja entah kemana.

Lima hari sudah berlalu..
Aku bosan berada disini, aku muak, aku beteeeee (?) huaaaaa mamiiiii :" awalnya aku tak mau keluar dari sini di siang hari kalau gak penting-penting banget. tapi kali ini, terpaksa lah~ aku kangen mama, bibi, dan suasana luar :" dan aku pun memutuskan untuk keluar.
Orang-orang menatapku, menertawaiku, dan mecemoohkan aku. apa salahkuuuuuuu =( mengapa dunia luar begitu kejaaaaammmmm
Tetapi tidak aneh sih jika orang-orang seperti itu.. wong aku gak mandi mandi di rumah kecilnya supratman muahahahaha
Tetapi, yang membuatku sangat kesal adalah..
"Eh man, mau kemana kamu?" sapa seorang bapak
"Eh?"
"Kenapa kamu supratman?"
"HAH? SAYA BUKAN SUPRATMAN PAK!!"
"Ah kamu kan Supratman si orang gila"
"Enak saja! saya ini bukan Supratman! saya juga gak gila!!!! saya ini Bintang, yang tinggal di blok A"
"Gak usah mengada-ngada deh kamu man.. ah sudahlah, percuma ngomong sama orang gila"
"Tapi pak.... TUNGGU DULU!! saya bersumpah, DEMI TUHAAAAAANNN SAYA INI BINTANG PAK, BUKAN SUPRATMAN!!!!"
"Halah. Sudahlah~"
Iya, aku disangka Supratman. apakah keadaanku sekarang ini seburuk itu? mamiiiiiiii aku ingin pulaaaaanggg huaaaaaaaa
Aku pun lari manuju rumahku.

Saat ingin memasuki rumahku.. "eh, tunggu. kamu siapa? ngapain kesini?" tanya satpam rumahku
"eh? saya Bintang pak, saya Bintang. masa bapak gak kenal saya sih? =("
"Hah? den Bintang???? *kucek-kucek mata* eh den, darimana saja? kok kucel sekali begini sih?"
"AH TAU AH!! TANYA AJA SAMA MAMI!!!"
Bahkan, satpam ku pun tak mengenal siapa aku sekarang. bukannya membaik, keadaanku sekarang ini malah memburuk. apasih salahku pada mami? mengapa dia memperlakukanku seperti ini huaaaa betapa malang nasibku
Aku memasuki gerbang rumahku, berjalan menuju pintu rumahku(?) dan*BRUUUKKK!!* 
"Bintang? ngapain kamu disini? ini kan belum 7 hari!"
Lagi dan lagi, aku menabrak mami "tapi kan mi......."

N-O-W: saya._.v
Mami sudah mengeluarkan tatapan yang tajam menyayat laksana pisau karena tatapannya sangat menusuk(?) kepadaku. Kemudian aku merasakan bahwa gendang telingaku menangkap SUARA TERIAKAN SUPER KERAS DARI MULUT MAMI YANG BERBUNYI:

"PROKLAMASI! KAMI BANGSA INDONESIA DENGAN INI MENYATAKAN KEMERDEKAAN.."

Eh. Salah. Oke. Ehm. *ngencengin dasi*

"BINTANG! MAMI NGGAK MAU TAU POKOKNYA KAMU KEMBALI KE RUMAH SUPRATMAN! DAN KARENA KAMU MELANGGAR PERATURAN MAKA MAMI AKAN MENAMBAH PERATURAN SEHINGGA KAMU AKAN TETAP DI RUMAH SUPRATMAN DAN KEMBALI KE RUMAH TUJUH HARI LAGI!! JADI MESKIPUN KAMU SUDAH SEKOLAH KAMU TETAP TINGGAL DI SANAA!!!"

...

WHAT THE HELL?! 

Kemudian, dengan mengeluarkan jurus bernama tendangan-jarak-jauh versi Tsubasa, mami sukses menendangku sampai terlempar ke luar rumah dan melayang layang di udara(?) sampai akhirnya mendarat tepat di rumah Supratman yang berdiri lima meter di depanku. "Halo, Bintang, gimana kabarmu?" sapa Supratman.

Seandainya aja aku lagi nggak bete karena lagi-lagi harus ngeliat tampangnya dia, aku bakal jawab aku-lagi-super-duper-bete-dengan-hari-yang-sangat-menyebalkan-dan-ngebosenin-ini-tanpa-aktivitas-yang-merangsang-otak-karena-aku-bersama-orang-gila-seperti-dia-di-rumah-yang-bikin-aku-sakit-jiwa-karena-rumah-ini-tidak-ada-tempat-cuci-piringnya-apalagi-ditambah-dengan-kegiatan-yang-begini-begini-saja-sehingga-aku-rasanya-mau-mati.

Tapi kemudian aku cuma ngangkat bahu. "Biasa aja," jawabku pendek.

"Oh," Supratman mengangkat bahu juga. "Kalo menurut opiniku sih, jangan-jangan apa bener kalo kamu lagi super duper bete dengan hari yang sangat menyebalkan dan ngebosenin ini tanpa aktivitas yang merangsang otak karena kamu bersama orang gila seperti aku di rumah yang bikin kamu sakit jiwa karena rumah ini tidak ada tempat cuci piringnya apalagi ditambah dengan kegiatan yang begini-begini saja sehingga kamu rasanya mau mati?"

...
Ini apa-apaan, dia seperti pembaca pikiran saja. Tapi aku cuma mengangkat bahu. "Bukan. Biasa aja."

"Oh. Ya udah," Supratman akhirnya masuk, dan aku ngekor. Aku sudah membayangkan akan ada makanan yang bertimpah ruah seperti biasanya. Tapi yang aku lihat hanyalah....KOSONG.
"Makan siang nggak ada, makanan di kulkas abis. Kita belanja bareng aja yuk. Aku tadi ke luar rumah mau belanja, tapi tau-tau kamu muncul," Supratman menjelaskan.
"Yaudah," aku kemudian pergi ke luar lagi. Lagi bete. Supratman ke luar juga, kemudian menatap ke langit. "Hati-hati lo. Menurut perkiraanku, cuara cerah kali ini enggak akan bertahan lama. Mungkin setengah jam lagi akan diguyur hujan. Lihat saja, itu awan berarak lebih cepat ke barat."

Kemudian, pertanyaan yang selama ini kupendam keluar juga. "Supratman, kamu orang gila bukan sih?"
Kelihatannya pertanyaanku membuatnya kaget. Sampai kemudian dia menjawab. "Seharusnya kamu-lah yang harus menyimpulkan sendiri. Karena aku lebih banyak melakukan observasi dan analisis dari semua orang selama aku berjalan-jalan, filsafat hidupku adalah yang penting dari semuanya adalah bagaimana kualitas kehidupan seseorang. Itu lah yang disebut sebagai proses kedewasaan."
".... Oh."

Aku tidak peduli apa kata orang-orang selama kami berjalan beriringan menuju supermarket. Memang sih, kalau dibandingkan, Supratman lebih rapih daripada aku yang tampangnya kucel. Bahkan mereka menyimpulkan  bahwa Supratman adalah artis kece dan aku adalah orang gila. Dari ujung mataku saja aku tau bahwa semua penumpang bus yang mlipir memelototi mereka berdua. Bahkan terdengar sedikit teriakan, "Gila, Brad Pitt datang ke Indonesia!"

Tapi aku menghiraukannya. Yang sedang menjadi analisisku kali ini adalah bahwa mungkin Supratman itu bukan orang gila. Bahkan, pertanyaanku padanya itu cenderung salah. Pertanyaan yang ingin aku ajukan itu bukan 'Supratman orang gila bukan sih?'....

tetapi..

Supratman itu orang normal, kan?

***

Selesai. Maaf gaje, maaf nyimpang-__-. ya udah itu aja. makasih yang udah turut meningkatkan statistik penayangan blogku btw :B

You Might Also Like

0 comment(s)