fanfiction

Menuangkan Pikiran

Jumat, Juli 21, 2017


KATANYA, Sherlock Holmes lebih suka berpikir daripada berbicara.

Dia sendiri yang bilang, saat pertemuan pertamanya dengan John Watson, kalau dia bisa menghabiskan beberapa hari berturut-turut tanpa mengatakan apa pun, hanya diam begitu, tak ingin diganggu. John Watson mencoba memahami; karena toh ia sendiri 'kan, yang butuh teman seapartemen?

Jadi merupakan hal yang aneh kalau setelah itu Sherlock Holmes selalu (benar-benar selalu) tak bisa menutup mulutnya. Ke mana-mana selalu mengoceh tentang apa pun di kepala - bahkan saat di tengah-tengah kasus, yang seharusnya memikirkan strategi menjebak pelaku, ia justru mengajak mampir makan. (Apa?)

"Sekarang pukul enam. Kita sudah sepakat kalau apa pun yang terjadi, aku tidak akan meninggalkan apartemen sebelum pukul tujuh." Sherlock Holmes berkata pada suatu pagi.

Tanda tanya besar bagi John Watson saat itu. "Kapan kita menyepakatinya?"

"Kemarin."

"Aku bahkan tidak ada di rumah kemarin."

"Bukan salahku kalau kamu tidak mendengarkan."

"Kamu berbicara padaku saat aku pergi?"

Awalnya John Watson maklum kalau barangkali hal ini karena keberadaannya, karena bisa jadi Sherlock Holmes akan menghabiskan waktunya dengan berpikir ketika ia pada dasarnya memang sedang sendirian, tapi jelas kontradiktif kalau Sherlock Holmes masih mengajaknya bicara bahkan saat ia tak ada di sana.


KATANYA, Sherlock Holmes seorang sosiopat.

Dia sendiri yang bilang, kepada semua orang yang menuduhnya psikopat, kalau dia berada dalam kondisi tak bisa berempati  pada orang lain. Sherlock Holmes bisa menebak apa yang dilakukan oleh seseorang yang baru saja ia temui dan langsung mengutarakannya dengan gaya congkak yang biasa. (Tidak biasa bagi orang lain, tapi oh ayolah, John Watson melihatnya setiap saat, 'kan?)

Semua orang selalu menganggap hal itu kasar dan membicarakan yang buruk-buruk tentang Sherlock Holmes sepanjang waktu, dan sekalipun ia tahu, Sherlock Holmes tidak pernah peduli. Dan kalau ia sesiopatik itu, kenapa mempertanyakan John Watson yang berjalan mondar-mandir nyaris mengitari ruangan, menggerundel tentang apa kira-kira yang dipikirkan orang-orang?

"Apakah sebegitu mengganggumu, apa yang orang-orang pikirkan tentangku?" Sherlock Holmes menekankan subjek dua arah yang ia selipkan dalam kalimatnya, "Aku tidak mengerti, kenapa mereka membuatmu marah?"

Saat itulah John Watson sadar bahwa ia telah membuat Sherlock Holmes terusik dengan apa yang ia pikirkan. Barangkali Sherlock Holmes selalu berada di situasi di mana orang-orang menganggapnya gila, jadi kentara kalau hal baru bagi Sherlock Holmes melihat ada orang yang justru mengkhawatirkannya.

***

BEHIND THE STORY

Biasanya sekali mimpi panjang, aku selalu mimpiin tentang kejar-kejaran, tembak-tembakan, atau adegan saling membunuh yang entah alasannya apa. Tapi entah kenapa kemarin aku mimpi dipanggil maju ke depan kelas ngerjain soal matematika pembagian. Awalnya 1022 dibagi 5, tapi begitu aku bisa jawab, lalu soalnya diganti jadi 10022 dibagi 5 (iya, ditambah nol aja), aku justru nggak bisa ....

Jadi, dua hal yang baru aja aku utarakan di atas (pendiam dan sosiopat) itu poinnya adalah soal kekontradiktifan itu tadi sih. Aku pertama kali suka pakai kata itu waktu ketemu karakter Tanaka, bocah kelas 1 SMA. Dia orangnya pemalas banget, dan itu yang bikin dia termotivasi untuk rajin olahraga - karena semakin dia bersungguh-sungguh di pelajaran olahraga, maka dia akan semakin capek dan bikin dia bisa istirahat sepuasnya. XD Di situlah aku baru tahu sisi lucu dari kata kontradiktif ini. XD

Aku tadi diajak mengisi survei untuk bantu seseorang menuntaskan skripsinya di Magister Psikologi, dan di situ ada bagian tentang sahabat yang opsinya antara Sangat tidak sesuai, Tidak sesuai, Sesuai, dan Sangat sesuai. Nyaris semua pertanyaannya aku jawab dengan Sangat sesuai, tapi ada satu pertanyaan yang kujawab Tidak sesuai, dan di situlah aku baru sadar kalau dengan aku pilih opsi itu berarti kontradiktif dengan pertanyaan-pertanyaan yang sebelumnya. :")))) Trus muncullah dua drabel fanfiksi itu deh.

Coba ditebak kira-kira pertanyaan mana yang aku jawab Tidak sesuai. Boleh bantu diisi surveinya di sini! XD

tentang rasya

Certain Lifestyle

Rabu, Juli 19, 2017

Mungkin kalau John Watson disuruh milih satu kalimat Sherlock Holmes padanya yang nggak akan pernah bisa dia lupakan, dia bakal pilih kalimat ini:


John, you are addicted to a certain lifestyle; abnormally attracted to dangerous situations and people.


Kalimat itu jleb banget. Bahkan buatku. Karena mungkin kalimat itulah yang sebenernya kita butuhkan tapi kita nggak pernah sadar. Begitu pun John Watson, dia waktu itu mempertanyakan kenapa seorang yang paling dia percaya mengkhianatinya, dan komentar Sherlock kayak gitu yang membuat semua seolah berbalik; sebenarnya John Watson sendiri yang secara alamiah punya ketertarikan sama orang-orang yang nggak bisa dipahami jalan pikirannya.

Segala macam permasalahan atau apa pun yang ada di sekitar kita dan orang-orang di sekeliling kita itu membuat kita berpikir kalau itulah yang mengubah kita menjadi kita yang sekarang, padahal sebenarnya sejak awal kita yang mengundangnya.

Ketika aku mempertanyakan kenapa temen-temenku nggak pernah ada saat aku bener-bener butuh mereka, itu sebenarnya salahku yang sejak awal lebih cocok bergaul dengan orang-orang yang nggak akan ada di sampingku ketika seharusnya mereka harus. Ketika John Watson nggak pernah habis pikir kenapa selalu situasi mengerikan dan berbahaya yang menimpanya, sebenarnya salahnya yang sejak awal condong memerhatikan tanda-tanda akan adanya kejadian itu.

Seharusnya aku nggak heran lagi. Karena aku jadi tahu kalau di sela-sela obrolan waktu aku ketawa bareng sama temen-temenku, ada suara yang memperingatkan kemungkinan absennya mereka di momen terburukku, dan aku denger. Tapi aku abaikan. Nyatanya aku tetep bergaul juga sama mereka.

Aku kayak mengutuk diriku sendiri. Jadi kenapa aku mempertanyakan hal yang terjadi padaku, yang sejak awal aku tahu kalau aku sendirilah yang membuat kriteria itu terpenuhi? Kenapa aku mengeluhkan apa yang datang padaku kalau akulah yang mengundangnya?

Ada saat-saat aku tahu kalau suatu hari nanti aku bakal dikecewakan, tapi nyatanya aku tetap meneruskannya. Setiap kali aku kira aku bisa mengatasinya, aku tetap bisa membuat dia ada di sampingku di momen yang kupikir sedang kubutuhkan, aku jadi berpikir kalau mungkin sebenarnya dialah orangnya - yang nggak akan membuatku sendirian.

Itu salahku. Kita ngobrol sampai berjam-jam di telepon, saling cerita satu sama lain, mendengarkan dan didengarkan, kalau rahasiaku sebenarnya itu kayak kue lapis dan yang terbesar ada di lapisan terakhir, lama-lama terambil satu lapisan, lalu satu lagi, lalu lagi, lagi, lagi ... sampai tinggal tersisa lapisan terakhir.

Lapisan yang selama kita ngobrol rasanya sudah pengin aku kasih, tapi kuputuskan buat mengulur-ulur waktu karena aku juga sambil menguatkan diri untuk mengatakan yang sebenarnya. Tapi lalu pada percakapan tertentu, kamu mengatakan hal yang membuatku nggak tahan lagi kalau terus kupendam sendiri. Jadi ketika kamu bilang di telepon,

"Aku nggak tahu apa-apa tentang kamu."

Aku jadi mikir mungkin aku harusnya nggak membuatmu sebersalah itu karena itu salahku yang nggak pernah bener-bener terbuka, dan kamu harusnya kubiarkan tahu itu sejak dulu. Aku pikir kalau kalimat yang ditujukan Sherlock Holmes untuk John Watson yang membuatku sadar kalau apa pun kejadian yang menimpa kita itu salah kita sejak awal itu nggak berlaku untukku, karena toh nyatanya, ketika aku lagi butuh seseorang, aku bisa membuatmu tetep di sampingku.

Lalu aku jadi inget saat-saat Cinderella pengin ngaku ke Pangeran kalau dia bukan seorang putri di halaman belakang istana, Conan pengin ngaku ke Ran kalau dia sebenarnya Shinichi di restoran tempat ayahnya ngelamar ibunya, Barry pengin ngaku ke Iris kalau dia sebenarnya The Flash di ruang kerjanya tempat dia kesambar petir ... sekarang gantian aku.

Rasanya ini saat yang aku tunggu, jadi aku mulai bilang,

"Jadi ...."

Lalu tiba-tiba bel jam dua belas malam berdentang dan momen pengakuan Cinderella hilang, lalu tiba-tiba ada jeritan seseorang lihat mayat dan momen pengakuan Conan hilang, lalu tiba-tiba ada berita di televisi bank yang dirampok dan momen pengakuan Barry hilang ....

Teleponnya mati. Dan momen pengakuanku hilang.

Aku otomatis lihat layar teleponku, dan aku telepon balik. Aku mulai mikir; jangan. Jangan. Plis, jangan. Aku sudah berusaha keras banget biar kamu tetep ada, biar aku bisa ngatur saat-saat aku butuh temen dan aku menghibur diri karena kamu di sini, dan biar aku bisa percaya kejadian-kejadian di film yang seolah alam semesta menentang momen pengakuan seseorang itu nggak ada.

Tapi di rumahmu mati lampu.

Aku nggak boleh marah atau merasakan apa pun kalau memang sebenarnya sejak awal ini gara-gara aku, aku yang memaksakan ini-itu, yang mencoba merancang begini dan begitu, tapi memang ada kejadian di luar kendaliku, dan itu nggak bisa kulawan. Nggak ada angin nggak ada hujan, kenapa di rumahmu bisa mati lampu di saat aku memulai momenku?

Itu salahku. (Lagi.)

nulis random

30. Dibalik No. 28

Jumat, Juni 30, 2017

Ketika postingan ke-28 isinya tentang dibalik postingan ke-25, lama-lama jadi merambat dan gitu aja terus nggak berhenti-berhenti. Iya, ini masih bahas tentang Jumbling July dan apakah Rasya bakal ikut atau enggak. (Jangan pakai sudut pandang orang ketiga, Sya.)

Kayaknya aku nggak bisa ikut deh. Soalnya bulan Juli itu tabrakan sama ....


Yap. Camp NaNoWriMo. Bulan April kemarin aku belum memenuhi target soalnya, jadi Juli ini aku coba ikut lagi! Harus bisa. :") Dan ada dua tantangan yang sama-sama bulan Juli, aku nggak mungkin ikut dua-duanya, nanti ambruk. :") Walaupun itu artinya mungkin Bleepy bakal aku anggurin selama sebulan, tapi Bleepy-nya sudah maklum kok. :")

... Ini pendek. Demi apa postingan terakhir #NulisRandom2017 kenapa menyedihkan begini sih, tapi aku ada deadline buat besok jam sembilan pagi, mau nyicil aja sekarang, jadi maafkan aku ; v ;)7