#zerotohero

ini yang mau aku ceritain; saat-saat di mana seseorang itu jadi superhero XD cerita yang hampir selalu ada di semua superhero, "gimana cara mereka jadi superhero?" menurutku bagian itu yang paling keren. mulai dari bagian waktu parker kegigit laba-laba yang bikin dia jadi spiderman, atau sampai pesawatnya kara mendarat di bumi yang bikin dia jadi supergirl :")))

sampai sebelum ini, aku selalu seneng sama spiderman. waktu dia belajar gelantungan dari gedung ke gedung, nembakin jaring laba-laba, entah kenapa aku selalu mikir itu lucu ketika seseorang berusaha beradaptasi dengan bakat yang memilih dia. yang awalnya dia pakai buat senang-senang - dan plis, waktu itu parker masih bocah kuper SMA =)) - sampai lalu dia punya ambisi buat berbuat kebaikan di dunia ini.

lalu aku baru sadar kalau mungkin aku suka spiderman karena aku belum lihat superhero-superhero yang lain. akhirnya aku tontonin satu-satu sampai legends of tomorrow. daaaaan setelah aku yakin aku tahu superhero yang lain - minimal aku bisa nyebutin dan aku tahu gimana cara mereka nemu bakat mereka - ada satu lagi superhero yang aku sukai cerita awalnya:

the flash.

iyaa, si superhero yang larinya cepet banget itu. sama koplaknya kayak spiderman; kalau parker kegigit laba-laba, barry ini kesambar petir XD aku kayaknya waktu kecil sudah pernah dikasih tahu soal the flash ini, tapi aku baru inget lagi begitu aku nonton ulang episode pertamanya. dan itu ... aku suka bangetttt :""))

agak beda sih sama parker, kalau parker bener-bener purely anak SMA yang kuper pendiam menyedihkan kutu buku, kalau barry ini memang dari awal udah kerja di kepolisian, jadi ahli forensik. cita-cita yang dulu aku pengenin waktu aku kelas sepuluh. tapi aku nemu kesamaan sih antara spiderman dan the flash (oke aku ngomongin mereka terus soalnya mereka berdua ini superhero kesukaanku orz) adalah ... mereka sama-sama pinter ;v; 

pinter matematika, fisika, ngengggg hal-hal yang berbau IPA dan itu sangat ... oke. oke, aku pernah jadi anak IPA tiga tahun jadi aku nggak begitu sakit kepala (??) (tapi ya tetep sakit kepala sih akhirnya lol) sama barry yang punya papan tulis isinya coret-coretan matematika dan kadang di layar komputernya neliti soal antibiotik di kotoran hewan, tapi aku nggak bisa paham gimana dia jelasin ke sahabatnya betapa kerennya akselerator partikel. cara dia jelasinnya.

matanya dia sangaaaat berbinar-binar dan dia bahkan sampai bikin coretan di papan tulis. kelihatan kalau topik itu bener-bener ... his cup of tea. whAAOo sayangnya, walaupun itu mapel yang kuambil di UN, aku nggak punya ketertarikan seperti itu pada dunia fisika (...). trus, yah, dia kesambar petir dan koma selama sembilan bulan (.....).

trus bangun-bangun, dia kan menjalani hari kayak biasa. tapi dia baru sadar kalau kadang ada kejadian yang dia lihat dengan sangaaaat lambat XD dan aku suka banget ekspresinya. misalnya waktu dia lagi di kafe dan pelayannya ngejatuhin gelas dari nampan - itu kejadian pertama kali dia lihat - dan barry syok banget kenapa bisa selambat itu gerakannya :"")))

lambaaaaaaaaaaat banget :))

lalu akhirnya masuk ke bagian yang aku paling suka yay, yang aku jadiin judul di blog ini. saat-saat di mana orang yang biasa-biasa aja dapet "bakat" lalu bikin dia jadi luar biasa. gimana barry coba jalan dan tiba-tiba dia nabrak tembok yang jauh di depan XD lalu dia balik lagi trus nabrak mobil XD atau pas tangannya dia geter cepet banget =))

ini pas barry bingung kok dia bisa jauh banget padahal cuma mau jalan doang XD

persis kayak parker, dia lalu kesenengen lari ke sana ke sini XDD seneng banget ngeliatinnya. sampe masuk truk segala =))

MASUKK=))))

sama kayak parker (duh ini aku nyama-nyamain terus, aku sukanya mereka berdua aja e orz) yang kostum awalnya jelek banget, ini barry juga jelek banget =))

jeleknyaaa =)) kalian ini kenapa =))

itu kostumnya barry pas dia mau ngelihatin betapa cepet larinya dia, jadi ya ... kostumnya pelari ya XD habis itu, sebenernya dia bakal dapet kostum yang seperti kita lihat the flash kayak gimana. udah sih aku suka bagian itu XD di episode satu ini barry juga pertama kali ketemu sama arrow. trus makin ke sini makin serius deh ceritanya. karena dia punya masa kecil yang pahit - ibunya dibunuh; dan ayahnya dituduh lalu dipenjara seumur hidup. jadi dia pengen mempergunakan bakatnya ini untuk kembali ke masa lalu dan nyelamatin ibunya. keinginan yang sangat murniii dan ada bagian yang membuatku menangis ;;v;; /ngeng

oke dan betewe the flash itu bagus lho ceritanya XD ada yang nonton jugakah? tahun ini bakal keluar season empatnya :3 dia larinya cepet banget - aku jadi inget diriku SD dulu yang begitu juga orz - dan aku suka episode-episode bagian dia melakukan perjalanan ke masa lalu, atau dia larinya kecepetan (?) dia ngejar penjahat yang naik mobil trus tiba-tiba dia udah masuk ke dalem mobil =)))) maksudnya apa =)))) trus ke bumi dimensi lain dan ketemu sama supergirl, aku ketawa terus, apalagi waktu dia bilang, "I think I'm on the wrong Earth," lol =))

dan aku selalu sukaaaaa sama pembukaannya. monolognya barry yang bilang:

My name is Barry Allen and I'm the fastest man alive.

itu berasa sudah cukup untuk menjelaskan segalanya XD

cerita tentang ketidakadilaaaaann /o/

aku punya kenalan, dan walaupun ini terlalu didramatisir, tapi intinya, dia lagi merasakan ketidakadilan dunia. mari kita panggil dia andi saja mulai sekarang. (ambil salah satu nama dari buku paket sd bahasa indonesia.) 

gara-gara dia, aku jadi sadar kalau situasi 'tidak adil' itu macem-macem ternyata. selama ini aku pikir 'tidak adil' itu bisa masalah ekonomi; kita nggak punya uang, kita kemalingan, dompet kita jatuh di jalan. atau bisa masalah kehidupan; kita gagal misalnya (duh ;--;), atau segala kejadian menyedihkan yang nggak bagus lainnya. nuansa 'tidak adil' itu kayak warna abu-abu dan oranye, datang dari kanan dan kiri, lalu ketemu di tengah, menyampur jadi spiral abu-abu dan oranye sekaligus. (gimana.) (kenapa abu-abu dan oranye.)

tapi waktu andi datang lalu cerita tentang ketidakadilannya dia; rasanya segala pengetahuanku tentang 'tidak adil' itu jadi beda banget sekarang. waktu aku pertama kali denger, yang jadi komentarku cuma ... whew. ternyata ada juga jenis 'tidak adil' yang kayak gitu.
percakapan di antara kami berjalan seperti ini
andi : dunia ini nggak adil.
rasya : lol. kaget aku.
andi : -_-
rasya : ... mmm. emang sih.
andi : lol
rasya : kenapa e
andi : jadi to
andi : aku minta maaf sama budi
rasya : ... budi siapa?
andi : ... ya budi yang itu lah. siapa lagi?
rasya : lah kirain beda orang lol
rasya : kalo gitu ... berarti kamu minta maaf sama budi
rasya : setelah semua ini?
andi : (((SETELAH SEMUA INI)))
andi : yha sih
andi : iya aku minta maaf sama budi tadi
rasya : emang budi nya masih mau maafin?
andi : ...
andi : nah itu masalahnya:(
rasya : =)))))
rasya : bagian mana yang nggak adil coba
rasya : jelas budi udah nggak mau lah
andi : NAH
rasya : ya masa begitu kamu balik dia trus nerima lagi
andi : SYA ITU MASALAHNYA SYA
rasya : hah apa
andi : NAH ITU MASALAHNYA
andi : HARUSNYA DIA UDAH NGGAK MAU
andi : CAPS JEBOL
rasya : hah wait
rasya : HAH
rasya : DIA MASIH MAU?
andi : *read*
rasya : MASIH??
andi : *read*
rasya : JAWAB
andi : mbak rasya, maaf ini mamanya andi. andi harus belajar dulu mbak, chatnya dilanjut besok nggih. nuwun. :)
rasya : =)))))
rasya : nggak manjur betewe
andi : yah:(
andi : manjur buat yang lain betewe:(
rasya : ok balik ke pertanyaanku
andi : g mao:(
rasya : I REALLY THINK IM ENTITLED TO AN ANSWER TO THAT QUESTION
andi : ...
andi : ...
andi : ...
andi : yes
rasya : ...........................................................
andi : nggak adil kan .....................................
rasya : ternyata ada jenis ketidakadilan seperti ini

oke ternyata percakapan via chat itu panjang juga ya kalo disalin. habis itu kita masih ngobrol, tapi pokoknya ya gitu deh obrolan kita. obrolan gaje (?) ala-ala chat gitu deh :") oke mari kita balik ke topik.

andi ini merasa dunia nggak adil karena dia masih dimaafkan (dan masih disukai) sama seseorang yang sudah dia sakiti sedemikian rupa. ('sedemikian rupa' ini rasya yang ngedramatisir oke.) ('sakiti' secara psikis kok.) oke seperti yang terbaca di atas, mari kita sebut orang yang andi suka ini namanya budi. (ambil lagi salah satu nama dari buku paket sd bahasa indonesia.) (sya bukannya andi-budi itu nama cowok semua, ya /...) (lol ini cowok-cewek kok, biar nggak ketahuan aja yang cowok siapa yang cewek siapa /?) (bisa ketebak ding)

ini jenis ketidakadilan yang aneh (soalnya kita sama-sama aneh /?) tapi pokoknya begitu. inilah 'tidak adil' versi andi ... yang menurutku memang ada ketidakadilan kayak gini. ketidakadilan yang sangaaaaaaaaaaaaaaatttt ... alay (........). alay, norak, malu-maluin, diriku gagal paham karena entah kenapa sang penasib (?) ketidakadilan ini masih sanggup-sanggupnya menghadapi rintangan kehidupan yang mengadang.

gitu sih.
andi ngerasa nggak adil mendapat kebaikan (???) kayak gitu. yak marilah kita mulai cerita tentang mereka berdua:

andi&budi

my only love sprung from my only hate; too early seen unknown and known too late.
(ngambil taglinenya romeo&juliet lol)

dua mimpi aneh, alay, nggak jelas, nggak usah dibaca. /panjangamatsya

Aku nggak tahu mau nulis apa di sini, pokoknya aku mau nulis aja. Sebenernya aku mau menuangkan apa yang ada di kepalaku tapi isi kepalaku tentang SBMPTN dan soal-soalnya dan segala cerita tentang itu yang GRAO dan HARUS DISINGKIRKAN, daaaan aku nggak mungkin menceritakan itu soalnya sebaiknya itu dilupakan saja. Dan semuanya jadi lebih susah kalau kita mau mengungkapkan apa aja SELAIN apa yang ada di pikiran kita.

Gitu deh.

Dua hari ini aku mimpi aneh bin alay ... walaupun semua mimpiku kebanyakan memang alay; dari ngelihat pembunuhan temen-temen sekelas sampai nyuri isi pensil mekanik di toko alat tulis.

Mimpi yang pertama.

Gara-gara hari itu seharusnya aku nganterin Lisa ke stasiun tapi batal dan berakhir dengan chattingan di LINE buat nemenin Lisa biar nggak kesepian, jadinya kebawa mimpi deh. Sempet kecewa sih karena nggak bisa nganterin tuh anak ke stasiun, dan mungkin gara-gara itu malemnya aku mimpi kalau aku NYUSULIN Lisa ke Malang naik motor.

Itu malem hari. Aku nyusurin jalan terus, dan itu posisinya aku nggak tahu tempatnya Lisa di mana lol. Lalu entah kenapa kealayan terjadi; aku punya feeling kalau rumahnya Lisa sudah tinggal bentar lagi, jadi aku markirin motor di tepi, lalu aku JALAN KAKI.

Ngapain coba pakai jalan kaki segala, selo memang. Tapi ya aku nggak punya kuasa bahkan untuk diriku sendiri, jadi ya gitulah, aku jalan kaki. Ngeng. Jadinya lama. Dan semakin malem. Dan aku sendirian. Lalu aku berhenti di rumah yang ada pagernya (emangnya rumahnya Lisa di Malang kayak gimana sih? XD) lalu keluarlah mbak-mbak yang aku baru pertama kali lihat.

Tapi aku posisinya tahu kalau itu Mbak Caca. Mbak Caca bukain aku pintu, lalu aku ketemu Lisa. Lalu aku masuk rumah itu dan aku diajak makan :') Kirain dikasih hidangan apaaaaa gitu kan, minimal nasi sama air putih atau gimana, tapi, yang bikin aneh, kita bertiga makan keju.

Entah kenapa kejunya banyak banget -_- Dan kenapa makan keju. Tapi saking banyaknya, aku bener-bener makan terus sampai lalu aku bangun -_-

Mimpi yang kedua.

Aku bisa bernapas di bawah kolam renang! XD Nggak, ini nggak jelas banget. Aku nggak tahu kenapa bisa aku mimpi ini malem itu, tapi yang jelas siangnya adalah les terakhirku sama temen-temen BAT (Bimbingan Antarteman). Yang masuk mimpiku cuma Grace sama Mas Difa soalnya mereka berdua yang dateng les waktu itu.

Mereka pakai baju yang sama persis kayak pas les. Dan waktu itu posisinya kita bertiga lagi berdiri, lalu tiba-tiba ada air dari bawah, yang makin naik, naik, naaaaikkkk sampai sebatas leher. Aku mulai panik, aku nutup mata, tapi pas airnya bener-bener melampaui kepala, aku baru sadar kalau aku masih bisa napas.

Aneh banget; tapi mimpi selalu benar.

Aku buka mata, dan sekelilingku bukan tempat parkir perpustakaan UGM, tapi dasar kolam renang. Nggak paham kok bisa begini, tapi memang di hari yang sama, aku sama keluarga besarku ngerayain ulang tahun tante di Banyumili, dan di sana saudara-saudaraku pada berenang. Mungkin gara-gara itu. Tapi ya aneh banget (2).

Yang wajar dari mimpi itu cuma suara kita; kita bertiga masih bisa napas dan buka mata, tapi kita nggak bisa ngomong. Kalau buka mulut dan coba bicara, yang ada malah keluar gelembung (?) kayak adegan di Harry Potter seri keempat. /masihhafalcoba

Trus tiba-tiba di depan kita bertiga ada kotak. Kita otewe nyamperin kotak itu, tapi tiba-tiba ada orang nggak dikenal yang nyerobot pengen buka kotak itu juga. Entah kenapa kotak itu jadi punya peranan penting di mimpi ini (...) bentuknya kayak harta karun gitulah.

Karena kita berempat rebutan (dan kenapa aku, Grace, sama Mas Difa JUGA saling rebutan?) akhirnya si orang itu tiba-tiba ngelempar dua granat (iya, NGELEMPAR, dan kecepatan lemparannya juga biasa aja kayak ngelempar di daratan, padahal waktu itu posisinya kita di dalam air dan pergerakan kita terbatas /?) yang mendarat tepat di tangan Grace sama Mas Difa.

DUER! Meledak; mereka berdua menghilang jadi gelembung-gelembung. /SYA

Alhasil tinggal aku sendirian. Sama orang itu, dia pakai baju hitam-hitam plus kacamata dan sepatu kaki bebek ala penyelam-penyelam.

Si orang itu juga ngelemparin granatnya dan mendarat di tanganku. Tapi secara di mimpi itu akulah tokoh utamanya (??) jadi granatnya nggak langsung meledak. Aku punya waktu buat ngelemparin balik ke orang itu, tapi aku mikir kalau nanti granatnya meledak, bisa jadi kotaknya ikutan hilang dong soanya si orang itu udah mulai masukin kunci ke lubang di kotak harta karun itu.

Tapi entah kenapa aku malah mikir, "Ya udahlah toh itu juga cuma kotak yang nggak tau isinya apa, meledak ya biarin deh," jadi aku ngelempar balik granatnya ke orang itu, dan orang itu noleh, lalu kaget, lalu dia nangkep granatnya dan kabur (????) aku nggak paham apa faedahnya dia kabur SAMBIL bawa granat aktif di tangan, tapi kayaknya dia berusaha menjauhkan granat itu dari kotak. (Tapi ya kenapa nggak dia lempar aja dan malah IKUT menjauh bareng granat itu? Yaudahlah mari kita lanjutkan sadjha.)

DUER! Granatnya meledak dan orang itu juga menghilang jadi gelembung-gelembung. As always, hampir sama kayak mimpiku yang pembunuhan temen-temen sekelas; cuma aku sendiri nih yang selamat. (Maksudnya apa.)

Aku buka deh kotak itu. Dan begitu aku buka tutupnya, tiba-tiba kotaknya itu gerak-gerak, lalu berubah-ubah bentuk, adegannya persis proses transformasi mobil ke robot di Transformers, dan jadilah robot.

Aku nggak paham kenapa robot.
Dan robotnya ada dua.

Tapi lalu aku bangun deh.

arthie.

ada kalanya arthie sudah puas dengan hanya duduk bersila di lantai kamar dan mendengarkan detikan jam. lama-kelamaan waktu jadi menakutkan baginya, dan semakin ia terus berpikir bahwa apa yang ia perjuangkan sekarang demi masa depan, ada sisi dirinya yang menyeletuk barangkali masa depan bukan segalanya pula di dunia.

lantas, apa?

arthie merasa sekarang ia berada di titik antara rasa takut dan berani; hati-hati dan seenaknya; was-was dan terserah saja. sebentar lagi tanggal enam belas dan arthie sebenarnya tahu apa yang terjadi dengannya sekarang; ia hanya terlalu panik.

panik.
p a n i k.

waktu terus bergerak maju dan mungkin itulah tujuan eksistensi waktu sebenarnya; untuk berjalan dan begitu terus, untuk menunjukkan pada setiap manusia bahwa ada juga hal yang kita tak punya kuasa apa-apa untuk menjadikannya mundur atau berhenti.

kepanikan membuatnya merasa tidak benar-benar siap. ia tahu ia masih bisa tertawa bersama teman-temannya tapi ia ... ia tertawa dalam ketidakpastian. usai bimbingan belajar ia akan jalan beriringan bersama teman-temannya ke tempat parkir motor, masih terus berbincang tentang betapa ironisnya hal lucu yang tadi terjadi di kelas, atau sekadar gembar-gembor mengumumkan setelah sampai rumah akan langsung tidur tanpa buka buku lagi (yang tak tahu deh jujur atau tidak).

keluar dari gerbang bimbingan belajar arthie akan mengambil jalan ke kanan; beberapa temannya ada yang mengambil sisi yang lain. ada teman yang masih menempelinya di belakang dan kadang klakson mereka masih bersahut-sahutan seolah mereka yang punya jalan saja.

tapi begitu sampai di perempatan pertama, hanya arthie yang belok kiri, sementara teman-temannya yang tadi searah berhenti di perempatan. ia akan membunyikan klakson terakhir yang dibalas dengan teriakan, "awas kalau masih belajar di rumah!" dan ia akan menoleh sekilas untuk tertawa.

tapi ditolehkannya kepala kembali, menghadap depan, dan ekspresinya berubah, seperti kebanyakan orang yang bisa mengaktifkan mode otomatis apabila tiba-tiba menjadi sendiri.

apa tawanya ini bisa dipertanggungjawabkan?
sudah berapa detikan yang terbuang sekarang?

arthie menarik napas. berdiri. ia memandangi meja yang penuh terisi buku-buku terbentang hingga alas mejanya saja tidak terlihat.

mungkin ia sebaiknya belajar saja sekarang.
lagi.

a sampai z tentang prom night.

Masih agak lama sebenarnya, cuma sebentar lagi sekolahku ada prom. Iya, pesta dalam rangka perpisahan itu. Bleepy tahu kalau aku pengin banget ikut, sebenarnya. Bleepy tahu kalau aku tahu betapa pentingnya itu buatku. Soalnya, serius, deh. Ini belum ada apa-apanya daripada libur panjang dalam rangka menunggu pengumuman tes masuk universitas, tapi sekarang aku kangen berat sama sekolah. Kangen sama temen-temen. Tapi pada les, pada belajar, pada reuni sama temen-temen yang lain ... dan sekadar saling komentar di foto Instagram, "Rindu berat!" itu nggak merubah apa pun.

Aku kangeeeen banget. 

Dan aku pengin banget ikut prom karena semahal apa pun acaranya, itu bakal tetap setimpal sama kenangannya. Kalau aku bisa dateng, kapan tepatnya jam buka gerbang prom, aku bakal datang sebelumnya--berlawanan banget sama aku yang biasa telat kalau berangkat sekolah. Aku mau lihat satu-satu temen-temenku dateng. Aku mau ketemu. Aku kangen ada di sekeliling temen-temenku yang semuanya saling bicara satu sama lain, dan aku mengamati.

Karena bakal canggung jadinya, kalau sebenarnya aku kangen sama temen-temen di sekolah yang bahkan ngobrol pun jarang, tapi saking kangennya aku nge-chat mereka, "Ayo, kita ketemuan!" ... itu kan, aneh? Mengerikan malah, ketika dapat pesan dari orang yang nggak begitu kita kenal di sekolah, tapi ternyata orang itu tiba-tiba nge-chat di suatu subuh yang cerah, ngajak ketemuan sambil ngaku kalau dia kangen. 

Ada nggak terhitung orang, lebih dari jumlah tangan dan jumlah kaki, dan mereka kukangenin bukan untuk lalu kita makan, main, atau ngobrol. Tapi karena aku seneng lihat mereka ketawa, atau mereka jalan menggerombol, atau mereka saling teriak keras-keras, atau hanya mententeng di luar kelas ... dan aku nggak mungkin kan, bikin multichat lalu bilang kalau aku pengen tahu kapan mereka ada janjian ketemu, biar lalu aku bisa ikut dateng? Lol. Creepy banget, Sya.

Mengamati mereka; itu yang paling kukangenin. Nggak ada orang yang spesifik, aku nggak kangen pada satu-dua nama yang jelas. Karena kalau kita kangen sama orang yang kita tahu siapa, kita bisa membayar rasa kangen kita dengan janjian ketemu. Atau chat. Tapi kalau jenis kangen yang ini? Kangen tarik napas dalam-dalam sebelum buka pintu kelas yang sudah ketutup karena aku telat. Kangen sama mereka yang gerombol ngehalangin jalan di koridor dan kadang bikin aku milih buat batal lewat, atau malah ambil jalan mutar. Kangen sama mereka yang di kantin, mereka yang di kajur, mereka yang di fotokopian, mereka yang di BK ...

Agak aneh memang. Tapi iya, aku kangen sekolah. Ngeng.

Oke, ini bukan kangen yang pengen aku ulang lagi. Aku tetep mau lulus, lho, ya. Libur bikin aku nggak ada ide nulis; dan cerpen-cerpen yang kubuat akhir-akhir ini benar-benar garing dan nggak ada menarik-menariknya;
  1. Di tengah-tengah ujian, ada pengumuman ralat soal yang nggak penting; 2 halaman. (Lol.)
  2. Dua sahabat masuk sekolah ketika libur panjang; 2 halaman.
  3. Dua orang baru bertemu dan mengobrol tentang pengaplikasian fotolistrik dalam kehidupan dan kaitannya dengan motivasi; 6 halaman. (Iya, ini Fisika. Maaf, saking stresnya diri ini waktu itu.)
  4. Sahabat yang dijahili sahabat-sahabatnya gara-gara April Mop; 6 halaman. 
  5. Dua orang berpapasan di koridor sekolah pada jam istirahat; 1 halaman.
  6. Sahabat yang rindu dengan bekas sahabatnya; 1 halaman. (Semi-puisi, sih, soalnya suku kata di akhir kalimatnya berima.)
  7. Orang yang ketumpahan air panas di dapur; 6 halaman. (Ide nggak jelas--yang sampai sekarang masih nggak paham kenapa bisa jadi sepanjang itu cerpennya--yang mendadak kepikiran di tengah-tengah masak.)
  8. Perspektif seorang sahabat yang berperan sebagai pengamat, terjebak di tengah interaksi ribut yang nggak jelas bersama sahabat-sahabatnya. Dia diam, tapi dia menganggap ini berharga, dan betapa penginnya dia kalau mereka bisa terus bersahabat selamanya; 10 halaman. (Iya, aku main perasaan di sini ngeng. Nggak heran jadi beleber satu dasawarsa jumlah halamannya.)
Iya, ada delapan. Iya, aku nggak pernah bikin delapan cerpen nyaris berturut-turut kayak gini. Tapi, cerpenku bisa ditebak. Semuanya aku nulis didasarkan dengan satu kata; kangen. Kecuali yang ketumpahan air panas di dapur itu sih, lol, mungkin kalau aku nggak membayar rasa kangenku ini, lama-lama cerpenku bakal bertransformasi di mana seting waktunya adalah saat libur panjang akhir semester.

#

Balik ke topik tentang prom. 

Dan tentang aku yang nggak ikut. Mau tahu alasannya? Aku pembukaan dulu, ya. Tapi sebelum ini aku mau bilang; kemungkinan besar ini opini yang nggak populer. #siapsiapdigiling

Aku nggak pernah menganggap prom adalah acara yang nggak-tahu-faedahnya-apa. 

Karena aku tahu faedahnya. Kita prom untuk seneng-seneng, untuk mengenang, dan sekalipun ini hanya satu malam yang bakal tergantikan dengan malam-malam lain, yang penting itu kenangannya. Kalau mereka-mereka pikir prom itu adalah malam yang bakal dilupakan; abadikan. Aplot banyak di Instagram. Banjirin tuh IG Story. Buat mereka yang nggak ikut dengan alasan kayak gitu jadi males buka Instagram karena isinya prom semua. 

Oke, prom mahal. Tapi, kalau alasan kalian karena itu, aku bakal menganggapnya sebagai dalih. Itu bukan alasan. Itu cari-cari alasan. Kalau kalian sebenernya pengen banget, kalian nggak bakal bilang itu. Kalian bakal nganggap itu setimpal. Dan sebenernya, panitia-panitia yang mengurusi prom itu mikirin kemungkinan ada yang nggak bisa karena mahal kok. Kalian tinggal bilang; dan mereka pasti bantu. Sesederhana itu. Kalau kalian dasarnya emang pengin ikut lho.

Ini kenapa Rasya jadi marah-marah sih.

Aku soalnya pengin ikut sejak ide itu dicetuskan. Sebelum aku tahu tempatnya di mana, sebelum aku tahu tanggalnya kapan, sebelum aku tahu harganya berapa, aku sudah pengin ikut. Aku membujuk teman-temanku yang sudah ada tanda-tanda bakal kasih lampu merah soal ini lol dan aku sosialisasi dari dalam. 

Ada yang nggak ikut prom karena teman-temannya nggak ikut. Aku gagal paham soal kalimat ini, karena 'teman-temannya' itu juga mengatakan hal yang sama. Jadi mereka, segerombol, pakai alasan karena teman-teman mereka nggak ikut? Rasanya pengin banget aku telusurin; sebenernya siapa yang mulai? Karena menurutku itu aneh dan alasannya nggak bisa dipertanggungjawabkan. 

Kayaknya buang-buang waktu kalau aku serius tentang ini, cuma rasanya sayang kalau generasi sekarang jadi semakin kreatif menyalahgunakan dalih sebagai alasan. Kalian nggak ikut karena teman-teman kalian nggak ikut, padahal 'teman-teman kalian' itu kalian-kalian sendiri, 'kan? I'm sorry, I don't want to hear your lame excuses.

Kalian pikir, panitianya sebodoh itu sampai nggak mikir kalau sebenarnya kalian emang dari awal nggak mau? Aku menjunjung tinggi prinsip diri sendiri dan prinsip orang tua, jadi kalau kalian nggak ikut prom karena masalah prinsip atau nggak dibolehin orang tua, itu memang nggak bisa ditolong lagi. Tapi buat yang berdalih; aku saranin mending kalian bilang aja. Nggak usah malu sama prinsip kalau kalian memang nggak mau dan sejak awal nggak tertarik sama prom. 

Kenapa aku bilang ini opini yang nggak populer? Yah, karena pasti banyak yang nggak setuju, dan aku juga nggak bakal berpihak ke mana pun karena toh, aku juga nggak ikut prom. Yang nggak ikut prom dengan dalih bakal nggak suka dengan tulisanku karena ini tepat sasaran, yang ikut prom bakal nggak suka karena ... oke, aku nulis ini dan aku sendiri nggak ikut prom?

Lol. 

Oke, Rasya, ayo. Ngomong. Kamu udah marah-marah di blogmu sendiri, dan di sini kita semua mau dengar apa alasanmu nggak ikut prom.

.

.

.

Kalau ditanya kenapa aku nggak ikut prom, aku bakal bilang kalau ini masalah prinsip. Tapi kalau ditanya prinsip bagian yang mana ... aku pelit buat berbagi sih. *minta digiling* Ranahnya personal soalnya. Buat kalian yang menganggap prinsip itu sepele; oke, setelah ini kalian bakal lihat betapa memang sepele prinsip itu sebenarnya.

Prinsip itu adalah pokok dasar. Kita punya prinsip, artinya kita punya dasar; kita tahu kenapa kita harus melakukan suatu tindakan, kenapa kita harus merenungkan suatu pemikiran, kenapa kita harus mengutarakan suatu perkataan, itu karena kita punya prinsip. Prinsip memang sepenting itu, sekaligus sesederhana itu. Apa yang bikin sederhana? Adalah apabila ada hal yang bertetangan sama prinsip kita, nggak peduli sekecil apa pun itu, kita akan langsung kasih lampu merah. Tanpa ganggu gugat. Tanpa pikir dua kali. Enggak. Titik.

Terakhir kali aku kasih lampu hijau ke prom itu pada hari di mana angkatanku ngadain sosialisasi prom. Pengumumannya di grup chat angkatan, dan aku dateng--sambil nyeret paksa temenku biar kalau ada yang masih nggak sreg, dia bisa tanya di situ, lol. Sosialisasinya di aula. Aku udah salut banget sama panitianya. Mereka jawab pertanyaan, mereka menanggapi masukan, mereka menerima kritik. Mereka menyatakan terang-terangan kalau mereka mau bantu semisal ada peminat yang nggak sanggup bayar biaya prom. 

Setelah itu, sosialisasi ditutup; kita balik. Yey.

Menurutku, sosialisasi prom adalah momen di mana kita bener-bener mantap mau lanjut atau berhenti, karena di sini panitianya membuka kesempatan sebesar-besarnya untuk kita bertanya apa pun. Aku ke luar dari aula, aku masih seneng sama diriku sendiri karena prinsipku masih terus jalan; di sana, kita bakal senang-senang.

Aku belum bener-bener pulang, aku masih di sekitaran aula waktu itu, karena belum semua anak ke luar dari aula juga. Aku berhenti di tengah-tengah jalan, tapi aku di tepi, biar nggak menghalangi orang lewat. Ketika saat itu datang, ada mereka. Yang bakal kukangenin karena kehebohannya, bagaimana mereka mendominasi peran, bagaimana mereka mencuri lampu sorot ... nah, mereka ini salah satu dari banyak mereka-mereka yang punya kemampuan seperti itu.

Mereka terdiri dari beberapa orang. Entah mau ke mana. Koridor begitu sempit untuk jalan bergerombol, jadi mereka melewatiku satu per satu. Aku kepikiran untuk menyapa, hanya saja aku kalah cepat. Seseorang yang berada di paling depan menyapa lebih dulu. 

Tapi, yang dia katakan itu bukan sapaan. 

Itu kalimat. 

Hanya satu kalimat. Yang dia katakan sambil lalu. Yang dia katakan tanpa pikir. Dia mengatakannya sambil menepuk pundakku lalu pergi begitu saja. Tapi kalimat itu berlaku untukku, dan kupikir hanya aku yang tersinggung dengan itu. Karena dia bisa saja mengatakan kalimat yang sama pada orang lain dan justru mendapat cengiran di muka sebagai balasan. Bukan reaksi membeku yang masih bertahan setelah semua orang yang tergabung dalam 'mereka' itu habis melewatiku semuanya.

Aku nggak datang prom karena kalimat itu.

#

Tebak aja kira-kira itu kalimat apa. Atau kira-kira siapa yang bilang. Tapi sayangnya aku pelit berbagi itu tadi ehe jadi jawabannya nggak akan kukasih. Aku masih menyayangkan sampai sekarang sih, betapa bahayanya menyeletuk sesuatu tanpa mikir kalau kalimat itu berbalik. Walaupun orangnya juga pasti sudah nggak ingat juga, tapi justru di situ kan, yang bikin bahaya? Karena lawan bicaranya nggak akan pernah lupa.

Sudah yaaaa.

cuma tentang takut.

Hmm ... ada banyak yang mau aku omongin, sebenernya. 

Tapi nggak tahu kenapa begitu aku sudah di depan netbook, masuk akun blog, dan mulai klik postingan baru ... aku selalu nggak tahu apa yang mau aku tulis. Kenapa, ya? Soalnya, rasanya percuma gitu, sih, menurutku. Aku ngerasa kalau begitu aku pencet 'postingan baru', rasanya Bleepy udah tahu apa yang mau aku omongin dan dia udah dengerin bahkan sebelum aku mulai mengetikkan satu pun huruf di sini. Aku ngeposting sesuatu di sini untuk kuomongin ke Bleepy, dan kalau Bleepy sudah tahu; buat apa aku nulis lagi?

Oke, mungkin memang aku perlu nulis lagi, ya. Tapi daripada aku mengungkapkan apa yang pengen aku ungkapkan, aku lebih suka menceritakannya lewat perspektifnya Bleepy. Bukan perspektif juga, sih, gimana ya jelasinnya? Lebih ke ... aku kayak menceritakan ulang lewat Bleepy. Mungkin kalian ('kalian' siapa, Sya--blog ini sebenarnya punya pembaca nggak sih, lol) bisa ngerti begitu aku mulai.

Bleepy tahu kalau aku takut. 

Atau aku kadang ngerasa kalau Bleepy lebih tahu betapa takutnya aku, dibandingkan aku sendiri; aku, secara sederhana, takut. Takut itu perasaan yang lumrah, ya, tapi ini bukan perasaan takut kalau kita lagi sendirian di rumah dan tiba-tiba ada suara gedar-gedor pintu. Atau takut kita dapat nomor undian berapa dalam suatu presentasi. Bukan takut akan kemungkinan terjadi hal yang menakutkan, atau takut dengan suatu hal yang akan terjadi sementara kita nggak punya kuasa apa-apa ... tapi takut dengan suatu keadaan yang masih jauh di sana, di mana kita punya kuasa tapi kuasa itu juga menakutkan kita. Masih jauh. Jauh, jauh, jauh. Jauuuuuuuuh.

Namanya masa depan.

Aku berdiri, di depanku ada tiga cabang jalan terbentang. Tapi aku belum mengambil langkah. Aku menoleh ke jalan pertama, dan aku nggak punya klu apa pun tentang apa yang ada di ujung sana. Begitu juga dengan jalan yang kedua serta yang ketiga. Aku hanya bisa melihat tiga jalan terbentang yang siap untuk menyambutku. Hanya berdasarkan insting, aku akan mengambil langkah--entah ke kiri, lurus, atau ke kanan--tapi begitu aku mulai satu langkah lebih di depan dibandingkan aku yang sebelumnya ...

... dua jalan lainnya langsung amblas. Jejak yang tertinggal di belakangku berubah menjadi jurang. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri, semuanya jurang. Nggak ada yang perlu diubah; ada opsi yang sudah kuambil dan itu artinya nggak ada jalan untuk kembali. Aku sudah telanjur memilih jalan dan satu-satunya yang harus kulakukan kemudian adalah menyusurinya.

#

Oke, ganti suasananya. Bleepy tahu kalau aku seharusnya menulis essay yang garis matinya besok, dan nyatanya aku malah menulis blog di sini. Haha.

ke rumahnya oca!

Halo. Ini aku lagi di rumahnya Oca. Sekarang jam 16:47 WIB. Oca lagi tidur dan dia minta aku ngebangunin dia dua puluh menit kemudian, jadi di sinilah aku, numpang WiFi dan numpang ngetik di netbook orang, asal aja jadiin momen ini sebagai kesempatan untuk nge-update blog :")) Jadi ... aku mau cerita apa ya. 

Sebenernya kemarin aku sempet sedih gara-gara aku kehilangan satu ide nulis yang belum sempet kucatet (...) Udah sering, sih, aku ngalamin. Ide-ide yang datang dan pergi gara-gara cuma aku pertahankan di kepala. Cuma kalau kemarin tuh rasanya sayaaaang banget aku bisa lupa. Soalnya jarang aku bisa dapet ide nulis cerita genrenya romance. Biasanya kan dark terus mah kalau aku bikin cerpen. (...) Kemarin tuh aku dapet ide romens yang sangaaaat romens dan klise lah =)) SAYANGNYA AKU LUPA 8""""")) Sedih banget, aku mikir keras sampe kepalaku kutenggelamin ke bantal, tapi aku nggak inget-inget juga. Grao. Ide jangan disimpen di otak aja, Kawan.

Jadi, kenapa aku main ke rumah Oca?

Tadi, kelasku yang harusnya pelajaran Fisika diganti yey =))) Diganti sama Kimia (SAMA AJA) buat sekalian latihan praktikum untuk ujian praktik yang mulai Senin depan. Hari ini sudah pertemuan Kimia terakhir huhuhu betapa cepatnya waktu berlalu QAQ Jadi Kimia ini ada enam praktikum yang harus kita hafalin dan kita semua sudah melupakannya (.....)

Alhasil deh aku sama Oca berniat untuk merampungkan semua hari ini. Kita nulis apa alat bahan dan cara kerja semua praktikum Kimia sekalian nyicil juga. Soalnya masih banyak ujian-ujian lain yang kita hafalkan QvQ Kayak Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia ... belum lagi praktikum Fisika sama Biologi. Makanya aku main ke rumah Oca dan nanti aku pulang jam lima. Bentar lagi jam lima sih ini ehehe.

Oh habis ini aku ada rapat SUNGKEM lagi, yey! XD Di selatannya SMM jam 18:20 WIB.

Sudah yaaaaaaaa.

Rasya Swarnasta. Diberdayakan oleh Blogger.