limited edition

Ternyata Bukan Seratus Persen Limited Edition

Selasa, Januari 09, 2018

Edisi langka ini, Rasya lagi galau. /nggak gitu

Aku masih inget postingan blog super bodohku tentang niatku untuk nggak kuliah. Yang aku sangat naif dan berpikir kalau mungkin akan lebih baik kalau aku nggak kuliah dan justru belajar jahit atau belajar masak atau melakukan kegiatan sosial atau nulis nulis nulis. Baru kemarin aku baca ulang dan aku berpikir kalau itu barangkali adalah salah satu momen ternaifku ... tapi karena siang tadi aku lagi menyimpulkan bahwa aku-aku yang dulu membuat aku bisa menjadi aku yang sekarang, aku jadi nggak berpikir untuk menghapusnya. Jadi, iya, postingannya masih ada di sini, bisa dicari.

Sebenernya aku nggak berpikir untuk ngeposting ini. Mungkin aku bisa minta Bleepy, atau siapa pun selain Bleepy yang punya akses ke blog ini (siapa?), kalau postingan ini hanyalah bukti kenaifanku yang lain dan lebih baik dihapus aja; tapi itu kalau postingan ini benar-benar akan berakhir demikian. Tapi, tapi, tapi, mungkin memang ini fase yang harus aku lewati, mungkin aku sekarang perlu untuk senaif ini lagi atas nama diriku di masa depan.

Hah. Aku habis baca ulang semua artikel INFJ yang aku suka dan, entahlah aku akan nyesel bilang ini atau enggak--mungkin ini fase kenaifanku juga, oke, semua aja kunamai fase kenaifan--tapi memang INFJ itu begitu ya; atau setidaknya, ini poin INFJ yang bisa kupenuhi, kalau, gimana bilangnya ya, kami nggak bener-bener bisa sepenuhnya hidup di kehidupan ini. Ironis, ya, nggak hidup di kehidupan yang jelas-jelas merupakan kesempatan untuk hidup.

Seperti yang sudah bisa diketahui, tiga paragraf di atas hanyalah basa-basi. Bukan basa-basi, sih, kalau dibilang, karena sebenarnya aku cuma mencoba membuat kalian (siapa? /2) terbiasa sama gaya bahasaku yang ini ... agak beda sama postingan-postinganku yang biasa, mungkin ini gaya bahasa yang kupakai kalau aku lagi pakai label edisi langka ini. (Atau sebenarnya, ini gaya bahasa yang kupakai kalau aku lagi nulis dan lagi senang sama apa yang aku tulis.)

Ada dua cerita yang kubaca, salah satunya adalah cerita yang direkomendasikan, dan satunya lagi adalah tulisan yang aku temukan sendiri; aku kebetulan lewat, dan aku kebetulan lihat, dan akhirnya aku baca. Yang satu ditulis oleh penulis yang aku nggak kenal, dia orang Rusia, aku baru pertama kali baca karyanya, dan aku baca tulisannya dalam bahasa Inggris. Yang kedua adalah orang yang aku kenal. Dan aku pernah baca satu karya dia sebelumnya.

Dua-duanya hampir sama: si tokoh mati bahagia karena cinta.

CERITA PERTAMA

Si tokoh utama, orang Inggris, sedang ada di dalam pesawat. Mesinnya rusak, dan kru pesawat sedang mencoba untuk memperbaikinya, tapi ada informasi bahwa, jaga-jaga saja, kemungkinan terburuknya, dalam lima belas menit, pesawat itu akan jatuh, sehingga semua penumpang disarankan untuk menghubungi orang yang mereka cintai untuk setidaknya mengucapkan kata-kata terakhir sebelum mati. Dan si tokoh utama ini nggak mempunyai orang yang dia cintai--karena bahkan faktanya, dia bisa ada di dalam pesawat itu karena keberadaannya nggak diinginkan sejak awal.

Mau menelepon siapa, dia nggak tahu. Dan awalnya dia berpikir, mungkin lebih baik begini, mungkin lebih baik dia nggak perlu menelepon siapa-siapa, karena nggak akan ada yang merindukan dia dan dia juga nggak merindukan siapa pun. Tapi saat dia berpikir begitu, seorang nenek yang duduk di sebelahnya menyarankan untuk tetap menelepon, siapa pun. Asal menelepon.

Akhirnya si tokoh utama itu asal memencet nomor. Sungguhan acak.

Dan panggilan itu tersambung ke ponsel milik seorang Italia; yang awalnya berbicara pakai bahasa Italia, kemudian mengubahnya menjadi bahasa Inggris begitu tahu kalau lawan bicaranya nggak mengerti bahasa yang dia pakai. Orang Italia ini sempet bingung, jelas; orang ini siapa, ada keperluan apa, siapanya ... orang ini siapa, pokoknya?

Orang Italia itu hampir berpikir untuk menutup telepon sampai si tokoh utama, orang Inggris ini, bilang kalau dia hanyalah orang yang memencet nomor secara acak, karena dia perlu menelepon seseorang, siapa pun, untuk menjadi teman terakhirnya karena dia sedang berada di dalam pesawat yang sebentar lagi akan jatuh.

Sial betul. Ketika akhirnya orang Italia ini mau memenuhi permintaannya, mereka langsung berdebat siapa mau membicarakan siapa; si orang Italia menyarankan bahwa lebih baik orang Inggris ini yang menceritakan apa saja soal dirinya, sementara orang Inggris itu menolak, karena, untuk apa dia menceritakan soal dirinya, toh sebentar lagi dia akan mati, dan tidak ada gunanya mengingat orang yang sudah mati.

Belum apa-apa sudah melankolis, dan orang Inggris itu berpikir kalau barangkali ini tidak akan bekerja, barangkali memang sudah takdirnya untuk mati tanpa mengajak bicara siapa-siapa, jadi ia mematikan teleponnya. Di ujung sana, orang Italia membatu dan nggak tahu harus memikirkan apa, sampai akhirnya dia memutuskan untuk menelepon balik. Begitu telepon itu diangkat, orang Italia ini langsung marah--dia bilang kalau dia peduli, dia di sini, dan dia ingin mendengarkan cerita tentang orang Inggris ini karena dia memang ingin dengar.

Akhirnya mereka saling cerita. Sampai ada kabar dari pilot kalau semua mesinnya rusak, tidak ada harapan, dan mereka harus memutuskan sambungan. Orang Inggris itu mengucapkan beberapa kata penutup, bilang terima kasih, dan juga bilang kalau dia suka padanya, dan semoga orang Italia ini bisa hidup bahagia. Kemudian telepon ditutup, dan dia memejamkan mata sementara pesawat itu jatuh dan kemudian dia bukan lagi siapa-siapa, bukan lagi apa pun.

Tapi dia meninggal dengan bahagia, karena cinta itu.

CERITA KEDUA

Cerita ini agak panjang, sebenarnya. Tentang penyakit namanya batuk bunga; itu penyakit fiksi yang bisa menyerang seseorang yang sedang jatuh cinta. Penyakit itu berarti ada bunga yang tumbuh di paru-parunya dan membuat orang itu akan batuk bunga; memuntahkan kelopak bunga. Awalnya barangkali kelopaknya hanya sejumlah dua, atau tiga, tapi kemudian bisa semakin lama-semakin banyak, ditambah darah juga. Lama-kelamaan, bunga di paru-paru akan terus tumbuh sampai penuh sampai bikin sesak dan orang itu akan mati kesulitan bernapas karena penuh bunga di paru-parunya.

Cara menyembuhkan penyakit ini hanya ada dua. Yang pertama, operasi; tapi itu artinya orang itu akan kehilangan perasaan apa pun pada orang yang menjadi alasannya terkena penyakit batuk bunga ini. Dan yang kedua; adalah apabila perasaan itu berbalas.

Di cerita ini, seseorang terkena penyakit batuk bunga. Dan dia tahu dia jatuh cinta pada siapa: seseorang yang nggak akan mungkin mencintainya balik, sehingga dia nggak berpikir untuk menyatakan perasaan juga, karena toh, nggak akan berbalas, kan. Awalnya dia mencoba untuk terus menyembunyikan penyakit batuk bunganya, sampai lalu karena semakin lama semakin sering, dia jadi tidak bisa, dan ada satu momen ketika dia batuk bunga persis di depan orang yang dia suka.

Tapi dia tetap nggak bilang itu siapa. Orang yang dia suka itu justru marah-marah, bilang kalau seharusnya dia operasi saja, kalau perasaannya tidak berbalas lebih baik dibunuh saja di meja operasi, toh itu juga cuma cinta--dan jelas saja dia menolak mati-matian untuk operasi. Sampai lalu makin parah karena sudah lewat beberapa bulan, sampai lalu akhirnya ketahuan.

Lalu orang yang dia suka itu mencoba untuk membalas perasaannya, tapi jelas, nggak bisa semudah itu. Dia masih memaksa untuk lebih baik operasi, tapi usulan itu benar-benar langsung ditolak. Setelah setahun lebih beberapa bulan, akhirnya dia meninggal.

Tapi dia meninggalkan surat, semacam surat wasiat, yang di situ tertulis kalau dia nggak menyesal. Nggak menyesal untuk nggak operasi, karena kalau dia disuruh untuk memilih cara dia mati pun tidak ada opsi lain yang lebih baik daripada ini. Karena itulah dia memilih untuk terus mempertahankan perasaan itu, dan di akhir, dia bilang kalau dia akan masih terus cinta, selamanya, dia dan seluruh reinkarnasinya.

#

Lagi, kubilang, dua cerita itu hampir sama. Sama-sama mati, sama-sama bahagia, sama-sama karena cinta juga.

Dan aku lagi galau karena dua cerita itu. Bacanya bikin aku tercenung, atau entah, mungkin sebenarnya rasa galau dan tercenung ini sudah ada sejak lama, cuma aku butuh baca tulisan yang memicu aja untuk akhirnya bisa merasa demikian. Biasanya juga begitu kan, di mana-mana, barangkali kecuali semesta, nggak ada yang benar-benar langsung ada ... pelan, pelan, pelanpelanpelan, dan yang bikin semuanya jadi tiba-tiba itu karena kita terlambat sadar.

Terus aku mau bilang apa, sebenarnya?
Kenapa aku selalu sulit untuk menyampaikan apa yang pengin aku sampaikan?

Beberapa hari yang lalu aku habis menerjemahkan 62 pertanyaan dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia. Itu semacam tes untuk memastikan sebenarnya pandangan kita terhadap politik itu berdiri di mana tepatnya, dan pertanyaannya susah dan jelimet, dan akhirnya aku memutuskan untuk menerjemahkan semuanya, 62 pertanyaan itu, siapa tahu ada yang kesulitan juga dan butuh terjemahan.

Aku lupa bilang terima kasih sama kalian yang pada akhirnya mau ngisi. Makasih ya. Sudah kemalaman kalau aku bilang sekarang, mungkin besok ... akhir-akhir ini pembicaraan kita lebih sering daripada sebelum-sebelumnya, mungkin karena kita punya proyek tanggal lima belas dan sebentar lagi semakin dekat tenggat waktunya.

Terus aku jadi inget artikel INFJ yang bahas soal ini, soal menerima tawaran pertolongan. Tapi kupikir ini nggak sepenuhnya berarti sakit hati kalau tawaran pertolongan itu nggak diterima, karena, seperti pelajaran IPS SD, manusia itu makhluk sosial yang nggak bisa hidup tanpa manusia juga, dan kita perlu merasakan gimana rasanya melihat keadaan dengan memakai sepatu orang lain.

Oke. Akhirnya, aku nggak bisa menjelaskan bagian mana yang membuat aku galau dari dua cerita itu. Bukan galau yang seperti apa yang dipikirkan; entah juga, sih, ya, aku kan bukan cenayang yang tahu apa tebakan kalian (siapa? /3), tapi mungkin aku tipe kedua dari kategori ada manusia yang lebih suka langsung cerita dan ada yang perlu ditanya, jadi, ya, begitulah, ya.

Aku harus ganti judulnya dari "Limited Edition" ke "Ternyata Bukan Seratus Persen Limited Edition".

fanfiction

Flashback Munculnya Gejala Keanehan (?) Rasya /penting

Selasa, Januari 09, 2018

Jadi, sebenernya Rasya pengin ngomong apa sih.

Entah kenapa semakin lama aku mikirin itu aku jadi ngerasa kalau bagian pas aku basa-basi, yang aku justru ngomongin soal INFJ dan tes-tes yang aku coba, yang berusaha untuk menggoyahkan apakah aku INFJ sungguhan atau bukan (?), itu sebenernya lebih menarik daripada apa yang pengin aku omongin. Kenapa basa-basi lebih menarik daripada topik intinya ... oke, entah, mungkin berlaku kalau ngomong sama Rasya aja.

Jadi aku kemarin, tanggal 8 Januari aku agak sedih gara-gara aku nggak ada ide untuk nulis, padahal mulai tanggal 4 aku beneran bisa maraton bikin tulisan sehari satu. Mungkin gara-gara aku terlalu baper nyimak Perang Saudara Amerika dan pas tanggal 7 aku bikin tulisan tentang itu, jadinya masih sangat membekas di kepala dan aku belom nulis apa-apa lagi.

Sampai lalu tanggal 9 Januari, alias hari ini, aku habis baca tulisannya Nana tentang Stalingrad dan aku jadi dapat inspirasi untuk bikin puisi abal-abal tentang bintang di neraka (?) dan akhirnya jadilah puisi itu. Terus karena aku beranggapan kalau yang penting walaupun itu puisi aku tetep aja udah selesai satu tulisan, jadi aku seharian ini bisa santai-santai (?) dan ngelakuin hal nirfaedah kayak nulis blog ini ... atau coba tes-tes kayak tadi.

Oke. Oke basa-basinya kepanjangan oke. Berhenti. Mari kita langsung ke topik utamanya, Sya.

Jadi, pas tanggal 8 Januari, pas aku sedih karena nggak ada ide dan akhirnya nggak menghasilkan tulisan apa pun itu, aku akhirnya baca cerpen yang aku buat tanggal 18 Januari 2012. Wow. Wow, 2012. Aku baca dan itu sangat buruk!!! 8"DDDD Ya ampun. Ya ampun. Aku bikin itu waktu aku kelas 1 SMP dan ... ya ampun. Itu temanya persahabatan yang sangat ... apa? Aku nggak bisa menjelaskan dengan kata-kata? Pokoknya mereka berantem dan debat dan damai dan tamat??? 

Hampir enam tahun berlalu sih, besok 18 Januari 2018 pas cerpenku yang itu berusia enam tahun .... Aku sangat malu baca itu dan, kalau misalnya itu adalah fase yang harus aku lewati, aku sangat bersyukur fase itu sudah terlewati selama enam tahun. Ada beberapa cerpen yang masih tersimpan waktu itu dan aku bahkan nggak baca semuanya, aku cuma baca tiga cerpen dan ... oke. Hai diriku enam tahun lalu yang membuat cerpen-cerpen itu, Rasya di sini mengucapkan terima kasih atas apa yang telah kaulakukan karena dengan pengorbanan kekuatan magismu, Rasya bisa menjadi Rasya yang sekarang. :")))

Kita udah nggak masuk bagian basa-basi, tapi yang tadi aku ceritain itu baru bagian awalnya.

Aku mau bilang kalau Rasya di masa lalu sudah melewati sangat banyak hal ....... dalam bidang imajinasi. Dulu waktu aku masih kecil, aku suka main games Hamsterball.

Source ]
Aku sangat ahli main begini waktu zaman aku kecil dulu dan bahkan bisa tamat, wow. Rintangan yang aku suka namanya Sky Race dan aku nggak tahu kenapa aku suka padahal itu rintangan yang sebenernya sangat susah. Tapi aku malah bisa nyetak rekor cepat. XD

[ Source ]
Yap, rintangan yang jalannya sangat kecil, dan itu arenanya di langit, jadi kalau kita jatuh, kita bakal jatuh dengan sangat lama ... dan waktunya bakal terbuang banyak. Dan aku suka banget di sini sampai kalau aku main Sky Race ini aku jarang banget jatuh. Bahkan aku sering nggak jatuh sama sekali. 

Jadi APA yang pengin Rasya omongin SEBENERNYA?

Aku capek sendiri lama-lama sama diriku yang coba ngelama-lamain cerita. Oke. Jadi, waktu aku kecil dan aku suka main Hamsterball itu, aku punya imajinasi yang aku tuangkan ke dalam cerpen kalau Hamsterball itu sebenernya nyata dan ada di sekitar kita, dan dia punya musuh namanya Hamsterbig yang coba menguasai dunia dan Hamsterball butuh kekuatan dengan bikin games tentang dirinya dan rintangan-rintangan ala-ala games biasanya, dan kalau ada manusia mainan games itu maka dia bisa dapat energi untuk mengalahkan Hamsterbig.

Cerpen itu sudah musnah demi kesejahteraan umat di dunia.

Jadi yang pengin Rasya omongin adalah, tanggal 8 Januari kemarin, Rasya sedang mengingat-ingat keanehan-keanehan Rasya pas masih kecil. Oke, mungkin bukan keanehan pas kecil ya, tapi keanehan yang mulai sudah terjadi saat masih kecil. Atau gejala-gejala keanehan seorang Rasya yang sudah muncul saat masih kecil.

Oke. Selanjutnya. 

[ Source ]
Itu namanya Pantai Baron.

[ Source ]
Itu namanya Pantai Krakal.

Seingetku, aku pertama kali ke sini waktu SD, sama keluargaku. Tapi terus pas SMP, ada darmawisata ke sini juga ... aku lupa sih tepatnya yang mana. Kalau kalian belum pernah ke sini, kalian harus ke sini soalnya pantainya sangat bagus, atau seenggaknya ke salah satu pantai yang ada di Gunungkidul, soalnya semuanya sangat indah. :")

[ Source ]
Lalu, ini namanya Pantai Parangtritis. Bukan di Gunungkidul, ini di Bantul. 

Oke, jadi intinya apa yang mau Rasya omongin? 

Dulu aku pernah bikin cerpen tentang kisah cinta segitiga antara Baron, Krakal, sama Parangtritis ...............

Serius. Itu cinta segitiga. Aku cari informasi soal Pantai Baron, dan aku nemu kalau Pantai Baron itu banyak palungnya, lalu aku menarik kesimpulan bahwa Baron ini adalah orang yang nggak peka. Dan terus Parangtritis suka main ke Pantai Baron buat ketemu dia, dan Krakal juga sama, aku lupa siapa yang menang tapi pokoknya pada akhirnya Baron milih salah satu di antara Parangtritis atau Krakal. 

Cerpen itu sudah musnah demi keselamatan diriku sendiri! Hah. Aku nggak habis pikir di mana aku menaruh jiwa logikaku waktu aku nulis bagian "Parangtritis dan Krakal main ke Pantai Baron". Oke. Oke mereka itu pantai dan pantai main ke pantai lain???

Mungkin itu aku yang paling aneh.

Atau mungkin yang paling aneh itu pas aku bikin cerita antara sendok dan garpu, tentang kehidupan mereka yang saling melengkapi satu sama lain.

Atau pas pelajaran Biologi, waktu itu kelas 1 SMA, pas belajar soal Kingdom-Kingdom, ada bab soal Kingdom Monera dan Kingdom Protista, dan aku justru salah fokus baca subbab "Monera dan Pengaruhnya dalam Kehidupan" dan bab baru "Protista" karena aku bacanya justru jadi: "Monera dan Pengaruhnya dalam Kehidupan Protista".

Atau mungkin pas aku justru bikin kisah romantis antara ikan hiu sama ikan remora. Tentang hiu yang ditakuti seseantero lautan (?), dan ikan remora yang lemah banget nggak bisa apa-apa. Waktu itu aku dapet informasi kalau sebenernya hiu-remora itu mutualisme dan bukan komensalisme (!!!!) karena remora dapet makanan dari sisa-sisa makanannya hiu dan dia juga bersihin parasit-parasit yang ada di tubuhnya hiu. Remora ngerasa kalau dia sangat bergantung sama hiu, tapi sebenernya di perspektifnya hiu, hiu yang nggak bisa apa-apa tanpa remora karena dia sebenernya kesepian dan butuh teman.

Atau MUNGKIN, yang paling aneh dari itu semua adalah aku mulai ngarang nama penyakit yang waktu itu aku yakin bahwa penyakit itu hanya diderita oleh satu orang dari seluruh umat manusia di dunia yaitu aku, dan penyakitnya adalah kecenderungan untuk secara tidak sadar mempersonifikasikan benda-benda mati di sekitar kita. 

Ada nama penyakitnya tapi tidak akan kusebutkan di sini demi keselamatan batas toleransi keanehan seluruh manusia di dunia.

Oke.

Oke. Barangkali yang bikin aku nggak bisa nulis tanggal 8 Januari kemarin itu karena aku terlalu tercengang oleh keanehan-keanehan diriku di masa lalu. Aku sendiri nulis ini spikles karena aku nggak percaya bahwa itu aku ... itu aku yang punya segala macam imajinasi ngepersonifikasiin benda-benda. Aku bayangin sendok itu hidup, garpu itu hidup, Pantai Parangtritis, Pantai Krakal, dan Pantai Baron punya kisah cinta segitiga, ikan hiu dan ikan remora punya kisah cinta juga, atau aku bahkan bayangin diriku menderita suatu sindrom langka yang aku ciptakan sendiri.

Jadi, Rasya di sini, mengucapkan terima kasih atas Rasya-Rasya di masa lalu atas segala macam imajinasi yang bahkan nggak bisa kubayangkan sekarang.

Lalu aku mikir.

Sekarang, atau sebenernya sejak Desember 2016 sampai sekarang, aku kan, seneng banget di fandom Hetalia. Seneng banget, banget, banget, sampai aku ngerasa kalau tujuanku nonton anime atau suka jejepangan itu adalah untuk bertemu fandom Hetalia ini. Karena Hetalia nyeritain tentang personifikasi negara-negara, gimana kalau ada personifikasi negara Inggris, Indonesia ... hal-hal yang aku lakukan di masa lalu yang bisa ngepersonifikasiin sendok atau pantai.

Apa jangan-jangan segala keanehanku ini untuk Hetalia?

Aku jadi bisa dengan bebas bayangin betapa berat penderitaan yang ditanggung personifikasi Indonesia, waktu Keraton Yogyakarta diserang, waktu negaranya diduduki, waktu dia memperjuangkan kemerdekaan, waktu orang-orangnya justru saling menyakiti satu sama lain ... aku cuma bisa ... wow. Aku mandang Hetalia bukanlah tempat baru yang kutemukan, tapi rasanya kayak ... pulang. Kayak, bikin aku bisa teriak: ini lho, semesta, rumahku yang sebenarnya!

Dan seperti yang udah aku bilang di postingan tentang daftar tulisan-tulisanku tahun 2017, aku ngerasa kalau aku nggak bisa lebih hidup dari ketika aku belajar Sejarah. Aku jadi sangat banyak baca, aku jadi sangat pengin tahu, aku tadi habis sakit kepala baca dan nonton video tentang War of the Roses, alias perang saudara di Inggris. Aku masih belum bener-bener paham karena asdfghjkl ribet banget, tapi rasanya aku sangat suka saat-saat aku puyeng dan maso (?) hanya demi bisa mahami materi itu :")))

Jadi, kalau segala keanehan-keanehan Rasya di masa lalu itu, mulai dari nulis cerita tentang benda mati yang dipersonifikasikan sampai ngarang penyakit yang diderita sendiri, itu mengarah pada Rasya di masa sekarang yang jadi sangat, sangat, sangat, suka Sejarah, Rasya di sini mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya. :"")))


Tapi, ya ampun, astagfirullah. Kisah cinta antarpantai.
Ya ampun.

flashback

INFJ atau Bukan

Selasa, Januari 09, 2018

Halo, sekarang baru tanggal 9 Januari dan aku udah nulis 11.997 kata! XDDD
(Semangat di awal doang)

Aku akhirnya udah berani buka google dan searching "laba-laba di tengkuk" tapi belum menemukan apa yang aku harapkan. Aku searching juga pakai bahasa Inggris dan belum nemu juga. Terus mendadak aku ada firasat kalau mungkin ada semisal aku pakai bahasa Rusia ... tapi LOL lama-lama kayaknya nggak nyata. Oke kayaknya misteri "laba-laba di tengkuk" itu bakal terpecahkan seiring berjalannya waktu.

Apa yang sedang Rasya lakukan hari ini?

Barusan aku lagi nyoba tes apakah aku INTJ atau INFJ; kentara sih sebenernya, soalnya yang aku agak bingung itu bukan bagian pemikir sama perasa (T sama F; thinking atau feeling), tapi bagian persepsi sama menghakimi, alias apakah aku ini INFJ atau INFP (judgement atau perceive). Tapi ya entah kenapa aku malah ambil tes INTJ atau INFJ dan bukan INFJ atau INFP (.....) Jadi mari kita lanjutkan, mumpung cuma 17 pertanyaan.


Oke, INFJ beneran kan. Dan perbedaannya jauh banget hmm. Aku jadi penasaran aku INFJ atau INFP. Habis ini aku bakal nyoba tesnya. Dan btw dari 17 pertanyaan tadi, aku sempet sangat tercenung dengan pertanyaan ini:

I could see myself 'giving it all up'
and living a secluded life in a monastery
or working a simple job for a couple of years.

Yes || No

Baca pertanyaan itu bikin kelempar ke masa lalu, sih. Tiba-tiba aku jadi teringat percakapan aku sama Suryo di perpustakaan SMA. Yang lalu berlanjut sampai lalu jalan ke pintu gerbang, masih ngomongin soal itu. Atau, aku agak lupa apakah kejadian ini sebelumnya atau setelahnya, kami juga pernah bahas beginian pas di depan kelasnya Lisa, waktu itu kita terjebak hujan jadinya main pesawat-pesawatan pakai lembar jawaban ujian sisa. 

Yang pas di depan kelasnya Lisa itu Suryo duluan yang ngajak ngobrol. Kayaknya waktu itu kita lagi tanding diem-dieman (?) jadi lihat siapa di antara kami yang paling lama diem dan aku menang XD /sya. Lalu dia tanya duluan, kehidupan yang statis itu kayak gimana. Dan aku lalu bayangin, dan aku berpikir kalau itu terlalu menyedihkan untuk dibayangin, tapi, lalu, ya, aku bisa juga ternyata.

Kayaknya kejadian di depan kelasnya Lisa itu sebelum kejadian di perpustakaan. Soalnya yang di perpustakaan itu aku yang ngajak ngomong duluan, bahas soal kehidupan statis itu. Tapi bukan pertanyaan kayak Suryo lakuin, cuma kayak, semacam laporan. Kalau, mungkin, aku bisa membayangkan kehidupanku jadi kayak gitu.

Makanya lalu aku membatu, lalu inget kejadian-kejadian itu, dan aku membatu lagi, dan terus, akhirnya aku ganti jawabanku yang awalnya No ke Yes. Momennya agak menyedihkan sih waktu itu /baper. Aku nggak tahu pertanyaan itu yang "bener" yang mana untuk INFJ atau INTJ, tapi ya tetep kujawab aja dan mayoritas jawabanku emang ngarah ke INFJ, sih. ;_;

Oke. Lanjut apakah aku INFJ atau INFP.


Tipis ternyata perbedaannya. Sebenernya pertanyaannya sejelas yang INTJ/INFJ, cuma karena aku memang bimbang di poin apakah aku menghakimi atau pakai persepsi, jadi pertanyaannya susah menurutku. Akhirnya aku condong ke INFJ walopun 53% oke aku datang Benedict Cumberbatch XD /salah 

... Tahu nggak. Niatnya aku pengin bikin ini basa-basi sebelum aku lompat ke bahasan apa yang sebenernya pengin aku omongin. Tapi kenapa udah panjang banget ... jadi mungkin aku posting aja terus aku bikin postingan baru. (...........) /kebiasaan

Oke, sampai jumpa di postingan berikutnya. XD