game

21. Software

Sabtu, Juni 24, 2017

Sekarang hari terakhir Ramadan dan mendadak aku pengin bisa bikin software.

[ source ]
Nggak nyambung, jelas. (...)

Nggak ada kaitannya sekali antara hari terakhir Ramadan sama keinginanku bikin software. Memangnya jenis software macam apa yang aku buat, dan memangnya aku tahu apa tentang pemrograman kayak gitu, sementara sampai tadi aku masih tanya sama adekku, "Dek Dama, software tuh aplikasi bukan?" jadi jelas aku nol besar banget soal software ini.

Tapi terlepas dari aku mau bikin software kayak apa, aku pengin software itu 'seolah' terbagikan secara gratis ke semua orang, tapi sebenernya cuma orang-orang tertentu yang bisa buka karena aku kasih password. Sebenernya pertama kali mikirin ini, rencanaku cuma sampai situ, aku kasih kata kunci tapi toh sebenernya semua orang bisa minta kata kuncinya dengan kirim pesan ke aku. Tapi lalu aku berubah pikiran.

Ini masih kasar banget dan terlintas jam setengah tiga pagi di masjid pas aku iktikaf terakhir, dan aku jarang banget dapat ide di saat-saat kayak gitu, jadi menurutku, walaupun masih abu-abu di kepala, aku harus menuangkannya ke dalam bentuk tulisan karena siapa tahu ingatan ini bisa hilang. Entah juga sih ini ide besar atau semacam celetukan putus asa karena akhir-akhir ini aku nggak berselera menuangkan sisi humor di cerpen-cerpen yang aku bikin, tapi ya ... nggak papalah kita coba.

Ada satu sisi di mana aku pengin semua pengguna software ada dalam pengawasanku, tapi ada juga satu sisi di mana kata kuncinya itu adalah jawaban dari suatu teka teki. Ada pertanyaan, yang jawabannya terdiri dari satu kata dan sepuluh huruf, pertanyaan yang juga sudah datang ke kepalaku ... tapi sayangnya aku belum tahu jawabannya LOL. /dihantam

Tentu kalau aku pilih opsi kedua, aku berarti harus memakan risiko karena jelas akan ada orang di luar sana yang bisa mengakses software-nya secara sederhana karena dia tahu jawabannya, dan itu bakal tanpa sepengetahuanku. Kalau aku mau mereka membagi biodatanya, berarti masalahnya ada di kata-kata pembuka yang entah bagaimana bisa ngeyakinin mereka.

Lalu gimana sama orang-orang yang nggak tahu jawabannya? Aku mikir kalau mereka mungkin perlu bimbingan (?) atau setidaknya, aku mungkin perlu kasih beberapa klu ke mereka, klu yang bikin mereka jadi menyusuri jalan setapak yang sama kayak aku untuk mendapatkan jawaban ini. (Karena, iya, ini aku bilang lagi: aku juga belum tahu jawabannya.)

Mungkin kayak gini opsi buat mengirim pesannya:
  1. Kasih tebakan, aku cuma perlu jawab Benar / Salah
  2. Minta klu
  3. Minta klu setelah aku bilang Salah
Sekarang sudah lewat beberapa jam sejak pertanyaan itu muncul di kepalaku, tapi aku belum dapat jawabannya, dan ini sebenernya nggak lucu karena ya masa aku yang bikin tapi aku sendiri susah menemukan jawabannya? Tapi lalu kutipannya Conan terlintas di kepalaku:


Tidak ada misteri di dunia ini yang tidak bisa dipecahkan.
- Conan Edogawa (Detective Conan)


Lalu aku kepikiran juga; ya, mungkin jawaban dari teka-teki itu nggak datang dari aku? Waktu sahur terakhir tadi aku makan sambil mikirin itu. Mungkin aku butuh bantuan dari seseorang buat nemuin jawabannya? Tapi kalau kayak gitu, artinya aku main curang dong. Gimana aku bisa mengharapkan ada orang yang bisa jawab teka-teki ini sendiri kalau aku yang bikin pertanyaannya aja minta bantuan orang lain?

Tuh, kan, aku sudah kepikiran macam-macam padahal ini baru cari kata kunci cara masuk ke software yang aku bikin. Sebenernya aplikasinya kayak apa begitu kita berhasil masuk sudah ada di kepalaku, tapi aku nggak yakin bisa mewujudkannya seratus persen kalau aku mulai aja nggak tahu dari mana.

Tapi sebelum aku ketemu temen yang bakal ngajarin aku bikin software, mungkin aku harus cari jawabannya dulu ; v ; Jadi, teka-tekinya itu persis kayak soal bacaan tentang poster atau iklan di pelajaran bahasa Inggris. Disajikan gambar, lalu ada pertanyaan, dan kita menjawab pertanyaan itu dengan mengacu pada gambarnya.

Nah. Gambarnya sederhana:


Berbahagialah kalian karena hanya orang Indonesia yang punya kesempatan untuk bisa menjawab soal ini. (Iyalah, Sya.) Iya, gambarnya di kepalaku sesimpel itu; tulisan sepuluh huruf, yang barangkali itulah kalimat yang kalian baca pertama kali di TK. Pertanyaannya juga cukup sederhana, apalagi jawabannya juga sama; sepuluh huruf.

Tapi ... aku mau coba cari jawabannya dulu. Aku bakal langsung kasih pertanyaannya ke kalian begitu aku sudah ketemu jawabannya. XD /dihantam (2)

cerpen

20. [Fiction] Tentang Sebab-Akibat

Kamis, Juni 22, 2017

Pernah dengar hukum sebab-akibat?

Biasanya kalau dalam percakapan sehari-hari, kita menyebutnya karma, sih: menuai apa yang kamu tanam. Gampangnya, kalau kamu menyakiti hati seseorang, nanti ada saatnya seseorang menyakiti hatimu. Kalau kamu sudah punya pacar tapi buka cabang (?), suatu hari nanti orang yang kamu suka bakal mengkhianati kamu juga. Itu namanya karma, yang kalau aku lebih suka nyebutnya hukum sebab-akibat.

[ blog.udemy.com ]
Sayangnya, kadang hukum sebab-akibat bahkan nggak terjadi sejelas itu. Kita yang melakukan, bisa jadi yang kena akibatnya bukan kita, tapi orang terdekat kita. Nah, ini yang mau aku ceritain sekarang. Karena entah kenapa, ya walaupun sebenarnya kita nggak bisa tahu pasti tepatnya sebab yang mana dari akibat yang menimpa kita, tapi menurutku jauh lebih miris kalau yang menerima akibatnya justru bukan kita sendiri.

Tentang Sebab-Akibat

Daripada pakai alfabet yang bikin aku sendiri pusing, mending kita sebut si tokoh utama ini dengan nama Illia--aku ambil secuplik dari nama aslinya sih. Satu kata yang cukup untuk mendeskripsikan dia, dia ini playgirl. Sebutannya sudah nggak zaman, ya, tapi intinya dia nggak pernah benar-benar serius menjalani suatu relasi, dia deketin si ini, si itu, dan ajaibnya, selalu berhasil.

Dia punya sahabat namanya Ami--ini aku ambil dari nama aslinya juga. Aku sebenernya nggak pernah paham sama persahabatannya mereka, karena mereka berdua itu beda banget. Seisi sekolah jelas tahu kalau Illia ini anaknya sangat menjunjung tinggi sosialita, sementara Ami ini relatif biasa-biasa saja. Ami ini punya pacar, yang di sini kita sebut Romy.


PADA SUATU HARI YANG CERAH, Illia pamer ke Ami kalau dia baru saja dapat hadiah dari laki-laki yang lain, anak pecinta alam yang suka ngabsenin gunung satu-satu dengan menaklukannya. Dia dapat kertas tulisannya, "SEMANGAT BELAJARNYA:) 1726 MDPL", artinya tulisan itu dibuat waktu si laki-laki ini sudah sampai di puncak, ketinggian nyaris dua ribu meter dari permukaan laut.


Ami: Terus, kamu balas nggak?
Illia: Masa' cuma kayak ginian aku balas? Aku pulsek ada janjian makan sama si maniak sepak bola anak Aliansi Tenggara.
Ami: Hmm. Kasihan dianya naik gunung bawa-bawa kertas sama spidol, udah repot-repot.
Illia: Yaa nanti kalau dia tahu aku makan sama cowok lain lagi, aku tinggal bilang kalau dia cuma temen.
Ami: 'Lagi'? Memangnya dia langsung percaya? 
Illia: Nah, itu lho, Mik, masalahnya; iya, dia langsung percaya.


Illia sebenernya tahu sih kalau Ami ini nggak pernah bener-bener seratus persen dukung apa yang dia sukai; jalan sama si A, makan sama si B, terus malamnya chattingan sama yang lain lagi. Tapi secara Ami ini orangnya adem dan kalem, tipe-tipe yang sebisa mungkin mencari celah adanya jalan damai, jadi mereka nggak pernah ada konflik.

Dan Illia juga nggak pernah ngepermasalahin, sih. Mau Ami dukung dia atau enggak, toh yang ngelakuin kan, dia sendiri. Nanti kalau hukum sebab-akibat itu beneran ada, yang kapok kan dia? Ami nggak ada rugi-ruginya.


PULANG SEKOLAH, Illia langsung ngacir ke restoran deket sekolah, tempat dia janjian sama si maniak sepak bola ini. Kita panggil dia Sein (yap, aku ngacak dari nama aslinya, dan ... makan waktu agak lama betewe, namanya terlalu susah untuk diacak lol). Sein sudah nunggu, dan Illia nyamperin, lalu mereka ngobrol. Ya, secara Illia ini terlampau berpengalaman, dan dia punya sisi humor yang bagus, dan kebetulan dia lumayan tahu soal sepak bola, jadi seolah mereka nyambung.

Sampai datanglah perusak suasana. Laki-laki yang dari tadi ngelihatin mereka, lalu akhirnya memutuskan buat mendatangi meja tersebut dan mulai menyapa.


[???]: Illia?


Tebak dia siapa?

Begitu namanya dipanggil, Illia sudah berasa seolah disambar petir, sebelum dia menoleh, di dalam kepalanya sudah menampilkan daftar kemungkinan-kemungkinan siapa laki-laki yang manggil dia. Besar kemungkinan kalau yang manggil itu yang pernah dia deketin, dan alarm di otak sudah tersetel mode siaga satu karena gawat banget kalau yang manggil itu si anak gunung. Illia noleh, dan ...

Ternyata itu Romy. Adegannya kayak di sinetron di mana kamera ganti-gantian nge-close up wajah mereka berdua, lalu backsound suara drum, dan momennya berlangsung lambaaat banget berasanya.


Illia: Romy?
Romy: Haloo.
Sein: Siapa, nih?
Illia: ... Pacarnya sahabatku.


Untungnya jawaban itu skakmat buat Sein dan nggak ada alasan dia cemburu (ya kali cemburu sama pacar sahabat?) tapi sekarang Illia yang ... terguncang. Ami nggak bilang kalau dia ada agenda makan siang sama pacarnya, dan Illia juga tahu kalau Ami nggak suka tipe-tipe restoran fast food kayak gini, karena bahkan tuh bocah lebih pilih bawa bekal daripada jajan di kantin. Jadi kenapa Romy ada di sini?


Romy: Ami di mana?
Illia: Sudah langsung pulang.
Romy: Nah. Oke, deh.
Illia: Kamu ke sini ngapain? Makan sama siapa?
Romy: Mau kamu bilangin ke Ami?
Illia: Kamu makan sama cewek? Berdua?


Jelas Illia langsung bisa nebak dengan akurat. Ini yang lagi dia lakukan sekarang; dia juga lagi makan berdua sama cowok lain. Makanya Illia bisa nembak ke arah situ, tahu kalau Romy pasti punya janjian sama cewek lain yang entah siapa.


Romy: Cuma temen kok.
Illia: ...



HABIS NGOMONG KAYAK GITU, Romy-nya pergi. Sein-nya bingung, walaupun dia coba ngerti. Tapi sekarang Illia sudah nggak fokus lagi makan sama Sein, dia mikirin Ami yang hampir setiap hari pasti cerita soal Romy. Sebenernya Illia nggak pernah bener-bener dengerin, tapi pasti Ami cerita. Pasti kalau mereka berdua ngobrol, Ami bakal ujung-ujungnya ngomongin Romy juga. Dan sekarang, Ami nggak tahu kalau Romy lagi makan sama cewek lain.

Illia-nya diem. Waktu Romy bilang "cuma temen", rasanya jleb ke dia. Sekarang dia lagi makan sama Sein yang notabenenya, kalau semisal di sini ada sahabatnya si anak gunung yang memergoki mereka, Illia juga bakal bilang hal yang sama, kalau Sein itu cuma temennya. Persis kayak Romy yang bilang kalau cewek yang dia ajak makan ini cuma temennya juga. Akhirnya Illia nggak tahan.


Illia: Eh, Sein, aku boleh nyamperin Romy bentar nggak?
Sein: Dia tuh lagi makan sama cewek, padahal dia pacarnya sahabatmu?
Illia: Iya. Bentar aja, paling cuma motret mereka berdua terus udah.
Sein: Oke.


Untung Sein ngerti. Akhirnya Illia berdiri lalu pergi, dia nyari ke setiap tempat duduk, minimal dia mau tahu dia kenal nggak sama cewek yang makan bareng sama Romy. Setelah sibuk nyari, akhirnya Illia nemu Romy, duduk di tempat duduk luar, masih sendirian. Dia samperin deh. Romy-nya sudah notis duluan sebelum Illia sampai.


Romy: Belum dateng nih ceweknya.
Illia: Siapa emang?
Romy: Temen doang. Beda sekolah. Kamu nggak kenal.
Illia: Aku bakal bilang Ami.
Romy: Bilang aja. Ami tahu nama ceweknya kok. Seenggaknya, aku pernah nyebut sekali pas aku cerita soal event yang panitianya perwakilan dari sekolah-sekolah, aku sama dia sama-sama divisi Kehumasan. Tinggal ngingetin dia, bilang kalau aku pernah nyebut namanya, trus nekenin kalau kita cuma sama-sama anak Humas.
Illia: Enggak, nggak bakal cuma itu. Emangnya Ami percaya sama kamu?
Romy: Itu masalahnya, Li; Ami bakal percaya.



RASANYA KAYAK BERCERMIN, itu bagi Illia waktu dia ngobrol sama Romy. Jalan pikirannya Romy bener-bener persis seperti selama ini dia memperlakukan semua laki-laki yang dia deketin, jadi Illia bisa memprediksi juga ke mana arahnya. Illia juga tahu kalau semisal Ami nanti tahu, Romy bakal bisa ngeyakinin kalau dia dan si cewek cuma temen.

Sekalipun sempet marahan atau gimana, Illia percaya kalau Ami bakal percaya, Illia tahu pada akhirnya mereka bakal baikan kayak nggak ada yang terjadi. Karena itulah yang ia alami sama laki-laki yang pernah memergoki dia makan sama laki-laki lain, dia selalu sukses bikin mereka damai lagi.


Illia: Kalau Ami tahu, dia bakal sakit banget, Rom.
Romy: Percaya karma nggak, Li?
Illia: Emangnya bagian mana yang karma? Ami nggak pernah makan sama cowok lain.
Romy: Ami-nya enggak. Tapi kamu kan iya.
Illia: ...


Skakmat.

TAMAT


Ceritanya berakhir dengan sanggat nggantung, iya. Tapi itu yang mau kusampaikan sih. Memang hukum sebab-akibat itu misterius dan nggak ketebak tindakan mana berakibat apa, tapi apa yang kita lakukan bisa jadi berimbas ke sahabat kita. Kayak yang terjadi sama Illia sekarang. Dia suka makan sama cowok ini dan cowok itu, lalu ternyata pacarnya sahabatnya juga melakukan hal yang sama.

Walaupun nggak secara langsung nimpa Illia, tapi sebenernya Illia lebih-kurang sudah ngerasain akibatnya juga. Dia seolah 'dipertemukan' sama seseorang yang persis banget kayak dia, hanya saja kali ini seseorang itu berkhianat sama sahabatnya sendiri. Antara nggak terima karena sahabatnya yang sakit hati, tapi nggak bisa menyudutkan juga karena Illia sendiri tipe yang kayak gitu.

dedicated to

19. Tiga Tahun

Rabu, Juni 21, 2017

p o s t i n g a n   s e b e l u m n y a  }


Tiga tahun. Kalau di posisiku, aku menunggu tiga tahun.


Sebut saja namanya H. Dari hantu, LOL. Bercanda ding.

Dan sebenernya, ‘menunggu’ itu kosakata yang salah karena memangnya aku menunggu apa? Lebih tepatnya, aku ditinggal tiga tahun. Persis kayak yang aku ceritain sebelumnya tentang John Watson ditinggal Sherlock, aku pun begitu juga: selama tiga tahun itulah aku jungkir-balik nggak keruan dalam mode five stages of grief, masuk SMA dengan niat nggak membahas ini sama sekali ke teman-teman baru, ikut kepanitiaan, ikut ekskul, mengisi kegiatan sehari-hari dengan segala hal, mencoba sibuk agar melupakan.


[ kelas sepuluh ]

Ini di SMA Negeri 6 Yogyakarta.

Tahun pertama jelas susah. Aku masuk kelas X MIA EP di ruang 212, kelas dengan anak-anak yang ajaib, rumah kedua, keluargaku juga. Semua yang di situ sahabat, kita bahagia bareng, susah-seneng bareng, cunthel bahasa Prancis bareng. Kita berbagi cerita dan ada saat-saat yang sangat susah buatku untuk menahan diri agar nggak melakukan hal yang sama.

Aku ketemu dua sahabat di kelas itu, namanya Lisa dan Shelly. Kita bertiga dekeeet banget, ke mana-mana selalu bareng, gila-gilaan ya pernah, marahan ya pernah (dan sering lol), alay juga pernah. Saking deketnya kita ngerasa kalau kita bertiga ini bener-bener saling melengkapi, Shelly bilang kalau masing-masing dari kita ini sepertiganya kita. Kayak gitu, deh.

Lalu, aku lupa siapa di antara mereka yang mulai lebih dulu, tapi akhirnya aku nggak tahan juga untuk menceritakan tentang H ke mereka. Tapi, ya, aku nggak pengin bener-bener ketahuan, jadi aku ceritanya ke Lisa dan Shelly secara terpisah.


[ shelly ]

Jadi, aku masuk kelas sepuluh itu, aku punya satu akun media sosial yang kunonaktifkan. Kalau ditanya, aku selalu bilang kalau aku nggak punya, padahal aku sebenarnya pernah punya. Lewat akun itu aku sering ngobrol sama H ini; jadi saking alay-nya kita, kita mengunduh aplikasi chatting yang anti mainstream dan cuma sama H aku pakai aplikasi itu.

Waktu aku main di rumahnya Shelly, harusnya ada Lisa juga tapi Lisa belum datang, Shelly ngajak aku bikin akun di media sosial itu. Akunya sempet bereaksi kayak orang kena kejut listrik, karena aku sebenernya kadang-kadang sudah nyaris melupakan, terus tiba-tiba di siang bolong aku dibikin keinget lagi.

Akhirnya kita berdua bikin akun itu. Lalu janjian saling ngobrol di sana. Lambat laun, kita lebih sering pakai LINE, dan toh kita berdua ketemuan setiap hari, jadi akun itu terabaikan begitu saja. XD Cuma bertahan beberapa hari, ya? Toh kita berdua nggak ada yang nganggap ini berat-berat, jadi ya sudah, mari kita lupakan kalau kita pernah bikin akun di media sosial ini. XD


[ lisa ]

Kalau ke Lisa, aku cerita tentang H pas perjalanan yang aku lupa dari mana mau ke mana, tapi waktu itu kita lagi di motor dan aku boceng dia. Biasanya kalau aku mau inget H itu pas aku lagi sendirian dan lagi ngerasain angin, sementara itu posisinya kita lagi diem dan anginnya kenceng. Oh, aku inget. Ini waktu kita nyasar kayaknya. Eh, aku lupa juga, sih.

Sayangnya, aku malah cerita hal-hal tentang aku sama H yang nggak penting. Kita nggosip, kita ngomongin kemampuannya H yang bisa tahu seseorang bohong atau enggak, ngomongin sepak bola dan betapa anak-anak kos di deket rumah H ribut banget kalau bola masuk gawang, segala cerita dua-anak-bersahabat yang normaaaal banget.

Iya, aku nggak bilang ke Lisa kalau H sudah nggak ada. Jadi, aku malah nggak cerita bagian terpentingnya. :”) Waktu itu aku lagi butuh orang buat aku ceritain untuk mengenang bareng saat-saat aku sama H, dan Lisa yang lagi ada sama aku, jadi aku cerita aja. Aku pengin mengenang momen yang nyenengin, jadi aku cerita yang seneng-seneng aja. :”)


[ kelas sebelas ]

Naik ke kelas 2 SMA, aku di 11 IPA 6. Hah, alhamdulillah, aku punya banyak banget permasalahan di sini yang bikin aku stres LOL. Mulai dari ekskul, kakak kelas, kegiatan, sahabat, sekolah, dan lain-lain, sampai nggak bisanya aku berbaur sama temen-temen sekelasku. Pesan moralku dua semester di bangku kelas sebelas ini: aku bisa lupa. Aku bisa lupa! Yay. Kayaknya aku nggak pernah sekalipun ingat soal H di kelas sebelas ini. :)))


[ kelas dua belas ]

Aku di 12 IPA 5. Aku deket sama Jihan, Fatma, Afi, Dhiar, Oca … temen-temen sekelasku di sini seru dan asyik pakai banget. Kita punya banyak tekanan kelas dua belas yang sebentar lagi ujian, jadi untuk beberapa saat, aku masih lupa tentang H. Aku nggak ingat kapan persisnya, tapi yang jelas waktu itu pemicunya adalah aku sendiri, sih. Aku cuma lagi merenung, lalu tiba-tiba, datang tak diundang, aku inget H.

Yang ada di pikiranku cuma:


Wah, aku sudah bisa melupakan, ya?


Oke, tentu kalau aku ingat, artinya aku nggak lupa, dong. Waktu itu mungkin menjelang semester dua, aku mulai bisa buka akun media sosial yang nggak pernah kubuka lagi, cuma buat baca-baca ulang hasil chattingan-ku sama H. Dia ada masalah dan itu bikin dia harus pergi, dari sini. Aku sudah ngerasa nggak papa, aku sudah ngerelain kepergiannya dia yang tiba-tiba banget.


[ 2017 ]

Aku ngucapin dia selamat tahun baru. Aku ngetik di aplikasi itu, di chattingan-ku sama H. Waktu aku ngetik tanpa mikir lagi, aku mulai ngerasa kalau jangan-jangan aku sudah nggak waras kali, ya? Aku sudah tahu kalau H nggak mungkin bisa bales lagi, dan buat apa aku ngirim dia chat?


met taun baruuu /telat


Tapi, ya, tetep kukirim juga sih. (…)


[ kelulusan ]

Pas aku wisuda SMA, aku tiba-tiba keinget sama dia. H yang nggak pernah bisa bikin aku marah, H yang bilang kalau aku punya bakat jadi tukang bersih-bersih (dan bahkan sesering apa pun dia bilang ini, dia tetep nggak bisa bikin aku marah). Aku kadang-kadang memang keinget lagi, tapi sudah bukan dalam tahap untuk bikin aku sedih, tapi buat kukenang aja.

Aku mendadak ingat kali pertama kenalan sama H, begitu aku pindah rumah pas kelas 3 SMP. Dia kelas 3 SMA, jadi kuanggap kakak. Cuma setahun kita bareng, tapi rasanya kayak kita saudara yang sudah terpisah dari lahir. Menjelang aku persiapan ujian SMP, dia juga siap-siap mau lulus SMA, jadi akhir semester dua aku sudah nggak menyempatkan diri buat ngobrol.

Lalu, kita ngobrol pas aku nunggu pengumuman NEM SMP. Aku tanya, dulu NEM SMP-nya dia berapa, dan dia jawab 37,8. Iya, H ini pinter, tapi ada satu dan lain hal yang bikin dia ke SMA yang sangaaaat biasa-biasa saja, dan itu adalah masalah ekonomi dan transportasi. Dia pengin cari SMA yang murah dan deket sama rumah soalnya.

Di hari yang berdekatan dengan itu, H cerita kalau dia punya masalah yang ada kaitannya sama ekonomi, keluarga, dan berkas melengkapi kelulusan. Lalu kejadiannya cepet banget, dia bilang kalau ponselnya dia hilang. Akunya nggak langsung percaya, karena, ponselnya hilang? Iya, bertransformasi jadi uang, mungkin ya? Kenapa bilangnya hilang?

Lalu, begitu sajalah, dia pergi. Waktu itu tahun 2014.


[ john watson ]

LOL, kenapa langsung mendadak pindah ke sudut pandang blogernya Sherlock Holmes?

Ini yang kubilang di postingan sebelumnya, kalau postingan ini punya kaitan. Waktu aku kali pertama nonton “The Reichenbach Fall”, pas bagian Sherlock nelpon John dan nyuruh John ngelihatin dia terjun dari atas gedung, di situ Sherlock juga mengungkapkan kebohongan.

Dia bilang kalau dia bohong soal kepintarannya. Sebenernya dia selalu mengumpulkan data-data sebelum menganalisis, sebenernya musuh bebuyutannya dia cuma orang teater yang dia bikin untuk kepuasannya sendiri. Sherlock cerita semuanya ke John, terlalu nyata sampai aku nyaris percaya, tapi John cuma dengerin dan komentarnya dia:


Kenapa kamu bilang gitu?


Atau saat Sherlock datang lagi setelah dua tahun, semuanya menyambut dan orang-orang penasaran bagaimana bisa Sherlock pura-pura meninggal, menipu sahabatnya, semua orang, dan dunia, orang-orang saling berkumpul untuk membahas kira-kira bagaimana Sherlock melakukannya. Sherlock cuma pengin jelasin itu ke John, dan John bilang:


Aku nggak peduli bagaimana kamu melakukannya. Yang aku tanya, kenapa?


Memang, episode itu sedih, tapi aku nonton itu dalam posisi aku bisa ngerti perasaannya John bagaimana. Sedihnya, marahnya. Salah apa, aku harus melakukan apa sampai kamu mau cerita semuanya? Kenapa aku yang mau mendengarkan di sini, tapi kamu nggak memberiku ruang dan waktu untuk memberiku kesempatan memahami? Kenapa?


[ kembali ]

Kamu balik.

Hari Minggu kemarin, tepat jam setengah sembilan pagi.


[ kenapa? ]

Mungkin kata tanya kenapa itu kata yang paling emosional di antara kata tanya yang lainnya.

Tiga tahun, H. Tiga tahun.

Kamu pergi tiba-tiba, kamu nggak ngasih tahu tepatnya kapan, nggak ada ucapan selamat tinggal, berlalu dengan setumpuk pertanyaan yang nggak kaubiarkan aku untuk tahu. Dari kamu, aku bisa mendengar cerita-cerita aneh bin ajaib, tentang teman-temanmu di sekolah, sisi dunia yang nggak bisa kumasuki, celetukan sederhana yang receh, atau tentang geng tiga orang pecinta misteri yang kaubentuk dengan dua teman sekolahmu.

Lalu begitu kamu pergi, aku sadar kalau kamu mungkin cerita semuanya tentang dunia di sekelilingmu, tapi kamu nggak pernah cerita tentang kamu sendiri. Kamu bilang kalau sistem memilih anggota OSIS di SMA-mu itu sama sekali nggak layak dan harus diubah, tapi apa pendapat pribadimu sebenarnya?

Kenapa kamu nggak pernah cerita tentang kamu? Kenapa kamu bilang kalau ponselmu hilang? Kenapa kamu tiba-tiba pergi? Lalu sekarang, kenapa kamu tiba-tiba datang?

Semuanya kayak serba salah di kepalaku. Aku nggak serta-merta ingin kamu pergi, tapi aku juga marah melihat betapa gampang dan nggak bersalahnya kemunculanmu di depanku, tapi kamu yang membuat semuanya begini sekarang.


Setelah semua ini, serius?


[ sekarang ]

Sekarang, aku nggak tahu harus bagaimana. Tiga tahun ini terlalu lama, H. Aku sudah lupa, aku sudah mau menjalani hari tanpa inget kamu. Kamu butuh untuk kupukul, kucekik, kuhantam kepala lebih dulu dan bagiku ini nggak cukup untuk langsung menerimamu lagi, bermain-main, di sini. Ada rasa marah tapi ada juga rasa kangen. Kalau kamu beneran kakakku di dimensi lain, kujamin kamu itu kakak paling jahat dan paling berdosa besar di dimensi mana pun di semesta ini.

Campur aduk di kepala, nggak tahu mana yang harus dipikir duluan. Aku bisa sukses menamatkan kisah SMA-ku tanpa sedikit pun bercerita mengenai kedepresian tentang kamu ke teman-temanku, tanpa kusebut nama kamu, aku bahkan sudah lupa sama kamu. Aku. Marah. Banget. Semua kata-kata sumpah serapah rasanya ada di kepala, tapi aku nggak mungkin sanggup mengeluarkannya satu huruf pun juga, karena semuanya terakumulasi lebih dari cukup menjadi satu kata, yang diakhiri tanda tanya besar, KENAPA?


Kenapa datang lagi?
Aku mau kamu pergi.