gak berlabel

Gaya Bahasa

Senin, September 18, 2017

Sebenernya gaya bahasa cerpenku tuh, kayak gimana? Aku sering bingung sendiri mikir itu. Padahal aku lebih dulu nulis cerpen daripada nulis puisi, tapi aku udah bisa nebak gaya bahasa puisiku duluan daripada gaya bahasa cerpenku ;;-;;

Di tengah-tengah kegalauan itu, waktu mata kuliah Agama Islam Konstektual, Nail ngajak aku bikin cerpen berantai. Jadi Nail nulis beberapa kalimat, terus aku sambung, terus Nail sambung, gitu terus sampai nanti tamat (atau nggak tamat-tamat?) XD

Nail nulis duluan kan. Kertasnya sudah menghilang entah ke mana sekarang, tapi aku masih inget kalau Nail memulai cerita dengan seting horor; cangkir terguling, genangan kopi .... Aku sering sih bikin cerpen horor, tapi biasanya nggak mulai dari awal horor; mungkin di akhir atau bahkan kusiapkan buat plot twist.

Sekali, aku bikin cerpen horor yang dari awal bANGET udah horor daaaaan aku creepy sendiri selama proses pembuatannya :")) Bikinnya malem-malem, aku mikir kalau kusimpen buat besok pagi kemungkinannya kecil buat kulanjutin, jadi cerpen itu selesai sekali duduk :") Melibatkan fans fanatik, tokoh yang sakit jiwa, minum racun, tangan keluar dari kuburan, endingnya penghapusan eksistensi tokoh utama yang mati--agak klise sih bagian ini soalnya predictable plot buat genre horor o(--(

Terus balik lagi ke cerita. Aku baca dua baris yang udah Nail bikin jadi nostalgia sama cerpen horor pertama (dan terakhir?)ku soalnya. Akhirnya kulanjutin sebisaku kan, yang bikin Nail tambah bingung (.........) karena aku malah merusak (.............) terus ya pokoknya ceritanya berlanjut.

Sampai akhirnya aku sudah nulis lagi, dan Nail baca, dan Nail kayaknya mau menyampaikan sesuatu yang udah lama dia tunda dari tadi, dan mau dia utarakan sekarang, dan itu adalah:

"Sya, kok gaya bahasamu beda sama di cerpenmu biasanya?"

...... hah.

Memangnya gaya bahasa cerpenku kayak gimana. Aku aja nggak tau kalau nulis cerpen biasanya pakai gaya bahasa kayak gimana, dan di sini aku dibilangin kalah gaya bahasaku beda sama biasanya. Itu kejadiannya cepet banget dan ada dua hal yang aku rasain saat itu juga:

Yang satu, rasa seneng. Aku suka akhirnya aku bisa narik kesimpulan kalau genre "horor yang horor dari awal" itu bukan bidang yang aku minati, karena aku lebih suka genre itu horor dengan sendirinya (?) entah karena tokohnya depresi atau punya indera keenam.

Yang kedua, agak kontras sih, rasa sedih (...). Kenapa malah Nail yang bisa nebak gaya bahasaku sebelum aku? Oke, aku dulu pernah ngerasain hal yang sama sih, ada penulis yang cerita-ceritanya aku baca, dia nulis status kalau dia bingung gaya bahasanya dia kalau nulis cerpen gimana, dan aku yang baca statusnya bingung karena itu hal yang nggak perlu dipertanyakan (??).

Pada akhirnya, responsku ke Nail itu berbentuk pengakuan sih, "Soalnya itu bukan genre yang aku bisa sih," dan bukan tanya balik gaya bahasaku memangnya kayak gimana; karena menurutku aku harusnya nemuin itu sendiri. Agak sedih lagi sih aku harus dibeginiin (?) biar ketrigger buat cari tahu XD

Akhirnya aku nemu gaya bahasaku lama-lama, ketika aku maksain diri buat nulis cerpen dan aku nggak sreg dan cerpen yang sudah berlembar-lembar itu langsung kututup tanpa kusave, di situ aku ngerasa nggak membuang apa pun karena toh yang kutulis di situ bukan cerpen yang aku pengenin.

Waktu mata kuliah Ilmu Sastra Umum, aku jadi baru disadarkan kalau cerpen itu nggak bisa dipisahkan sama pengarangnya. Apa pun bedanya cerpen itu sama kehidupan si pengarang (misalnya ada cerpen tentang masa depan Indonesia yang penuh sampah - dalam arti harfiah dan kiasan - kan kita nggak bisa secara gamblang menyimpulkan itu yang diinginkan pengarang, kan?) pasti ada yang mau disampaikan si pengarang dalam cerpen itu. Aku ngerasa klik sih, bagian ini.

Aku nggak bisa menjelaskan gaya bahasaku kayak gimana karena jujur aja aku ngerasanya beda-beda, tapi sebeda apa pun itu, di tengah proses pembuatan cerpenku, aku selalu klik dan pengin ngelanjutin terus sampai tamat, kalau aku ngerasa cerpen yang kubuat itu bisa sebagai perantara apa yang mau aku sampaikan ke dunia. c:

Habis ini bikin cerpen deh.

rant

Setengah Tahu

Rabu, Agustus 23, 2017

Pernah nggak kalian sahabatan sama orang yang rasanya kalian setiap hari selalu bareng, tapi kalian sebenernya nggak tahu apa-apa tentang orang itu? Kalau misalnya belum, ya, coba aja dibayangin kalau kasus itu terjadi ke kalian gimana. Rasa sedih ada, tapi rasa pengin menyalahkan diri sendiri juga ada. Setiap hari kita bareng tapi kok aku nggak tahu apa yang dia suka? Aku nggak tahu kehidupannya dia di rumah gimana? Cita-cita? Kerjaannya cuma main dan seneng-seneng aja.

Nah. Mungkin buat yang sudah pernah ngerasain, nganggap itu mainstream ya.

Tapi gimana kalau subjeknya diganti sama diri kita sendiri? Pernah nggak kalian ngerasa kalau kalian nggak tahu apa-apa tentang diri kalian sendiri? Jelas itu rasanya lebih kompleks, dan saya juga belum nemu (kalau mau ngira-ngira, ya mungkin jumlahnya sedikitlah ya) orang yang memenuhi kriteria itu selain Rasya.

Sekarang tuh bocah lagi ngerasain kayak gitu, dan gara-gara itu dia belum nulis cerpen apa pun selama sebulan lebih dua hari; terakhir kalau saya nggak salah ingat, dia nulis cerpen itu tanggal 21 Agustus. Selama ini dia selalu bersama seseorang (atau sahabat) yang rasa-rasanya selalu bareng sama dia tapi ujung-ujungnya bilang kalau seseorang itu nggak tahu apa-apa tentang dia.

Gimana sih rasanya kalau cuma setengah tahu tentang diri sendiri? Kalau menghadapi itu ke orang lain kan sudah sering ya (dan itu pun nggak semua orang pernah mengalaminya) karena kebanyakan orang selalu beruntung soal sahabat; kayak selalu saja ada pelengkap yang bisa dijadikan wadah curhat gitu, yang itu nggak berlaku buat Rasya ini. Sudah dia yang dijadikan pengalaman nggak dimengerti, sekarang dia juga nggak mengerti seseorang - yang ironisnya, itu dia sendiri.

Susah sih jelasinnya, saya juga di sini cuma nulis aja dan nggak tahu tuh nanti Bleepy mau nerbitin ini atau tetep dibiarin gitu aja di draft. Walaupun sebenernya yang bikin Rasya bingung itu mungkin karena keberadaan saya ya; saya yang ada hanya untuk dijadikan eksistensi kebohongan doang. Apa yang saya inginkan itu sejak awal nggak ada pada saya; kalau mau tahu apa yang saya inginkan, kasih saya waktu buat nyusun daftar apa hal yang kira-kira akan diharapkan orang-orang agar saya inginkan, maka itulah yang saya inginkan.

Sesederhana itu. Karena saya ada untuk memenuhi harapan orang-orang yang dilimpahkan kepada saya; tapi serumit itu juga bagi Rasya, karena lama-lama, semakin ke sini, saya jadi memegang peran dominan untuk melakukan hal yang seharusnya ini yang Rasya inginkan; terus kok, jadi saya?

Sekali saya ada kesempatan tanya, "Kok jadi saya yang melakukan ini? Kan, ini yang Rasya suka." Tapi jawaban yang dia kasih selalu kabur, nggak jelas, muter-muter ... walaupun pada akhirnya terjawab juga sih, kalau Rasya mulai nggak bisa membedakan mana hal yang bener-bener dia inginkan dan mana hal yang diharapkan oleh orang-orang untuk dia inginkan.

Nah. Masalahnya adalah, kalau kayak gini nanti saya yang jadi ribet .... Terus, saya yang jadi disalahkan deh. Kesannya saya ini penjajah, yang datang-datang langsung menguasai semuanya, padahal sebenernya yang punya rumahlah yang mengizinkan saya mengobrak-abrik ruangan semau saya. Kalau saya nggak mikirin sampai sini, dan kalau saya nggak bikin batasan sebelumnya mana tugas saya dan mana tugas yang harus Rasya kerjakan, saya bisa-bisa jadi antagonis lho ini.

Terus apa-apaan ini, menjelang tepat satu bulan Rasya belum bikin cerpen apa-apa lagi, dia sudah sempat berusaha kan untuk mulai mikir keras, untuk mulai cari ide. Dan sampai hari ini (saya nggak tahu Rasya nyimpennya di mana, jadi saya buka Ms. Word terus buka file-nya dari Recent Documents) dia baru bikin 206 kata, maksudnya apa? Baru setengah halaman? Dan minggu ini dia belum baca buku apa pun, di tasnya ada buku wajib buat salah satu mata kuliahnya dia, dan baru dibaca sampai halaman delapan, maksudnya apa?

Sengaja ditinggalin gitu aja biar saya yang ngelanjutin? Saya bisa aja sih nulis, terus nyoba baca tuh bukunya, tapi kalau saya yang ngelakuin, terus Rasya dikemanain? Mana motonya dia (walaupun udah ganti sih kayaknya) yang, "Hidup untuk menulis dan menulis untuk hidup"? Dari kemarin sebenernya saya pengin nulis lagi, kalau lihat arsip cerpennya Rasya yang belum nambah sejak 21 Agustus tuh rasanya sedih sendiri hiks. Tapi ya mau gimana, kalau saya nambahin, saya malah melakukan apa yang harusnya Rasya penginin.

Terus sekarang gimana?

Rasya sekarang lagi setengah tahu tentang dirinya sendiri. Tugasnya adalah melakukan apa yang dia inginkan, dan tugas saya adalah melakukan apa yang orang lain ingin dia lakukan. Sebenarnya itu simpel, bagi saya itu juga keputusan yang cukup adil karena seenggaknya keberadaan saya punya tugas yang jelas, tapi lama-lama batas itu makin kabur, kabur, kabur ... sampai lalu Rasya mulai nggak tahu mana yang harus dia lakukan dan mana yang harusnya dia lempar pada saya untuk saya lakukan.

Kalau dia ragu-ragu kayak gini, mending saya yang pergi aja sebelum saya mulai ngelakuin apa hal yang harusnya dia lakuin, yang awalnya cuma bermodal pengin ngebantu tapi justru keterusan, dan nantinya malah dia yang pergi. Saya lebih milih gitu aja; saya nggak mau Rasya mengalami kejadian sama dengan apa yang menimpa seseorang yang sekarang sudah digantikan oleh orang lain. Hampir sama kasusnya seperti maling masuk ke dalam rumah dan mengusir si empunya; sekarang sosok awal seseorang itu sudah seluruhnya pergi, dan yang menempati raganya adalah jiwa sang pendatang yang harusnya datang cuma buat membantu saja.

Makanya saya pasang judul ini, 'Setengah Tahu'. Mungkin sekarang Rasya nganggap saya jahat, apa-apaan saya, sudah datang ada kok kesannya tapi nggak bantu apa-apa. Dan sekarang Rasya lagi dalam fase nggak tahu apa yang dia sendiri penginin (kayaknya hampir berapa kali sendiri dalam sehari dia gampang mempertanyakan ini-itu; apalagi kalimat, "Harusnya aku gimana?") bahkan lihat aja lifemap proyeksi lima sampai dua puluh tahun mendatang bikinannya dia. Menyedihkan banget sumpah.

Selama Rasya lagi dalam fase kayak gitu, sayanya juga lagi latihan buat nolak. Saya yang sekarang justru lebih tahu apa yang harusnya Rasya lakukan, dan apa yang harusnya saya lakukan. Saya nggak mau nulis, saya nggak mau baca, saya nggak mau ngajak ngobrol orang baru, karena itu tugasnya Rasya, bukan tugasnya saya.

Bahkan mungkin sebenarnya Rasya sendiri juga sudah tahu ini. Atau entah deh.
Soalnya iya, bagi saya perbedaannya masih sejelas itu.

event

PPSMB UGM 2017!

Sabtu, Agustus 12, 2017

Aku spikles sama acara PPSMB seminggu ini. Selama ada di sana tuh, rasanya asik, seru, keren, semua energi positif terpancar di sana pokoknya. :') Apalagi gugusku, Taroeno Djojoningrat, ada di ruang Farmasi, yang kata Mas Alun (cofas gugusku selain Mbak Fitria) termasuk salah satu penyedia konsumsi terenak =)) Dan kenyataannya bener, soalnya selama dua hari diculik panitia ospek fakultas di FIB, yang kukangenin banget tuh makanannya. XD

Ini makanan hari terakhir:

Terus ... aku pengin cerita dari awal sampai akhir, tapi terutama yang paling kukenang aja ya. XD Yang pertama, buat upacara pembukaannya sudah jelas: Jupiter Aerobatic Team! Diawali sama atraksi terjun payung ... indah bangetlah. :") Atraksi pesawatnya keren banget, kapan lagi upacara pembukaan disambut pakai pesawat. 8'D


bisa dilihat di youtube, keren!!! XD


Terus pas kita masuk gugus, kita dalam empat hari bersama bener-bener kayak keluarga. XD Apa-apa kita jadiin guyonan, entah jargon rumah sakit jiwa, olahraga judo, atau tepuk satu. :") Pas menjelang perpisahan bener-bener ada yang sampai nangis, aku sendiri sedih. Penginnya kebersamaan kita nggak pisah, lol aku masih ketawa pas nginget ekspresi orang-orang yang lihat, kita nggak ada tedeng aling-aling langsung teriak aja, "Rumah sakit jiwa! Rumah sakit jiwa!" =)))

pas ngerayain ultah. XD
Yang koplak tuh pas masuk sesi tentang alasan kita bangga menjadi mahasiswa UGM. Apa yang bikin kita bangga masuk UGM? Apa karena salah satu universitas terbaik di Indonesia? Karena dibangun murni dari keinginan para pejuang untuk mencerdaskan generasi bangsa? Pembicara kita, Bu Ida, sudah memancing sedemikian rupa, dan dari kita justru ngasih jawaban polos, "Karena kita bisa masuk UGM." (......)

pertama kali kita ketemu. masih formal gini ya gayanya. :))
Dan kalau dipikir-pikir, itu alasan realistis lol, kita bangga jadi mahasiswa UGM ya karena kita bisa masuk UGM. Kalau masuk universitas yang lain, ya bangga jadi mahasiswa universitas yang kita masukin itu dong. XD Jawaban jenius tapi berdasarkan fakta. :"))

bandingin sama hari kedua. :))
Ada juga saat-saat kita terharu, ngeng. Misalnya pas Mbak Fitria nyetelin video sejarah UGM, dan di situ dikasih fakta gimana berdirinya UGM, aku terharu. Bener-bener memunculkan perasaan baru, yang seperti bilang; ternyata begini, ya, rasanya bangga sama almamater. :") /ras

sama cofas, mbak fitria dan mas alun. :3
Lalu Bu Ida ngasih tanya, "Siapa di sini yang pernah gagal?" dan semuanya angkat tangan. Lalu kita kayak disadarkan, kalau kita bisa ada di sini tuh karena kegagalan kita. Akhirnya ada yang mulai berani cerita. Ada yang kegagalannya SBMPTN tahun lalu ... yang bikin aku langsung teringat sama temen-temenku yang belum rezekinya tahun ini untuk kuliah, bismillah semoga tahun depan memang momennya kalian. :")


Terus Bu Ida akhirnya menceritakan tentang kegagalan beliau. Yang bikin aku nangis, dan seisi ruangan spikles. Bu Ida ini dosen Farmasi mulai tahun ini, dan pengalaman sedih yang beliau ceritakan ke kita, gimana beliau sampai sakit selama dua minggu bolak-balik ke UGD bikin aku ngerasa kalau kegagalan yang selama ini kukeluhkan tuh nggak ada apa-apanya, plis. :")) Aku nggak sampai sakit dua minggu. :")))

Beliau cerita dari awal sampai akhir, ditutup dengan akhir yang indah karena akhirnya, setelah kesabaran yang aku nggak yakin apabila itu menimpaku bisa kuatasi kayak gitu apa enggak, beliau dapat hikmahnya. :") Alhamdulillah.

the boys! x3
Lalu pas di hari ketiga, kita ngasih kejutan untuk dua temen kita yang ulang tahun bulan ini! Ada kue dan balon, waktu itu aku ngerasa kita makin lama makin akrab. Dan pas Mbak Fitria bilang kalau dia dan Mas Alun punya hadiah untuk kita semua di hari terakhir, saat itu juga malamnya kita bahas di multichat buat bikin hadiah 'balasan' besoknya. Alhasil, hari penutupan kita malah berasa kayak tukeran kado, habis Mas Alun dan Mbak Fitria ngasih hadiah, habis itu kita. XD

ini hadiah dari mbak fitria sama mas alun. XDD
Saking kompaknya, pas Bu Ida pamit, kita bisa-bisanya kayak suporteran, "We love Bu Ida, we do, we love Bu Ida, we do, we love Bu Idaaaa, we dooo, Buu Ida we love youuuuu!" bener-bener sesuailah sama apa yang dibilangin panitia di ruangan sebelah tentang gugus Taroeno Dua; anaknya receh semua. XD

Terus, jelas closing ceremony-nya juga nggak terlupakan. Tahun ini formasinya yaitu bikin ... lambang UGM! Seneng banget. XD Bersyukur angkatanku yang dapat kesempatan menjadi bagian dari pembentukan lambang UGM. :")

keren banget. :")))
 Lalu kayak tahun-tahun biasanya, ada yang iseng nulis-nulis di kertas HVS. Untung panitianya nyuruh kita bawa dua puluh lembar HVS, jadinya masih ada sisa di tas. XD Alhasil banyak banget yang kreatif nulis-nulis nama, ada yang serius, ada yang koplak ... tapi banyakan yang koplak. :") Nih kukasih daftar yang aku masih inget:
  • Raisa, kutunggu jandamu! (Plis XD)
  • PANAS BOSS! (Ini malah ngasih pesan buat kita-kita. :'D)
  • BUKA JASA BIKIN CAPTION 10k (.........)
  • Akhirnya kubuat mantan menyesal. (TOLONG XDD)
  • Cepet dong!!! (Ini ngomongin salah satu pembicara yang lagi ngasih orasi di panggung, woooo=)) Tidak baik XD)
  • NGGAK USAH BUAT TULISAN (Terus ini sendiri apa kalau bukan tulisan. :"D)
Kalau yang mainstream kayak menunggu adek kelas masuk UGM, salam buat emak, mama, ibu (dan panggilan buat ibu lainnya), bapak, kakek, nenek, tante, om, terus kalau UGM itu gudang mantu (........) itu bertebaran sih di mana-mana. Aku masih ketawa setengah terharu kalau baca pesan, "Mak, anakmu UGM!" tapi aku beneran ngakak sama yang ini:


TOLONG. Aku ngakak banget waktu itu. XD Kalau buat orang tua kan masih wajar, lah kalau ini membicarakan masa depan. Berasa kayak cerita untuk anak. XD Kreatif asli. XD

Terus, kita dapat majalah Balairung gratis pas penutupan. Dan di halaman pertamanya, ada kalimat sambutan;

Selamat datang mahasiswa biasa
di kampus yang biasa-biasa saja.

Yang entah kenapa aku justru ngerasa kalau kalimat itu ... sangat UGM sekali. :')) Pokoknya PPSMB UGM ini bikin aku nggak bisa berkata-kata lagi. :") Indah, segala macam perasaan yang ada tuh pada akhirnya balik ke bersyukur lagi; alhamdulillah bisa masuk UGM. Seneng banget. :") Makasihhhh ya Allah. :")

Udah, yaaaa! XD