cerpen

Telepon

Jumat, Juni 22, 2018

Source: www.emmakisstina.blogspot.com/2013/01/vintage-telephone.html

Aku bertanya-tanya siapa yang siap mati untuk masing-masing di antara kita: aku atau kamu.
Pemikiran itu menghantuiku berhari-hari, bahkan aku jadi tidak bisa fokus menikmati pembukaan Piala Dunia di televisi karena ini. Apakah aku siap mati untukmu? Rasanya aku siap, aku berpikir begitu. Kalau kamu, apakah kamu siap mati untukku? Mungkin kamu juga siap, begitu pikirku. Tapi apa iya? Kalau aku tanya kamu, apa jawabanmu benar-benar akan begitu?
Maka ketika Argentina menelan kekalahan 0–3 dari Kroasia, aku memutuskan untuk menanyakannya terang-terangan ketika kamu meneleponku pada jam rutin; tiga sore, minggu keempat di hari Jumat.
“Hei, apa kamu siap mati untukku?”
Kamu terdiam. Mencoba menyamakan irama. Mungkin kamu butuh waktu untuk menenangkan diri dari kekagetanmu. Bukan masalah. Aku tahu kamu akan tetap meladeniku. Kamu kan, selalu begitu; mengikuti pertanyaan-pertanyaan liar yang aku ajukan bahkan meskipun itu sesepele memasukkan buah beserta tangan sekalian ke blender atau separah membayangkan tali lift putus saat mencapai lantai tertinggi di suatu gedung.
“Mungkin iya.” Terdengar suaramu dari ujung sana, akhirnya kamu menemukan jawaban. “Kalau kamu?”
“Nggak tahu,” jawabku kurang ajar, tapi buru-buru kulanjutkan, “mungkin iya.”
“Hmmm.”
“Tapi aku berpikir begini,” sahutku tiba-tiba, memotong gumamanmu, “kalau di antara kita berdua hanya boleh ada satu orang yang mati, bagaimana? Apakah itu aku atau kamu?”
Kamu diam. Aku menunggu. Kemudian kamu menjawab, “Mungkin kamu. Kalau kamu?”
“Mungkin kamu,” jawabku, mengerutkan kening, “kenapa kita tidak sama jawabannya?”
“Nggak tahu, aku juga bertanya-tanya.” Kamu tertawa di ujung sana, hal yang paling tidak aku bisa—menemukan sesuatu yang lucu di dalam pembicaraan kita. Tapi aku suka mendengarkan kamu tertawa, jadi aku tersenyum sedikit, tidak memprotes tawamu dan membiarkanmu melanjutkan. “Mungkin kita harus mendengarkan analisis kita masing-masing.”
“Oke. Siapa dulu?”
“Kamu, karena kamu perempuan.”
“Hei!”
“Oke maaf.” Kamu tertawa lagi. “Tapi tetap kamu dulu, karena kamu perempuanku.”
Aku ikut tertawa. Menertawakan kalimatmu yang mengatakan kata itu. Perempuanku. Baru setelah tawaku berhenti, aku berdeham untuk menjawab tantangan yang telah kita putuskan tadi. Mengutarakan apa analisis yang menyebabkan masing-masing dari kita saling menuding satu sama lain mengenai siapa yang lebih siap untuk mati. “Hmm. Aku menebakmu karena … soalnya kenapa, ya? Aku membayangkannya kamu.”
“Membayangkan apa?”
“Semisal, kita berdua berdiri di depan rel sebelum kereta mau lewat. Siapa yang lebih siap mati di antara kita akan lebih dulu lompat tepat saat kereta datang. Aku membayangkan kalau kita berdua akan bingung … tapi tepat saat kereta sebentar lagi sampai, rasa-rasanya kamu akan langsung lompat—”
Eh.
Tunggu dulu.
Aku menghentikan kalimatku di tengah-tengah, tubuhku seperti tersengat kejut listrik.
Lho?
Kamu menunggu.
“Kok …,” ucapku patah-patah, “kok … kok rasanya aku yang akan lompat, ya.”
“Iya. Memang kamu,” sahutmu pelan, seperti sudah memprediksi kekalutanku, “kalau yang terjadi sungguhan seperti itu, aku sendiri juga akan menunggumu sampai kamu siap lompat dulu.”
Aku memejamkan mata, mencoba sungguh-sungguh membayangkan kejadian itu. Terdengar suara peringatan bahwa kereta akan lewat. Sekeliling sepi tidak ada orang, tidak ada kendaraan. Kita berdua menunggu kereta. Kita berdua mengambil ancang-ancang untuk melompat.
Kereta makin dekat. Kamu menatapku. Aku menatapmu.
Kereta makin dekat, makin dekat, makin dekat dan aku lompat.
Seketika gelap.
Aku membuka mata, kembali ke kenyataan. Menghela napas. Memang sepertinya aku yang akan lompat, aku membatin. Giliranku yang ganti meladenimu dengan menyahut pertanyaan sederhana, “Oh, kenapa?” tanyaku, teringat kalau kamu belum membeberkan analisismu.
“Karena rasanya, kamu memang merupakan tipe orang seperti itu.”
“Seperti itu bagaimana?”
“Mau ganti skenario?”
Aku mengangkat bahu, berpikir kalau pergantian skenario tidak akan jadi masalah asalkan bisa memperkuat analisismu. Sadar kalau kamu tidak bisa melihatku mengangkat bahu, aku menjawab dengan agak terlambat, “Boleeeh.”
“Misalnya, masing-masing dari kita dapat satu pistol. Hadap-hadapan. Sama-sama berada di posisi siap menembak. Siapa pun yang lebih siap ditinggalkan lebih dulu, boleh menekan pelatuknya.”
Aku dan kamu. Dalam satu ruangan yang sekelilingnya serbaputih. Yang hitam hanya pistol di tangan kita masing-masing. Menunggu siapa yang mau menembak lebih dulu. Aku menggumam lama, sengaja mencuri waktu agar aku bisa berpikir. “Hmmm.”
“Menurutku, kamu yang bakal menekan pelatuknya.”
“Karena aku tipe orang yang akan bergerak di saat-saat terakhir?”
“Iya, itu maksudku, jawabmu dengan ringan, “akhir yang berbeda. Di skenariomu, kamu mati lebih dulu karena kamu yang lompat. Di skenarioku, aku mati lebih dulu karena aku yang ditembak. Tapi kita sama-sama tahu kalau masing-masing dari kita sama-sama siap mati.”
Aku tersenyum.
Berbicara denganmu selalu berakhir begini. Kamu selalu bisa menghilangkan beban pikiran yang mengganjal di kepalaku. Barangkali hanya kamulah satu-satunya orang di dunia yang tidak akan mempertanyakan sifatku yang seperti ini; bisa diam berhari-hari, tidak selera makan setiap malam, hanya memikirkan hal tidak penting seperti skenario bagaimana aku mati atau masalah kesetiaan.
Kutarik napas dalam-dalam dan kuembuskan panjang. “Kalau begitu, aku bisa tenang sekarang,” kataku, masih belum menghapus senyuman di wajah, “kalau yang sungguhan terjadi adalah skenario menabrakkan diri ke kereta, aku bisa tenang karena pasti ini adalah waktuku. Tapi kalau skenario menembakkan peluru, aku juga bisa tenang karena … eh, karena kamu tahu itu adalah waktumu …?”
Aku mendengar kamu tertawa geli di ujung sana.
“Karena aku tahu itu adalah waktuku,” ulangmu mengiyakan.
Aku bisa membayangkanmu mengangguk saat kamu mengatakannya.


#

Pada 28 Januari tahun ini, aku pernah bikin Story di Instagram. Aku mempertanyakan alasanku menulis; apakah menulis itu menghancurkanku atau menyembuhkanku (The thing about writing is I can’t tell if it’s healing or destroying me. –Rupi Kaur). Akhir-akhir ini aku selalu menagih jawaban itu pada diriku sendiri selama aku menulis, dan sekarang aku tahu.

Menyembuhkanku, selalu.

Hehe. <3

film

9/9

Minggu, Juni 10, 2018

Sebelum Rasya mau nulis sesuatu, kayaknya ada baiknya dia minta maaf dulu deh. Harusnya kemarin tanggal 9 sempet ngeposting sesuatu buat Nulis Random yang tanggal 9, tapi ternyata dia ketiduran ………… sangat lama. Aslinya cuma pengin tidur satu jam, tapi ternyata keterusan, dan bangun-bangun bahkan nggak ingat gimana dia bisa tidur. Menyedihkan banget asdfghjkl. Alhasil di tanggal 10 pagi ini dia pengin nulis, bayar utang buat yang tanggal 9.

Oke, lanjut.

#

Di serial Sherlock, sempet ada yang bilang begini: “Cinta dan benci itu begitu mirip. Sulit untuk membedakan satu dengan yang lainnya.”

Waktu aku nonton itu dan denger pertama kali, aku masih nggak ngerti sama kalimat itu. Lumayan ngerti sih ke arah mana, cuma aku belum bener-bener paham. Jadi, kalimat itu kucatat di notes yang isinya kumpulan kalimat-kalimat dari film atau serial atau anime atau video apa pun yang kutonton yang belum kupahami. Kalimat itu semakin lama tenggelam karena ketambahan kalimat lain, dan kalimat lain itu ketambahan sama kalimat lain lagi, begitu terus sampai lalu aku lupa.

Pada suatu hari, aku iseng buat baca-baca, dan akhirnya aku nemu kalimat itu di antara kalimat-kalimat lainnya. Dan aku baru sadar kalau lama-lama notes itu bercampur dengan kalimat-kalimat yang ngehumor, atau ironis, atau gaje, atau kadang yang cocok untuk jadi kutipan, bahkan aku ngutip kata-katanya Simon Cowell dan kalimat ini selalu terngiang setiap kali aku lihat dia di TV. Waktu itu Simon dapet kontestan yang somboooong, dan dia komentar: “You’ve got really bad attitude, Sweetheart.”

Dia ngatai seseorang itu punya etiket yang buruk dan dia manggilnya “Sweetheart”. SWEETHEART. You’ve got really BAD ATTITUDE, SWEETHEART. Kalau ada penghargaan untuk kalimat yang paling kontradiktif di dunia, mungkin kalimat itulah yang akan menang. Momen itu sangat berkesan di ingatanku dan aku bahkan masih bisa bayangin secara jelas ekspresinya dia dan wajah kontestan yang dia kata-katai … OKE. Oke. Omongan Rasya mulai bleber, mari kita hentikan ini.

Balik lagi ke serial Sherlock.

Entah kenapa dari semua adaptasi Sherlock Holmes yang ada, aku justru suka sama film yang itu sama sekali nggak ngambil dari kasus-kasus di novel. Itu film tahun 1985, dan itu sangaaaat di luar linimasa Sherlock Holmes yang kita ketahui, karena di situ dia dan Watson sudah ketemu waktu mereka di bangku sekolah. Yap, film itu jadi kayak mengabulkan mimpi kami-kami para penulis fanfiksi berslogan unleash your imagination karena akhirnya AKHIRNYA IMAJINASI MENGAMBIL ALIH KEMUDI, SAUDARA-SAUDARA.

Waktu itu Watson belum jadi tentara, dia bener-bener cuma murid baru biasa yang sangat kebetulan dapet kamar yang sama dengan Holmes di asrama, BAHKAN tempat tidurnya sebelahan. Wew, sungguh kutukan yang sangat hebat, mungkin itu disebabkan karena kesalahan yang diperbuat oleh seseorang di kehidupan sebelummu, Watson. Oke. Jadi sebenernya Watson lumayan OOC sih, dia nggak bisa diajak mikir dan dia sangaaaat nggak tahu apa-apa, DIA BAHKAN NGGAK BISA NAIK TANGGA DENGAN BENAR, dan kita jadi ngelihat dia sebagai seseorang yang sangat mirip sama kita seandainya kita di sana.

Misalnya, ada saat Holmes tanya ke Watson, waktu mereka sudah di rumah (?) pembunuh dan ngelihat kalau sebentar lagi si pembunuh itu akan membunuh korban selanjutnya yang sudah diperban seluruh tubuh jadi kayak mumi, “Apa yang bisa kita lakukan?”

Dan Watson, dengan seluruh kemampuan yang dia punya, jawab, “Mungkin ada hal yang kita pelajari di sekolah dan bisa diaplikasikan dalam situasi sekarang!”

Sayangnya nggak ada, Watson. Sungguh komentar yang sangat nggak berguna.

Terus ada lagi, dan percakapan ini lumayan banyak diadaptasi di meme-meme yang ada (?), jadi kalau semisal kamu pernah denger ini berarti sekarang kamu tahu kalau percakapan itu asalnya dari sini (ngomong sama tembok).


Holmes: Kenapa aku nggak bisa memikirkan apa pun?
Watson: Karena kamu panik. Kamu harus tenang.
Holmes: Oke, kenapa KAMU nggak bisa memikirkan apa pun?
Watson: Karena aku panik!


Mantap djiwa. Jawaban yang sungguh hebat.

Oke, Rasya telah beleber ke mana-mana, dan ini bukan pertama kalinya juga, sih.

Kembali ke kutipan, “Cinta dan benci itu begitu mirip. Sulit untuk membedakan satu dengan yang lainnya.”

Hmmmmmmmmmmmmmm.

Memang susah. Biasanya sulit juga kan ya, apakah sebenernya itu benci atau cinta. Walaupun sebenernya aku masih belum paham bagian mana yang “sulit” tepatnya, kita yang sulit memastikan apakah perasaan yang kita punya ke orang tertentu itu perasaan benci atau cinta, atau kita sulit mendeteksi apakah perasaan seseorang ke orang tertentu itu perasaan benci atau cinta. Walaupun sekarang, aku belum bener-bener bisa jawab dua-duanya bagian mana itu yang sulit buatku, tapi mungkin, mungkiiin, untuk sementara, aku jawab yang kedua dulu. Mungkin bagi setiap orang, yang relatif lebih susah itu nebaknya.


Kenapa, Sya, kamu buka IG Story-nya dia terus? Cinta?
Bukan, benci.

Kenapa, Sya, chat-nya dia dibalas cepet banget? Cinta?
Bukan, benci.

Kenapa, Sya, kamu mau bareng terus sama dia? Cinta?
Bukan, benci.

Kenapa, Sya, udah lama nggak ngobrol sama dia? Benci?
Bukan. Cinta.


Terus cara bedainnya gimana benci sama cinta ………………….

Oke, nggak sekontradiktif itu, sih.

Tapi kurang-lebih.

Capek, ah.

Mari kita stop aja.


Kenapa, Sya, kamu nggak suka ngomongin cinta, ya?
Bukan. Suka.


…… Susah.

Ngomong-ngomong, karena ini liburan, Rasya mau menghilang dari peradaban (?). Jadi mungkin Nulis Random yang harusnya ada 30 postingan bisa kita cukupkan jadi 9 aja. (..........)